• Tidak ada hasil yang ditemukan

Preferensi Konsumen Teh Celup dan Teh Tubruk

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

4.5. Analisis Conjoint

4.5.2. Preferensi Konsumen Teh Celup dan Teh Tubruk

Output yang dihasilkan oleh analisis konjoin adalah berupa data urutan atribut dan taraf yang dinilai penting oleh responden. Hasil analisis penelitian ini akan menjelaskan mengenai Nilai Kepentingan Relatif (NKR) dan Nilai Kegunaan Taraf (NKT).

4.5.2.1. Preferensi Konsumen Terhadap Pembelian Teh Celup

Nilai Kepentingan Relatif untuk keseluruhan responden Pasar Induk Rau Serang yang mengkonsumsi teh celup dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini.

Preferensi Teh Celup

Persentase (%)

Gambar 4. Nilai Kepentingan Relatif Atribut untuk Keseluruhan Responden Teh Celup

14.58

16.61

23.80

15.87

14.88

0 5 10 15 20 25

Harga Rasa Aroma Kepekatan Kepraktisan

Atribut Preferensi

Hasil analisis konjoin menunjukan bahwa atribut yang dianggap paling penting oleh responden dalam memilih teh celup adalah :

a. Aroma Teh Celup

Aroma teh celup dianggap konsumen sebagai atribut paling penting diantara atribut-atribut yang lainya dengan kepentingan relatif sebesar 23,80 persen.

Aroma merupakan faktor utama dalam mengkonsumsi teh, karena aroma dalam mengkonsumsi teh dapat mempengaruhi citarasa tersendiri bagi penikmat teh. Aroma teh yang membuat kesegaran dan ciri khas tersendiri dari minuman penyegar lainnya, inilah yang membuat penikmat teh semakin bersemangat untuk mengkonsumsi teh karena aroma yang terkandung didalamnya.

b. Rasa Teh Celup

Atribut berikutnya yang dianggap penting bagi responden adalah rasa teh celup. Atribut rasa dari teh celup memiliki Nilai Kepentingan Relatif sebesar 16,61 persen. Menurut konsumen rasa dari teh celup ini memiliki rasa tersendiri yang berbeda dari minuman lainnya, karena ketika menikmati teh terdapat rasa yang dapat membuat seseorang yang meminumnya menjadi sehat dan segar. Karenanya rasa pada teh celup ini mendapatkan nilai kepentingan atribut kedua setelah atribut aroma.

c. Kepekatan Teh Celup

Atribut selanjutnya yang dianggap penting oleh responden Pasar Rau Serang adalah atribut kepekatan teh celup dengan nilai kepentingan relatif adalah sebesar 15,87 persen.

d. Kepraktisan Menyeduh Teh Celup

Atribut selanjutnya yang dianggap kurang begitu penting merupakan atribut kepraktisan dalam menyeduh teh celup, pada dasarnya teh merupakan salah satu minuman yang dilakukan dengan cara menyeduh terlebih dahulu sebelum meminumnya. Atribut kemudahan menyeduh memiliki Nilai Kepentingan Relatif sebesar 14,88 persen. Menurut responden menyeduh sebelum dapat menikmati teh adalah suatu kebiasaan yang dilakukan, karenanya konsumen tidak terlalu merasa kesulitan untuk dapat mengkonsumsi setelah menyeduhnya terlebih dahulu.

e. Harga Teh Celup

Atribut selanjutnya yang dianggap tidak penting oleh responden adalah harga teh celup. Atribut harga teh celup memiliki nilai kepentingan relatif sebesar 14,58 persen. konsumen tidak terlalu mempermasalahkan atribut harga, karena mengkonsumsi teh sudah menjadi kebiasaan sehari-hari dan manfaat kesehatan, maka atribut harga ini merupakan atribut yang dianggap tidak penting.

Konsumen lebih menilai penting terhadap atribut aroma, rasa dan kepekatan karena dalam mengkonsumsi teh sudah menjadi kebisaan, maka konsumen sudah dapat mengenal lebih jelas tentang aroma, rasa dan kepekatan yang mereka ingini.

Kemudian disusul oleh atribut kepraktisan dan harga tidak dianggap begitu penting oleh responden karena dalam mengkonsumsi teh sudah merupakan kebutuhan sehari-hari bagi konsumen (motivasi), sehingga konsumen lebih mementingkan

kualitas aroma dan rasa untuk dapat memenuhi kepuasannya dibandingkan kemudahan menyeduh dan harga.

Selain tingkat kepentingan relatif, preferensi konsumen juga dapat dilihat dari nilai kegunaan taraf (NKT). Dari hasil analisis diperoleh nilai kegunaan taraf (NKT) adalah sebagai berikut :

a. Rasa Teh Celup

Adapun Nilai Kegunaan Taraf (NKT) untuk taraf pahit adalah sebesar -0.203 dan untuk taraf sedang sebesar 0.203, artinya dalam hal ini konsumen lebih menyukai rasa teh yang tidak terlalu pahit atau sedang (positif) dibandingkan dengan rasa teh yang pahit (negatif), karena rasa teh yang sedang dapat mewakili keaslian dari teh yang ada. NKT rasa teh celup dapat dilihat pada gambar 5.

b. Kepraktisan Menyeduh Teh Celup

Menurut responden menyeduh sebelum dapat menikmati teh adalah suatu kebiasaan yang dilakukan, karenanya konsumen tidak terlalu merasa kesulitan untuk dapat mengkonsumsi setelah menyeduhnya terlebih dahulu.

Nilai Kegunaan Taraf untuk taraf mudah ini adalah sebesar 0.109 dan untuk taraf sulit adalah sebesar -0.109. artinya konsumen tetap saja memilih taraf mudah karena walaupun sudah terbiasa menyeduh teh sebelum dikonsumsi, responden pun tetap memilih praktis dan mudah dalam mengkonsumsi teh.

NKT rasa teh celup dapat dilihat pada gambar 5.

c. Kepekatan Teh Celup

Atribut kepekatatan teh celup memiliki dua taraf yaitu taraf coklat muda dan taraf hitam, dengan masing-masing Nilai Kegunaan Taraf (NKT) adalah sebesar 0.084 dan -0,084. hal ini menunjukan konsumen lebih menyukai teh dengan kepekatan berwarna coklat muda (bernilai positif) dibandingkan dengan kepekatan teh berwarna hitam (bernilai negatif).

d. Aroma Teh Celup

Nilai Kegunaan Taraf (NKT) untuk Aroma teh Celup yaitu taraf teh asli sebesar 0.059 dan taraf teh melati sebesar -0.059. berdasarkan NKT yang ada dapat diketahui bahwa konsumen atau responden sangat menyukai aroma teh asli. Hal ini dapat dilihat berdasarkan nilai NKT yang bernilai positif, sedangkan aroma teh dengan aroma melati tidak disukai oleh karena itu bernilai negatif. NKT aroma teh celup dapat dilihat pada gambar 5.

e. Harga Teh Celup

Nilai Kegunaan Taraf (NKT) harga teh celup untuk taraf murah adalah sebesar 0.03 dan NKT untuk taraf mahal adalah sebesar -0.03 .Responden lebih memilih harga yang murah tetapi memiliki kuliatas yang bagus.

Kebanyakan dari responden tidak terlalu memperhatikan harga teh celup untuk dapat mereka konsumsi, tetapi karena menikmati teh adalah suatu kebutuhan dan kebiasaan maka konsumen tidak begitu mempermasalahkan harga teh yang beredar dipasaran. Meskipun harga teh celup yang berada dipasaran mengalami kenaikan harga, konsumen akan tetap membelinya, karena mengkonsumsi teh merupakan suatu kebiasaan dan memberikan kesehatan, hal ini sesuai dengan pernyataan apabila harga teh mengalami kenaikan maka konsumen Pasar Rau Serang akan tetap membeli teh. NKT rasa teh celup dapat dilihat pada Gambar 5.

4.5.2.2. Preferensi Konsumen Terhadap Pembelian Teh Tubruk

Nilai Kepentingan Relatif untuk keseluruhan responden Pasar Induk Rau Serang yang mengkonsumsi teh celup dapat dilihat pada Gambar 6

Preferensi Teh Tubruk

Persentase (%)

Gambar 6. Nilai Kepentingan Relatif Atribut untuk Keseluruhan Responden Teh Tubruk

Preferensi konsumen terhadap teh tubruk memiliki atribut yang sama seperti teh celup. Hasil dari analisis konjoin untuk preferensi konsumen terhadap pembelian teh tubruk memiliki Nilai Kepentingan Relatif adalah sebesar :

12.56

18.75

20.17

18.39

12.78

0 5 10 15 20 25

Harga Rasa Aroma Kepekatan Kepraktisan

Atribut Preferensi

a. Aroma Teh Tubruk

Atribut yang dianggap paling penting berada diurutan pertama oleh responden adalah atribut aroma teh tubruk dengan nilai kepentingan relatif sebesar 20,17 persen.

b. Rasa Teh Tubruk

Atribut selanjutnya yang dianggap penting oleh konsumen dan berada pada urutan kedua adalah atribut rasa teh tubruk dengan nilai kepentingan relatif adalah sebesar 18,75 persen. atribut rasa pada teh tubruk ini dianggap penting karena bagi penikmat teh rasa merupakan bagian tepenting dalam mengikmati teh.

c. Kepekatan Teh Tubruk

Atribut kepekatan teh tubruk menempati posisi ketiga setelah atribut rasa,atribut kepekatan teh tubruk memiliki nilai kepentingan relatif sebesar 18,39 persen.

d. Kepraktisan Menyeduh Teh Tubruk

Atribut yang dianggap kurang penting oleh responden adalah kepraktisan dalam menyeduh dengan nilai kepentingan relatif yaitu sebesar 12,78 persen.

e. Harga Teh Tubruk

Atribut yang dianggap paling tidak penting oleh responden berada pada urutan terakhir adalah harga dengan nilai kepentingan relatif adalah sebesar 12,56 persen. harga pada teh tubruk ini dianggap oleh sebagian besar responden tidak penting, karena responden lebih memilih manfaat kesehatan yang terkandung didalamnya, dan faktor keebiasaan pun menjadi alasan mengapa

konsumen teh tubruk akan tetap membeli teh walaupun harga suatu saat akan mengalami kenaikan.

Konsumen dalam hal ini lebih menilai penting terhadap atribut aroma, rasa dan kepekatan. Konsumen yang menilai penting terhadap aroma, rasa dan kepekatan, karena bagi konsumen hal tersebut sudah menjadi bagian terpenting dari kenikmatan dalam mengkonsumsi teh, karena itu atribut aroma, rasa dan kepekatan menjadi bagian terpenting dibandingkan atribut lainnya. Untuk atribut kepraktisan menyeduh dan harga merupakan atribut yang dianggap tidak penting oleh responden. tingkat kepentingan dari masing-masing atribut dapat diketahui berdasarkan Nilai Kepentingan Relatif (NKR), sedangkan tingkat kegunaan taraf dapat diketahui berdasarkan Nilai Kegunaan Taraf (NKT) yang ada. Gambar 6 dapat menjelaskan mengenai Nilai Kegunaan Taraf (NKT) dari masing-masing atribut pada teh tubruk yang sudah diteliti.

a. Kepekatan Teh Tubruk

Pada atribut kali ini konsumen menganggap bahwa kepekatan teh dengan warna coklat muda merupakan taraf yang positif yaitu dengan NKT yaitu sebesar 0,85 dan kepekatan berwarna hitam adalah sebesar -0,85 (bernilai negatif). Konsumen cenderung menyukai teh tubruk dengan kepekatan yang berwarna coklat muda karena rasa dan aromanya sudah dapat mewakili aroma dan rasa dari teh yang ada. Nilai NKT untuk atribut aroma dapat dilihat pada Gambar 6.

b. Rasa Teh Tubruk

Atribut rasa pada teh tubruk ini dianggap penting karena bagi penikmat teh rasa merupakan bagian tepenting dalam mengikmati teh. Atribut rasa teh tubruk memiliki Nilai Kegunaan Taraf (NKT) sebesar -0,7 utuk taraf pahit dan untuk taraf sedang adalah sebesar 0,7. Nilai NKT untuk atribut aroma dapat dilihat pada Gambar 6.

c. Aroma Teh Tubruk

Atribut dari aroma teh tubruk memiliki Nilai Kegunaan Taraf (NKT) sebesar 0,06 untuk taraf teh asli dan -0,06 untuk taraf melati. Pada atribut ini konsumen menganggap bahwa atribut dengan aroma teh asli lebih disukai dibandingkan aroma teh melati (negatif). Nilai NKT untuk atribut aroma dapat dilihat pada Gambar 6.

d. Kepraktisan Menyeduh Teh Tubruk

Pada atribut kepraktisan ini memiliki dua taraf yaitu taraf mudah dan sulit dengan masing-masing Nilai Kegunaan Taraf (NKT) yaitu sebesar 0,04 untuk taraf mudah (bernilai positif) dan -0,04 untuk taraf sulit (bernilai negatif).

Nilai NKT untuk atribut aroma dapat dilihat pada Gambar 6.

e. Harga Teh Tubruk

Harga pada teh tubruk ini dianggap oleh sebagian besar responden tidak penting, karena responden lebih memilih manfaat kesehatan yang terkandung didalamnya, dan faktor kebiasaan pun menjadi alasan mengapa konsumen teh tubruk akan tetap membeli teh walaupun harga suatu saat akan mengalami kenaikan. Nilai Kegunaan Taraf (NKT) pada harga teh tubruk untuk taraf mahal adalah sebesar -0,04 dan untuk taraf murah adalah sebesar 0,04. Nilai NKT untuk atribut aroma dapat dilihat pada Gambar 6.

4.6. Faktor-Faktor Perilaku Konsumen Yang Mempengaruhi Pembelian Teh Celup dan Teh Tubruk

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian teh celup maupun teh tubruk terbagi kedalam dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dianataranya yaitu persepsi dan motivasi. Faktor eksternal diantaranya yaitu kelompok acuan, gaya hidup dan budaya. Berikut ini akan diuraikan faktor-faktor perilaku konsumen yang mempengaruhi pembelian teh celup dan teh tubruk.

4.6.1. Persepsi

Persepsi termasuk kedalam faktor internal yaitu psikologis. Persepsi adalah proses yang digunakan oleh seorang konsumen untuk memilih dan menginterpretasi atribut-atribut yang dimiliki oleh suatu objek. Perssepsi seseorang akan timbul karena adanya motivasi yang baik yang kemudian mengakibatkan adanya preferensi.

Terjadinya preferensi ini adalah disebabkan oleh adanya atribut-atribut yang dimiliki suatu objek tertentu. Pada penelitian ini, persepsi responden dibatasi pada harga teh, rasa teh, aroma teh, kepekatan teh dan kepraktisan teh. Sebaran Jumlah dan presentase responden berdasarkan persepsi dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Sebaran Jumlah dan presentase responden berdasarkan persepsi

Atribut Responden

Sumber : Data Primer, diolah 2010

Berdasarkan data tabel diatas, atribut rasa menempati urutan pertama yaitu sebesar 38 persen. selanjutnya diikuti oleh atribut kepekatan yaitu sebesar 24 persen.

Responden cenderung memilih atribut rasa dibandingkan dengan atribut lainnya . hal ini menunjukan bahwa persepsi responden jika dikaitkan dengan persepsi mengenai teh adalah rasa teh yang didapat dari pengalaman responden dalam mengkonsumsi teh setiap harinya. Disini dapat disimpulkan bahwa stimuli rasa yang bekerja melalui pancaindra yaitu perasa dapat menghasilkan persepsi keinginan untuk menikmari rasa teh setiap harinya.

4.6.2. Motivasi

Motivasi termasuk kedalam faktor internal yaitu psikologis. Motivasi merupakan Kebutuhan yang cukup untuk mengarahkan seseorang mencari cara untuk memuaskan kebutuhan yang ada. pada penelitian ini yang akan dibahas adalah motivasi yang dapat membuat konsumen tertarik untuk mengkonsumsi teh celup dan teh tubruk. Dalam motivasi ini hanya dibatasi oleh beberapa kebutuhan saja, diantaranya adalah kebutuhan sehari-hari (kebiasaan mengkonsumsi) dan kebutuhan akan kesehatan sebaran jumlah dan persentase responden berdasakan motivasi dapat dilihat pada Tabel 17

Tabel 17. Sebaran Jumlah dan Presentase Responden Berdasarkan Motivasi

Motivasi Responden

Jumlah (Orang) Persentase (%) Kebutuhan sehari-hari

(kebiasaan mengkonsumsi) Kebutuhan akan kesehatan

12

38

24.0

76.0

Total 50 100.0

Sumber : Data Primer, diolah 2010

Berdasarkan tabel diatas motivasi tertinggi responden dalam mengkonsumsi teh celup maupun teh tubruk adalah motivasi akan kesehatan sebesar 76 persen. yang kemudian disusul oleh kebutuhan sehari-hari yaitu sebesar 24 persen. hal ini menunjukan bahwa sebagian besar responden sudah mengetahui manfaat yang terkandung didalam teh dibandingkan minuman penyehat lainnya. Kesadaran akan kesehatan dan stamina tubuh yang dilakukan oleh sebagian besar responden membuat minuman teh merupakan salah satu solusi minuman kesehatan yang mudah didapatkan dan bermanfaat.

4.6.3. Kelompok Acuan

Kelompok acuan merupakan salah satu rujukan yang sering dijadikan acuan oleh responden dalam mengkonsumsi teh. Kelompok acuan memiliki pengaruh langsung terhadap seseorang dalam memilih atau mengkonsumsi suatu objek. Dalam penelitian ini, dibatasi oleh 4 kelompok acuan saja, diantaranya adalah pengaruh keluarga, pengaruh teman, pengaruh iklan atau promosi dan pengaruh pribadi. Dalam membeli dan mengkonsumsi teh celup dan teh tubruk, sebagian besar responden dipengaruhi oleh pengaruh keluarga dan pengaruh pribadi yaitu sebesar 48 persen. Artinya dalam hal ini adanya pengaruh keluarga diantaranya adalah ayah, ibu, anak atau keluarga yang tinggal serumah. Sama halnya dengan pengaruh pribadi, adanya pengaruh dalam diri pribadi yang konsisten terhadap pembelian dan berinisiatif mengkonsumsi teh celup atau teh tubruk di dalam dirinya tanpa dipengaruhi oleh keluarga atau lainnya.

Pengaruh selanjutnya yaitu pengaruh teman atau promosi, memiliki pengaruh yang sangat kecil terhadap responden dalam pembelian teh celup dan teh tubruk yaitu sebesar 2 persen. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 18

Tabel 18. Sebaran Jumlah dan Presentase Responden Berdasarkan Kelompok Acuan

Sumber : Data Primer, diolah 2010 4.6.4. Gaya Hidup

Gaya hidup termasuk pada faktor eksternal yaitu faktor pribadi. Gaya hidup adalah pola hidup konsumen yang dapat diekspresikan pada kegiatan untuk dapat memenuhi kebutuhannya baik sandang, pangan, ataupun papan sehingga konsumen merasa puas dengan apa yang mereka inginkan. Gaya hidup seseorang dapat dilihat pada pola konsumsinya, jika seseorang memilki pola hidup tidak sehat,maka hanya mempertimbangkan rasa, kenikmatan harga yang murah yang terdapat didalam produk saja, tetapi tidak tertarik pada kualitas yang terkandung didalamnya. Hal ini berbeda dengan seseorang yang memiliki gaya hidup sehat, misalnya seseorang membeli produk dengan kualitas yang bagus walaupun dengan harga yang relatif mahal, produk yang bersih dan manfaat yang banyak, bagi konsumen yang terbiasa

hidup sehat, hal tersebut merupakan yang biasa dilakukan. Sehingga manfaat yang didapatkan sebanding dengan yang dikeluarkan. Berikut ini adalah sebaran jumlah dan persentase responden ketika harga teh mengalami kenaikan.

Tabel 19. Sebaran Jumlah dan Presentase Responden Berdasarkan Gaya Hidup

Alasan Responden

Sumber : Data Primer, diolah 2010

Konsumen yang selalu mengkonsumsi teh baik teh celup maupun teh tubruk akan tetap membeli atau mengkonsumsi teh meskipun mengalami kenaikan harga dipasaran. Berdasarkan Tabel 19 diatas, konsumen akan tetap membeli dan mengkonsumsi teh walaupun harga teh mengalami kenaikan, hal ini dikarenakan mengkonsumsi teh telah menjadi kebiasaan sehari-hari dan manfaat kesehatan dari mengkonsumsi teh lebih terasa dibandingkan minuman kesehatan lainnya. Oleh Karena itu, konsumen akan tetap membeli dan mengkonsumsi teh celup maupun teh tubruk, walaupun harga teh mengalami kenaikan harga di pasaran. Jumlah persentase responden tetap membeli teh walaupun mengalami kenaikan harga yaitu sebesar 74 persen. kemudian responden akan membeli teh yang yang lebih murah jika harga teh mengalami kenaikan harga yaitu sebesar 20 persen. Selanjutnya responden akan mencari ke tempat lain jika harga teh mengalami kenaikan yaitu sebesar 6 persen. hal ini menandakan bahwa responden lebih mengutamakan manfaat kesehatan dan

kebiasaan kesehariaanya dalam mengkonsumsi atau membeli teh walaupun harga teh mengalami kenaikan.

4.6.5. Budaya

Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar, budaya dapat dipengaruhi oleh keluarga, teman, atau lingkungan yang berada disekitar. Budaya dalam perilaku konsumen termasuk kedalam faktor eksternal.

Budaya dalam mengkonsumsi teh sudah ada sejak tahun 1930, diawali dengan adanya teh tubruk, kemudian disusul oleh adanya teh celup yaitu pada tahun 1960. Budaya dalam mengkonsumsi teh telah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat indonesia, karena rasa dan aroma yang terdapat dalam kandungan teh sesuai dengan citarasa masyarakat indonesia. Pada Tabel 20 memperlihatkan kebiasaan mengkonsumsi teh tubruk menempati urutan pertama yaitu sebesar 48 persen.

kemudian kebiasaan mengkonsumsi teh celup yaitu sebesar 42 persen. hal ini membuktikan bahwa responden lebih menyukai teh tubruk dibandingkan teh celup.

Tabel 20. Sebaran Jumlah dan Presentase Responden Berdasarkan Budaya

Jenis Teh Responden

Sumber : Data Primer, diolah 2010

BAB V PENUTUP

5.1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian preferensi konsumen terhadap pembelian teh celup dan teh tubruk di Pasar Induk Rau Serang, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. a. Preferensi konsumen terhadap pembelian teh celup dan teh tubruk berdasarkan atribut yang dianggap paling penting hingga paling tidak penting oleh responden secara berurutan terhadap teh celup maupun teh tubruk adalah aroma, rasa, kepekatan, kemudahan dalam menyeduh, dan harga.

b. Dapat disimpulkan bahwa, untuk kepentingan atribut teh, konsumen memiliki kesukaan (preferensi) yang sama terhadap teh celup maupun teh tubruk, sedangkan untuk kegunaan taraf konsumen memiliki kesukaan (preferensi) yang berbeda.

2. faktor yang paling dominan dalam pembelian teh celup maupun teh tubruk diantaranya adalah : persepsi (rasa), motivasi (kebutuhan akan kesehatan), kelompok acuan (pengaruh keluarga dan pengaruh pribadi), gaya hidup (tetap membeli), budaya (kebiasaan mengkonsumsi teh tubruk).

5.2. SARAN

Berdasarkan hasil kesimpulan diatas, maka saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut:

Strategi produk yang dapat digunakan oleh produsen dalam memproduksi teh, sebaiknya lebih mempertimbangkan preferensi (kesukaan) konsumen terutama aroma teh asli, rasa teh yang sedang (tidak terlalu pahit), kepekatan teh yang berwarna coklat muda, mudah dalam menyeduh dan dengan harga yang murah tetapi tidak munurunkan kualitas yang ada pada teh. Maka hasil dari preferensi konsumen ini dapat digunakan oleh para produsen untuk dapat merancang, mendesain dan mengembangkan produk teh seperti yang diinginkan oleh konsumen, sehingga pihak produsen dapat memaksimalkan produksi yang disukai pasar dan meminimalisasi produk yang kurang disukai pasar.

Strategi promosi yang dapat digunakan dan dikembangkan oleh pihak produsen adalah dengan cara melakukan promosi kepada pihak keluarga, karena dalam membeli dan mengkonsumsi teh, sebagian besar dipengaruhi oleh keluarga.

Setelah diketahui motivasi seseorang dalam mengkonsumsi teh adalah karena kebutuhan akan kesehatan, maka sebaiknya pihak produsen lebih mementingkan kulitas dan mutu dari kandungan teh yang diproduksi.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek” Edisi Revisi VI. PT.Rineka Cipta ; Jakarta.

Engel., James F., Roger D.Blackweel, dan Paul W. Winiard.1994. “Perilaku Kosumen” Edisi keenam Jilid 1. Binarupa Aksara ; Jakarta.

Ghani, Mohamad. 2002. “Dasar-dasar Budidaya Teh”. Penebar Swadaya ; Depok.

Ghozali, Imam. 2006. “Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS”

Cetakan ke IV. Penerbit UNDIP ; Semarang.

Hasan, Ali. 2008. Analisis Perilaku Konsumen. Media Presindo ; Yogyakarta.

Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran. Prenhalindo.: Jakarta.

Kotler, Philip dan Garry Armstrong. 2001. Prinsip-prinsip Pemasaran. Erlangga ; Jakarta.

Nugroho, Adi. 2002. Perilaku Konsumen. Studia Press ; Jakarta

Oktarini, Rizky. 2009. “ Uji Aktivitas Anti Bakteri Ekstrak Teh (Camelia sinensis)”

Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Priyatno, Duwi. 2008. Mandiri Belajar SPSS (Statistical Product and Service Solution) untuk Analisis Data dan Uji Statistik. MediaKom; Yogyakarta.

Putri, Inti Permata. 2009. “Preferensi Konsumen Terhadap Pembelian Buah Jeruk Lokal dan Buah Jeruk Impor” Skripsi. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ; Serang.

Rangkuti, Freddy. 2003. Riset Pemasaran. Gramedia Pustaka Utama ; Jakarta.

Renova, Anggiat. 2006. “ Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Atribut Jasa Bimbingan Belajar Primagama” Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

Santoso, Singgih. 2006. Seri Solusi Bisnis Berbasis TI : Menggunakan SPSS dan Exel untuk Mengukur Sikap dan Kepuasan Konsumen. PT. Elex Media Komputindo ; Jakarta.

Schiffman, Leon dan Kanuk. 2007. Perilaku Konsumen. PT Indeks ; Jakarta.

Setiadi, Nugroho J. 2003. Perilaku Konsumen “Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran”. Prenada Media Kencana ; Jakarta.

Simamora, Bilson. 2005. “Analisis Multivariat Pemasaran”. PT. Gramedia Pustaka Utama ; Jakarta.

Singarimbun, Masri dan Sofian, Effendi. 2006. Metode Penelitian Survai. LP3ES;

Jakarta.

Sugiyono. 1999. “Metode Penelitian Bisnis”. CV. Alfabeta ; Bandung.

Suliyanto. 2005. “ Analisis Data Aplikasi Pemasaran”. Ghalia Indonesia ;Bogor.

Sumarwan, Ujang. 2004. Perilaku Konsumen. Ghalia Indonesia ; Bogor.

Supranto, Johanes. 2004. Analisis Multivariat : Arti dan Interpretasi. PT. Rineka Cipta ; Jakarta.

Swasta, Basu. 2002. Azas-azas Marketing. Penerbit Liberta ; Yogyakarta.

Tjiptono, Fandy. 1997. Strategi Pemasaran. Penerbit Andi ; Yogyakarta.

Umar, Husein. 2004. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. PT. Raja

Umar, Husein. 2004. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. PT. Raja

Dokumen terkait