BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda)
2.3.6 Premi Jamkesda
Premi adalah sejumlah uang yang harus dibayarkan secara berkala oleh seseorang setelah mendaftarkan diri/keluarganya sebagai peserta yang jumlah dan waktu pengumpulannya ditetapkan atas dasar kesepakatan antara peserta dan badan penyelenggara. Perhitungan premi dilakukan untuk menentukan biaya yang akan
dibebankan kepada masyarakat untuk melaksanakan program jaminan pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat yang bersangkutan (Hendrartini, 2009)
Penentuan premi yang harus dibayarkan masyarakat harus ditetapkan dengan pertimbangan (Hendrartini, 2009):
1. Asas kecukupan
Untuk menjaga posisi keuangan yang aman, badan penyelenggara harus menetapkan premi yang cukup untuk menutupi semua biaya penyelenggaraan program, termasuk biaya pemeliharaan kesehatan dan biaya penyelenggaraan. Disamping itu, premi pun harus dapat memenuhi tujuan badan penyelenggara yaitu surplus yang nantinya dikembalikan untuk peningkatan pelayanan kesehatan.
2. Asas kewajaran
Keseimbangan antara kualitas tingkat pelayanan dan kewajaran tingkat premi merupakan hal yang harus senantiasa dijaga. Premi yang terlalu tinggi akan mendorong penolakan masyarakat atas program jaminan kesehatan. Tingkat pelayanan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: fleksibilitas pelayanan kesehatan dan administrasi, efektifitas dan efisiensi penanganan pelayanan kesehatan, pengelolaan dan kendali biaya dan komunikasi dengan peserta dalam rangka penerapan prinsip-prinsip jaminan kesehatan.
3. Asas keadilan.
Badan penyelenggara program jaminan kesehatan harus membebankan premi kepada peserta sesuai dengan perkiraan biaya yang diperlukan untuk menyelenggarakan program bagi peserta yang bersangkutan. Karena peserta
pada dasarnya memiliki karakteristik resiko yang berbeda-beda, maka premi dapat berbeda sesuai dengan risiko.
2.3.7 Kepesertaan Jamkesda
Kepesertaan ialah menjadi pesertanya seseorang atau kelompok orang secara sah dalam program jaminan kesehatan dengan memenuhi syarat sebagai peserta. Kepesertaan seseorang atau kelompok dalam program jaminan kesehatan biasanya ada batasan waktu. Setelah habis masa perjanjian, maka pihak peserta dapat menghentikan atau melanjutkan kepesertaannya. Kepesertaan lanjutan dapat berlangsung tanpa adanya perubahan apapun, dapat pula mengalami perubahan- perubahan misalnya dalam hal paket, jenis fasilitas, dan besarnya premi (Hendrartini, 2009).
2.4 Manajemen 2.4.1 Definisi
Menurut Blanchard (1980), manajemen adalah suatu usaha yang dilakukan dengan dan bersama individu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama, sedangkan Stoner (1986) menyatakan manajemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian upaya anggota organisasi dan penggunaan seluruh sumber daya organisasi lainnya, demi tercapainya tujuan organisasi. Millet (1987) menekankan manajemen sebagai suatu proses yaitu suatu rangkaian aktivitas yang satu sama lain saling berurutan, yakni:
1. Proses pengarahan (process of directing) yaitu suatu rangkaian kegiatan untuk memberikan petunjuk atau instruksi dari seorang atasan kepada bawahan atau
kepada orang yang diorganisasikan dalam kelompok formal untuk pencapaian tujuan.
2. Proses pemberian fasilitas kerja (process of facilitating the work) yaitu rangkaian kegiatan untuk memberikan sarana dan prasarana serta jasa yang memudahkan pelaksanaan pekerjaan dari seorang atasan kepada bawahan atau kepada orang yang diorganisasikan dalam kelompok formal dan untuk pencapaian tujuan (Siswanto, 2005)
Menurut Kast (1995) yang dikutip oleh Vionalita (2008), manajemen adalah subsistem kunci dalam sistem organisasi dan merupakan kekuatan vital yang menghubungkan semua subsistem lainnya. Manajemen mencakup hal hal berikut:
1. Mengkoordinir sumber daya manusia, material dan keuangan ke arah tercapainya sasaran organisasi secara efektif dan efisien.
2. Menghubungkan organisasi dengan lingkungan luar dan menanggapi kebutuhan masyarakat.
3. Mengembangkan iklim organisasi dimana orang dapat mengejar sasaran perorangan dan sasaran bersama (collective)
4. Melaksanakan berbagai peranan antar pribadi, informasional dan memutuskan 5. Melaksanakan fungsi-fungsi tertentu yang dapat ditetapkan seperti
menentukan sasaran, merencanakan, mengorganisir, melaksanakan dan mengawasi.
2.4.2 Fungsi Manajemen A. Perencanaan (Planning)
Menurut Koontz (1990), perencanaan mendahului semua fungsi manajerial lainnya dimana perencanaan pada hakikatnya merupakan penetapan sasaran yang ingin dicapai dan cara mencapainya yang terdiri dari menetapkan bagaimana struktur organisasi, bagaimana kualifikasi orang-orang yang diperlukan, bagaimana cara efektif untuk mengarahkan mereka dan menetapkan standar-standar pengendalian
Perencanaan merupakan serangkaian keputusan sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan di masa yang akan datang dan diarahkan kepada tujuan (goal oriented). Perencanaan harus jelas mengemukakan:
1. Apa yang akan dicapai berkenaan dengan penentuan tujuan
2. Mengapa hal itu perlu dilakukan, berkenaan dengan alasan atau motif perlunya kegiatan tersebut.
3. Bagaimana akan dilaksanakan, berkenaan dengan prosedur kerja, sasaran dan biaya.
4. Bilamana akan dilaksanakan, berkenaan dengan penjadwalan kegiatan kerja atau pelaksanaan kegiatan, pentahapan kegiatan sampai dengan selesai.
5. Siapa yang akan melaksanakan, berkenaan dengan orang orang yang turut terlibat dan menjadi sasaran dalam kegiatan .
6. Mengadakan penilaian, berkenaan dengan kegiatan, yang mana yang telah selesai, sedang dan akan diselesaikan.
7. Kemungkinan-kemungkinan apa yang dapat mempengaruhi pelaksanaan dan kegiatan mengadakan penyesuaian dan perubahan rencana (Widjaya, 1995). Menurut Terry (1986), yang dikutip oleh Vionalita (2008), ada enam jenis rencana manajemen, yakni:
1. Perencanaan prosedur
Prosedur merupakan tugas-tugas yang berhubungan satu sama lain yang merupakan bagian daripada urutan kronologis dan cara yang ditetapkan untuk melaksanakan suatu pekerjaan.
2. Perencanaan metode
Metode merupakan suatu cara yang diterapkan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu dengan cukup memperhatikan sasaran, fasilitas yang tersedia dan pengeluaran total berupa waktu, uang dan usaha.
3. Perencanaan standar
Standar merupakan suatu kesatuan pengukuran yang ditetapkan sebagai patokan atau tingkat referensi. Penetapan standar biasanya menggunakan pengalaman masa lampau, penilaian dan metode ilmiah.
4. Perencanaan anggaran
Anggaran merupakan sebuah rencana untuk pendapatan atau pengeluaran yang menyangkut uang, personil, barang yang dibeli, barang yang dijual, ataupun entitas lain yang dianggap oleh pihak manajerial akan membantu usaha-usaha manajerial di masa yang akan datang.
5. Perencanaan program
Program merupakan sebuah rencana komprehensif meliputi penggunaan macam-macam sumber daya untuk masa yang akan datang dalam bentuk sebuah pola yang terintegrasi dan yang menetapkan suatu urutan tindakan yang perlu dilaksanakan serta jadwal waktu untuk masing-masing tindakan tersebut dalam rangka mencapai sasaran yang ditetapkan.
B. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian adalah pembagian kerja yang direncanakan untuk diselesaikan oleh anggota kesatuan pekerjaan, penetapan hubungan antar pekerjaan yang efektif di antara mereka dan pemberian lingkungan dan fasilitas pekerjaan yang wajar sehingga mereka bekerja secara efisien. Pengorganisasian juga diartikan sebagai suatu pekerjaan membagi tugas, mendelegasikan otoritas dan menetapkan aktivitas yang hendak dilakukan manajer pada seluruh hirarki organisasi (Siswanto, 2005).
Menurut Terry (1992), pengorganisasian adalah proses pengelompokkan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan dan penugasan setiap kelompok kepada seorang manajer yang mempunyai kekuasaan untuk mengawasi anggota- anggota kelompok. Pengorganisasian dilakukan untuk menghimpun dan mengatur semua sumber-sumber yang diperlukan termasuk manusia sehingga pekerjaan yang dikehendaki dapat dilaksanakan dengan berhasil.
Terry (1992) juga menyatakan bahwa mengorganisir adalah suatu proses pembagian kerja. Pembagian kerja dapat dibedakan atas:
1. Pembagian kerja secara vertikal
Pembagian ini didasarkan atas penetapan garis-garis kekuasaan dan menentukan tingkat-tingkat yang membentuk bangunan organisasi itu secara tegak. Selain dari menetapkan kekuasaan, pembagian kerja vertikal memudahkan arus komunikasi dalam organisasi.
Pembagian ini didasarkan atas spesifikasi kerja. Asumsi dasar yang melandasi pembagian kerja horizontal adalah bahwa dengan membuat setiap tugas pekerja jadi terperinci, makin banyak pekerjaan yang dapat dihasilkan dengan usaha yang sama melalui peningkatan efisiensi dan kualitas. Secara terperinci, pembagian kerja horizontal berakhir dengan keuntungan sebagai berikut: a. Lebih sedikit kecakapan diperlukan seseorang.
b. Lebih mudah untuk memperinci kecakapan-kecakapan yang diperlukan untuk penyaringan atau tujuan latihan.
c. Mengulangi atau mempraktekkan kerja yang sama mengembangkan kemahiran.
d. Penggunaan kecakapan-kecakapan secara efisien terutama sekali dengan menggunakan kecakapan-kecakapan terbaik setiap pekerja.
e. Kemampuan untuk beroperasi bersama-sama.
f. Lebih banyak terdapat keseragaman dalam produksi akhir, jika setiap potong selalu diproduksi oleh orang yang sama.
Menurut Azwar (1988) terdapat tiga unsur pokok yang harus diperhatikan dalam melakukan suatu pengorganisasian, yakni:
1. Hal yang diorganisasikan
Hal yang perlu diorganisasikan adalah kegiatan dan tenaga pelaksana. Pengorganisasian kegiatan adalah pengaturan berbagai kegiatan yang ada dalam rencana sedemikian rupa sehingga membentuk satu kesatuan terpadu yang secara keseluruhan diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pengorganisasian tenaga pelaksana mencakup pengaturan hak dan
wewenang setiap tenaga pelaksana sedemikian rupa sehingga setiap kegiatan ada penanggungjawabnya.
2. Proses pengorganisasian
Pengorganisasian pada dasarnya merupakan suatu proses yang menyangkut langkah-langkah yang harus dilakukan sedemikian rupa sehingga segala kegiatan dan tenaga pelaksana mendapat pengaturan yang sebaik-baiknya serta setiap kegiatan memiliki penanggungjawab.
3. Hasil yang dicapai
Hasil dari pengorganisasian adalah suatu wadah yang merupakan perpaduan antara kegiatan dan tenaga pelaksana yang dikenal dengan nama organisasi (organization).
C. Penggerakan (Actuating)
Penggerakan merupakan usaha untuk menggerakan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa sehingga mereka berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penggerakan adalah mengintegrasikan usaha-usaha anggota suatu kelompok sedemikian rupa sehingga dengan selesainya tugas-tugas yang diserahkan kepada mereka, mereka memenuhi tujuan-tujuan individual dan kelompok (Terry, 1992).
Menurut Azwar (1988) yang dikutip oleh (Widya, 2008), untuk menggerakkan anggota-anggota, seorang manajer memerlukan suatu keterampilan sehingga memotivasi bawahannya untuk bertanggung jawab melaksanakan aktivitas yang telah di susun. Keterampilan dan pengetahuan yang harus dimiliki seorang manajer adalah:
1. Motivasi
Motivasi merupakan upaya untuk menimbulkan rangsangan atau dorongan pada seseorang atau kelompok sehingga orang atau kelompok tersebut mau berbuat dan bekerja bersama secara optimal melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2. Komunikasi
Komunikasi merupakan pertukaran pikiran atau keterangan dalam rangka menciptakan rasa saling pengertian serta saling percaya demi terciptanya hubungan yang baik antara seseorang dengan orang lainnya.
3. Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah hubungan yang tercipta dari adanya pengaruh yang dimiliki oleh seseorang terhadap orang lain, sehingga secara sukarela mau dan bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Siswanto (2005) menyatakan bahwa kepemimpinan sebagai sifat dan perilaku untuk memengaruhi bawahan agar mereka mampu bekerja sama sehingga membentuk jalinan kerja yang harmonis dengan mempertimbangkan aspek efisien dan efektif untuk mencapai tingkat produktivitas kerja sesuai dengan yang telah ditetapkan
Pengarahan merupakan pemberian bimbingan serta mengendalikan para pekerja atau staf dalam melakukan tugas guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Amuhni (2011), menyatakan pengarahan merupakan suatu tindakan mengusahakan agar semua kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial.
5. Pengawasan
Pengawasan dilakukan untuk memberikan penilaian dan sekaligus memberikan koreksi terhadap penampilan staf untuk mencapai tujuan seperti yang telah ditetapkan dalam perencanaan.
D. Pengawasan/Pengendalian (Controlling)
Menurut Mokler (1972) yang dikutip oleh Siswanto (2005), pengawasan/pengendalian adalah suatu usaha untuk menetapkan standar kinerja dengan sasaran perencanaan, membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditetapkan dan mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya organisasi yang sedang digunakan sedapat mungkin secara lebih efisien dan efektif guna mencapai sasaran organisasi.
Adapun manfaat dilakukannya pengawasan antara lain (Azwar, 1988):
1. Tujuan yang ditetapkan dapat diharapkan pencapainnya dan selanjutnya pencapaian tersebut adalah kualitas dan kuantitas tertinggi.
2. Pembiayaan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut tidak melebihi apa yang telah ditetapkan, bahkan mungkin dapat ditekan, sehingga efisiensi dapat lebih ditingkatkan.
3. Pengawasan yang dilakukan dengan baik akan memacu karyawan untuk lebih berprestasi dan berkreasi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
2.5 Fokus Penelitian
Berdasarkan teori yang telah diuraikan, maka fokus dalam penelitian ini adalah:
Pelaksanaan PJKMU Madani
OUTPUT - Cakupan Kepemilikan Jaminan Kesehatan - Kunjungan ke Pelayanan Kesehatan - Derajat Kesehatan PROSES - Penentuan Kepesertaan - Sosialisasi - Tata Laksana - Pengawasan - Pembinaan Peserta - Hambatan INPUT - Kebijakan - Dana
: Area yang diteliti
Gambar 2.1 Fokus Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian diatas, maka dapat dirumuskan definisi fokus penelitian sebagai berikut:
1. Kebijakan adalah kebijakan yang ditetapkan oleh pemda Tanjungbalai sebagai pedoman pelaksanaan PJKMU Madani bagi pihak-pihak terkait.
2. Dana adalah besaran dana yang digunakan untuk melaksanakan program dan penetapan besaran premi bagi peserta PJKMU Madani.
3. Kepesertaan adalah kriteria masyarakat yang ditetapkan untuk menjadi peserta PJKMU Madani.
4. Sosialisasi adalah penyebaran informasi tentang pelaksanaan PJKMU Madani berupa peran/tanggung jawab pihak-pihak terkait dan prosedur pelayanan PJKMU Madani.
5. Tata laksana adalah kesesuaian dan ketepatan persyaratan pemberian dan pembayaran pelayanan kesehatan PJKMU Madani.
6. Pengawasan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pihak terkait untuk mengawasi dan menemukan penyimpangan dari pelaksanaan PJKMU Madani.
7. Pembinaan peserta adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan sikap dan tindakan yang berorientasi hidup sehat di kalangan peserta PJKMU Madani.
8. Hambatan adalah masalah yang mengganggu pelaksanaan program PJKMU Madani
9. Cakupan kepemilikan jaminan kesehatan adalah jumlah masyarakat Tanjungbalai yang telah memiliki jaminan kesehatan setelah pelaksanaan PJKMU Madani.
10.Kunjungan ke pelayanan kesehatan adalah kecenderungan masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan setelah dilaksanakannya PJKMU Madani
11.Derajat kesehatan adalah status kesehatan masyarakat setelah dilaksanakannya PJKMU Madani.