• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Deskripsi Pelaksanaan Pembelajaran Akuntansi Kelas XI Akuntansi 1 Pembelajaran yang dilakukan di kelas dibimbing oleh guru mataPembelajaran yang dilakukan di kelas dibimbing oleh guru mata

1. Prestasi Belajar Siswa Selama Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning

Indikator Positif Negatif

1. Sikap siswa terhadap permasalahan yang disajikan.

18 siswa 81,82%

4 siswa 18,18% 2. Kemampuan siswa memahami masalah

dari dunia nyata yang disajikan guru.

19 siswa 86,36%

3 siswa 13,64% 3. Kemampuan mengorganisasikan materi

pelajaran di seputar permasalahan.

20 siswa 90,91%

2 siswa 9,09% 4. Keterlibatan siswa di dalam kelompok

dan aktivitas pemecahan masalah.

17 siswa 77,27%

5 siswa 22,73% 5. Penyajian hasil dari aktivitas

pemecahan masalah.

18 siswa 81,82%

4 siswa 18,18% 6. Respon sisiwa terhadap implementasi

Problem Based Learning dalam proses

pembelajaran Akuntansi

17 siswa 77,27%

5 siswa 22,73% Penjelasan pada tabel 9 dapat dilihat pada lampiran 12 di halaman 143.

D. Pembahasan

1. Prestasi Belajar Siswa Selama Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning

Model Pembelajaran Problem Based Learning diterapkan pada proses pembelajaran kompetensi Mengelola Kartu Persediaan. Secara umum proses pembelajaran dengan penerapan Model PembelajaranProblem Based Learning diawali dengan memberikan apersepsi kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari oleh siswa pada setiap awal pertemuan. Kegiatan inti pembelajaran dilakukan dengan pemberian kasus atau permasalahan yang harus dipecahkan dengan diskusi kelompok. Selama kegiatan diskusi, guru dan peneliti berusaha mendorong siswa untuk menemukan jawaban atas solusi melalui aktivitas pemecahan

masalah yang bermakna bagi siswa. Dalam pemecahan aktivitas masalah dengan diskusi kelompok tersebut setiap kelompok diminta untuk melakukan pembagian siswa yang dapat membuat setiap anggota kelompok dalam berperan aktif dalam upaya pemecahan masalah. Siswa diminta untuk bertanggung jawab atas apa yang menjadi tugasnya, bekerja sama dengan teman satu kelompok serta berbagi ilmu untuk menyelesaikan kasus yang disajikan. Kegiatan diskusi kelompok dilanjutkan dengan presentasi jawaban atau solusi atas permasalahan dari hasil diskusi kelompok. Melalui presentasi kelompok ini dapat dilihat alternatif jawaban yang diajukan setiap kelompok. Alternatif jawaban tersebiut selanjutnya dibahas kembali dalam diskusi kelas yang dipandu oleh guru.

Pada proses pembelajaran selama tindakan penelitian dilaksanakan, peran guru sebagai fasilitator, metode mengajar didominasi dengan metode diskusi dengan tanya jawab dan studi kasus. Peneliti dan guru berusaha untuk mengurangi metode ceramah seperti yang dilakukan pada proses pembelajaran sebelumnya, sehingga ketergantungan siswa terhadap penjelasan materi dari guru semakin berkurang dan siswa menemukan konsep materi melalui serangkaian aktivitas pemecahan masalah yang dilakukan dengan berdiskusi kelompok. Tingkat pemahaman siswa diukur dengan tes yang dilakukan setiap akhir siklus tindakan. Berdasarkan nilai tes tersebut dapat diketahui peningkatan Prestasi Belajar Akuntansi siswa pada kompetensi Mengelola Kartu Persediaan.

Hasil penelitian ini diperkuat oleh teori dari para ahli. Menurut Wina Sanjaya (2008: 220) menyatakan sebagai suatu strategi pembelajaran, Model Pembelajaran Problem Based Learning memiliki beberapa keunggulan diantaranya: 1) pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk memahami pembelajaran, 2) pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan kemampuan baru, 3) pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukaan oleh Yuditya Falestin (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Peningkatan Prestasi Belajar Akuntansi Melalui Penerapan Model Pembelajaran

Problem Based Learning pada Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6

Surakarta Tahun Ajaran 2009/2010”, menyimpulkan bahwa: Model PembelajaranProblem Based Learning dapat meningkatkan Prestasi Belajar Akuntansi siswa.

Prestasi belajar siswa kelas XI Akuntansi 1 SMK Muhammadiyah 2 Moyudan sebelum dilaksanakan tindakan yaitu pada kompetensi Mengelola Kartu Persediaan masih rendah. Berdasarkan nilai ulangan harian pada kompetensi tersebut, diketahui bahwa 9 siswa atau 40,91% siswa dapat mencapai KKM yang besarnya 75 dan 13 siswa atau 59,09% tidak mampu mencapai KKM atau nilainya masih dibawah 75. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I dengan menerapkan Model Pembelajaran

Problem Based Learning nilai tes rata-rata naik daripada sebelum

diterapkannya Model Pembelajaran Problem Based Learning.

Prestasi Belajar Akuntansi siswa pada siklus I diukur dengan tes yang dilakukan pada akhir tindakan siklus I. Hasil tes pada akhir siklus I menunjukkan 13 siswa atau sebesar 61,90% telah mencapai KKM, dan 8 siswa atau sebesar 38,10% tidak mencapai KKM. Prestasi belajar siswa pada tindakan siklus Isudah mengalami peningkatan pada nilai rata-rata sebesar 1,59.

Pada siklus II kompetensi Mengelola Kartu Persediaan, siswa yang mencapai KKM sebanyak 22 siswa atau sebesar 95,45% dan diperoleh rata-rata kelas untuk kelas XI Akuntansi 1 SMK Muhammadiyah 2 Moyudan pada akhir siklus II yaitu sebesar 93,86. Jika membandingkan antara sebelum menerapkan Model Pembelajaran Problem Based Learning, pada siklus I, dan pada siklus II, maka dapat dilihat bawa terjadi

peningkatan yang signifikan pada siklus II. Nilai rata-rata kelas pada siklus I hanya sebesar 70,95, pada siklus II naik menjadi 93,86, atau meningkat sebesar 22,91.

Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan ini adalah peningkatan Prestasi Belajar Akuntansi siswa yang ditunjukkan dengan pencapaian KKMoleh 75% siswa kelas XI Akuntansi 1 SMK Muhammadiyah 2 Moyudan. Berdasarkan prestasi belajar siswa yang diukur dengan tes pada setiap akhir siklus tindakan maka dapat dikatakan bahwa penelitian tindakan ini berhasil. Hal ini ditunjukkan dengan prestasi

belajar pada siklus II cukup tinggi yaitu 95,45% siswa dapat mencapai KKM dengan nilai rata-rata kelas sebesar 93,86. Kenaikan prestasi belajar tersebut menunjukkan bahwa penerapan Model Pembelajaran Problem

Based Learning pada kompetensi Mengelola Kartu Persediaan dapat

meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI Akuntansi 1 SMK Muhammadiyah 2 Moyudan.

Nurhadi dalam Trianto (2010:96) mengemukakan bahwa “Model Pembelajaran Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa dengan masalah nyata yang sesuai minat dan perhatiannya yang memberdayakan daya fikir, kreativitas, dan partisipasi siswa dalam pembelajaran sehingga motivasi dan rasa ingin tahu menjadi meningkat”. Oleh karena itu, siswa diharapkan dapat mengembangkan cara berfikir dan keterampilan yang lebih tinggi. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning menghadapkan siswa pada suatu permasalahan sehingga mereka termotivasi untuk mencari jawaban dengan cara berulang-ulang memecahkan masalah yang dihadapinya yang pada akhirnya dapat menyelesaikan masalah tersebut sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa akan kemampuannya. Peningkatan rasa percaya diri siswa akan kemampuannya dapat membuat siswa menjadi lebih aktif dan berpartisipatif dalam proses pembelajaran karena siswa merasa tertantang untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan oleh guru dan membuat siswa menjadi lebih yakin dapat meraih Prestasi Belajar Akuntansi yang lebih tinggi daripada pencapaian

sebelumnya. Hal ini terbukti pada pencapaian prestasi belajar siswa yang mengalami peningkatan sebesar 95,45% siswa dapat mencapai KKM dengan nilai rata-rata kelas sebesar 93,86. Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yuditya Falestin (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Peningkatan Prestasi Belajar Akuntansi Melalui Penerapan Model Pembelajaran Problem Based

Learning pada Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Surakarta Tahun

Ajaran 2009/2010”, menyimpulkan bahwa: Model PembelajaranProblem

Based Learning dapat meningkatkan Prestasi Belajar Akuntansi siswa.

Hal ini terbukti pada siklus I nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hasil penelitian pada siklus I meningkat dibandingkan sebelum dilaksanakannya penelitian, yaitu 78,57% siswa telah mencapai standar ketuntasan belajar minimal yaitu 65. Nilai rata-rata kelas setelah penerapan Model PembelajaranProblem Based Learning mengalami peningkatan angka sebesar 4,18 (nilai sebelum siklus 69,05 dan nilai siklus I 73,23). Pada siklus II jumlah siswa yang mencapai standar ketuntasan belajar minimal sebanyak 40 siswa atau 95,24%. Nilai rata-rata kelas pada siklus II yaitu 82,90, terjadi peningkatan nilai rata-rata kelas dari siklus I ke siklus II sebesar sebesar 9,67 (nilai siklus I 73,23 dan nilai siklus II 82,90). Bila dibandingkan dengan sebelum penerapan Model PembelajaranProblem Based Learning, nilai rata-rata siswa pada siklus II ini mengalami kenaikan angka sebesar 13,85.