• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN

E. Prestasi,Wanprestasi, dan Akibat – akibatnya

Pasal 1234 KUHPerdata menyatakan bahwa “tiap – tiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk membuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu”.

Kemudian Pasal 1235 KUHPerdata menyebutkan “ Dalam tiap – tiap perikatan untuk memberikan sesuatu adalah termaksud kewajiban si berutang untuk menyerahkan kebendaan yang bersangkutan dan untuk merawatnya sebagai seorang bapak rumah yang baik sampai pada saat penyerahan.”

Dari pasal tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa dalam suatu perikatan, pengertian “memberikan sesuatu” mencakup pula kewajiban untuk

       

menyerahkan barangnya dan untuk memeliharanya hingga waktu penyerahannya.

Istilah “memberikan sesuatu” sebagaimana disebutkan dalam pasal 1235 KUHPerdata tersebut dapat mempunyai dua pengertian, yaitu :44

1. Penyerahan kekuasaan belaka atas barang yang menjadi objek perjanjian.

2. Penyerahan hak milik atas barang yang menjadi objek perjanjian, yang dinamakan penyerahan yuridis.

Wujud prestasi yang lainnya adalah “berbuat sesuatu” dan “tidak berbuat sesuatu” . berbuat sesuatu adalah melakukan sesuatu perbuatan yang telah ditetapkan di dalam perjanjian. Tidak berbuat sesuatu adalah tidak melakukan sesuatu perbuatan sebagaimana juga yang telah ditetapkan didalam suatu perjanjian, manakala para pihak telah menunaikan prestasinya maka perjanjian tersebut akan berjalan sebagaimana mestinya tanpa menimbulkan persoalan. Namun kadangkala ditemui bahwa debitur tidak bersedia atau menolak memenuhi prestasi sebagaimana yang telah diperjanjikan. Hal inilah yang disebut wanprestasi.

Pada umumnya debitur dikatakan wanprestasi manakala ia karena kesalahannya sendiri tidak melaksanakan prestasi, atau melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak diperbolehkan dilakukan.

Menurut R. Subekti melakukan prestasi tetapi tidak sebagaimana mestinya juga dinamakan wanprestasi.45 Yang menjadi persoalan adalah sejak kapan debitur dikatakan wanprestasi. Mengenai hal tersebut perlu dibedakan wujud atau

 

44

Ibid.,

45

       

bentuk prestasinya. Sebab bentuk prestasi itu sangat menentukan sejak kapan seorang debitur dapat dikatakan telah wanprestasi.

Dalam hal wujudnya prestasinya “memberikan sesuatu” maka perlu pula dipernyatakan apakah di dalam perjanjian telah ditentukan atau belum mengenai tenggang waktu pemenuhan prestasinya. Apabila tenggang waktu pemenuhan prestasi sudah ditentukan dalam perjanjian, maka menurut Pasal 1238 KUHPerdata debitur sudah dianggap wanprestasi dengan lewatnya waktu pemenuhan prestasi tersebut. Sedangkan bila tenggang waktunya tidak dicantumkan dalam perjanjian, maka dipandang perlu untuk terlebih dahulu memperingatkan debitur guna memenuhi kewajibannya, dan jika tidak dipenuhi, maka ia telah dinyatakan wanprestasi.46

Surat peringatan tersebut dinamakan somasi, dan somasi inilah yang digunakan sebagai alat bukti bahwa debitur telah wanprestasi. Untuk perikatan yang wujud prestasinya “tidak berbuat sesuatu” kiranya tidak menjadi persoalan untuk menentukan sejak kapan seorang debitur dinyatakan wanprestasi, sebab bila debitur melakukan sesuatu perbuatan yang dilarang dalam perjanjian maka ia dinyatakan telah wanprestasi.

Wanprestasi berarti debitur tidak melakukan apa yang dijanjikannya atau ingkar janji, melanggar perjanjian serta melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukannya, kata “wanprestasi” berasal dari bahasa Belanda yang berarti prestasi buruk. Debitur dianggap wanprestasi bila ia memenuhi syarat – syarat

 

46

R. Setiawan, Pokok – pokok Hukum Perjanjian, (Bandung : Putra Bordin, 1999) ,Loc. Cit

       

diatas dalam keadaan lalai maupun dalam keadaan sengaja. Wanprestasi yang dilakukan debitur dapat berupa empat macam, yaitu :47

a. Tidak melakukan apa yang disanggupi untuk dilakukan.

b. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana yang dijanjikan.

c. Melakukan apa yang dijanjikan tapi terlambat.

d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya. Permasalahan tentang wanprestasi, terdapat pendapat lain mengenai syarat – syarat terjadinya wanprestasi, yaitu :48

a. Debitur sama sekali tidak berprestasi, dalam hal ini kreditur tidak perlu menyatakan peringatan atau teguran karena karena hal ini percuma sebab debitur memang tidak mampu berprestasi.

b. Debitur salah berprestasi, dalam hal ini debitur sudah beritikad baik untuk melakukan prestasi, tetapi ia salah dalam melakukan pemenuhannya.

c. Debitur terlambat berprestasi, dalam hal ini banyak kasus yang dapat menyamakan bahwa terlambat berprestasi dengan tidak berprestasi sama sekali.

Berdasarkan dengan akibat wanprestasi tersebut, Abdul Kadir Muhammad berpendapat “akibat hukum dari debitur yang telah melakukan wanprestasi adalah hukuman atau sanksi sebagai berikut :49

a. Debitur diharuskan membayar ganti kerugian yang telah diderita kreditur (Pasal 1243 KUHPerdata)

  47 Ibid. 48 Loc. Cit 49

Abdul Kadir Muhammad, Pemahaman Dasar atas Usaha Leasing, (Jakarta : Integritas Press, 1985), Op. Cit

b. Dalam perjanjian timbal balik (bilateral) wanprestasi dari suatu pihak memberikan hak kepada pihak lainnya untuk membatalkan atau memutuskan perjanjian lewat hakim (Pasal 1266 KUHPerdata)

c. Risiko beralih kepada debitur sejak saat terjadinya wanprestasi (Pasal 1237 (2) KUHPerdata), ketentuan ini hanya berlaku bagi perikatan untuk memberikan sesuatu.

d. Membayar biaya perkara apabila perkara diperkarakan dimuka hakm (Pasal 181 (1) HIR). Debitur yang terbukti melakukan wanprestasi tentu dikalahkan dalam perkara. Ketentuan ini berlaku untuk semua perikatan.

e. Memenuhi perjanjian jika masih dapat dilakukan atau pembatalan perjanjian disertai dengan pembatalan ganti kerugian (Pasal 1267 KUHPerdata). Ini berlaku untuk semua perikatan.

Dari beberapa akibat wanprestasi tersebut, kreditur dapat memilih diantara beberapa kemungkinan sebagai berikut :

a. Meminta pelaksanaan perjanjian walaupun pelaksanaan sudah terlambat.

b. Meminta penggantian kerugian menurut pasal 1243 KUHPerdata, ganti rugi ini dapat berupa biaya (konsten), rugi (schaden), atau bunga (interessen).

c. Meminta pada hakim supaya perjanjian dibatalkan, bila perlu disertai dengan penggantian kerugian (Pasal 1266 KUHPerdata dan Pasal 1267 KUHPerdata).

Sehubungan dengan kemungkinan pembatalan lewat hakim sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1267 KUHPerdata tersebut, maka timbul persoalan apakah

       

perjanjian tersebut sudah batal karena kelalaian pihak debitur atau apakah harus dibatalkan oleh hakim. Dengan kata lain, putusan hakim tersebut bersifat

declaratoir atau bersifat constitutive. 50

R. subekti mengemukakan bahwa “menurut pendapat yang paling banyak dianut, bukannya kelalaian debitur, tetapi putusan hakimlah yang membatalkan perjanjian sehingga putusan hakim itu bersifat constitutive bukan declaratoir.51

 

50

Ibid.

51

  36

       

BAB III

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP LESSOR DALAM PERJANJIAN LEASING

A. Pengertian Leasing

Perkataan Leasing bersal dari bahasa Inggris yaitu kata lease , kata ini secara umum berarti menyewakan akan tetapi harus dibedakan dengan istilah Inggris lain yang senada, yaitu rent yang ditinjau dari sudut hukum mempunyai maksud berbeda. Namun dibandingkan dengn menyewakan, leasing lebih luas ruang lingkupnya atau lebih banyak variasinya. Ada beberapa negara yang berusaha untuk mencari nama lain dari leasing kedalam bahasa nasionalnya tetapi pada kenyataannya mengalami kesulitan karena menimbulkan penafsiran yang berbeda – beda.52

Dalam Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri, Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan RI No. KEP-122/MK/IV/2/1974, No. 32/M/SK/2/1974, No. 30/Kbp/I/1974 secara resmi mengartikan leasing sebagai berikut :

“setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang – barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran – pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih (optie) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang – barang modal

 

52

Komar Andasasmita, Leasing (Teori dan Praktek), (Bandung : Ikatan Notaris Indonesia,1983), hal 35

       

yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama.”53

Sedangkan Sri Soedewi mengartikan leasing adalah :

“segala perjanjian dimana si penyewa (lessee) menyewa barang modal untuk usaha tertentu dengan mengangsur untuk jangka waktu tertentu dan jumlah angsuran tertentu, dimana lamanya perjanjian sewa menyewa, beberapa kali mengangsur umlah angsuran, sama dengan nilai ekonomi dari benda itu.”54

Dari definisi leasing ini, dinyatakan bahwa leasing adalah suatu kegiatan pembiayaan, berarti suatu pengertian ekonomi. Sedangkan bila ditinjau dari segi hukum, leasing adalah suatu lembaga hukum perjanjian. Dan pengertian leasing terlalu kompleks untuk dianggap sebagai bentuk perjanjian sewa menyewa saja. Karena dalam perjanjian sewa menyewa tidak selalu dicantumkan janji – janji khusus yang memberikan kepada si penyewa yaitu suatu hak pilih (optie), sedangkan dalam perjanjian leasing hak optie ini selalu diperjanjikan.

Untuk membuktikan bahwa leasing adalah suatu lembaga hukum perjanjian, dapat dilihat dari perumusan Pasal 1 Surat Keputusan Tiga Menteri itu, yang jika dianalisa secara hukum dapat disimpulkan bahwa leasing adalah suatu kegiatan pembiayaan oleh suatu perusahaan untuk dinikmati oleh perusahaan lainnya. Jadi ada dua pihak yang mempunyai suatu persetujuan untuk saling mengikat. Dengan demikian leasing terbukti sebagai suatu perjanjian dan titik

 

53

Soejono Soekanto, Inventarisasi Perundang – Undangan Mengenai Leasing, (Jakarta, : IND HILL Co, 1986), hal 4

54

Sri Soedewi, Hukum Jaminan Indonesia dan Pokok – pokok Hukum Jaminan dan Hukum Perorangan, ( Yogykarta: Liberty, 1980), Hal. 28

       

tolak dari hukum perjanjian adalah diatur dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata.55

Setelah menentukan bahwa dasar perjanjian leasinh adalah ketentuan – ketentuan yang tertera dalam KUHPerdata yang berlaku di Indonesia, maka perjanjian tersebut harus dibentuk menurut KUHPerdata itu dan secara konsisten menerapkan ketentuan – ketentuan tersebut sesuai dengan perkembangan interpretasi dan yurisprudensi Indonesia untuk semua unsur dalam perjanjian leasing itu, maupun terhadap dampak – dampak di bidang hukum seperti wanprestasi.56

Unsur – unsur yang terlihat jelas dalam definisi leasing menurut Surat Keputusan Tiga Menteri tersebut adalah sebagai berikut :

1. Leasing adalah suatu bentuk pembiayaan, bukan bentuk lainnya.

2. Yang disediakan adalah barang modal, yang macamnya sudah dinyatakan jelas dalam lampiran izin leasing yang dikeluarkan oleh Departemen Keuangan.

3. Digunakan oleh perusahaan, baik yang berbentuk badan hukum maupun yang tidak berbentuk badan hukum.

4. Jangka waktu tertentu dan disesuaikan pula dengan masa ekonomis dari barang modal dan kemampyan yang bersangkutan.

5. Pembayaran berkala, tidak dapat dibayar sewaktu – waktu. 6. Ada hak pilih pada masa akhir lessee.

Dokumen terkait