• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prestasi Belajar Membaca Permulaan

Dalam dokumen TUKIMIN NIM. X (Halaman 26-34)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN

A. Kajian Teori

2. Prestasi Belajar Membaca Permulaan

Suharta dan Ana Retnoningsih (2005 : 390) berpendapat bahwa “Prestasi adalah suatu hasil yang dicapai, dilakukan, dikerjakan.”

Menurut Purwodarminto (1985: 268) berpendapat bahwa “Prestasi adalah suatu hasil yang dicapai, dilakukan, dikerjakan.”

Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa “Prestasi adalah suatu hasil yang diperoleh setelah melakukan kegiatan.”

b. Pengertian Belajar

Masyarakat yang telah mengikuti kegiatan belajar dengan masyarakat yang tidak sama sekali mengenyam kegiatan belajar khususnya dibangku sekolah, maka terdapat perbedaan-perbedaan. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari berbagai macam segi, diantaranya orang yang telah mengikuti kegiatan belajar sampai selesai dalam kehidupan sehari-hari mempunyai kedudukan yang sangat baik, terutama mendapat jabatan, kedudukan dan kesempatan memperoleh pekerjaan, sedangkan masyarakat yang tidak pernah mengikuti

kegiatan belajar pada umumnya mencari nafkah dalam kehidupan sehari-harinya hanya mengandalkan tenaga kasar.

Syaiful Bahri Djamarah (2002:13), belajar adalah “Serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pegalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.

Hower Kingsley dalam H J. Gino, dkk, 1995, belajar diartikan sebagai “Suatu proses tingkah laku dalam arti luas yang diubah melalui praktek dan atau latihan.”

Muhibbin Syah (2003: 68) mengatakan bahwa secara umum belajar dapat dipahami sebagai “Tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif”.

Seseorang yang telah mengalami perubahan dalam tingkah laku yang dibuktikan terhadap kehidupan sehari-hari, maka seseorang tersebut dapat dikatakan telah melakukan kegiatan belajar. Setiap orang sudah barang tentu menginginkan adanya perubahan dalam hidupnya. Oleh karena itu, kegiatan belajar secara langsung di sadari atau tidak seseorang ini telah melakukan kegiatan belajar.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah “Suatu proses kegiatan untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang dilakuakan secara sadar”.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar

Muhibbin Syah, dalam bukunya Psikologi Belajar (2003 : 144) membedakan faktor yang mempengaruhi belajar menjadi 3 macam, yaitu :

1) Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa;

2) Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa;

3) Faktor Pendekatan Belajar (approach learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi pelajaran.

Siswa yang mengalami kelambatan atau kegagalan dalam belajar, merupakan kasus yang tidak hanya terbatas pada bidang perlakuan pengajaran, tetapi juga bidang pemberian bantuan. Kasus belajar yang mereka alami mungkin disebabkan oleh faktor – faktor internal maupun faktor external. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari individu siswa sendiri, baik biologis maupun psikologis. Faktor external yaitu faktor yang berasal dari luar siswa, antara lain lingkungan sosial, bahkan pelajaran dan proses belajar mengajar (Ishak dan Waiji dalam Sri Purwanti, 2002 : 14).

Rendahnya hasil belajar disebabkan oleh dua faktor, yakni: 1) Faktor dari luar diri siswa (eksternal).

Terdiri dari faktor-faktor sosial dan non sosial.

Seperti: kualifikasi guru, metode, media, peralatan dan evaluasi. 2) Faktor dari dalam diri siswa (internal).

Terdiri dari faktor fisiologis dan psikologis.

Seperti: intelegensi, minat, bakat, motivasi, persepsi, dan cara belajar anak. (Suryabrata dalam Ramainas, 2006:80)

Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar membaca permulaan adalah : (1) faktor internal berupa intelektual, emosi, fisik. (2) faktor external berupa lingkungan sosial dan proses belajar mengajar.

Faktor di atas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Seorang siswa yang intelegensinya tinggi (faktor internal) dan mendapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor external), mungkin akan memiliki pendekatan belajar yang mementingkan kualitas hasil pembelajaran. Sebaliknya, siswa yang intelegensinya rendah akan cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Jadi, karena pengaruh faktor – faktor tersebut di atas, muncul siswa berprestasi tinggi dan berprestasi rendah, atau gagal sama sekali.

d. Ciri-ciri belajar

Sesuatu usaha dikatakan sebagai aktivitas belajar memiliki 3 ciri utama yakni :

1) Ada aktivitas yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada diri pembelajar baik aktual maupun potensial.

2) Perubahan itu pada pokoknya didapatkannya kemampuan baru dan berlaku dalam waktu yang relatif lama (konstan).

3) Perubahan itu terjadi karena adanya usaha secara sadar.

Perubahan yang terjadi karena kematangan, kondisi fisik dan mental bukan belajar. (Gino, dkk, 1995 : 58c).

Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002:15-16) dalam Psikologi Belajar, menyatakan bahwa jika hakekat belajar adalah perubahan tingkah laku, maka ada beberapa perubahan tertentu yang dimasukkan kedalam ciri-ciri belajar.

1) Perubahan yang terjadi secara sadar.

Individu yang belajar menyadari terjadinya atau merasakan telah terjadi adanya perubahan dalam dirinya.

2) Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Misalnya, jika seorang anak belajar membaca, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak dapat membaca menjadi dapat membaca.

3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif

Makin banyak usaha belajar makin banyak dan makin baik perubahannya. Bersifat aktif artinya perubahan tidak dengan sendirinya, melainkan karena usaha.

4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara

Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.

5) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah

Perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah pada tingkah laku yang telah ditetapkannya.

6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

Aspek perubahan yang satu berhubungan erat dengan aspek yang lain.

Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri belajar adalah: (1) Usaha sadar, (2) Perubahan itu baik, (3) Perubahan itu bersifat menetap.

e. Pengertian Prestasi Belajar

Menurut Muhibbin Syah (2003 : 213) menyatakan bahwa “Indikator prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa”.

Petter dan Yenny Salim, (1991 : 90) menyatakan bahwa “Prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai dalam penguasaan pengetahuan, ketrampilan terhadap mata pelajaran yang dibuktikan melalui test”.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil akhir yang telah dicapai dari kegiatan belajar yang dinyatakan dalam angka, huruf maupun dalam kalimat yang dapat mencerminkan hasil perubahan dalam ketrampilan dan sikap yang dicapai seseorang secara individu merupakan hasil interaksi lingkungan.

f. Pengertian Membaca Permulaan

Pendapat Ronalds Wardaugh dalam artikelnya yang berjudul “Reading Technical proses” dalam (Yant Mujianto dkk. 1994 : 47) menyatakan “Membaca adalah kegiatan yang aktif dan interaktif.”

Purwodarminta (1984: 71) menyatakan bahwa membaca adalah “Melihat tulisan dan mengerti atau dapat melisankan apa yang tertulis itu, misalnya buku, surat.”

Menurut Mulyono Abdurrachman (1996 : 171) “Membaca merupakan aktivitas kompleks yang merupakan sejumlah tindakan terpisah – pisah mencakup penggunaan pengertian, khayalan, pengamatan dan ingatan”.

Menurut Yant Mujianto, (1994 : 48) daloam Pusparagam Bahasa Indonesia,

“Membaca adalah kemampuan memahami ide, kemampuan menangkap makna yang terdapat dalam teks, baik makna lugas maupun makna kias, baik yang tersurat maupun tersirat, baik makna parsial maupun makna utuh. Jadi, seluruh proses membaca baik dilakukan dalam hati maupun dilafalkan menuju kepemahaman”. Siswa sekolah luar biasa harus melakukan kegiatan membaca, baik di dalam maupun di luar kelas, agar siswa mampu membaca dengan lancar dan cepat, siswa harus memiliki kemampuan dasar yang berupa ketrampilan membaca permulaan.

Menurut Sabarti Akhadiah M.K dkk (1191/1992: 11) mengemukakan bahwa:

“Membaca permulaan lebih ditekankan pada pengembangan kemampuan dasar membaca. Siswa dituntut dapat menyuarakan kalimat-kalimat yang disajikan dalam bentuk tulisan. Dengan kata lain, siswa dituntut untuk mampu menterjemahkan bentuk tulisan ke dalam bentuk lisan. Dalam hal ini, tercakup pula aspek kelancaran membaca. Siswa harus dapat membaca wacana dengan lancar, bukan hanya membaca kata-kata ataupun mengenali huruf-huruf yang tertulis.” Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa membaca permulaan pada hakikatnya adalah suatu aktivitas komplek yang mencakup fisik dan mental dengan tujuan mengenali, memahami serta menyuarakan lambang-lambang tulisan.

Pada konsep membaca permulaan tidak ada rambu-rambu yang menyatakan bahwa kemampuan membaca permulaan itu meliputi kemampuan memahami wacana. Dengan demikian, kemampuan membaca permulaan ini dapat dilepaskan dari “arti” lambang tulisan. Namun demikian, karena kemampuan permulaan ini merupakan batu loncatan untuk sampai ke kemampuan membaca lanjut yang memperhatikan makna, seyogyanya kemampuan membaca permulaan ini lambat laun diarahkan kepada kemampuan memahami makna.

g. Pembelajaran Membaca Permulaan

Pengajaran membaca yang paling tepat adalah pengajaran membaca yang didasarkan pada kebutuhan siswa dan mempertimbangkan apa yang telah dikuasainya. Adapun kegiatan yang dalam pengajaran membaca :

1) Peningkatan ucapan

Kegiatan difokuskan pada peningkatan kemampuan siswa mengucapkan bunyi-bunyi bahasa.

2) Kesadaran fonetik (Bunyi)

Kegiatan ini difokuskan untuk menyadarkan siswa bahwa kata dibentuk oleh fonem atau bunyi yang membedakan makna.

a) Pembedaan bunyi b) Pembedaan huruf c) Vokal dan diftong

d) Konsonan awal dan akhir, konsonan yang dilambangkan dua huruf (ny, ng, kh, sy).

e) Suku kata

3) Hubungan antara Bunyi – Huruf

“Pengetahuan tentang bunyi-huruf merupakan prasyarat untuk dapat membaca. Jika anak mengalami kesulitan dalam hal hubungan huruf, guru perlu mengajarkan hubungan bunyi-huruf secara terpisah. Guru dipandang perlu mengidentiffkasi apakah anak telah dapat dengan tepat mencocokkan antara bunyi dengan huruf (Kartono, dkk, 2008 : 107).”

4) Kemampuan mengingat

5) Orientasi dari kiri ke kanan

6) Ketrampilan pemahaman

7) Penguasaan kosa kata dan makna kata.

Pengenalan kata merupakan proses yang mengakibatkan kemampuan mengidentifikasi simbol tulis, mengucapkan dan menghubungkan dengan makna.

Dalam pelaksanaan pengajaran membaca, guru seringkali dihadapkan pada siswa yang mengalami kesulitan, baik yang berkenaan dengan hubungan

bunyi-huruf, suku kata, kata, kalimat sederhana maupun ketidakmampuan siswa memahami isi bacaan.

Dibawah ini ada beberapa cara yang dapat untuk menurunkan tingkat keterbacaan sebuah kalimat.

1) Mencari kata-kata sukar yang terdapat dalam kalimat. Kata-kata yang panjang biasanya sukar untuk dibaca. Gantilah dengan kata yang pendek. Kata-kata yang lebih pendek akan lebih mudah dibaca.

2) Bacalah kalimat-kalimat tersebut untuk mengetahui kemungkinan memendekannya dengan jalan membagi menjadi dua atau tiga buah kalimat.

3) Menulis kembali kalimat tersebut dengan kata-kata yang lebih mudah dan kalimat-kalimat yang pendek.

4) Mengukur tingkat keterbacaan kalimat yang baru itu untuk mengetahui penurunannya.

Berikut ini kesulitan-kesulitan yang umumnya dihadapi anak dalam belajar membaca :

No. Kategori Problem / Wujud Kesulitan / Kesalahan 1 Pra membaca 1. Kurang mengenal huruf

2 Membaca bersama 3) Membaca kata demi kata

4) Miskin pelafalan (kesalahan pengucapan) 5) Penghilangan

6) Pengulangan 7) Penyisipan 8) Penggantian 9) Pembalikan

10) Menggunakan gerak bibir 3 Pemecahan kode 1. Kesulitan vokal

2. Kesulitan vokal rangkap 3. Kesulitan konsonan

4. Kesulitan konsonan rangkap

5. Kesulitan menganalisis struktur kata 6. Tidak mengenali makna kata

h. Pengertian Prestasi Belajar Membaca Permulaan

Di atas telah dibahas tentang prestasi belajar dan membaca permulaan. Dari pembahasan-pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar membaca permulaan adalah hasil yang dicapai dari kegiatan mengenali, memahami serta menyuarakan lambang-lambang tulisan.

3. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Dalam dokumen TUKIMIN NIM. X (Halaman 26-34)

Dokumen terkait