• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian

B. Ciri Verba Transitif Berdasarkan Posisinya

1. Prefiks {meN-}

a. Bentuk

Berdasarkan hasil analisis, bentuk prefiks {meN-} dalam BPD dapat berubah bentuk menjadi {mem-}, {men-}, {meng-}, dan {menge-}, sesuai dengan fonem awal kata dasar yang dapat dilekatinya.

1. Prefiks {meN-} mengalami perubahan bentuk menjadi {mem-} bila melekat pada kata dasar yang berfonem awal /b/ dan /p/, jika melekat pada kata dasar yang berawalan konsonan /p/, maka terjadi peluluhan tetapi jika melekat pada kata dasar yang berawalan konsonan /b/, maka kata dasar tersebut dapat luluh dan tidak luluh.

Contoh:

36

{meN-} + {buat} „ambil‟ → {memuat/membuat}

„mengambil‟

{meN-} + {borih} „cuci‟ → {memorih/memborih}

„mencuci‟

{meN-} + {balun} „gulung‟ → {membalun}„memaku

{meN-} + {bintir} „lempar‟ → {membintir}„melempar‟

{meN-} + {bayu} „anyam‟ → {membayu}„menganyam‟

{meN-} + {berre} „beri‟ → {memerre/memberre}

„memberi‟

{meN-} + {pelias} „buat‟ → {memelias}„membuat‟

{meN-} + {pido} „minta‟ → {memido}„memaku‟

{meN-} + {pake} „pakai‟ → {memake}„memakai‟

{meN-} + {pema} „tunggu‟ → {memema}„menunggu‟

Berdasarkan contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {meN-} bila melekat pada kata dasar yang berfonem awal /b/ maka kata dasar tersebut dapat luluh dan tidak luluh dan jika prefiks {meN-} melekat pada kata dasar berfonem awal /p/, maka terjadi peluluhan pada kata dasar. Jika prefiks {meN-} yang melekat pada kata dasar yang berfonem awal /p / tidak diluluhkan maka kata tersebut tidak berterima dalam BPD. Misalnya, mempema tidak terdapat dalam BPD.

2. Prefiks {meN-} mengalami perubahan bentuk menjadi {men-} bila melekat pada kata dasar yang berfonem awal konsonan /c/, /d/, /j/, /s/, /t/. Jika {meN-}

melekat pada kata dasar yang berfonem awal konsonan /s/ dan /t/ maka fonem awal tersebut luluh.

37 Contoh:

{meN-} + {cekep} „pegang‟ → {mencekep} „memegang‟

{meN-} + {dea} „jual‟ → {mendea} „menjual‟

{meN-} + {deger} „goyang‟ → {mendeger} „mendeger‟

{meN-} + {dahi} „jenguk‟ → {mendahi} „menjenguk‟

{meN-} + {dedah} „jaga‟ → {mendedah} „menjaga‟

{meN-} + {jujung} „junjung‟ → {menjujung}

„menjunjung‟

{meN-} + {jarum} „jahit‟ → {menjarum} „menjahit‟

{meN-} + {jukjuk} „jolok‟ → {menjukjuk} „menjolok‟

{meN-} + {jaka} „baca‟ → {menjaka} „membaca‟

{meN-} + {jomur} „jemur‟ → {menjomur} „menjemur‟

{meN-} + {jalang} „kejar‟ → {menjalang} „mengejar‟

{meN-} + {seat} „potong‟ → {meneat} „memotong‟

{meN-} + {sali} „pinjam‟ → {menali} „meminjam‟

{meN-} + {suan} „tanam‟ → {menuan} „menanam‟

{meN-} + {tokor} „beli‟ → {menokor} „membeli‟

{meN-} + {taka} „belah‟ → {menaka} „membelah‟

{meN-} + {tutung} „bakar‟ → {menutung} „membakar‟

{meN-} + {tulus} „cari‟ → {menulus} „mencari‟

{meN-} + {tangko} „curi‟ → {menangko} „mencuri‟

{meN-} + {tempi} „gendong‟ → {menempi}

„menggendong‟

38 {meN-} + {tengngen} „lihat‟ → {menengngen} „melihat‟

{meN-} + {tengnges} „kirim‟ → {menengnges}

„mengirim‟

{meN-} + {tutu} „tumbuk‟ → {menutu} „menumbuk‟

{meN-} + {tangkup} „tangkap‟ → {menangkup}

„menangkap‟

{meN-} + {taku} „timba‟ → {menaku} „menimba‟

Berdasarkan contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {meN-} yang melekat pada kata dasar yang berfonem awal /c/, /d/, /j/, /s/, /t/ dapat berubah bentuk menjadi {men-}. Jika prefiks {meN-} melekat pada kata dasar berfonem awal /c/, /d/, /j/ maka fonem awal tersebut tidak luluh misalnya, mencekep, mendea, menjukjuk.

Jika fonem awal tersebut diluluhkan maka kata tersebut tidak berterima lagi, misalnya

*menekep, *menea, *menjukjuk. Jika prefiks {meN-} melekat pada kata dasar yang berfonem awal /s/, /t/ maka fonem awal kata dasar tersebut harus luluh. Jika fonem awal /s/, /t/ tidak diluluhkan maka kata tersebut tidak berterima dalam BPD.

Misalnya, *mensuan, *mentengnges. Jadi fonem awal kata dasar tersebut harus diluluhkan supaya berterima, misalnya menuan dan menengnges.

3. Prefiks {meN-} mengalami perubahan bentuk menjadi {meng-} bila melekat pada kata dasar yang berfonem awal vokal dan berfonem awal konsonan /g/

dan /k/.

Contoh:

{meN-} + {aleng} „jemput‟ → {mengaleng}

„menjemput‟

39 {meN-} + {ambongken} „buang‟ → {mengambongken}

„membuang‟

{meN-} + {eket} „ikat‟ → {mengeket}‟mengikat‟

{meN-} + {onjor} „dorong‟ → {mengonjor}

„mendorong‟

{meN-} + {gusgus} „gosok‟ → {menggusgus}

„menggosok‟

{meN-} + {gusting} „pangkas‟ → {menggusting}

„memangkas‟

{meN-} + {gancih} „tukar‟ → {menggancih}‟menukar‟

{meN-} + {kalang} „ganjal‟ → {mengkalang}'

„mengganjal‟

{meN-} + {kail} „pancing‟ → {mengkail}‟memancing‟

{meN-} + {kanting} „angkat‟ → {mengkanting}

„mengangkat‟

{meN-} + {kurak} „gali‟ → {mengkurak}

„menggali‟

Berdasarkan contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {meN-} yang melekat pada kata dasar yang berfonem awal vokal dan kata dasar yang berfonem awal /g/ dan /k/ dapat berubah bentuk menjadi {meng}. Kata dasar yang berfonem awal vokal dan kata dasar yang berfonem awal /g/ dan /k/ tersebut juga tidak luluh.

Jika fonem awal kata dasar tersebut diluluhkan maka kata tersebut menjadi tidak berterima. Misalnya, *mengleng, *mengket, *menganting. Oleh karena itu prefiks {meN-} yang melekat pada vokal dan fonem /g/, /k/ tidak terjadi peluluhan.

40 4. Prefiks {meN-} mengalami perubahan bentuk menjadi {menge-} bila melekat

pada kata dasar yang berfonem awal /l/ dan /r/.

Contoh:

{meN-} + {lotok}„bajak‟ → {mengelotok}„membajak‟

{meN-} + {lempit}„lipat‟ → {mengelempit}„melipat‟

{meN-} + {lambak}„kupas‟ → {mengelambak}„mengupas‟

{meN-} + {rakut}„ikat‟ → {mengerakut}„mengikat‟

{meN-} + {rengkat}„cabut‟ → {mengerengkat}„mencabut‟

{meN-} + {rabi} „babat‟ → {mengerabi}„membabat‟

{meN-} + {ruah} „tarik‟ → {mengeruah}„menarik‟

Berdasarkan contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {meN-} yang melekat pada kata dasar yang berfonem awal /l/ dan /r/ dapat berubah bentuk menjadi {menge-}. Prefiks {meN-} yang melekat pada kata dasar yang berfonem awal /l/ dan /r/ tersebut tidak terjadi peluluhan. Jika fonem awal kata dasar tersebut diluluhkan maka kata tersebut tidak berterima dalam BPD. Misalnya, *mengeotok, *mengeakut.

Oleh karena itu, prefiks {meN-} yang melekat pada kata dasar yang berfonem awal /l/

dan /r/ tersebut tidak terjadi peluluhan. Sehingga kata tersebut berterima dalam BPD.

b. Distribusi

Yang dimaksud dengan distribusi dalam afiksasi adalah kemampuan afiks untuk melekat pada kelas kata. Untuk membentuk verba transitif prefiks {meN-}

dapat melekat pada kelas kata nomina, verba dan keadaan.

1. Nomina.

41 Contoh:

{meN-} + {labang} „paku‟ → {mengelabang} „memaku‟

{meN-} + {roroh} „sayur‟ → {mengeroroh} „menyayur‟

{meN-} + {gusting} „gunting‟ → {menggusting} „menggunting‟

{meN-} + {sori} „sisir‟ → {menori} „menyisir‟

{meN-} + {pangkur} „cangkul‟ → {memangkur} „mencangkul‟

2. Verba Contoh:

{meN-} + {bayu} „anyam‟ → {membayu} „menganyam‟

{meN-} + {jaka} „baca‟ → {menjaka} „membaca‟

{meN-} + {tokor} „beli‟ → {menokor} „membeli‟

{meN-} + {taka} „belah‟ → {menaka} „membelah‟

{meN-} + {tempi } „gendong‟ → {menempi} „menggendong‟

{meN-} + {lempit} „lipat → {mengelempit}„melipat‟

3. keadaan

{meN-} + {pustak} „pecah‟ → {memustak} „memecah‟

{meN-} + {bettoh} „tahu‟ → {membettoh} „mengetahui‟

Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {meN-} dapat melekat pada kelas kata nomina, verba dan keadaan.

c. Fungsi

42 Yang dimaksud dengan fungsi dalam afiksasi adalah kemampuan afiks dalam mengubah kelas kata. Fungsi prefiks {meN-} dalam BPD adalah untuk membentuk verba aktif.

Contoh:

{meN-} + {pangkur} „cangkul‟ → {memangkur} „mencangkul‟

{meN-} + {cet} „cat‟ → {mencet} „mengecat‟

{meN-} + {taka} „belah‟ → {menaka} „membelah‟

{meN-} + {rintak} „tarik‟ → {mengerintak }„menarik‟

{meN-} + {bayu} „anyam‟ → {membayu}„menganyam‟

{meN-} + {sali} „pinjam‟ → {menali} „meminjam‟

{meN-} + {pustak } „pecah‟ → {memustak}„memecah‟

{meN-} + {deger} „goyang‟ → {mendeger} „menggoyang‟

Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {meN-} yang melekat pada verba, nomina dan adjektiva berfungsi untuk membentuk verba transitif yang aktif.

d. Nosi

Yang dimaksud dengan nosi dalam afiksasi adalah arti yang timbul setelah terjadi pengimbuhan. Nosi yang ditimbulkan prefiks {meN-} dalam BPD adalah:

1. Bila prefiks {meN-} melekat pada nomina, maka prefiks itu mempunyai nosi bekerja dan mempergunakan dengan apa yang tersebut pada bentuk dasar.

Contoh:

{meN-} + {pangkur} „cangkul‟ → {memangkur} „bekerja dengan

43 cangkul‟

{meN-} + {sori} „sisir‟ → {menori} „bekerja dengan sisir‟

{meN-} + {rambas} „babat‟ → {merambas} „bekerja dengan babat‟

2. Bila prefiks {meN-} melekat pada verba, maka prefiks {meN-} mempunyai nosi melakukan suatu perbuatan.

Contoh:

{meN-} + {lempit} „lipat‟ → {mengelempit} „melipat‟

{meN-} + {borih} „cuci‟ → {memborih} „mencuci‟

{meN-} + {eket} „ikat‟ → {mengeket} „mengikat‟

{meN-} + {suan} „tanam‟ → {menuan} „menanam‟

{meN-} + {tengnges} „kirim‟ → {menengnges} „mengirim‟

3. Bila prefiks {meN-} melekat pada keadaan, maka prefiks {meN-} akan mempunyai nosi membuat jadi seperti keadaan yang tersebut pada bentuk dasar.

Contoh:

{meN-} + {sengget} „terkejut‟ → {menengget} „membuat terkejut‟

{meN-} + {pustak} „pecah‟ → {memustak} „membuat jadi

pecah‟

{meN-} + {deger} „goyang‟ → {mendeger} „membuat jadi goyang‟

2. Prefiks {ki-}

a. Bentuk

44 Prefiks {ki-} dalam BPD tidak mengalami perubahan bentuk, baik melekat pada kata dasar yang berfonem awal vokal maupun konsonan.

Contoh: perubahan bentuk. Meskipun prefiks {ki-} telah melekat pada kata dasar, fonem awal kata dasar tersebut juga tidak luluh.

b. Distribusi

Prefiks {ki-} dapat melekat pada kelas kata:

1. Nomina

45 {ki-} + {ketang} „rotan‟ → {kiketang} „mencari rotan‟

{ki-} + {roroh} „sayur‟ → {kiroroh} „mencari sayur‟

{ki-} + {salak} „salak‟ → {kisalak} „mencari salak‟

2. Verba

{ki-} + {suan} „tanam‟ → {kisuan} „menanam‟

{ki-} + {jalang} „kejar‟ → {kijalang} „mengejar‟

{ki-} + {lean} „beri‟ → {kilean} „memberi‟

{ki-} + {dea} „jual‟ → {kidea} „menjual‟

{ki-} + {tutung} „bakar‟ → {kitutung} „membakar‟

{ki-} + {pido} „minta‟ → {kipido} „meminta‟

Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {ki-} mampu melekat pada kelas kata nomina dan verba. Prefiks {ki-} yang melekat pada nomina berubah kelas kata menjadi verba yang transitif tetapi jika melekat pada verba, kelas kata tidak berubah.

c. Fungsi

Prefiks {ki-} berfungsi membentuk verba aktif.

Contoh:

{ki-} + {daban} „cendawan‟ → {kidaban} „mencari cendawan

{ki-} + {roroh} „sayur‟ → {kiroroh} „mencari sayur {ki-} + {congkil} „korek‟ → {kicongkil} „mengorek‟

{ki-} + {enum} „minum‟ → {kienum} „meminum‟

46 {ki-} + {pangan} „makan‟ → {kipangan} „memakan‟

Berdasarkan contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {ki-} yang melekat pada nomina dan verba berfungsi untuk membentuk verba transitif yang aktif.

d. Nosi

Nosi yang ditimbulkan prefiks {ki-} adalah:

1. Mencari apa yang tertulis pada bentuk dasar.

Contoh: pada nomina. Prefiks {ki-} yang melekat pada nomina memiliki arti „mencari‟.

2. Melakukan apa yang tersebut pada bentuk dasar.

{ki-} + {jalang} „kejar‟ → {kijalang} „melakukan

47 {ki-} + {taku} „timba‟ → {kitaku} „melakukan pekerjaan menimba‟

Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {ki-} dapat melekat pada kelas kata verba. Prefiks {ki-} yang melekat pada verba memiliki arti

„melakukan‟.

B. Infiks

Infiks adalah afiks yang diselipkan di tengah kata dasar. Dalam BPD, terdapat satu infiks yang membentuk verba transitif yaitu infiks {-um-}.

a. Bentuk

Infiks {-um-} dalam BPD tidak mengalami perubahan bentuk dan dapat melekat pada kata dasar berfonem awal konsonan.

Contoh:

{-um-} + {tabah} „potong‟ → {tumabah} „memotong‟

{-um-} + {tokor} „beli‟ → {tumokor} „membeli‟

{-um-} + {tutung} „bakar‟ → {tumutung} „membakar‟

Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa Infiks {-um-} dapat membentuk verba transitif. Infiks {-um-} melekat pada kata dasar yang berfonem awal konsonan /t/ dan infiks {-um-} juga berada setelah fonem /t/.

b. Distribusi

Infiks {-um-} dapat melekat pada kelas kata : 1. Nomina

Contoh:

48 {-um-} + {kesah} „napas‟ → {kumesah} „bernapas/

menarik napas‟

{-um-} + {sirpang} „simpang‟ → {sumirpang} „menyimpang‟

2. verba Contoh:

{-um-} + {tabah} „potong‟ → {tumabah} „memotong‟

{-um-} + {ruah} „tarik‟ → {rumuah} „menarik‟

3. Adjektiva Contoh:

{-um-} + {gedang} „panjang‟ → {gumedang} „paling panjang‟

Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa infiks {-um-} mampu melekat pada kelas kata nomina, verba dan adjektiva.

c. Fungsi

Infiks {-um-} berfungsi untuk membentuk verba, baik itu transitif maupun intransitif.

Contoh:

{-um-} + {ruah} „tarik‟ → {rumuah} „menarik‟

{-um-} + {tabah} „potong‟ → {tumabah} „memotong‟

{-um-} + {kesah} „napas‟ → {kumesah} „bernapas‟

Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa Infiks {-um-} dapat berfungsi membentuk verba transitif maupun intransitif. Infiks yang melekat pada verba

49 membentuk verba transitif sedangkan infiks yang melekat pada nomina membentuk verba intransitif.

d. Nosi

Nosi yang ditimbulkan infiks {-um-} adalah:

1. Menyatakan suatu perbuatan seperti yang tertulis pada bentuk dasar.

Contoh:

{-um-} + {tabah} „potong‟ → {tumabah} „memotong‟

{-um-} + {rimba} „duyun‟ → {rumimba} „berduyun-

‘duyun‟

2. Menyatakan suatu keadaan sesuai dengan apa yang tertulis pada kata dasar.

Contoh:

{-um-} + {gedang} „panjang‟ → {gumedang} „paling panjang‟

Dokumen terkait