PR Dituli ROGRAM JURUS FAKULTA STUDI K 1 is untuk Mem Memperoleh STUDI PE SAN PEND AS KEGUR UNIVERS KASUS : S Oleh IRHAMNA 1010013111 Artikel menuhi Sebagi h Gelar Sarja ENDIDIKAN IDIKAN B RUAN DAN SITAS BUN PADANG 2016 onia Adila A 018 ian Persyarat ana Pendidika N BAHASA BAHASA D N ILMU PE NG HATTA G an dalam kan A INDONE AN SENI ENDIDIKA A ESIA AN
PEMEROLEHAN BAHASA KERINCI PADA ANAK USIA 3 TAHUN STUDI KASUS : Sonia Adila
Irhamna1), Syofiani2), Gusnetti2)
1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2) Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Bung Hatta E-mail: [email protected]
ABSTRACT
This study aims to describe language acquisition in children aged 3 years (a case study on sonia adila). Aspects studied is a form of syntactic groupings in children aged three years. The research is a qualitative study using descriptive methods. The object of this study is a kid named Sonia Adila residing d Lempur village lake Sub Roving lake, Kerinci District, Jambi Province. The data collection is done by recording suara.penelitian invites respondents to talk to different situations, among others situasu storytelling, then turn on the recording and voice recording respondem, as well as translate the recordings in the form of paintings. As for to analyze the data the researchers conducted a way, as follows: (1) mentranskripkan language Kerinci into written language, (2) identify the speech sentence spoken child, (3) copy makna speech recording data (4), describes the data recording, and (5) make the conclusion. Based on the analysis, it was found the sentence emphatic form, call, and the hallmark of regional languages in a sentence spoken by Sonia Adila ie declarative sentences, imperatives,
intogratif, and ekslamatif. Based on result it can be concluded that Sonia Adila 3 years have to utter a few sentences well, resulting in some form of the word even though the sentence structure is not perfect.
Keywords: Acquisition, Language, child Age, Three Years
Pendahuluan Bahasa memegang peranan penting
dalam kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk sosial, membutuhkan bahasa sebagai media untuk berkomunikasi antar sesamanya. Dengan kata lain, bahasa merupakan media dalam menyampaikan atau menerima pesan, ide, gagasan, dan informasi yang penting. Berkomunikasi dengan bahasa dapat mempermudah masyarakat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang menggunakan bahasa yang sama. Tanpa bahasa, manusia akan sulit mencapai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Proses pemerolehan bahasa merupakan suatu hal yang kontroversial di antara para ahli bahasa. Permasalahan yang diperdebatkan antara para ahli adalah
(Darjowijojo, 2005:234). Ahli bahasa yang menganut aliran behaviorisme mengatakan bahwa pemerolehan bahasa bersifat
nurture. Yakni pemerolehan ditentukan
oleh alam lingkungan. Menurut aliran ini, manusia dilahirkan dengan suatu tabula rasa, yakni, semacam piring kosong tanpa apapun. Piring ini kemudian diisi oleh alam sekitar kita, termasuk bahasanya.
Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa merupakan proses yang berlangsung di dalam otak seorang kanak-kanak ketika ia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2009:167).
Sehubungan dengan hal tersebut Chaer, (2009: 169), mengatakan bahwa kompetensi yang mencakup tiga buah komponen tata bahasa, yaitu komponen sintaksis, komponen semantik, dan komponen fonologi.Oleh karena itu, pemerolehan bahasa lazim juga dibagi menjadi pemerolehan semantik, pemerolehan sintaksis, pemerolehan fonologi, dalam pemerolehan sintaksis dan semantik termasuk juga pemerolehan leksikon atau kosakata. Ketiga komponen tata bahasa ini tidak diperoleh secara bersaingan, yang satu terlepas dari yang lain, melainkan diperoleh secara bersamaan.
Tujuan pemerolehan bahasa yang dimiliki seorang anak adalah untuk mengetahui kemampuan atau kepandaian bahasa pertama (bahasa ibu). Di samping itu, seorang anak juga memiliki keinginan untuk mengetahui ujaran yang diucapkan oleh orang lain. Oleh karena itu, anak dapat mempersepsikan dan memahami ujaran orang lain yang merupakan unsur
pertama yang harus dikuasai anak dalam berbahasa. Tarigan, (2011:6) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa pada anak-anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki satu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.
Objek penelitian adalah anak usia tiga tahun yang bernama Sonia Adila anak tunggal dari keluarga Darso dengan Nengsih yang beralamat Jln. Mawar No 28 Kerinci. Bahasa yang digunakan sehari-hari Sonia Adila adalah bahasa daerah yaitu bahasa Kerinci seperti ketika dia mengujarkan kata makou yang artinya makan. Sepanjang pengamatan penulis kelebihan yang penulis lihat dari Sonia Adila, dibanding dengan anak yang seusianya ia lebih kreatif, dalam mengartikan apa yang disampaikan oleh orang lain. Ia lebih mudah beradaptasi sehingga peneliti tertarik untuk meneliti pemerolehan bahasa anak tersebut
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Moleong (2014:5-6) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan pendekatan naturalistic untuk mencari dan menemukan pengertian atau pemahaman tentang fenomena dalan satu latar yang berkonteks khusus.
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Menurut Moleong (2014 :11) data yang dikumpulkan adalah data berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka- angka. Sehubung dengan pendapat tersebut,penulis memilih metode deskriftif karena penulis mendeskrifsikan pemerolehan sintaksis bahasa Kerinci pada anak usia tiga tahun.
Penelitian ini dilakukan di lingkungan rumah Nengsih dari Orang tua Sonia Adila, di daerah Kerinci, Pancuran Bangko Kecamatan Keliling Danau,Jl. Mawar V No 28 Kerinci. Penelitian difokuskan pada pemerolehan sintaksis pada anak usia tigatahun (studi kasus
Sonia Adila). Responden bernama Sonia Adila merupakan anak sulung dari Ibu yang bernama Nengsih, pekerjaan ibu rumah tangga dan anak dari Bapak Darso, perkerjaan Wiraswata. Entri dalam penelitian ini adalah pemerolehan kalimat atau kata pada anak usia3 tahun, karena pada anak usia ini anak sudah banyak memperoleh dan menguasai kata yang didapat dari lingkungan tempat tinggalnya.
Subjek merupakan orang yang dijadikan objek dalam pengumpulan data penelitian. Karakteristik yang akan dijadikan subjek dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Sehat jasmani dan rohani, artinya tidak ada kelainan yang akan mempengaruhi pemerolehan bahasa anak, dan (2) Bertempat tinggal di daerah penelitian, anak berusia tiga tahun yaitu Sonia Adila dengan alamat, Jl. Mawar V1 No 28 Kerinci. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dilengkapi dengan alat bantu seperti alat tulis,
video dan handphone. Handphone digunakan untuk merekam ujaran anak, dan alat tulis digunakan untuk mencatat sebagaian ujaran anak pada saat perekaman. Penulis menggunakan instrumen tersebut dengan tujuan agar data saling melengkapi sehingga data yang diperoleh akurat.
Menurut Sugiyono (2013: 224) teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah pengamatan, wawancara, dan rekaman.Teknik ini dilakukan secara serentak, karena yang menjadi subjek adalah anak kecil.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara merekam pembicaraan anak ketika penetiti mengajak berbicara, kemudian menghidupkan rekaman dan merekam pembicaraan responden.
Darjowijojo (2003:7) menyatakan bahwa analisis data dilakukan dengan cara menyajikan data yang diperoleh secara deskriptif. Langkah-langkah yang dilakukan dalam
menganalisis data antara lain: (1) mengidentifikasi ujaran yang diucapkan anak, (2) mendeskripsikan hasil observasi, dan (3) menyimpulkan data yang diperoleh.
Tabel ini akan diisi dengan pengamatan berdasarkan obsevasi dan rekaman yang dilakukan, baik observasi berperan serta maupun yang tidak berperan serta. Tidak semua ujaran anak dimasukan ke dalam format, melainkan ujaran anak yang sesuai dengan masalah penelitian, yaitu pemerolehan bahasa pada anak usia tiga tahuan pada aspek sintaksis.
Menurut Meleong (2014:324), untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas jumlah kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan yaitu derajat kepercayaan (credibility), keterlahiran (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability).
Pengujian keabsahan data dalam penelitian ini adalah triangulasi. Triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain, di luar data untuk pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut. Aplikasi dari teknik triangulasi adalah memanfaatkan orang-orang yang berpengetahuan dalam bidang yang diteliti.
Jika mengacu pada teknik pengujian keabsahan data yaitu triangulasi, peneliti meminta kesediaan kepada Bapak Dr.Marsis,M.Pd adapun beliau merupakan staf pengajar yang membina mata kuliah Sintaksis. Berkaitan dengan hal itu, sintaksis merupakan kajian dari bagian linguistik, yaitu linguistik makro.
Hasil dan Pembahasan
hasil penelitian ini ditemukan beberapa bentuk kata pada kalimat yang diucapkan oleh penutur dalam pemerolehan Bahasa Indonesia pada anak usia 3tahun (Studi Kasus Pada Sonia
Alwi dkk
(2003: 352-362). Mengatakan bahwa kalimat jika dilihat dari bentuk sintaksisnya, dapat dibagi atas: (1). kalimat Deklaratif (kalimat berita), (2). kalimat introgatif (kalimat tanya), (3). kalimat ekslamatif (kalimat seru), (4). kalimat imperatif ( kalimat perintah).
Seiring dengan pendapat Alwi dkk, pemerolehan
bahasa dalam bidang Sintaksis. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti sama dengan teori menurut Alwi dkk, bahwa pemerolehan bahasa dalam bidang sintaksis meliputi 4 kalimat (1) deklaratif, (2) introgratif), (3) ekslamatif, (4) imperatif. Seiring dengan teori tersebut kalimat yang disampaikan oleh Sonia Adila sesuai dengan konteks yang telah ada dan terdapat Kalimat (1) deklaratif, (2) introgratif), (3) ekslamatif, (4) imperatif.
Dari beberapa hasil analisis ini, dapat dikatakan
oleh penutur yang berusia 3 tahun tidak jauh berbeda dari kalimat asli yang diucapkan oleh orang dewasa meskipun struktur kalimatnya belum sempurna.
Penelitian terdahulu yang berhubungan dengan masalah pemerolehan bahasa telah dilakukan oleh Kiki Rizki Amelya Zubir Mahasiswi Universitas Bung Hatta Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta (2006) meneliti tentang pemerolehan bahasa yang berjudul“ Pemerolehan Semantik Anak Usia tiga tahun (studi kasus terhadap seorang anak)”. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa, anak yang berada pada tahap medan semantik lebih banyak menggunakan kata nomina dalam ujaran.
Ansetry Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (2011) meneliti pemerolehan bahasa yang berjudul “ Pemerolehan Kosakata Bahasa Indonesia pada anak rentang usia 3;0 – 4;0 tahun. Penelitan ini disimpulkan bahwa pemerolehan kosakata Bahasa Indonesia anak pada rentang usia tiga 3;0 – 4;0 tahun
di Paud AZ- Zahra Padang, sudah memperoleh kelas kata nomina, verba, adjektiva serta numeralia berdasarkan kesesuaian medan maknanya.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisi dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa yang diujarkan pada anak usia 3 tahun dalam aspek sintaksis yang meliputi : (1) kalimat deklaratiif (kalimat berita), (2) kalimat introgatif (kalimat tanya), (3) kalimat inferatif (kalimat perintah), (4) kalimat ekslamatif (kalimat seru). (Studi Kasus Sonia Adila) telah menggambarkan kalimat dengan baik dan sesuai dengan kajian teori.
Pemerolehan bahasa pada anak usia 3 tahun ( Studi Kasus Sonia Adila) dapat dilihat pada 2 situasi yang berbeda yaitu terdiri dari : (1) kalimat deklaratif atau kalimat berita pada situasi bermain terdiri dari 7 data, kalimat deklaratif pada situasi bercerita terdiri dari 7 data. (2) kalimat imperatif atau kalimat perintah pada situasi bermain terdiri dari 10 data, kalimat
imperatif atau kalimat perintag pada situasi bercerita terdiri dari 4 data. (3) kalimat introgratif atau kalimat tanya pada situasi bermain terdiri dari 1 data, kalimat introgratif atau kalimat perintah atau kalimat tanya pada situasi bermain terdiri dari 4 data. (4) kalimat ekslamatif atau kalimat seru pada situasi bemain terdiri dari 7 data, kalimat eklamatif atau kalimat seru pada situasi bercerita terdiri dari 4 data.
Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas disarankan hal-hal berikut: bagi penulis sendiri dapat menambah pengetahuan di bidang pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya bidang psikolinguistik dan sintaksis. Diharapkan bagi calon guru dan guru hasil tulisan ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam mengajarkan bidang pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya yang terkait dengan psikolinguistik dan sintaksis, dan bagi penulis lain
diharapkan hasil analisis ini beguna sebagai bahan perbandingan dalam melakukan kajian berikutnya, terutama tentang psikolinguistik dan sintaksis. DAFTAR PUSTAKA
Ansetry. 2011, Pemerolehan Kosakata Bahasa Indonesia Pada Anak Rentang Usia 3;0 sampai4;0
tahun, Universitas Bung Hatta.
Chaer, Abdul. 1998. Tata Bahsa
Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka
Cipta.
Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik
Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi
Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2009. Pangajaran Semantik
Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka
Cipta.
Dardjowidjojo, Soenjono dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Dardjowidjojo, soenjono. 2005.Pisikolinguistik: Pengantar
Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Moleong, Lexy J. 2014. Metode Penelitian
Kualitatif. Bandung:Remaja
Rosdakarya.
Muslich, Masnur. 2008. Fonologi
Mahsun. 2007. Metode Penelitian
Bahasa. Jakarta: Rajagrafindo Persada..
Tarigan, Hendri Guntur. 2011. Pengajaran
Pemerolehan Bahasa. Bandung:
Angkasa Bandung.
Tarigan, Hendri Guntur. 2011. Pengajaran
Kosa Kata. Bandung: Angkasa
Bandung.
Tarigan, Hendri Guntur. 2009. Pengajaran
Sematik. Bandung: Angkasa
Bandung.
Zubir Amelia Kiki Rizki. 2006, Pemerolehan
Semantik Anak Usia Tig Tahun, (Studi Kasus Terhadap Seorang