EUKALIPTUS DI PT. TOBA PULP LESTARI
SKRIPSI
EFRINA DINA SARI PANJAITAN 151201016
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
EUKALIPTUS DI PT. TOBA PULP LESTARI
SKRIPSI
Oleh:
EFRINA DINA SARI PANJAITAN 151201016
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar sarjana di Fakultas Kehutanan
Universitas Sumatera Utara
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Efrina Dina Sari Panjaitan
NIM : 151201016
Judul Skripsi : Efisiensi Excavator Hitachi 110 pc dan Caterpillar 200 pc Pada Penyaradan Kayu Eukaliptus Di PT. Toba Pulp Lestari
Menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri. Pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Caterpillar 200 pc Pada Penyaradan Kayu Eukaliptus Di PT. Toba Pulp Lestari, dibimbing oleh MUHDI.
Penyaradan kayu merupakan salah satu kegiatan dalam pemanenan kayu yang bertujuan untuk memindahkan kayu dari lokasi penebangan ke tempat pengumpulan kayu (Tpn). Penelitian ini bertujuan untuk melihat efisiensi excavator Hitachi 110 pc dan excavator Caterpillar 200 pc serta menganalisis produktivitas dan biaya operasional penyaradan kayu Eukaliptus pada Hutan Tanaman Industri.
Metode yang digunakan untuk mengukur waktu kerja adalah metode berhenti dan kembali ke nol dengan menggunakan 2 stopwatch dan pemakaiannya dilakukan secara konsisten. Pengukuran dilakukan pada setiap elemen kerja dan total waktu kerja. Produktivitas yang dihitung meliputi kegiatan pre bunching dan extraction.
Produktivitas pada pre bunching tertinggi sebesar 30,66 m³/jam dan produktivitas extraction tertinggi sebesar 48,39 m³/jam. Biaya penyaradan pada compartment B272 dan compartment E127 menggunakan alat excavator Hitachi 110 pc dan excavator Caterpillar 200 pc masing-masing sebesar Rp 4.569,634/m3/hm dan Rp 3.800,11/m3/hm. Kegiatan pemanenan kayu di PT. Toba Pulp Lestari lebih efisien menggunakan excavator Caterpillar 200 pc, hal ini dikarenakan excavator tersebut dalam melakukan kegiatan pemanenan kayu lebih cepat dibandingkan dengan excavator Hitachi 110 pc.
Kata Kunci : Biaya Penyaradan, Pre Bunching, Penyaradan Kayu, Produktivitas.
Caterpillar 200 pc for skidding eucalyptus at PT. Toba Pulp Lestari, supervised by MUHDI.
Timber skidding were one of the activities in timber harvesting which aims to move wood from the felling location to a wood collection point (Tpn). This study aims to look at the efficiency of Hitachi 110 pc and Caterpillar 200 pc excavators and analyze the productivity and operational cost skidding Eucalyptus wood in Industrial Plantation Forests. The method used to measure working time were the method of stopping and returning to zero by using 2 stopwatches and their use were done consistently. Measurements are made on each element of work and total work time. The calculated productivity includes pre-bunching and extraction activities. The highest productivity on the pre bunching was 30.66 m³ / hour and the highest extraction productivity were 48.39 m³/hour. Extraction costs in the compartment B272 and compartment E127 use Hitachi 110 pc excavators and 200 pc Caterpillar excavators was IDR 4,569.634/ m3 / hm and IDR 3,800.11/m3 / hm.
Timber harvesting activities at PT. Toba Pulp Lestari are more efficient using Caterpillar excavators 200 pc, because the excavators do faster wood harvesting activities than Hitachi 110 pc excavators.
Keywords: Skidding Costs, Pre Bunching, Wood Skidding, Productivity.
Penulis dilahirkan di Tarutung pada tanggal 22 Juni 1996. Penulis merupakan anak kedua dari lima bersaudara oleh pasangan Aron Panjaitan dan ibu Murni Nababan.
Penulis memulai pendidikan di SDS 032 Advent Sebanga Duri Pada tahun 2003–2009, pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 2 Mandau Sebanga Duri pada tahun 2009-2012, pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Siborong-Borong pada tahun 2012-2015. Pada tahun 2019, penulis lulus di Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) melalui jalur SNMPTN. Penulis memilih minat Departemen Manajemen Hutan.
Semasa kuliah penulis merupakan anggota organisasi UKM KMK USU UP FP (Unit Kegiatan Mahasiswa, Kebaktian Mahasiswa Kristen USU, Unit Pelayanan, Fakultas Pertanian). Penulis juga pernah menjadi asisten Silvika pada tahun 2017, asisten Ekologi Hutan pada tahun 2017, asisten Pemanenan Hasil Hutan pada tahun 2018 dan asisten Pembukaan Wilayah Hutan pada tahun 2018.
Penulis telah mengikuti Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan di Pondok Buluh pada tahun 2017. Pada tahun 2018 penulis juga telah menyelesaikan Praktik Kerja Lapang (PKL) di PT. Toba Pulp Lestari, Tbk Sektor Aek Nauli. Pada awal tahun 2018 penulis melaksanakan penelitian dengan judul “Analisis Biaya Dan Produktivitas Penyaradan Kayu Eukaliptus Secara Konvensional Di PT. Toba Pulp Lestari Sektor Aek Nauli, Provinsi Sumatera Utara” di bawah bimbingan Dr. Muhdi, S.Hut., M.Si.
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian ini dengan baik. Penelitian yang Berjudul “Efisiensi Excavator Hitachi 110 pc dan Caterpillar 200 pc Pada Penyaradan Kayu Eukaliptus Di PT. Toba Pulp Lestari” ini dimaksudkan untuk memenuhi syarat kelulusan untuk mendapatkan gelar sarjana Kehutanan.
Penulisan skripsi ini memiliki proses panjang dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis sadar tulisan ini dapat selesai hanya dengan kehendak-Nya dan bantuan dari berbagai pihak baik secara moral maupun materi. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu merampungkan tulisan ini terutama kepada:
1. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda Aron Panjaitan dan Ibunda Murni Nababan dan saudara saya Ronika Nursagi Panjaitan, Swardi Panjaitan, Febrianto Panjaitan dan Lestari Widia Panjaitan yang tetap memberikan semangat dan dukungan materi serta doa yang tiada henti kepada penulis
2. Bapak Dr. Muhdi, S.Hut., M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah bersedia membimbing penulis dan menuangkan ilmunya dalam penyelesaian skripsi ini 3. Bapak Dr. Budi Utomo, S.P., M.P selaku dosen penguji pertama, Ibu
Dr. Evalina Herawati, S.Hut., M.Si, selaku dosen penguji kedua dan Ibu Dr. Ir. Ma’rifatin Zahra, S. Hut., M.Si selaku dosen penguji ketiga saya yang telah bersedia memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis
4. Teman Hidup saya Ernot Friado Hutasoit yang telah memberikan motivasi dan semangat kepada saya dalam menyelesaikan skripsi ini
5. Kelompok kecil saya Xadriell Sunergeo MS, sahabat saya Janice Sitinjak, Inka Simorangkir, Sri Enjeli Lumban Batu, Dhea Inayah, Raskita Br. Bukit, Cynthia Siahaan dan seluruh teman-teman yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu per satu yang telah memberi semangat dan doa sehingga selesainya penulisan skripsi ini
6. Seluruh staf dan pegawai Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bantuan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa hasil penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak dalam upaya untuk membangun akan sangat penulis hargai. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.
Medan, Juni 2019
Efrina Dina Sari Panjaitan
Halaman
PERNYATAAN ORISINALITAS ... i
ABSTRAK ... ... ii
ABSTRACT ... ... iii
RIWAYAT HIDUP ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI.. ... ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
PENDAHULUAN Latar Belakang .... ... 1
Tujuan Penelitian ... 2
Manfaat Penelitian ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Penyaradan ... ... 4
Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Penyaradan ... 5
Penyaradan dengan Traktor ... 6
Elemen Kerja ... ... 8
Waktu Kerja ... ... 8
Keunggulan dan Kelemahan Menggunakan Traktor ... 9
Produktivitas Kerja... 10
Pertimbangan Penggunaan Alat Sarad ... 12
Biaya Penyaradan ... 12
Efisiensi Pemanenan Kayu ... 14
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ... 16
Bahan dan Alat Penelitian ... 16
Jenis Data ... ... . 16
Prosedur Penelitian ... 16
Data Yang Dikumpulkan ... 18
Pengolahan Data . ... . 18
Analisis Data ... ... 20
HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Penyaradan Kayu ... 22
Elemen Kerja ... ... 22
Waktu Kerja Penyaradan... 24
Penyaradan Kayu ... 25
Volume Pohon ... ... 32
Volume Sarad .... ... 32
Produktivitas Penyaradan ... 33
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... ... 43 Saran ... ... 43 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
No Teks Halaman
1. Waktu kerja rata-rata pre bunching kompartement B272 (Petak 1) ... 26
2. Waktu kerja rata-rata pre bunching kompartement B272 (Petak 2) ... 26
3. Waktu kerja rata-rata pre bunching kompartement E127 (Petak 1) ... 27
4. Waktu kerja rata-rata pre bunching kompartement E127 (Petak 2) ... 27
5. Waktu kerja rata-rata extraction kompartement B272 (Petak 1) ... 30
6. Waktu kerja rata-rata extraction kompartement B272 (Petak 2) ... 30
7. Waktu kerja rata-rata extraction kompartement E127 (Petak 1) ... 31
8. Waktu kerja rata-rata extraction kompartement E127 (Petak 2) ... 31
9. Volume rata-rata pohon pada setiap kompartement ... 32
10. Volume sarad pada kegiatan pre bunching ... 32
11. Volume sarad pada kegiatan extraction ... 33
12. Produktivitas pada kegiatan pre bunching ... 34
13. Produktivitas pada kegiatan extraction ... 35
14. Analisis Biaya Penyaradan Kayu ... ... 37
15. Analisis Regresi Pada Kompartemen B272 Kegiatan Pre Bunching ... ... 38
16. Analisis Regresi Pada Kompartemen B272 Kegiatan Extraction ... 39
17. Analisis Regresi Pada Kompartemen E127 Kegiatan Pre Bunching ... 39
18. Analisis Regresi Pada Kompartemen E127 Kegiatan Extraction ... 40
19. Analisis Regresi Pada Kompartemen B272 Kegiatan Pre Bunching ... 41
20. Analisis Regresi Pada Kompartemen B272 Kegiatan Extraction ... 41
21. Analisis Regresi Pada Kompartemen E127 Kegiatan Pre Bunching ... 42
22. Analisis Regresi Pada Kompartemen E127 Kegiatan Extraction ... 42
No Teks Halaman
1. Kegiatan Berjalan Kosong ... ... 23
2. Kegiatan Memuat Kayu ... ... 23
3. Kegiatan Berjalan Bermuatan ... ... 23
4. Kegiatan Membongkar Kayu ... ... 24
5. Alat Yang Digunakan Dalam Penyaradan Kayu ... ... 25
No Teks Halaman 1. Harga Alat Penyaradan Kayu ... ... 47 2. Perhitungan Biaya Pre Bunching dan Extraction ... ... 48 3. Analisis Persamaan Regresi Berganda ... ... 58
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hutan sebagai bagian dari sumberdaya alam nasional memiliki arti dan peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial dan pembangunan lingkungan hidup yang berkelanjutan sehingga mampu memenuhi kebutuhan makhluk hidup baik flora, fauna dan manusia. Telah diterima sebagai kesepakatan internasional bahwa hutan yang berfungsi penting bagi kehidupan dunia, harus dibina dan dilindungi dari berbagai tindakan yang berakibat rusaknya ekosistem dunia. Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki nilai ekonomi, ekologi dan sosial yang tinggi. Hutan alam tropika juga berfungsi sebagai paru-paru dunia dan sistem penyangga kehidupan sehingga kelestariannya harus dijaga dan dipertahankan dengan pembangunan hutan yang tepat.
Berdasarkan Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999, pembagian hutan di Indonesia berdasarkan fungsinya adalah hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi.
Kegiatan pemanenan kayu bertujuan untuk mengeluarkan kayu yang ditebang dari dalam hutan. Kayu tidak dapat dikeluarkan apabila kegiatan pemanenan kayu tidak berjalan. Salah satu kegiatan pemanenan kayu yang penting adalah penyaradan. Penyaradan adalah kegiatan yang memindahkan kayu dari tempat penebangan (petak tebang) ke tempat pengumpulan kayu sementara (TPn) yang terletak dipinggir jalan angkutan. Penggunaan alat sarad mekanis membutuhkan pertimbangan dari segi teknis, ekonomi dan ekologi. Dari segi teknis perlu dipertimbangkan terhadap kondisi lapangan dan sistem silvikultur yang digunakan. Dari segi ekologi diusahakan mengurangi kerusakan lingkungan dan dari segi ekonomi perlu dipertimbangkan keuntungan dari target produksi yang dapat dicapai dengan biaya operasional alat, terutama dari segi produktivitas kerja alat. Penggunaan alat penyarad kayu menghendaki adanya keleluasaan gerak, kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya kerusakan tegakan tinggal.
Demikian pula kontak antara alat penyarad dan kayu yang disarad dapat mengakibatkan kerusakan struktur tanah. Kegiatan penyaradan harus memperhatikan lingkungan sekitarnya (Suhartana dan Yuniawati, 2013).
Dalam pemanenan kayu, penyaradan merupakan kegiatan memindahkan kayu dari tempat penebangan (tunggak) ke tempat pengumpulan kayu sementara (TPn) yang terletak di pinggir jalan angkutan. Kegiatan penyaradan tersebut merupakan tolok ukur penting tingkat keberhasilan pemanenan kayu di hutan alam karena terkait langsung dengan biaya produksi dan volume kayu yang dapat dimanfaatkan. Biaya penyaradan kayu merupakan komponen paling besar dalam struktur biaya produksi kayu. Kegiatan pemanenan kayu di dunia sebagian besar (65%) menerapkan metode whole tree logging dan 35% dilakukan dengan metode tree length logging. Kegiatan pemanenan kayu hutan alam di Indonesia umumnya menerapkan metode konvensional, yaitu dengan cara menyarad kayu sepanjang mungkin dari lokasi tebangan ke TPn tanpa mengikut sertakan bagian batang kayu di atas cabang pertama. Akibatnya, selain masih banyak terjadi limbah kayu pada bagian batang bebas cabang juga bagian kayu di atas cabang pertama tetap tertinggal di hutan sehingga efisiensi pemanenan kayu menjadi tidak maksimal (Idris dan Soenarno, 2012).
PT. Toba Pulp Lestari, Tbk yang bergerak di bidang industri pengolahan pulp, berlokasi di Desa Sosor Ladang, Pangombusan Porsea, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Nama perusahaan ini sebelumnya adalah PT. Inti Indorayon Utama,Tbk yang memproduksi rayon dan bubur kertas (pulp). Namun, sejak tanggal 5 April 2011, perusahaan tersebut berubaha nama menjadi PT. Toba Pulp Lestari,Tbk yang kini hanya memproduksi bubur kertas (pulp). PT Toba Pulp Lestari, Tbk (Perusahaan) merupakan salah satu dari beberapa pabrik pulp di Indonesia berteknologi tinggi yang mulai beroperasi tahun 2003 dengan kapasitas produksi 750 ton/hari. Bermodalkan areal Hutan Tanaman Industri (HTI) sebesar 198.000 Ha yang ditanami dengan tanaman jenis Eucalyptus grandis sebagai bahan baku proses pembuatan pulp PT. Toba Pulp lestari,Tbk (Aritonang., dkk, 2016).
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah melihat efisiensi excavator Hitachi 110 pc dan excavator Caterpillar 200 pc serta menganalisis produktivitas dan biaya operasional penyaradan kayu Eukaliptus pada Hutan Tanaman Industri.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi kepada perusahaan guna mengetahui produktivitas penyaradan kayu Eukaliptus secara konvensional pada Hutan Tanaman Industri serta biaya operasional alat pada kegiatan penyaradan
TINJAUAN PUSTAKA
Penyaradan
Penyaradan sebagai salah satu dari rangkaian kegiatan pemanenan kayu mempunyai peranan penting untuk mengeluarkan kayu dari petak tebang.
Penyaradan akan mempermudah kegiatan pengangkutan apabila dilakukan dengan teknik yang tepat. Penyaradan di areal Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) menggunakan alat sarad dengan kayu yang disarad menghendaki areal operasional yang tidak mengganggu tumpukan kayu yang ditebang sekitar petak tebang. Teknik penyaradan yang dilakukan harus dapat meningkatkan produktivitas penyaradan dengan biaya produksi minimal sehingga memberi keuntungan bagi perusahaan (Suhartana dan Yuniawati, 2015).
Penyaradan dengan traktor dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ukuran dan jenis traktor yang digunakan, daya tarik pada kait, mesin dan alat bantu yang digunakan, jumlah kayu yang disarad dan pengalaman operator yang menjalankan. Kegiatan penyaradan juga dipengaruhi oleh jarak sarad, jumlah muatan, topografi, cuaca dan kondisi tanah. Penggunaan alat traktor sebagai alat sarad mempunyai banyak keuntungan. Keuntungan penggunaan traktor sebagai alat sarad adalah dapat bergerak leluasa antara pohon inti pada sistem tebang pilih, dapat digunakan dengan aman sampai tingkat kelerengan 40% dan dapat digunakan pada jarak yang cukup jauh (Dulsalam dan Sukadaryati, 2002).
Kegiatan pemanenan kayu hutan alam di Indonesia umumnya menerapkan metode konvensional, yaitu dengan cara menyarad kayu sepanjang mungkin dari lokasi tebangan ke TPn tanpa mengikut sertakan bagian batang kayu di atas cabang pertama. Akibatnya, selain masih banyak terjadi limbah kayu pada bagian batang bebas cabang juga bagian kayu di atas cabang pertama tetap tertinggal di hutan sehingga efisiensi pemanenan kayu menjadi tidak maksimal. Untuk itu, perlu dilakukan perbaikan metode pemanenan kayu yang dapat memaksimalkan pemanfaatan kayu batang bebas cabang sekaligus dapat mengeluarkan potensi kayu dari batang diatas cabang. Metode perbaikan pemanenan kayu tersebut dikenal dengan tree length logging. Traktor sarad yang umum digunakan adalah traktor beroda rantai (crawler tractor). Sedangkan untuk mengurangi kerusakan
pohon dan lingkungan maka metode tree length logging diterapkan berdasarkan prinsip ramah lingkungan atau yang dikenal dengan reduced impact logging (RIL). Dalam teknologi RIL tersebut didesain letak (lay out) dari petak-petak tebang dan unit-unit inventarisasi tegakan, rencana operasi pemanenan kayu dan arah rebah pohon. Arah rebah yang terbaik adalah yang mendekati atau menjauhi jalan sarad dengan membentuk sudut 300- 450 (Idris dan Soenarno, 2015).
Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Penyaradan
Penyaradan merupakan salah satu tahap yang penting dalam pemanenan kayu yang bertujuan untuk memindahkan kayu dari tepat tebangan ketempat pengumpulan sementara di jalan angkutan yang perlu mendapatkan perhatian mengingat hutan Indonesia tersebar luas dengan keadaan lapangan antara lain, topografi, lokasi dan jarak yang beragam. Faktor utama yang menentukan pemilihan sistem penyaradan adalah diameter kayu serta kondisi topografi (Muhdi., dkk, 2006). Penggunaan peralatan penyaradan sebaiknya disesuaikan dengan keadaan lapangan, karena kegiatan penyaradan kayu umumnya dilakukan secara mekanis seperti penyaradan menggunakan kabel dan penyaradan dengan menggunakan traktor atau skidder.
Warman (2003) aspek-aspek yang mempengaruhi penyaradan adalah jarak sarad, volume kayu yang disarad, topografi, cuaca, keadaan tanah dan keterampilan operator. Oleh karena itu, untuk meningkatkan produktifitas alat sarad maka faktor yang mempengaruhi penyaradan kayu perlu dipertimbangkan.
Sehingga menunjang pelaksanaan penyaradan kayu sesuai dengan kebutuhan.
Oleh sebab itu perlu pengkajian ilmiah untuk mengetahui produktifitas traktor dalam penyaradan kayu serta jumlah traktor yang digunakan sehingga pemanfaatan hutan sebagai sumber kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dengan tetap menjaga kelestarian hutan.
Teknik penyaradan pada lahan gambut berbeda dengan di lahan kering.
Perbedaan tersebut dikarenakan karakteristik gambut yang rapuh dan lembek
sehingga penggunaan teknik penyaradan berbeda.
Suhartana dan Yuniawati (2015) menyebutkan bahwa secara umum penyaradan kayu di hutan tanaman lahan gambut dilakukan dengan tiga cara yaitu:
(1) Penyaradan sistim manual (rawa gambut kering), dengan menggunakan
ongkak yang ditarik oleh tenaga manusia. (2) Penyaradan kayu dengan sampan darat semi mekanis (rawa gambut tergenang air), penyaradan kayu dengan sampan darat merupakan kegiatan pengumpulan kayu dari tempat tebangan ke pinggir sungai dengan menggunakan sampan/gerobak dari besi yang dirancang khusus untuk menyarad kayu di hutan rawa gambut yang ditarik oleh ekskavator. Alat sarad yang digunakan pada lahan gambut adalah ekskavator yang dimodifikasi.
Ekskavator adalah alat yang dirancang secara khusus untuk mengeruk dan memindahkan tanah. Memiliki bentuk tapak (track) yang lebar dan rantainya berbentuk segi tiga serta daya apung (flotation) yang tinggi untuk beroperasi pada daerah yang lembek.
Penyaradan Dengan Traktor
Penyaradan merupakan suatu proses untuk mengangkut kayu bulat yang dihasilkan dari kegiatan penebangan di petak tebangan menuju ke tempat pengumpulan kayu yang pada umumnya menggunakan traktor penyarad. Pada hutan alam tropika dataran kering penyaradan kayu dilakukan dengan sistem mekanis yakni dengan menggunakan traktor. Waktu kerja penyaradan kayu adalah sebagai berikut: a) Waktu pembuatan tempat pengumpulan kayu (Tpn); b.) Waktu pembuatan jalan sarad; c.) Waktu penyaradan; d). Jarak sarad; e) Diameter dan panjang log; dan jumlah tenaga kerja. Waktu kerja penyaradan diukur dengan stopwatch, merupakan jumlah dari setiap waktu kerja masing-masing elemen kegiatan (Muhdi, 2015).
Pada prinsipnya traktor yang digunakan untuk penyaradan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu traktor berban baja (crawled tractor) dan traktor berban pompa (wheeled tractor). Masing-masing jenis mempunyai keunggulan dan kekurangan sehingga yang penting adalah menempatkan keduanya di tempat dan situasi yang tepat sehingga bisa menghasilkan produksi yang tinggi. Traktor berban baja pada saat ini adalah jenis yang banyak digunakan dalam penyaradan, baik di negara barat maupun di negara timur, bila kondisi tanahnva mengijinkan. Traktor dapat dioperasikan pada kelerengan antara 50% - 60%. Kadang- kadang pemakaian traktor berban baja ini jug harus diperhitungkan terhadap kerusakan terhadap pemadatan tanah dan erosi, terutama pada lereng yang sangat curam. Traktor ini banyak disenangi karena disamping pekerjaan
pokok menyarad kayu juga dapat dimanfatkan dalam pembuatan jalan angkutan, untuk kontruksi tempat pengumpulan (landing), dan juga alur sarad dan ilaran api.
Mesinnya sangat kuat. Akan tetapi dilain pihak traktor ini sangat berat dan jalannya lambat. Dengan demikian bila yang disarad itu kayu yang kecil-kecil maka tidak ekonomis.
Pemuatan dengan traktor dapat memuat dengan berbagai macam cara.
Salah satu yang banyak dilakukan dan paling sederhana adalah dengan cara cross hauk method. Tugas traktor adalah menarik kabel dari seberang sisi dari kayu yang dimuat. Dengan pertolongan kayu tiang yang disandarkan pada salah satu sisi truk maka kayu tiang dinaikkan diatas truk dengan cara kabel yang dikaitkan pada kayu tersebut ditarik dari sisi sebelah truk oleh traktor. Kayu dapat dengan mudah ditarik keatas trailer karena kayu itu bulat hingga mudah menggelinding ke atas. Cara pemuatan ini cukup lama, namun sampai sekarang masih banyak yang menggunakan karena praktisnya dan dapat dilaksanakan tanpa bantuan alat yang sukar didapat cukup oleh traktor yang biasa digunakan untuk penyaradan. Traktor juga dapat memuat dengan cara menarik kabel winch yang dipasang diantara dua pohon. Pohon yang dipakai harus dipilih yang terkuat sehingga mampu menahan berat kayu yang dimuat.
Pada kegiatan pemanenan hutan alam atau hutan tanaman industri (HTI) kegiatan penyaradan memegang peranan penting, karena: a. Kayu yang berada di dalam hutan dapat segera dikeluarkan secara tepat waktu atau sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, b. Mengurangi resiko kayu dari serangan rayap, sehingga nilai ekonomi dapat dipertahankan dengan harga tinggi, c. Mempermudah kegiatan penanaman bibit pohon pada areal bekas tebangan karena sudah bersih dari batang kayu yang berceceran dipermukaan lantai hutan.
Untuk memilih jenis alat berat dalam kegiatan penyaradan (traktor) dan kegiatan pengangkutan (maka perlu diperhatikan tiga persyaratan sebagai berikut: a. Aspek teknis, yaitu kelayakan alat berat dan komponen pelengkapnya, b. Sifat fisik material, medan kerja lingkup pekerjaan, faktor iklim dan cuaca, volume pekerjaan, waktu penyelesaian, tenaga kerja, kapasitas produk alat dan estimasi jumlah alat, c. Aspek ekonomis, biaya pemilikan ekskavator, valmer forwarder
logging truck/ dumptruck) (attachment) dan biaya operasi, dan d. Aspek sumber daya manusia (Basari dan Dulsalam, 2012).
Elemen Keja
Elemen kerja adalah bagian dari waktu kerja yang dilaksanakan secara berurutan dalam suatu siklus kerja. Elemen kerja dalam kegiatan penyaradan terdiri dari 4 elemen. Dimana elemen-elemen tersebut merupakan elemen kerja yang telah ditetapkan dan saling berpengaruh antara satu dengan yang lain.
Elemen kerja penyaradan kayu terdiri dari persiapan (memanasi mesin forwarder, berjalan kosong menuju lokasi penebangan, mengumpulkan pohon yang sudah ditebang, berjalan bermuatan menuju Tpn kemudian melakukan pembongkaran. Urutan kerja penyaradan dimulai dengan berjalan menuju tempat tebangan yaitu excavator berjalan kosong dijalan sarad hingga kelokasi penebangan.
Mengumpulkan dan mengatur posisi kayu dengan tujuan pemasangan kabel. Setelah selesai dikumpulkan kemudian pemasangan kabel pada kayu yang dikaitkan pada kait yang terdapat pada escavator dan kemudian disarad sampai Tpn. Waktu kerja pada masing-masing elemen kerja diukur dengan menggunakan stop wath dengan metode null stop (pengembalian posisi jarum ketitik semula setelah satu siklus penebangan selesai). Dalam penebangan pohon (termasuk pembagian batang didalamnya merupakan elemen yang sangat penting. Sebelum kayu disarad dilakukan pengukuran terhadap dimensinya, yaitu panjang dan diameter kayu (Budiaman, 2002).
Waktu Kerja
Waktu kerja (time study) merupakan suatu usaha untuk menentukan lamanya waktu kerja yang diperlukan oleh seorang operator untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Pengukuran waktu secara garis besar terdiri dari 2 jenis, yaitu pengukuran waktu kerja langsung dan pengukuran waktu tidak langsung.
a. Pengukuran waktu kerja langsung
merupakan pengukuran dilakukan secara langsung di tempat dimana pekerjaan yang sedang berlangsung
b. Pengukuran waktu kerja tidak langsung
merupakan pengukuran dilakukan secara tidak langsung dimana pengamat tidak harus melakukan perhitungan waktu kerja di tempat pekerjaan. Pengukuran waktu ditujukan untuk mendapatkan waktu baku penyelesaian pekerjaan, yaitu waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh seorang pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dijalankan dalam sistem kerja terbaik.
Peranan penentuan waktu bagi suatu pekerjaan sangat besar di dalam sistem produksi seperti untuk sistem upah perangsang, penjadwalan kerja dan mesin, pengaturan tata letak pabrik, penganggaran dan sebagainya.
Analisis waktu kerja penyaradan dilakukan untuk mengetahui hubungan antara elemen kerja penyaradan dengan pohon yang disarad. Dalam penyaradan, diameter dan panjang pohon merupakan faktor penting yang harus diperhatikan untuk mengefisienkan waktu penyaradan dan meminimalisasikan biaya penyaradan. Terjadinya kecelakaan kerja dapat mempengaruhi ekonomi, kehilangan waktu kerja, kerusakan alat, kematian, kelainan atau cacat, kekacauan organisasi. Waktu yang terbuang dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan dan pekerja itu sendiri. Perusahaan akan kehilangan produksi yang seharusnya diperoleh.
Sedangkan pekerja akan kehilangan pendapatan sebesar waktu yang hilang. Di sisi lain perlindungan K3 merupakan hak bagi pekerja. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan (Wahidi, 2009).
Keunggulan dan Kelemahan Menggunakan Traktor Sebagai Alat Penyaradan
Keterlibatan alat-alat berat dalam kegiatan pengelolaan hutan sangat penting. Perananan alat berat terutama dalam kegiatan penyaradan kayu memberikan kontribusi yang sangat besar dalam mewujudkan kelancaran produksi kayu. Areal kerja yang berat dan sulit serta aksesibilitas yang sangat mudah dan keterbatasan tenaga manusia mendorong kegiatan di bidang pengelolaan hutan menggunakan alat-alat berat.
Alat penyaradan yang akan dipakai dalam kegiatan penyaradan kayu harus dipilih sesuai dengan keadaan lapangan dan ukuran kayu yang disarad. Traktor
crawler merupakan salah satu alat penyaradan yang berfungsi untuk menyarad kayu dengan menggunakan ban baja atau ban rantai (track) yang dilengkapi dengan blade yang berfungsi untuk membuat dan membuka jalan sarad dan untuk menumpuk kayu.
Keunggulan dari traktor crawler antara lain :
1. Alat dengan mudah dapat membuka jalan melalui hutan untuk mencapai kayu yang akan disarad.
2. Alat mampu bekerja pad tanjakan yang curam dan permukaan tanah yang licin atau basah karena berat operasi besar, faktor traksi yang kuat dan floration yang lebih baik.
3. Dengan adanya daya traksi atau cengkeraman yang tinggi maka traktor tipe crawler cocok untuk menarik beban berat.
Adapun kelemahannya adalah :
1. Kecepatan menyarad yang terbatas dimana kecepatan alat lebih kurang 4-4 km/jam
2. Keterbatasan jarak tempuh sarad
Jarak yang ekonomis pada traktor tipe crawler lebih kurang 500 m, karena adanya biaya undercarriage (Muhdi, 2005).
Produktifitas Kerja
Produktivitas adalah jumlah hasil yang dicapai oleh seseorang pekerja atau unit faktor lain dalam jangka waktu tertentu. Produktivitas adalah rumusan tradisional bagi keseluruhan. Produktivitas tidak lain ialah ratio daripada apa yang dihasilkan (output) terhadap keseluruhan peralatan produksi yang dipergunakan (input). Produktivitas pada dasarnya adalah suatu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik daripada hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari ini. Produktivitas kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berhubungan dengan lingkungan perusahaan maupun dengan kebijakan pemerintah secara keseluruhan seperti pendidikan, dan keterampilan, disiplin, sikap, dan etika kerja, motivasi, gizi dan kesehatan, tingkat penghasilan dan iklim kerja, hubungan industrial, teknologi, sarana produksi, manajemen, kesempatan berprestasi dan kebijakan pemerintah (Priyanto, 2014).
Produktivitas merupakan salah satu unsur utama dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan suatu proses pelayanan. Dalam menentukan produktivitas perlu adanyawaktu standar kerja. Waktu kerja merupakan salah satu faktor yang penting dan perlu mendapat perhatian dalam sistem produksinya.
Waktu kerja berperan dalam penentuan produktivitas kerja serta dapat menjadi tolak ukur untuk menentukan metode kerja yangterbaik dalam penyelesaian suatu pekerjaan. Untuk dapat membandingkan waktu kerjayang paling baik dari metode kerja yang ada dibutuhkan suatu waktu baku atau waktu standar sebagai acuan untuk penentuan metode kerja yang terbaik. Waktu baku didapatkan dari pengukuran waktu kerja (Setyabudhi., dkk, 2017).
Produktivitas kerja merupakan perbandingan antara hasil yang diperoleh (output) dengan jumlah sumber daya yang dipergunakan sebagai masukan (input).
Produktivitas kerja biasanya dinyatakan sebagai imbangan hasil rata-rata yang dicapai oleh tenaga kerja, selama jam kerja yang tersedia dalam proses produksi.
Produktivitas tenaga kerja merupakan faktor yang sangat penting, karena produktivitas tenaga kerja memiliki peran besar dalam menentukan sukses tidaknya suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya. Dengan meningkatkan produktivitas tenaga kerja ini secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan kepuasan kerja dari para pekerja, selain itu juga akan mendorong motivasi para pekerja untuk meningkatkan kinerja menjadi lebih baik lagi.
Dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja di suatu perusahaan perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja tersebut.
Banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja baik yang berhubungan dengan tenaga kerja itu sendiri maupun faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan perusahaan dan kebijakan pemerintah secara keseluruhan. Menurut Rismayadi (2015) faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan perusahaan dapat digolongkan pada dua kelompok, yaitu: pertama, yang menyangkut kualitas dan kemampuan fisik karyawan yang meliputi: tingkat pendidikan, latihan, motivasi kerja, etos kerja, mental dan kemampuan fisik karyawan. Kedua, berupa sarana pendukung yang meliputi:
a). Lingkungan kerja (produksi, sarana dan peralatan produksi, tingkat
keselamatan kerja). b) kesejahteraan karyawan (manajemen dan hubungan industri) (Rismayadi, 2015).
Pertimbangan Penggunaan Alat Sarad
Suhartana dan Yuniawati (2005) menyatakan Penggunaan alat sarad mekanis membutuhkan pertimbangan dari segi teknis, ekonomi dan ekologi. Dari segi teknis perlu dipertimbangkan terhadap kondisi lapangan dan sistem silvikultur yang digunakan. Dari segi ekologi diusahakan mengurangi kerusakan lingkungan dan dari segi ekonomi perlu dipertimbangkan keuntungan dari target produksi yang dapat dicapai dengan biaya operasional alat, terutama dari segi produktivitas kerja alat. Untuk mengurangi kerusakan lingkungan (tanah maupun tegakan tinggal) yang ditimbulkan oleh kegiatan penyaradan kayu, penyaradan seharusnya dilakukan sesuai dengan rute penyaradan yang sudah direncanakan di atas peta kerja, selain itu juga dimaksudkan agar prestasi kerja yang dihasilkan cukup tinggi.
Perencanaan jalan sarad dilakukan satu tahun sebelum kegiatan penebangan dimulai. Letak jalan sarad ini harus ditandai di lapangan sebagai acuan bagi operator atau penyarad kayu. Penggunaan alat penyarad kayu menghendaki adanya keleluasaan gerak, kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya kerusakan tegakan tinggal. Demikian pula kontak antara alat penyarad dan kayu yang disarad dapat mengakibatkan kerusakan struktur tanah.
Kegiatan penyaradan harus memperhatikan lingkungan sekitarnya. Peran penting penyaradan yang memindahkan kayu dari petak tebang ke TPn, dimaksudkan untuk memudahkan truk atau alat angkut lain untuk mengangkut kayu-kayu tebangan keluar dari hutan. Pada umumnya kegiatan penyaradan di hutan tanaman lahan kering di Indonesia menggunakan excavator.
Biaya Penyaradan
Biaya merupakan pengorbanan sumber daya ekonomi untuk memperoleh aktiva, dapat diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi, dimana pengorbanan tersebut untuk mencapai tujuan tertentu dan memperoleh manfaat untuk masa yang akan datang. Dalam sebuah anggaran perusahaan biaya akan bereaksi atau merespon perubahan aktivitas
bisnis. Jika tingkat kegiatan naik atau turun, sebuah biaya dapat mengalami kenaikan atau penurunan, baik secara proporsional atau tidak, bisa pula biaya tersebut tidak berubah (Winarso, 2014).
Berdasarkan perilaku biaya maka biaya dikelompokan menjadi:
a. Biaya Variabel
Biaya variable (variable cost) adalah biaya yang jumlahnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan, tetapi biaya variabel per unit tetap walaupun volume kegiatan berubah. Contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku dan biaya overhead pabrik.
a. Biaya Perbaikan dan Perawatan Traktor S =
b. Biaya Bahan Bakar Bbk =
c. Biaya Oli O =
Biaya Variabel = Biaya Perawatan dan Perbaikan + Biaya Bahan Bakar + Biaya Oli
b. Biaya Tetap
Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang jumlahnya tetap dalam kisaran volume kegiatan tertentu, tetapi biaya tetap per unit berubah bila volume kegiatan berubah. Contoh biaya tetap adalah biaya penyusutan dan biaya depresiasi.
1. Depresiasi D =
2. Bunga Modal Bunga Modal = 3. Pajak Pj =
Keterangan : Pj = ajak (Rp/jam); 0,05 = persentase pajak (5%).
4. Asurasi A =
Keterangan : A = Asuransi (Rp/jam); 0,05 = persentase asuransi (5%).
4. Biaya Tetap = Depresiasi + Biaya Modal + Asuransi dan Pajak Dimana : N = Masa Pakai Truk
M = Harga Traktor
R = Harga Rongsokan Traktor (10% x harga alat) Biaya Usaha Alat = Biaya Tetap + Biaya Variabel + Biaya Operator Efisiensi Pemanenan Kayu
Besarnya efisiensi pemanenan kayu berkisar antara 75 - 87% dengan rata- rata 82,13%. Untuk itu, perlu dilakukan perbaikan metode pemanenan kayu yang dapat memaksimalkan pemanfaatan kayu batang bebas cabang sekaligus dapat mengeluarkan potensi kayu dari batang diatas cabang. Metode perbaikan pemanenan kayu tersebut dikenal dengan tree length logging. Pada metode tree length logging maka kayu yang disarad ke TPn tidak saja berupa batang bebas cabang tetapi juga bagian kayu di atas cabang pertama sampai diameter ujung minimal 30 cm. Traktor sarad yang umum digunakan adalah traktor beroda rantai (Crawler tractor). Sedangkan untuk mengurangi kerusakan pohon dan lingkungan maka metode tree length logging diterapkan berdasarkan prinsip ramah lingkungan atau yang dikenal dengan reduced impact logging (RIL) (Idris dan Soenarno, 2012).
Pemanenan kayu menyebabkan kerusakan yang tinggi pada tanah dan tegakan hutan yang memengaruhi regenerasi hutan. Pengurangan kerusakan akibat pemanenan kayu merupakan prasyarat untuk mencapai pengelolaan hutan lestari (sustainable forest management). Pengurangan kerusakan tanah dan tegakan dapat mengurangi siklus tebang karena menjamin regenerasi dan pertumbuhan tegakan komersial. Perkembangan tegakan hutan dalam merespon kerusakan akibat pemanenan kayu merupakan hal yang sangat penting dalam penerapan praktik pengelolaan hutan. Untuk mengetahui kerusakan tegakan sisa akibat pemanenan kayu dengan teknik Reduced Impact Logging (RIL) dan konvensional. Caranya
adalah dengan mengetahui besarnya tingkat kerusakan tegakan sisa akibat pemanenan kayu dengan teknik RIL dan pemanenan kayu secara konvensional.
Regu tebang dan regu sarad merupakan regu yang sama dengan pemanenan kayu konvensional, demikian pula peralatan pemanenan kayu yang digunakan. Sebelum pelaksanaan RIL dibuat perencanaan pemanenan kayu yang intensif meliputi:
penentuan arah rebah, jaringan jalan sarad di atas peta dan ditandai di lapangan (Muhdi, 2009).
Pemanenan kayu berperan sangat penting dalam kegiatan produksi kayu.
Kegiatan tersebut lebih didominasi oleh penggunaan peralatan manual, semi mekanis dan mekanis. Pada areal pengusahaan hutan produksi alam, penggunaan alat dalam pemanenan kayu cenderung ke sistem semi mekanis dan mekanis.
Tidak menutup kemungkinan kegiatan pemanenan kayu juga masih ada yang menggunakan sistem manual. Selama ini penggunaan peralatan pemanenan kayu kurang efisien terutama pada ketepatan ketersediaan jumlah peralatan. Jumlah alat yang melebihi hasil produksi kayu merupakan pemborosan baik investasi maupun pemeliharaan. Demikian juga sebaliknya kekurangan jumlah alat pemanenan kayu berarti produksi kayu tidak dapat tercapai. Peralatan pemanenan kayu mempunyai harga dan biaya operasional yang mahal. Dengan biaya investasi tinggi tersebut sangat penting untuk melakukan pengelolaan pemanenan kayu yang efisien sehingga profitabilitas menjadi pasti, dan hal tersebut dapat dicapai melalui informasi terkini dari data produktivitas dan biaya pemanenan kayu (Suhartana dan Yuniawati, 2017).
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Kegiatan Penelitian ini dilaksanakan di PT. Toba Pulp Lestari Sektor Aek Nauli, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada 27 September 2018 – 06 Oktober 2018.
Bahan dan Alat Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tegakan pohon Eucalyptus beserta daftar rincian biaya produksi seperti harga alat, pemakaian bahan bakar dan pelumas.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Excavator, laptop, stop wacth, buku ukur/tally sheet, parang, personal use (sepatu lapangan, helm, masker) dan kamera digital.
Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung ketika melakukan penelitian, yakni hasil observasi dari hasil penelitian. Data primer yang diperoleh yaitu volume pohon, waktu kerja efektif dan waktu kerja tidak efektif saat melakukan penyaradan. Sementara data sekunder merupakan jenis data yang diperoleh melalui media perantara atau secara tidak langsung seperti buku data mengenai biaya pemeliharaan dan perawatan alat, harga alat, upah operator, kebutuhan bahan bakar dan pelumas yang digunakan beserta berkas-berkas mengenai lokasi penelitian.
Prosedur Penelitian
Penelitian di PT. Toba Pulp Lestari, Tbk di sektor Aek Nauli ini dilakukan di 2 compartement. Pada masing-masing kompartment diukur 30 kali ulangan/trip penyaradan dengan menggunakan jarak sarad pendek dan panjang.
Adapun cara pengukuran waktu kerja yang dilakukan dengan menggunakan 2 stopwatch yaitu metode berhenti dan kembali ke nol dan
pemakaiannya dilakukan secara konsisten. Pengukuran dilakukan pada setiap elemen kerja dan total waktu kerja.
1. Penyaradan Kayu
Penyaradan kayu yang terdapat di PT. Toba Pulp Lestari, Tbk di sektor Aek Nauli ini melalui 2 tahapan kegiatan yaitu: 1. Pre bunching merupakan proses memisahkan ranting dan daun dari batang kayu yang akan disarad kemudian dikumpulkan agar mudah ditarik/extraction dari lapangan ke TPn (Tempat Penumpukan Kayu), 2. extraction/skidding yaitu kegiatan memindahkan kayu dari tempat penebangan (tunggak) ke tempat pengumpulan kayu sementara (TPn) yang terletak di pinggir jalan angkutan dengan menggunakan excavator.
2. Waktu Kerja Penyaradan
Cara pengukuran waktu kerja yang dilakukan dalam penyaradan ini adalah waktu kerja efektif dan waktu kerja tidak efektif.
1. Waktu kerja efektif merupakan waktu kerja yang telah ditetapkan untuk melakukan suatu pekerjaan sehingga dapat menghasilkan produk berupa benda atau jasa. Elemen waktu kerja efektif adalah:
a. Penyaradan kosong adalah waktu yang dihitung ketika alat sarad mulai bergerak tanpa muatan dari jalan sarad yang telah ditentukan dari TPn hingga ke ujung jalan sarad.
b. Memuat adalah waktu yang dihitung ketika alat membawa kayu mulai dari tempat pemuatan (sepanjang jalan sarad) hingga sampai ke TPn
c. Penyaradan muatan adalah waktu memindahkan kayu yang disarad dari lokasi tunggak ke tempat pengumpulan kayu TPn. Waktu dihitung mulai dari alat sarad membawa muatan hingga ke TPn.
d. Membongkar adalah melepaskan muatan dari alat sarad. Waktu yang dihitung mulai dari alat sarad membongkar muatan kayu di TPn hingga kegiatan penyaradan selesai.
2. Waktu kerja tidak efektif
Waktu kerja tidak efektif merupakan waktu yang terjadi diluar waktu kerja efektif seperti merokok, mengobrol, alat sarad yang rusak, beristirahat serta kejadian yang tidak terduga lainnya.
Data Yang Dikumpulkan 1. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan, antara lain meliputi:
a) Volume kayu yang disarad
Volume kayu yang disarad dihitung dengan rumus:
Volume sarad = Volume sortimen x jumlah batang b) Waktu kerja penyaradan.
Waktu kerja penyaradan merupakan waktu kerja yang diperlukan untuk menyarad batang kayu mulai dari berjalan kosong kemudian melakukan pemuatan kayu hingga membongkar muatan kayu dari alat penyaradan.
c) Jarak sarad di lapangan.
Pengukuran jarak sarad menggunakan pita meter/tali.
d) Biaya penyaradan kayu
Biaya yang dikeluarkan selama terjadinya proses penyaradan kayu seperti biaya variabel (biaya perbaikan dan perawatan alat, biaya bahan bakar, biaya oli) dan biaya tetap (depresiasi, bunga modal, asuransi dan pajak).
e) Jumlah tenaga kerja
Jumlah tenaga kerja yang digunakan adalah 1 operator saja serta ditanya gaji operator tersebut.
2. Data sekunder
Data sekunder merupakan data tambahan yang diperoleh untuk mendukung penelitian yang diperoleh melalui wawancara dan atau pengutipan data dari perusahaan. Data sekunder yang dimaksud terdiri atas:
a. Kondisi umum lokasi penelitian
b. Harga dan jenis yang digunakan traktor sarad, harga bahan bakar, harga pelumas, harga oli dan pengalaman kerja operator traktor sarad.
Pengolahan Data
Data lapangan berupa volume kayu, jarak sarad, waktu penyaradan, produktivitas dan biaya penyaradan. Perhitungan tersebut dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
a. Waktu Kerja Penyaradan
Waktu tetap = Waktu ikat muatan + waktu melepaskan muatan
Waktu tidak tetap = Waktu per jalanan bermuatan + waktu perjalanan kosong b.Volume Kayu
Untuk menghitung volume kayu digunakan rumus “Smalian” sebagai berikut (Muhdin, 1999):
V = ½ (B + b) x P
Dimana : V = Volume kayu (m ); B = Luas bidang dasar pangkal batang; b = Luas bidang dasar ujung batang; dan P = Panjang kayu.
Untuk menghitung B dan b digunakan rumus:
B=1/4 D b=1/4 d
Dimana: D = diameter pangkal (m), d = Diameter ujung Untuk menghitung produktivitas alat :
P = Dimana : P = Produktivitas alat (m3/jam);
V = Jumlah volume kayu yang dapat dikeluarkan;
W = Waktu penyaradan (jam).
c. Biaya Penyaradan
Untuk menghitung biaya dibedakan biaya tetap dan biaya tidak tetap.
Biaya tetap tersebut terdiri dari biaya penyusutan, biaya asuransi dan pajak. Biaya tidak tetap meliputi biaya bahan bakar, pelumas, perawatan dan perbaikan.
Perhitungan biaya tersebut adalah sebagai berikut:
1. Biaya penyusutan :
D =
Dimana : D = Penyusutan alat/biaya penghapusan (Rp/jam);
M = Investasi alat (Rp);
N = Waktu ekonomis alat (tahun);
t = Waktu operasi alat (jam/tahun).
2. Biaya Modal Bunga Modal =
Dimana: M = Modal atau harga mula-mula alat (Rp) R = Harga Rongsokan
N = Masa pakai alat (tahun)
T = Jam kerja per tahun (jam/tahun) 0,0p = Suku bunga
3. Biaya perawatan alat S =
4. Biaya bahan bakar dihitung sebagai berikut : Bbk =
5. Biaya oli dan pelumas : O =
6. Upah dihitung dengan rumus : Upah =
Keterangan : Up = Upah tenaga kerja (Rp/jam), Hr = Hari kerja rata-rata per bulan dan W= Jam kerja per hari (jam/hari)
7.
Keterangan: D = Biaya Penyusutan (Rp/Jam) B = Bunga Modal
U = Upah
S = Biaya Perawatan (Rp/Jam) Bbk = Biaya bahan bakar (Rp/Jam) O = Biaya Oli (Rp/Jam)
Analisis Data
Analisis data yang digunakan berupa analisis regresi berganda, yang dibuat untuk melihat pengaruh jarak dan volume kayu terhadap produktifitas dan biaya penyaradan. Model persamaan regresi berganda digunakan untuk
mengetahui pengaruh jarak dan biaya penyaradan, terhadap produktivitas penyaradan yaitu:
Y = β0 + β1X1+ β2X2
Keterangan:
Y = Produktivitas dan biaya penyaradan β0 = Konstanta
β1 = Koefisien regresi jarak sarad
β2 = Koefisien regresi volume kayu yang disarad X1 = Jarak sarad
X2 = Volume kayu yang disarad
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan Penyaradan Kayu
Penelitian mengenai analisis biaya dan produktifitas penyaradan kayu dilakukan pada areal tebangan PT. Toba Pulp Lestari, Tbk sektor Aek Nauli, dimana jenis kayu yang disarad yaitu kayu eukaliptus. Penyaradan ini dilakukan pada 2 compartment yaitu compartment B272 dengan luas 2,3 Ha dan compartment E127 dengan luas 12,5 Ha. Penyaradan kayu tersebut menggunakan system long range extraction (sistem tarik panjang).
Target produksi pada PT. Toba Pulp Lestari, Tbk sektor Aek Nauli ini pada kegiatan pre bunching yaitu 10m3/jam dan target produksi kayu pada kegiatan extraction yaitu 12m3/jam. Jarak tanam yang terdapat pada masing- masing compartment yaitu 2 x 3 m dan sistem pemanenan kayu dilakukan dengan sistem tebang habis tanam Indonesia. Sortimen standard di PT. Toba Pulp Lestari, Tbk ada 2 yaitu panjang 2,1 m dan panjang 4,2 m (harus dikupas) dan diameter minimal untuk melakukan pemanenan kayu yaitu 5 cm.
Elemen Kerja
Elemen kerja adalah bagian dari waktu kerja penyaradan yang dilaksanakan dalam suatu siklus kerja. Elemen kerja penyaradan kayu terdiri dari persiapan (memanasi mesin forwarder, berjalan kosong menuju lokasi penebangan, mengumpulkan pohon yang sudah ditebang, berjalan bermuatan menuju Tpn kemudian melakukan pembongkaran. Dalam penyaradan kayu ada 2 kegiatan yaitu pre bunching dan extraction.
1. Berjalan kosong
Elemen kerja berjalan kosong merupakan kegiatan dimana excavator berjalan tanpa muatan menuju lokasi penebangan kayu yaitu dari Tpn hingga ke ujung jalan sarad.
(a) Excavator Hitachi 110 pc (b) Excavator Caterpillar 200 pc Gambar 1. Kegiatan berjalan kosong
2. Memuat
Elemen kerja memuat merupakan kegiatan dimana alat mengumpulkan kayu mulai dari tempat pemuatan (sepanjang jalan sarad) dan mengapit kayu menggunakan alat pengapit excavator.
(a) Excavator Hitachi 110 pc (b) Excavator Caterpillar 200 pc Gambar 2. Kegiatan Memuat Kayu
3. Berjalan Bermuatan
Elemen kerja berjalan bermuatan merupakan kegiatan memindahkan kayu yang disarad dari lokasi tunggak ke tempat pengumpulan kayu TPn.
(a) Excavator Hitachi 110 pc (b) Excavator Caterpillar 200 pc Gambar 3. Kegiatan berjalan bermuatan
4. Membongkar
Elemen kerja membongkar merupakan kegiatan melepaskan muatan kayu dari alat pengapit kayu.
(a) Excavator Hitachi 110 pc (b) Excavator Caterpillar 200 pc Gambar 4. Kegiatan membongkar kayu
Waktu Kerja Penyaradan
Waktu kerja penyaradan kayu di PT.Toba Pulp Lestari, Tbk ditentukan melalui SOP (Standard Operating Prosedure), dimana pekerjaan dimulai dari jam 08.00 WIB dan berakhir pada jam 17.00 WIB. Akan tetapi tidak jarang dijumpai pekerjaan dimulai lebih lama dari jam yang telah ditentukan, hal ini dikarenakan cuaca yang buruk dan hal lain yang diakibatkan karena alat yang rusak sehingga membutuhkan waktu untuk memperbaikinya. Waktu istirahat bagi penyarad tidak ditentukan secara pasti, pada umumnya operator menghentikan pekerjaan sekitar 60 menit untuk makan siang yaitu pada jam 12.00 WIB sampai jam 13.00 WIB.
Jadi total waktu kerja rata-rata dalam satu hari adalah 8 jam. Hari kerja efektif dalam satu bulan ialah 24 hari karena biasanya hari sabtu dan minggu operator hanya bekerja setengah hari, tergantung dari kegiatan pemanenan kayu yang terdapat di PT.Toba Pulp Lestari,Tbk.
Waktu kerja penyaradan kayu dibagi menjadi dua bagian yaitu waktu kerja efektif dan waktu kerja tidak efektif. Waktu kerja efektif merupakan waktu kerja yang telah ditetapkan untuk melakukan semua elemen pekerjaan dalam kegiatan penyaradan kayu, yang termasuk kedalam waktu kerja efektif ialah berjalan kosong, memuat atau menggapit kayu, berjalan bermuatan atau menyarad kayu dan membongkar (melepaskan log dari gapit) setelah di Tpn. Sedangkan waktu kerja tidak efektif merupakan waktu yang terjadi diluar waktu kerja efektif yang
terdiri dari merokok, berbincang-bincang, istirahat (melepaskan lelah), mengisi minyak dan hal tidak terduga lainnya.
Penyaradan Kayu
Penyaradan kayu di PT. Toba Pulp Lestari, Tbk Sektor Aek Nauli dilakukan dengan menggunakan excavator Hitachi 110 pc dan excavator Caterpillar 200 pc. Berbeda dengan penyaradan kayu yang dilakukan di hutan produksi alam tepatnya diluar Pulau Jawa. Penyaradan kayu dilakukan secara mekanis dengan menggunakan jenis traktor berban ulat (crawler tractor) maupun traktor beroda karet (rubber tired tractor). Untuk hutan tanaman diluar pulau Jawa penyaradan umumnya dilakukan dengan sampan darat yang ditarik ekskavator (Suhartana.,dkk, 2011).
(a) Excavator Hitachi 110 pc (b) Excavator Caterpillar 200 pc Gambar 5. Alat yang digunakan dalam penyaradan kayu
Pada areal hutan tanaman industri di PT. Toba Pulp Lestari, Tbk ada dua tahap yang dilakukan dalam proses penyaradan kayu, yaitu:
1. Pre Bunching
Pre bunching merupakan kegiatan memisahkan ranting dan daun dari batang kayu yang akan disarad kemudian dikumpulkan pada beberapa titik dilapangan sebelum dilakukan skidding/ ekstraction.
2. Skidding/ Ekstraction
Skidding merupakan kegiatan memindahkan kayu dari tempat penebangan (tunggak) ke tempat pengumpulan kayu sementara (TPn) yang terletak di pinggir jalan angkutan dengan menggunakan excavator.
1. Pre Bunching
Kegiatan Pre bunching dimulai dengan berjalan kosong menuju tempat penebangan (tunggak), dilanjutkan dengan pengambilan pohon yang telah ditebang menggunakan excavator yang diarahkan oleh operator kemudian alat berjalan bermuatan. Peletakan kayu pada kegiatan pre buncing biasanya diletakkan secara sembarangan. Setelah alat berat sampai pada titik yang telah ditentukan secara sembarangan, log yang telah diangkut disusun rapi.
Pengukuran waktu kerja pre bunching kayu di areal pemanenan dilakukan sebanyak 30 ulangan/trip pada setiap compartment, hasil pengamatan waktu kerja pre bunching rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan kayu pada petak pemanenan kayu dapat dilihat pada Tabel 1 sampai Tabel 4.
Tabel 1. Rata-rata waktu kerja pre bunching compartment B272 (Petak 1) No Elemen Kerja Waktu kerja Total
(detik)
Persen waktu total (%)
1 Berjalan Kosong 308,53 11,30
2 Memuat 836,93 30,66
3 Berjalan Bermuatan 648,73 23,75
4 Membongkar 285,73 10,47
5 Waktu Hilang 650,00 23,82
Jumlah 2729,93 100,00
Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa total waktu yang diperlukan untuk melakukan 15 trip proses pre bunching adalah 2729,93 detik atau 45,50 menit dan rata-rata waktu untuk satu trip 182 detik atau 3,03 menit pada jarak sarad rata-rata 11,35 m/trip atau 0,11 hm/trip, dengan menggunakan excavator Hitachi 110 pc.
Volume kayu yang disarad setiap trip pada petak pemanenan kayu berkisar antara 0,51 m³ sampai dengan 1,82 m³ dengan volume sarad rata-rata 1,21 m³.
Tabel 2. Rata-rata waktu kerja pre bunching compartment B272 (Petak 2) No Elemen Kerja Waktu kerja Total
(detik)
Persen waktu total (%)
1 Berjalan Kosong 351,47 11,39
2 Memuat 864,27 28,01
3 Berjalan Bermuatan 677,20 21,95
4 Membongkar 338,13 10,96
5 Waktu Hilang 854,75 27,69
Jumlah 3085,82 100,00
Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa total waktu yang diperlukan untuk melakukan 15 trip proses pre bunching adalah 3085,82 detik atau 51,43 menit dan
rata-rata waktu untuk satu trip 205,72 detik atau 3,42 menit pada jarak sarad rata-rata 12,96 m/trip atau 0,12 hm/trip, dengan menggunakan excavator Hitachi 110 pc. Volume kayu yang disarad setiap trip pada petak pemanenan kayu berkisar antara 0,55 m³ sampai dengan 1,41 m³ dengan volume sarad rata-rata 1,26 m³.
Tabel 3. Rata-rata waktu kerja pre bunching compartment E127 (Petak 1) No Elemen Kerja Waktu kerja Total
(detik)
Persen waktu total (%)
1 Berjalan Kosong 404,67 13,74
2 Memuat 853,73 28,99
3 Berjalan Bermuatan 679,93 23,10
4 Membongkar 397,07 13,48
5 Waktu Hilang 609,25 20,69
Jumlah 2944,65 100,00
Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa total waktu yang diperlukan untuk melakukan 15 trip proses pre bunching adalah 2944,65 detik atau 49,07 menit dan rata-rata waktu untuk satu trip 196,31 detik atau 3,27 menit pada jarak sarad rata- rata 13,72 m/trip atau 0,13 hm/trip, dengan menggunakan excavator Caterpillar 200 pc. Volume kayu yang disarad setiap trip pada petak pemanenan kayu berkisar antara 1,23 m³ sampai dengan 2,33 m³ dengan volume sarad rata-rata 1,60 m³.
Tabel 4. Rata-rata waktu kerja pre bunching compartment E127 (Petak 2) No Elemen Kerja Waktu kerja Total
(detik)
Persen waktu total (%)
1 Berjalan Kosong 437,93 13,42
2 Memuat 907,87 27,81
3 Berjalan Bermuatan 745,27 22,83
4 Membongkar 395,33 12,11
5 Waktu Hilang 778,00 23,83
Jumlah 3264,40 100,00
Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa total waktu yang diperlukan untuk melakukan 15 trip proses pre bunching adalah 3264,4 detik atau 54,40 menit dan rata-rata waktu untuk satu trip 217,62 detik atau 3,63 menit pada jarak sarad rata- rata 14,72 m/trip atau 0,14 hm/trip, dengan menggunakan excavator Caterpillar 200 pc. Volume kayu yang disarad setiap trip pada petak pemanenan kayu berkisar antara 1,22 m³ sampai dengan 2,32 m³ dengan volume sarad rata-rata 1,70 m³.
Kegiatan pre bunching tersebut terdiri dari 4 elemen kerja, namun pada elemen kerja memuat (mengumpulkan kayu) dan berjalan bermuatan excavator membutuhkan waktu yang lebih lama menuju tempat pengumpulan kayu dibandingkan dengan elemen kerja berjalan kosong dan membongkar. Hal ini dikarenakan saat excavator mengambil pohon yang sudah tumbang excavator tersebut melakukan proses trimming yaitu proses pemotongan cabang, pucuk serta daun eucalyptus. Sedangkan pada kegiatan berjalan kosong dan membongkar excavator hanya membutuhkan waktu yang lebih sedikit, karena pada saat kegiatan tersebut excavator hanya melepaskan muatannya dari bucket (penjepit kayu) serta berjalan tanpa ada muatannya.
Pada petak pemanenan kayu di compartment B272 membutuhkan waktu yang lebih sedikit dibandingkan dengan compartment E127, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor kelerengan dimana lokasi pemanenan di compartment E127 lebih curam dibandingkan dengan compartment B272 yang kondisi lapangan lebih datar, kondisi topografi pada kompartment E127 lebih buruk dibandingkan dengan compartment B272, dimana lokasi pemanenan yang terdapat di compartment E127 jalan sarad nya berlumpur serta kayu yang disarad lebih banyak dibandingkan dengan pemanenan kayu yang terdapat di compartment B272, keterampilan operator dalam menggunakan alat berat excavator serta keadaan iklim pada saat melakukan pemanenan kayu yang tidak menentu, karena pada saat melakukan pemanenan kayu di compartment E127 turun hujan yang mengakibatkan pekerjaan terhambat dan membuat operator berhenti melakukan pekerjaan.
Jarak sarad juga mempengaruhi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pre bunching, semakin panjang jalan sarad maka waktu yang dibutuhkan akan semakin lama. Pada compartment B272 petak 1 jarak sarad terpendek adalah 7,8 m dan terjauh adalah 15,2 m dengan jarak sarad rata-rata 11,35 m. Pada petak 2 compartment B272 jarak sarad terpendek 9,1 m dan terjauh 16,8 m dengan jarak sarad rata-rata 12,96 m. Sedangkan pada petak 1 compartment E127 jarak sarad terpendek adalah 10,5 m dan terjauh 16,8 m dengan jarak sarad rata-rata 13,72 m dan pada petak 2 compartment E127 jarak sarad terpendek 11,6 m dan terjauh 18,1 m dengan jarak sarad rata-rata 14,72 m.
2. Extraction
Kegiatan extraction merupakan kegiatan yang dilakukan dalam pemanenan kayu setelah kegiatan pre bunching, dimana dalam kegiatan tersebut kayu dipindahkan dari tempat penebangan (tunggak) ke tempat pengumpulan kayu sementara (TPn) yang terletak di pinggir jalan angkutan. Kegiatan extraction dimulai dengan berjalan kosong menuju tempat pengumpulan kayu (TPn), dilanjutkan dengan pengambilan log oleh excavator atau proses pemuatan kemudian excavator berjalan bermuatan serta kegiatan membongkar. Setelah excavator sampai pada TPn yang telah ditentukan, log yang telah diangkut diletakkan dan disusun rapi supaya lebih mudah dilakukan pemotongan log dan kemudian loading (proses memuat log dari TPn ke atas truk).
Beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya waktu untuk extraction adalah jarak antara TPn dengan kayu yang akan disarad, kerapatan tumbuhan bawah, serta kemiringan jalan sarad yang dilalui serta keadaan iklim pada saat melakukan pemanenan kayu. Apabila jarak tempuh semakin jauh maka waktu yang dibutuhkan untuk extraction semakin besar. Jalur yang dibuat dan dilalui oleh excavator untuk extraction merupakan jalan sarad utama. Dalam kegiatan extraction ini waktu yang dibutuhkan untuk melakukan elemen kerja berjalan kosong dan berjalan bermuatan lebih lama dibandingkan dengan elemen kerja memuat dan membongkar karena jarak yang ditempuh untuk melakukan extraction semakin panjang dan jumlah log yang dibawa pada saat berjalan bermuatan lebih banyak dibandingkan dengan kegiatan pre bunching serta pada saat berjalan bermuatan log yang dibawa terkadang lepas dari penjepit excavator sehingga memperpanjang waktu dalam melakukan elemen kerja.
Pengukuran waktu kerja extraction kayu di areal pemanenan kayu dilakukan sebanyak 30 ulangan/trip pada compartment B272 dan compartment E127. Pengamatan waktu kerja extraction rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan kayu di TPn dapat dilihat pada Tabel 5 sampai Tabel 8.