BAB II – LANDASAN TEORI
II. SEPUTAR PERJANJIAN SPS
II.3 Prinsip-Prinsip Umum dan Instrumen Perjanjian SPS
II.3.3 Precautionary Measures
Pengecualian terhadap risk assessment berhubungan dengan instrumen ketiga yaitu dalam hal tidak adanya cukup bukti, yang diatur dalam Pasal 5.7 Perjanjian SPS. Ketentuan pasal tersebut mengatakan bahwa dalam hal tidak terdapat cukup bukti ilmiah, maka sebuah negara boleh untuk melakukan tindakan tertentu berdasarkan informasi logis terkait yang tersedia (available pertinent information).
Tindakan tersebut bisa diimplementasikan dengan dua syarat, yaitu bahwa tindakan tersebut sifatnya sementara (provisional), dan negara yang menerapkan tindakan sementara tersebut diwajibkan terus menggali bukti-bukti tambahan dan wajib mengevaluasi tindakan tersebut.71 Selain itu, Negara yang bersangkutan juga bertanggung jawab untuk memastikan bahwa tindakan tersebut tidak akan menciptakan suatu diskriminasi atau kesewenang-wenangan terhadap anggota lainnya dan tidak akan menciptakan pembatasan yang berlebihan terhadap perdagangan internasional.72
Ketentuan Pasal 5.7 Perjanjian SPS ini erat sekali hubungannya dengan precautionary principle dalam hukum lingkungan. Prinsip kehati-hatian merupakan salah satu prinsip dasar yang dikenal dalam bidang hukum lingkungan. Prinsip kehati-hatian pertama kali diperkenalkan melalui hukum administrasi di negara Jerman dengan sebutan ”Vorzorgeprinzip”.73 Prinsip kehati-hatian ini diperkenalkan melalui berbagai perundingan, diantaranya melalui Deklarasi Rio (yang membahas mengenai lingkungan dan pembangunan), Protokol Cartagena (yang membahas mengenai masalah GMO74). Pada dasarnya tidak terdapat definisi yang pasti mengenai prinsip kehati-hatian, karena hanya berupa konsep-konsep kohesi dan konsistensi internal yang kurang/minim.75 Prinsip kehati-hatian ini digunakan untuk
71 Pasal 5.7 Perjanjian SPS.
72 Michael J. Trebilcock dan Robert Howse, op. cit., hal.145.
73 Jan Bohanes, loc. cit., hal. 330.
74 GMO adalah Genetically Modified Organism (organisme hasil rekayasa genetik).
75 Jan Bohanes, loc. cit., hal. 331.
mewujudkan legitimasi dan pendekatan dengan akal sehat atas resiko bahaya terhadap lingkungan dan kesehatan, ketika resiko tersebut masih bersifat ambigu dan pembenaran secara ilmiah belum cukup (inconclussive).76 Oleh karena itu, prinsip ini sering digunakan oleh pemerintah untuk mengambil tindakan walaupun bahaya yang dinyatakan tersebut masih belum terbukti pasti, karena pada dasarnya belum terbuktinya bahaya (hazard) tidak dapat menghalangi pengambilan keputusan sampai dengan terbuktinya bahaya tersebut secara ilmiah.77 Namun demikian prinsip ini tidak dapat diartikan sebagai pengganti dari pendekatan ilmiah78 tetapi lebih merupakan suatu prinsip yang secara keseluruhan memberikan petunjuk dalam pengambilan keputusan dalam kondisi kurangnya kepastian dari segi analitis atau prediksi.79
Status hukum dari prinsip kehati-hatian ini adalah sebagai suatu prinsip (asas) umum dalam hukum, khususnya bidang hukum lingkungan.80 Dengan berbagai macam interpretasi yang dilakukan terhadap prinsip kehati-hatian ini, maka dalam hal ini beban pembuktian telah beralih. Berdasarkan pendekatan tradisional yang dikenal dalam hukum lingkungan maka pihak yang mengatakan bahwa suatu kegiatan atau zat tersebut berbahaya atau berpotensi menimbulkan bahaya bagi lingkungan hiduplah yang harus melakukan pembuktian. Sedangkan berdasarkan prinsip kehati- hatian ini, maka beban pembuktian beralih kepada pihak yang ingin melakukan suatu kegiatan tersebut. Ia yang harus membuktikan bahwa kegiatannya tidak membahayakan lingkungan hidup.81
76 Ibid., hal. 328.
77 Ibid., hal. 331.
78 Pendekatan ilmiah ini sangat erat kaitannya dengan risk assessment.
79 D. Santillo, et. al., “The Precautionary Principle: Protecting Against Failures of Scientific Method and Risk Assessment,” Marine Pollution Bulletin, (Vol. 36, No. 12, 1998), hal. 941.
80 James Cameron, “The Precautionary Principle: Core Meaning, Constitutional Framework and Procedures for Implementation” dalam Perspectives on the Precautionary Principle, (Sydney: The Federation Press, 1999), hal. 47.
81 Phillipe Sands, Principles of International Environmental Law I: Frameworks, Standards, and Implementation, (Manchester: Manchester University Press, 2000), hal. 212.
Prinsip kehati-hatian memiliki empat unsur dasar, yaitu adanya ancaman (threat), ancaman tersebut sifatnya tidak pasti (uncertain), dibutuhkan suatu tindakan (action), tindakan itu bersifat pengaturan wajib (mandatory).82 Paradigma dari prinsip kehati-hatian ini pun telah beralih. Hal mendasar yang menjadi ukuran diterapkannya prinsip kehati-hatian ini adalah faktor ketidakpastian (uncertainty) yang disebabkan karena tidak adanya data-data ilmiah sebagai pendukungnya. Atau jika ada data-data ilmiah, data tersebut belum berada pada suatu tingkatan yang dinilai cukup untuk menjawab ketidakpastian tersebut.83 Kehati-hatian ini mengambil peran ketika probabilitas dari resiko yang diduga tersebut tidak dapat didemonstrasikan.84 Terkait dengan hal ini, maka besarnya faktor ketidakpastian tersebut berbanding lurus dengan spekulasi keputusan (decision stakes) yang diambil, dengan berdasarkan ilmu terapan (applied science) pada tingkat yang paling rendah, kemudian beralih kepada pendapat profesional (professional consultancy), dan pada tingkat yang paling tinggi adalah yang disebut dengan post-normal science.85 Yang menjadi faktor penentu disini adalah banyaknya kepentingan masyarakat luas yang akan terkena dampak dari keputusan yang diambil. Post-normal science ini memandang bahwa lingkungan hidup adalah sebuah lokasi terjadinya konflik atas persaingan atas nilai, kepentingan, kelompok dan komunitas yang mereka representasikan.86 Oleh karena itu, segala kepentingan tersembunyi, kendala-kendala kebudayaan, dan nilai-nilai adalah relevan dan merupakan kumpulan variabel yang
82 Per Sandin, et. al., “Five Charges Against Precautionary Principle,” Journal of Risk Research 5, (Vol. 4, 2002), hal. 290.
83 Makane Moïse Mbengue dan Urs P. Thomas, “The Precautionary Principle’s Evolution in Light of Four SPS Disputes,” Journal of Trade and Environment Studies, (Vol. 3, July 2004), hal. 5.
84 Ibid.
85 Andrea Saltelli dan Silvio Funtowicz, “Implications of Precautionary Principle for Risk Management Strategies”, Eur: J. Oncol. Library, (Vol. 2), hal. 68.
86 Ibid., hal. 77.
harus dijadikan bahan pertimbangan karena akan sangat mempengaruhi strategi yang akan diterapkan.87
Hubungan antara prinsip kehati-hatian dan GATT didasarkan pada asumsi dasar bahwa dalam hukum lingkungan internasional prinsip kehati-hatian ini pada umumnya terintegrasi di dalam isi perjanjian yang bersangkutan sebagai hak atau terkadang juga sebagai suatu kewajiban terkait dengan tindakan-tindakan yang dapat diambil oleh suatu pemerintahan yang berdaulat terkait dengan tujuan yang ingin dicapai yang berhubungan dengan masalah lingkungan.88 Sedangkan dalam sudut pandang hukum di forum WTO, prinsip kehati-hatian ini dianggap sebagai suatu pengecualian, yang artinya merupakan sebuah pilihan (opsi) yang ditawarkan kepada negara-negara anggota untuk tidak mengimplementasikan suatu ketentuan tertentu atau untuk melakukan penyesuaian tertentu terhadap ketentuan tersebut, dan alasan- alasan untuk menerapkan pilihan tersebut akan merupakan bahan penilaian dari Panel atau Appelate Body yang ditunjuk untuk memutuskan apakah hal tersebut bisa diterima atau tidak.89 Pembahasan lebih lanjut mengenai prinsip kehati-hatian akan dipaparkan dalam bab-bab berikutnya.