• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.6 Present Net Worth

Penentuan daur optimal diperlukan nilai lahan dengan tegakan masak tebang. Present Net Worth (PNW) merupakan nilai keuntungan bersih saat ini.

PNW digunakan untuk mengetahui nilai lahan kosong sekaligus tegakan yang ada di atasnya sesuai dengan daur tegakan. Nilai keuntungan bersih saat ini (PNW) mempunyai dua unsur nilai, yaitu: nilai pendapatan bersih tegakan yang dipanen di masa yang akan datang (NR/Net Revenue) dan nilai lahan kosong (SEV). Nilai lahan kosong sama dengan nilai harapan lahan yang telah diketahui dan dijabarkan sebelumnya. Sedangkan pendapatan bersih tegakan yang dipanen dihitung dengan cara menjumlahkan pendapatan tebang akhir dengan pendapatan penjarangan, dikurangi biaya administrasi yang dikurangi satu dan dibagi tingkat suku bunga. Tingkat suku bunga yang digunakan sama seperti tingkat suku bunga yang digunakan untuk menentukan nilai harapan lahan, yaitu: 5%, 6,5%, 10% dan 12%.

Sesuai dengan asumsi yang digunakan, daur alternatif yang dikaji adalah daur 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45, 50, 55 dan 60 tahun. Sama halnya dengan nilai harapan lahan (SEV), nilai PNW juga semakin naik dengan semakin kecilnya tingkat suku bunga yang digunakan. Hal ini dapat dilihat pada Lampiran 4 dan tabel 16 hasil rekapitulasi perhitungan PNW pada setiap daur alternatif.

Tabel 16 Rekapitulasi hasil perhitungan present net worth (PNW) pada setiap daur alternatif

Uraian Suku Bunga

5% 6,5% 10% 12%

Daur 15 Thn

PNW (Rp/ha) 107.120.018 73.936.615 36.488.438 26.674.940 Daur 20 Thn

PNW (Rp/ha) 133.034.477 87.862.696 39.706.073 26.821.506 Daur 25 Thn

PNW (Rp/ha) 79.549.289 50.915.787 21.424.169 14.592.569 Daur 30 Thn

PNW (Rp/ha) 106.304.700 64.598.443 24.225.680 14.153.068 Daur 35 Thn

PNW (Rp/ha) 119.347.822 68.929.059 23.076.250 13.473.252 Daur 40 Thn

PNW (Rp/ha) 179.795.722 97.634.899 28.152.975 15.134.114 Daur 45 Thn

PNW (Rp/ha) 52.120.202 28.942.830 9.778.936 6.177.848 Daur 50 Thn

PNW (Rp/ha) 68.284.554 35.434.645 10.451.298 6.299.355 Daur 55 Thn

PNW (Rp/ha) 16.520.074 10.058.903 5.322.962 4.137.189 Daur 60 Thn

PNW (Rp/ha) 66.625.719 31.814.989 8.688.678 5.393.544 Selain menggunakan pendekatan nilai harapan lahan (SEV), penetapan daur alternatif terbaik pengusahaan hutan jati di KPH Madiun juga didekati dengan PNW. Pada Tabel 16 dapat dilihat bahwa nilai PNW terlihat semakin kecil dengan semakin tingginya tingkat suku bunga. Berdasarkan tabel tersebut, maka hasil perhitungan PNW tertinggi untuk setiap tingkat suku bunga secara umum terdapat pada daur 40 tahun. Gambar 6 menunjukan grafik pergerakan nilai present net worth (PNW) setiap daur alternatif dengan semua tingkat suku bunga yang digunakan.

Gambar 6 Present net worth (PNW) dari setiap daur alternatif.

Gambar 6 menunjukan pergerakan nilai PNW yang tinggi pada daur 40 tahun. Garis yang ditunjukan pada grafik tersebut terlihat fluktuatif dan titik tertinggi pada daur 40 tahun. Selanjutnya nilai PNW menurun drastis menuju daur 45 tahun yang nilainya semakin kecil.

Kayu jati pada umur 40 tahun ditanam pada tahun 1970, dimana pengembangan budidaya jati masih bersifat konvensional atau masih mengandalkan teknik perbanyakan secara generatif, yaitu perbanyakan tanaman berasal dari bibit/benih pohon induk yang terpilih. Kualitas bibit/benih yang bagus dapat menghasilkan tanaman yang tahan terhadap penyakit sehingga kemungkinan terseleksi oleh alam sangat kecil. Selain itu, kondisi hutan yang tidak normal tersebut merupakan akibat dari ulah manusia yang tidak bertanggung jawab pada kayu jati terutama umur 45 tahun yang volume per hektarnya sangat kecil, serta akibat dari bencana yang melanda hutan jati KPH Madiun. Berikut ini merupakan persentase kenaikan nilai PNW dari tingkat suku bunga 6,5% ke tingkat suku bunga 5% yang dapat dilihat di Tabel 17.

Present Net Worth (Rp/ha)

Daur (Tahun)

5%

6,5%

10%

12%

Tabel 17 Persentase kenaikan present net worth (PNW) dari tingkat suku bunga 6,5% ke tingkat suku bunga 5%

Daur

Sama halnya dengan nilai harapan lahan, PNW cenderung terus meningkat dengan penurunan suku bunga bank yang digunakan. Jika Perum Perhutani menggunakan suku bunga bank sebesar 5%, yang lebih rendah dari suku bunga Bank Indonesia rate 6,5%, maka persentase kenaikan PNW cenderung terus meningkat sejalan dengan peningkatan umur tanaman jati. Berdasarkan Tabel 17 dan Gambar 9, maka dapat diperoleh informasi bahwa nilai PNW paling besar pada daur 40 tahun. Dilihat dari besarnya nilai PNW, daur finansial tegakan jati di KPH Madiun yang terbaik adalah daur 40 tahun.

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Istichomah (2006) yang menyatakan bahwa daur optimal jati di KPH Madiun adalah daur 60 tahun.

Penelitian penentuan daur finansial tersebut dilakukan pada tahun 2006 dengan mempertimbangkan resiko kehilangan tegakan akibat pencurian di KPH Madiun.

Daur optimal yang terpilih ternyata lebih pendek daripada daur yang digunakan di KPH Madiun pada saat itu, yaitu 70 tahun.

Sedangkan penelitian lain tentang penentuan daur finansial kelas perusahaan jati yang dilakukan Pratiwi (2010) di KPH Cepu, Perum Perhutani Unit I, Jawa Tengah, menyatakan bahwa daur finansial jati dicapai pada daur 30 tahun karena mampu menghasilkan keuntungan finansial yang maksimal. Daur finansial yang

ditetapkan berdasarkan kondisi tegakan hutan yang ada pada saat penelitian dilakukan, termasuk penentuan daur finansial di KPH Madiun yang dicapai pada umur 40 tahun. Berdasarkan penelitian sejenis, Toro dan Sumitro (2003) menyatakan bahwa secara finansial, daur yang memberikan keuntungan maksimum pada hutan jati KPH Pemalang, Perum Perhutani Unit I, Jawa Tengah adalah 40 tahun.

5.7 Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas digunakan untuk melihat pengaruh yang akan terjadi akibat dari keadaan yang berubah-ubah. Dalam perhitungan analisis sensitivitas, setiap kemungkinan dicoba untuk melakukan kegiatan analisis kembali. Hal ini penting dilakukan karena analisis sensitivitas didasarkan pada asumsi-asumsi yang mengandung banyak ketidakpastian dan adanya perubahan yang terjadi di masa yang akan datang. Sehingga analisis sensitivitas dapat digunakan untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan bila terjadi perubahan pada faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan perusahaan.

Simulasi pada analisis sensitivitas pengusahaan hutan jati KPH Madiun ini hanya dilakukan pada daur alternatif terpilih, yaitu pada daur 40 tahun. Simulasi yang digunakan pada analisis sesnsitivitas ini adalah:

1. Apabila terjadi peningkatan biaya sebesar 5%, 10% dan 15%

2. Apabila terjadi penurunan pendapatan sebesar 5%, 10% dan 15%

Hasil perhitungan analisis sensitivitas pengusahaan hutan jati KPH Madiun pada tingkat suku bunga 6,5% yang dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18 menunjukan bahwa kenaikan biaya dan penurunan pendapatan mengakibatkan turunnya nilai PNW. Persentase perubahan dengan naiknya biaya tidak terlalu besar. Lain halnya dengan turunnya pendapatan, persentase perubahan nilai PNW menunjukan persen angka yang lebih besar dibandingkan dengan naiknya biaya.

Meskipun persentase perubahan pada kenaikan pendapatan tidak terlalu besar, namun hal tersebut menunjukan kesensitifan pada keuntungan KPH Madiun.

Pendapatan sensitif artinya produktivitas tegakan dan harga kayu jati sangat menentukan keuntungan pengusahaan jati Madiun. Hasil analisis sensitivitas untuk tingkat suku bunga 6,5% dapat dilihat pada Gambar 10.

Tabel 18 Hasil sensitivitas pengusahaan hutan jati KPH Madiun daur 40 tahun

Pendapatan turun 5 92.505.602 5,25

10 87.376.304 10,51

15 82.247.006 15,76

Tingkat suku bunga 6,5% yang ditampilkan pada gambar menunjukkan biaya yang semakin meningkat mengakibatkan turunnya nilai PNW, namun penurunan nilai PNW tersebut tidak terlampau jauh dibandingkan dengan penurunan pendapatan. Perubahan persentase pendapatan yang semakin besar mengakibatkan nilai PNW semakin kecil. Hal tersebut selain terjadi pada daur 40 tahun (Gambar 10).

Gambar 10 Present Net Worth (PNW) hasil analisis sensitivitas pada daur 40 tahun.

Berdasarkan hasil simulasi tersebut dapat diketahui bahwa secara umum perubahan nilai PNW terbesar diperoleh pada saat pendapatan mengalami penurunan. Hal ini menunjukan bahwa pengusahaan hutan jati di KPH Madiun lebih sensitif/peka terhadap penurunan pendapatan. Komponen yang

70.000.000

Present Net Worth (Rp/ha)

Persentase Kenaikan/Penurunan

biaya naik pendapatan turun

menyebabkan penurunan pendapatan antara lain: produktivitas kayu dan harga jual kayu. Produktivitas kayu yang mempengaruhi meliputi diameter/keliling pohon, jumlah pohon per hektar dan volume produksi kayu. Sedangkan peurunan harga jual kayu sangat mempengaruhi perolehan pendapatan. Namun, tingkat sensitif KPH Madiun terhadap perubahan pendapatan tersebut berpengaruh tidak nyata karena KPH Madiun masih menunjukkan keuntungan.

6.1 Kesimpulan

Daur finansial terbaik untuk kelas perusahaan jati KPH Madiun adalah 40 tahun. Hal ini berdasarkan hasil perhitungan nilai harapan lahan (SEV) yang menunjukkan bahwa daur terbaik adalah pada umur 40 tahun serta perhitungan pendapatan bersih saat ini (Present Net Worth/PNW) adalah pada umur 40 tahun.

6.2 Saran

1. Penggunaan daur finansial 40 tahun dalam kegiatan pengelolaan jati di KPH Madiun akan meningkatkan keuntungan perusahaan sesuai dengan biaya pembangunan dan produktivitas tegakan.

2. Pendekatan dan penyuluhan kepada masyarakat di sekitar hutan lebih ditingkatkan lagi demi menjaga produktivitas tegakan saat ini dan di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Chapman HH, Meyer WH. 1947. Forest Valuation. New York: Mc Grow Hill Book, Co. Inc.

Cordes JWH. 1992. Hutan Jati di Jawa. Malang: Yayasan Manggala Sylva Lestari.

Davis KP. 1966. Forest Management Regultion and Valuation. New York: Mc Grow Hill Book, Co. Inc.

Departemen Kehutanan. 1987. Pengamanan Hutan. Kehutanan Indonesia No.19 Tahun 1987. Jakarta: Departemen Kehutanan Republik Indonesia.

Departemen Kehutanan. 1992. Manual Kehutanan. Jakarta: Departemen Kehutanan Republik Indonesia.

Direktorat Jenderal Kehutanan. 1974. Surat Keputusan Direktorat Jenderal Kehutanan No.143 kpts/DJ/1974 tentang Peraturan Inventarisasi Huan Jati dan Peraturan Penyusunan Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan Khusus Kelas Perusahaan Tebang Habis Jati. Jakarta: Direktorat Jendeal Kehutanan.

Elias. 1987. Analisis Biaya Eksploitasi Hutan. Bogor: Fakultas Kehutanan.

Institut Pertanian Bogor.

Gittinger J. 1986. Analisis Proyek Pertanian. Jakartta: UI-Press.

Haeruman JS. 1977. Potensi Sumber Alam Kehutanan dan Perkembangannya di Propinsi Lampung. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Hanggumantoro A. 2007. Studi Laju Degradasi Hutan Jati (Tectona grandis) KPH Madiun, Perum Perhutani Unit II, Jawa Timur. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB.

Husch B. 1987. Perencanaan Inventarisasi Hutan. Agus Setyarso, penerjemah.

Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press). Terjemahan dari:

Planning a Forest Inventory.

Istichomah N. 2006. Penentuan Daur Optimal Kelas Perusahaan Jati (Tectona grandis, L. f) Dengan Mempertimbangkan Resiko Kehilangan Tegakan Akibat Pencurian Di KPH Madiun Perum Perhutani Unit II Jawa Timur.

[Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB.

Lembaga Penelitian Ekonomi Kehutanan. 1964. Kamus Ekonomi Kehutanan.

Buletin Nasional 37-39.

Martawijaya A, Kartasujana I, Kadir K, Prawira SA. 1981. Atlas Kayu Indonesia Jilid I. Balai Penelitian Hasil Hutan, Bogor: Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Osmaston FC. 1968. The Management of Forests. London: George Allen and Unwim LTD.

Perum Perhutani. 2004. Statistik Tahun 1993 - 2003. Jakarta: Data Statistik Perum Perhutani.

Pramoedibyo RIS. 1999. Secercah Gambaran Kehutanan Indonesia. Jakarta:

Badan Pengelola Gedung Manggala Wana Bakti.

Pratiwi A. 2010. Penentuan Daur Finansial Kelas Perusahaan Jati (Tectona grandis L. f.) Dengan Menggunakan Analisis Kelayakan Finansial Di KPH Cepu Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. [Skripsi]. Bogor:

Fakultas Kehutanan IPB.

Simon H. 1993. Hutan Jati dan Kemakmuran Problema dan Strategi Pemecahannya. Yogyakarta: Bigraf Publishing.

_________. 2001. Pengelolaan Hutan Bersama Rakyat: Teori dan Aplikasi Hutan Jati di Jawa. Yogyakarta: Bigraf Pusbising.

Slot R, Minnaar H. 1995. Dasar-Dasar Ekonomi Perusahaan. Jakarta: STIE IBII dan Gramedia Pustaka Utama.

Sumarna Y. 2003. Budi Daya Jati. Jakarta: Penebar Swadaya.

Toro M, Sumitro A. 2003. Kajian Penentuan Daur Hutan Jati pada KPH Pemalang PT. Perhutani Unit I Jawa Tengah. Agrosains 16 (1) : 1-9.

Lampiran 1 Struktur kelas hutan jati (Tectona grandis L. f.) KPH Madiun tahun 2011

Jumlah Produktif 15.502,4

Tidak Produktif

Jumlah Tidak Produktif 5.827,5

TBPTH (Tak baik untuk perusahaan tebang habis) -

Baik Untuk Produksi Kayu Jati 21.329,8

Bukan Untuk Produksi Kayu Jati

TKTBJ (Tanah kosong tak baik untuk jati) 209,8

TKLTBJ (Tanaman kayu lain tak baik untuk jati) -

HAKLTBJ (Hutan kayu lain tak baik untuk jati) -

TJM (Tanaman jati merana) 66,0

HAJM (Hutan alam jati merana) -

TJKL (Tanaman jenis kayu lain) 1.996,7

HPT (Hutan lindung terbatas) 80,3

Jumlah bukan produksi jati 2.352,8

Jumlah produksi 23.682,6

Bukan Untuk Produksi

TBP (Tak baik untuk produksi) 78,7

LDTI (Lapangan dengan tujuan istimewa) 2.776,6

SA/HW (Hutan suaka alam dan hutan wisata) -

HL (Hutan lindung) 945,7

Jumlah bukan untuk produksi 3.801,0

JUMLAH TOTAL 27.483,6

Lampiran 2 Rincian biaya-biaya pengusahaan hutan jati (Tectona grandis L. f.)

Luas kawasan tanaman jati rata-rata KPH Madiun (ha) 989,5

Rata-rata biaya perencanaan (Rp/ha) 71.281

B. Biaya Umum dan Administrasi

No Uraian Total (Rp)

1. Biaya Umum

a. Biaya kesejahteraan umum 756.280.000

b. Biaya perjalanan dinas 706.359.000

c. Biaya Kantor 373.670.000

2. Biaya pembinaan hutan

a. Biaya pembinaan hutan jati 287.895.000

b. Biaya penyuluhan 10.000.000

3. Biaya pemeliharaan sarana dan prasarana

a. Biaya pemeliharaan bangunan dan tanah 203.880.000 b. Biaya pemeliharaan jalan-jalan dan jembatan 49.000.000 c. Biaya pemeliharaan bengkel dan instalansi 12.000.000 d. Biaya pemelihaaan kendaraan bermotor dan alat berat 197.200.000 e. Biaya pemeliharaan perlengkapa kantor dan kendaraan tak

bermotor 8.500.000

4. Biaya penyusutan

a. Biaya penyusutan bangunan dan tanah 92.092.000 b. Biaya penyusutan jalan-jalan dan jembatan 150.500.000 c. Biaya penyusutan perlegkapan kantor dan kendaraan tak

bermotor 3.000.000

Jumlah 2.850.376.000

Luas areal produktif kawasan hutan KPH Madiun (ha) 15.502,4 Rata-rata biaya umum dan administrasi (Rp/ha/tahun) 183.867 C. Biaya Investasi

No Uraian Total (Rp)

1. Bangunan dan tanah 294.000.000

2. Perlengkapan kantor dan kendaraan tak bermotor 17.000.000

Jumlah 311.000.000

Luas areal produktif kawasan hutan KPH Madiun (ha) 15.502,4

Rata-rata biaya investasi (Rp/ha) 20.061

Lampiran 4 (Lanjutan) D. Biaya Persemaian

No. Uraian Total (Rp)

1. Biaya persemaian jati tahun berjalan

a. Biaya persiapan lapangan persemaian 53.208.000

b. Biaya pengadaan dan angkutan benih 9.000.000

c. Biaya pengadaan sarana dan prasarana 84.000.000 d. Biaya pembuatan media dan pemeliharaan 193.000.000

Jumlah 339.208.000

Luas areal penanaman jati tahun berjalan (ha) 961,8

Rata-rata biaya persemaian per hektar (Rp/ha) 352.680

E. Penanaman

No. Uraian Total (Rp)

1. Biaya tanaman rutin jati

a. Biaya tanaman rutin jati tumpang sari tahun I 128.514.000 b. Biaya tanaman rutin jati tumpang sari tahun II/Pemeliharaan 49.000.000 c. Biaya tanaman rutin jati tumpang sari tahun III/Pemeliharaan 24.000.000 d. Biaya tanaman rutin jati banjar harian tahun I 71.000.000 e. Biaya tanaman rutin jati banjar harian tahun II/Pemeliharaan 31.500.000 f. Biaya tanaman rutin jati banjar harian tahun III/Pemeliharaan 42.000.000

g. Biaya tanaman rutin jati lainnya 4.500.000

Total biaya tanaman rutin jati 350.514.000

2. Biaya tanaman pembangunan jati

a. Biaya tanaman pembangunan jati tumpang sari tahun I 420.047.000 b. Biaya tanaman pembangunan jati tumpang sari tahun

II/Pemeliharaan 111.000.000

c. Biaya tanaman pembangunan jati tumpang sari tahun

III/Pemeliharaan 22.000.000

d. Biaya tanaman pembangunan jati banjar harian tahun I 471.000.000 e. Biaya tanaman pembangunan jati banjar harian tahun

II/Pemeliharaan 170.000.000

f. Biaya tanaman pembangunan jati banjar harian tahun

III/Pemeliharaan 61.000.000

g. Biaya penanaman lainnya 1.137.035.000

Total biaya tanaman pembangunan jati 2.392.082.000

Luas areal tanaman rutin jati (ha) 290,5

Rata-rata biaya tanaman rutin jati (per ha) 1.206.588,6

Luas areal tanaman pembangunan jati (ha) 437

Rata-rata biaya tanaman pembangunan jati (per ha) 5.468.866

Total biaya penanaman 2.742.596.000

Rata-rata biaya penanaman (per ha) 3.337.727

Lampiran 4 (Lanjutan) F. Biaya Penjarangan

No. Uraian Total (Rp)

1. Biaya wiwit/babat rayud/oyod-oyadan

a. Biaya upah tenaga kerja wiwil/babad rayud/oyod-oyodan 2.895.000 2. Biaya petak ukur dan tunjuk tolet

a. Biaya pembuatan tanda/babat trowong 24.000.000 b. Biaya petak ukur dalam penyusunan RTT 24.000.000 c. Biaya petak coba penjarangan (tahun berjalan) 8.000.000

d. Biaya tunjuk tolet penjarangan 28.000.000

e. Biaya alat-alat/sarana 9.000.000

f. Biaya upah tenaga kerja petak ukur dan tunjuk tolet 13.000.000

Total biaya penjarangan jati 108.895.000

Luas areal penjarangan jati (ha) 1.035,6

Rata-rata biaya penjarangan jati (Rp/ha) 105.152

G. Biaya Eksploitasi Kayu Jati

No. Uraian Total (Rp)

1. Biaya persiapan eksploitasi kayu jati

a. Biaya teresan 26.621.000

b. Biaya pembagian blok 2.000.000

c. Biaya klem 2.000.000

d. Biaya prasarana tebangan 157.816.000

e. Biaya sarana tebangan 8.000.000

f. Biaya persiapan eksploitasi lainnya 45.000.000 2. Biaya penerimaan kayu jati

a. Biaya penerimaan kayu pertukangan jati 941.225.904 3. Biaya pengangkutan kayu jati

a. Biaya penghelaan kayu jati 27.253.000

b. Biaya pengangkutan biasa kayu pertukangan jati 840.000.000

Total biaya eksploitasi kayu jati 2.049.915.904

Volume produksi kayu jati (m3) 9.724

Rata-rata biaya eksploitasi kayu jati (Rp/m3) 154.232

Luas produksi kayu jati (ha) 335

Rata-rata biaya eksploitasi kayu jati (Rp/ha) 4.471.544

Lampiran 4 (Lanjutan) H. Biaya PMDH

No. Uraian Total (Rp)

1 Biaya PMDH diluar kawasan

a. Biaya pemenuhan kewajiban finansial negara 2.021.013.000

2. Biaya penyuluhan 10.000.000

Total biaya PMDH 2.031.013.000

Luas areal PMDH (ha) 27.717

Rata-rata biaya PMDH (Rp/ha) 73.277

Lampiran 4 (Lanjutan) I. Biaya Perlindungan Hutan

No. Uraian Total (Rp)

1. Biaya perlindungan terhadap pencurian

a. Biaya perondaan 14.560.000

b. Biaya peggeledahan 9.000.000

c. Biaya pos pemeriksaan 23.500.000

d. Biaya polisi hutan 7.500.000

e. Biaya angkut kayu bukti 14.500.000

f. Biaya spion 2.000.000

g. Biaya lain-lain perlindungan 2.000.000

2. Biaya penyelesian perkara

a. Biaya tahanan 3.101.000

b. Biaya penyidikan 24.500.000

Total 100.661.000

Luas produktif KPH Madiun (ha) 15.502,4

Biaya perlindungan hutan (Rp/ha) 6.493

Dokumen terkait