• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pre Bunching

Kegiatan Pre bunching dimulai dengan berjalan kosong menuju tempat penebangan (tunggak), dilanjutkan dengan pengambilan pohon yang telah ditebang menggunakan excavator yang diarahkan oleh operator kemudian alat berjalan bermuatan. Peletakan kayu pada kegiatan pre buncing biasanya diletakkan secara sembarangan. Setelah alat berat sampai pada titik yang telah ditentukan secara sembarangan, log yang telah diangkut disusun rapi.

Pengukuran waktu kerja pre bunching kayu di areal pemanenan dilakukan sebanyak 30 ulangan/trip pada setiap compartment, hasil pengamatan waktu kerja pre bunching rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan kayu pada petak pemanenan kayu dapat dilihat pada Tabel 1 sampai Tabel 4.

Tabel 1. Rata-rata waktu kerja pre bunching compartment B272 (Petak 1) No Elemen Kerja Waktu kerja Total

(detik)

Persen waktu total (%)

1 Berjalan Kosong 308,53 11,30

2 Memuat 836,93 30,66

3 Berjalan Bermuatan 648,73 23,75

4 Membongkar 285,73 10,47

5 Waktu Hilang 650,00 23,82

Jumlah 2729,93 100,00

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa total waktu yang diperlukan untuk melakukan 15 trip proses pre bunching adalah 2729,93 detik atau 45,50 menit dan rata-rata waktu untuk satu trip 182 detik atau 3,03 menit pada jarak sarad rata-rata 11,35 m/trip atau 0,11 hm/trip, dengan menggunakan excavator Hitachi 110 pc.

Volume kayu yang disarad setiap trip pada petak pemanenan kayu berkisar antara 0,51 m³ sampai dengan 1,82 m³ dengan volume sarad rata-rata 1,21 m³.

Tabel 2. Rata-rata waktu kerja pre bunching compartment B272 (Petak 2) No Elemen Kerja Waktu kerja Total

(detik)

Persen waktu total (%)

1 Berjalan Kosong 351,47 11,39

2 Memuat 864,27 28,01

3 Berjalan Bermuatan 677,20 21,95

4 Membongkar 338,13 10,96

5 Waktu Hilang 854,75 27,69

Jumlah 3085,82 100,00

Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa total waktu yang diperlukan untuk melakukan 15 trip proses pre bunching adalah 3085,82 detik atau 51,43 menit dan

rata-rata waktu untuk satu trip 205,72 detik atau 3,42 menit pada jarak sarad rata-rata 12,96 m/trip atau 0,12 hm/trip, dengan menggunakan excavator Hitachi 110 pc. Volume kayu yang disarad setiap trip pada petak pemanenan kayu berkisar antara 0,55 m³ sampai dengan 1,41 m³ dengan volume sarad rata-rata 1,26 m³.

Tabel 3. Rata-rata waktu kerja pre bunching compartment E127 (Petak 1) No Elemen Kerja Waktu kerja Total

(detik)

Persen waktu total (%)

1 Berjalan Kosong 404,67 13,74

2 Memuat 853,73 28,99

3 Berjalan Bermuatan 679,93 23,10

4 Membongkar 397,07 13,48

5 Waktu Hilang 609,25 20,69

Jumlah 2944,65 100,00

Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa total waktu yang diperlukan untuk melakukan 15 trip proses pre bunching adalah 2944,65 detik atau 49,07 menit dan rata waktu untuk satu trip 196,31 detik atau 3,27 menit pada jarak sarad rata-rata 13,72 m/trip atau 0,13 hm/trip, dengan menggunakan excavator Caterpillar 200 pc. Volume kayu yang disarad setiap trip pada petak pemanenan kayu berkisar antara 1,23 m³ sampai dengan 2,33 m³ dengan volume sarad rata-rata 1,60 m³.

Tabel 4. Rata-rata waktu kerja pre bunching compartment E127 (Petak 2) No Elemen Kerja Waktu kerja Total

(detik)

Persen waktu total (%)

1 Berjalan Kosong 437,93 13,42

2 Memuat 907,87 27,81

3 Berjalan Bermuatan 745,27 22,83

4 Membongkar 395,33 12,11

5 Waktu Hilang 778,00 23,83

Jumlah 3264,40 100,00

Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa total waktu yang diperlukan untuk melakukan 15 trip proses pre bunching adalah 3264,4 detik atau 54,40 menit dan rata waktu untuk satu trip 217,62 detik atau 3,63 menit pada jarak sarad rata-rata 14,72 m/trip atau 0,14 hm/trip, dengan menggunakan excavator Caterpillar 200 pc. Volume kayu yang disarad setiap trip pada petak pemanenan kayu berkisar antara 1,22 m³ sampai dengan 2,32 m³ dengan volume sarad rata-rata 1,70 m³.

Kegiatan pre bunching tersebut terdiri dari 4 elemen kerja, namun pada elemen kerja memuat (mengumpulkan kayu) dan berjalan bermuatan excavator membutuhkan waktu yang lebih lama menuju tempat pengumpulan kayu dibandingkan dengan elemen kerja berjalan kosong dan membongkar. Hal ini dikarenakan saat excavator mengambil pohon yang sudah tumbang excavator tersebut melakukan proses trimming yaitu proses pemotongan cabang, pucuk serta daun eucalyptus. Sedangkan pada kegiatan berjalan kosong dan membongkar excavator hanya membutuhkan waktu yang lebih sedikit, karena pada saat kegiatan tersebut excavator hanya melepaskan muatannya dari bucket (penjepit kayu) serta berjalan tanpa ada muatannya.

Pada petak pemanenan kayu di compartment B272 membutuhkan waktu yang lebih sedikit dibandingkan dengan compartment E127, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor kelerengan dimana lokasi pemanenan di compartment E127 lebih curam dibandingkan dengan compartment B272 yang kondisi lapangan lebih datar, kondisi topografi pada kompartment E127 lebih buruk dibandingkan dengan compartment B272, dimana lokasi pemanenan yang terdapat di compartment E127 jalan sarad nya berlumpur serta kayu yang disarad lebih banyak dibandingkan dengan pemanenan kayu yang terdapat di compartment B272, keterampilan operator dalam menggunakan alat berat excavator serta keadaan iklim pada saat melakukan pemanenan kayu yang tidak menentu, karena pada saat melakukan pemanenan kayu di compartment E127 turun hujan yang mengakibatkan pekerjaan terhambat dan membuat operator berhenti melakukan pekerjaan.

Jarak sarad juga mempengaruhi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pre bunching, semakin panjang jalan sarad maka waktu yang dibutuhkan akan semakin lama. Pada compartment B272 petak 1 jarak sarad terpendek adalah 7,8 m dan terjauh adalah 15,2 m dengan jarak sarad rata-rata 11,35 m. Pada petak 2 compartment B272 jarak sarad terpendek 9,1 m dan terjauh 16,8 m dengan jarak sarad rata-rata 12,96 m. Sedangkan pada petak 1 compartment E127 jarak sarad terpendek adalah 10,5 m dan terjauh 16,8 m dengan jarak sarad rata-rata 13,72 m dan pada petak 2 compartment E127 jarak sarad terpendek 11,6 m dan terjauh 18,1 m dengan jarak sarad rata-rata 14,72 m.

2. Extraction

Kegiatan extraction merupakan kegiatan yang dilakukan dalam pemanenan kayu setelah kegiatan pre bunching, dimana dalam kegiatan tersebut kayu dipindahkan dari tempat penebangan (tunggak) ke tempat pengumpulan kayu sementara (TPn) yang terletak di pinggir jalan angkutan. Kegiatan extraction dimulai dengan berjalan kosong menuju tempat pengumpulan kayu (TPn), dilanjutkan dengan pengambilan log oleh excavator atau proses pemuatan kemudian excavator berjalan bermuatan serta kegiatan membongkar. Setelah excavator sampai pada TPn yang telah ditentukan, log yang telah diangkut diletakkan dan disusun rapi supaya lebih mudah dilakukan pemotongan log dan kemudian loading (proses memuat log dari TPn ke atas truk).

Beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya waktu untuk extraction adalah jarak antara TPn dengan kayu yang akan disarad, kerapatan tumbuhan bawah, serta kemiringan jalan sarad yang dilalui serta keadaan iklim pada saat melakukan pemanenan kayu. Apabila jarak tempuh semakin jauh maka waktu yang dibutuhkan untuk extraction semakin besar. Jalur yang dibuat dan dilalui oleh excavator untuk extraction merupakan jalan sarad utama. Dalam kegiatan extraction ini waktu yang dibutuhkan untuk melakukan elemen kerja berjalan kosong dan berjalan bermuatan lebih lama dibandingkan dengan elemen kerja memuat dan membongkar karena jarak yang ditempuh untuk melakukan extraction semakin panjang dan jumlah log yang dibawa pada saat berjalan bermuatan lebih banyak dibandingkan dengan kegiatan pre bunching serta pada saat berjalan bermuatan log yang dibawa terkadang lepas dari penjepit excavator sehingga memperpanjang waktu dalam melakukan elemen kerja.

Pengukuran waktu kerja extraction kayu di areal pemanenan kayu dilakukan sebanyak 30 ulangan/trip pada compartment B272 dan compartment E127. Pengamatan waktu kerja extraction rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan kayu di TPn dapat dilihat pada Tabel 5 sampai Tabel 8.

Tabel 5. Rata-rata waktu kerja extraction compartment B272 (Petak 1) No Elemen Kerja Waktu kerja Total

(detik)

Persen waktu total (%)

1 Berjalan Kosong 1492,53 28,35

2 Memuat 504,26 9,58

3 Berjalan Bermuatan 1689,86 32,10

4 Membongkar 538,80 10,24

5 Waktu Hilang 1038,25 19,73

Jumlah 5263,70 100,00

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa pada proses extraction total waktu yang diperlukan untuk 15 trip adalah 5263,7 detik atau 1 jam 27 menit 44 detik, dan rata-rata satu trip adalah 350,91 detik atau 5,84 menit dengan menggunakan excavator Hitachi 110 pc. Pada petak 1 compartment B272 jarak sarad terpendek adalah 11,5 m dan terjauh 18,2 m dengan jarak sarad rata-rata 14,81 m /trip, dengan volume sarad rata-rata 3,9 m³. Pada kegiatan extraction compartment B272 petak 1 waktu hilang cukup banyak, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti merokok, mengumpulkan serasah, berbicang-bincang, serta istirahat yang cukup lama pada saat jam kerja sehingga waktu yang hilang semakin banyak, hal tersebut dapat menurunkan produktivitas pemanenan kayu.

Tabel 6. Rata-rata waktu kerja extraction compartment B272 (Petak 2) No Elemen Kerja Waktu kerja Total

(detik)

Persen waktu total (%)

1 Berjalan Kosong 1566,13 27,07

2 Memuat 834,80 14,43

3 Berjalan Bermuatan 1940,40 33,54

4 Membongkar 570,40 9,86

5 Waktu Hilang 873,83 15,10

Jumlah 5785,56 100,00

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa pada proses extraction total waktu yang diperlukan untuk 15 trip adalah 5785,56 detik atau 1 jam 36 menit 26 detik, dan rata-rata satu trip adalah 385,70 detik atau 6,43 menit dengan menggunakan excavator Hitachi 110 pc. Pada petak 2 compartment B272 jarak sarad terpendek adalah 12,5 m dan terjauh 19,7 m dengan jarak sarad rata-rata 16,05 m /trip, dengan volume sarad rata-rata 4,02 m³. Pada kegiatan extraction compartment B272 petak 2 waktu hilang cukup banyak, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti minum, mengumpulkan serasah, berbicang-bincang

yang menghabiskan waktu sebanyak 16 menit, membuka jalan serta mengisi minyak yang menghabiskan waktu 11 menit.

Tabel 7. Rata-rata waktu kerja extraction compartment E127 (Petak 1) No Elemen Kerja Waktu kerja Total

(detik)

Persen waktu total (%)

1 Berjalan Kosong 1590,67 28,26

2 Memuat 679,80 12,08

3 Berjalan Bermuatan 1945,40 34,56

4 Membongkar 642,33 11,41

5 Waktu Hilang 770,60 13,69

Jumlah 5628,80 100,00

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa pada proses extraction total waktu yang diperlukan untuk 15 trip adalah 5628,8 detik atau 1 jam 34 menit 49 detik, dan oleh beberapa faktor seperti minum, merokok, berbicang-bincang yang menghabiskan waktu sebanyak 21 menit, membuka jalan serta mengisi minyak yang menghabiskan waktu 11 menit.

Tabel 8. Rata-rata waktu kerja extraction compartment E127 (Petak 2) No Elemen Kerja Waktu kerja Total

(detik)

Persen waktu total (%)

1 Berjalan Kosong 1731,93 27,79

2 Memuat 667,60 10,71

3 Berjalan Bermuatan 1946,20 31,23

4 Membongkar 742,93 11,92

5 Waktu Hilang 1143,75 18,35

Jumlah 6232,41 100,00

Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa pada proses extraction total waktu yang diperlukan untuk 15 trip adalah 6232,41 detik atau 1 jam 43 menit 52 detik, dan rata-rata satu trip adalah 415,5 detik atau 6,92 menit dengan menggunakan excavator Caterpillar 200 pc. Pada petak 1 compartment E127 jarak sarad terpendek adalah 12,8 m dan terjauh 20,9 m dengan jarak sarad rata-rata 16,69 m /trip, dengan volume sarad rata-rata 5,32 m³. Pada kegiatan extraction compartment E127 petak 2 waktu hilang cukup banyak, hal tersebut disebabkan

oleh beberapa faktor seperti istirahat yang menghabiskan waktu 30 menit, berbicang-bincang yang menghabiskan waktu sebanyak 21 menit, serta memanaskan alat yang menghabiskan waktu 19 menit.

Volume Pohon

Data volume pohon yang diambil dari lapangan adalah 338 pohon dimana diambil dari dua compartment yang berbeda yaitu 148 pohon dari compartment B272 dan 190 pohon dari compartment E127. Adapun rata-ratanya adalah yang disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9. Rata-rata volume pohon pada setiap compartment

Compartment Tinggi Pohon (m) Diameter (m) Volume (m3)

B272 15,20 0,12 0,25

E127 12,71 0,11 0,26

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa volume kayu pada kedua compartment tidak jauh berbeda. Hal tersebut disebabkan karena masih berada pada satu sektor dimana kontur dan tekstur tanah tidak jauh berbeda serta suhu dan kelembaban masih relatif sama serta jangka waktu penebangan yang sama yaitu 3,5 tahun.

Volume Sarad

Data volume sarad dapat diketahui dari perkalian antara volume pohon dikalikan dengan jumlah pohon yang disarad. Data dari volume sarad diperoleh dari kegiatan pre bunching dan extraction. Data yang diambil dari tiap petak pemanenan yaitu 15 ulangan. Volume sarad kayu dapat dilihat pada Tabel 10 dan Tabel 11.

Tabel 10. Volume sarad pada kegiatan pre bunching

Compartment Volume pohon (m³) Jumlah pohon Volume Sarad (m³)

B272 petak 1 0,25 74 18,25

B272 petak 2 0,25 76 19,00

E127 petak 1 0,26 92 23,93

E127 petak 2 0,26 98 25,48

Dari data Tabel 10 dapat dilihat bahwa volume sarad terbesar yaitu pada compartment E127 petak 2 yaitu 25,48 m³ dengan rata-rata satu trip adalah 1,69 m³ dan jenis excavator yang digunakan adalah excavator Caterpillar 200 pc.

Sedangkan volume sarad yang terkecil terdapat pada compartment B272 petak 1 yaitu 18,25/m³ dengan rata-rata satu trip adalah 1,22 m³ dan jenis excavator yang digunakan adalah excavator Hitachi 110 pc. Volume sarad dalam kegiatan

pre bunching tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi topografi dan kondisi vegetasi dilantai hutan, kondisi dan tipe alat yang digunakan juga sangat mempengaruhi volume sarad dari suatu petak tebang.

Tabel 11. Volume sarad pada kegiatan extraction

Compartment Volume pohon (m³) Jumlah pohon Volume Sarad (m³)

B272 petak 1 0,25 234 58,50 5,32 m³ dan jenis excavator yang digunakan adalah excavator Caterpillar 200 pc.

Sedangkan volume sarad yang terkecil terdapat pada compartment B272 petak 1 yaitu 50,5m³ dengan rata-rata satu trip adalah 3,36 m³ dan jenis excavator yang digunakan adalah excavator Hitachi 110 pc. Volume sarad pada kedua compartment tersebut tidak jauh berbeda karena volume pohon serta jumlah pohon yang disarad juga relatif hampir sama jumlahnya dan jangka waktu pemanenan kayu pada kedua compartment tersebut sama-sama 3,5 tahun.

Pemanenan cepat dilakukan karena yang dibutuhkan PT.Toba Pulp Lestari, Tbk bukanlah besar diameter dari pohon tetapi yang dibutuhkan adalah serat yang dihasilkan eukaliptus untuk diolah menjadi pulp. Besar diameter tidak menjamin banyak serat yang dapat dihasilkan eukaliptus.

Produktivitas Penyaradan

Dalam kegiatan pemanenan kayu hal yang utama yang harus diperhatikan adalah produktivitas dari kegiatan tersebut, jika produktivitas dapat tercapai sesuai dengan target pencapaian perusahaan yang telah ditentukan maka kerugian dapat dihindari. Semakin tinggi produktivitas suatu kegiatan maka waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut akan semakin sedikit atau rendah.

Produktivitas penyaradan kayu dihitung dengan cara mencatat waktu sarad dan volume kayu yang disarad. Adapun data produktivitas yang diperoleh yaitu dari data kegiatan pre bunching dan extraction. Produktivitas alat berat adalah kemampuan atau hasil maksimal yang dicapai oleh suatu alat berproduksi dalam satuan jam atau hari, dimana kapasitas produksi yang besar akan mempercepat

dan memperlancar penyelesaian pekerjaan, namun sebaliknya apabila produktivitas alat kecil maka pekerjaan akan lambat dan tidak sesuai dengan rencana penyelesaian suatu pekerjaan tersebut.

Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa produktivitas rata-rata kegiatan pre bunching pada compartment B272 dengan menggunakan excavator Hitachi 110 pc sebesar 27,53 m3/jam dan produktivitas rata-rata kegiatan pre bunching pada compartment E127 dengan menggunakan excavator Caterpillar 200 pc sebesar 28,67 m3/jam. Sementara produktivitas produktivitas rata-rata kegiatan extraction pada compartment B272 dengan menggunakan excavator Hitachi 110 pc sebesar 38,75 m3/jam dan produktivitas produktivitas rata-rata kegiatan extraction pada compartment E127 dengan menggunakan excavator Caterpillar 200 pc sebesar 47,25 m3/jam.

Produktivitas excavator Caterpillar 200 pc lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas excavator Hitachi 110 pc, hal ini disebabkan karena kapasitas produksi alat excavator Caterpillar 200 pc lebih besar dibandingkan dengan kapasitas produksi alat excavator Hitachi 110 pc. Dimana nilai daya mesin excavator Caterpillar 200 pc sebesar 390,0 Kw, berat operasi alat 24.730 Kg, berat maximum yang dapat diangkut alat 24.730 Kg, sementara nilai daya mesin excavator Hitachi 110 pc 125 Kw, berat operasi alat 19.800 Kg dan berat maximum yang dapat diangkut alat 19.800 Kg. Hasil produktivitas penyaradan dapat dilihat pada Tabel 12 dan Tabel 13.

Tabel 12. Produktivitas pada kegiatan pre bunching

Compartment Volume pohon (m³) Waktu kerja (jam) Produktivitas (m³/jam)

Pada Tabel 12 dapat dilihat bahwa produktivitas kegiatan pre bunching tertinggi terdapat pada petak 2 compartment B272 yaitu sebesar 30,66 m³/jam dengan rata-rata satu trip produktivitasnya 2,04 m³/jam dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut sebesar 3085,82 detik atau 51,43

menit, dengan jangka waktu rata-rata satu trip 205,72 detik atau 3,42 menit.

Sedangkan produktivitas terendah terdapat pada petak 1 compartment B272 yaitu 24,40 m³/jam dengan rata-rata satu trip produktivitasnya 1,62 m³/jam dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut sebesar 2729,93 detik atau 45,49 menit dengan jangka waktu rata-rata satu trip 181,99 detik atau 3,03 menit.

Perbedaan hasil dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti topografi, kelerengan lapangan, jarak sarad dan keterampilan operator. Semua faktor tersebut sangat berpengaruh besar terhadap kegiatan pre bunching.

Kelerengan lapangan yang curam akan membuat alat berat bergerak lebih susah dibandingkan dengan kelerengan lapangan yang datar dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan pada areal yang curam tentunya lebih banyak dibandingkan dengan daerah yang datar. Sama halnya seperti panjang jarak sarad akan berpengaruh juga terhadap produktivitas, semakin panjang jarak sarad maka waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pre bunching juga akan semakin lama. Keterampilan operator juga diperlukan dalam penentuan produktivitas pekerjaan, jika operator tidak terlalu paham menggunakan alat berat excavator maka pekerjaan akan lebih lama berlangsung. Produktivitas kegiatan extraction disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13. Produktivitas pada kegiatan extraction

Compartment Volume pohon (m³) Waktu kerja (jam) Produktivitas (m³/jam)

Pada Tabel 13 dapat dilihat bahwa produktivitas kegiatan extraction tertinggi terdapat pada petak 1 compartment E127 yaitu sebesar 48,39 m³/jam dengan rata-rata satu trip produktivitasnya 3,22 m³/jam dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut sebesar 5628,8 detik atau 1 jam 33 menit 48 detik, dengan jangka waktu rata-rata satu trip 375,2 detik atau 6,25 menit. Sedangkan produktivitas terendah terdapat pada petak 2 compartment B272 yaitu 37,49 m³/jam dengan rata-rata satu trip produktivitasnya 2,5 m³/jam

dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut sebesar 5785,56 detik atau 1 jam 36 menit 25 detik dengan jangka waktu rata-rata satu trip 385,70 detik atau 6,42 menit. Perbedaan hasil produktivitas pada kedua compartment tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti topografi, kelerengan lapangan, jarak sarad, keterampilan operator serta banyaknya vegetasi dalam areal petak pemanenan. Keadaan saat dilapangan juga berpengaruh terhadap produktivitas seperti halnya jalan yang berlumpur yang membuat alat berat susah untuk bergerak.

Dari kegiatan pre bunching dan extraction dapat diketahui bahwa produktivitas tertinggi terdapat pada kegiatan extraction yaitu berkisar antara 37,49 m³/jam sampai dengan 48,39 m³/jam. Hal ini disebabkan karena waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan penyaradan lebih tinggi dibandingkan dengan kegiatan pre bunching. Selain itu jarak sarad dari kegiatan extraction lebih panjang dibandingkan dengan kegiatan pre bunching.

Produktivitas penyaradan di Hutan Tanaman Industri berbeda dengan produktivitas penyaradan di Hutan Tanaman Rawa Gambut. Hal ini disebabkan karena diperlukan perencanaan yang tepat terutama dalam penggunaan alat sarad serta tekstur tanah di hutan tanaman rawa gambut lebih lembek dibandingkan dengan penyaradan di lahan kering atau hutan tanam industri. Selain itu kegiatan penyaradan memerlukan biaya yang besar, sehingga diperlukan peningkatan produktivitas sarad melalui penerapan teknik penyaradan yang tepat agar biaya menjadi minimal. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suhartana dan Yuniawati (2015) yang menyatakan bahwa teknik penyaradan pada lahan gambut berbeda dengan di lahan kering. Perbedaan tersebut dikarenakan karakteristik gambut yang rapuh dan lembek sehingga penggunaan teknik penyaradan berbeda.

Hasil penelitian yang terdapat di Hutan Tanaman Industri tepatnya di PT.Toba Pulp sektor Aek Nauli memiliki produktivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian yang dilaksanakan di HTI rawa gambut yang terdapat di Jambi dan di Riau. Rata-rata produktivitas penyaradan di HTI sektor Aek Nauli sebesar 27,53 m3/jam sampai dengan 47,25 m3/jam berbeda dengan produktivits di HTI Jambi dan Riau yang relatif lebih rendah yaitu sebesar 15,32 m3/jam dan 15,13 m3/jam . Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Suhartana,

Yuniawati, dan Dulsalam (2013) rata-rata produktivitas menggunakan ekskavator Hitachi Zaxis 110 di Jambi dan di Riau masing-masing sebesar 15,32 m3/jam dan 15,13 m3/jam. Besar kecil ukuran petak tebang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya produktivitas penyaradan. Semakin bertambah ukuran petak tebang untuk kayu yang disarad maka akan semakin sulit dalam melakukan penyaradan kayu karena keterbatasan alat sarad sehingga akan menyebabkan penurunan produktivitas penyaradan.

Biaya Penyaradan Kayu

Biaya penyaradan dapat diketahui jika biaya depresiasi, bunga modal, pajak, biaya tetap, biaya variabel dan biaya mesin telah diketahui. Dasar perhitungan nya diperoleh apabila sudah mengetahui harga alat yang digunakan, biaya bahan bakar, biaya solar, upah per hari, waktu kerja alat dan waktu kerja operator. Biaya penyaradan kayu dalam penelitian ini adalah besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengeluarkan kayu satu meter kubik sampai ke pengumpulan kayu (Tpn). Biaya tersebut meliputi biaya pada kegiatan pre bunching dan extraction. Kegiatan penyaradan dalam penelitian ini menggunakan Excavator Hitachi 110 pc dan Excavator Caterpillar 200 pc.

Tabel 14. Analisis Biaya Penyaradan Kayu

Biaya penyaradan dari kedua compartment tidak terlalu jauh perbandingan nya, yang menyebabkan biaya berbeda yaitu harga alat dan spesifikasi dari alat tersebut. Semakin tinggi atau bagus spesifikasi alat maka harga alat akan semakin tinggi. Dari Tabel 14 dapat diketahui bahwa biaya tetap pada excavator Hitachi 110 pc sebesar Rp 2.311.254, biaya variabel Rp 160.982 dan biaya mesinnya Rp 2.472.128 sedangkan biaya tetap pada excavator Caterpillar 200 pc sebesar

No Komponen biaya Alat Sarad

Hitachi 110 pc Caterpillar 200 pc

1 Depresiasi (Rp/jam) 324.999 337.500

2 Bunga Modal (Rp/jam) 18.199 18.900

3 Pajak (Rp/jam) 984.028 1.021.874

4 Biaya Tetap (Rp/jam) 2.311.254 2.400.148

5 Biaya Variabel (Rp/jam) 160.982 198.073

6 Biaya Mesin (Rp/jam) 2.472.128 2.598.071

7 Upah (Rp/Jam) 11.500 12.900

7 Biaya Usaha(Rp/jam) 2.483.628 2.610.971

8 Biaya Penyaradan (m3/hm) 4.569,63 3.800,11

Rp 2.400.148 biaya variabel Rp 198.073 dan biaya mesin Rawa Gambut Riau menggunakan excavator Hitachi sebesar Rp 18.190,5m3/hm, sedangkan rata-rata biaya penyaradan di HTI PT.Toba Pulp Lestari sektor Aek Nauli menggunakan excavator Hitachi sebesar Rp 4.569,63 m3/hm. Rata-rata biaya penyaradan di Hutan Rawa Gambut Riau menggunakan excavator Caterpillar sebesar Rp 15.926,5 m3/hm, sedangkan rata-rata biaya penyaradan di HTI PT.Toba Pulp Lestari sektor Aek Nauli menggunakan excavator Caterpillar sebesar Rp 3.800,11m3/hm. Dari penelitian Suhartana, Sukanda dan Yuniawati (2009) analisis biaya menggunakan excavator Hitachi dengan harga alat pada tahun 2008 Rp 795.150.000, waktu kerja alat 1000 jam/tahun dengan jam kerja per hari 8 jam, konsumsi solar 25 liter per jam dengan harga Rp 6000/liter, konsumsi oli 0,1 liter/jam dan upah operator Rp 150.000/hari.

Berdasarkan rata-rata produktivitas dan biaya dapat dihitung rata-rata biaya penyaradan dengan menggunakan excavator Hitachi sebesar Rp 18.190,5m3/hm. Rata-rata biaya penyaradan kayu menggunakan excavator

Berdasarkan rata-rata produktivitas dan biaya dapat dihitung rata-rata biaya penyaradan dengan menggunakan excavator Hitachi sebesar Rp 18.190,5m3/hm. Rata-rata biaya penyaradan kayu menggunakan excavator

Dokumen terkait