• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 6 PEMBAHASAN

6.3. Prevalens Rate Penyakit Infeksi berdasarkan Karakteristik

71.6 63.9 28.4 36.1 0 10 20 30 40 50 60 70 80 12-<36 ≥36-60

Um ur anak balita (bulan)

P re v a le n s R a te ( % ) Infeksi Tidak Infeksi

Gambar 6.3. Diagram Bar Prevalens Rate Penyakit Infeksi Berdasarkan Umur Anak Balita di Desa Mangkai Baru Kecamatan Lima Puluh Tahun 2010

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa prevalens rate penyakit infeksi pada anak balita yang berumur 12-<36 bulan adalah 71,6%, sedangkan prevalens rate penyakit infeksi pada anak balita yang berumur ≥36 -60 bulan adalah 63,9%. Ratio Prevalens = 1,121 ( 95% CI = 0,844-1,490), artinya bahwa umur anak balita bukan faktor risiko kejadian penyakit infeksi pada anak balita.

Hasil analisa statistik diperoleh nilai p =0,410. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan asosiasi yang signifikan antara umur anak balita dengan kejadian penyakit infeksi.

Hal ini diasumsikan walaupun anak balita < 36 bulan lebih rentan terhadap penyakit infeksi, namun ada faktor lain juga yang dapat mempengaruhi terjadinya penyakit infeksi misalnya daya tahan tubuh, status gizi, status imunisasi.

Hal ini sejalan dengan dengan penelitian Anjar (2009) dengan desain cross

sectional di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo menunjukkan tidak ada hubungan

antara umur balita dengan kejadian penyakit infeksi, dengan nilai p=0,07 ( p>0,05). 46 b. Jenis Kelamin 75.4 61.2 24.6 38.8 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Laki-Laki Perempuan Jenis Kelam in P re v a le n s R a te ( % ) Infeksi Tidak Infeksi

Gambar 6.4. Diagram Bar Prevalens Rate Penyakit Infeksi Berdasarkan Jenis Kelamin Anak Balita di Desa Mangkai Baru Kecamatan Lima Puluh Tahun 2010

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa prevalens rate penyakit infeksi pada anak balita laki-laki sebesar 75,4 % sedangkan pada anak perempuan sebesar 61,2%. Ratio Prevalens = 1,232 ( 95% CI = 0,945-1,601), artinya bahwa jenis kelamin bukan merupakan faktor risiko kejadian penyakit infeksi pada anak balita.

Hasil analisa statistik diperoleh nilai p=0,110 (p>0,05). Hal ini berarti tidak terdapat hubungan asosiasi yang signifikan antara jenis kelamin anak balita dengan kejadian penyakit infeksi.

Selama masa anak-anak, laki-laki dan perempuan mempunyai kebutuhan energi dan gizi yang hampir sama. Kebutuhan gizi untuk usia 10 tahun pertama adalah sama, sehingga diasumsikan kerentanan terhadap masalah gizi dan konsekuensi kesehatannya akan sama.

Hal ini sejalan sejalan dengan penelitian yang dilakukan Zulkifli (2003) di wilayah kerja puskesmas Kecamatan Mutiara Kabupaten Pidie dengan desain penelitian cross sectional, menunjukkan tidak ada hubungan antara jenis kelamin anak balita dengan kejadian penyakit infeksi p>0,05.

c. Berat Badan Lahir

Gambar 6.5. Diagram Bar Prevalens Rate Penyakit Infeksi Berdasarkan Berat Badan Lahir Anak Balita di Desa Mangkai Baru Kecamatan Lima Puluh Tahun 2010 66.7 69.5 33.3 30.1 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Rendah Normal

Berat badan lahir

P re v a le n s R a te ( % ) Infeksi Tidak Infeksi

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa prevalens rate penyakit infeksi pada anak balita dengan berat badan lahir rendah adalah 66,7 % sedangkan anak balita dengan berat badan lahir normal adalah 69,5%. Ratio Prevalens = 0,960 ( 95% CI = 0,655-1,406), artinya bahwa berat badan lahir bukan merupakan faktor risiko kejadian penyakit infeksi pada anak balita.

Hasil analisa statistik diperoleh nilai p=0,287. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan asosiasi yang signifikan antara berat badan lahir dengan kejadian penyakit infeksi pada anak balita.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Bambang Irianto (2006) di wilayah kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon dengan desain penelitian cross

sectional, menunjukkan tidak ada hubungan antara berat badan lahir anak balita

dengan kejadian penyakit infeksi p>0,05. 45 d. Imunisasi 66.7 69.9 33.3 30.1 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Tidak Lengkap Lengkap

Status Im unisasi P re v a le n s R a te ( % ) Inf eksi Tidak Inf eksi

Gambar 6.6. Diagram Bar Prevalens Rate Penyakit Infeksi Berdasarkan Status Imunisasi Anak Balita di Desa Mangkai Baru Kecamatan Lima Puluh Tahun 2010

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa prevalens rate penyakit infeksi pada anak balita yang tidak mendapat imunisasi lengkap adalah 66,7% sedangkan pada anak balita yang imunisasi lengkap adalah 69,9%. Ratio Prevalens = 0,954 ( 95% CI = 0,705-1,290), artinya bahwa status imunisasi bukan merupakan faktor risiko kejadian penyakit infeksi pada anak balita.

Hasil analisa statistik diperoleh nilai p=0,754 (p>0,05). Hal ini berarti tidak terdapat hubungan asosiasi yang signifikan antara status imunisasi dengan kejadian penyakit infeksi pada anak balita. Hal ini kemungkinan disebabkan ada faktor lain yang menyebabkan terjadinya penyakit infeksi pada anak balita misalnya tidak diberikannya ASI Eksklusif sehingga berpengaruh kepada status gizi yang dapat menyebabkan daya tahan tubuh akan rentan terhadap penyakit infeksi.

Imunisasi sangat berguna dalam menentukan ketahanan tubuh bayi terhadap gangguan penyakit. Dua penyebab utama tingginya angka kematian anak adalah gangguan gizi dan infeksi. Hal ini dapat dicegah dengan imunisasi yang merupakan hal mutlak dalam memelihara kesehatan dan gizi anak.

Hal ini tidak sesuai dengan penelitian Bambang Irianto (2006) di wilayah kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon dengan desain cross sectional menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pemberian imunisasi lengkap dengan kejadian penyakit infeksi dimana nilai p=0,000. 45

e. Pemberian ASI Eksklusif

Gambar 6.7. Diagram Bar Prevalens Rate Penyakit Infeksi Berdasarkan Pemberian ASI Eksklusif pada Anak Balita di Desa Mangkai Baru Kecamatan Lima Puluh Tahun 2010

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa prevalens rate penyakit infeksi pada anak balita yang tidak mendapat ASI eksklusif adalah 70,6% sedangkan pada anak balita yang mendapat ASI eksklusif adalah 50,0%. Ratio Prevalens = 1,412 ( 95% CI = 0,698-2,855), artinya bahwa pemberian ASI eksklusif bukan merupakan faktor risiko kejadian penyakit infeksi pada anak balita.

Hasil analisa statistik diperoleh nilai p=0,225. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan asosiasi yang signifikan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian penyakit infeksi pada anak.

ASI menurunkan kemungkinan bayi terkena penyakit infeksi telinga, batuk, pilek dan penyakit alergi. Dan pada kenyataannya bayi yang diberi ASI Eksklusif

70.6 50,0 29.4 50.0 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Tidak Ya Asi Eksklusif P re v a le n s R a te ( % ) Infeksi Tidak Infeksi

akan lebih sehat dan jarang sakit dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapatkan ASI Eksklusif

Hal ini diasumsikan karena banyak ibu yang beranggapan kalau hanya ASI saja diberikan tidak memenuhi kebutuhan gizi anaknya, setelah bersalin langsung diberikan susu formula kepada anaknya, ada juga dikarenakan keluarga (misalnya orang tua dari responden) yang memberikan makanan tambahan selain ASI sebelum balita berusia 6 bulan.

Hal ini tidak sejalan dengan penelitian dilakukan Bambang Irianto (2006) di wilayah kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon dengan desain penelitian cross

sectional, menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara ASI eksklusif

dengan kejadian penyakit infeksi dimana nilai p=0,00045 f. Jarak Kelahiran 91.7 66.3 8.3 33.7 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Resiko Tinggi Resiko Rendah

Jarak Kelahiran P re v a le n s R a te ( % ) Inf eksi Tidak Inf eksi

Gambar 6.8. Diagram Bar Prevalens Rate Penyakit Infeksi Berdasarkan Jarak Kelahiran pada Anak Balita di Desa Mangkai Baru Kecamatan Lima Puluh Tahun 2010

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa prevalens rate penyakit infeksi pada anak balita dengan kategori jarak kelahiran resiko tinggi adalah 91,7% sedangkan pada anak balita dengan kategori jarak kelahiran resiko rendah adalah 66,3%. Ratio Prevalens = 1,382 ( 95% CI = 1,108-1,724), artinya bahwa jarak kelahiran merupakan faktor risiko kejadian penyakit infeksi pada anak balita.

Hasil analisa statistik diperoleh nilai p=0,073. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan asosiasi yang signifikan antara jarak kelahiran dengan kejadian penyakit infeksi pada anak.

Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa nilai rasio prevalens tidak konsiten dengan nilai p hal ini dikarenakan besar sampel pada subyek dengan faktor resiko yang mengalami efek (11 orang) berbeda jauh dengan besar sampel pada subjek dengan faktor resiko yang tidak mengalami efek (1 orang).

Dengan mengecilnya interval kelahiran, akan terjadi kenaikan yang progresif dari kesakitan dan kematian anak. Dimana ketika intervalnya kecil maka proses penyapihanpun akan semakin cepat. Insidensi penyakit infeksi, terutama diare lebih tinggi pada saat penyapihan daripada periode lain kehidupan. Hal ini terjadi karena makanan berubah, dari ASI yang bersih dan mengandung zat-zat anti infeksi ke makanan yang disiapkan, disimpan dan dimakan tanpa mengindahkan syarat kebersihan.

Hasil penelitian lebih banyak proporsi anak balita yang jarak kelahirannya

≥24 bulan (resiko rendah) adalah 89,1% diasumsikan penyapihan kepada anak balita lebih lama sehingga balita mendapatkan ASI yang cukup dan dapat mencegah terjadinya penyakit infeksi.

Hal ini tidak sejalan dengan penelitian dilakukan Bambang Irianto (2006) di wilayah kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon dengan desain penelitian cross

sectional, menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara jarak kelahiran

dengan kejadian penyakit infeksi dimana nilai p=0,014.45

6.4. Prevalens Rate Penyakit Infeksi Berdasarkan Karakteristik Ibu a. Pendidikan Ibu 78.4 31.8 21.6 68.2 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Rendah Tinggi Tingkat Pendidikan P re v a le n s R a te ( % ) Infeksi Tidak Infeksi

Gambar 6.9. Diagram Bar Prevalens Rate Penyakit Infeksi Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu di Desa Mangkai Baru Kecamatan Lima Puluh Tahun 2010

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa prevalens rate penyakit infeksi pada anak balita dengan ibu berpendidikan rendah yaitu adalah 78,4% sedangkan pada anak balita dengan ibu yang berpendidikan tinggi adalah 68,2%.

Ratio Prevalens= 2,382 ( 95% CI = 1,324-4,588), artinya pendidikan ibu merupakan

Hasil analisa statistik diperoleh nilai p=0,000. Hal ini berarti terdapat hubungan asosiasi yang signifikan antara pendidikan ibu dengan kejadian penyakit infeksi pada anak.

Pendidikan masyarakat yang rendah menjadikan mereka sulit diberi tahu mengenai pentingnya kebersihan perorangan dan sanitasi lingkungan untuk mencegah terjangkitnya penyakit menular. Salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah tingkat pendidikan. Pendidikan akan memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat.

Hal ini mungkin saja terjadi karena tidak didapatnya pendidikan tentang kesehatan anak khususnya mengenai penyakit infeksi oleh responden karena mayoritas ibu adalah berpendidikan rendah.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Zulkifli (2003) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mutiara Kabupaten Pidie dengan desain penelitian cross

sectional, menunjukkan adanya hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian

b. Pekerjaan Ibu 51.7 75.3 48.3 24.7 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Bekerja Tidak Bekerja

Pekerjaan P re v a le n s R a te ( % ) Inf eksi Tidak Inf eksi

Gambar 6.10. Diagram Bar Prevalens Rate Penyakit Infeksi Berdasarkan Pekerjaan Ibu di Desa Mangkai Baru Kecamatan Lima Puluh Tahun 2010

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa prevalens rate penyakit infeksi pada anak balita dengan ibu yang bekerja adalah 51,7% sedangkan pada anak balita dengan kategori ibu yang tidak bekerja adalah 75,3%. Ratio Prevalens = 0,687( 95% CI = 0,473-0,997), artinya bahwa ibu yang bekerja merupakan faktor protektif terhadap kejadian penyakit infeksi pada anak balita.

Hasil analisa statistik diperoleh nilai p=0,018. Hal ini berarti terdapat hubungan asosiasi yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan kejadian penyakit infeksi pada anak

Hal ini diasumsikan karena ibu yang bekerja akan menambah pendapatan kelurga sehingga dapat mencukupi kebutuhan anak balita.

UNICEF (1998) mengemukakan bahwa perawatan terhadap anak balita akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, karena pertumbuhan

merupakan indikator terhindarnya seorang anak dari penyakit.demikian halnya dengan waktu yang diberikan ibu terhadap anak semakin lama ibu berada disamping anak semakin terjalin interaksi sosial diantara keduanya sehingga ibu dapat lebih mengetahui perkembangan anaknya.

6.5. Prevalens Rate Penyakit Infeksi Berdasarkan Karakteristik Lingkungan a. Kepadatan Hunian

Gambar 6.11. Diagram Bar Prevalens Rate Penyakit Infeksi Berdasarkan Kepadatan Hunian di Desa Mangkai Baru Kecamatan Lima Puluh Tahun 2010

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa prevalens rate penyakit infeksi pada anak balita dengan rumah yang padat penghuni adalah 75,0% sedangkan pada anak balita dengan rumah yang tidak padat penghuni adalah 63,8%. Ratio

Prevalens = 1,176( 95% CI = 0,916-1,509), artinya bahwa kepadatan hunian bukan

merupakan faktor risiko kejadian penyakit infeksi pada anak balita.

75,0 63.8 25,0 36.2 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Padat Tidak Padat

Kepadatan Hunian P re v a le n s R a te ( % ) Infeksi Tidak Infeksi

Hasil analisa statistik diperoleh nilai p=0,204. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan asosiasi yang signifikan antara kepadatan hunian dengan kejadian penyakit infeksi pada anak.

Kepadatan penghuni kamar tidur anak Balita yang tidak memenuhi syarat akan menghalangi proses pertukaran udara bersih sehingga kebutuhan udara bersih tidak terpenuhi dan akibatnya menjadi penyebab terjadinya ISPA.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Mey Yati Simatupang (2003) di Kota Sibolga dengan desain penelitian case control, menunjukkan tidak ada hubungan antara status pekerjaan ibu dengan kejadian infeksi (diare) dengan nilai

p=0,071. b. Ketersediaan Jamban 70 68.9 30 31.1 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Buruk Baik

Ketersediaan Jam ban

P re v a le n s R a te ( % ) Infeksi Tidak Infeksi

Gambar 6.12. Diagram Bar Prevalens Rate Penyakit Infeksi Berdasarkan Ketersediaan Jamban di Desa Mangkai Baru Kecamatan Lima Puluh Tahun 2010

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa prevalens rate penyakit infeksi pada anak balita dengan rumah kategori jamban buruk adalah 70,00% sedangkan pada anak balita dengan rumah kategori jamban baik adalah 68,9%. Ratio

Prevalens =1,016 (95% CI = 0,739-1,398), artinya bahwa ketersediaan jamban bukan

merupakan faktor risiko kejadian penyakit infeksi pada anak balita.

Dari hasil analisa statistik diperoleh nilai p=0,923. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan asosiasi yang signifikan antara ketersediaan jamban dengan kejadian penyakit infeksi pada anak.

Syarat pembuangan kotoran yang memenuhi aturan kesehatan adalah tidak mengotori permukaan tanah di sekitarnya, tidak mengotori air permukaan di sekitarnya, tidak mengotori air dalam tanah di sekitarnya, dan kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat lalat bertelur atau perkembangbiakan vektor penyakit lainnya.

Hasil penelitian didapat bahwa 81,8% jenis jamban yang digunakan adalah leher angsa. Dimana jenis jamban leher angsa jika ditinjau dari aturan kesehatan sudah memenuhi syarat. Hal ini diasumsikan tingkat penggunaan jamban itu sudah baik, sehingga risiko penularan penyakit infeksi akan kecil.

Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Bambang Irianto (2006) di wilayah kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon dengan desain penelitian

cross sectional, menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara penggunaan

c. Sanitasi Lingkungan

Gambar 6.13. Diagram Bar Prevalens Rate Penyakit Infeksi Berdasarkan Sanitasi Lingkungan di Desa Mangkai Baru Kecamatan Lima Puluh Tahun 2010

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa prevalens rate penyakit infeksi pada anak balita dengan sanitasi lingkungan kategori buruk adalah 75,0% sedangkan pada anak balita dengan sanitasi lingkungan kategori baik adalah 68,9%.

Ratio Prevalens = 1,089 ( 95% CI = 0,610-1,945), artinya bahwa sanitasi lingkungan

bukan merupakan faktor risiko kejadian penyakit infeksi pada anak balita.

Hasil analisa statistik diperoleh nilai p=0,794. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan asosiasi yang signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian penyakit infeksi pada anak.

75.0 68.9 25.0 31.1 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Buruk Baik Sanitasi Lingkungan P re v a le n s R a te ( % ) Infeksi Tidak Infeksi

Hal ini disebabkan karena sanitasi lingkungan responden lebih banyak kategori baik sehingga diasumsikan bahwa anak balita yang terkena penyakit infeksi bukan karena sanitasi lingkungannya yang buruk.

Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Zulkifli (2003) di wilayah kerja puskesmas Kecamatan Mutiara Kabupaten Pidie dengan desain penelitian cross sectional, menunjukkan adanya hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian penyakit infeksi p<0,05.

6.6. Analisis Multivariat

Model regresi logistik mempergunakan asumsi, misal untuk melihat estimasi faktor risiko (xn) ada nilainya yaitu = 1, jika estimasi faktor risiko (Xn) tidak ada nilainya maka = 0. Contoh : Jika pendidikan ibu rendah maka diberi nilai X1= 1 dan estimasi faktor risiko lainnya dianggap tidak ada = 0, maka estimasi probabilitasnya adalah :

P = 1 x 100%

1 + e- (- 3,341 + 2,052) P = 26,7%

Artinya adalah anak balita yang memiliki ibu yang berpendidikan rendah memiliki perkiraan risiko (risk estimated) mengalami penyakit infeksi sebesar 26,7%. Dengan kata lain sebesar 73,3 % faktor lain yang mempengaruhi untuk terjadinya penyakit infeksi.

Menurut penelitian yang dilakukan Bambang Irianto (2006) di wilayah kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon desain penelitian case control, menunjukkan bahwa ada 2 variabel yang berhubungan dengan kejadian penyakit

infeksi yaitu pendidikan ibu, kepadatan hunian dengan nilai probabilitas untuk estimasi risiko terjadinya penyakit infeksi dengan adanya variabel tersebut secara bersama sebesar 70,8%.

Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor eksternal dari balita yang berhubungan dengan status kesehatan balita, termasuk kejadian infeksi. Dengan berbekal pendidikan yang cukup seorang ibu lebih banyak memperoleh informasi yang dibutuhkan. Dengan demikian mereka dapat memilih serta menentukan alternative terbaik dalam menjaga kesehatan anaknya. Pola asuh balita dipengaruhi oleh pendidikan ibu. Menurut WHO (2003), status kesehatan balita salah satunya disebabkan oleh pola asuh ibu terhadap balitanya. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak, memberikan makanan, merawat, kebersihan, memberikan kasih sayang dan sebagainya.

BAB 7

KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. KESIMPULAN

7.1.1. Prevalensi kejadian infeksi pada anak balita periode 1 bulan di Desa Mangkai Baru Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara tahun 2010 sebesar 69,1% 7.1.2. Age Sex Spesific Prevalens Rate anak balita laki-laki yang tertinggi adalah pada

usia 42-47 bulan yaitu 100%, begitu juga dengan ASSPR anak balita perempuan yang tertinggi adalah pada usia 42-47 bulan yaitu 100%.

7.1.3. Tidak ada hubungan asosiasi yang signifikan antara faktor balita yaitu umur anak balita (p=0,410), jenis kelamin anak balita(p=0,110), berat badan lahir (p=0,827),status imunisasi (p=0,754), ASI Eksklusif (p=0,225), jarak kelahiran (p=0,073) dengan kejadian penyakit infeksi pada anak balita.

7.1.4. Ada hubungan asosiasi yang signifikan antara pendidikan ibu yang rendah dengan kejadian penyakit Infeksi pada anak balita (RP=2,465;p=0,000). 7.1.5. Ada hubungan asosiasi yang signifikan antara ibu yang bekerja dengan

kejadian penyakit Infeksi pada anak balita (RP=0,687;p=0,018).

7.1.6. Tidak ada hubungan asosiasi yang signifikan antara faktor lingkungan yaitu kepadatan hunian (p=0,204), ketersediaan jamban (p=0,923), dan sanitasi lingkungan (p=0,794) dengan kejadian penyakit infeksi pada anak balita 7.1.7. Faktor yang dominan dengan kejadian penyakit Infeksi pada anak balita

adalah pendidikan ibu yang rendah dengan probabilitas terkena penyakit infeksi adalah 21,7%. Persamaan regresi yang terbentuk adalah

7.2. SARAN

7.2.1. Peran aktif petugas Puskesmas untuk mengadakan penyuluhan yang berguna untuk meningkatkan pengetahuan Ibu khususnya dalam hal perawatan kesehatan anak.

DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI, 2003. Indikator Indonesia Sehat 2010. Jakarta. 2. Depkes RI, 2004. Kebijakan Dasar Puskesmas. Jakarta 3. Depkes RI, 2008. Profil Kesehatan Indonesia 2007. Jakarta.

4. Juli Soemirat Slamet, Kesehatan Lingkungan, Gadjah mada University press, 2004. Yogyakarta.

5. WHO, 2001. Major Causes of Death Among Children Under Five,

Worldwide 2000.

6. WHO, 2001. New Borns Infans and Children.

7. Humas Universitas Padjajaran, 2009. Penyakit Pneumonia Pembunuh Utama

Balita

8. Depkes RI, 2006. Profil Kesehatan Indonesia 2005. Jakarta. 9. Depkes RI, 2004. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta.

10.Irianto J, 2003. Trend Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Balita di Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan. Volume 31 no 4

11.Afifah , dkk,2003. Kecendrungan Penyakit Penyebab Kematian Bayi dan Anak Balita di Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan.

12.Dinkes Kabupaten Brebes. 2007. Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes 2005, Jakarta.

13.Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah. 2008. Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Sulawesi

14.Dinkes Provinsi Sumatera Utara. 2006. Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara 2005. Medan

15.Dinkes Provinsi Sumatera Utara. 2008. Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara 2007. Medan

16.Profil Kesehatan Pustu Mangkai Baru Tahun 2007. Medan 2008.

17.Nur Nasry Noor, 2006. Pengantar Epidemiologi. Rineka Cipta. Jakarta

18.Beaghlehole R, 1997. Dasar-dasar Epidemiologi. Gadjah Mada University press, Yogyakarta.

19.Soekidjo notoatmodjo,2003 Ilmu Kesehatan Masyarakat. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta

20.Juli Soemirat Slamet, 2004. Kesehatan Lingkungan, Gadjah Mada University press, Yogyakarta

21.Nur Nasry, 2006. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. PT Adi Mahasatya, Jakarta.

22.Nelson, 1995. Ilmu Kesehatan Anak , EGC , Jakarta.

23.Schaffer dkk, 1996.Pencegahan Infeksi dan Praktik yang Aman, EGC, Jakarta.

24.Bustan, 2002. Epidemiologi Kesehatan Darurat, Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Departemen Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Makasar

25.Almatsier,S, 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, PT Gramedia Pustaka Umum, Jakarta.

26.Santoso,S, 1999. Kesehatan dan Gizi, PT Rineka Cipta, Jakarta

27.Kristijono, 2001. Karakteristik Anak Balita yang Menderita Kurang Energi Protein yang dirawat Inap di RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 1999-2000. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumaterautara, Medan 28.Tuminah,S, 1999. Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Bayi dan Anak.

Dexa Media.. Vol.12, No.3.

29.Muliati,Muliki, 2003. Analisis Faktor Risiko yang berhubungan dengan Terjadinya Penyakit ISPA di Puskesmas Palanro Kecamatan Mallusetasi Kabupaten Baru Tahun 2002-2003. Makasar

30.Depkes RI. 2003. Survei Demografi & Kesehatan Indonesia. Jakarta

31.Fadilah, Siti. 2009. Dampak Berat Badan Lahir Terhadap Status Gizi Bayi. Universitas Hassanudin. Makasar

32.WHO. 2002. Pekan ASI Sedunia Satu Jam Pertama ASI, Kurangi Resiko

KematianBayi.

33.Depkes RI, 2002. Pedoman Operasional Program Imunisasi. Jakarta

34.T.H. Rempengan, 1995. Penyakit Infeksi Tropic Pada Anak . Buku Kedokteran EGC , Jakarta

35.Soetjiningsih, 1997. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. EGC. Jakarta 36.Sanropie, D., 1989. Pengawasan Penyehatan Lingkungan Pemukiman,

Depkes RI. Jakarta

37.Lestari, Whinie, 2009. Dampak Status Imunisasi Pada Anak Balita di Indonesia. Puslitbang Bio Media Farma. Jakarta

38.Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2007. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. FK UI, Jakarta

39.Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 829/MENKES/SK/VII/1999

40.Fromm, Erich., 1995. Masyarakat yang Sehat, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta

41.Besar sampel : Lwanga. S. K and S. Lemeshow. 1991. Sample Size

Determination in Health Studies. A Practical Manual. World Health Organization.Geneva.

42.Miskey and Greenland dalam Yasril, Heru Subaris Kasjono. 2009. Analisis Multivariat Untuk Penelitian Kesehatan. Mitra Cendikia Offset. Yogyakarta.

44.Mudehir, Mudehi,. 2002. Hubungan Faktor-faktor Lingkungan Rumah dan Faktor Balita dengan Kejadian Penyakit ISPA pada Anak Balita di Kecamatan Jambi Selatan Tahun 2002. Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Pasca Sarjana. Universitas Indonesia, Jakarta

45.Irianto, Bambang,. 2006. Hubungan Faktor Lingkungan Rumah dan Karakteristik Balita dengan Kejadian Penyakit Infeksi ( Diare, batuk, pilek) pada Balita di Wilayah Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon. Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Pasca Sarjana. Universitas Indonesia, Jakarta

46.Anjar, 2009. Hubungan antara Faktor Lingkungan dan Faktor Sosiodemografi dengan Kejadian Diare pada Balita di Desa Blimbing Kecamatan

Dokumen terkait