BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Body Image pada Pria Dewasa Dini
2. Pria Dewasa Dini
Definisi dewasa berasal dari istilah “adult” dari bahasa Latin yang berarti tumbuh menjadi kedewasaan. Dikenal juga istilah “adultus” yang memiliki arti telah tumbuh menjadi kuat dan memiliki ukuran yang lebih sempurna.
Masa dewasa merupakan satu fase dimana seseorang dianggap “telah menjadi dewasa” atau telah menyelesaikan pertumbuhannya dan menyiapkan diri untuk dapat diterima dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa yang lain (Hurlock, 1980 & Mappiare, 1983). Kenniston (dalam Santrock, 1995) mendefinisikan masa dewasa dini sebagai periode transisi antara masa remaja dan masa dewasa yang merupakan masa perpanjangan kondisi ekonomi dan pribadi yang sementara. Dalam masa ini terdapat usaha untuk membangun pribadi yang mandiri dan menjadi terlibat secara sosial.
Masa dewasa, menurut Hurlock (1980) dibagi menjadi tiga yaitu masa dewasa dini dimana dimulai dari umur 18 tahun sampai 40 tahun. Pada periode ini terjadi perubahan fisik dan psikologis disertai dengan menurunnya kemampuan reproduktif. Kedua, dewasa madya dimulai usia 40 tahun sampai 60 tahun, dan terjadi penurunan kemampuan fisik dan psikis yang sangat tampak. Ketiga, fase dewasa lanjut atau biasa disingkat lansia, yang dimulai usia 60 tahun sampai kematian.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa masa dewasa dini adalah masa dimana pertumbuhan sudah mencapai kesempurnaan dan tumbuh dewasa serta memiliki kematangan baik secara fisik maupun psikis, dengan rentang usia 18-40 tahun.
b. Ciri-ciri
Hurlock (1980) menjelaskan ciri-ciri yang melekat pada masa dewasa dini sebagai berikut :
1) Masa Pengaturan
Masa pengaturan disebut juga settle down. Pada masa ini seorang dewasa dini mulai mencari pola-pola kehidupan yang lebih teratur, misalnya dalam mencari pasangan hidup dan pekerjaan yang sesuai. Setelah menemukan pola hidup yang diyakini dapat memenuhi kebutuhan, maka seorang dewasa dini akan mengembangkan pola-pola perilaku dan nilai-nilai yang cenderung menjadi ciri khas selama sisa hidup.
2) Usia reproduktif
Disebut usia reproduktif karena pada masa ini, seorang dewasa dini diharapkan sudah mulai memikirkan untuk berkeluarga atau bahkan sudah menikah.
3) Masa Bermasalah
Adanya kebebasan pada masa ini mengakibatkan berbagai masalah yang harus dialami seorang dewasa dini. Masalah yang umum dialami adalah penyesuaian diri, baik dalam pernikahan, memilih pekerjaan atau mencoba mengembangkan kemampuan yang baru.
4) Masa Ketegangan Emosional
Ketegangan emosi yang dirasakan bersumber dari usahanya untuk memahami segala perubahan-perubahan yang terjadi pada awal masa ini. Banyaknya
tanggung jawab yang harus dilakukannya membuatnya bingung dan mengalami keresahan emosional.
5) Masa Keterasingan Sosial
Erikson menyebut fase ini sebagai “krisis keterasingan”. Hal ini terjadi karena kesibukan dewasa dini dalam pekerjaan, perkawinan sehingga hubungan dengan teman-teman sebayanya menjadi berkurang. Masa ini semakin intensif dengan adanya semangat bersaing antar orang dewasa dini yang mencurahkan waktu dan tenaganya sehingga waktu untuk menjalin hubungan yang akrab berkurang. 6) Masa Komitmen
Munculnya tanggung jawab pada masa ini dikarenakan orang dewasa diharapkan menjadi mandiri. Oleh karena itu mulai ditentukanlah pola-pola hidup baru dan komitmen-komitmen baru.
7) Masa Ketergantungan
Walaupun pada usia ini diharapkan untuk dapat mandiri, tetapi ketergantungan pada orang tua masih cukup tinggi dalam hal finasial.
8) Masa Perubahan Nilai
Perubahan nilai pada masa ini disebabkan karena sosialisasi yang lebih luas dengan orang-orang yang usianya berbeda dan karena nilai-nilai tersebut dilihat dengan kaca mata orang dewasa. Seorang dewasa dini mulai menyadari bahwa jika ingin diterima dalam kelompok sosial harus menerima nilai-nilai yang ada pada kelompok tersebut, misalnya penampilan yang rapi dan menarik.
9) Masa Penyesuaian Diri dengan Cara Hidup Baru
Pada masa dewasa ini gaya hidup baru yang paling menonjol adalah dalam pernikahan dan peran sebagai orang tua.
10)Masa Kreatif
Bentuk kreatifitas pada masa ini akan terlihat pada minat dan kemampuan yang dimiliki, kesempatan untuk mewujudkan dan kegiatan yang memberikan kepuasan bagi orang dewasa.
Dapat disimpulkan bahwa pada masa dewasa dini, seorang pria memiliki ciri- ciri antara lain mulai mengatur hidupnya, masuk dalam usia reproduktif dan mulai berkomitmen, menghadapi banyak masalah, ketegangan emosional serta keterasingan sosial, mengalami perubahan nilai dan penyesuaian terhadap cara hidup yang baru walaupun sebenarnya masih ada ketergantungan dari orang tua, serta memiliki daya kreatifitas yang tinggi.
c. Tugas Perkembangan
Tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa dini lebih dipusatkan pada harapan-harapan masyarakat dan keinginan pribadi, antara lain dijelaskan oleh Havighurst (dalam Mappiare, 1983) :
1) Memilih teman bergaul, khususnya untuk mencari pasangan hidup 2) Belajar hidup bersama sebagai suami atau istri
3) Mulai hidup berkeluarga 4) Belajar mengasuh anak
5) Mengelola rumah tangga 6) Mulai bekerja
7) Mulai bertanggungjawab sebagai warga negara
8) Memahami kelompok sosial yang sejalan dengan nilai dan prinsip
Penguasaan tugas-tugas tersebut pada masa dewasa dini akan mempengaruhi keberhasilan ketika mencapai puncaknya pada masa dewasa madya. Tingkat penguasaan tugas juga akan menentukan kebahagiaan pada masa dewasa dini dan masa selanjutnya.
Dapat disimpulkan bahwa tugas perkembangan pada masa dewasa dini adalah mulai memikirkan dan mulai belajar untuk hidup berkeluarga, memilih pekerjaan yang sesuai dan memahami kelompok sosial yang sejalan dengan nilai hidupnya. Penguasaan tugas-tugas tersebut akan menentukan kebahagiaan, baik pada masa dewasa dini maupun masa selanjutnya.
d. Minat Pribadi pada Penampilan
Masa dewasa dini mengalami perubahan pada minat yang dimilikinya. Perubahan yang terjadi disebabkan karena adanya perubahan pola kehidupan, tugas dan tanggung jawab serta status yang berbeda. Pada dewasa dini minat pada penampilan merupakan minat yang menjadi fokus perhatian.
Saat tumbuh menjadi dewasa, ia telah mempelajari untuk menerima perubahan fisik dan tahu bagaimana memanfaatkannya. Seorang dewasa dini mulai menyadari dan mengevaluasi penampilan fisiknya dan berusaha untuk memperbaiki
penampilannya jika terdapat kekurangan. Penampilan fisik yang menarik merupakan potensi yang kuat dalam pergaulan dan yang tidak memiliki penampilan menarik akan menghambat pergaulan (Hurlock, 1980).
Mathes & Kahn (dalam Hurlock, 1980) menjelaskan bahwa penampilan fisik yang menarik merupakan potensi yang menguntungkan dalam relasi sosial. Seorang yang menarik akan lebih mudah diterima dalam pergaulan dan dinilai lebih positif dibandingkan dengan seorang yang tidak menarik. Penampilan yang menarik selalu dikaitkan dengan hal-hal positif yang menyertainya, maka ketika seorang memiliki penampilan yang menarik ia mungkin akan lebih bahagia dan mudah menyesuaikan diri. Dengan banyaknya orang yang menyukainya maka ia juga akan memiliki harga diri yang tinggi.
Minat untuk memperbaiki penampilan akan mengalami penurunan pada usia tigapuluhan, ketika masalah pekerjaan dan rumah tangga menjadi prioritas utama.
Umumnya seorang dewasa dini menyadari bahwa penampilan memegang peranan penting dalam dunia usaha, relasi sosial khususnya mencari pasangan hidup dan kehidupan berkeluarga (Hurlock, 1980). Maka ketika penampilan fisiknya dirasa tidak menarik maka seorang dewasa dini seringkali mengatasi masalah tersebut dengan melakukan diet, operasi plastik, menutupi dengan kosmetik dan juga melakukan olahraga.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa pada masa dewasa dini minat yang menjadi fokus perhatian adalah minat pada penampilan fisik. Penampilan fisik yang menarik merupakan potensi untuk menjalin relasi sosial, mencari pekerjaan dan
mencari pasangan hidup (mulai berkeluarga). Ketika seorang dewasa dini memiliki penampilan yang menarik maka ia juga akan lebih bahagia dan mudah menyesuaikan diri tetapi sebaliknya dewasa dini yang tidak memiliki penampilan menarik mengalami kesulitan dalam menyesuiakan diri.
3. Body Image pada Pria Dewasa Dini
Penampilan fisik yang menarik merupakan fokus perhatian bagi pria dewasa. Pada umumnya pria menginginkan penampilan yang ideal dan proporsional. Umumnya bentuk tubuh yang terlalu kurus atau terlalu gemuk tidak diinginkan pria. Hal ini disebabkan karena tubuh yang terlalu kurus atau terlalu gemuk dilihat sebagai fisik yang tidak menarik dan juga dihubungkan dengan karakter pribadi yang negatif. Umumnya pria menginginkan tubuh ideal yaitu bentuk tubuh yang ramping dan cukup berotot.
Grogan (1999) menjelaskan bahwa ada tiga jenis bentuk tubuh yang dikenal pada pria :
a. Ektomorfik
Bentuk tubuh dengan ciri-ciri badan yang kurus, tinggi, kurang berotot dan biasanya terlihat sangat kurus.
b. Mesomorfik
Ciri-ciri yang ditampilkan adalah tubuh yang rata-rata, memiliki dada yang bidang dan otot-otot yang cukup menonjol, kuat serta tegap. Ciri-ciri ini yang umumnya diinginkan oleh para pria dewasa dini pada tubuhnya.
c. Endomorfik
Tampilan tubuh yang terlihat adalah gemuk, pendek dengan tulang dan otot yang kurang berkembang.
Keinginan untuk memiliki tubuh yang lebih berotot berhubungan dengan banyak konsep tentang maskulinitas atau kejantanan. Pria dewasa yang memiliki tubuh berotot, tegap, kuat dan kokoh adalah pria yang “jantan”. Hal ini didukung oleh penelitian oleh McCreary, Saucier & Cortenay (dalam wikipedia.com) yang menjelaskan adanya hubungan antara anggapan masyarakat tentang maskulinitas dan karakteristiknya dengan keinginan para pria dewasa untuk memiliki tubuh yang lebih berotot.
Perhatian terhadap penampilan fisik yang menarik merupakan minat pribadi yang dimiliki pria dewasa dini. Pada fase ini pria dewasa dini mulai menyadari dan mengevaluasi tubuhnya dengan melihat kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Pria dewasa dini memahami bahwa penampilan yang menarik merupakan daya tarik fisik yang menjadi potensi bagi relasi dalam pekerjaan, sosial dan khususnya mencari pasangan hidup.
Tingginya minat pribadi pada penampilan fisik disebabkan karena kesadaran pria dewasa dini untuk dapat menguasai tugas perkembangan pada masa ini yaitu mencari pekerjaan, berkeluarga dan masuk dalam kelompok sosial yang memiliki kesamaan nilai. Penampilan yang menarik diidentikkan dengan banyaknya hal-hal positif, misalnya pribadi yang menyenangkan dan lebih mudah diterima dalam
pergaulan sosial. Jadi, jika seorang pria dewasa dini memiliki penampilan yang menarik maka ia akan lebih bahagia dan mudah menyesuaikan dirinya.
Keinginan untuk memiliki penampilan yang menarik tidak terlepas dari ciri- ciri pada masa dewasa dini, dimana pria dewasa dini mulai mengatur pola-pola hidup yang baru dan nilai-nilai yang akan diyakininya. Artinya, jika penampilan yang menarik merupakan nilai yang diyakininya maka ia akan melakukan usaha untuk mendapatkan penampilan yang diinginkannya dan perilaku ini akan terpola dalam masa dewasa selanjutnya.
Penampilan fisik pada pria dewasa dini dapat mempengaruhi body image yang dimilikinya. Seorang pria dewasa dini yang memiliki penampilan fisik yang menarik akan memiliki body image yang tinggi dan begitu juga sebaliknya, pria dewasa dini yang tidak memiliki penampilan yang menarik akan memiliki body image yang rendah.
Pria dewasa dini yang memiliki body image yang tinggi akan melihat dirinya menarik dan lebih dapat menerima kondisi tubuhnya sendiri, sehingga ia akan merasa puas terhadap tubuhnya. Kepuasan terhadap tubuh akan menyebabkan seorang pria dewasa dini bahagia dan mudah menyesuaikan diri serta memiliki harga diri yang tinggi.
Body image yang rendah pada pria dewasa dini akan menyebabkannya memandang tubuhnya tidak menarik bahkan akan menjauhkannya dari relasi sosial di sekitarnya. Ia akan merasakan ketidakpuasan terhadap tubuhnya dan akan menjadi rendah diri serta akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian dirinya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pria dewasa dini menginginkan untuk mendapatkan penampilan yang menarik. Pemahaman tentang
body image juga merupakan bagian dari pria yang memiliki kesadaran untuk memiliki penampilan yang lebih baik. Penampilan yang menarik pada pria dicirikan dengan tubuh yang mesomorfik dengan tampilan berotot, perut datar, bahu dan dada bidang dan tegap, serta adanya kepuasan terhadap kemampuan dan ketahanan fisiknya diikuti adanya usaha untuk memenuhi kriteria ideal yang sedang berlaku dalam masyarakat. Body image yang dimiliki pria dewasa dini akan menunjang tugas perkembangan pada fase ini dan mempengaruhi harga diri, konsep diri dan kepuasan terhadap tubuh yang dimiliki.
C. HUBUNGAN BODY IMAGE PADA PRIA DEWASA DINI DENGAN