SLB BC YPASP GONDANGREJO KARANGANYAR SEMESTER II TAHUN AJARAN 2008/2009
SKRIPSI
Oleh :
TUKIMIN
NIM
.X5107688
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
PENGGUNAAN METODE STRUKTURAL ANALITIK SINTETIK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MEMBACA PERMULAAN
PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS D4C SLB BC YPASP GONDANGREJO KARANGANYAR
SEMESTER II TAHUN AJARAN 2008/2009
Oleh :
TUKIMIN
NIM
.X5107688
SKRIPSI
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan Mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi
Pendidikan Luar Biasa Jurusan Ilmu Pendidikan
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2009
PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
Persetujuan Pembimbing Pembimbing I Pembimbing II Drs. Hermawan, M.Si. NIP. 19590818 198603 1 002 Drs. Rahmad Djatun, M.Pd. NIP. 130 814 588
PENGESAHAN
Dipertahankan di depan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Pada Hari : Selasa
Tanggal : 4 Agustus 2009
Tim Penguji Skripsi
(Nama Terang) (Tanda Tangan)
Ketua : Drs. A. Salim, Ch. M.Kes. ……….
Sekretaris : Drs. Maryadi, M.Ag. ……….
Anggota I : Drs. Hermawan, M.Si. ……….
Anggota II : Drs. R. Djatun, M.Pd. ……….
Disahkan oleh :
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Prof. Dr.M. Furwon Hidayatullah, M.Pd. NIP. 196007271987021001
ABSTRAK
Tukimin, PENGGUNAAN METODE STRUKTURAL ANALITIK SINTETIK (SAS) MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MEMBACA PERMULAAN PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS D4C SLB YPASP GONDANGREJO KARANGANYAR SEMESTER II TAHUN AJARAN 2008/2009, Skripsi, Surakarta, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Agustus 2009
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah Penggunaan Metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) Meningkatkan Prestasi Belajar Membaca Permulaan Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas D4C SLB BC YPASP Gondangrejo Karanganyar Semester II Tahun Ajaran 2008/2009. Tujuan dari penelitian ini secara umum untuk mendapatkan jawaban dapat tidaknya penggunan metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan di kelas 4 SLB BC YPASP Gondangrejo Karanganyar. Sedangkan secara khusus adalah (a) Untuk mengetahui keefektifan
penggunaan metode SAS meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan. (b) Untuk memaparkan langkah-langkah penggunaan metode Struktural Analitik
Sintetik (SAS).
Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (Classrom Action Research). Subyek penelitian terdiri dari 1 siswa laki-laki dan 2 siswa perempuan siswa Tuna Grahita kelas 4 SLB BC YPASP Gondangrejo Karanganyar. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari 2009 sampai dengan bulan Juli 2009. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, test siklus I dan test siklus II. Adapun analisis penelitian ini menggunakan deskriptif kwalitatif dan diskriptif kuantitatif.
Berdasarkan refleksi guru/peneliti untuk meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan, penggunaan metode SAS mempunyai pengaruh. Selama siklus I dan II dapat dilihat adanya peningkatan. Nilai rata-rata siswa mencapai 6,57 dan pada siklus II mencapai 74,6.
Dengan demikian berdasarkan data nilai hasil prestasi belajar membaca permulaan dari siklus II telah memenuhi kriteria keberhasilan yang diharapkan yaitu siswa telah mendapat nilai mencapai 70.
MOTTO
“ Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang Islam laki-laki dan perempuan” (Terjemahan Sabda Rosulullah SAW).
“Keutamaan Ilmu itu lebih baik daripada keutamaan ibadah.” (Terjemahan H.R. Al Bazzar).
PERSEMBAHAN
Teruntuk:
- Istriku tercinta - Bapak dan ibu - Almamater
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah peneliti panjatkan kepada Allah SWT, sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Dalam menyelesaikan skripsi ini peneliti banyak dibantu oleh beberapa pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin kepada peneliti untuk menyusun skripsi ini.
2. Drs. R. Indianto, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan yang telah memberi ijin kepada peneliti untuk menyusun skripsi ini.
3. Drs. A. Salim Choiri, M.Kes, Ketua Program Studi PLB yang telah memberi ijin kepada peneliti untuk menyusun skripsi ini.
4. Drs. Hermawan, M.Si., selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan dorongan, bimbingan dan pengarahan dalam menyusun skripsi ini.
5. Drs. R. Djatun, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan dorongan, bimbingan dan pengarahan dalam menyusun skripsi ini.
6. Dosen Program Studi PLB yang telah memberikan bekal pengetahuan selama ini.
7. Semua pihak yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi peneliti pribadi dan bagi pembaca pada umumnya.
Surakarta, Agustus 2009 Peneliti
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGAJUAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN... iv
ABSTRAK ... v
HALAMAN MOTTO ... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GRAFIK ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian... 3
D. Manfaat Penelitian ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS TINDAKAN ... 5
A. Kajian Teori ... 5
1. Anak Tuna Grahita ... 5
a. Pengertian Anak Tuna Grahita ... 5
b. Penyebab Anak Tuna Grahita ... 6
2. Prestasi Belajar Membaca Permulaan ... 11
a. Pengertian Prestasi ... 11
b. Prestasi Belajar ... 11
d. Ciri-ciri Belajar ... 13
e. Pengertian Prestasi Belajar ... 15
f. Pengertian Membaca Permulaan ... 15
g. Pembelajaran Membaca Permulaan ... 17
h. Pengertian Prestasi Belajar Membaca Permulaan ... 19
3. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia ... 19
a. Pengertian Bahasa Indonesia ... 19
b. Tujuan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia ... 19
c. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Bahasa Indonesia ... 20
4. Metode SAS ... 20
a. Pengertian Metode ... 20
b. Pengertian Metode SAS ... 21
c. Prosedur Penggunaan Metode SAS ... 22
d. Kelebihan Metode SAS ... 25
e. Langkah-langkah Pengajaran Metode SAS ... 26
B. Kerangka Berpikir ... 27
C. Hipotesis Tindakan ... 28
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 29
A. Setting Penelitian ... 29
B. Subyek Penelitian ... 30
C. Sumber Data ... 30
D. Teknik dan Alat Pengumpul Data ... 30
E. Validitas Data ... 32
F. Analisis Data ... 33
G. Indikator Kerja ... 33
H. Prosedur Penelitian ... 34
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41
A. Hasil Penelitian ... 41
1. Deskripsi Kondisi Awal ... 41
2. Deskripsi Siklus I ... 43
B. Pembahasan ... 57
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 62
A. Simpulan ... 62
B. Saran ... 63
DAFTAR PUSTAKA ... 65
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Skema Kerangka Berpikir ... 27 Gambar 2. Rencana Tindakan ... 36
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Harian Sebelum Siklus ... 42
Tabel 2. Siswa yang Aktif Dalam Pembelajaran Siklus I ... 47
Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Prestasi Belajar Siklus I ... 48
Tabel 4. Siswa yang Aktif Dalam Pembelajaran Siklus II ... 54
Tabel 5. Rekapitulasi Hasil Prestasi Belajar Siklus II ... 55
Tabel 6. Persentasi Siswa yang Aktif Dalam Pembelajaran ... 57
DAFTAR GRAFIK
Halaman
Grafik 1. Nilai Harian Semester I ... 43
Grafik 2. Keaktifan Siswa Siklus I ... 48
Grafik 3. Prestasi Belajar Siklus I... 49
Grafik 4. Keaktifan Siswa Siklus II ... 55
Grafik 5. Hasil Prestasi Belajar Siklus II ... 56
Grafik 6. Keaktifan Siswa Siklus I dan II ... 58 Grafik 7. Peningkatan Prestasi Belajar dari Kondisi Awal sampai Siklus II. 59
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Surat Ijin Menyusun Skripsi ... 67
Lampiran 2. Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian ... 71
Lampiran 3. Salinan Daftar Nilai Bahasa Indonesia Semester I ... 72
Lampiran 4. Cara Belajar Siswa di Rumah ... 73
Lampiran 5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I ... 76
Lampiran 6. Keadaan Kelas pada Pembelajaran Siklus I ... 80
Lampiran 7. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus I ... 81
Lampiran 8. Lembar Observasi Kegiatan Guru Siklus I ... 82
Lampiran 9. Hasil Nilai Membaca Siklus I ... 84
Lampiran 10. Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP) Siklus II ... 85
Lampiran 11. Keadaan Kelas Pada Pembelajaran Siklus II ... 88
Lampiran 12. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus II ... 90
Lampiran 13. Lembar Observasi Kegiatan Guru Siklus II ... 91
Lampiran 14. Hasil Nilai Membaca Siklus II ... 93
Lampiran 15. Identitas Siswa A ... 94
Lampiran 16. Identitas Siswa B ... 95
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar anak-anak tuna grahita, sebaiknya selalu berorientasi pada kebutuhan anak, sehingga pengajaran yang diberikan sesuai dan bermanfaat bagi anak.
Salah satu bidang garapan pengajaran di Sekolah Luar Biasa adalah mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam penyampaiannya kepada anak didik mencakup proses belajar mengajar. Proses belajar dilakukan oleh anak didik, sedangkan proses mengajar ditentukan oleh guru.
Keluhan tentang kekurangtrampilan siswa dalam membaca permulaan di Sekolah Luar Biasa jurusan Anak Tuna Grahita dalam Pelajaran Bahasa Indonesia sering dirasakan. Bahkan dalam kenyataannya masih banyak keluhan guru yang mengajar di Sekolah Luar Biasa karena di kelas III dan IV banyak anak yang belum bisa membaca. Faktor-faktor yang menyebabkan siswa tersebut belum bisa membaca antara lain lingkungan keluarga yang tidak kondusif, motivasi siswa dalam membaca rendah, serta penerapan metode dan strategi pengajaran membaca permulaan yang kurang tepat.
Siswa mengenal membaca secara bertahap. Pengenalan itu dimulai huruf demi huruf yang kemudian dirangkai menjadi kata atau dari kalimat sederhana, kata-kata, suku-suku, dan baru kemudian tiap-tiap huruf.
Apabila siswa dapat membaca, dengan sendirinya siswa dapat memahami apa yang dimaksud dalam bacaan tersebut. Kemampuan membaca yang diperoleh pada membaca permulaan, akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjutan di kelas yang lebih tinggi. Kemampuan membaca permulaan harus benar-benar mendapat perhatian guru. Sebab jika dasar itu tidak kuat, maka tahap selanjutnya siswa akan mengalami kesulitan untuk mempelajari bidang pelajaran lainnya. Karena dalam membaca siswa akan dapat memperluas pengetahuan.
Berdasarkan pengamatan peneliti, siswa yang membaca di kelas IV masih banyak yang mengeja, ada banyak yang masih menanti bimbingan dari guru, dan ada juga yang hanya menirukan temannya. Di sini guru dituntut untuk dapat mengatasi masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar dalam tugas sehari-hari di sekolah.
Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut, guru harus dapat melakukan terapi dengan penelitian tindakan kelas (classroom action reseach). Penelitian tindakan kelas adalah tindakan nyata (action) yang dilakukan guru (dan pihak lain) untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar (Sarwiji Suwandi, 2008 : 16).
Sehingga guru dapat memperbaiki proses pembelajaran di kelas itu sendiri secara sadar, dan terencana dengan baik. Dengan penelitian tindakan kelas, kualitas belajar mengajar lebih baik, dapat meningkatkan kualitas pelayanan dalam belajar, sehingga guru dan siswa dapat meningkat pula. Diharapkan dengan penelitian tindakan kelas akan menyebabkan guru akan terus merefleksi proses belajar mengajarnya, kemudian melakukan tindakan yang tepat untuk memperbaiki dan mengevaluasi atas kinerjanya sendiri.
Nilai rapor semester I mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas D4C SLB BC YPASP Gondangrejo, Karanganyar, jumlah siswa 3 anak, dengan 1 siswa mendapat nilai 7, 1 siswa mendapat 6 dan 1 siswa mendapat nilai 6. nilai atau prestasi belajar siswa rendah dikarenakan anak belum dapat membaca.
Dari refleksi dan diskusi dengan teman sejawat ternyata media dan metode pembelajaran yang digunakan guru tidak maksimal, sehingga prestasi belajar anak kurang. Untuk mengatasi permasalahan membaca diperlukan yaitu metode yang tepat untuk membaca permulaan yaitu metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) yang akan menolong anak menguasai bacaan dengan lancar. Oleh karena itu, penulis akan memperbaiki melalui Penelitian Tindakan Kelas dengan judul : “Penggunaan Metode Struktural Analitik Sintetik (SAS)”. Meningkatkan Prestasi Belajar Membaca Permulaan pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas D4C SLB BC YPASP Gondangrejo, Karanganyar Semester II Tahun Ajaran 2008/2009.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah dapat disimpulkan bahwa : - Siswa belum lancar membaca, sehingga materi yang disampaikan tidak
terselesaikan.
- Materi bacaan yang ada di buku terlalu panjang dan kata-kata yang sukar. - Pemahaman anak terhadap isi bacaan kurang.
Oleh karena itu, masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) dapat meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan bagi siswa kelas D4C SLB BC YPASP Gondangrejo, Karanganyar?”
C. Tujuan Penelitian Penelitian tindakan kelas ini bertujuan:
Untuk meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan dengan menggunakan metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) di kelas D4C SLB BC YPASP Gondangrejo Karanganyar Semester II Tahun Ajaran 2008/2009.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teori
a. Dapat menemukan solusi pembelajaran bagi siswa untuk meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan.
b. Menggarahkan pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa.
2. Manfaat Secara Praktis a. Manfaat bagi siswa
1. Meningkatkan prestasi belajar sehingga prestasi belajar lebih baik. 2. Meningkatkan kreatifitas siswa dalam membaca.
b. Manfaat bagi guru
1. Mengetahui strategi pembelajaran yang bervariasi untuk memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran Bahasa Indonesia.
2. Sebagai acuan dalam penerapan strategi pembelajaran Bahasa Indonesia yang tepat dan sesuai dalam mengatasi problem pembelajaran.
c. Manfaat bagi sekolah
1. Menumbuhkan motivasi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran yang bermutu.
2. Tumbuhnya iklim pembelajaran yang aktif, efektif dan menyenangkan di sekolah.
BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kajian Teori 1. Anak Tuna Grahita a. Pengertian Anak Tuna Grahita
Tuna Grahita bukan suatu penyakit tetapi suatu kondisi yang melibatkan berbagai variable.
Menurut Japan Leguage for the mentally retarded (dalam Muljono Abdurrachman, 1994;20) mendefinisikan retardasi sebagai berikut :
1) Fungsi intelektualnya lamban. 2) Kekurangan dalam perilaku adaptif. 3) Terjadi pada masa perkembangan.
Yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.
Menurut Munzayanah dalam buku Tuna Grahita, (1997:3) mendefinisikan bahwa “Anak retardasi mental adalah anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan daya pikir serta seluruh kepribadiannya, sehingga mereka tidak mampu hidup dengan kekuatannya sendiri di dalam masyarakat meskipun dengan cara hidup yang sederhana.”
“Tuna grahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkaqn anak yang mempunayi kekuatan intelektual di bawah rata-rata. Dalam kepustakan bahasa asing digunakan istilah-istilah mental retardation, mentally retarded, mental deficiency, mental defective, dan lain-lain.” (H. Sunaryo Kartadinata, 1996 : 83).
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa “Anak tuna grahita adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan intelektual maupun perilaku adaptif, sehingga mereka tidak dapat hidup mandiri.”
b. Penyebab Anak Tuna Grahita
Menurut David Smith (1998 : 114 - 115), penyebab anak terbelakang mental :
1) Pra kelahiran, misalnya : genetik dan kromosom, rubella, penyakit syphilis, dan racun dari alkohol dan obat.
2) Saat kelahiran, misalnya : bayi lahir prematur, kekurangan oksigen pada saat proses kelahiran.
3) Selama masa perkembangan anak-anak dan remaja, misalnya : penyakit radang selaput otak (meningitis), atau radang otak (encephalitis), cedera otak akibat kecelakaan, gizi jelek dan keracunan timah.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Tuna Grahita dapat disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu :
1) Faktor Genetik
a) Kerusakan/Kelainan Biokimiawi
Dalam Mulyono Abdurrahman dan Sudjadi S (1994 : 31) pada saat ini ada lebih kurang 90 penyakit yang dapat menyebabkan kelainan metabolisme sejak lahir dan dapat diturunkan secara genetik. b) Abnormalitas Kromosomal
Abnormalitas Kromosomal paling umum ditemukan adalah sindroma Down atau sindroma Mongol. Keadaan penyakit ini dikemukakan oleh Langdom Down sekitar 100 tahun lalu. Pada mulanya penyakit ini disebut penyakit Down, tetapi karena penderita memiliki mata sipit, maka ada yang menyebutnya Mongolisme.
2) Penyebab pada Masa Prenatal a) Infeksi Rubella (Cacar)
Virus rubella mengenai ibu selama tiga bulan pertama kehamilan mungkin menyebabkan kerusakan kongenital dan kemunkinan terjadi retardasi mental pada anak.
b) Faktor Rhesus (Rh)
Pada manusia 86 % memiliki Rh positif dan 14 % memiliki Rh negatif. Keduanya merupakan pasangan yang saling menolak
(incompatible), jika keduanya bertemu dalam satu aliran darah yang sama, maka akan terbentuk agglutinin yang menyebabkan sel darah mengumpulkan dan menghasilkan sel darah yang tidak dewasa dan gagal menjadi sel darah yang dewasa.
3) Penyebab Prenatal
Kejadian pada saat kelahiran yang memungkinkan terjadi retaradasi mental terutama :
a) Luka saat kelahiran
Kelahiran yang menggunakan alat bantu menyebabkan kerusakan pada otak.
b) Sesak napas (Asphyxia)
kerusakan otak disebabkan kekurangan oksigen dalam otak selama proses kelahiran
c) Lahir peremature
Hasil penelitian Kirk dan Gallagher (Mulyono Abdurrachman dan Sudjadi, 1994 : 37) menunjukkan bahwa lebih anak yang lahir premature yang menderita epilepsi, cerebral palsy, dan retardasi mental dari pada anak yang lahir tidak premature.
4) Penyebab Postnatal
Penyebab kecacatan setelah lahir antara lain dari penyakit akibat infeksi
Penyakit encephalitis yaitu peradangan saraf pusat yang disebabkan virus tertentu, jika terkena encephalitis timah hitam/keracunan timah hitam menimbulkan retandasi mental.
Meningitis adalah infeksi bakteri yang menyebabkan peradangan selaput otak (menipis) dan menimbulkan kerusakan pada sistem saraf pusat.
Kekurangan nutrisi pada ibu hamil dapat menyebabkan prematuritas dan prematuritas beresiko kerusakan otak pada fetus.
5) Penyebab Sosiokultural
Para psikolog dan pendidik umumnya mempercayai bahwa lingkungan sosial budaya berpengaruh terhadap kemampuan intelektual. (Muljono Abdurracman dan Sudjadi S, 1994 : 30 - 38)
Atas dasar-dasar penyebab anak tuna grahita di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1) Masa Prenatal, terjadi sebelum lahir/dalam kandungan a) Gangguan metabolisme
b) Sufeksi rubella c) Faktor Rhesus (Rh)
2) Masa Natal, terjadi saat kelahiran a) Lahir premature
b) Sesak napas (asphyxia) c) Luka otak karena alat bantu
3) Masa Postnatal, terjadi selama masa perkembangan a) Infeksi : - radang selaput otak (Meningitis)
- radang syaraf pusat (encephalitis) b) Kekurangan nutrisi
c) Cedera otak karena kecelakaan
c. Klasifikasi anak tuna grahita
Klasifikasi anak tuna grahita apabila untuk tujuan pendidikan dititikberatkan pada kemungkinan kemampuan anak dapat menerima pendidikan atau tidak.
Menurut Munzayanah dalam buku Tuna Grahita, (1997: 21), “Klasifikasi untuk pelaksanaan pendidikan di Indonesia adalah: (1) Anak perlu rawat. (2) Anak mampu latih. (3) Anak mampu didik.”
Ada empat kelompok pembedaan keperluan pembelajaran, yaitu : 1. Taraf perbatasan atau lamban belajar (The borderline or the slow
learner),(IQ 70 - 85)
2. Tuna grahita mampu didik (Educable mentally retarded) (IQ 50- 70 atau 75)
3. Tuna grahita mampu latih (Trinable mentally retarded) (IQ 30 atau 35 sampai 50 atau 55), dan
4. Tuna grahita mampu rawat (Dependentor mentally retarded) (IQ dibawah 25 atau 30). (Muljono Abdurracman dan Sudjadi S, 1994: 30 - 38)
Atas dasar di atas klasifikasi anak tuna grahita berdasarkan keperluan pendidikan adalah: anak mampu rawat, anak mampu latih dan anak mampu didik.
Anak Tuna Grahita mampu rawat karena retardasi mental sangat berat, maka ia tidak dapat dilatih untuk menolong diri sendiri. Ia memerlukan pemeliharaan secara penuh dan sepanjang hidupnya.
Anak tuna grahita mampu latih dipandang sebagai anak yang tidak dapat dididik untuk mencapai prestasi terendah yaitu kelas satu SD, hanya mampu dilatih untuk belajar ketrampilan menolong diri sendiri, penyesuaian sosial dalam keluarga dan bertetangga, dapat bekerja yang sederhana di tempat yang terlindung.
Anak tuna grahita mampu didik dipandang masih memiliki potensi untuk menguasai materi pelajaran akademik di SD. Mampu bersosialisasi dengan masyarakat dan mampu berdikari.
d. Karakteristik Anak Tuna Grahita
Karakteristik yang nampak serta banyak terjadi pada anak cacat grahita (Munzayanah, 1997: 24) adalah:
1) Anak mengalami kelainan bicara atau speech defect . 2) Mengalami gangguan dalam sosialisasi.
3) Biasanya diikuti dengan kelainan fisik yang lain, misalnya: cerebral palsy, tuna dengar.
Ada beberapa karakteristik umum anak tuna grahita yang dapat kita pelajari (Sunaryo Kartadinata, 1996: 85) adalah sebagai berikut: (1) Keterbatasan intelegensi,(2) Keterbatasan sosial, (3) Keterbatasan fungsi-fungsi mental lainnya.
Intelegensi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempelajari informasi dan ketrampilan penyesuaian diri. Anak tuna grahita memiliki kekurangan dalam semua hal tersebut. Kapasitas belajar anak terutama yang bersifat abstrak. Kemampuan belajarnya cenderung tanpa pengertian.
Disamping intelegensinya terbatas, anak tugas grahita juga memiliki kesulitan mengurus diri sendiri dalam masyarakat. Mereka cenderung berteman dengan anak yang lebih muda usianya dan tidak mampu memikul tanggung jawab sosial.
Anak tuna grahita memerlukan waktu lebih lama untuk melaksanakan reaksi. Keterbatasan dalam penguasaan bahasa (pembendaharaan kata), maka perlu kata-kata yang konkrit dan sering didengar.
Selain itu anak tuna grahita kurang dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dan membedakan yang benar dengan yang salah.
Karakteristik yang nampak dan sering terjadi pada anak tuna grahita adalah:
1) Mengalami kelainan atau kelambatan dalam bicara sehingga sulit diajak berkomunikasi.
2) Sulit mengadakan sosialisasi.
3) Mempunyai kemampuan yang terbatas dalam kemampuan intelektual sehingga hanya mampu dilatih untuk membaca, menulis dan berhitung pada batas-batas tertentu.
4) Dapat dilatih ketrampilan ringan.
e. Layanan Pendidikan Anak Tuna Grahita
Sistem pendidikan bagi anak cacat grahita ada dua macam, secara garis besar yaitu :
2) Sistem nonkonvensional yaitu :
- Sekolah luar biasa Pembina tingkat nasional untuk anak tuna grahita (SLB Pembina Tingkat Nasional Bagian C) di Malang, Jawa Timur. - Sekolah luar biasa Pembina tingkat propinsi untuk anak tuna grahita
(SLB Pembina Tingkat Propinsi Bagian C di Yogyakarta).
- Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) yang tersebar di seluruh Indonesia. (Munzayanah, 1997 : 58 a)
Berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 (Muljono Abdurracman dan Sudjadi S, 1994 : 261) berbentuk satuan pendidikan bagi anak luar biasa mengalami perubahan menjadi sebagai berikut :
1) Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)
2) Sekolah Tingkatan Lanjutan Pertama (SLTP LB) 3) Sekolah Menengah Luar Biasa (SM LB) dan
4) Bentuk lain yang ditetapkan oleh menteri Pendidikan dan Kebudayaan
2. Prestasi Belajar Membaca Permulaan a. Pengertian Prestasi
Suharta dan Ana Retnoningsih (2005 : 390) berpendapat bahwa “Prestasi adalah suatu hasil yang dicapai, dilakukan, dikerjakan.”
Menurut Purwodarminto (1985: 268) berpendapat bahwa “Prestasi adalah suatu hasil yang dicapai, dilakukan, dikerjakan.”
Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa “Prestasi adalah suatu hasil yang diperoleh setelah melakukan kegiatan.”
b. Pengertian Belajar
Masyarakat yang telah mengikuti kegiatan belajar dengan masyarakat yang tidak sama sekali mengenyam kegiatan belajar khususnya dibangku sekolah, maka terdapat perbedaan-perbedaan. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari berbagai macam segi, diantaranya orang yang telah mengikuti kegiatan belajar sampai selesai dalam kehidupan sehari-hari mempunyai kedudukan yang sangat baik, terutama mendapat jabatan, kedudukan dan kesempatan memperoleh pekerjaan, sedangkan masyarakat yang tidak pernah mengikuti
kegiatan belajar pada umumnya mencari nafkah dalam kehidupan sehari-harinya hanya mengandalkan tenaga kasar.
Syaiful Bahri Djamarah (2002:13), belajar adalah “Serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pegalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.
Hower Kingsley dalam H J. Gino, dkk, 1995, belajar diartikan sebagai “Suatu proses tingkah laku dalam arti luas yang diubah melalui praktek dan atau latihan.”
Muhibbin Syah (2003: 68) mengatakan bahwa secara umum belajar dapat dipahami sebagai “Tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif”.
Seseorang yang telah mengalami perubahan dalam tingkah laku yang dibuktikan terhadap kehidupan sehari-hari, maka seseorang tersebut dapat dikatakan telah melakukan kegiatan belajar. Setiap orang sudah barang tentu menginginkan adanya perubahan dalam hidupnya. Oleh karena itu, kegiatan belajar secara langsung di sadari atau tidak seseorang ini telah melakukan kegiatan belajar.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah “Suatu proses kegiatan untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang dilakuakan secara sadar”.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
Muhibbin Syah, dalam bukunya Psikologi Belajar (2003 : 144) membedakan faktor yang mempengaruhi belajar menjadi 3 macam, yaitu :
1) Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa;
2) Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa;
3) Faktor Pendekatan Belajar (approach learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi pelajaran.
Siswa yang mengalami kelambatan atau kegagalan dalam belajar, merupakan kasus yang tidak hanya terbatas pada bidang perlakuan pengajaran, tetapi juga bidang pemberian bantuan. Kasus belajar yang mereka alami mungkin disebabkan oleh faktor – faktor internal maupun faktor external. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari individu siswa sendiri, baik biologis maupun psikologis. Faktor external yaitu faktor yang berasal dari luar siswa, antara lain lingkungan sosial, bahkan pelajaran dan proses belajar mengajar (Ishak dan Waiji dalam Sri Purwanti, 2002 : 14).
Rendahnya hasil belajar disebabkan oleh dua faktor, yakni: 1) Faktor dari luar diri siswa (eksternal).
Terdiri dari faktor-faktor sosial dan non sosial.
Seperti: kualifikasi guru, metode, media, peralatan dan evaluasi. 2) Faktor dari dalam diri siswa (internal).
Terdiri dari faktor fisiologis dan psikologis.
Seperti: intelegensi, minat, bakat, motivasi, persepsi, dan cara belajar anak. (Suryabrata dalam Ramainas, 2006:80)
Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar membaca permulaan adalah : (1) faktor internal berupa intelektual, emosi, fisik. (2) faktor external berupa lingkungan sosial dan proses belajar mengajar.
Faktor di atas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Seorang siswa yang intelegensinya tinggi (faktor internal) dan mendapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor external), mungkin akan memiliki pendekatan belajar yang mementingkan kualitas hasil pembelajaran. Sebaliknya, siswa yang intelegensinya rendah akan cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Jadi, karena pengaruh faktor – faktor tersebut di atas, muncul siswa berprestasi tinggi dan berprestasi rendah, atau gagal sama sekali.
d. Ciri-ciri belajar
Sesuatu usaha dikatakan sebagai aktivitas belajar memiliki 3 ciri utama yakni :
1) Ada aktivitas yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada diri pembelajar baik aktual maupun potensial.
2) Perubahan itu pada pokoknya didapatkannya kemampuan baru dan berlaku dalam waktu yang relatif lama (konstan).
3) Perubahan itu terjadi karena adanya usaha secara sadar.
Perubahan yang terjadi karena kematangan, kondisi fisik dan mental bukan belajar. (Gino, dkk, 1995 : 58c).
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002:15-16) dalam Psikologi Belajar, menyatakan bahwa jika hakekat belajar adalah perubahan tingkah laku, maka ada beberapa perubahan tertentu yang dimasukkan kedalam ciri-ciri belajar.
1) Perubahan yang terjadi secara sadar.
Individu yang belajar menyadari terjadinya atau merasakan telah terjadi adanya perubahan dalam dirinya.
2) Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Misalnya, jika seorang anak belajar membaca, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak dapat membaca menjadi dapat membaca.
3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Makin banyak usaha belajar makin banyak dan makin baik perubahannya. Bersifat aktif artinya perubahan tidak dengan sendirinya, melainkan karena usaha.
4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.
5) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah pada tingkah laku yang telah ditetapkannya.
6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Aspek perubahan yang satu berhubungan erat dengan aspek yang lain.
Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri belajar adalah: (1) Usaha sadar, (2) Perubahan itu baik, (3) Perubahan itu bersifat menetap.
e. Pengertian Prestasi Belajar
Menurut Muhibbin Syah (2003 : 213) menyatakan bahwa “Indikator prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa”.
Petter dan Yenny Salim, (1991 : 90) menyatakan bahwa “Prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai dalam penguasaan pengetahuan, ketrampilan terhadap mata pelajaran yang dibuktikan melalui test”.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil akhir yang telah dicapai dari kegiatan belajar yang dinyatakan dalam angka, huruf maupun dalam kalimat yang dapat mencerminkan hasil perubahan dalam ketrampilan dan sikap yang dicapai seseorang secara individu merupakan hasil interaksi lingkungan.
f. Pengertian Membaca Permulaan
Pendapat Ronalds Wardaugh dalam artikelnya yang berjudul “Reading Technical proses” dalam (Yant Mujianto dkk. 1994 : 47) menyatakan “Membaca adalah kegiatan yang aktif dan interaktif.”
Purwodarminta (1984: 71) menyatakan bahwa membaca adalah “Melihat tulisan dan mengerti atau dapat melisankan apa yang tertulis itu, misalnya buku, surat.”
Menurut Mulyono Abdurrachman (1996 : 171) “Membaca merupakan aktivitas kompleks yang merupakan sejumlah tindakan terpisah – pisah mencakup penggunaan pengertian, khayalan, pengamatan dan ingatan”.
Menurut Yant Mujianto, (1994 : 48) daloam Pusparagam Bahasa Indonesia,
“Membaca adalah kemampuan memahami ide, kemampuan menangkap makna yang terdapat dalam teks, baik makna lugas maupun makna kias, baik yang tersurat maupun tersirat, baik makna parsial maupun makna utuh. Jadi, seluruh proses membaca baik dilakukan dalam hati maupun dilafalkan menuju kepemahaman”. Siswa sekolah luar biasa harus melakukan kegiatan membaca, baik di dalam maupun di luar kelas, agar siswa mampu membaca dengan lancar dan cepat, siswa harus memiliki kemampuan dasar yang berupa ketrampilan membaca permulaan.
Menurut Sabarti Akhadiah M.K dkk (1191/1992: 11) mengemukakan bahwa:
“Membaca permulaan lebih ditekankan pada pengembangan kemampuan dasar membaca. Siswa dituntut dapat menyuarakan kalimat-kalimat yang disajikan dalam bentuk tulisan. Dengan kata lain, siswa dituntut untuk mampu menterjemahkan bentuk tulisan ke dalam bentuk lisan. Dalam hal ini, tercakup pula aspek kelancaran membaca. Siswa harus dapat membaca wacana dengan lancar, bukan hanya membaca kata-kata ataupun mengenali huruf-huruf yang tertulis.” Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa membaca permulaan pada hakikatnya adalah suatu aktivitas komplek yang mencakup fisik dan mental dengan tujuan mengenali, memahami serta menyuarakan lambang-lambang tulisan.
Pada konsep membaca permulaan tidak ada rambu-rambu yang menyatakan bahwa kemampuan membaca permulaan itu meliputi kemampuan memahami wacana. Dengan demikian, kemampuan membaca permulaan ini dapat dilepaskan dari “arti” lambang tulisan. Namun demikian, karena kemampuan permulaan ini merupakan batu loncatan untuk sampai ke kemampuan membaca lanjut yang memperhatikan makna, seyogyanya kemampuan membaca permulaan ini lambat laun diarahkan kepada kemampuan memahami makna.
g. Pembelajaran Membaca Permulaan
Pengajaran membaca yang paling tepat adalah pengajaran membaca yang didasarkan pada kebutuhan siswa dan mempertimbangkan apa yang telah dikuasainya. Adapun kegiatan yang dalam pengajaran membaca :
1) Peningkatan ucapan
Kegiatan difokuskan pada peningkatan kemampuan siswa mengucapkan bunyi-bunyi bahasa.
2) Kesadaran fonetik (Bunyi)
Kegiatan ini difokuskan untuk menyadarkan siswa bahwa kata dibentuk oleh fonem atau bunyi yang membedakan makna.
a) Pembedaan bunyi b) Pembedaan huruf c) Vokal dan diftong
d) Konsonan awal dan akhir, konsonan yang dilambangkan dua huruf (ny, ng, kh, sy).
e) Suku kata
3) Hubungan antara Bunyi – Huruf
“Pengetahuan tentang bunyi-huruf merupakan prasyarat untuk dapat membaca. Jika anak mengalami kesulitan dalam hal hubungan huruf, guru perlu mengajarkan hubungan bunyi-huruf secara terpisah. Guru dipandang perlu mengidentiffkasi apakah anak telah dapat dengan tepat mencocokkan antara bunyi dengan huruf (Kartono, dkk, 2008 : 107).”
4) Kemampuan mengingat
5) Orientasi dari kiri ke kanan
6) Ketrampilan pemahaman
7) Penguasaan kosa kata dan makna kata.
Pengenalan kata merupakan proses yang mengakibatkan kemampuan mengidentifikasi simbol tulis, mengucapkan dan menghubungkan dengan makna.
Dalam pelaksanaan pengajaran membaca, guru seringkali dihadapkan pada siswa yang mengalami kesulitan, baik yang berkenaan dengan hubungan
bunyi-huruf, suku kata, kata, kalimat sederhana maupun ketidakmampuan siswa memahami isi bacaan.
Dibawah ini ada beberapa cara yang dapat untuk menurunkan tingkat keterbacaan sebuah kalimat.
1) Mencari kata-kata sukar yang terdapat dalam kalimat. Kata-kata yang panjang biasanya sukar untuk dibaca. Gantilah dengan kata yang pendek. Kata-kata yang lebih pendek akan lebih mudah dibaca.
2) Bacalah kalimat-kalimat tersebut untuk mengetahui kemungkinan memendekannya dengan jalan membagi menjadi dua atau tiga buah kalimat.
3) Menulis kembali kalimat tersebut dengan kata-kata yang lebih mudah dan kalimat-kalimat yang pendek.
4) Mengukur tingkat keterbacaan kalimat yang baru itu untuk mengetahui penurunannya.
Berikut ini kesulitan-kesulitan yang umumnya dihadapi anak dalam belajar membaca :
No. Kategori Problem / Wujud Kesulitan / Kesalahan 1 Pra membaca 1. Kurang mengenal huruf
2 Membaca bersama 3) Membaca kata demi kata
4) Miskin pelafalan (kesalahan pengucapan) 5) Penghilangan
6) Pengulangan 7) Penyisipan 8) Penggantian 9) Pembalikan
10) Menggunakan gerak bibir 3 Pemecahan kode 1. Kesulitan vokal
2. Kesulitan vokal rangkap 3. Kesulitan konsonan
4. Kesulitan konsonan rangkap
5. Kesulitan menganalisis struktur kata 6. Tidak mengenali makna kata
h. Pengertian Prestasi Belajar Membaca Permulaan
Di atas telah dibahas tentang prestasi belajar dan membaca permulaan. Dari pembahasan-pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar membaca permulaan adalah hasil yang dicapai dari kegiatan mengenali, memahami serta menyuarakan lambang-lambang tulisan.
3. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia a. Pengertian Bahasa Indonesia
“Bahasa merupakan sistim lambang bunyi yang arbriur, yang dipergunakan oleh para anggota masyarakat untuk bekerja sama, berorientasi, dan mengidentifikasikan diri percakapan (perkataan) yang baik” (Suharso dan Ana Retnoningsih, 2005 : 67).
“Bahasa adalah alat komunikasi, melalui bahasa manusia dapat berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi kemampuan, saling belajar dan yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual” (Depdiknas, 2002 : 1).
“Mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan ketrampilan berbahasa dan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia” (Depdiknas, 2002 : 1).
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program yang berfungsi untuk dapat mengidentifikasikan diri percakapan (perkataan) yang baik di sekolah maupun di masyarakat.
b. Tujuan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
7. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis.
8. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara.
9. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan cepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
10. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.
11. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperluas budi pekerti serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
12. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia Indonesia (Depdiknas, 2006 : 66). c. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV SDLB/C, semester 2 cakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersuara yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
Mendengarkan
5. Mendengarkan pengumuman
5.1 Mendengarkan kemampuan kemudian menentukan isi dan menyampaikan kembali isinya.
5.2 Menjawab pertanyaan isi pengumuman. Berbicara
6. Mempraktekkan menyampaikan pesan dari telepon. 6.1 Menjawab pertanyaan dalam telepon.
6.2 Menyampaikan pesan yang diterima melalui telepon sesuai dengan isi pesan.
Membaca
7. Memahami bacaan tentang teks pengumuman.
7.1 Membaca nyaring pengumuman dengan lafal dan intonasi yang tepat.
7.2 Berbincang tentang isi pengumuman. Menulis
8. Menyusun teks pengumuman sederhana.
8.1 Menyusun kalimat sederhana berdasarkan bahan yang disediakan guru.
8.2 Menulis pengumuman dengan bahasa yang komunikatif dengan memperhatikan penggunaan ejaan (Depdiknas, 2006 : 74)
4. Metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) a. Pengertian Metode
Menurut Martinis Yamin, dalam bukunya sertifikasi profesi Keguruan di Indonesia (2006;153). “Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, memberi contoh dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu.”
Pendapat Marika Soebrata dalam bukunya Strategi Pembelajaran PLB (1997;27). “Metode itu adalah suatu cara untuk mencapai tujuan bagi guru,
dan sebagai suatu alat untuk menyajikan bahan pelajaran dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.”
Menurut Sukarta dan Ana Ratnaningsih (2008) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia: “Metode adalah cara yang diatur dan berpikir baik-baik mencapai suatu maksud dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya.”
Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa metode adalah “Suatu cara untuk menyampaikan materi pelajaran agar tercapai tujuan pengajaran.”
b. Pengertian Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik)
Metode ini diprogramkan pemerintah RI mulai tahun 1974. Regu yang dipimpin oleh Dr. A.S Broto pada waktu- waktu itu telah menghasilkan metode SAS. Menurut A.S Broto khususnya disediakan untuk belajar membaca dan menulis permulaan di kelas permulaan SD.
Beberapa alasan yang mendasari metode SAS diciptakan untuk memperbaiki pengajaran membaca pada sistem permulaan:
(1) Pada dasarnya bahasa itu ucapan, bukan tulisan. (2) Unsur bahasa terkecil yang bermakna ialah kalimat.
(3) Setiap bahasa memiliki struktur yang berbeda dengan bahasa lain. (4) Pada waktu memulai bersekolah, setiap anak telah menguasai
struktur ibunya.
(5) Bahasa ibu itu dikuasai siswa tanpa kesadaran tentang aturan-aturan dalam bahasa tersebut.
(6) Potensi dan pengalaman bahasa siswa itu perlu dikembangkan di sekolah.
(7) Melalui pendidikan di sekolah, 10000
(8) siswa dilatih mencari dan memecahkan masalah.
(9) Dalam mengamati sesuatu, manusia lebih dahulu melihat strukturnya atau sosok keseluruhannya.
(10) Setiap siswa pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu, sehingga ia ingin mengugah, merusak, atau membongkar sesuatu. (Sabarti Akhadiah, M.K. dkk, 1991/1992: 34).
Metode SAS pada dasarnya merupakan perpaduan antara metode fonik dan metode linguistik. Meskipun demikian, ada perbedaan antara kode tulisan yang dianalisis dalam metode linguistik untuk kata. Sedangkan dalam metode SAS yang dianalisis adalah kode tulisan yang berbeda bentuk kalimat pendek yang utuh. Metode SAS didasarkan atas asumsi bahwa pengamatan
siswa mulai dari keseluruhan (gestalt) dan kemudian ke bagian- bagian. Oleh karena itu, siswa diajak memecahkan kode tulisan pendek yang dianggap sebagai unit bahasa yang utuh, selanjutnya diajak menganalisis menjadi kata, suku kata, dan huruf, kemudian mensintesiskan kembali dari huruf ke suku kata, kata dan akhirnya kembali menjadi kalimat (Mulyono Abdurrahman, 1996 : 185).
Pembelajaran membaca kepada siswa permulaan merupakan pekerjaan yang ekstra bagi pendidik, melalui proses analitik, siswa diajak untuk mengenal konsep kata. Karena pemberian pembelajaran membaca dalam membahas kalimat- kalimat yang utuh dapat dijadikan sebagai tonggak dasar untuk pembelajaran membaca permulaan dan akhirnya akan diuraikan kedalam satuan-satuan bahasan yang lebih kecil yang disebut kata. Kata demi kata akan dibahas secara berkesinambungan dalam metode membaca agar supaya siswa betul-betul mampu menguasai bacaan, sebab selain siswa dituntut untuk bisa membaca juga dituntut untuk memahami makna bacaan.
Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa metode SAS merupakan suatu metode dasar yang diterapkan dalam pendidikan untuk memberikan bimbingan kepada siswa dalam hal membaca. Karena itulah dengan membaca dengan baik dan benar merupakan salah satu sarana yang dapat menghantarkan siswa untuk mencapai prestasi belajar.
c. Prosedur Penggunaan Metode SAS
Prosedur penggunaan metode SAS dalam pembelajaran membaca antara lain :
1) Mula-mula membaca permulaan dijadikan dua bagian yaitu membaca permulaan dengan buku dan tanpa buku
2) Merekam bahasa anak melalui pertanyaan – pertanyaan dari pengajar sebagai kontak permulaan.
3) Menampilkan gambar sambil bercerita.
Setiap kali gambar ditampilkan, muncullah kalimat anak-anak yang sesuai dengan gambar.
4) Membaca secara struktural 5) Membaca permulaan dengan buku 6) Membaca lanjutan
7) Membaca dalam hati
Menurut Sabarti Akhadiyah dkk (1991/1992: 34). Penggunaan Metode SAS ini dilaksanakan dalam dua periode. Periode pertama ialah periode tanpa buku dan periode yang kedua ialah periode dengan buku.
1) Periode Membaca Permulaan Tanpa Buku
Periode tahap ini merupakan tahap pertama dalam proses pengajaran membaca permulaan. Pada periode ini guru menggunakan alat atau media kecuali buku. Periode ini berlangsung dengan urutan sebagai berikut.
a) Merekam Bahasa Anak
Pada awal masuk sekolah, dari segi kebahasaanya, mereka telah menguasai bahasa ibunya. Mereka juga mempunyai berbagai pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya dari lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar rumahnya. Latar belakang bahasa, pengetahuan, serta pengalaman mereka berbeda-beda. Hari-hari pertama masuk sekolah guru mencatat kalimat-kalimat yang diucapkan siswa. Kalimat ini dijadikan pola dasar untuk pengajaran membaca permulaan.
b) Bercerita dengan gambar
Gambar-gambar yang dipasar didinding kelas selain untuk menyemarakkan kelas, juga dapat dijadikan alat pelajaran. Tentunya penempatan dan pemilikan gambar harus dilakukan seksama. Gambar-gambar harus menarik dan dapat dirangkai menjadi cerita. Guru menggunakan gambar-gambar tersebut untuk bahan cerita.
Guru dapat menggunakan gambar sebagai bahan cerita. Melalui pertanyaan-pertanyaan pancingan dari guru, siswa mengemukakan kalimat sehubungan dengan gambar yang ditampilkan satu persatu. Gambar-gambar ditempelkan pada papan flanel dalam urutan yang baik sehingga dapat dirangkaikan menjadi cerita sederhana.
c) Membaca Gambar
Guru menunjukkan sebuah gambar. Kemudian diletakkan tulisan/kalimat dibawahnya. Jika guru menunjukkan gambar itu siswa
menyebutkan kalimatnya. Dalam hal ini siswa belajar membaca gambar.
d) Membaca gambar dengan kartu kalimat
Kartu kalimat yang disertakan pada gambar yang dibaca siswa, akan menarik perhatian siswa. Mereka memperhatikan kartu dan tulisan tersebut. Siswa dapat melihat bahwa secara keseluruhan tulisan kalimat itu berbeda-beda untuk setiap gambar.
e) Proses struktural
Gambar-gambar yang memandu kalimat pada kartu dihilangkan. Siswa memulai belajar membaca kalimat secara struktural atau global. Untuk memeriksa apakah siswa telah mampu membaca secara struktural, guru dapat menemukan letak urutan kartu, atau mengangkat semua kartu kalimat kemudian menampilkannya satu persatu secara acak dan meminta siswa membacanya.
f) Proses analitik
Jika proses struktural berjalan dengan baik, maka siswa akan mendengarkan dengan melihat adanya kelompok-kelompok yang diucapkan atau dibacanya.
Contoh : ini mama dewi Ini kakak dewi Ini ayah dewi
Dengan demikian proses selanjutnya yaitu proses analitik dapat dimulai. Kalimat diurai menjadi kata, kata menjadi suku kata, dan suku kata, menjadi huruf. Melalui kegiatan analitik ini, siswa diharapkan mampu mengenali huruf-huruf dalam kalimat ini.
ini dewi ini dewi i ni de wi i n i d e w i
Siswa pada akhirnya mengenali huruf. Dari proses analitik ini diperoleh kartu kata, kartu suku, dan kartu huruf.
g) Proses Sintentik
Sesudah siswa mampu mengenali huruf dalam kalimat, maka huruf-huruf yang sudah terpisah-pisah itu digabungkan kembali menjadi kata-kata, dan akhirnya menjadi kalimat.
Pengenalan huruf-huruf baru tetap dilakukan melalui kalimat dengan proses struktural analitik-sintetik dengan menggunakan kartu-kartu.
2) Periode Membaca Permulaan dengan Buku
Penggunaan buku ini memuat kalimat-kalimat dan huruf-huruf yang sudah dipelajarinya pada masa/periode tanpa buku. Kegiatan membaca dengan buku ini bertujuan untuk melancarkan dan memantapkan siswa dalam membaca. Jadi buku pertama yang dibaca berfungsi sebagai pelancar. Selain itu juga untuk membiasakan siswa membaca tulisan berukuran kecil, sebab selama periode tanpa buku mereka berlatih membaca dengan huruf berukuran besar.
d. Kelebihan Metode SAS
Metode SAS banyak digunakan pada pembelajaran membaca permulaan kepada siswa. Karena mempunyai kelebihan-kelebihan.
Beberapa manfaat yang dianggap sebagai kelebihan dari metode SAS, diantaranya sebagai berikut :
1) Metode ini sejalan dengan prinsip linguistik (ilmu bahasa) yang memandang satuan bahasa terkecil yang bermakna untuk komunikasi adalah kalimat. Kalimat dibentuk oleh satuan-satuan bahasa dibawahnya, yakni kata, suku kata, dan akhirnya fonem (huruf-huruf). 2) Metode ini mempertimbangkan pengalaman berbahasa anak. Oleh
karena itu, pengajaran bermakna bagi anak karena bertolak dari sesuatu yang dikenal dan diketahui anak. Hal ini akan memberi dampak positif terhadap daya ingat dan pemahaman anak .
3) Metode ini sesuai dengan prinsip inkuri (menemukan sendiri). Siswa mengenal dan memahami sesuatu berdasarkan hasil temuannya sendiri. Dengan begitu siswa akan merasa lebih percaya diri atas kemampuan sendiri. Sikap seperti ini akan membantu siswa dalam mencapai keberhasilan belajar (Djago Tarigan dalam Sipu, 2003 : 10).
Segi baiknya metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) yang juga merupakan kelebihan-kelebihan adalah :
1) Metode ini dapat sebagai landasan berpikir analisis.
2) Dengan langkah-langkah yang diatur sedemikian rupa membuat anak mudah mengikuti prosedur dan akan dapat cepat membaca pada kesempatan berikutnya.
3) Berdasarkan landasan linguistik metode ini akan menolong anak menguasai bacaan dengan lancar (http://massofa.word press.com, 27 – 6 2008)
e. Langkah-langkah Pengajaran Metode SAS
Dalam proses operasionalnya metode SAS mempunyai langkah-langkah berlandaskan operasional dengan urutan: Struktural menampilkan keseluruhan, Analitik melakukan proses penguraian, Sintetik melakukan penggabungan kembali kepada bentuk struktural semula.
Agar supaya penerapan metode SAS tercapai sesuai dengan tujuan yang diharapkan, maka sebagai tenaga pendidik (guru) harus menggunakan berbagai langkah, diantaranya :
1) Guru bercerita atau bertanya jawab dengan siswa. 2) Membaca beberapa gambar.
3) Membaca beberapa kalimat dengan bantuan gambar.
4) Setelah siswa hafal membaca kalimat dengan bantuan gambar, dilanjutkan membaca tanpa bantuan gambar.
5) Menganalisa sebuah kalimat menjadi kata, suku kata, dan huruf serta mensintesiskan kembali menjadi kalimat (Depdikbud, 1992). Ada dua jenis tindakan pendekatan pengajaran membaca yang sering dipakai pada tahap ini, tetapi para pakar tidak mempunyai pendapat yang sama mengenai pendekatan yang lebih baik diantara keduanya. Pendekatan pertama menekankan pada symbol (code emphasis). Pendapat kedua menekankan belajar membaca kata dan kalimat secara utuh (meaning enphasis) (Sunardi, 19997 : 7)
Pendekatan pada pemahaman symbol dan menekankan belajar membaca kata serta kalimat secara utuh merupakan salah satu faktor yang dapat menghantarkan kepada siswa untuk lebih cepat mampu mengucapkan kata-kata atau symbol dalam belajar membaca. Karena itulah berhasil atau
tidaknya siswa dalam mengikuti kegiatan belajar salah satu faktor yang mendukung yaitu kemampuan siswa dalam membaca.
B. Kerangka Berpikir
Siswa kelas IV dalam proses belajar membaca permulaan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Pengamatan peneliti terhadap siswa kelas IV ternyata prestasi belajar membaca pada pembelajaran Bahasa Indonesia rendah.
Di kelas IV terdapat 3 siswa yang prestasi belajar membaca permulaan rendah, sehingga mereka belum mencapai tujuan pembelajaran. Dari tiga siswa semuanya memerlukan pelayanan tindakan.
Penggunaan metode Struktural Analistik Sintetik (SAS) diduga dapat meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan metode tersebut akan meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan di kelas D4C SLB BC YPASP Gondangrejo Karanganyar Semester II Tahun Ajaran 2008/2009.
Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan kerangka pemikiran dalam penelitian ini, sebagai berikut :
Gambar 1. Skema Kerangka Berpikir
5. Prestasi belajar membaca permulaam meningkat 1. Siswa 3. Siswa Prestasi Membaca Permulaan rendah 3. b. Faktor Eksternal 2. PBM Membaca permulaan 3.a Faktor Internal 4. Penggunaan Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik)
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan pemikiran di atas, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah penggunaan metode Struktural Analisis Sintetik (SAS) dapat meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas D4C SLB BC YPASP Gondangrejo Karanganyar Semester II Tahun Ajaran 2008/2009.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Setting Penelitian 1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan, yaitu dari bulan Februari sampai dengan Juli 2009. Sebagaimana diuraikan dibawah ini.
Uraian kegiatan penelitian adalah sebagai berikut : N
o. Kegiatan
Waktu / Buian
Februari Maret April Mei Juni Juli Persiapan Tindakan
1 Penyususunan proposal V
2 Persetujuan proposal V
3 Perbaikan proposal V
4 Perijinan penelitian V
5 Membuat instrumen alat peraga , RPP V Pelaksanaan Tindakan 6 Siklus I V 7 Siklus II V 8 Siklus III V Pasca Tindakan 9 Rekapitulasi hasil V 10 Penyusunan laporan V
11 Pengajuan dan perbaikan V
12 Penggandaan laporan V
2. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di SLB BC YPASP gondangrejo karanganyar kelas D4C Semester II Tahun Ajaran 2008/2009. Sekolah ini beralamat di jalan
Solo-Purwodadi Km 6. Desa Wonorejo Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar.
Hal ini dilakukan karena peneliti sebagai guru kelas, agar kemampuan atau prestasi belajar membaca dapat meningkat, pada bidang pengajaran Bahasa Indonesia.
B. Subyek Penelitian
Adapun yang menjadi subyek penelitian ini adalah siswa kelas D4C (Tuna Grahita). SLB BC YPASP Gondangrejo Karanganyar yang berjumlah 3 siswa, terdiri dari 1 laki-laki dan 2 perempuan, guru sebagai kolabolator dan guru sebagai peneliti.
C. Sumber Data
Data diperoleh dari informasi tentang kemampuan siswa dalam membaca, motivasi dalam membaca, serta penggunaan strategi pembelajaran di kelas. Data penelitian itu dikumpulkan dari berbagai sumber, yang meliputi :
1) Nara sumber, yaitu siswa, guru, dan orang tua.
2) Dokumen, antara lain berupa kurikulum, RPP dan buku penilaian
D. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan metode testing, metode dokumentasi dan metode observasi.
a. Metode observasi
Metode observasi adalah mengamati dan mencatat secara sistematis untuk mengetahui kemampuan membaca permulaan siswa.
Tujuan observasi adalah untuk mengetahui siswa yang mengalami prestasi belajar membaca rendah dan bentuknya berupa lembar pengamatan.
b. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi bertujuan untuk mengumpulkan data. Berdasarkan data-data, catatan-catatan yang berhubungan dengan kemampuan membaca permulaan.
Dokumen yang digunakan adalah raport, daftar nilai, catatan atau buku ulangan harian siswa.
c. Test
Tujuan test adalah untuk mengetahui kemampuan membaca permulaan, baik saat maupun sesudah tindakan. Jenis test yang digunakan adalah test lisan, yaitu serangkaian kalimat yang harus dibaca oleh siswa, sedangkan bentuk test adalah Subyektif.
Adapun untuk mengetahui perkembangan membaca pada siswa disetiap siklus, maka dilakukan penilaian proses membaca dan penilaian membaca.
1) Penilaian proses membaca
Siswa pada waktu proses pembelajaran diamati dan dinilai, sehingga dapat diketahui apakah siswa sudah dapat membaca dan menggabungkan huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat dengan benar.
2) Penilaian membaca
Setelah proses belajar mengajar diadakan evaluasi/test membaca kalimat.
2. Instrumen pengumpulan data
Instrumen atau alat pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Lembar test
Alat ini dimaksudkan untuk mengumpulkan data prestasi membaca permulaan pada siswa kelas D4C SLB B-C YPASP Gondangrejo. Akan diperoleh melalui test proses membaca dan test membaca. Lembar ini terdiri dari 5 soal obyektif.
b. Dokumentasi
Instrumen ini dimaksudkan untuk memperoleh data tentang subyek penelitian. Data tersebut diperoleh dari nilai raport dan nilai harian bahasa Indonesia.
c. Lembar observasi
Lembar observasi digunakan untuk mengadakan observasi yang lebih terarah terhadap siswa yang mengalami prestasi belajar membaca rendah.
Lembar observasi yang digunakan ada dua macam :
1) Lembar observasi awal digunakan untuk mengadakan observasi terhadap siswa yang prestasi belajar membaca permulaan rendah, agar dapat diperoleh gambaran kemampuan dasar siswa di bidang membaca permulaan.
2) Lembar observasi proses digunakan untuk mengadakan observasi yang lebih terarah terhadap proses pelaksanaan tindakan, yang dituangkan dalam jadwal harian.
E. Validasi Data
Informasi-informasi yang akan dijadikan data penelitian perlu diperiksa validasinya, sehingga data tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dijadikan sebagai dasar yang kuat dalam menarik kesimpulan. Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data yaitu triangulasi dan review informan kunci.
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan validitas data dengan memanfaatkan sarana diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding data itu (Lexy J. Moleong, dalam Sarwiji Suwandi, 2008 : 69).
Teknik triangulasi yang digunakan adalah : 1. Triangulasi sumber data
a. Data dari buku ulangan harian siswa menunjukkan hasil prestasi Bahasa Indonesia rendah
2. Triangulasi metode pengumpulan data
a. Tugas membaca di depan kelas, siswa mengalami kesulitan membaca b. Wawancara dengan orang tua siswa tentang belajar anak di rumah.
c. Diskusi dengan teman sejawat tentang fasilitas/media pembelajaran di sekolah.
Review informan kunci adalah mengkonfirmasikan data atau interprestasi temuan kepada informankunci sehingga diperoleh kesepakatan antara peneliti dan informasi tentang data atau interpretasi temuan tersebut (Sarwiji Suwandi, 2008 : 69). Setelah melakukan kegiatan pengamatan maupun kajian dokumen diperiksa kembali oleh peneliti sehingga data tersebut valid.
F. Analisis Data
Analisis data dalam penulisan ini dengan menggunakan teknik deskriptif komparatif (statistik deskriptif komparatif) dan teknik analisis kritis.
Teknik statistik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif, yaitu dengan membandingkan hasil yang diperoleh antar siklus. Nilai rata-rata siswa dalam kemampuan membaca pada kondisi sebelum tindakan, setelah siklus, setelah siklus II, dan seterusnya, dibandingkan hasilnya.
Teknik analisis kritis mencakup kegiatan untuk mengungkapkan kelebihan dan kelemahan kinerja siswa dan guru dalam proses belajar mengajar berdasarkan kriteria normatif yang diturunkan dari kajian teoritis maupun dari ketentuan yang ada.
G. Indikator Kinerja
Indikator kinerja merupakan rumusan kinerja yang akan dijadikan acuan dalam menentukan keberhasilan penelitian. Ukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan penelitian tindakan kelas ini dinyatakan secara kuantitatif. Setelah siklus tiga berakhir diharapkan dengan pembelajaran metode SAS yang dirancang dan dilaksanakan oleh peneliti secara benar, dapat meningkatkan prestasi belajar membaca pada pelajaran Bahasa Indonesia. Sedangkan tujuan akhir dari penelitian ini adalah siswa dapat membaca 5 kalimat sederhana tanpa mengeja. Tolok ukur keberhasilan apabila siswa dapat mencapai nilai 70.
H. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini mencakup tahap-tahap sebagai berikut : 1. Tahap Persiapan
a. Mempelajari kurikulum
b. Mengidentifikasi siswa yang prestasi belajar membaca rendah c. Membuat alat peraga
d. Membuat lembar observasi 2. Tahap Tindakan
Pelaksanan tindakan diwujudkan dalam bentuk siklus. Direncanakan 3 siklus yang setiap siklusnya tercakup 4 kegiatan, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
a. Rencana siklus I
Tolak ukur keberhasilan siklus I adalah siswa dapat mengenal, membaca huruf-huruf, suku kata, kata dan kalimat yang mengandung huruf b, d dan p dengan nilai 70.
1) Tahap Perencanaan (Planning)
§ Merancang sekenario pembelajaran membaca § Menyusun RPP tentang kegiatan membaca § Menyediakan media berupa gambar. § Menyiapkan lembar evaluasi
2) Pelaksanaan Tindakan (Acting)
Pelaksanaan tindakan ini berarti perlakuan yang akan dilaksanakan kepada siswa. Adapun langkah kegiatannya :
§ Guru menunjukkan gambar § Guru menceritakan gambar
§ Guru memberi tulisan di bawah gambar sesuai gambar
§ Siswa mengenal huruf-huruf yang ada dan cara membacanya dengan bantuan gambar
§ Setelah siswa mengenal huruf, gambar mulai disingkirkan § Dilanjutkan membaca tanpa bantuan gambar
§ Kemudian menganalisis kalimat menjadi kata, suku kata dan huruf serta mensintesiskan kembali menjadi kalimat
3) Pengamatan (Observing)
Pengamatan diarahkan pada poin-poin yang telah ditetapkan dalam indikator. Hasil pengamatan dicatat dalam bentuk jurnal harian.
4) Refleksi (Reflecting)
Refleksi merupakan pengkajian dan penilaian hasil pengamantan dalam kaitannya dengan indikator kinerja tahap I, apabila hasil pengamantan menunjukkan peningkatan, makia edirumuskan tujuan tahap selanjutnya lebih tinggi tingkat pemahamnnya. Untuk itu perlu disusun rencana tindakan II.
b. Rencana Siklus II
Pada siklus II perencanaan tindakan denga hasil yang telah dicapai pada tindakan dalam siklus I. sebagai upaya perbaikan dari siklus tersebut materi pembelajaran sesuai kurikulum sehingga pelaksanaan penelitian tidak mengganggu jadwal pembelajaran. Karena tujuannya adalah untuk meningkatkan prestasi belajar membaca.
Tolok ukur keberhasilan siklus II adalah siswa dapat membaca huruf-huruf, suku kata dan kalimat yang mengandung konsonan rangkap (b, d dan p) mencapai nilai 70.
Rencana penelitian penggunaan metode SAS dalam meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan dapat diilustrasikan sebagai berikut
Gambar 2. Rencana tindakan dalam peningkatan Prestasi belajar membaca Permulaan Masalah Rencana Tindakan I Refleksi Pelaksanaan Tindakan I Tahap I Pengamatan Rencana Tindakan II Refleksi Pengamatan Pelaksanaan Tindakan II Tahap II
SIKLUS I
Dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia (membaca permulaan) dikelas D4C Semester, metode yang cocok adalah metode SAS. Pada tahapan atau siklus ini guru menunjukkan gambar keadaan saat lomba mewarnai, guru memberikan tulisan dibawah gambar yang berhubungan dengan gambar tersebut dengan kalimat sederhana yang mengandung kata dengan huruf (b, d dan p), sehingga siswa diharapkan dapat membacanya. Guru menunjuk salah satu siswa untuk membacanya didepan kelas.
Adapun tahapan pada siklus I adalah sebagai berikut: a. Perencanaan Tindakan (Planning)
Subyek penelitian sebanyak 3 siswa ke D4C, yang mana masih ada beberapa siswa yang mendapat nilai rendah atau kurang dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ternyata setelah diamati masih ada beberapa siswa yang belum lancar membaca, sehingga dalam pembelajaran Bahasa Indonesia guru perlu memilih dan menggunakan metode yang sesuai dengan materi pembelajaran yakni metode SAS.
Guru menunjukkan gambar tentang lomba mewarnai beserta kalimat yang mengandung kata dengan huruf b, d dan p. setelah itu siswa disuruh mengamati gambar dan tulisan dibawah gambar kemudian membacanya. Siswa disuruh menguraikan kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata dan suku kata menjadi huruf. Setelah siswa mampu mengenal huruf dalam kalimat, maka huruf-huruf digabungkan kembali menjadi kata dan akhirnya menjadi kalimat. Dari hasil membaca dan menguraikan dan menggabungkan huruf, hasilnya selalu dinilai guru. Guru selalu memberi bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan, dan memberi pengamatan, sehingga siswa menjadi lebih senang dan bersemangat.
b. Pelaksanaan Tindakan (Acting)
Pada tahap ini guru menunjukkan gambar dan kalimat sederhana. Guru menjelaskan cara membaca. Guru mengajak siswa bersama-sama membaca kalimat. Kemudian guru menguraikan kalimat sampai menjadi huruf dan