ANALISIS MORFOLOGI VERBA TRANSITIF BAHASA PAKPAK DAIRI
Teks penuh
(2) PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memenuhi gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi. Sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis dan diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila pernyataan yang saya perbuat ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar kesarjanaan yang saya peroleh. Medan, Juli 2017 Penulis. Mintauli Pangaribuan NIM 130701042. i.
(3) ANALISIS MORFOLOGI VERBA TRANSITIF BAHASA PAKPAK DAIRI. OLEH: MINTAULI PANGARIBUAN NIM 130701042 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ciri-ciri verba transitif dan proses pembentukan verba transitif bahasa Pakpak Dairi. Verba transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif, dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Teori yang digunakan untuk mencari ciri-ciri verba adalah teori yang dikemukakan oleh Alwi (2003) dan Chaer (2008), untuk mencari proses pembentukan verba transitif menggunakan teori yang dikemukakan oleh Basaria (2002) dan Soedjito (2014). Dalam pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode simak dan metode cakap. Metode simak didukung dengan menggunakan teknik dasar sadap dengan teknik lanjutan berupa teknik simak libat cakap, dan metode cakap didukung dengan menggunakan teknik dasar berupa teknik pancing dengan teknik lanjutan berupa teknik cakap semuka dan teknik rekam. Penganalisisan data dilakukan dengan menggunakan metode agih, analisis data dilanjutkan dengan menggunakan teknik lesap dan teknik sisip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa verba transitif bahasa Pakpak Dairi dapat diamati melalui perilaku semantis, sintaksis dan dari segi bentuknya. Proses pembentukan verba transitif BPD terdiri dari afiksasi dan pengulangan. Pada proses afiksasi verba transitif BPD dibentuk dengan membubuhkan afiks. Pada proses pengulangan verba transitif BPD dibentuk melalui pengulangan yang disertai imbuhan. Kata Kunci : morfologi, verba, verba transitif, bahasa Pakpak Dairi. ii.
(4) PRAKATA Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan karunia-Nya kepada penulis dalam penelesaian skripsi ini dari awal hingga selesai. Selama dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik berupa bantuan moral maupun bantuan materi. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1.. Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU, Medan. Terima kasih atas arahan dan bimbingan yang Bapak berikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, USU, Medan.. 2.. Ketua dan Sekretaris Departemen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Terima kasih atas semua petunjuk yang telah diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan semua urusan administrasi di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, USU, Medan.. 3.. Dr. Ida Basaria, M.Hum selaku pembimbing I dan Dra. Sugihana br. Sembiring, M.Hum selaku pembimbing II. Terima kasih atas kesabaran, dorongan, dan kesediaan ibu yang senantiasa meluangkan waktu untuk membimbing penulis serta memberikan sumbangan pemikiran dalam proses penyelesaian skripsi ini.. iii.
(5) 4.. Bapak dan Ibu staf pengajar Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan selama lebih kurang empat tahun.. 5.. Bapak Slamet yang telah banyak membantu penulis dalam mengurus penyelesaian administrasi. dan persyaratan-persyaratan lainnya. dalam. menyelesaikan skripsi ini. 6.. Kedua orang tua saya yang tersayang, ayahanda H. Pangaribuan dan ibunda D. br. Hasugian yang telah memberikan saya dukungan moral, materi, kasih sayang yang tiada habisnya dan doa yang tidak pernah berhenti. Kiranya kasih dan karunia Tuhan yang senantiasa melindungi dan memberkati ayahanda dan ibunda. Dengan hati yang tulus penulis mengucapkan semua ini sebagai tanda sayang dan terima kasih atas segala hal yang telah diberikan. Semoga dengan selesainya skripsi ini dapat membahagiakan orang tua.. 7.. Kepada opung yang tersayang yang tak hentinya memberi semangat dan doa kepada penulis, kiranya kasih dan karunia Tuhan yang senantiasa melindungi dan memberkati opung.. 8.. Kepada kakak dan adik-adikku tersayang Erna wati Pangaribuan Am. Keb, Irvan Ronaldo Pangaribuan, Dedi Boy Pangaribuan, yang selalu mendukung dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih buat dukungan dan kasih sayangnya dan juga buat seluruh keluarga yag turut memberikan dukungan pada penulis dalam menyelesaikan studi.. iv.
(6) 9.. Kepada sahabatku Jeanne Merrie Tarigan, Adenisa Anggraini Panggabean, Chenny Christina Silaban dan Siti Rohani siburian yang selalu mendukung dan memberi semangat bagi penulis. Terima kasih buat dukungan dan kasih sayang yang telah kalian berikan pada penulis.. 10.. Kepada semua teman-teman seperjuangan stambuk 2013 terima kasih buat bantuan dan dukungannya, terima kasih buat kebersamaan kita selama kurang lebih empat tahun, penulis akan selalu ingat dan selalu menyayangi kalian semua. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut. membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Semoga berkat Tuhan melimpah bagi kita semua.. Medan, Juli 2017 Penulis. Mintauli Pangaribuan. v.
(7) DAFTAR ISI. PERNYATAAN ....................................................................................................... i ABSTRAK ............................................................................................................... ii PRAKATA ............................................................................................................... iii DAFTAR ISI ............................................................................................................ iv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 4 1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................... 4 1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................. 4 1.4.1. Manfaat Teoretis ......................................................................... 4. 1.4.2. Manfaat Praktis ........................................................................... 5. BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep..................................................................................................... 6 2.1.1 Morfologi .......................................................................................... 6 2.1.2 Verba .............................................................................................. 6 2.1.3 Verba Transitif ............................................................................... 7 2.2 Landasan Teori ........................................................................................ 7 2.3 Tinjauan Pustaka ..................................................................................... 14 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian ..................................................................................... 18 vi.
(8) 3.2 Waktu Penelitian ..................................................................................... 19 3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data .................................................. 19 3.4 Metode dan Teknik Analisis Data ........................................................... 20 3.5 Metode dan Teknik Penyajian Data ........................................................ 23 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Pembahasan ............................................................................................. 25 4.1.1 Ciri-ciri Verba Transitif BPD............................................................ 25 4.1.1.1 Ciri Semantis Verba Transitif ..................................................... 25 4.1.1.2 Ciri Sintaksis Verba Transitif...................................................... 27 4.1.1.3 Ciri dari segi bentuknya .............................................................. 33 4.1.2. Proses Morfologi Verba Transitif BPD.......................................... 34. 4.1.2.1. Afiksasi ................................................................................. 35 A. Prefiks ................................................................................ 35 B. Infiks .................................................................................. 47 C. Afiks Gabung ..................................................................... 49. 4.1.2.2. Reduplikasi .......................................................................... 54. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 58 5.2 Saran........................................................................................................ 59 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 60 LAMPIRAN. vii.
(9) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bangsa Indonesia terdiri atas bermacam-macam suku atau kelompok etnis di tanah air. Tiap kelompok etnis mempunyai bahasa masing-masing yang dipergunakan dalam komunikasi antaretnis atau sesama suku. Bahasa memegang peranan penting dalam setiap bidang karena dengan bahasa dapat diungkapkan atau disampaikan isi pikiran si pemakai bahasa. Dengan bahasa dapat juga terjalin interaksi dalam masyarakat walaupun terdiri atas beberapa kelompok etnis yang berbeda. Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan yang sangat penting peranannya sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan maksud dan pokok pikirannya (Kudadiri, 2010). Bahasa daerah dipelihara oleh negara sebagaimana tercantum dalam penjelasan UUD 1945 BAB XV Pasal 36 yang menyatakan bahwa bahasa daerah yang masih dipakai sebagai alat perhubungan oleh masyarakat bahasa setempat dibina dan dipelihara oleh negara. Amran Halim (dalam Nofianna 2001) menyebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa daerah tidak saja bertujuan menjaga kelestarian bahasa daerah itu, tetapi juga bermanfaat bagi pembinaan, pengembangan dan pembakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Pembinaan bahasa nasional tidak bisa dilepaskan dari pembinaan bahasa daerah karena kedua-duanya mempunyai hubungan timbal balik yang erat. Salah satu 1.
(10) bahasa daerah yang dipelihara itu adalah bahasa Pakpak Dairi. Bahasa Pakpak Dairi merupakan alat komunikasi masyarakat suku Pakpak Dairi. Bahasa Pakpak Dairi tidak hanya berfungsi sebagai lambang kebanggaan daerah, alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai pendukung bahasa nasional, sebagai bahasa pengantar di sekolah, di pedesaan, serta sebagai alat pengembangan. dan. pendukung. kebudayaan. daerah.. Bila. tidak. dibina. pengembangannya maka bahasa tersebut akan hilang. Basaria (2002) dalam tesis dengan judul Analisis Morfologi Verba Bahasa Pakpak Dairi, menyatakan bahwa penutur bahasa Pakpak Dairi adalah bilingualis yaitu bahasa Pakpak Dairi dan bahasa Toba, di samping bahasa Indonesia. Menurutnya, bahasa Batak Toba banyak dipakai/digunakan oleh penutur bahasa Pakpak Dairi terutama yang beragama Kristen, yang merupakan agama mayoritas penduduk suku Pakpak Dairi. Di perantauan bahasa Pakpak Dairi jarang dipakai, akibatnya bahasa itu kurang dikenal. Dengan demikian, penelitian ini dapat juga menjadi sarana pengenalan bahasa Pakpak Dairi kepada pembacanya yang sekaligus juga mempunyai dampak penting bagi penutur asli bahasa Pakpak Dairi. Deskripsi sistem morfologi transitif bahasa ini memperagakan kepada mereka berbagai ciri, bentuk dan makna verba transitif bahasa Pakpak Dairi. Dengan demikian, penutur asli akan menyadari bahwa bahasa ibu mereka memiliki sistem tersendiri yang sama baiknya dengan sistem bahasa-bahasa lain. Penelitian ini juga berdaya guna dalam upaya meningkatkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa mereka. Dengan penelitian 2.
(11) ini, penutur asli akan percaya mereka memiliki dan memakai bahasa sendiri dan tidak merasa malu atau segan- segan membina dan melestarikan bahasa mereka. Karena, jika bahasa ini tidak dilestarikan maka lama kelamaan bahasa ini akan punah. Tetapi peneliti sebagai penutur asli bahasa ini berharap hal ini tidak akan terjadi karena bila bahasa Pakpak Dairi punah maka hilang juga salah satu identitas suku bangsa. Sebagai objek ilmu bahasa, beberapa aspek tentang bahasa Pakpak Dairi ini telah diteliti oleh para ahli bahasa. Beberapa penelitian yang telah dilaksanakan, yang berhubungan dengan masalah morfologi antara lain, Basaria (2002) dalam tesisnya yang berjudul Analisis Morfologi Verba Bahasa Pakpak Dairi, Kudadiri(2010) dalam tesisnya yang berjudul Morfologi Nomina Bahasa Pakpak, dan Sembiring dkk (1993) dalam bukunya tentang Morfologi dan Sintaksis Bahasa Pakpak Dairi. Sudaryanto (1991 : 6) menyebutkan bahwa verba adalah kata yang menyatakan perbuatan, dapat dinyatakan dengan modus perintah, dan bervalensi dengan aspek keberlangsungan yang dinyatakan dengan kata „lagi‟ (sedang). Tarigan (1977) menyatakan bahwa transitif adalah verba yang memerlukan objek, sedangkan intransitif adalah verba yang tidak memerlukan objek. Alwi (2003) menyebutkan bahwa verba transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif, dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Penelitian morfologi khususnya verba transitif bahasa Pakpak Dairi belum pernah dilakukan. Padahal verba merupakan salah satu unsur pembangun terpenting dalam penyusunan kalimat. Verba merupakan topik yang selalu menarik untuk dibicarakan karena sangat potensial untuk mengisi fungsi predikat di dalam struktur 3.
(12) kalimat. Fungsi predikat itu merupakan unsur sentral dari seluruh bangun kalimat. Oleh karena itu, penelitian Morfologi Verba Transitif Bahasa Pakpak Dairi ini penting untuk diteliti. 1.2 Rumusan Masalah Perumusan masalah sangat penting dalam pembuatan skripsi, karena dengan adanya perumusan masalah, maka pembahasan menjadi lebih terarah dan terperinci. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimanakah ciri-ciri verba transitif dalam bahasa Pakpak Dairi? 2. Bagaimanakah proses pembentukan verba transitif dalam bahasa Pakpak Dairi? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dijelaskan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Mendeskripsikan ciri-ciri verba transitif dalam BPD. 2. Mendeskripsikan proses mpembentukan verba transitif BPD. 1.4 Manfaat penelitian Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah : 1.. Manfaat Teoretis a. Menambah khazanah kepustakaan morfologi bahasa Pakpak Dairi sebagai salah satu bahasa daerah di Indonesia. b. Sebagai bahasa pemerkaya khazanah perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia. 4.
(13) 2.. Manfaaat Praktis a. Melestarikan dan menghindarkan dari kepunahan. b. Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lanjutan tentang tipe morfologi verba transitif dalam bahasa lain.. 5.
(14) BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep 2.1.1. Morfologi Soedjito (2014:1) menyatakan bahwa morfologi ialah tata bahasa yang. membahas seluk- beluk morfem dan kata. Dalam tataran gramatikal morfem adalah satuan terkecil yang bermakna. Satuan di atas morfem adalah kata. Kata merupakan satuan terbesar dalam morfologi, tetapi merupakan satuan terkecil dalam sintaksis. Menurut Chaer (2008:3) secara etimologi kata morfologi berasal dari kata morf yang berarti ‟bentuk‟ dan kata logi berarti „ilmu‟. Jadi secara harfiah kata morfologi berarti ‟ilmu mengenai bentuk‟. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti ilmu mengenai bentuk-bentuk dan pembentukan kata‟. 2.1.2. Verba (Kata Kerja) Kridalaksana (dalam Putrayasa 2008) menyebutkan bahwa verba adalah. subkategori kata yang memiliki ciri dapat bergabung dengan partikel tidak, tetapi tidak dapat bergabung dengan partikel di, ke, dari, sangat, lebih, agak. Selain itu, verba juga dapat dicirikan oleh perluasan kata tersebut dengan rumus V (verba) + dengan kata sifat. Misalnya, Ani menyapu lantai kotor dengan berat hati. Kata menyapu merupakan verba. Chaer (2008:74) menyatakan bahwa adverbia negasi bukan dapat juga mendampingi sebuah verba, tetapi dengan persyaratan, yaitu bila. 6.
(15) berada dalam konstruksi kontrastif. Misalnya, Dia bukan memberi, melainkan meminjamkan alat itu. 2.1.3. Verba Transitif Alwi (2003:32) menyebutkan bahwa istilah transitif berkaitan dengan verba. (kata kerja) dan nomina (kata benda) yang mengiringinya. Verba transitif menyatakan peristiwa yang melibatkan dua maujud atau entitas: manusia, binatang, atau hal yang dapat menjadi titik tolak untuk memerikan peristiwa itu, baik dengan menggunakan verba aktif maupun verba pasif. Dari segi makna, kedua maujud itu berbeda perannya dalam peristiwa itu: maujud yang satu adalah “sumber” (pelaku, pengalam, penyebab) peristiwa tersebut, sedangkan maujud yang lain adalah yang “dikenai langsung” oleh peristiwa itu. Sebagian verba transitif mengungkapkan hubungan antara tiga maujud. Dalam bentuk kalimat aktif, satu maujud berada di muka verba dan dua lainnya di belakang verba. Kategori sintaksis dari ketiga maujud ini adalah nomina. Kridalaksana (dalam Putrayasa 2008) mengatakan bahwa verba transitif, yaitu verba yang bisa mempunyai atau harus mendampingi objek. Contoh: menulis, memberi, makan. 2.2 Landasan Teori Sebuah penelitian perlu ada landasan teori yang mendasarinya karena landasan teori merupakan kerangka dasar sebuah penelitian. Landasan teori yang digunakan diharapkan mampu menjadi dasar tumpuan seluruh pembahasan. Teori merupakan suatu prinsip dasar yang terwujud dalam bentuk dan berlaku secara umum yang akan mempermudah penulis dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi. 7.
(16) Teori digunakan untuk membimbing dan memberi arah sehingga dapat menjadi penuntun kerja bagi penulis. Ramlan (1983:16) mengemukakan bahwa morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Alwi (2003 : 87) menyatakan bahwa ciri-ciri kata kerja (verba) dapat diketahui dengan mengamati perilaku sintaksis, perilaku semantis dan bentuk morfologisnya. Secara sintaksis verba biasanya (malah selalu) menduduki fungsi predikat dalam sebuah klausa dan selalu dapat diikuti oleh frase dengan….contoh: a. Ibu menulis surat dengan pensil b. Ayah menolong orang asing dengan senang hati c. Marry menarik meja dengan sangat kuat Menurut Chaer (2008:77) secara semantik kata-kata yang termasuk kelas verba dapat dibedakan atas (1) verba tindakan, (2) verba kejadian, (3) verba keadaan. (1). Verba Tindakan Disebut verba tindakan karena di dalamnya terkandung perbuatan yang. dilakukan oleh subjek di mana verba itu menduduki fungsi predikat di dalam sebuah klausa. Verba tindakan ini ada dua macam. Pertama verba tindakan yang memiliki komponen makna [+ sasaran], sehingga di dalam klausa verba tersebut diikuti oleh sebuah(atau dua buah) objek. Misalnya: 8.
(17) 1. Makan (nasi) 2. Baca (koran) 3. Tulis (surat) 4. Minum (bir) 5. Nonton (televisi) Kedua, verba tindakan yang berkomponen makna [-sasaran], sehingga di dalam klausa verba tersebut tidak diikuti oleh objek. Misalnya: 1. Pergi (-) 2. Lompat (-) 3. Terbang (-) 4. Mundur (-) 5. Jalan (-) (2). Verba Kejadian Disebut verba kejadian karena verba itu mengandung pengertian adanya. peristiwa yang menimpa subjek di mana verba tersebut menjadi predikat dalam sebuah klausa. Misalnya: 1. Gunung merapi meletus 2. Bukit itu longsor 3. Daun-daun mulai rontok 4. Ban mobil itu pecah 9.
(18) (3). Verba Keadaan Disebut verba keadaan karena verba itu mengandung pengertian sebagai. keadaan yang dirasakan oleh subjek di mana verba tersebut menjadi predikat di dalam sebuah klausa. Misalnya: a. Kami khawatir atas keselamatannya b. Mereka takut kepada pejabat pemerintah itu c. Saya bingung atas situasi seperti ini Menurut Alwi (2003) ada dua macam dasar yang dipakai dalam pembentukan verba: 1. Dasar yang tanpa afiks apa pun telah memiliki kategori sintaksis dan mempunyai makna yang mandiri. 2. Dasar yang kategori sintaksis ataupun maknanya baru dapat ditentukan setelah diberi afiks. Dasar dari kelompok pertama itu dinamakan dasar bebas, sedangkan yang dari kelompok kedua dinamakan dasar terikat. Basaria (2002:22) menyatakan bahwa proses morfologi mencakup : 1.. Afiksasi Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada kata dasar. Afiks tersebut. adalah prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran) dan konfiks (gabungan awalan dan akhiran yang sekaligus melekat pada kata dasar). 10.
(19) 2.. Reduplikasi Reduplikasi adalah proses pengulangan kata dasar untuk membentuk kata. yang baru. Dalam hal ini hasil pengulangan kata tersebut merupakan bentuk verba ulang 3.. Kompositum. Kompositum adalah proses penggabungan dua buah kata untuk membentuk. kata yang baru. Dalam hal ini, kata baru tersebut merupakan bentuk verba. Soedjito (2014:30) menyatakan bahwa proses morfologi dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu pengimbuhan, pengulangan dan pemajemukan. 1.. Pengimbuhan Pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan menambahkan. imbuhan pada bentuk dasar. Imbuhan adalah bentuk terikat yang ditambahkan pada bentuk dasar untuk membentuk kata jadian. Bentuk dasar adalah bentuk bahasa yang dipakai menjadi dasar dalam proses pembentukan kata jadian. 2.. Pengulangan Pengulangan adalah proses pembentukan kata dengan mengulang bentuk. dasar, baik secara (1) utuh maupun (2) sebagian. Hasil pengulangan disebut kata ulang. Untuk membentuk kata ulang dari bentuk dasar dipakai morfem ulang yang terdiri atas (1) morfem ulang utuh, (2) morfem ulang sebagian, (3) morfem ulang salin suara, dan (4) morfem ulang yang disertai imbuhan. Keempat morfem ulang itu masing-masing memiliki daya ulang, yakni kemampuan untuk mengulang bentuk dasar menjadi kata ulang. 11.
(20) 3.. Pemajemukan Pemajemukan adalah proses pembentukan kata dengan menggabungkan dua. bentuk dasar atau lebih menjadi satu kata baru. Alwi (2003 : 98) menyebutkan bahwa ada dua macam bentuk verba, yaitu: (1) Verba asal, yaitu verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis. (2) Verba turunan, yaitu verba yang harus atau dapat memakai afiks. Alwi (2003: 91) menyatakan bahwa verba transitif dapat digolongkan menjadi tiga yaitu: a.. Verba ekatransitif, yaitu verba transitif yang diikuti oleh satu objek. Contoh: Saya sedang mencari pekerjaan. Ibu akan membeli baju baru.. b.. Verba dwitransitif, yaitu verba yang dalam kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina, satu sebagai objek dan satunya lagi sebagai pelengkap.. Contoh: Ibu akan membelikan kakak baju baru. c.. Verba semitransitif, yaitu verba yang objeknya boleh ada dan boleh juga tidak.. Contoh: Ayah sedang membaca koran. Ayah sedang membaca. Klausa dengan predikat verba transitif adalah klausa yang memerlukan dua argumen, yaitu argumen berupa subjek dan argumen berupa objek. Alwi (2003 : 327) menyatakan bahwa subjek merupakan fungsi sintaksis terpenting kedua setelah 12.
(21) predikat. Pada umumnya subjek berupa frasa verbal, nomina, frasa nominal, atau klausa. Seperti tampak pada contoh berikut: a. Harimau binatang liar. b. Anak itu belum makan. c. Yang tidak ikut upacara akan ditindak. d. Membangun gedung bertingkat mahal sekali. Kata-kata yang dicetak miring pada kalimat a-d adalah S. Contoh S yang diisi oleh nomina terdapat pada kalimat (a); contoh S yang diisi oleh frasa nomina terdapat pada kalimat (b); contoh S yang diisi oleh klausa terdapat pada kalimat (c); dan contoh S yang diisi oleh frasa verbal terdapat pada kalimat (d). Adapun predikat merupakan konstituen pokok yang disertai konstituen pendamping kiri dengan/atau pendamping kanan. Pendamping kiri adalah subjek kalimat, sedangkan pendamping kanan kalau ada adalah objek, pelengkap, dan/atau keterangan wajib. Predikat kalimat biasanya berupa frasa verbal atau frasa adjektiva. Pada kalimat pola SP, predikat dapat pula berupa frasa nominal, frasa numeral, frasa preposisional di samping frasa verbal dan frasa adjektiva. Misalnya: 1. Ayahnya guru bahasa Inggris (P=FN) 2. Adiknya dua (P=FNUM) 3. Ibu sedang ke pasar (P=FPrep) 4. Dia sedang makan(P=FV) 5. Gadis itu cantik sekali (P=FAdj) 13.
(22) Objek merupakan konstituen kalimat yang kehadirannya dituntut oleh predikat yang berupa verba transitif pada kalimat aktif. Letaknya selalu setelah predikat. Dengan demikian, objek dapat dikenali melalui (1) jenis predikat yang dilengkapinya dan (2) ciri khas objek itu sendiri. Objek pada kalimat aktif transitif akan menjadi subjek jika kalimat itu dipasifkan dan objek biasanya berupa nomina atau frasa nomina. Finoza (2007) menyebutkan bahwa objek adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat. Objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak O selalu di belakang predikat yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O seperti yang tampak pada contoh di bawah ini. a. Nurul menimbang….. b. Arsitek merancang….. c. Juru masak menggoreng….. Verba transitif menimbang, merancang, menggoreng pada contoh tersebut adalah P yang menuntut untuk dilengkapi. Unsur yang akan melengkapi P bagi ketiga kalimat itulah yang dinamakan objek. Jika P diisi oleh verba intransitif, O tidak diperlukan. Itulah sebabnya sifat O dalam kalimat dikatakan tidak wajib hadir. Objek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan. Misalnya: (1) a. Orang itu menipu adik saya[O]. b. Adik saya [S] ditipu oleh orang itu. (2). a. Tuti mencubit lengan Sandra[O]. b. Lengan Sandra [S] dicubit oleh Tuti. 14.
(23) (3) a. John Smith membeli barang antik [O]. b. Barang antik [S] dibeli oleh John Smith. Dengan acuan teori tersebut, telah dapat dianalisis verba transitif bahasa Pakpak Dairi. 2.3 Tinjauan Pustaka Berkaitan dengan pokok masalah penelitian ini, pada bagian ini dikemukakan beberapa kajian terdahulu yang masih berhubungan dengan penelitian ini karena mempunyai pola, arah dan tujuan yang sesuai. Basaria (2002) dalam tesisnya yang berjudul Analisis Morfologi Verba Bahasa Pakpak Dairi mengemukakan bahwa verba dalam bahasa Pakpak Dairi dapat diamati ciri-cirinya melalui Perilaku Semantis, Perilaku Sintaksis,. Perilaku. Morfologi. Proses morfologi verba yang terdapat dalam bahasa Pakpak Dairi mencakup afiksasi, reduplikasi dan kompositum. Afiksasi yang diperoleh dari proses morfologi yaitu adanya prefiks (/mer-/, /me-/, /pe-/,/i-/, /ter-/,/ki-/), infiks (/-um-/), sufiks (/-ken/, /-i/) dan konfiks (/ke-en/, /mersi-en/, /mer-en/). Reduplikasi yang diperoleh dalam penelitian tersebut yaitu reduplikasi dengan prefiks, reduplikasi dengan afiks gabung, reduplikasi dengan infiks, reduplikasi dengan sufiks dan reduplikasi dengan konfiks. Proses pemajemukan (kompositum) dapat dibagi menjadi dua yaitu. proses pemajemukan dengan penambahan prefiks pada salah satu. komponennya dan proses pemajemukan dengan infiks pada salah satu komponennya. Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah metode deskriptif. Untuk menjaring data dibuat daftar tanyaan sebagai panduan wawancara. Temuan ini 15.
(24) menjadi masukan yang berharga karena masih mempunyai relevansi dengan penelitian ini, terutama dalam penelusuran ciri-ciri verba transitif, dan proses morfologi dalam bahasa Pakpak Dairi. Rabita (2002) dalam tesisnya yang berjudul Morfosintaksis dalam bahasa Indonesia. Hasil yang diperoleh di antaranya adalah dalam tataran frasa, reduplikasi yang berkategori nomina, adjektiva, adverbia dan verba dapat berkedudukan sebagai induk dan dapat pula sebagai pewatas. Di dalam tataran klausa, kata reduplikasi yang berkategori verba pada umumnya berfungsi sebagai predikat dan subjek. Reduplikasi yang berkategori adverbia berfungsi sebagai atribut dan keterangan. Reduplikasi yang berkategori nomina dapat berfungsi sebagai subjek, predikat, objek atau pelengkap. Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah metode deskriptif kepustakaan, yaitu metode melalui penelitian kepustakaan dengan mengandalkan data bahasa seperti apa adanya. Kajian ini menjadi masukan yang berarti bagi penelusuran ketransitifan bahasa Pakpak Dairi. Husna (2003) dalam tesisnya yang berjudul Sistem Morfologi Verba Bahasa Gayo Dialek Gayo Lut menyatakan bahwa ciri verba bahasa Nias dapat diamati dari perilaku semantis, morfologi dan sintaksis. Proses morfologi verba Bahasa Gayo mencakup afiksasi, reduplikasi dan komposisi. Afiksasi dilihat pada prefiks (/mu-/, /bə-/, /i-/, /tə-/, /ku-/), sufiks (/-ən/, /-i/, /-mi/), infiks (/-əm-/) dan konfiks (/i-ən/. /i-i/, /ipə-ən/, /ipət-ən/, /ipəti-ən/, /bərsi-ən/, /ke-en/). Reduplikasi dilihat berdasarkan reduplikasi berafiks, dan reduplikasi tanpa afiks, dan reduplikasi parsial. Komposisi dilihat berdasarkan verba berunsur V-V, N-Adj dan N-N. Klasifikasi bentuk verba 16.
(25) dilihat berdasarkan intransitif dan transitif. Berdasarkan intransitif dikelompokkan ke dalam intransitif berafiks, intransitif tanpa afiks, dan intransitif bereduplikasi. Berdasarkan transitifnya dikelompokkan ke dalam transitif berafiks, transitif tanpa afiks, dan transitif bereduplikasi. Kajian ini menjadi masukan yang berarti bagi penelusuran ketransitifan bahasa Pakpak Dairi. Marulafau (2004) dalam tesisnya yang berjudul Morfologi Verba Bahasa Nias Dialek Gunung Sitoli menyatakan bahwa ciri verba bahasa Nias dapat diamati dari perilaku semantis, morfologi dan sintaksis. Proses morfologi verba yang terdapat dalam Bahasa Nias terdiri dari proses afiksasi, reduplikasi dan komposisi. Proses afiksasi dalam Bahasa Nias dapat dibedakan atas prefiks (/ma-/, /mə-/, /mo-/, /mu-/, /la-/, /i-/, /te-/, /fa-/, /a-/), sufiks (/-ö/, /-gö/, /-ni/, /-si/, /-i/) infiks (/-ga-/) dan simulfiks (/a-ö/, /la-ö/, /la-si/, /la-go/, /la-ni/, /la-i/, /fa-ö/, /fa-gö/, /mu-si/, /mu-i/ dan /mu-ö/). Reduplikasi yang diperoleh dalam penelitian tersebut yaitu reduplikasi tanpa afiks, reduplikasi berafiks dan reduplikasi parsial. Komposisi yang berkategori verba BN dibentuk dengan cara menggabungkan verba-verba, verba-benda, verba-adjektiva dan adjektiva-nomina. Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah metode deskriptif kualitatif. Temuan ini menjadi masukan yang berharga karena masih mempunyai relevansi dengan penelitian bahasa Pakpak Dairi ini, terutama dalam penelusuran ciri-ciri verba transitif dalam bahasa Pakpak Dairi. Padang (2015) dalam skripsinya yang bejudul Morfologi Bahasa Pakpak Dairi Dialek Simsim. Hasil analisis yang diperoleh dalam penelitian itu adalah : (1) afiksasi yang mencakup prefiks (me-, mer-, per-, ter-, se-, i-, ki-,), infiks (-in-, -um-), 17.
(26) sufiks (-en, -i, -ken, -su), konfiks (mersi-en) dan simulfiks (men-ken, ke-en, si-na, dan pen-en), (2) reduplikasi yaitu perulangan seluruh, perulangan sebagian dan perulangan dengan pembubuhan afiks, (3) komposisi yang mencakup komposisi yang menampung. konsep-konsep. yang. digabungkan. sederajat,. komposisi. yang. menampung konsep-konsep yang digabungkan tidak sederajat, komposisi yang menghasilkan istilah, komposisi pembentuk idiom, dan komposisi yang menghasilkan nama. Kajian tentang Morfologi Bahasa Pakpak Dairi Dialek Simsim ini menjadi masukan yang penting dalam penelitian bahasa Pakpak Dairi ini.. 18.
(27) BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi Penelitian Masyarakat Pakpak adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di pulau. Sumatera. Bagi masyarakat Pakpak Dairi untuk menyebut wilayah Pakpak Dairi, biasanya dengan sebutan "Tanoh Pakpak". Orang Pakpak berbicara dalam bahasa sendiri yaitu bahasa Pakpak. Penelitian dilakukan di Desa Sihotang Hasugian Tonga, Kecamatan Parlilitan. Kecamatan Parlilitan terbagi atas 14 desa yaitu, Desa Sionom Hudon Timur II, Desa Sionom Hudon Timur, Desa Sionom Hudon Julu, Desa Sionom Hudon Selatan, Desa Baringin, Desa Pusuk I, Desa Pusuk II Simaninggir, Desa Sihassima, Desa Sihotang Hasugian Dolok II, Desa Sihotang Hasugian Tonga, Desa Sionom Hudon Tonga, Desa Sionom Hudon Toruan, Desa Sionom Hudon Selatan, Desa Sionom Hudon VII.. Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian (sumber https://www.google.co.id/search?q=PETA+PARLILITAN) 19.
(28) 3.2. Waktu Penelitian Peneliti melakukan penelitian objek selama dua minggu, mulai dari tanggal 22. Mei 2017 sampai tanggal 05 Juni 2017. 3.3. Metode dan Teknik Pengumpulan Data Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode simak dan. metode cakap (Sudaryanto, 1993:133-137). Kedua metode itu dapat dijabarkan ke dalam teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar yang digunakan dalam metode simak adalah teknik sadap, yaitu si peneliti untuk mendapatkan data pertama-tama dengan segenap kecerdikan dan kemauannya harus menyadap pembicaraan seseorang atau beberapa orang. Teknik lanjutan berupa teknik simak libat cakap dan teknik rekam, yaitu peneliti terlibat langsung dalam dialog dengan narasumber. Pada topik pembicaraan peneliti berusaha memunculkan calon data sambil merekam pembicaraan (Sudaryanto, 1993:133). Metode simak adalah metode yang dilaksanakan dengan menyimak bahasa yang disampaikan oleh penutur. Dalam metode ini, peneliti menyimak pemakaian verba transitif yang digunakan oleh penutur Bahasa Pakpak Dairi. Dalam hal ini, peneliti yang juga sebagai penutur Bahasa Pakpak Dairi sewaktu-waktu berperan sebagai sumber data. Metode cakap adalah metode penyediaan data dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan secara langsung. Metode cakap atau lebih sering disebut sebagai wawancara dengan teknik dasar berupa teknik pancing. Teknik lanjutan berupa teknik cakap semuka dan teknik rekam. Kegiatan stimulasi (pancingan) tersebut dilakukan dengan percakapan langsung dengan informan. Dalam hal ini, peneliti mengarahkan 20.
(29) topik pembicaraan sesuai dengan kepentingan untuk memperoleh data yang diharapkan oleh peneliti (Sudaryanto, 1993:137-138). Informan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Berjenis kelamin pria atau wanita. 2. Berstatus sosial menengah (tidak rendah atau tidak tinggi). 3. Pekerjaannya bertani atau buruh. 4. Memiliki kebanggaan terhadap isoleknya. 5. Dapat berbahasa Indonesia. 6. Sehat jasmani dan rohani (Mahsun, 2005:134-135). Selain bahasa lisan yang diperoleh melalui informasi, bahasa tulis yang diperoleh melalui sumber tertentu juga dijadikan bahan di dalam penelitian ini. Bahan berupa bahasa tulis ini bersumber pada buku atau laporan penelitian berobjekkan bahasa Pakpak Dairi. Di samping itu kajian ini juga didasarkan pada intuisi peneliti sebagai penutur bahasa Pakpak Dairi. 3.4. Metode dan Teknik Analisis Data Penganalisisan data dilakukan dengan metode agih, yang penentunya justru. bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri. Setelah data terkumpul maka dimulailah proses analisis data dengan menempuh tahapan sebagai berikut: 1.. Menyeleksi data. 2.. Menganalisis data-data transitif. Analisis data ini menggunakan teknik lesap dan teknik sisip. Adapun kegunaan teknik lesap ini adalah untuk mengetahui kadar keintian unsur yang dilesapkan (Sudaryanto 1993:42). Untuk melihat 21.
(30) ketransitifannya, akan dilihat perilaku argument setelah predikat. Apabila argument tersebut dilesapkan dan kalimat tersebut tetap berterima, maka verba itu adalah intransitif, sedangkan bila berubah menjadi tidak berterima, itu menunjukkan bahwa verba yang digunakan itu memang memerlukan argument sebagai bagian yang tak terpisahkan atau transitif. Adapun kegunaan teknik sisip ini adalah untuk mengetahui kadar kegramatikalan serta mengetahui kadar keeratan kedua unsur yang dipisahkan penyisip itu. 3.. Penyimpulan, sehinggga hasil analisis tersebut menghasilkan deskripsi tentang ciri-ciri dan proses morfologi transitif bahasa Pakpak Dairi.. Berikut contoh dalam penganalisisan data teknik lesap: 1.. Memateken menci bapa. V O S Glos cermat :. membunuh tikus ayah. Glos lancar : Ayah membunuh tikus. Jika objek dalam kalimat tersebut dilesapkan maka kalimat tersebut akan berubah menjadi : Memateken bapa. V S Glos cermat :. (membunuh ayah). Glos lancar : Ayah membunuh. 2.. Mengeket sebban umak. V O S Glos cermat :Mengikat kayu bakar ibu. Glos lancar : Ibu mengikat kayu bakar.. 22.
(31) Jika objek dilesapkan maka kalimat tersebut akan berubah menjadi: mengeket umak. V S Glos cermat : Mengikat ibu. Glos lancar : Ibu mengikat. Kalimat “Memateken menci bapa” dan kalimat “Mengeket sebban umak” merupakan kalimat yang berterima dalam bahasa Pakpak Dairi. Tetapi setelah terjadi pelesapan objek pada kedua kalimat tersebut maka dalam bahasa Pakpak Dairi kalimat tersebut tidak berterima lagi. Ini membuktikan bahwa verba memateken (membunuh) dan verba mengeket (mengikat) merupakan verba yang membutuhkan objek (transitif). Berikut contoh teknik sisip: 1. Menurat surat ia isen (dia menulis surat di sini) Untuk membuktikan apakah hubungan unsur-unsur tuturan (1) itu- yaitu ia (dia), menurat (menulis), surat (surat), dan isen (di sini) - erat satu sama lain, dapatlah hubungan itu diuji dengan menyisipkan unsur buari (kemarin) yang statusnya sebagai pembentuk tuturan sama dengan keempat unsur yang lain itu. Dengan demikian akan terdapat tuturan sebagai berikut: 1. Menurat surat buari ia isen. (dia kemarin menulis surat di sini) 2. *Menurat buari surat ia isen. (dia menulis kemarin surat di sini) 3. Menurat surat ia buari isen. (dia menulis surat kemarin di sini). 23.
(32) Dari hasil itu kelihatan bahwa hubungan antara menulis dengan surat, yaitu unsur P dan O, kadarnya cukup tinggi : antara keduanya tidak mungkin disisipi unsur kata buari (kemarin) (dan sejenisnya). 3.5. Metode dan Teknik Penyajian Data Sudaryanto (1992:145) menyebutkan bahwa metode penyajian data ada dua. macam yaitu metode informal dan formal. Metode penyajian data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode informal dan metode formal. Metode penyajian informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa walaupun dengan terminologi yang teknis sifatnya; sedangkan penyajian informal adalah perumusan dengan tanda dan lambang- lambang. Metode penyajian data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode formal. Tanda yang di maksud dalam penelitian ini di antaranya: tanda tambah (+), tanda panah (→), dan tanda kurung kurawal ({ }). Penggunaan kata-kata biasa serta penggunaan tanda dan lambang merupakan teknik hasil penjabaran metode penyajian itu. Penggunaan tanda dan lambang dalam metode penyajian yang formal itu disebut teknik dasar. Misalnya: 1. {meN-}. +. {cekep}. ‟pegang‟. → {mencekep} ‟memegang‟. 2. {meN-}. +. {jukjuk}. ‟jolok‟. →{menjukjuk} ‟menjolok‟. 3. {ki-}. +. {roroh}. ‟sayur‟. → {kiroroh}. ‟mencari sayur‟. 4. {ki-}. +. {tobis}. ‟rebung‟. → {kitobis}. ‟mencari rebung‟. 24.
(33) BAB 4 PEMBAHASAN. 4.1. Pembahasan. 4.1.1. Ciri-ciri Verba Transitif BPD Ciri-ciri. verba. transitif merupakan tanda-tanda. formal. yang dapat. mengidentifikasi verba transitif bahasa Pakpak Dairi. Verba transitif bahasa Pakpak Dairi dapat diketahui dengan mengamati perilaku semantis, perilaku sintaksis dan dari segi bentuknya. 4.1.1.1 Ciri Semantis Verba Transitif Bahasa Pakpak Dairi Ciri verba transitif BPD dapat dilihat dari perilaku semantisnya, yaitu dilihat berdasarkan makna yang dikandung verba tersebut. Makna yang terkandung dalam verba transitif BPD adalah makna yang menunjukkan perbuatan. Berikut contoh verba transitif yang mengandung makna inheren perbuatan dalam bahasa Pakpak Dairi: 1.. Membayu belagen inang AKTanyam O S „Ibu menganyam tikar‟. 2.. Mengembah gadong inang sian sabah AKTbawa O S Prep „Ibu membawa ubi dari sawah‟. 3.. Mengkanting page tonga sian dapur AKTangkat O S Prep. 25.
(34) „mengangkat padi bapa tengah dari dapur‟ 4.. Menutung gambas nantua AKTbakar O S „Mak tua membakar ikan asin‟. 5.. Memelias kue kami bari AKTbuat O S Adv „kami membuat kue semalam‟. 6.. Menaka kelapa umak AKTbelah O S „Ibu membelah kelapa‟. 7. Menjaka koran bapa AKTbaca O S „ayah membaca koran‟. 8.. Menokor roroh mpung sian onan AKTbeli O S Prep „nenek membeli sayur dari pasar‟. 9.. Menangko mangga kalaki AKTcuri O S „ mereka mencuri mangga‟. 10.. Mengonjor lemari kami ndai AKTdorong O S Adv „kami mendorong lemari tadi‟. 11.. Mendea manuk patua mi pasar AKTjual O S Prep „bapa tua menjual ayam ke pasar‟. 26.
(35) 12.. Mengerakut seban mpung AKTikat O S „nenek mengikat kayu bakar‟ Kalimat-kalimat di atas diisi dengan verba transitif membayu, mengembah,. mengkanting, menutung, memelias, menaka, menjaka, menokor, menangko, mengonjor, mendea, dan mengerakut. Semua verba transitif tersebut memiliki makna yang menyatakan suatu perbuatan. Verba tersebut dapat disebut sebagai verba perbuatan karena di dalamnya terkandung sebuah perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh subjek. Sebagai alat pengujiannya dapat diajukan pertanyaan “apa yang dilakukan oleh subjek?”. Misalnya, apa yang dilakukan oleh inang? Dapat dijawab dengan menggunakan verba tindakan membayu belagen (menganyam tikar). Berdasarkan hasil analisis data, ciri semantis verba transitif yang terdapat dalam BPD yaitu verba transitif tersebut mengandung makna inheren perbuatan. 4.1.1.2 Ciri Sintaksis Verba Transitif Bahasa Pakpak Dairi Verba transitif merupakan unsur yang sangat penting dalam kalimat karena berpengaruh besar terhadap kehadiran nomina dalam suatu kalimat. Ciri verba transitif BPD dapat juga dilihat dari perilaku sintaksis, yaitu dilihat berdasarkan fungsi dan posisinya. Secara terperinci ciri-ciri tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut: A.. Ciri Verba Transitif Berdasarkan Fungsinya Berdasarkan fungsinya, verba transitif BPD dapat berfungsi sebagai: 1. Verba transitif BPD dapat menduduki fungsi predikat.. 27.
(36) Predikat merupakan konstituen pokok yang disertai konstituen subjek di sebelah kiri dan, jika ada, konstituen objek, pelengkap, dan/atau keterangan wajib di sebelah kanan. Predikat pada verba transitif selalu membutuhkan kehadiran objek pada suatu kalimat. Contoh: 13.. Membayu belagen inang i sapo AKTanyam tikar ibu di rumah „ibu menganyam tikar di rumah‟. 14.. Menutung gambas inang i dapur AKTbakar ikan asin ibu Prep „ibu membakar ikan asin di dapur‟. 15.. Mengonjor lemari kami ndai AKTdorong lemari kami tadi „kami mendorong lemari tadi‟. 16.. Menjomur page mpung i sabah AKTjemur padi nenek disawah „nenek menjemur padi di sawah‟. 17.. Mendea manuk nantua mi onan AKTjual ayam mak tua ke pasar „mak tua menjual ayam ke pasar‟ Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa verba transitif (membayu, menutung,. mengonjor, menjomur, mendea) dalam BPD selalu menduduki fungsi predikat. Predikat tersebut selalu berada di awal kalimat dan selalu berada sebelum objek. Jika verba diletakkan setelah objek, maka kalimat tersebut tidak gramatikal lagi. Misalnya,. 28.
(37) belagen membayu inang i sapo merupakan kalimat yang tidak berterima dalam BPD. Oleh karena itu berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa verba transitif dalam BPD selalu berada sebelum objek. 2. Verba transitif BPD sebagai penanda imperatif. Kalimat imperatif adalah kalimat yang didalamnya mengandung sebuah perintah. Kalimat imperatif selalu diakhiri dengan tanda baca seru (!). Contoh: 18.. Balun belagen en ! V S “Gulung tikar ini!”. 19.. Lempit olis i ! V S “Lipat kain itu!”. 20.. Suan bunga i ! V S “Tanam bunga itu!”. 21.. Reme olis i ! V S “Rendam kain itu!”. 22.. Tangkup manuk i! V S “tangkap ayam itu!” Dilihat dari contoh kalimat di atas, bahwa semua verba transitif (balun,. lempit, suan , reme dan tangkup) yang mengandung makna perbuatan dapat dipakai dalam kalimat perintah. Kalimat perintah hanya terbentuk jika verba transitif itu. 29.
(38) berbentuk verba zero (verba yang tidak berafiks). Jika verba transitif tersebut telah dibubuhi afiks maka verba tersebut tidak gramatikal lagi jika digunakan dalam kalimat perintah. Misalnya, membalun belagen en! 3. Verba transitif BPD dapat menyatakan bentuk interogatif. Kalimat interogatif adalah kalimat yang berupa pertanyaan yang diajukan penutur kepada seseorang. Kalimat interogatif selalu diakhiri dengan sebuah tanda tanya (?) Contoh: 23.. Ise mengelempit olis en? S V O “Siapa melipat kain ini?”. 24.. Ise mengelambak gadong en? S V O “Siapa mengupas ubi ini?” Berdasarkan contoh di atas, dapat dilihat bahwa verba transitif dalam BPD. dapat digunakan untuk menghasilkan suatu kalimat tanya. Tanpa adanya verba transitif (mengelempit, mengelambak) maka kalimat di atas menjadi tidak berterima. Misalnya, Ise olis en? Merupakan kalimat yang tidak gramatikal dalam BPD. Dalam kalimat interogatif, verba transitif selalu berada setelah kata tanya. B.. Ciri Verba Transitif Berdasarkan Posisinya Berdasarkan posisinya, verba transitif BPD selalu mendahului objek,. didahului penunjuk aspek dan didahului kata negasi. 1.. Verba transitif BPD selalu mendahului objek 30.
(39) Contoh: 25.. Memateken ulok bapa AKTbunuh O S „Ayah membunuh ular‟. 26.. Mendea cina umak mi pasar AKTjual O S Pref „Ibu menjual cabe ke pasar‟. 27.. Menaku AKTtimba. lae Dedi O S. „Dedi menimba air‟ 28.. Menjomur page umak AKTjemur O S „ibu menjemur padi‟. 29.. Menuan bunga kalaki AKTtanam O S „mereka menanam bunga‟ Berdasarkan contoh-contoh di atas posisi verba transitif (memateken, mendea,. menaku, menjomur, menuan) dalam kalimat tersebut selalu mendahului objek. Verba transitif tersebut tidak dapat diubah posisinya. Bila verba diletakkan setelah objek maka kalimat tersebut tidak berterima lagi. Misalnya, ulok memateken bapa (ular membunuh ayah ). Oleh karena itu, verba transitif BPD selalu berada sebelum objek dan diikuti objek.. 31.
(40) 2.. Verba transitif BPD dapat didahului kata-kata penunjuk aspek Verba transitif BPD dapat didahului oleh kata-kata penunjuk aspek (kala). seperti naeng(akan), enggo(sudah) Contoh: 30.. Naeng menokor sira ia Asp AKTbeli O S „Dia akan membeli garam‟. 31.. Enggo menutung gambas umak i dapur Asp AKTbakar O S Prep „ibu sudah membakar ikan asin di dapur‟. 32.. Naeng menjomur page umak beremben Asp AKTjemur O S Adv „ibu akan menjemur padi besok‟ Dari contoh-contoh data di atas dapat dilihat bahwa keberadaan aspek selalu. sebelum verba transitif (menokor, menutung, menjomur) dan verba transitif selalu berada setelah aspek. Jika verba transitif diletakkan sebelum aspek maka kalimat tersebut tidak gramatikal lagi. Misalnya, menokor naeng sira ia. Kalimat tersebut tidak gramatikal lagi karena aspek telah didahului verba. 3.. Verba transitif BPD dapat didahului kata negasi. Contoh: 33.. Oda merdakan roroh ia Neg V O S „dia tidak memasak sayur‟. 34.. Oda memorih pinggan mpung. 32.
(41) Neg. V. O. S. „Nenek tidak mencuci piring‟ Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa verba transitif dapat didahului kata negasi. Jika negasi diletakkan setelah verba maka kalimat tersebut tidak gramatikal lagi. Misalnya, memorih oda pinggan mpung merupakan kalimat yang tidak gramatikal dalam BPD. 4.1.1.3.Ciri Verba Transitif BPD dari Segi Bentuknya Ciri verba transitif dalam BPD tidak hanya dapat dilihat dari segi sintaksis dan semantis tetapi dapat juga dilihat dari segi bentuknya, bentuk verba transitif dalam BPD ada dua macam yaitu verba asal dan verba turunan. Verba Asal Verba asal adalah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis. Contoh: {menum}. „minum‟. {mangan}. „makan‟. {taka}. „belah. {pekpek}. „pukul‟. {berre}. „beri‟. Verba Turunan Verba turunan adalah verba yang harus atau dapat memakai afiks. Contoh: 33.
(42) {Mengkanting}„mengangkat‟ {Membuat}. „mengambil‟. {Membayu}. „menganyam‟. {Mengembah} „membawa‟ {Menokor}. „membeli‟. {Memelias}. „membuat‟. {Menulus}. „mencari‟. {Menangko} „mencuri‟ {Membalun} „menggulung‟ {Menali}. „meminjam‟. {Kiterutung} mencari durian {Tumutung} „membakar‟ {Tumabah}. „memotong‟. {Menjakaken} „membaca‟ {Menuanken} „menanamkan‟ Dari contoh data di atas dapat dilihat bahwa bentuk verba transitif BPD ada dua macam yaitu verba asal dan verba turunan. 4.1.2. Proses Morfologi Verba Transitif Bahasa Pakpak Dairi Proses morfologis verba transitif BPD mencakup proses afiksasi dan. reduplikasi.. 34.
(43) 4.1.2.1 Afiksasi Afiksasi adalah salah satu proses dalam pembentukan kata turunan. Dalam proses afiksasi sebuah afiks diimbuhkan pada bentuk dasar sehingga hasilnya menjadi sebuah kata. Proses afiksasi dalam BPD dapat dibedakan menjadi tiga yaitu prefiks, infiks dan afiks gabung. A. Prefiks Prefiks adalah afiks yang ditempatkan di bagian muka suatu kata dasar. Prefiks verba transitif yang ditemukan dalam bahasa Pakpak Dairi ada 2 (dua) macam yaitu prefiks {meN-} dan {ki-}. Uraian kedua prefiks verba transitif itu tampak pada butir-butir berikut: 1. Prefiks {meN-} a. Bentuk Berdasarkan hasil analisis, bentuk prefiks {meN-} dalam BPD dapat berubah bentuk menjadi {mem-}, {men-}, {meng-}, dan {menge-}, sesuai dengan fonem awal kata dasar yang dapat dilekatinya. 1. Prefiks {meN-} mengalami perubahan bentuk menjadi {mem-} bila melekat pada kata dasar yang berfonem awal /b/ dan /p/, jika melekat pada kata dasar yang berawalan konsonan /p/, maka terjadi peluluhan tetapi jika melekat pada kata dasar yang berawalan konsonan /b/, maka kata dasar tersebut dapat luluh dan tidak luluh. Contoh:. 35.
(44) {meN-}. +. {buat}. „ambil‟. →. {memuat/membuat} „mengambil‟. {meN-}. +. {borih}. „cuci‟. →. {memorih/memborih} „mencuci‟. {meN-}. +. {balun}. „gulung‟. →. {membalun}„memaku. {meN-}. +. {bintir}. „lempar‟. →. {membintir}„melempar‟. {meN-}. +. {bayu}. „anyam‟. →. {membayu}„menganyam‟. {meN-}. +. {berre}. „beri‟. →. {meN-}. +. {pelias}. „buat‟. →. {memerre/memberre} „memberi‟ {memelias}„membuat‟. {meN-}. +. {pido}. „minta‟. →. {memido}„memaku‟. {meN-}. +. {pake}. „pakai‟. →. {memake}„memakai‟. {meN-}. +. {pema}. „tunggu‟. →. {memema}„menunggu‟. Berdasarkan contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {meN-} bila melekat pada kata dasar yang berfonem awal /b/ maka kata dasar tersebut dapat luluh dan tidak luluh dan jika prefiks {meN-} melekat pada kata dasar berfonem awal /p/, maka terjadi peluluhan pada kata dasar. Jika prefiks {meN-} yang melekat pada kata dasar yang berfonem awal /p / tidak diluluhkan maka kata tersebut tidak berterima dalam BPD. Misalnya, mempema tidak terdapat dalam BPD. 2. Prefiks {meN-} mengalami perubahan bentuk menjadi {men-} bila melekat pada kata dasar yang berfonem awal konsonan /c/, /d/, /j/, /s/, /t/. Jika {meN-} melekat pada kata dasar yang berfonem awal konsonan /s/ dan /t/ maka fonem awal tersebut luluh.. 36.
(45) Contoh: {meN-}. +. {cekep}. „pegang‟. →. {mencekep} „memegang‟. {meN-}. +. {dea}. „jual‟. →. {mendea} „menjual‟. {meN-}. +. {deger}. „goyang‟. →. {mendeger} „mendeger‟. {meN-}. +. {dahi}. „jenguk‟. →. {mendahi} „menjenguk‟. {meN-}. +. {dedah}. „jaga‟. →. {mendedah} „menjaga‟. {meN-}. +. {jujung}. „junjung‟. →. {menjujung} „menjunjung‟. {meN-}. +. {jarum}. „jahit‟. →. {menjarum} „menjahit‟. {meN-}. +. {jukjuk}. „jolok‟. →. {menjukjuk} „menjolok‟. {meN-}. +. {jaka}. „baca‟. →. {menjaka} „membaca‟. {meN-}. +. {jomur}. „jemur‟. →. {menjomur} „menjemur‟. {meN-}. +. {jalang}. „kejar‟. →. {menjalang} „mengejar‟. {meN-}. +. {seat}. „potong‟. →. {meneat} „memotong‟. {meN-}. +. {sali}. „pinjam‟. →. {menali} „meminjam‟. {meN-}. +. {suan}. „tanam‟. →. {menuan} „menanam‟. {meN-}. +. {tokor}. „beli‟. →. {menokor} „membeli‟. {meN-}. +. {taka}. „belah‟. →. {menaka} „membelah‟. {meN-}. +. {tutung}. „bakar‟. →. {menutung} „membakar‟. {meN-}. +. {tulus}. „cari‟. →. {menulus} „mencari‟. {meN-}. +. {tangko}. „curi‟. →. {menangko} „mencuri‟. {meN-}. +. {tempi}. „gendong‟. →. {menempi} „menggendong‟ 37.
(46) {meN-}. +. {tengngen}. „lihat‟. →. {menengngen} „melihat‟. {meN-}. +. {tengnges}. „kirim‟. →. {menengnges} „mengirim‟. {meN-}. +. {tutu}. „tumbuk‟. →. {menutu} „menumbuk‟. {meN-}. +. {tangkup}. „tangkap‟. →. {menangkup} „menangkap‟. {meN-}. +. {taku}. „timba‟. →. {menaku} „menimba‟. Berdasarkan contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {meN-} yang melekat pada kata dasar yang berfonem awal /c/, /d/, /j/, /s/, /t/ dapat berubah bentuk menjadi {men-}. Jika prefiks {meN-} melekat pada kata dasar berfonem awal /c/, /d/, /j/ maka fonem awal tersebut tidak luluh misalnya, mencekep, mendea, menjukjuk. Jika fonem awal tersebut diluluhkan maka kata tersebut tidak berterima lagi, misalnya *menekep, *menea, *menjukjuk. Jika prefiks {meN-} melekat pada kata dasar yang berfonem awal /s/, /t/ maka fonem awal kata dasar tersebut harus luluh. Jika fonem awal /s/, /t/ tidak diluluhkan maka kata tersebut tidak berterima dalam BPD. Misalnya, *mensuan, *mentengnges. Jadi fonem awal kata dasar tersebut harus diluluhkan supaya berterima, misalnya menuan dan menengnges. 3. Prefiks {meN-} mengalami perubahan bentuk menjadi {meng-} bila melekat pada kata dasar yang berfonem awal vokal dan berfonem awal konsonan /g/ dan /k/. Contoh: {meN-}. +. {aleng}. „jemput‟. →. {mengaleng} „menjemput‟ 38.
(47) {meN-}. +. {ambongken} „buang‟. →. {mengambongken} „membuang‟. {meN-}. +. {eket}. „ikat‟. →. {mengeket}‟mengikat‟. {meN-}. +. {onjor}. „dorong‟. →. {mengonjor} „mendorong‟. {meN-}. +. {gusgus}. „gosok‟. →. {menggusgus} „menggosok‟. {meN-}. +. {gusting}. „pangkas‟. →. {menggusting} „memangkas‟. {meN-}. +. {gancih}. „tukar‟. →. {menggancih}‟menukar‟. {meN-}. +. {kalang}. „ganjal‟. →. {mengkalang}' „mengganjal‟. {meN-}. +. {kail}. „pancing‟. →. {mengkail}‟memancing‟. {meN-}. +. {kanting}. „angkat‟. →. {mengkanting} „mengangkat‟. {meN-}. +. {kurak}. „gali‟. →. {mengkurak} „menggali‟. Berdasarkan contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {meN-} yang melekat pada kata dasar yang berfonem awal vokal dan kata dasar yang berfonem awal /g/ dan /k/ dapat berubah bentuk menjadi {meng}. Kata dasar yang berfonem awal vokal dan kata dasar yang berfonem awal /g/ dan /k/ tersebut juga tidak luluh. Jika fonem awal kata dasar tersebut diluluhkan maka kata tersebut menjadi tidak berterima. Misalnya, *mengleng, *mengket, *menganting. Oleh karena itu prefiks {meN-} yang melekat pada vokal dan fonem /g/, /k/ tidak terjadi peluluhan.. 39.
(48) 4. Prefiks {meN-} mengalami perubahan bentuk menjadi {menge-} bila melekat pada kata dasar yang berfonem awal /l/ dan /r/. Contoh: {meN-}. +. {lotok}„bajak‟. →. {mengelotok}„membajak‟. {meN-}. +. {lempit}„lipat‟. →. {mengelempit}„melipat‟. {meN-}. +. {lambak}„kupas‟. →. {mengelambak}„mengupas‟. {meN-}. +. {rakut}„ikat‟. →. {mengerakut}„mengikat‟. {meN-}. +. {rengkat}„cabut‟. →. {mengerengkat}„mencabut‟. {meN-}. +. {rabi} „babat‟. →. {mengerabi}„membabat‟. {meN-}. +. {ruah} „tarik‟. →. {mengeruah}„menarik‟. Berdasarkan contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {meN-} yang melekat pada kata dasar yang berfonem awal /l/ dan /r/ dapat berubah bentuk menjadi {menge-}. Prefiks {meN-} yang melekat pada kata dasar yang berfonem awal /l/ dan /r/ tersebut tidak terjadi peluluhan. Jika fonem awal kata dasar tersebut diluluhkan maka kata tersebut tidak berterima dalam BPD. Misalnya, *mengeotok, *mengeakut. Oleh karena itu, prefiks {meN-} yang melekat pada kata dasar yang berfonem awal /l/ dan /r/ tersebut tidak terjadi peluluhan. Sehingga kata tersebut berterima dalam BPD. b. Distribusi Yang dimaksud dengan distribusi dalam afiksasi adalah kemampuan afiks untuk melekat pada kelas kata. Untuk membentuk verba transitif prefiks {meN-} dapat melekat pada kelas kata nomina, verba dan keadaan. 1. Nomina. 40.
(49) Contoh: {meN-}. + {labang}. „paku‟. →. {mengelabang} „memaku‟. {meN-}. + {roroh}. „sayur‟. →. {mengeroroh} „menyayur‟. {meN-}. + {gusting}. „gunting‟. →. {menggusting} „menggunting‟. {meN-}. + {sori}. „sisir‟. →. {menori}. {meN-}. + {pangkur}. „cangkul‟. →. {memangkur} „mencangkul‟. „menyisir‟. 2. Verba Contoh: {meN-}. + {bayu}. „anyam‟. →. {membayu}. „menganyam‟. {meN-}. + {jaka}. „baca‟. →. {menjaka}. „membaca‟. {meN-}. + {tokor}. „beli‟. →. {menokor}. „membeli‟. {meN-}. + {taka}. „belah‟. →. {menaka}. „membelah‟. {meN-}. + {tempi }. „gendong‟. →. {menempi} „menggendong‟. {meN-}. + {lempit}. „lipat. →. {mengelempit}„melipat‟. 3. keadaan {meN-}. + {pustak}. „pecah‟. →. {memustak} „memecah‟. {meN-}. + {bettoh}. „tahu‟. →. {membettoh} „mengetahui‟. Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {meN-} dapat melekat pada kelas kata nomina, verba dan keadaan. c. Fungsi. 41.
(50) Yang dimaksud dengan fungsi dalam afiksasi adalah kemampuan afiks dalam mengubah kelas kata. Fungsi prefiks {meN-} dalam BPD adalah untuk membentuk verba aktif. Contoh: {meN-}. + {pangkur}. „cangkul‟. →. {memangkur} „mencangkul‟. {meN-}. + {cet}. „cat‟. →. {mencet}. „mengecat‟. {meN-}. + {taka}. „belah‟. →. {menaka}. „membelah‟. {meN-}. + {rintak}. „tarik‟. →. {mengerintak }„menarik‟. {meN-}. + {bayu}. „anyam‟. →. {membayu}„menganyam‟. {meN-}. + {sali}. „pinjam‟. →. {menali}. {meN-}. + {pustak }. „pecah‟. →. {memustak}„memecah‟. {meN-}. + {deger}. „goyang‟. →. {mendeger} „menggoyang‟. „meminjam‟. Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {meN-} yang melekat pada verba, nomina dan adjektiva berfungsi untuk membentuk verba transitif yang aktif. d. Nosi Yang dimaksud dengan nosi dalam afiksasi adalah arti yang timbul setelah terjadi pengimbuhan. Nosi yang ditimbulkan prefiks {meN-} dalam BPD adalah: 1. Bila prefiks {meN-} melekat pada nomina, maka prefiks itu mempunyai nosi bekerja dan mempergunakan dengan apa yang tersebut pada bentuk dasar. Contoh: {meN-}. + {pangkur}. „cangkul‟. → {memangkur}. „bekerja dengan 42.
(51) cangkul‟ {meN-}. + {sori}. „sisir‟. → {menori}. „bekerja dengan sisir‟. {meN-}. + {rambas}. „babat‟. → {merambas}. „bekerja dengan babat‟. 2. Bila prefiks {meN-} melekat pada verba, maka prefiks {meN-} mempunyai nosi melakukan suatu perbuatan. Contoh: {meN-}. + {lempit}. „lipat‟. → {mengelempit}. „melipat‟. {meN-}. + {borih}. „cuci‟. → {memborih}. „mencuci‟. {meN-}. + {eket}. „ikat‟. → {mengeket}. „mengikat‟. {meN-}. + {suan}. „tanam‟. → {menuan}. „menanam‟. {meN-}. + {tengnges}. „kirim‟. → {menengnges}. „mengirim‟. 3. Bila prefiks {meN-} melekat pada keadaan, maka prefiks {meN-} akan mempunyai nosi membuat jadi seperti keadaan yang tersebut pada bentuk dasar. Contoh: {meN-}. + {sengget}. {meN-} + {pustak}. {meN-}. + {deger}. „terkejut‟. →. {menengget} „membuat terkejut‟. „pecah‟. →. {memustak} „membuat jadi pecah‟. „goyang‟. →. {mendeger}. „membuat jadi goyang‟. 2. Prefiks {ki-} a. Bentuk. 43.
(52) Prefiks {ki-} dalam BPD tidak mengalami perubahan bentuk, baik melekat pada kata dasar yang berfonem awal vokal maupun konsonan. Contoh: {ki-}. + {aleng}. „jemput‟. →. {kialeng}. „menjemput‟. {ki-}. + {balang}. „belalang‟. →. {kibalang}. „mencari belalang‟. {ki-}. + {jalang}. „kejar‟. →. {kijalang}. „mengejar‟. {ki-}. + {jebang}. „jengkol‟. →. {kijebang}. „mencari jengkol‟. {ki-}. + {seban}. „kayu bakar‟ →. {kiseban}. „mencari kayu bakar. {ki-}. + {suan}. „tanam‟. →. {kisuan}. „menanam‟. {ki-}. + {terutung}. „durian‟. →. {kiterutung} „mencari durian‟. Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {ki-} yang melekat pada kata dasar yang berfonem awal. vokal dan konsonan. tidak mengalami. perubahan bentuk. Meskipun prefiks {ki-} telah melekat pada kata dasar, fonem awal kata dasar tersebut juga tidak luluh. b. Distribusi Prefiks {ki-} dapat melekat pada kelas kata: 1. Nomina {ki-}. +. {terutung}. „durian‟. →. {ki-}. +. {seban}. „kayu bakar‟ →. {kiseban}. „mencari kayu bakar‟. {ki-}. +. {pote}. „petai‟. {kipote}. „mencari petai‟. →. {kiterutung} „mencari durian‟. 44.
(53) {ki-}. +. {ketang}. „rotan‟. →. {kiketang}. „mencari rotan‟. {ki-}. +. {roroh}. „sayur‟. →. {kiroroh}. „mencari sayur‟. {ki-}. +. {salak}. „salak‟. →. {kisalak}. „mencari salak‟. 2. Verba {ki-}. +. {suan}. „tanam‟. →. {kisuan}. „menanam‟. {ki-}. +. {jalang}. „kejar‟. →. {kijalang}. „mengejar‟. {ki-}. +. {lean}. „beri‟. →. {kilean}. „memberi‟. {ki-}. +. {dea}. „jual‟. →. {kidea}. „menjual‟. {ki-}. +. {tutung}. „bakar‟. →. {kitutung}. „membakar‟. {ki-}. +. {pido}. „minta‟. →. {kipido}. „meminta‟. Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {ki-} mampu melekat pada kelas kata nomina dan verba. Prefiks {ki-} yang melekat pada nomina berubah kelas kata menjadi verba yang transitif tetapi jika melekat pada verba, kelas kata tidak berubah. c. Fungsi Prefiks {ki-} berfungsi membentuk verba aktif. Contoh: {ki-}. +. {daban}. „cendawan‟. →. {kidaban}. „mencari cendawan. {ki-}. +. {roroh}. „sayur‟. →. {kiroroh}. „mencari sayur. {ki-}. +. {congkil}. „korek‟. →. {kicongkil}. „mengorek‟. {ki-}. +. {enum}. „minum‟. →. {kienum}. „meminum‟. 45.
(54) {ki-}. +. {pangan}. „makan‟. →. {kipangan}. „memakan‟. Berdasarkan contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {ki-} yang melekat pada nomina dan verba berfungsi untuk membentuk verba transitif yang aktif. d. Nosi Nosi yang ditimbulkan prefiks {ki-} adalah: 1. Mencari apa yang tertulis pada bentuk dasar. Contoh: {ki-}. + {kopi}. „kopi‟. →. {kikopi}. „mencari kopi‟. {ki-}. + {balang}. „belalang‟. →. {kibalang}. „mencari belalang‟. {ki-}. + {tobis}. „rebus‟. →. {kitobis}. „mencari rebung. {ki-}. + {jebang}. „jengkol‟. →. {kijebang}. „mencari jengkol‟. Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {ki-} dapat melekat pada nomina. Prefiks {ki-} yang melekat pada nomina memiliki arti „mencari‟. 2.. Melakukan apa yang tersebut pada bentuk dasar.. {ki-}. + {jalang}. „kejar‟. →. {kijalang}. { ki-}. +. {congkil}. „congkel‟. →. {kicongkil} „melakukan pekerjaan mencongkel. {kurung}. „kurung‟. →. {kikurung} „melakukan pekerjaan mengurung‟. {dea}. „jual‟. →. {kidea}. {ki-}. {ki-}. +. +. „melakukan pekerjaan mengejar‟. „melakukan pekerjaan menjual‟. 46.
(55) {ki-}. +. {taku}. „timba‟. →. {kitaku}. „melakukan pekerjaan menimba‟. Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa prefiks {ki-} dapat melekat pada kelas kata verba. Prefiks {ki-} yang melekat pada verba memiliki arti „melakukan‟. B. Infiks Infiks adalah afiks yang diselipkan di tengah kata dasar. Dalam BPD, terdapat satu infiks yang membentuk verba transitif yaitu infiks {-um-}. a. Bentuk Infiks {-um-} dalam BPD tidak mengalami perubahan bentuk dan dapat melekat pada kata dasar berfonem awal konsonan. Contoh: {-um-} +. {tabah}. „potong‟. →. {tumabah}. „memotong‟. {-um-} +. {tokor}. „beli‟. →. {tumokor}. „membeli‟. {-um-} +. {tutung}. „bakar‟. →. {tumutung}. „membakar‟. Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa Infiks {-um-} dapat membentuk verba transitif. Infiks {-um-} melekat pada kata dasar yang berfonem awal konsonan /t/ dan infiks {-um-} juga berada setelah fonem /t/. b. Distribusi Infiks {-um-} dapat melekat pada kelas kata : 1.. Nomina. Contoh:. 47.
(56) {-um-} +. {kesah}. „napas‟. →. {kumesah}. {-um-} +. {sirpang}. „simpang‟. →. {sumirpang} „menyimpang‟. 2.. „bernapas/ menarik napas‟. verba. Contoh: {-um-}. +. {tabah}. „potong‟. →. {tumabah}. „memotong‟. {-um-}. +. {ruah}. „tarik‟. →. {rumuah}. „menarik‟. +. {gedang}. „panjang‟. →. {gumedang} „paling panjang‟. 3. Adjektiva Contoh: {-um-}. Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa infiks {-um-} mampu melekat pada kelas kata nomina, verba dan adjektiva.. c. Fungsi Infiks {-um-} berfungsi untuk membentuk verba, baik itu transitif maupun intransitif. Contoh: {-um-} +. {ruah}. „tarik‟. →. {rumuah}. „menarik‟. {-um-} +. {tabah}. „potong‟. →. {tumabah}. „memotong‟. {-um-} +. {kesah}. „napas‟. →. {kumesah}. „bernapas‟. Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa Infiks {-um-} dapat berfungsi membentuk verba transitif maupun intransitif. Infiks yang melekat pada verba. 48.
(57) membentuk verba transitif sedangkan infiks yang melekat pada nomina membentuk verba intransitif. d. Nosi Nosi yang ditimbulkan infiks {-um-} adalah: 1.. Menyatakan suatu perbuatan seperti yang tertulis pada bentuk dasar.. Contoh: {-um-} +. {tabah}. „potong‟. →. {tumabah}. „memotong‟. {-um-} +. {rimba}. „duyun‟. →. {rumimba}. „berduyun‘duyun‟. 2.. Menyatakan suatu keadaan sesuai dengan apa yang tertulis pada kata dasar.. Contoh: {-um-} +. {gedang}. „panjang‟. →. {gumedang} „paling panjang‟. C. Afiks gabung Afiks gabung adalah proses penggabungan afiks pada bentuk dasar yang telah dibubuhi oleh afiks. Dalam BPD terdapat sebuah afiks gabung yaitu {meN-ken}. a. Bentuk 1. Afiks {meN-ken} mengalami perubahan bentuk menjadi {mem-ken}, bila melekat pada kata dasar yang berfonem awal /b/ dan /p/. Jika {meN-ken} melekat pada kata dasar yang berfonem awal konsonan /b/, maka fonem awal kata dasar tersebut dapat luluh dan tidak luluh. Contoh: {meN-ken}. +. {pelias} „buat‟→ memelias →. {memeliasken} „membuatkan‟ 49.
(58) {meN-ken}. +. {berre} „beri‟ → memerre. →. {memerreken} „memberikan‟. {meN-ken}. +. {buat} „ambil‟→membuat. →. {membuatken} „mengambilkan‟. {meN-ken}. +. {balun}„gulung‟→membalun →. {membalunken} „menggulungkan‟ 2. Afiks {meN-ken} mengalami perubahan bentuk menjadi {men-ken}, bila. melekat pada kata dasar yang berfonem awal konsonan, /c/, /d/, /j/, /s/, /t/. Jika {meNken} melekat pada kata dasar yang berfonem awal konsonan /s/ dan /t/, maka fonem awal kata dasar tersebut akan luluh. Contoh: {meN-ken}. +. {cekep} „pegang‟→ mencekep. →. {mencekepken} „memegangkan‟. {meN-ken}. +. {jaka} „baca‟→. menjaka. →. {menjakaken} „membacakan‟. {meN-ken}. +. {suan} „tanam‟→. menuan. →. {menuanken} „menanamkan‟. {meN-ken}. +. {tokor} „beli‟ →. menokor. →. {menokorken} „membelikan‟. 3. Afiks {meN-ken} mengalami perubahan bentuk menjadi {meng-ken} bila melekat pada kata dasar yang berfonem awal vokal dan berfonem awal konsonan /g/ dan /k/. Contoh: {meN-ken}. +. {aleng} „jemput‟→mengaleng. →. {mengalengken} „menjemputkan‟. 50.
(59) {meN-ken}. +. {embah} „bawa‟→mengembah. →. {mengembahken} „membawakan‟. {meN-ken}. +. {okal} „korek‟→mengokal. →. {mengokalken} „mengorekkan‟. {meN-ken}. +. {galar} „bayar‟→menggalar. →. {menggalarken} „membayarkan‟. 4. Afiks {meN-ken} mengalami perubahan bentuk menjadi {menge-ken}, bila melekat pada kata dasar yang berfonem awal konsonan /l/ dan /r/. Contoh: {meN-ken}. +. {labang}„paku‟ →mengelabang. →{mengelabangken} „memakukan‟. {meN-ken}. +. {lanja} „bawa‟ →mengelanja. →. {mengelanjaken} „membawakan‟. {meN-ken}. +. {ruah} „tarik‟ →mengeruah. →. {mengeruahken} „menarikkan‟. {meN-ken}. +. {rakut}„ikat‟ →mengerakut. →. {mengerakutken} „mengikatkan‟. b. Distribusi Afiks gabung {meN-ken} dalam BPD dapat melekat pada kelas kata nomina, verba, adjektiva dan numeralia: 1. Nomina Contoh: {meN-ken}. +. {pakkur}. „cangkul‟. →. {memakkurken} „mencangkulkan‟. {meN-ken}. +. {gusting}. „gunting‟. →. {menggustingken} „mengguntingkan‟ 51.
(60) +. {cabing}. „selimut‟. →. {mencabingken} „menyelimutkan‟. {meN-ken}. +. {tenges}. „kirim‟. →. {menengngesken} „mengirimkan‟. {meN-ken}. +. {jomur}. „jemur‟. →. {menjomurken} „menjemurkan‟. {meN-ken}. +. {kanting}. „angkat‟. →. {mengkantingken} „mengangkatkan‟. {meN-ken}. +. {gancih}. „tukar‟. →. {menggancihken} „menukarkan‟. {meN-ken}. 2. Verba Contoh:. 3. Adjektiva Contoh: {meN-ken}. +. {ketek}. „kecil‟. →. {mengketekken} „mengecilkan‟. {meN-ken}. +. {cuak}. „patah‟. →. {mencuakken} „mematahkan‟. {meN-ken}. +. {jolmit}. „dekat‟. →. {menjolmitken} „mendekatkan‟. {dua}. „dua‟. →. {menduaken} „menduakan‟. 4. Numeralia Contoh: {meN-ken}. +. Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa afiks gabung {meN-ken} dalam BPD dapat melekat pada kelas kata nomina, verba, adjektiva dan numeralia. 52.
(61) c. Fungsi Afiks gabung {meN-ken} berfungsi untuk membentuk kelas kata verba transitif yang aktif, baik itu melekat pada kelas kata nomina, verba, adjektiva dan numeralia. Contoh: {meN-ken}. +. {suan}. „tanam‟. →. {menuanken} „menanamkan‟. {meN-ken}. +. {tasak}. „masak‟. →. {menasakken} „memasakkan‟. {meN-ken}. +. {dua}. „dua‟. →. {menduaken} „menduakan‟. {meN-ken}. +. {dea}. „jual‟. →. {mendeaken} „menjualkan‟. {meN-ken}. +. {belgah}. „besar‟. →. {membelgahken} „membesarkan‟. Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa kelas kata nomina, verba, adjektiva dan numeralia yang telah dibubuhi afiks gabung {meN-ken} akan menghasilkan verba transitif.. d. Nosi Nosi yang ditimbulkan afiks {meN-ken} dalam BPD adalah: 1. Membuat jadi, seperti apa yang tersebut pada kata dasar. Contoh: {meN-ken}. +. {dua}. „dua‟. →. {menduaken} „membuat jadi dua‟. 53.
(62) {meN-ken}. +. {ketek}. „kecil‟. →. {mengketekken} „membuat jadi kecil‟. {meN-ken}. +. {jolmit}. „dekat‟. →. {menjolmitken} „membuat jadi dekat‟. 2. Melakukan suatu perbuatan, seperti apa yang tersebut pada bentuk dasar. Contoh: {meN-ken}. +. {kanting}. „angkat‟ → {mengkantingken} „melakukan perbuatan mengangkat‟. {meN-ken}. +. {tenges}. „kirim‟. → {menengesken} „melakukan perbuatan mengirim‟. {meN-ken}. +. {ruah}. „tarik‟. → {mengeruahken} „melakukan perbuatan menarik‟. 4.1.2.2. Reduplikasi (pengulangan) Pengulangan adalah proses pembentukan kata dengan mengulang bentuk. dasar, baik secara utuh maupun sebagian. a. Bentuk Sesuai dengan hasil pengamatan di lapangan, verba transitif BPD dapat dibentuk melalui proses pengulangan yang disertai imbuhan. Pengulangan yang disertai imbuhan Pengulangan yang disertai imbuhan adalah pengulangan yang terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks. Proses pengulangan yang disertai imbuhan terdiri dari pengulangan dengan prefiks, infiks dan afiks gabung. a. Reduplikasi dengan Prefiks Reduplikasi ini mendapat prefiks pada kata dasarnya. 54.
(63) Contoh: {meN-}. +. bintir„lempar‟ →. {meN-}. +. pido. {meN-}. +. jukjuk „jolok‟ →. {meN-}. +. ruah. {ki-}. +. tempi „gendong‟→. kitempi-tempi „menggendong-gendong‟. {ki-}. +. jalang „kejar‟ →. kijalang-jalang „mengejar-ngejar‟. „minta‟ →. „tarik‟ →. membintir-bintir „melempar-lempar‟ memido-mido „meminta-minta‟ menjukjuk-jukjuk „menjolok-jolok‟ mengeruah-ruah „menarik-narik‟. Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa kata dasar terlebih dahulu dibubuhi afiks sebelum bentuk dasar tersebut diulang. b. Reduplikasi dengan Infiks Reduplikasi ini terjadi dengan mendapat infiks {-um-} pada kata yang pertama. Contoh: {-um-} +Tutung „bakar‟→tumutung →. tumutung-tutung „membakar-bakar‟. {-um-} +Tabah„tebang‟→ tumabah →. tumabah-tabah „menebang-nebang‟. Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa kata dasar terlebih dahulu dibubuhi infiks {-um-} sebelum kata dasar itu diulang. c.. Reduplikasi dengan Afiks Gabung Reduplikasi jenis ini adalah reduplikasi dengan membubuhkan afiks pada. bentuk dasar yang telah dibubuhi oleh afiks. Contoh:. 55.
(64) {meN + ruah}. + {-ken}„mengeruahken‟ → {mengeruah-ruahken}„menariknarikkan‟. {meN + suan} + {ken-} „menuanken‟ → {menuan-nuanken}„menanamnanamkan‟ {meN + onjor}+ {ken-} „mengonjorken‟→ {mengonjor-onjorken}„mendorongdorongkan‟ Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa kata dasar terlebih dahulu dibubuhi afiks sebelum kata dasar itu diulang. B. Distribusi Berdasarkan hasil analisis data, reduplikasi verba transitif dalam BPD dapat melekat pada kelas kata verba. Contoh: Menulus „mencari‟. →. menulus-nulus „mencari-cari‟. Tumabah „menebang‟. →. tumabah-tabah „menebang-nebang‟. Kitutung „membakar‟. →. kitutung-tutung „membakar-bakar‟. Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa reduplikasi dalam BPD dapat melekat pada verba. Kata dasar terlebih dahulu dibubuhi afiks sebelum kata dasar itu diulang. C. Fungsi Sesuai dengan hasil analisis, pengulangan pada verba yang disertai imbuhan dapat membentuk verba transitif. Contoh: Mengonjor „mendorong‟. →. mengonjor-onjor „mendorong-dorong‟(V). 56.
Gambar
Garis besar
Dokumen terkait
Persentil 95 digunakan dengan pertimbangan bagi operator yang mempunyai lebar bahu (lb) yang panjang, sandaran kursi dapat sesuai dan bagi operator yang lebar bahu (lb)
PENGARUH PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DILENGKAPI MEDIA BUKU SAKU DAN MIND MAP TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM KOLOID KELAS XI
Kecenderungan penderita asma bronkial mengalami GERD juga dinyatakan dalam penelitian yang dilakukan oleh Field (1999) bahwa persentase pasien asma yang mengalami
Atas kehendak-Nya penulis dapat meenyelesaikan skripsi dengan judul “ Perbedaan Pengaruh Latihan Interval Aerob dan Interval Anaerob Terhadap Peningkatan Kecepatan
1) Disiplin kerja berpengaruh signifikan kearah positif terhadap kepuasan kerja pada karyawan Indomobil Nissan-Datsun Solobaru. 2) Stres kerja berpengaruh signifikan kearah
Pada awal abad ke-4 bahasa yang digunakan pada batu bersurat kebanyakanna menggunakan bahasa Hindu dan Sanskrit seperti batu bersurat Dong Yen Chau, Kedukan Bukit
Retensi nitrogen dan laju sintesis protein (Ks) akibat perbaikan ransum (R3) secara statistik berbeda nyata (P<0,05) terhadap peubah yang sama pada ransum model peternak (R1),
Hal ini memaksa aparat penegak hukum untuk segera mengamankan Tempat Kejadian Perkara (TKP). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui penerapan pasal 227 huruf