• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

2. Pre Menstrual Syndrome (PMS)

Menurut Joseph (2010). Pre Menstrual Syndrome adalah kumpulan gejala akibat perubahan hormonal yang berhubungan dengan siklus saat haid dan ovulasi.

Definisi PMS (Pre Menstrual Syndrome) menurut Andrews (2010) adalah gejala fisik, psikologis, dan perilaku yang menimbulkan distress dan tidak disebabkan oleh penyakit organik

yang secara teratur timbul lagi selama fase yang sama pada siklus ovarium (atau menstruasi), dan secara signifikan menurun atau hilang selama sisa siklus tersebut.

Menurut Proverawati (2009) PMS (Pre Menstrual Syndrome) yaitu ketegangan sebelum haid terjadi beberapa hari sebelum haid bahkan sampai menstruasi berlangsung. Terjadi karena ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron menjelang menstruasi.

Menurut Prawirohardjo (2007). PMS (Pre Menstrual Syndrome) merupakan keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu minggu sampai beberapa hari sebelum datangnya haid, dan menghilang sesudah haid datang, walaupun kadang-kadang berlangsung terus sampai haid berhenti.

b. Etiologi

Menurut Joseph (2010) penyebab Pre Menstrual Syndrome pada wanita diantaranya :

1) Ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron, antara lain defisiensi progesteron.

2) Perbedaan genetik pada sensitivitas reseptor dan sistem pembawa pesan yang menyampaikan pengeluaran hormon seks dalam sel.

4) PMS (Pre Menstrual Syndrome) lebih mudah terjadi pada wanita yang lebih peka terhadap efek siklus hormon ovarium yang normal.

Sedangakan menurut Andrews (2010) penyebab yang mungkin terjadi pada PMS (Pre Menstrual Syndrome) yaitu : 1) Psikologis

2) Defisiensi progesteron

3) Ketidakseimbangan estrogen / progesteron 4) Retensi natrium dan air

5) Defisiensi / kelebihan prostaglandin 6) Kelebihan prolaktin

7) Defisiensi vitamin B6

8) Defisiensi unsure-unsur renik 9) Hipoglikemia

10) Abnormalitas tiroid 11) Defisiensi serotoin

Menurut Andrews (2010) penelitian yang sungguh-sungguh dilakukan dan banyak karya ilmiah yang membahas hipotesis diatas, tetapi tidak ada bukti nyata yang menyatakan bahwa hipotesis tersebut menerangkan penyebab pasti PMS (Pre Menstrual Syndrome). Meskipun peneliti telah berusaha keras untuk menemukan satu alasan utama PMS (Pre Menstrual Syndrome) , lebih mungkin bahwa terdapat beberapa faktor dan

PMS (Pre Menstrual Syndrome) kemungkinan merupakan kombinasi faktor fisiologis, psikologis, dan social yang berinteraksi dengan kejadian hidup.

c. Gejala Pre Menstrual Syndrom

Menurut Andrews (2010) gejala PMS (Pre Menstrual Syndrome) sangat banyak dan bermacam-macam serta dapat mempengaruhi hampir semua sistem tubuh. Gejala sering dikelompokkan ke dalam tiga kategori dan wanita sering mengalami perpaduan dari setiap kelompok :

1) Gejala Fisik

Gejala fisik yang khas yang dialami wanita ketika Pre Menstrual Syndrom yaitu diantaranya :

a) Nyeri tekan dan pembengkakan payudara b) Perut kembung

c) Edema perifer

d) Sakit kepala dan migrain

e) Rasa panas dan kemerahan pada wajah serta leher f) Limbung

g) Palpitasi

h) Gangguan penglihatan i) Ketidaknyamanan panggul j) Perubahan pola buang air besar

l) Mual

m) Jerawat atau lesi kulit n) Penurunan koordinasi 2) Gejala Psikologis

Banyak wanita merasa bahwa manisfestasi psikologis PMS (Pre Menstrual Syndrome) merupakan gejala yang paling sulit ditoleransi karena mereka sering merasa diluar kendali, dan sangat bingung dengan perilakunya sendiri. Gejala Psikologis yang paling umum diantaranya yaitu :

a) Tegang b) Irritabilitas c) Depresi

d) Perubahan alam perasaan e) Ansietas f) Gelisah g) Letargi h) Penurunan libido i) Penurunan konsentrasi 3) Gejala Perilaku

Berbagai perubahan perilaku dilaporkan bertambah selama fase PMS (Pre Menstrual Syndrome). Perubahan itu meliputi agoraphobia, bolos kerja, kehilangan konsentrasi, penurunan penampilan kerja, dan penghindaran aktivitas sosial.

Sedangkan gejala Pre Menstrual Syndrome menurut Joseph (2010) yaitu diantaranya :

1) Gejala psikologis yang khas : irritabilitas agresi, ketegangan, depresi, mood berubah-ubah, perasaan lepas kendali, emosi yang labil.

2) Rasa malas dan mudah lelah

3) Nafsu makan meningkat, BB bertambah karena tubuh menyimpan air dalam jumlah banyak.

4) Gejala fisik yang sering adalah pembengkakan dan nyeri pada payudara, dismenorrhea (kram perut), sakit kepala, sakit pinggang, pegal-pegal, pingsan.

5) Paling sering menyebabkan distress adalah gejala psikologis. d. Faktor-Faktor Yang Meningkatkan Resiko PMS (Pre Menstrual

Syndrome)

Menurut Joseph (2010) faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko Pre Menstrual Syndrome pada wanita yaitu :

1) Wanita yang pernah melahirkan

PMS makin berat setelah melahirkan beberapa anak, terutama bila pernah mengalami kehamilan dengan komplikasi seperti toksima.

2) Status perkawinan

Wanita yang sudah menikah lebih banyak mengalami PMS (Pre Menstrual Syndrome) dibandingkan yang belum menikah.

3) Usia

PMS (Pre Menstrual Syndrome) semakin sering dan mengganggu dengan bertambahnya usia, terutama antara usia 30-45 tahun.

4) Stress

Faktor stress memperberat gangguan PMS (Pre Menstrual Syndrome).

5) Diet

Faktor kebiasaan makan seperti tinggi gula, garam, kopi, teh, coklat, minuman bersoda, produk susu, makanan olahan dapat memperberat gejala PMS (Pre Menstrual Syndrome).

6) Kekurangan zat gizi

Kekurangan zat gizi seperti vitamin (terutama B6), vitamin E, vitamin C, magnesium, zat besi, seng, mangan, dan asam linoleat. Kebiasaan merokok dan minum alkohol juga dapat memperberat gejala PMS (Pre Menstrual Syndrome).

7) Kegiatan Fisik

Kurang berolahraga dan aktivitas fisik menyebabkan semakin beratnya PMS (Pre Menstrual Syndrome).

e. Tipe Dan Gejala PMS (Pre Menstrual Syndrome)

Menurut Dr. Guy E. Abraham dalam Joseph (2010), tipe dan gejala Pre Menstrual Syndrome pada wanita dibagi menjadi 4 yaitu :

1) PMS (Pre Menstrual Syndrome) tipe A (Anxiety), ditandai dengan adanya rasa cemas, labil, sensitif, syaraf tegang, perasaan labil. Bahkan beberapa wanita mengalami depresi ringan sampai sedang saat sebelum haid. Gejala ini timbul akibat ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron: hormon estrogen terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon progesteron. Penderita PMS tipe A sebaiknya banyak mengkonsumsi makanan yang berserat dan mengurangi atau membatasi minum kopi.

2) PMS (Pre Menstrual Syndrome) tipe H (hyperhidration), gejala ditandai pembengkakan, perut kembung, nyeri pada payudara, pembengkakan tangan dan kaki dan peningkatan BB sebelum haid. Gejala tipe ini dapat juga dirasakan bersamaan dengan PMS tipe yang lain. Pembengkakan itu terjadi akibat berkumpulnya air pada jaringan di luar sel (ekstrasel) karena tingginya asupan garam atau gula pada diet penderita. Untuk mencegah terjadinya gejala ini penderita dianjurkan mengurangi asupan garam dan gula pada diet makanan serta membatasi minum sehari-hari.

3) PMS (Pre Menstrual Syndrome) tipe C (craving), ditandai dengan rasa lapar, ingin mengkonsumsi makanan yang manis dan berkarbohidrat. Pada umumnya sekitar 20 menit setelah menyantap gula dalam jumlah banyak, timbul gejala

hipoglikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing kepala yang terkadang sampai pingsan. Hipoglikemia timbul karena pengeluaran hormon insulin dalam tubuh meningkat. Rasa ingin menyantap makanan manis dapat disebabakan oleh stress, tinggi garam dalam diet makanan, tidak terpenuhinya asam lemak esensial (omega 6) atau kurangnya magnesium.

4) PMS (Pre Menstrual Syndrome) tipe D (depretion), ditandai rasa depresi, ingin menangis, lemah, gangguan tidur dan pelupa. Biasanya tipe D berlangsung bersamaan dengan PMS tipe A, hanya sekitar 3 % dari seluruh PMS benar-benar murni type D.

PMS tipe D murni disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen, dimana hormon progesteron dalam siklus PMS tipe D dan tipe A dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu stress, kekurangan asam amino tyrosine, penyerapan dan penyimpanan timbal ditubuh atau kekurangan magnesium dan vitamin B (terutama B6). Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 dan magnesium dapat membantu mengatasi gangguan PMS tipe D yang terjadi bersamaan gangguan PMS tipe A.

f. Waktu Terjadinya PMS (Pre Menstrual Syndrome)

Menurut Joseph (2010) waktu terjadinya PMS (Pre Menstrual Syndrome) yaitu ketika :

1) Pada fase luteal siklus menstruasi dan reda pada akhir menstruasi

2) Adapun gejala yang timbul beberapa hari segera sebelum menstruasi atau sejak ovulai berlangsung melalui luteal sampai akhir menstruasi.

g. Penatalaksanaan Pre Menstrual Syndrome (PMS)

Menurut Andrews (2010) ada beberapa langkah penatalaksanaan PMS (Pre Menstrual Syndrome), diantaranya yaitu :

1) Tindakan Swabantu (Diskusi)

Diskusi tentang berbagai gejala yang dialami oleh wanita yang dapat membantu anda menentukan tingkat keparahan masalah wanita tersebut. Anda harus menanyakan kepada wanita berapa lama gejala tersebut berlangsung, seberapa parah, dan apakah gejala tersebut segera reda dengan menstruasi. Idealnya, kita juga harus mencoba menentukan ambang keluhan dan toleransi wanita, serta derajat gangguan yang ditimbulkan oleh PMS terhadap kehidupan normal wanita, Akan tetapi, pada prakteknya sangat sulit untuk memastikan fakta tersebut.

2) Perubahan Diet

Rekomendasi diet untuk meredakan PMS yaitu

a) Kurangi asupan garam. Garam yang berlebihan dapat menyebabkan retensi cairan sehingga timbul perasaan kembung dan mastalgia. Makanan yang tinggi garam juga harus dibatasi,misalnya keju, daging, atau ikan yang diawetkan, dan kacang asin.

b) Kurangi asupan cairan. Anjuran ini terutama cocok untuk wanita yang gejala utamanya kembung dan mastalgia. c) Batasi asupan kafein. Batasi konsumsi teh, kopi, atau kola.

Kafein dapat menambah tingkat ansietas dan irritabilitas. Banyak wanita merasa bahwa kopi yang tidak mengandung kafein atau teh herbal sebagai minuman pengganti yang tepat. Teh camomile merupakan relaksan kuat, teh peppermint membantu mengatasi mual, dan teh bunga limau meredakan perubahan alam perasaan.

d) Kurangi asupan diet lemak

e) Kurangi asupan junk food. Konsumsi sebanyak mungkin makanan yang segar dengan kandungan gizi masih lengkap. Lakukan variasi diet yang mengandung nutrient berspektrum luas.

f) Makan teratur, sangat menakjubkan betapa banyak wanita yang lupa makan atau makan tidak teratur, tepat di bulan

tersebut pada saat mereka harus makan teratur dan melakukan diet seimbang.

g) Jangan makan berlebihan. Beberapa wanita dianjurkan untuk menjaga kadar gula darahnya (menghindari resiko gejala menyerupai hipoglikemia, seperti : kelelahan, irritabilitas, dan sakit kepala). Akibatnya, mereka sering mengkonsumsi kudapan yang manis dan coklat. Kebiasaan ini harus dihindari karena makanan tersebut tidak hanya meredakan masalah PMS, tetapi juga menumpuk lemak. Jika mereka merasa keinginan mereka untuk mengkonsumsi camilan semakin sering muncul, buah-buahan dan sayur-sayuran segar harus menggantikan makanan yang manis dan cokelat.

h) Batasi asupan alkohol dan tembakau. Wanita sering menkonsumsi alkohol atau tembakau sebagai pereda jangka pendek perubahan alam perasaan, tetapi konsumsi alkohol dan tembakau dapat menyebabkan masalah jangka panjang. 3) Kelompok Swabantu

4) Latihan dan Tehnik Relaksasi

Semua bentuk latihan bermanfaat bagi wanita penderita PMS dan tentu saja, wanita harus diberi dorongan untuk menjalankannya. Diperkirakan bahwa latihan memicu produksi endorphin, opiate alami yang meningkatkan rasa sejahtera dan

harga diri serta meningkatkan toleransi wanita terhadap perubahan PMS sehingga mengurangi pengaruh PMS dalam kehidupannya.

5) Manajemen Stess

Pada umumnya, nasehat tentang manajemen stress terlihat sangat sederhana dan mendasar, tetapi sangat mengejutkan betapa sedikit wanita yang benar-benar berpikir logis tentang bagaimana mereka dapat mengatur hidup mereka secara efektif guna membantu diri mereka. Anjuran yang dapat diberikan sebagai berikut :

a) Atur perawatan anak dengan tepat agar memberikan “waktu istirahat”

b) Hindari mengajak sanak saudara atau tamu untuk menginap c) Hindari mengajak teman untuk makan malam

d) Tunda ujian mengemudi

e) Jangan mulai diet baru yang ketat f) Tunda janji untuk pekerjaan baru 6) Terapi Alternatif

Banyak wanita yang sembuh dari PMS melalui pengobatan alternative atau pengobatan yang diberikan oleh praktisi kesehatan lain termasuk ahli aromaterapi, refleksolog, ahli herba, ahli hipnotis, ahli homeopati, dan ahli akupuntur.

7) Terapi Cahaya

Penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan dengan menggunakan satu bentuk terapi cahaya yang dikenal sebagai stimulasi foto yaitu dengan mengenakan sebuah masker yang menutupi mata selama sekitar 15 menit per hari pada setengah bagian akhir siklus. Masker tersebut berisi cahaya miniature yang berkerlip perlahan dengan irama yang telah deprogram, dan diperkirakan bahwa cahaya pada lampu tersebut bekerja dengan irama sirkadian.

8) Anjuran Umum

Anjuran umum bagi wanita yang mengalami PMS yaitu:

a) Jika gejala utama anda adalah perut kembung, jangan gunakan pakaian ketat yang biasa anda gunakan tetapi kenakan pakaian yang lebih longgar dan lebih nyaman serta ikat pinggang yang elastis.

b) Jika anda mengalami nyeri tekan payudara, gunakan bra yang menyokong payudara dengan ukuran yang sesuai. c) Jangan berencana pergi keluar atau bersosialisasi jika anda

tidak ingin, tetapi tetap didalam rumah dan baca buku atau nonton video.

e) Beberapa wanita merasa bahwa seks sangat membantu karena orgasme merupakan cara yang efektif untuk menurunkan tekanan.

Sedangkan menurut Joseph (2010) pendekatan terapi untuk mengatasi PMS (Pre Menstrual Syndrome) dibedakan menjadi 2 yaitu :

a) Terapi non hormon

(1) Anjuran untuk sering mengkonsumsi karbohidrat (2) Pemberian vitamin B6

(3) Evening primrose oil (untuk gejala pada payudara) (4) Mineral (Ca dan Mg) mungkin bermanfaat

(5) Terapi alternative (olahraga dan relaksasi) (6) Psikoterapi

(7) Obat psikotropik

(8) Diuretik (spironolakton)

(9) Inhibitor Pg (asam mefenamat dan natrium naproksen) b) Terapi hormon (1) Progesteron/progestogen (2) Estrogen (3) Danazol (4) Analog agonis GnRH (5) Bromokriptin

Selain pendekatan terapi, Joseph (2010) juga menyebukan ada pendekatan bedah yaitu dengan dilakukannya histerektomi atau ooforektomi.

Sedangkan menurut Bobak (2005) terdapat suatu persetujuan dalam penatalaksanaan PMS (Pre Menstrual Syndrome). Riwayat yang terinci dan dikaji dengan cermat dan sekelompok gejala harian dan fluktuasi mood, yang terdapat pada beberapa siklus, dapat menjadi petunjuk dalam menyusun penatalaksanaan. Konseling, dalam bentuk kelompok pendukung atau konseling pasangan atau individu, dapat sangat bermanfaat. Obat-obatan seperti inhibitor prostaglandin dan diuretik untuk meredakan edema, bromokriptin (parlodel) untuk mengatasi nyeri tekan payudara, dan diet seimbang, rendah kafein dan natrium atau disertai makan diuretic alami, dapat meredakan gejala. Latihan fisik dan suplemen vitamin (B6 dan E) sering kali direkomendasikan.

Dokumen terkait