KAJIAN PUSTAKA
A. Prestasi Belajar Matematika 1.Matematika
a. Pengertian matematika
Matematika berasal dari bahasa latin Matheis/Matema yang berarti belajar/hal yang dipelajari. Matematika dalam bahasa Belanda disebut Wiskunde/ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Definisi matematika sangat beragam dan bervariasi sesuai dengan sudut pandang pendefinisiannya, sehingga tidak satupun definisi matematika yang tunggal dan disepakati secara umum oleh tokoh/pakar matematika (Acep Yonny, 2012:157).
Matematika memiliki bahasa dan aturan yang terdefinisi dengan baik, penalaran yang jelas dan sistematis, dan struktur atau keterkaitan antarkonsep yang kuat. Unsur utama pekerjaan matematika adalah penalaran deduktif yang bekerja atas dasar asumsi (kebenaran konsistensi). Selain itu, matematika juga bekerja melalui penalaran induktif yang didasarkan fakta dan gejala yang muncul untuk sampai pada perkiraan tertentu. Tetapi perkiraan ini, tetap harus dibiktikan secara deduktif, dengan argumen yang konsisten (Ahmad Susanto, 2013:184-185).
Menurut Mulyani Sumantri (dalam Rosma Hartiny Sam‟s, 2010: 12) matematika adalah pengetahuan yang tidak kurang pentingnya
28
dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu tujuan pengajaran matematika ialah agar peserta didik dapat berkonsultasi dengan mempergunakan angka-angka dan bahasa dalam matematika. Pengajaran matematika harus berusaha mengembangkan suatu pengertian sistem angka, keterampilan menghitung dan memahami simbol-simbol yang seringkali dalam buku-buku pelajaran mempunyai arti khusus. Pengjaran matematika perlu ditekankan pada arti dan pemecahan berbagai masalah yang seringkali ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Matematika adalah sebagai suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir, berkomunikasi, alat untuk memecahkan berbagai persoalan praktis, yang unsur-unsurnya logika dan intuisi, analisis dan konstruksi, generalitas dan individualitas, dan mempunyai cabang-cabang antara lain aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis (Hamzah, 2009:109).
b. Pembelajaran matematika
Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik. Pembelajaran di dalamnya mengandung makna belajar dan mengajar, atau merupakan kegiatan belajar mengajar. Belajar tertuju kepada apa yang harus dilakukan oleh seseorang sebagai subyek yang menerima pelajaran, sedangkan mengajar berorientasi pada apa yang harus dilakukan guru sebagai
29
pemberi pelajaran. Pembelajaran dalam pandangan Corey sebagai upaya menciptakan kondisi dan lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan siswa berubah tingkah lakunya.
Pembelajaran matematika merupakan suatu proses belajar mengajar yang mengadung dua jenis kegiatan yang tidak terpisahkan. Kegiatan tersebut adalah belajar dan mengajar. Kedua aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu kegiatan pada saat terjadi interaksi antara siswa dengan guru, antara siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan lingkungan di saat pembelajaran matematika sedang berlangsung.
Dalam proses pembelajaran matematika, baik guru maupun siswa bersama-sama menjadi pelaku terlaksananya tujuan pembeljaran. Tujuan pembelajaran ini akan mencapai hasil yang maksimal apabila pembelajaran berjalan secara efektif. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang mampu melibatkan seluruh siswa secara aktif. Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Seseorang dikatakan belajar matematika apabila pada diri seseorang tersebut terjadi suatu kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan matematika. Perubahan tersebut terjadi dari tidak tahu sesuatu menjadi tahu konsep matematika, dan mampu menggunakannya dalam materi lanjut atau dalam kehidupan sehari-hari (Ahmad Susanto, 2013:185-188).
30
c. Tujuan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar
Secara umum, tujuan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar adalah agar siswa mampu dan terampil menggunakan matematika. Selain itu juga, dengan pembelajaran matematika dapat memberikan tekanan penetaran nalar dalam penerapan matematika. Menurut Depdiknas (2001:9), kompetensi atau kemampuan umum pembelajaran matematika di Sekolah Dasar, sebagai berikut;
1) Melakukan operasi hitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian beserta operasi campurannya, termasuk yang melibatkan pecahan.
2) Menentukan sifat dan unsur berbagai bangun datar dan bangun ruang sederhana, termasuk penggunaan sudut, keliling, luas, dan volume.
3) Menentukan sifat simetri, kesebangunan, dan sistem koordinat. 4) Menggunakan pengukuran: satuan, kesetaraan antarsatuan, dan
penaksiran pengukuran.
5) Menentukan dan menafsirkan data sederhana, seperti: ukuran tertinggi, terendah, rata-rata, modus, mengumpulkan, dan menyajikannya.
6) Memecahkan masalah, melakukan penalaran, dan mengomunikasikan gagasan secara matematika.
Secara khusus, tujuan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar, sebagaimana yang disajikan oleh Depdiknas, sebagai berikut:
31
1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritme.
2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk mejelaskan keadaan atau masalah.
5) Memiliki sikap menghargai penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari (Ahmad Susanto, 2013:185-188).
Sebagai indikator bahwa siswa dapat dikatakan paham terhadap konsep matematika, menurut Salimi (2010) dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam beberapa hal, sebagai berikut;
1) Mendefinisikan konsep-konsep secara verbal dan tulisan. 2) Membuat contoh dan noncontoh penyangkal.
3) Mempresentasikan suatu konsep dengan model, diagram, dan simbol.
4) Mengubah suatu bentuk representasi ke bentuk lain. 5) Mengenal berbagai makna dan interprestasi konsep.
6) Mengidentifikasi sifat-sifat suatu konsep dan mengenal syarat-syarat yang menentukan suatu konsep.
32
7) Membandingkan dan membedakan konsep-konsep (Ahmad Susanto, 2013:209).
2. Belajar
a. Pengertian belajar
Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor (Syaiful Bahri Djamarah, 2011:13).
Selanjutnya, dalam perspektif keagamaan pun (dalam hal ini Islam), belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan derajat kehidupan mereka. Hal ini dinyatakan dalam surat Mujadalah: 11 yang berbunyi:
اوُح ذسافات ْ ُكُال الْيِقااذِااْوُناما انْيِ ذلَّااا هيُّا ايَ
ْوُح اسْفااف ِسِلاجامْلا ِفِ
ْ ُكُال ُ ّللّا ِح اسْفاي
ُْكُْنِماْوُناما انْيِ ذلَّا ُ ّللّا ِ افْ ايا ْ ُ ُ ْااافا ْ ُ ُ ْاا الْيِقااذِاا
ُ ّللّاا ٍتجاراد ا ْلِْعْلااوُتْ ُا انْيِ ذلَّاا
ْ ِ ا ا ْوُلامْعاتاامِ
Artinya:“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:”Berlapang -lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan:”Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang-orang-orang yang diberi ilmu
33
pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Mujadalah: 11)
Ilmu dalam hal ini tentu saja tidak hanya berupa pengetahuan agama tetapi juga berupa pengetahuan yang relevan dengan tuntukan kemajuan zaman (Muhibbin Syah, 2010:62-63).
Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Hamalik, 1990:21).
Menurut Cronbach dalam bukunya Educational Psychology mengemukakan “learning is shown by a change in behavior as a result of experience” menurutnya belajar yang baik harus ditempuh dengan mengalami secara langsung (Lilik Sriyanti, 2011: 16).
Pendapat yang dikemukakan oleh Galloway yang mendefinisikan belajar sebagai perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman.
Berdasarkan pendapat di atas maka belajar dapat disimpulkan bahwa dalam belajar mengandung tiga pokok hal, yaitu: 1) belajar mengakibatkan perubahan kemampuan atau perilaku, 2) perubahan kemampuan atau perilaku yang terjadi bersifat relatif menetap, 30 perilaku tersebut disebabkan karena hasil adanya latihan atau pengalaman (Rosma Hartiny, 2010:32).
b. Tahap-tahap belajar
Tahap belajar menurut Jerome S. Bruner yaitu, karena belajar itu merupakan aktivitas yang berproses, sudah tentu di dalamnya terjadi
34
perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui tahap-tahap yang antara satu dengan yang lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional. Menurut Bruner, dalam proses belajar menempuh tiga episode/tahap, yaitu:
1) Tahap informasi (tahap penerimaan materi)
Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. 2) Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)
Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah, atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual supaya kelak pada gilirannya dapat dimanfaatkan bagi hal-hal yang lebih luas.
3) Tahap evaluasi ( tahap penilaian materi)
Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau memecahkan masalah yang dihadapi.
c. Ciri-ciri belajar
Jika hakikat belajar adalah perubahan tingkah laku, maka ada beberapa perubahan tertentu yang dimasukkan ke dalam ciri-ciri belajar, antara lain yaitu:
1) Perubahan yang terjadi secara sadar, individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya
35
individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.
2) Perubahan dalam belajar bersifat fungsional, suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya, dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya.
3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif, perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya.
4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.
5) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai dan terarah pada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari.
6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku, jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, keterampilan, dan pengetahuan (Syaiful Bahri Djamarah, 2011:15-16).
d. Prinsip-prinsip belajar
Menurut Slameto (1991:29) mengatakan bahwa prinsip-prinsip belajar adalah dengan mempelajari uraian-uraian yang terdahulu, maka calon guru/ pembimbing seharusnya sudah dapat menyusun sendiri prinsip-prinsip belajar, ialah prinsip belajar yang dapat
36
dilaksanakan dalam situasi dan kondisi yang berbeda, dan oleh setiap siswa secara individual. Namun demikian marilah kita susun prinsip-prinsip belajar itu, sebagai berikut:
1) Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional.
2) Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki sruktur, penyajian yang sederhana, sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.
3) Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional.
4) Belajar itu proses kontinyu, maka harus tahap demi tahap menurut perkembangannya.
5) Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery.
6) Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapainnya.
7) Belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.
8) Belajar perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif.
37
10) Belajar adalah proses kontiguitas (hubungan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain) ehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan.
11) Repetisi, dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian/ ketrampilan/ sikapitu mendalam pada siswa.
3. Prestasi belajar
a. Pengertian prestasi belajar
Dalam pengertian yang lebih spesifik, belajar didefinisikan sebagai perolehan pengetahuan dan kecakapan baru. Pengertian inilah yang merupakan tujuan pendidikan formal di sekolah-sekolah atau di lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki program terencana, tujuan instruksional yang konkret, dan diikuti oleh para siswa sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematis. Dalam hal ini, pengertian prestasi atau keberhasilan belajar dapat dioperasionalkan dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai rapor, indeks prestasi studi, angka kelulusan, predikat keberhasilan, dan semacamnya (Saifuddin Azwar. 2006:164).
Menurut Arifin (1990:2) prestasi belajar berasal dari bahasa belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa indonesia menjadi
“prestasi” yang berarti “hasil usaha” istilah “prestasi belajar”
(achievment) berbeda dengan hasil belajar (learning outcome). Prestasi yang dimaksudkan adalah kemampuan, keterampilan, dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal.
38
Prestasi belajar merupakan suatu masalah yang bersifat perenial dalam sejarah kehidupan manusia, karena sepanjang rentang kehidupannya manusia selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuan masing-masing.
Prestasi belajar adalah hasil pencapaian maksimal menurut kemampuan anak didik pada waktu tertentu terhadap sesuatu yang dikerjakan, dipelajari, dan diterapkandan prestasi belajar disebut juga nilai kemampuan hasil belajar anak yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana penguasaan anak terhadap materi yang diberikan untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.
b. Bentuk-bentuk prestasi belajar
Bentuk-bentuk prestasi belajar dibagi dalam tiga ranah yaitu: ranah psikomotorik, ranah kognitif dan ranah afektif. Akan dijelaskan bentuk-bentuk prestasi menurut Henker (2012:34) yaitu:
1) Kognitif (proses berfikir)
Kognitif adalah kemampuan intelektual siswa dalam berfikir, mengetahui dan memecahkan masalah.
2) Afektif (nilai atau sikap)
Afektif atau intelektual adalah mengenal sikap, minat, emosi, nilai hidup dan operasi siswa.
3) Psikomotorik (keterampilan)
Psikomotorik adalah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan fisik.
39
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menurut Semiawan (2008:11) mengemukakan bahwa faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar adalah:
1) Pemenuhan kebutuhan Psikologis
Secara umum diketahui bahwa dalam perkembangan anak perlu dipenuhi berbagai kebutuhan yaitu kebutuhan primer, pangan, sandang, dan perumahan serta kasih sayang, perhatian, penghargaan terhadap dirinya dan peluang mengaktualisasikan dirinya.
2) Intelegensi, emosi, dan motivasi
Prestasi belajar bukan saja dipengaruhi oleh kemampuan intelektual yang bersifat kognitif, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor nonkognitif seperti emosi, motivasi, kepribadian serta berbagai pengaruh lingkungan.
3) Pengembangan kreativitas
Setiap anak dilahirkan dengan bakat yang merupakan potensi kemampuan (inherent component of ability) yang berbeda-beda dan terwujud karena interaksi yang dinamis antara keunikan individu dan pengaruh lingkungan.
d. Fungsi prestasi belajar
Prestasi belajar semakin terasa penting untuk dipermasalahkan, karena mempunyai beberapa fungsi utama, antara lain:
40
1) Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik.
2) Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. Para ahli psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai tendensi keingintahuan (couriosty) dan merupakan kebutuhan umun pada manusia, termasuk kebutuhan anak didik dalam suatu program pendidikan.
3) Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan. Prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi anak didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berperan sebagai umpan balik (feed back) dalam meningkatkan mutu pendidikan.
4) Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan. Indikator intern dan ekstern dalam arti bahwa prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat produktivitas suatu institusi pendidikan. Asumsinya adalah bahwa kurikulum yang digunakan relevan denagn kebutuhan masyarakat dan anak didik (Arifin, 1990:3).
e. Prestasi belajar matematika
Hakikat belajar matematika adalah suatu aktivitas mental untuk memahami arti dan hubungan-hubungan serta simbol-simbol, kemudian diterapkannya pada situasi nyata. Schoenfeld (1985) mendefinisikan bahwa belajar matematika berkaitan dengan apa dan
41
bagaimana menggunakannya dalam membuat keputusan untuk memecahkan masalah (Hamzah, 2009:110).
Jadi prestasi belajar matematika adalah perubahan kemampuan, keterampilan, dan sikap seseorang setelah mengalami proses pembelajaran/pengalaman dalam menyelesaikan masalah yang ada pada matematika. B. Bangun Ruang (Kubus dan Balok)
1. Pengertian bangun ruang
Semua bangun datar berada dalam himpunan bangun berdimensi dua. Disebut berdimensi dua, karena pada bangun tersebut hanya ada dua besaran yaitu besaran panjang dengan besaran lebar. Selain dimensi dua, ada juga bangun yang berdimensi tiga. Pada bangun yang berdimensi tiga, setiap bangun mempunyai satu tambahan besaran lagi, yaitu tinggi. Bangun yang berdimensi tiga disebut juga bangun ruang, sebab bangun-bangun tersebut mempunyai ruang di dalamnya. Jika ruangannya berisi udara, bangun ruangannya disebut bangun ruang berongga. Jika ruangannya berisi, bangun ruangnya disebut bangun ruang padat atau pejal. Bangun ruang ada beberapa macam yaitu kubus, balok, prisma, limas, tabung,kerucut, dan bola, tetapi bangun ruang yang di pelajari dala penelitian ini yaitu kubus dan balok (Sunarroso, 2008:28).
42 2. Balok
a. Pengertian balok
Balok adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh enam bidang persegi panjang. Keenam bidang persegi panjang tersebut sepasang-sepasang, sejajar, dan kongruen (Dawig Roosbiyantana, 2007:3).
Selain itu, balok adalah suatu bangun ruang berdimensi tiga yang dibatasi oleh dua belas garis sebagai ssinya yang membentuk bangun persegi panjang yang terdiri dari tiga pasang yang kongruen. Dengan kata lain, suatu balok memiliki pasangan sisi berbentuk persegi panjang yangg setiap pasangnya kongruen (Mastur Faizi, 2012:61).
b. Bagian-bagian balok
Gambar di bawah merupakan gambar balok ABCD.EFGH, bagian-bagian balok tersebut adalah sebagi berikut:
Gambar 2.1 Balok ABCD.EFGH
1) Sisi balok
Balok terdiri atas 3 pasang bidang persegi panjang yang kongruen. Ketiga pasang bidang persegi panjang tersebut disebut sebagai bidang (sisi) balok. Ketiga pasang bidang (sisi) balok tersebut adalah:
43
a) Sisi ABCD dinamakan sisi alas atau dasar, berpasangan dengan sisi EFGH yang dinamakan sisi atas atau tutup.
b) Sisi ABFE berpasangan dengan sisi DCGH. c) Sisi BCGF berpasangan dengan sisi ADHE. 2) Rusuk balok
Rusuk balok adalah perpotongan dua sisi balok. Rusuk balok berupa ruas garis. Balok mempunyai 12 rusuk. Rusuk-rusuk tersebut adalah AB, BC, CD, DA, EF, FG, GH, HE, AE, BF, CG, dan DH. Pada balok ABCD.EFGH, panjang rusuknya tidak seluruhnya sama panjang.
3) Titik sudut
Pertemuan tiga rusuk pada balok membentuk suatu titik yang disebut titik sudut. Balok mempunyai 8 buah titik sudut. Berikut ini adalah kedelapan titik sudut pada balok.
Titik sudut Pertemuan dengan rusuk-rusuk
A AB, AD, dan AE
B BC, BA, dan BF
C CB, CD, dan CG
D DA, DC, dan DH
E EF, EH, dan EA
F FG, FE, dan FB
G GF, GH, dan GC
H HE, HG, dan HD
44 c. Jaring-jaring balok
Jaring-jaring merupakan bentuk dua dimensi dari suatu bangun tiga dimensi. Jika suatu bangun ruang (balok, kubus, prisma, dan limas) dibuka sehingga semua sisinya terletak dalam satu bidang datar maka bangun datar yang dihasilkan disebut jarung-jaring.
Jaring-jaring balok merupakan rangkaian enam buah persegi panjang, yang apabila dilipat-lipat menurut garis persekutuannya dua persegi panjang akan membentuk suatu balok (Dawig Roosbiyantana, 2007:16). Macam-macam jaring-jaring balok antara lain yaitu:
Gambar 2.2 Jaring-jaring Balok
3. Kubus
a. Pengertian kubus
Kubus adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh enam bidang persegi yang kongruen (sama dan sebangun). Kubus juga merupakna
45
suatu balok yang sumua sisinya berbentuk persegi. Bentuk kubus banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dadu, kotak kapur, kotak tisu, meja kursi, bungkusan kado, banyak yang berbentuk kubus (Dawig Roosbiyantana, 2007:3).
Bangun ruang kubus merupakan bagian dari prisma. Kubus mempunyai ciri khas, yaitu memiliki sisi yang sama (Heruman, 2010: 110).
Kubus adalah bangun ruang yang dibatasi oleh dua belas garis sama panjang yang membentuk bangun persegi sama sisi yang berdimensi tiga. Dengan kata lain, kubus dibangun dari enam buah bangun datar persegi yang disusun sedemikian rupa, sehingga membentuk sebuah bangun berdimensi tiga (Mastur Faizi, 2012:61). b. Bagian-bagian kubus
Gambar di bawah merupakan gambar balok ABCD.EFGH, bagian-bagian balok tersebut adalah sebagi berikut:
46 1) Sisi kubus
Bidang atau sisi kubus terdiri atas enam daerah persegi. Keenam daerah persegi tersebut kongruen, keenam daerah persegi tersebut adalah sebagai berikut:
a) Sisi datar yaitu sisi ABCD. Sisi ini berpasangan dan kongruen dengan sisi atas atau tutup kubus, yaitu sisi EFGH.
b) Sisi tegak terdiri atas sisi ABFE sebagai sisi depan yang berpasangan dan kongruen dengan sisi DCGH, yaitu sisi belakang kubus. Sisi tegak yang lain adalah sisi-sisi samping yaitu ADHE dan BCGF.
2) Rusuk kubus
Rusuk kubus merupakan pertemuan dua bidang (sisi) kubus yang berupa ruas garis. Kubus mempunyai 12 rusuk yaitu AB, BC, CD, DA, EF, FG, GH, HE, AE, BF, CG, dan DH.
3) Titik sudut
Titik sudut adalah pertemuan tiga rusuk kubus. Seperti halnya pada balok, kubus juga mempunyai 8 buah titik sudut. Berikut ini adalah kedelapan titik sudut pada kubus ABCD.EFGH.
47
Titik sudut Pertemuan dengan rusuk-rusuk
A AB, AD, dan AE
B BC, BA, dan BF
C CB, CD, dan CG
D DA, DC, dan DH
E EF, EH, dan EA
F FG, FE, dan FB
G GF, GH, dan GC
H HE, HG, dan HD
(Dawig Roosbiyantana, 2007: 24-26) c. Jaring-jaring kubus
Jaring-jaring kubus merupakan rangkaian enam buah persegi yang apabila dilipat-lipat menurut garis persekutuan dua persegi akan membentuk kubus, sehingga tidak ada bidang yang rangkap(ganda) dan tidak ada bidang kubus yang terbuka (Dawig Roosbiyantana, 2007:33). Macam-macam jaring-jaring balok antara lain yaitu:
48
C. Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (PMR)