• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

2.2.1. Aktifitas Pembelajaran PKn

2.2.2.2 Prestasi Belajar

Secara harfiah prestasi menurut Poerwadarminta (1983: 768) diartikan “sebagai hasil yang dicapai ( dilakukan , dikerjakan) dan belajar adalah berusaha berlatih supaya mendapat sesuatu kedamaian”.

Dalam Ensiklopedia ( 1971 ), prestasi merupakan kata yang berdiri sendiri yang berarti produksi yang dicapai oleh tenaga atau daya kerja seseorang dalam kurun waktu tertentu.

Pendapat lain disampaikan oleh Woodworth ( 1951 ) mengatkan bahwa prestasi ( achievement ) adalah actual ability and can be measured directly by use

of test. Artinya prestasi menunjukkan suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan menggunakan tes.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi merupakan hasil kerja seseorang yang dapat dilihat secara nyata oleh orang lain dan hasil kerja tersebut dapat diukur secara langsung dengan tes.

Berkaitan dengan presasi belajar, belajar akan lebih mudah dan dapat dirasakan bila belajar tersebut mengetahui hasil yang diperoleh. Kalau belajar berarti perubahan-perubahan yang terjadi pada individu, maka perubahan-perubahan itu harus dapat diamati dan dinilai. Hasil dari pengamatan dan penilaian inilah umumnya diwujudkan dalam bentuk prestasi belajar.

Dalam pemahaman yang sama, prestasi belajar menurut Sumartono (dalam Sardiman,1990) dimaknai dengan suatu nilai yang menunjukkan hasil belajar yang tertinggi dalam belajar yang dicapai menurut kemampuan anak dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu. Lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru sebagai hasil.

Selanjutnya Hamalik ( 2002 ) mengatakan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. belajar.

Dalam penelitian ini, prestasi belajar sebagaimana dengan pendapat Good, Carter (1957 : 7) adalah skor tes atau nilai pelajaran di sekolah yang menggambarkan adanya perkembangan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa. Secara jelas prestasi belajar tergambarkan dengan nilai hasil ulangan pada setiap kompetensi dasar dengan indikatornya.

Pemaham tersebut mengantarkan pada suatu pemaknaan, bahwa prestasi belajar dapat dicermati dari pertambahan pemahaman terhadap sesuatu yang tergambar secara kuantitatif berupa nilai belajar.

Berkaitan dengan prestasi belajar, belajar akan lebih mudah dan dapat dirasakan bila belajar tersebut mengetahui hasil yang diperoleh. Kalau belajar berarti perubahan-perubahan yang terjadi pada individu, maka perubahan- perubahan itu harus dapat diamati dan dinilai. Hasil dari pengamatan dan penilaian inilah umumnya diwujudkan dalam bentuk prestasi belajar.

Menurut Gagne yang dikutip oleh Badawi ( 1987 ) mengatakan bahwa hasil belajar dapat diukur dengan menggunakan tes karena hasil belajar berupa ketrampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, ketrampilan, nilai dan sikap.

1qqDengan demikian, diperoleh suatu kesimpulan untuk mengukur tingkat prestasi siswa dapat diukur dari hasil berupa data kuantitatif, yang diperoleh melalui sebuah tes.

Secara umum yang mempengaruhi prestasi belajar dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) yakni:

a. Faktor intern

Faktor intern terbagi atas faktor fisik dan psikis. Faktor fisik akan memberikan pengaruh yang baik manakala semua alat indera dapat berfungsi secara normal dalam menangkap pesan dan kesan. Sedangkan faktor psikis, oleh Wingkel (1987: 139) ”faktor psikis dibedakan atas faktor kognitif dan non

kognitif” Faktor kognitif ini meliputi hasrat, motivasi, konsentarsi,perasaan, sikap dan minat.

Untuk itu perlu menstimulasi dorongan dalam diri siswa dari dirinya sendiri, misalnya minat. Karena dapat dinyatkan minat memegang peranan penting dalam belajar. Adanya kemauan atau minat dalam diri siswa dapat membawa kearah giat dalam belajar.

b. Faktor ekstern

Faktor ekstern (diluar) diri siswa dibedakan menjadi dua, yaitu faktor sosial dan faktor non sosial. Antara lain meliputi sarana prasarana, suasana sekolah, kurikulum, pengelompokan siswa, dan metode pembelajaran.

Dari salah satu uraian di atas memberikan makna bahwa pengelompokan dan pemilihan metode pembelajaran menjadi sesuatu yang penting dalam membangun minat dan memberikan pengaruh yang baik dalam pencapaian prestasi belajar siswa.

Hasil belajar menurut Gagne adalah kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat dari perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa (learner performance).

Secara umum Reigeluth (1983:20) mengatakan bahwa hasil belajar dapat dikategorikan menjadi tiga indikator, yaitu :

a. Efektivitas pembelajaran yang biasanya diukur dari tingkat keberhasilan (prestasi) siswa dari berbagai sudut;

b. Efisiensi pembelajaran, yang biasanya diukur dari waktu belajar dan/atau biaya pembelajaran;

c. Daya tarik pembelajaran yang selalu diukur dari tendensi siswa ingin belajar secara terus menerus.

Secara spesifik Ibrahim (2005) mengatakan bahwa hasil belajar adalah suatu kinerja (performance) yang diindikasikan sebagai suatu kapabilitas (kemampuan) yang telah diperoleh.

Dari uraian beberapa pendapat di atas dapat dimaknai bahwa prestasi belajar merupakan bagian dari maksimalnya aktivitas belajar yang kemudian terukur dari hasil belajar yang diperoleh siswa. Hal ini menandakan bahwa aktivitas belajar yang baik akan memberikan kontribusi yang baik bagi perolehan belajar. Untuk itu diperlukan sebuah model pembelajaran yang tepat, agar mampu menarik siswa dalam peran aktifnya dalam proses pembelajaran.

2.2.3 Model Pembelajaran PKn

Menurut rambu-rambu pembelajaran PKn dalam Kurikulum 2004, ditegaskan bahwa pembelajaran dalam mata pelajaran Kewarganegaraan merupakan proses dan upaya membelajarkan dengan menggunakan pendekatan belajar kontekstual (CTL) untuk mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan, keterampilan, dan karakter warga negara Indonesia. Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Terdapat 7 komponen CTL, yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya.

Budimansyah (2007) mengemukakan PKn dikenal suatu model pembelajaran, yaitu model VCT (Value Clarification Technique/Teknik Pengungkapan Nilai), yaitu suatu teknik belajar-mengajar yang membina sikap atau nilai moral (aspek afektif). VCT dianggap cocok digunakan dalam pembelajaran PKn yang mengutamakan pembinaan aspek afektif. Pola pembelajaran VCT dianggap unggul untuk pembelajaran afektif karena pertama, mampu membina dan mempribadikan (personalisasi) nilai-moral. Kedua, mampu mengklarifikasi dan mengungkapkan isi pesan nilai-moral yang disampaikan. Ketiga, mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai-moral diri siswa dalam kehidupan nyata. Keempat, mampu mengundang, melibatkan, membina dan mengembangkan potensi diri siswa terutama potensi afektualnya. Kelima, mampu memberikan pengalaman belajar berbagai kehidupan. Keenam, mampu menangkal, meniadakan, mengintervensi dan menyubversi berbagai nilai-moral naif yang ada dalam sistem nilai dan moral yang ada dalam diri seseorang. Ketujuh, menuntun dan memotivasi hidup layak dan bermoral tinggi.

Namun demikian, dalam penelitian ini, model pembelajaran SAT menjadi bagian alternative untuk memperkaya model-model pembelajaran yang sebelumnya. Ini tentu relevan jika dicermati karakteristik dari matapelajaran Pendidikan kewarganegaran yang mendidik dan melatih siswa berargumentasi, bekerjasama serta berdiskusi sebagai bagian substansi nilai demokrasi.

Dokumen terkait