• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Model Pembelajaran penalara Sequenti

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Implementasi Model Pembelajaran penalara Sequenti"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Kegiatan

Pembimbingan Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Online Tahun 2010

Nama Pembimbing : Drs. Hartono, M.Pd

Asal Instansi : Universitas Muhamadiyah Malang

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TINDAKAN KELAS Bidang Kajian :

Judul Penelitian : Implementasi Model Pembelajaran Sequential around Table (SAT) untuk Peningkatan Aktivitas dan Prestasi Belajar PKn pada Siswa Kelas IX SMP Negeri I Wonosalam Kab. Jombang

1. Ketua Peneliti

a. Nama Lengkap : Samsul Hudah, S.Pd b. Jenis Kelamin : Laki-laki

c. Pangkat/Gol dan NIP : Pembina/ IV a/ 1971090711998011001 d. Mata Pelajaran (Kelas) : PKn Kelas 9

e. Sekolah : SMPN I Wonosalam 2. Jumlah Anggota Peneliti : 1 (satu)

3. Lama Penelitian : 3 (tiga) bulan

Dari : Bulan Oktober sampai bulan Desember 2010 4. Biaya Penelitian : Rp 1.000.000,00

Pembimbing Ketua Peneliti/ Peneliti

Drs. Hartono, M.Pd Samsul Hudah, S.Pd NIP. ... NIP. 197109071998011001

(3)

Implementasi Model Pembelajaran Sequential around Table (SAT) untuk Peningkatan Aktivitas dan Prestasi Belajar PKn pada Siswa Kelas IX

SMP Negeri I Wonosalam Kab. Jombang Abstrak

Penerapan model pembelajaran yang selama ini monoton, membosankan, kurang inovatif serta hanya berpusat pada guru berdampak pada rendahnya aktivitas, kreativitas, serta pencapaian prestasi siswa. Realitas yang demikian ini terjadi pada siswa kelas IX SMPN I Wonosalam Jombang. Perolehan nilai hampir 58 % secara klasikal tidak tuntas, artinya hanya 42% siswa secara individual yang berada di atas KKM.

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini adalah (1) Untuk meningkatkan aktivitas belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas IX SMPN I Kecamatan Wonosalam Kab. Jombang, (2) Untuk meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas IX SMPN I Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang.

Subyek penelitian dalam penelitian adalah siswa kelas IX di SMPN I Wonosalam, Kabupaten Jombang semester genap tahun pelajaran 2010/2011. Fokus subyek penelitian adalah kelas IX A yang berjumlah 34 siswa. Metode penelitian, terbagi menjadi empat bagian antara lain: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan (actuating), (3) pengamatan (observation), dan (4) refleksi (reflection). Teknik pengumpulan data mnggunakan metode observasi dan metode tes.

Berdasarkan temuan yang didasarkan pada hasil analisis data dapat ditarik kesimpulan bahwa (1) Implementasi model pembelajaran Sequential Around Table (SAT) dapat meningkatakan aktivitas belajar PKn pada siswa kelas IX SMPN I Wonosalam, Kabupaten Jombang, (2) Implementasi model pembelajaran Sequential Around Table (SAT) dapat meningkatakan prestasi belajar PKn pada siswa kelas IX SMPN I Wonosalam, Kabupaten Jombang.

Kata kunci: Model Pembelajaran , SAT, Aktivitas belajar, Prestasi belajar

(4)

Kata Pengantar

Puji sukur kehadirat Alloh SWT, dengan segala kemudahan yang telah diberikan, sehingga dapat terselesaikannya penelitian tindakan kelas ini.Tentu, dalam penelitian tindakan kelas ini diharapkan mampu menambah khasanah ilmu pengetahuan di bidang kajian pendidikan khususnya dalam mengembangkan strategi pembelajaran. Muara akhirnya terdapat perbaikan dan perubahan dalam proses pembelajaran serta pengajaran, sehingga mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.

Dengan segala kerendahan hati disampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memfasilitasi penyelasaian penelitian tindakan kelas, antara lain:

1. Dirjend PMPTK P4TK dan PLB Kementrian Pendidikan Nasional 2. Drs. Hartono, M.Pd selaku pembimbing

3. Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten Jombang

4. Drs. Fathul ‘Alim, M.M.Pd, kepala sekolah SMPN I Wonosalam 5. Teman sejawat yang tidak dapat disebutkan satu persatu

Kelemahan yang ada dalam penelitian ini pasti ada, untuk itu kritik saran yang konstruktif sangat diharapkan.

Semoga membawa manfaat dan kebaikan dalam PBM.

Jombang, Desember 2010

Peneliti

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL DAN GRAFIK ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ...vii

BAB I PENDAHULUAN ...1

1.1 Latar Belakang Masalah ...1

1.2 Identifikasi Masalah ...6

1.3 Rumusan Masalah ...6

1.4 Hipotesis Tindakan ...6

1.5 Tujuan Penelitian ... ...7

1.6. Manfaat Penelitian ...7

1.7. Definisi Istilah ...8

BAB II KAJIAN PUSTAKA ...10

2.1. Pendidikan Kewarganegaraan...10

2.1.1 Pengertian ...10

2.1.2. Tujuan dan Fungsi ... 15

2.1.3. Ruang Lingkup ...18

(6)

2.2. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ...22

2.2.1. Aktifitas Pembelajaran PKn ...22

2.2.2.1 Belajar ...24

2.2.2.2 Prestasi Belajar ...26

2.3. Model Pembelajaran SAT ...30

2.3.1 Pengertian Model Pembelajaran SAT ...32

2.3.2 Manfaat Model Pembelajaran SAT ...32

2.3.3. Implementasi Model Pembelajaran SAT ...39

BAB III METODE PENELITIAN ... ...43

3.1. Obyek Tindakan ... 43

3.2. Subyek Penelitian ... 43

3.3. Metode Penelitian ... 44

3.4. Prosedur Penelitian Penelitian ...46

3.4.1. Siklus I ...47

3.4.2. Siklus II...49

3.4.3. Indikator Keberhasilan ...50

3.5. Instrumen Penelitian ...51

3.6 Teknik Pengumpulan Data ...51

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...54

4.1. Data Siklus I ...54

4.1.1 Perencanaan Tindakan I ...54

(7)

4.1.2.1. Tindakan I Pertemuan I...55

4.1.2.2. Tindakan Pertemuan II ...56

4.1.3. Observasi ...57

4.1.4. Refleksi ...58

4.2. Data Siklus II ...59

4.2.1 Perencanaan Tindakan II ...60

4.1.2 Pelaksanaan Tindakan II ...60

4.1.2.1. Tindakan II Pertemuan I...60

4.1.2.2. Tindakan Pertemuan II ...61

4.1.3. Observasi ...61

4.1.4. Refleksi ...63

4.4 Pembahasan ...64

4.4.1 Aktivitas Belajar Siswa ...64

4.4.2 Hasil Belajar Siswa ...65

BAB V PENUTUP ...68

A. Kesimpulan ... 68

B. Saran ...68

DAFTAR PUSTAKA ... 69

(8)

DAFTAR TABEL DAN GRAFIK

Gambar 1.1 Model Pembelajaran SAT... 41

Gambar 3.2 Skema Prosedur Penelitian... 28

Tabel 4.1 Rekapitulasi Perolehan Hasil observasi Aktivitas Belajar Siswa ...57

Tabel 4.2 Rekapitulasi Perolehan Tes hasil Belajar Siswa... 58

Tabel 4.3 Rekapitulasi Perolehan Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa... 62

Tabel 4.4 Rekapitulasi Analilis Tes Hasil Belajar Siswa ... 63

Tabel 4.5 Rekapitulasi Perolehan Hasil observasi Aktifitas Belajar Siswa...64

Tabel 4.6 Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran ...66

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 RPP tindakan pertama... Lampiran 2 RPP tindakan kedua ... Lampiran 3 Lembar soal /amplop ... Lampiran 4 Kunci Jawaban ... Lampiran 5 Lembar soal/amplop ... Lampiran 6 Kunci Jawaban ... Lampiran 7 Lembar soal ulangan I ... Lampiran 8 Lembar soal ulangan II ... Lampiran 9 Data Hasil Belajar Siswa tindakan I... Lampiran 10 Data hasil belajar siswa tindakan II ... Lampiran 11Data perbandingan hasil belajar ... Lampira Daftar hadir siswa ... Lampiran 17 Lembar catatan lapangan ... Lampiran 18 Lembar observasi ... Lampiran 19 Daftar Hadir siswa ... Lampiran 20 Foto Kegiatan Siswa ...

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

Bab pendahuluan ini membahas latar belakang masalah, identifikasi

masalah, rumusan masalah, hipotesis tindakan, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, dan definisi istilah.

1.1 Latar Belakang

Undang-undang RI No. 20 Pasal 40, ayat (2) tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional menandaskan bahwa guru dan tenaga kependidikan

berkewajiban: (1) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna,

menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis; (2) mempunyai komitmen secara

profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan (3) memberi teladan dan

menjaga nama baik lembaga, profesi dan kedudukan sesuai dengan

kepercayaan yang diberikan kepadanya. Sementara itu, dalam Peraturan

Pemerintah No.19 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 19, ayat (1)

dinyatakan bahwa:

Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara

interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk

berpartisipasi aktif, memberikan ruang gerak yang cukup bagi prakarsa,

kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik

(11)

Untuk itu, meningkatkan kualitas pembelajaran merupakan sebuah

keharusan dan perlu memperoleh perhatian semua unsur pelaku pendidikan.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pemilihan model

pembelajaran yang tepat dalam proses belajar mengajar (PBM).

Somantri (2001:245) mempertegas bahwa kurang bermaknanya Pendidikan

Kewarganegaraan bagi siswa dikarenakan masih dominannya penerapan metode

pembelajaran konvensional seperti ground covering technique, indoktrinasi, dan

narrative technique dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

sehari-hari. Jika dalam PBM, guru tidak mampu mencermati dan menerapkan model

pembelajaran yang tepat dan relevan, tentu harapan serta tujuan pembelajaran

kemungkinan besar tidak dapat tercapai.

Berkaitan dengan model pembelajaran, pembelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan (PKn), sebagai bagian dari materi yang diajarkan di

sekolah-sekolah, tentu harus menyelaraskan diri, baik isi maupun cara penyampaian yang

disertai dengan pengembangan materi dan model pembelajaran yang sesuai.

Penerapan model pembelajaran yang selama ini monoton, membosankan, kurang

inovatif serta hanya berpusat pada guru berdampak pada rendahnya aktivitas,

kreativitas, serta pencapaian prestasi siswa.

Hal tersebut tampak pada saat mengikuti PBM, siswa kurang begitu

antusias, apatis, dan berbicara sendiri saat diterangkan sehingga kompetensi dasar

tidak tercapai, prestasi belajar yang rendah yang ditunjukkan dengan pencapaian

nilai posttes di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Realitas yang

(12)

nilai hampir 58 % secara klasikal tidak tuntas, artinya hanya 42% siswa secara

individual yang berada di atas KKM.

Untuk itu, diperlukan cara agar siswa lebih tertarik dan merasa senang

mengikuti PBM PKn. Yakni dengan mengubah dan menerapkan pembelajaran,

berkarakter kreatif, menyenangkan serta inovatif. Dengan berubahnya penerapan

model pembelajaran, diharapkan aktivitas belajar siswa serta prestasi siswa lebih

meningkat dibanding sebelumnya.

Uraian di atas selaras dengan apa yang disampaikan Indrawati, dkk (2009)

bahwa strategi dan model pembelajaran yang sesuai dapat mengembangkan

kreativitas, aktivitas siswa dan akan menghasilkan siswa-siswa yang kreatif

dengan ciri-ciri mampu memotivasi diri, berpikir kritis, berdaya imaginasi tinggi

(imaginatif), berpikir orisinil/bukan kutipan dari guru (original), memiliki tujuan

untuk ingin berprestasi, menyampaikan pemikiran dengan bahasa sendiri. Dengan

aktivitas dan kreatifitas belajar yang tinggi dalam pembelajaran PKn, siswa

diharapkan dapat meningkatkan penguasaan kompetensi dasar (KD) yang

diberikan guru di sekolah. Jika penguasaan kompentensi siswa meningkat maka

hal tersebut berimbas pada perolehan hasil belajar (prestasi belajar) yang

meningkat pula.

Agar keinginan tersebut dapat tercapai maka diambil langkah sebagai

alternatif pemecahan persoalan model pembelajaran yang selama ini diterapkan.

Yakni dengan melakukan perubahan model pembelajaran. Adapun model

(13)

(SAT) karena model pembelajaran ini menuntut belajar siswa untuk beraktivitas

tinggi, aktif berdiskusi serta menyelesaikan persoalan secara kelompok.

SAT sendiri tergolong dalam model pembelajaran cooperative learning, mengingat siswa dituntut untuk saling bekerja sama dalam menyelesaikan

persoalan. Secara sederhana dapat digambarkan bahwa, SAT merupakan

rangkaian meja keliling. Setiap kelompok yang sudah selesai membahas

masalahnya akan diberikan pada kelompok meja lain. Begitu juga sebaliknya dan

seterusnya berkeliling sampai semua kelompok atau meja dapat membahas semua

masalah yang diberikan guru sesuai kompetensi dasar.

Secara praktis, SAT sudah pernah diimplementasikan oleh Subaidi (2008)

yang kemudian menarik sebuah kesimpulan bahwa pembelajaran PKn melalui

model pembelajaran SAT dapat meningkatakan kualitas pembelajaran. Yakni

dengan melihat aktivitas siswa serta prestasi siswa yang yang meningkat.

Dengan demikian, setidaknya penerapam model pembelajaran SAT

memberikan dampak posotif bagi pencapaian prestasi pembelajaran. Model

pembelajaran SAT sebagai bagian pembelajaran kooperatif dapat memberikan

pengalaman belajar bagi siswa untuk bekerja sama dengan siswa lainya dalam

memecahkan masalah. SAT sendiri memiliki kelebihan untuk diteliti. Antara lain

penerapan model pembelajaran dengan SAT relatif sederhana, demikian pula

dengan pola pelaksanaannya dan bahan media yang diperlukannya. Selain itu

diyakini bahwa setiap guru dapat mencoba untuk melakukan.

SAT memiliki efektivitas untuk dijadikan model pembelajaran karena

(14)

diberikan guru di amplop masing-masing. Ini memberikan pertanggungjawaban

kolektif kelompok dan tanggung jawab individual ketika proses tanya jawab dan

diskusi berlangsung. Hal ini tentu sangat sesuai dengan matapelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan yang memiliki karakteristik khusus seperti kemampuan

berargumen, menganalisa serta menyampaikan pendapat dalam kultur yang

demokratis.

Efektifitas lain dari model pembelajaran SAT adalah mendorong siswa

untuk membaca dan menganalisa setiap pertanyaan yang disajikan secara bergilir,

berputar searah jarum jam. Dengan membaca diharapkan siswa memperoleh

informasi untuk menjawab setiap pertanyaan yang selanjutnya akan disampaikan

dalam diskusi dan tanya jawab.

Perlu dipahami bahwa model pembelajaran SAT yang dilakukan oleh

Subaidi (2008) diterapkan pada kelompok jenjang SMA. Untuk penelitian

tindakan kelas saat ini dilakukan pada jenjang SMP pada mata pelajaran yang

sama. Dengan demikian, hasil yang diharapkan dapat diketahui apakah penerapan

model pembelajaran SAT akan menghasilkan efektifitas yang sama jika diterapkan

pada jenjang sekolah di bawahnya.

Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakuan penelitian tindakan kelas

(15)

1.2 Identifikasi Masalah

Dari analisis situasi di atas, dapat disimpulkan bahwa kondisi yang ada di

SMP Negeri I Kecamatan Wonosalam Kab. Jombang saat ini adalah sebagai

berikut:

1. Proses belajar mengajar berlangsung secara monoton

2. Model pembelajaran masih bersifat konvensional

3. Aktivitas siswa saat mengikuti PBM rendah

4. Perolehan belajar siswa rendah, yang ditunjukkan dengan banyaknya

nilai siswa yang tidak mencapai KKM.

1.3 Rumusan Masalah

Masalah dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan sebagai

berikut:

1. Apakah implementasi model pembelajaran sequential around table dapat meningkatakan aktivitas belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa

kelas IX SMPN I KecamatanWonosalam Kab. Jombang?

2. Apakah implementasi model pembelajaran sequential around table dapat meningkatakan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa

kelas IX SMPN I Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jomb

1.4 Hipotesis Tindakan

Adapun hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah

(16)

1. Implementasi model pembelajaran sequential around table dapat meningkatkan aktivitas belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa

kelas IX SMPN I Wonosalam Kab. Jombang

2. Implementasi model pembelajaran sequential around table dapat meningkatakan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa

kelas IX SMPN I Wonosalam Kab. Jombang

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:

1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada

siswa kelas IX SMPN I Kecamatan Wonosalam Kab. Jombang

2. Untuk meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada

siswa kelas IX SMPN I Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang

1.6 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

a. Siswa

1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar PKn pada siswa kelas IX SMPN I

Wonosalam Kab. Jombang

2. Untuk meningkatkan prestasi belajar PKn pada siswa kelas IX SMPN I

Wonosalam Kab. Jombang

b. Guru

Untuk menerapkan model pembelajaran, guna meningkatkan kualitas

(17)

Wonosalam, Kabupaten Jombang. Yakni dengan mengimplementasikan

model pembelajaran SAT.

c. Sekolah

Sebagai model pembelajaran alternatif dalam meningkatkan aktivitas dan

prestasi belajar PKn siswa di sekolah.

1.7 Definisi Istilah

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memaknai istilah-istilah

dalam penelitian tindakan kelas ini, maka perlu batasan definisi istilah, antara lain

sebagai berikut:

1. Implementasi

Implementasi diartikan sebagai penerapan dalam proses belajar mengajar. Dalam

hal ini menerapkan model pembelajaran SAT

2. Metode pembelajaran

Teknik atau cara yang digunakan dalam upaya untuk mencapai keberhasilan

dalam pembelajaran.

3. Squantial Around Table (SAT)

SAT adalah model pembelajaran dengan sebuah rangkain meja keliling.Yakni

sebuah proses pembelajaran siswa dalam kelompok-kelopok yang menempati

meja dan menerima tugas sesuai nomor serta dikerjakan berkelompok secara

(18)

4. Aktivitas belajar

Aktivitas belajar diartikan sebagai kegiatan, kesibukan, keaktifan dalam kegiatan

proses belajar, yang dijabarkan dengan bentuk keaktifan mendengarkan, menulis,

membuat, mendiskusikan, mendemonstarikan dan mengerjakan sesuatu.

5. Prestasi belajar

Prestasi belajar adalah perolehan hasil belajar berupa skor tes atau nilai pelajaran

yang menggambarkan adanya perkembangan pengetahuan dan keterampilan yang

(19)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Bab II yang menjadi landasan konseptual bagi penelitian ini membahas

beberapa konsep penting antara lain Pendidikan Kewarganegaraan (PKn),

Pembelajaran PKn, dan Model Pembelajaran SAT .

2.1 Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

2.1.1 Pengertian

Dalam persekolahan di negara kita, nama mata pelajaran PKn SMP/SMA

pernah muncul dalam kurikulum tahun 1957 dengan istilah Kewarganegaraan

yang merupakan bagian dari mata pelajaran Tata Negara. Kemudian, pada tahun

1961 muncul istilah Civics dalam kurikulum sekolah di Indonesia. Pada tahun

1968, mata pelajaran Civics berubah nama menjadi Pendidikan Kewarganegaraan

(PKn) atau Civic Education.

Dalam kurikulum 1975 nama mata pelajaran PKN berubah menjadi

Pendidikan Moral Pancasila (PMP), kemudian dalam kurikulum 1994 berubah

menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Selanjutnya, dalam

kurikulum tahun 2004 nama mata pelajaran PPKn berubah menjadi Pendidikan

Kewarganegaraan (PKn).

Para ahli memberikan definisi Civics dalam rumusan yang berbeda-beda, tetapi

pada dasarnya memiliki makna yang sama, yaitu bahwa Civics merupakan unsur

atau cabang keilmuan dari ilmu politik yang secara khusus terutama membahas

(20)

Dalam standar kompetensi kurikulum 2004, ditegaskan bahwa

“Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship Education)” adalah merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi

agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara

Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh Pancasila

dan UUD 1945.

Sedangkan dalam Encyclopedia of Educational Research dijelaskan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan dapat dibagi dua, yaitu dalam arti sempit dan dalam

arti luas. Dalam arti sempit, pendidikan kewarganegaraan membahas masalah hak

dan kewajiban. Sedangkan dalam arti luas, pendidikan kewarganegaraan

membahas masalah: moral, etika, sosial, serta berbagai aspek kehidupan ekonomi

(Suriakusumah, 1992). Sedangkan Turner dkk ( ...) , mengungkapkan bahwa

Civics merupakan suatu studi tentang hak-hak dan kewajiban dari warga negara.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa

pendidikan kewarganegaran merupakan pendidikan yang diarahkan pada

pembentukan karakter kepribadian warga negara yang mengandung

prinsip-prinsip hak-kewajiban sebagai warga negara serta diharapkan setiap individu

mampu menghargai perbedaan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Sementara Soemantri (2001:159) memberikan batasan terhadap

pendidikan kewarganegaraan, yang menyatakan bahwa, “ Pendidikan

Kewarganegaraan adalah seleksi dan adaptasi dari lintas disiplin ilmu-ilmu social.

(21)

diorganisasikan dan disajikan secara psikologis dan ilmiah untuk mencapai salah

satu tujuan IPS”.

Pendapat di atas lebih menekankan pada aspek pemahaman materi atau

sumber dan bahan dari Pendidikan kewarganegaraan. Sedangkan makna PKn

lebih luas dan lengkap dikemukakan oleh Djahiri (2002:91) sebagai berikut:

PPKn sebagai sebagai bagian pendidikan ilmu kewarganegaraan atau PKn dimanapun dan kapanpun sama/mirip, yakni program dan rekayasa pendidikan untuk membina dan membelajrkan anak menjadi warga Negara yang baik, iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki nasionalisme yang kuat/mantap, sadar serta mampu membina melaksanakan hak dan kewaiban dirinya sebagai manusia, warga masyarakat dan bangsa negaranya, taat asas ketentuan (rule of law), demokratis dan partisipatif, aktif,kreatif, positif dalam kebhinekaan kehidupan masyarakat, bangsa, Negara madani (civil Society) yang menjunjung tinggi hak asasi manusia serta kehidupan yang terbuka, mendunia (global) dan modern tanpa melupakan jati diri masyarakat bangsa dan negaranya.

Selanjutnya dari pengertian di atas, Djahiri (2005) menyatakan bahwa pada

hakekatnya pendidikan kewarganegaran (PKn) atau civic education adalah

program pendidikan pembeljaran yang secara progmatik procedural berupaya

memanusiakan (humanizing) dan memberdayakan (empowering) manusia anak didik (diri dan kehidupannya) menjadi warga negara yang baik dalam NKRI.

Sedangkan jika dikaitkan dengan pendapat Wahab (2001) PKn di

Indonesia adalah salah satu wahana tranformasi demokrasi, yang dalam

perkembangan mengalami perubahan. Sejalan dengan politik bangsa Indonesia,

implementasi pendidikan kewarganegaraan dalam pengajarannya menajamkan

pada penegasan makna yang mengandung pengetahuan,

keterampilan-keterampilan, nilai-nilai serta disposisi ideal sebagai warga negara.

Dalam pandangan yang berbeda, Mahoney (dalam Soemantri, 1972:8) yang

(22)

proses pembelajaran semua matapelajaran, kegiatan siswa, proses administrasi,

dan pembinaan dalam upaya mengembangkan prilkau warga negara yang baik.

Hal ini berbeda dengan Allen (dalam Ismadi, 2007) yang memaknai pendidikan

kewarganegaraan lebih luas, yakni sebagai produk dari keseluruhan program

pendidikan persekolahan dimana matapelajaran “civics” merupakan usur yang

paling utama dalam mengembangkan warga negara yang baik.

Sejalan dengan pendapat tersebut, “The National Caouncil for Social Studies” (dalam Ismadi, 2007) mengartikan pendidikan kewarganegaraan sebagai, “all positive influence coming from formal and informal education” atau segala macam dampak yang berasal dari pendidikan formal maupun non formal.

Hal tersebut semakin menegaskan bahwa pengertian pendidikan

kewarganegaraan tidak berkutat pada persoalan teoritik. Namun juga harus

merealisasikan pada kemampuan tanggung jawab setiap warga negara individual

dalam kehiduap barbagsa dan bernegara.

Dari pendapat di atas dapat ditarik pengertian bahwa pendidikan

kewarganegaraan adalah proses pembudayaan yang diimpelementasikan dalam

pembelajaran untuk menjadikan manusia Indonesia yang berkarakter siap

menghadapi perubahan tanpa meninggalkan ciri khas sebagai bangsa Indonesia.

Pendapat yang lain, saebagaimana dinyatakan, Azra (2010) pendidkan PKn

merupakan pendidikan yang mengkaji dan membahas tentang pemerintahan,

(23)

Zamroni (2010) mengartikan pendidikan kewarganegaraan sebagai

pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mempersiapkan warga masyarakat

berpikir kritis dan bertindak demokratis. Sedangkan menurut Merphin (2010)

pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk

mendidik generasi muda menjadi warganegara yang demokratis dan partisipatif

melalui suatu pendidikan yang dialogial.

Sementara Soedijarto (2010) mendifinisikan pendidikan kewarganegaraan

sebagai pendidikan politik yang bertujuan untuk membantu peserta didik untuk

menjadi warganegara yang secara politik dewasa dan ikut serta membangun

sistem politik yang demokratis.

Menurut Tim ICCE UIN Jakarta (2003) , pendidikan kewarganegaraan

adalah suatu proses yang dilakukan oleh lembaga pendidikan di mana seseorang

mempelajari orientasi, sikap dan perilaku politik sehingga yang bersangkutan

memiliki political knowledge, awareness, attitude, political efficacy dan political participation serta kemampuan mengambil keputusan politik secara rasional.

Menurut Civitas Internasional (1999.), Civic Education adalah pendidikan yang mencakup pemahaman dasar tentang cara kerja demokrasi dan

lembaga-lembaganya, pemahaman tentang rule of law, HAM, penguatan ketrampilan partisipatif yang demokratis, pengembangan budaya demokratis dan perdamaian.

Subtansi dari pengertian-pengertian PKn memberikan suatu pemaknaan

bahwa PKn bermakna proses pendidikan yang mengedepankan nilai, karakter baik

(24)

negara seutuhnya, yakni memiliki karakter kebangsaan yang khas serta

berkepribadian baik.

2.1.2 Tujuan dan Fungsi

Tujuan PKn tidak bisa dipisahkan dari fungsi mata pelajaran PKn karena

keduanya saling berkaitan, di mana tujuan menunjukkan dunia cita, yakni suasana

ideal yang harus dijelmakan, sedangkan fungsi adalah pelaksanaan-pelaksanaan

dari tujuan yang hendak dicapai. Oleh karena itu, fungsi menunjukkan keadaan

gerak, aktivitas dan termasuk dalam suasana kenyataan, dan bersifat riil dan

konkret.

Tujuan Pkn sebagaimana dikemukakan oleh Djahiri (2009) adalah

memanusiakan (humanizing) dan membudyakan (civilizing) serta memberdayakan (empowering) manusia/anak didik (diri dan kehidupannya) menjadi warga negara yang baik sebagaimana tuntutan keharusan/yuridis konstitusional bangsa/negara

melalui program pendidikan/pembelajaran yang secara programatik-prosedural.

Selanjutnya fungsi PKn memiliki keterkaitan dengan visi dan misi mata

pelajaran PKn. Mata pelajaran PKn memiliki visi, yaitu "terwujudnya suatu mata

pelajaran yang berfungsi sebagai sarana pembinaan watak bangsa (nation and character building). Upaya pembinaan watak/karakter bangsa merupakan ciri khas dan sekaligus amanah yang diemban oleh mata pelajaran PKn atau Civic Education pada umumnya.

Sedangkan misi mata pelajaran PKn, yaitu "membentuk warga negara yang

baik, yakni warga negara yang sanggup melaksanakan hak dan kewajibannya

(25)

dan kesadaran moral". Untuk mewujudkan misi di atas, jelas bahwa peserta didik

harus memiliki kemampuan kewarganegaraan yang multidimensional agar dapat

menjalankan hak dan kewajibannya dalam berbagai aspek kehidupan.

Sementara itu, mata pelajaran PKn berfungsi sebagai wahana untuk

membentuk warga negara cerdas, terampil, dan berkarakter yang setia kepada

bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan

berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.

Hal ini ditegaskan dalam Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang

Standar Isi bahwa Mata pelajaran Pkn mengandung fungsi dan tujuan agar peserta

didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

a. Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menganggap isu

kewarganegaraan;

b. Berpartisipasi secara dan bertanggungjawab, dan bertindak secara cerdas dalam

kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti korupsi;

c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan

karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa

lainnya;

d. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung

atau tidak langsung dengan memfaatkan teknologi informasi dan komunikasi

Sehingga dari uraian di atas dapat dirumuskan bahwa fungsi PKn jika

dihubungkan dengan dimensi keilmuan PKn maka fungsi PKn tersebut dapat

dikelompokkan menjadi:

(26)

2. Fungsi PKn dalam membina keterampilan peserta didik;

3. Fungsi PKn dalam membina watak/karakter peserta didik.

Melalui mata pelajaran PKn diharapkan peserta didik bukan hanya memiliki

pengetahuan yang luas tentang materi pokok PKn yang meliputi politik, hukum,

dan moral (pengetahuan kewarganegaraan), tetapi juga memiliki keterampilan

dalam merespon berbagai persoalan politik, hukum, moral, dan terampil

menggunakan hak dan kewajibannya di bidang politik, hukum, dan moral

(keterampilan kewarganegaraan). Selain itu, melalui PKn diharapkan peserta didik

memiliki sikap, rasa tanggung jawab dan hormat terhadap peraturan yang berlaku

(watak kewarganegaraan)

Secara keseluruhan dapat ditaraik sebuah kesimpulan bahwa tujuan serta

fungsi pendidikan kewarganegaraan adalah untuk membentuk warga negara yang

berfikir, bersikap, bertindak, berkembang dan berinteraksi dengan cerdas, kritis

analistis, berpartisi aktif dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri, lingkungan

masyarakat, berbangsa, bernegara dan berkehidupan dunia yang bersmangat,

bergelora dan mewujudkan sikap demokratis dalam bernegara Indonesia yang

releigius, adil, beradab.

Dengan demikian fokus dan target utama dari pembelajaran PKn adalah

pembekalan pengetahuan, pembinaan sikap prilaku, dan pelatihan keterampilan

sebagai warga negara demokrasi, taat hukum dan taat asas dalam kehidupan

(27)

2.1.3 Ruang Lingkup

Sejalan dengan seringnya perubahan nama atau label mata pelajaran PKn

dari masa ke masa maka ruang lingkup materi PKn pun mengalami perubahan

sejalan dengan dinamika dan kepentingan politik. Dalam kurikulum 1957, isi

pelajaran Kewarganegaraan membahas cara-cara memperoleh kewarganegaraan

dan cara-cara kehilangan kewarganegaraan Indonesia; sedangkan isi materi mata

pelajaran Civics pada tahun 1961 adalah sejarah kebangkitan nasional, UUD,

pidato politik kenegaraan, yang terutama diarahkan untuk “nations and character building” bangsa Indonesia. Dalam kurikulum 1968, muatan bahan PKN (Civic Education) sangat luas, karena bukan hanya membahas Civics dan UUD 1945, tetapi meliputi pula muatan sejarah kebangsaan Indonesia dan bahkan di Sekolah

Dasar mencakup ilmu bumi.

Dilihat dari struktur keilmuannya, Pendidikan Kewarganegaraan

paradigma baru mencakup tiga dimensi keilmuan, yaitu dimensi pengetahuan

kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan kewarganegaraan (civic skills), dan karakter atau watak kewarganegaraan (civic dispositions).

Selanjutnya, dalam standar kompetensi kurikulum PKn 2004 diuraikan

bahwa ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ditekankan

pada bidang kajian Sistem Berbangsa dan Bernegara dengan aspek-aspeknya

sebagai berikut: Persatuan dan Kesatuan Bangsa yang meliputi hidup rukun dalam

perbedaan, cinta lingkungan, bangga sebagai bangsa Indonesia; Sumpah Pemuda;

(28)

Negara; Sikap Positif terhadap Negara Kesatuan RI; Keterbukaan dan Jaminan

Keadilan. Aspek-aspek tersebut selanjutnya dijabarkan seperti di bawah ini:

a. Norma, hukum dan peraturan, meliputi: tertib dalam kehidupan keluarga,

tata tertib di sekolah, norma yang berlaku di masyarakat, perauran

peraturan daerah, norma-norma dalam kehidupan berbagsa dan bernegara,

sitem hokum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan internasional;

b. Hak asasi manusia meliputi: hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban

anggota masayarkat, instrumen nasional dan internasional HAM, pemajuan,

penghormatan dan perlindungan HAM;

c. Kebutuhan warga negara meliputi: hidup gotong royong, harga diri sebagai

warga masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan

pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasi diri, persamaan

keududukan warga negara;

d. Konstitusi negara meliputi: proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang

pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia,

hubungan dasar negara dengan konstitusi;

e. Kekuasaan dan politik, meliputi: pemerintahan desa dan kecamatan,

pemerintahan daerah dan otonom, pemerintahan pusat, demokrasi dan

system politik, budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat

madani, sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat demokrasi ;

f. Pancasila meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan idiologi

(29)

nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai

idiologi terbuka;

g. Globalisasi meliputi: globalisasi di lingkungannya, politik luar negeri di era

globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional, dan

mengevaluasi globalisasi.

Sedangkan menurut pandangan Suryadi dan Somardi (2000) sistem

kehidupan bernegara (sebagai bidang kajian ruang lingkup PKn) merupakan

struktur dasar bagi pengembangan pendidikan kewarganegaraan. Konsep negara

tersebut didekati dari sudut pandang sistem, di mana komponen-komponen dasar

sistem tata kehidupan bernegara terdiri atas sistem personal, sistem kelembagaan,

sistem normatif, sistem kewilayahan, dan sistem ideologis sebagai faktor

integratif bagi seluruh komponen.

Sementara dalam konteks ruang lingkup materi PKn (Civics) menurut

Hanna dan Lee (dalam Budimansyah, 2008) meliputi berikut ini: informal content; formal disciplines; dan the response of pupils both to the informal and the formal studies.

Materi informal content merupakan bahan-bahan yang diambil dari kehidupan masyarakat sehari-hari yang ada di sekitar kehidupan siswa, yang

meliputi berikut ini: bahan-bahan yang saling bertentangan (controversial issues); masalah yang sedang hangat dibicarakan dalam kehidupan masyarakat (current

(30)

Secara implisit, Djahiri (1990) hakekat isi pesan program PKN yang utama

harus memuat antara lain:

a. Insan dan kehidupan relgius imtaq dalam semua gatra kehidupan;

b. Melek politik-hukum tahu/faham hal ihwal keharusan berkehdiupan

berbangsa-bernegara baik secara konstitusional maupun secara

praktis/nyatanya (kemarin-kini dan esok hari), tatanan dan kehidupan

politik-hukum dan masyarakat Indonesia;

c. Insan dan kehidupan demokratis yang lawfulness dalam NKRI/Pancasila/ berbudaya Indonesia;

d. Insan dan kehidupan yang cerdas, damai dan sejahtera;

e. Insan dan kehidupan yang cinta bangsa negara, patriotik: cinta dan bela

bangsa negara (hak daulat dan martabat bgs negara);

f. Pergaulan dunia/antarbangsa yang setara dan damai.

2.1.4 Standar Kompetensi

Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini, standar kompetensi yang

digunakan adalah standar kompetensi nomor 1 yakni, menampilkan partisipasi

dalam usaha pembelaan negara yang terinci dalam tabel di bawah ini:

(31)

1.2 Mengidentifikasi

bentuk-bentuk usaha

bela negara

1.3 Peran serta dalam usaha

pembelaan negara

Bentuk-bentuk usaha

pembelaan negara

Identifikasi ancaman

terhadap bangsa dan

negara, peran serta

dalam menghadapi

ancaman terhadap

bangsa dan negara

2.2 Pembelajaran PKn

2.2.1 Aktivitas Pembelajaran PKn

Menurut Subaidi (2008) aktivitas diartikan sebagai kegiatan, kesibukan,

kektifan kerja atau suatu kegiatan kerja yang dilaksanakan. Dengan demikian

aktivitas dapat dipahami sebagai kegiatan yang dapat diamati, beaik secara

langsung atau tidak langsung.

Aktivitas dapat dikembangakan dengan memberikan dorongan berupa

pencipataan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik lebih

dominan untuk aktif serta mengekloitasi kemampuan dirinya secara maksinal.

Aktifitas, dari kata dasar aktif dapar dijabarkan dengan bentuk keaktifan

mendengarkan, menulis, membuat sesuatu, mendiskusikan, mendemonstarikan

(32)

Sedangkan belajar oleh Sumartini (2001:13) dimaknai sebagai suatu proses

perubahan tingkah laku atau kecakapan manusia berkat adanya interaksi antara

individu, individu dengan kelompok atau individu dengan lingkungannya,

sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya.

Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan formal atau nonformal. Ini

berarti belajar dapat dilakukan dimana saja. Asal memenuhi prinsip-prinsip

belajar. Sehingga dapat ditarik suatu pemhaman, aktifitas belajar merupakan

kegiatan aktif peserta didik untuk mengoptimlakan dirinya secara langsung atau

tidak langsung dalam kegiatan proses belajar mengajar.

Siswa dinyatakan aktif belajar manakala peserta didik memiliki ciri-ciri

aktif mental dan aktif fisik. Oleh Depdiknas (2003:85) aktivitas tersebut

dikelompokkan dalam tiga aspek, yaitu:

a. Aspek aktivitas oral meliputi: bertanya, menyanggah, memotong pembicaraan,

berpendapat, dan member saran;

b. Aspek aktivitas mental meliputi: menanggapi, menerima saran, menjawab

pertanyaan, mengingat, menganalisa, dan mengambil keputusan;

c. Aspek aktivitas emosi meliputi: hadir, berani, bersemangat, tidak.

Pada umumya aktivitas-aktivitas tersebut akan tampak ketika proses belajar

mengajar berlangsung.

Sedangkan Aktifitas pembelajaran PKn, sama halnya dengan proses

pembelajaran lainnya, senantiasa memperhatikan perkembangan akatifitas apa

saja yang tampak . Dalam proses aktifitas pembelajaran PKn senantiasa berupaya

(33)

Keaktifan seorang siswa dapat terlihat beberapa hal, oleh Indrawati (2009)

tampak pada apa yang siswa lakukan seperti : menulis, berdiskusi Ide/gagasan

yang berbeda, berdebat Memecahkan masalah masalah yang “benar” atau

“terbaik” mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan pemecahan masalah

menjelaskan, menganalisis, mensintesa serta mengevaluasi.

2.2.2 Prestasi Belajar PKn

2.2.2.1 Belajar

Pengertian belajar mengajar menurut beberapa ahli terdapat perbedaan,

akan tetapi perbedaan-perbedaan tersebut tidak terlalu prinsip. Dari beberapa

pendapat ahli tersebut tedapat pula persamaan-persamaan serta sejalan sasarannya.

Menurut Winkel (1987: 15) pengertian belajar adalah “ suatu proses

mental yang mengarah pada suatu penguasaan pengetahuan, kecakapan, kebiasaan

atau sikap yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilaksanakan sehingga

menimbulkan tingkah laku progresi dan adaptif.

Perubahan tingkah laku yang diperoleh dari proses belajar tersebut sebagai

hasil belajar. Hasil belajar dimanifestasikan dalam perubahan tingkah laku

meliputi 3 ( tiga ) aspek, yaitu :

1. Aspek pengetahuan ( knowledge ) yaitu dari tidak tahu menjadi mengetahui,

dari tidak mengerti menjadi mengerti.

2. Aspek ketrampilan ( psikomotor ) yaitu dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak

trampil menjadi trampil.

3. Aspek sikap ( afektif ) yaitu dari ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan

(34)

Hilgrad yang dikutip oleh Pasaribu ( 1983 ) berpendapat bahwa Learning in the process by wich an activity oreginities or is changed trough responding to a situation provided the changed can not be attributed to growth or the temporary sate of the oganisme as in fatique or under druges. Artinya belajar adalah suatu proses kegiatan yang menghasilkan aktivitas baru atau perubahan kegiatan karena

reaksi lingkungan. Perubahan itu tidak dapat disebut belajar apabila disebabkan

oleh perubahan atau kesadaran sementara orang tersebut karena kelelahan atau

karena obat-obatan, sehingga orang tersebut tidak sadar terhadap keadaan dirinya.

Perubahan yang dimaksud adalah perubahan pengetahuan, kecakapan dan tingkah

laku. Perubahan ini diperoleh dengan latihan dan penglaman bukan perubahan

dengan sendirinya.

Menurut Hamalik (2001 ) belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan

dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi

lebih luas daripada hal itu, yaitu mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasan

hasil latihan, melainkan pengubahan kelakuan.

Masalah pokok yang dihadapi dalam belajar adalah bahwa proses belajar

tidak dapat diamati secara langsung dan kesulitan untuk menentukan kepada

terjadinya perubahan tingkah laku belajarnya. Untuk dapat mengamati terjadinya

perubahan tingkah laku tersebut hanya dapat diketahui bila telah mengadakan

penilaian. Itulah sebabnya pengendalian dan pengontrolan proses belajar dapat

dilakukan bila proses belajar tersebut direncanakan dalam desain sistem belajar

(35)

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah

proses perubahan tingkah laku yang dilakukan scra sadar, baik itu perubahan

pengethuan, kecakapan, dan ketrampilan, dan perubahan tersebut dilakukan secara

ber-kesinambungan.

Untuk melengkapi pandangan tersebut, Hamalik (1982: 28)

mengemukakan bahwa “belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan dalam diri

seseorang yang dinyatakan dalam bertinkah laku berkat pengalaman dan latihan”.

Sehingga dapat ditarik suatu pemahaman bahwa belajar merupakan upaya

perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian proses kegiatan,

misal membaca, mengamati atau mengerjakan sesuatu yang searah dengan

pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Belajar merupakan suatu proses perubahan

tingkah laku yang terjadi alam diri seseorang karena suatu usaha yang telah

dilakukan dan usaha itu dilakukan dengan sengaja.

2.2.2.2 Prestasi Belajar

Secara harfiah prestasi menurut Poerwadarminta (1983: 768) diartikan

“sebagai hasil yang dicapai ( dilakukan , dikerjakan) dan belajar adalah berusaha

berlatih supaya mendapat sesuatu kedamaian”.

Dalam Ensiklopedia ( 1971 ), prestasi merupakan kata yang berdiri sendiri yang

berarti produksi yang dicapai oleh tenaga atau daya kerja seseorang dalam kurun

waktu tertentu.

Pendapat lain disampaikan oleh Woodworth ( 1951 ) mengatkan bahwa

(36)

of test. Artinya prestasi menunjukkan suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan menggunakan tes.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi

merupakan hasil kerja seseorang yang dapat dilihat secara nyata oleh orang lain

dan hasil kerja tersebut dapat diukur secara langsung dengan tes.

Berkaitan dengan presasi belajar, belajar akan lebih mudah dan dapat dirasakan

bila belajar tersebut mengetahui hasil yang diperoleh. Kalau belajar berarti

perubahan-perubahan yang terjadi pada individu, maka perubahan-perubahan itu

harus dapat diamati dan dinilai. Hasil dari pengamatan dan penilaian inilah

umumnya diwujudkan dalam bentuk prestasi belajar.

Dalam pemahaman yang sama, prestasi belajar menurut Sumartono

(dalam Sardiman,1990) dimaknai dengan suatu nilai yang menunjukkan hasil

belajar yang tertinggi dalam belajar yang dicapai menurut kemampuan anak

dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu. Lazimnya ditunjukkan dengan nilai

tes yang diberikan oleh guru sebagai hasil.

Selanjutnya Hamalik ( 2002 ) mengatakan bahwa hasil belajar adalah

perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman.

belajar.

Dalam penelitian ini, prestasi belajar sebagaimana dengan pendapat Good,

Carter (1957 : 7) adalah skor tes atau nilai pelajaran di sekolah yang

menggambarkan adanya perkembangan pengetahuan dan keterampilan yang

diperoleh siswa. Secara jelas prestasi belajar tergambarkan dengan nilai hasil

(37)

Pemaham tersebut mengantarkan pada suatu pemaknaan, bahwa prestasi

belajar dapat dicermati dari pertambahan pemahaman terhadap sesuatu yang

tergambar secara kuantitatif berupa nilai belajar.

Berkaitan dengan prestasi belajar, belajar akan lebih mudah dan dapat

dirasakan bila belajar tersebut mengetahui hasil yang diperoleh. Kalau belajar

berarti perubahan yang terjadi pada individu, maka

perubahan-perubahan itu harus dapat diamati dan dinilai. Hasil dari pengamatan dan

penilaian inilah umumnya diwujudkan dalam bentuk prestasi belajar.

Menurut Gagne yang dikutip oleh Badawi ( 1987 ) mengatakan bahwa

hasil belajar dapat diukur dengan menggunakan tes karena hasil belajar berupa

ketrampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, ketrampilan, nilai dan

sikap.

1qqDengan demikian, diperoleh suatu kesimpulan untuk mengukur tingkat

prestasi siswa dapat diukur dari hasil berupa data kuantitatif, yang diperoleh

melalui sebuah tes.

Secara umum yang mempengaruhi prestasi belajar dapat diklasifikasikan menjadi

2 (dua) yakni:

a. Faktor intern

Faktor intern terbagi atas faktor fisik dan psikis. Faktor fisik akan

memberikan pengaruh yang baik manakala semua alat indera dapat berfungsi

secara normal dalam menangkap pesan dan kesan. Sedangkan faktor psikis, oleh

(38)

kognitif” Faktor kognitif ini meliputi hasrat, motivasi, konsentarsi,perasaan, sikap

dan minat.

Untuk itu perlu menstimulasi dorongan dalam diri siswa dari dirinya

sendiri, misalnya minat. Karena dapat dinyatkan minat memegang peranan

penting dalam belajar. Adanya kemauan atau minat dalam diri siswa dapat

membawa kearah giat dalam belajar.

b. Faktor ekstern

Faktor ekstern (diluar) diri siswa dibedakan menjadi dua, yaitu faktor

sosial dan faktor non sosial. Antara lain meliputi sarana prasarana, suasana

sekolah, kurikulum, pengelompokan siswa, dan metode pembelajaran.

Dari salah satu uraian di atas memberikan makna bahwa pengelompokan

dan pemilihan metode pembelajaran menjadi sesuatu yang penting dalam

membangun minat dan memberikan pengaruh yang baik dalam pencapaian

prestasi belajar siswa.

Hasil belajar menurut Gagne adalah kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat dari perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa (learner

performance).

Secara umum Reigeluth (1983:20) mengatakan bahwa hasil belajar dapat dikategorikan menjadi tiga indikator, yaitu :

a. Efektivitas pembelajaran yang biasanya diukur dari tingkat keberhasilan

(prestasi) siswa dari berbagai sudut;

b. Efisiensi pembelajaran, yang biasanya diukur dari waktu belajar dan/atau biaya

(39)

c. Daya tarik pembelajaran yang selalu diukur dari tendensi siswa ingin belajar

secara terus menerus.

Secara spesifik Ibrahim (2005) mengatakan bahwa hasil belajar adalah suatu kinerja (performance) yang diindikasikan sebagai suatu kapabilitas

(kemampuan) yang telah diperoleh.

Dari uraian beberapa pendapat di atas dapat dimaknai bahwa prestasi

belajar merupakan bagian dari maksimalnya aktivitas belajar yang kemudian

terukur dari hasil belajar yang diperoleh siswa. Hal ini menandakan bahwa

aktivitas belajar yang baik akan memberikan kontribusi yang baik bagi perolehan

belajar. Untuk itu diperlukan sebuah model pembelajaran yang tepat, agar mampu

menarik siswa dalam peran aktifnya dalam proses pembelajaran.

2.2.3 Model Pembelajaran PKn

Menurut rambu-rambu pembelajaran PKn dalam Kurikulum 2004,

ditegaskan bahwa pembelajaran dalam mata pelajaran Kewarganegaraan

merupakan proses dan upaya membelajarkan dengan menggunakan pendekatan

belajar kontekstual (CTL) untuk mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan,

keterampilan, dan karakter warga negara Indonesia. Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong

siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Terdapat 7 komponen CTL,

yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan,

(40)

Budimansyah (2007) mengemukakan PKn dikenal suatu model

pembelajaran, yaitu model VCT (Value Clarification Technique/Teknik

Pengungkapan Nilai), yaitu suatu teknik belajar-mengajar yang membina sikap

atau nilai moral (aspek afektif). VCT dianggap cocok digunakan dalam

pembelajaran PKn yang mengutamakan pembinaan aspek afektif. Pola

pembelajaran VCT dianggap unggul untuk pembelajaran afektif karena pertama,

mampu membina dan mempribadikan (personalisasi) nilai-moral. Kedua, mampu

mengklarifikasi dan mengungkapkan isi pesan nilai-moral yang disampaikan.

Ketiga, mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai-moral diri siswa dalam

kehidupan nyata. Keempat, mampu mengundang, melibatkan, membina dan

mengembangkan potensi diri siswa terutama potensi afektualnya. Kelima, mampu

memberikan pengalaman belajar berbagai kehidupan. Keenam, mampu

menangkal, meniadakan, mengintervensi dan menyubversi berbagai nilai-moral

naif yang ada dalam sistem nilai dan moral yang ada dalam diri seseorang.

Ketujuh, menuntun dan memotivasi hidup layak dan bermoral tinggi.

Namun demikian, dalam penelitian ini, model pembelajaran SAT menjadi

bagian alternative untuk memperkaya model-model pembelajaran yang

sebelumnya. Ini tentu relevan jika dicermati karakteristik dari matapelajaran

Pendidikan kewarganegaran yang mendidik dan melatih siswa berargumentasi,

bekerjasama serta berdiskusi sebagai bagian substansi nilai demokrasi.

2.3 Model Pembelajaran SAT

(41)

Mills (1989:4) berpendapat bahwa :“model adalah bentuk reprensentasi

akurat, sebagai proses aktual yang memungkinkan sese-orang atau sekelompok

orang mencoba bertindak berdasarkan model itu”. Pengertian model

pembelajaran, merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori

psikologi pendidikan dan belajar, yang dirancang ber-dasarkan proses analisis

yang diarahkan pada implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat

operasional di depan kelas (Kuswara; presentasi )

Model pembelajaran sequential around table (SAT) sebelumnya pernah

diaplikasikan dalam penelitian tindakan kelas pada tingkat SMA di Kabupaten

Sampang oleh Subaidi M.Pd. Hal tersebut sebagai implementasi workshop

strategi pembelajaran pada tahun 2008. Penelitian tindakan kelas ini merupakan

bagian dari mencoba dari penelitian sebelumya.

Model pembelajaran SAT dapat dikelompokkan dalam pembelajaran

cooperative learning , yang memiliki ciri umum yaitu adanya keterlibatan individu dalam kelompok, kerja sama antar individu dan dimungkinkan adanya

aktivitas siswa yang tinggi dalam pembelajaran.

Sequential Around Table atau yang dikenal dengan model pembelajaran SAT, secara harfiah dalam Kamus Bahasa Inggris, oleh Jonh M. Echols dan Hasan

Shadily (1996) bahwa Sequential artinya rangkaian, rentetan, Around berarti keliling dan Table, artinya meja. Sehingga SAT adalah sebuah rangkaian meja

keliling atau jika dimaknai sebagai sebuah odel pembelajaran dengan sebuah

rangkain meja keliling. Maksudnya adalah dalam pelaksanaan proses

(42)

disedian oleh guru dan menerima tugas sesuai nomor serta dikerjakan secara

berkelompok dan bergilir.

2.3.2 Manfaat Model Pembelajaran SAT

Sebagai sebuah model pengajaran, pembelajaran kooperatif mendukung

pendekatan umum ini: Setelah menerima pengajaran dari fasilitator, kelas-kelas

diatur ke dalam kelompok-kelompok kecil dan memberikan petunjuk yang jelas

berkenaan dengan harapan-harapan tentang hasil-hasil dan saran-saran mengenai

proses-proses kelompok. Kelompok-kelompok kecil ini kemudian bekerja melalui tugas hingga semua kelompok berhasil memahami dan menyelesaikan tugas tersebut (Johnson & Johnson, 1989).

Pembelajaran kooperatif, salah satunya SAT oleh Fatirul ( 2009) dapat

diterapkan untuk hampir semua tugas dalam berbagai kurikulum untuk segala

usia pebelajar. Selanjutnya, untuk memberikan sebuah cara bagi para

pebelajar dalam menguasai bahan pengajaran, SAT sebagai bagian dari

pembelajaran kooperatif mencoba untuk membuat masing-masing anggota

kelompok menjadi individu yang lebih kuat dengan mengajarkan mereka

keterampilan-keterampilan dalam konteks sosial. Sebagian besar daya

tarik pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran kooperatif ini

memberikan sebuah cara bagi para pebelajar untuk mempelajari

keterampilan hidup antarpribadi yang penting dan mengembangkan

kemampuan untuk bekerja secara kolaboratif perilaku-perilaku yang secara

khusus diinginkan dalam sebuah era ketika sebagian besar organisasi mendukung

(43)

Diyakini bahwa pembelalajarn dengan memanfaatkan model

pembelajaran cooperative learnig dalam hal ini juga SAT, membuktikan bahwa

cooperative learning memiliki dampak yang amat positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya (Tanwwey Gerson Ratumanan, 2002:108). Menurut

Lundgren (dalam Ratumanan, 2002), manfaat cooperative learning untuk siswa yang ahsil belajarnya rendah antara lain dapat meningkatkan hasil belajar dan

dimungkinkan terjadinya retensi atau penyimpangan materi pelajaran dalam

waktu yang lebih lama.

Dampak positif cooperative learning juga diakui oleh Arends dan Tanwey Gerson Ratumanan (2002:110) karena dapat mengembangkan prestasi akademik,

penerimaan keanekaragaman, dan pengembangan ketrampilan sosial. Selain itu,

dapat digunakan pada semua jenjang pendidikan mulai dari Taman Kanak-Kanak

sampai ke perguruan Tinggi dan dalam semua materi (Johnson dan johnson,

1994:4).

Karena itu, sangat beralasan jika Slavin (1995:4) menyatakan bahwa

cooperative learning telah digunakan secara intensif dalam setiap subjek

pendidikan pada semua jenjang pendidikan dan pada semua jenis persekolahan di

berbagai belahan dunia.

Lousell dan Descamps (1992:96) menunjukkan empat kelebihan cooperative learning sebagai berikut: (1) meningkatkan pencapaian akademik melalui kolaborasi kelompok; (2) memperbaiki relasi antar peserta didik dari

(44)

ketrampilan-ketrampilan problem-solving kelompok; dan (4) memperkuat proses demokrasi

dalam kelas.

Menurut Hill dan Hill (1993:1-6) ada sembolan kelebihan cooperative learning; (1) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa; (2) memperdalam pemahaman siswa; (3) menyenangkan siswa; (4) mengembangkan sikap

kepemimpinan; (5) mengembangkan sikap positif siswa; (6) mengmbangkan sikap

menghargai diri sendiri; (7) membuat belajar secara efektif; (8) menngembangkan

rasa saling memiliki; dan (9) mengembangkan ketrampilan untuk masa depan.

Dari sembilan kelebihan tersebut Hill dan Hill menempatkan prestasi belajar

siswa pada urutan pertama.

Cooperative learning sering pula disebut sebagai metode gotong royong dilakukan melalui kerjasama antara beberapa orang siswa atau antara kelompok

untuk menyelesaikan masalah tertentu. Dalam proses kerja sama atau gotong

royong, siswa dapat saling mengisi dan bertukar pikiran secara aktif sehingga

dapat memberikan banyak manfaat seperti (1) mendorong siswa belajar, bekerja

dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas, baik tugas individu maupun

tugas kelompok; (2) menumbuh kembangkan sikap dan perilaku demokratis dan

saling ketergantungan secara positif; dan (3) mendorong siswa yang pendiam atau

pasif untuk lkut berperan secara aktif (Dyah Sriwilujeng dan Ari Pudjiastuti,

2004:11).

Bila dibandingkan dengan pembelajaran yang masih bersifat konvensional

pembelajaran kooperatif ini memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan

(45)

siswa agar mengemukakan dan membahas suatu pandangan, pengalaman, yang

diperoleh siswa belajar secara bekerja sama dalam merumuskan ke arah satu

pandangan kelompok (Cilibert-Macmilan, 1993).

Dengan melaksanakan model pembelajaran cooperative learning. siswa memungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar, di samping itu juga bisa

melatih siswa untuk memiliki keterampilan, baik keterampilan berpikir (thinking

skill) maupun keterampilan sosial (social skill) seperti keterampilan untuk mengemukakan pendapat, menerima saran dan masukan dari orang lain,

bekerjasama, rasa setia kawan, dan mengurangi timbulnya perilaku yang

menyimpang dalam kehidupan kelas (Stahl,1994). Model pembelajaran ini

memungkinkan siswa untuk mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan

keterampilan secara penuh dalam suasana belajar yang terbuka dan demokratis.

Siswa bukan lagi sebagai objek pembelajaran namun bisa juga berperan sebagai

tutor bagi teman sebayanya.

Selanjutnya menurut Sharan (1990), siswa yang belajar dengan

mengunakan metode pembelajaran koperatif akan memiliki motivasi yang tinggi

karena didorong dan didukung dari rekan sebaya. Cooperative learning juga menghasilkan peningkatan kemampuan akademik, meningkatkan kemampuan

berpikir kritis, membentuk hubungan persahabatan, menimba berbagai informasi,

belajar menggunakan sopan-santun, rneningkatkan motivasi siswa memperbaiki

sikap terhadap sekolah dan belajar mengurangi tingkah laku yang kurang baik,

serta membantu siswa dalam menghargai pokok pikran orang lain (Johnson,

(46)

Stahl et.al (1994), mengemukakan bahwa melalui model cooperative learning siswa dapat memperoleh pengetahuan, kecakapan sebagai pertimbangan untuk berpikir dan menentukan serta berbuat dan berpartisipasi sosial. Selanjutnya

Zaltman et.al ( 1972) mengemukakan bahwa siswa yang bersama-sama bekerja

dalam kelompok akan menimbulkan persahabatan yang akrab, yang terbentuk

dikalangan siswa. ternyara sangat berpengaruh pada tingkah laku atau kegiatan

masing-masing secara individual Kerjasama antar siswa dalam kegiatan belajar

menurut Menurut Santos (1983) dapat memberikan berbagai pengalaman.

Mereka lebih banyak mendapatkan kesempatan berbicara, inisiatif,

menentukan pilihan dan secara umum mengembangkan kebiasaan yang baik

Selanjutnya Jarolimek & Parker (1993) mengarakan kelebihan yang diperoleh

dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut : 1) Saling ketergantungan yang

positif; 2). Adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu; 3) Siswa

dilibatkan daiam perencanaan dan pengelolaan kelas; 4) Suasana kelas yang rileks

dan menyenanakan; 5 Terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara

siswa dengan guru; dan 6) Memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan

pengalaman emosi yang menyenangkan.

Selain memiliki kelebihan, cooperative learning juga tidak luput dari

kelemahan yakni: (1) membutuhkan waktu yang lama bagi siswa untuk

menyelesaikan tugas dan prestasi; (2) guru harus meluangkan waktu yang lebih

lama untuk membuat persiapan; (3) guru harus memiliki jiwa demokratis dan

ketrampilan yang memadai dalam hal pengelolaan kelas; (4) menuntut sifat

(47)

masalah; dan (5) suasana kelas menjadi “gaduh” sehingga dapat mengganggu

kelas lain.

Oleh Zainal (2009) kekuranga lain bersumber pada dua faktor yaitu

faktor dari dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern). Faktor dari dalam yaitu

sebagai berikut: 1) Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang,

disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikran dan waktu; 2) Agar

proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas,

alat dan biaya yang cukup memadai; 3) Selama kegiatan diskusi kelompok

berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas.

Sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan; 4) Saat

diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan siswa

yang lain menjadi pasip. Faktor dari luar erat kaitannya dengan kebijakan

pemerintah yaitu, pelaksanaan tes yang terpusat seperti UN/UNAS sehingga

kegiatan belajar mengajar di kelas cenderung dipersiapkan untuk keberhasilan

perolehan UN/UNAS.

Semua model, metode, strategi pengajaran dan pembelajaran pada

prinsipnya baik, dan semuanya itu tergantung bagaimana guru mampu mengelola

proses pelaksanaannya. Dan masing-masing itu juga memilih kelebihan dan

kekurangannya. Namun semua sangat tergantung kepada pemahaman dan

keterampilan guru dalam pelaksanaannya.

Apabila guru telah berperan baik sebagai fasilitator, motivator., dan

evaluator yang tepat, maka kelemahan yang ditemukan dalam model cooperative

(48)

suasana kelas yang kondusif agar pembelajaran dengan mengunakan model ini

dapat dilaksanakan sesuai dengan

Ditinjau dari aspek kelebihan atau kelemahan, model pembelajaran

cooperative learning dalam hal ini model pembelajaran SAT, masih dalam batas

toleransi tetap memberikan keuntungan kemanfaatan. Terutama dalam

meningkatkan prestasi belajar siswa. Sehingga upaya yang harus dilakukan adalah

memperkecil dampak kelemahan dalam menerapkan model pembelajaran SAT.

2.3.3 Implementasi Model Pembelajaran SAT

Sebagaimana narasi langkah-langkah model dalam pembelajaran lain,

model pembelajaran SAT memiliki langkah-langkah yang harus dipenuhi,

sebagaimana oleh Hartono (2008) SAT memiliki langkah-langkah sebagai

berikut:

1. Sediakan amplop ejumlah kelompok (menyesuaikan dengan jumlah siswa

dalam kelas) jika ada 5 kelompok maka ada 5 amplop;

2. Dalam amplop masukkan kertas kosong sejumlah kelompok;

3. Halam depan amplop ditulis soal atau masalah sesuai SK dan KD;

4. Berikan masing-masing amplop tersebut pada tiap-tiap kelompok yang telah

menempati mejanya masing-masing (anggota kelompok berkisar 4-5 siswa

yang diplih secara acak/hiterogen);

5. Tiap kelompok mengerjakan tugas dengan menjawab atau membahas soal yang

ada pada sampul amplop dan menuangkan jawaban pada lembar kertas yang

(49)

6. Serahkan ampplop pada meja sebelah kanan dan terima amplop dari kelompok/

meja sebelah kiri. Begitu seterusnya sampai satu putaran sehingga semua

kelompok dapat mengerjakan atau menerima semua amplop;

7. Setelah selesai dikerjakan, semua amplop dikumpulkan dan menunjuk salah

satu kelompok secara acak atau bergiliran membacakan isi amplop dan

kelompok lain memberikan tanggapan

8. Guru mengarahkan, memandu dan menyipulkan seluruh hasil kerja kelompok

yang dipresentasikan di sepan kelas;

Secara ringkas model pembelajaran SAT dapat digambarkan dengan

langkah-langkah sebagai berikut:

• Penyampaian tujuan pebelajaran ( SK, KD dan indikator)

• Penjelasan tugas yang akan didiskusikan

• Guru membagikan kertas kerja dan amplop

•.Siswa mengerjakan tugas dengan menuangkan idenya di atas kertas kerja secara

bergilir searah jarum jam. Giliran dibatasi oleh waktu

• Kesimpulan

• Penyajian hasil

• Feed back oleh guru

• Evaluasi

Selanjutnya dapat digambarkan pelaksanaan model pembelajaran SAT dengan

jumlah 6 kelompok seperti pada dibawah ini:

(50)

Kelompok IV Meja 4 Kelompok VI

Meja 6

Keterangan:

a. Kelompok I atau meja 1 menerima amplop 1 atau tugas 1

b. Kelompok II atau meja 2 menerima amplop 2 atau tugas 2

c. Kelompok III atau meja 3 menerima amplop 3 atau tugas 3

d. Kelompok IV atau meja 4 menerima amplop 4 atau tugas 4

e. Kelompok V atau meja 5 menerima amplop 5 atau tugas 5

f. Kelompok VI atau meja 6 menerima amplop 6 atau tugas 6

Setiap kelompok menyelesaikan tugas, maka :

a. Kelompok I memberikan amplopnya pada kelompok 2

b. Kelompok II memberikan amplopnya pada kelompok 3

c. Kelompok III memberikan amplopnya pada kelompok 4

d. Kelompok IV memberikan amplopnya pada kelompok 5 Kelompok I

Meja I

Kelompok II Meja 2

Kelompok V Meja 5

(51)

e. Kelompok V memberikan amplopnya pada kelompok VI

Begitu seterusnya sampai pada satu putaran serah jarum jam, sehingga semua

Gambar

Gambar 3.1 Skema prosedur penelitian

Referensi

Dokumen terkait

[r]

skills; most of the students thought that their teaching ability was good; most of the students were certain that they could teach well; the teacher personal efficacy did influence

dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Electric Furnace Slag , Dolomit, dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah

Sonia Adila). Responden bernama Sonia Adila merupakan anak sulung dari Ibu yang bernama Nengsih, pekerjaan ibu rumah tangga dan anak dari Bapak Darso, perkerjaan Wiraswata.

Mangkin yéning Iratu makoratan ring tebenan, titian ring luanan, yéning metu kotoran Iratu, taler bacin titiangé, ten iringangga ngatebénang?” Wawu énten atur Pan Angklung

NLRHA. Pada konteks momen lentur pada elemen yang ditinjau, hasil pengembangan prosedur MPA memberikan hasil yang sangat baik dengan pengecualian di beberapa lantai

2012.Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Tutor Sebaya Terhadap Hasil Belajar Matematika Materi Pokok Bangun Ruang Prisma dan Limas pada Siswa kelas VIII SMP

Khutbah Rasulullah saw menyongsong bulan suci Ramadhan sebagai bulan mulia, bulan ibadah, bulan santunan. Dari Salman RadhiyaLlahu ‘anhu, katanya: Rasulullah saw berkhutbah