• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KONSEP KEADILAN DISTRIBUSI DAN PENINGKATAN

B. Prinsip dan Teori Keadilan Distribusi dalam Ekonomi

1. Prinsip keadilan distribusi

A. Sonny Keraf menyatakan bahwa prinsip dasar keadilan distribusi adalah distribusi ekonomi yang merata kepada seluruh masyarakat atau yang dianggap adil bagi semua warga negara. Dengan kata lain, keadilan distribusi adalah menyangkut pendistribusian kekayaan ekonomi atau hasil-hasil pembangunan.18

15Imamudin Yuliadi, Ekonomi Islam Sebuah Pengantar (Yogyakarta: LPPI, 2001), 84. 16Afzalur Rah{man, Doktrin Ekonomi Islam, 82.

17QS. al-Ma>idah (5): 87.

18A. Sonny Keraf, Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya (Yogyakara: Kanisius, 1998),

142. Lihat juga dalam karyanya yang lain, A. Sonny Keraf, Pasar Bebas, Keadilan dan Peran Pemerintah (Yogyakarta: Kanisius, 1996), 2.

Dalam hal ini Beauchamp dan Bowie membagi prinsip-prinsip keadilan distribusi kepada dua macam, yakni prinsip formal dan material.19 Prinsip formal hanya ada satu macam yaitu prinsip kasus-kasus yang sama. Dengan demikian, menurut prinsip ini bahwa kasus yang sama harus diperlakukan dengan cara yang sama, begitu pula sebaliknya kasus yang tidak sama diperlakukan dengan cara yang tidak sama. Sebagai contoh, dua orang siswa mengerjakan soal-soal ujian yang sama, maka harus diberi nilai yang sama pula. Untuk itu sebagai seorang guru harus berlaku adil, jangan sampai menambah nilai salah satunya dengan pertimbangan dia adalah ponakan.

Adapun prinsip-prinsip material keadilan distribusi terbagi kepada lima macam. Pertama, prinsip setiap orang mendapatkan bagian yang sama agar keadilan dapat terwujud. Seperti dalam lingkungan keluarga, umpanya kue atau makanan lainnya harus diberikan dengan adil kepada anggota keluarga; kedua, setiap orang sesuai dengan kebutuhan individualnya. Dengan demikian, seseorang baru dikatakan berlaku adil terhadap orang lain, jika sudah membagi sesuatu sesuai dengan kebutuhan individu masing-masing. Misalnya, seorang ibu memberi makan kepada anggota keluarganya dengan porsi yang sama, belum tentu sudah berprilaku adil. Karena kebutuhan mereka tidak sama, antara anak yang masih kecil dengan remaja tentu berbeda porsinya, seorang anak remaja tentunya harus lebih banyak makan karena dalam masa pertumbuhan; ketiga, setiap orang mendapat sesuai dengan haknya. Dengan demikian, seorang karyawan yang bekerja di perusahaan ketika telah menjalankan dengan baik aturan-aturan dan janji yang telah disepakati sebelum dimulai bekerja, maka dia berhak diberlakukan dengan adil oleh perusahaan yang bersangkutan; keempat, setiap orang sesuai dengan usaha individualnya. Prinsip ke empat ini perlu juga untuk dipertimbangkan. Seperti halnya, orang yang telah banyak berusaha untuk mencapai tujuan, sudah sewajarnya mendapat imbalan

19Tom L. Beauchamp dan Norman E. Bowie, Ethical Theory and Business, (Englewood

daripada orang yang tidak bekerja. Usaha yang dimaksud terlepas dari berhasil atau tidaknya (itu berlaku prinsip ke-6); kelima, setiap orang sesuai dengan distribusinya kepada masyarakat. Dengan demikian, orang yang memberikan kontribusi yang besar kepada masyarakat adalah sesuatu yang adil diperlakukan berbeda dengan orang biasa. keenam, setiap orang sesuai dengan jasanya. Contohnya, seorang karyawan yang berprestasi khusus, diberi reward akhir tahun, yang tidak diberikan kepada karyawan lain.20

Berdasarkan pada enam poin penting tersebut, dengan memilih salah satu ke enam prinsip tersebut maka keadilan akan dapat terwujud. Misalnya, tanda kehormatan hanya diberikan kepada orang yang berjasa saja, maka orang tidak berjasa tidak akan diberikan. Namun demikian, prinsip-prinsip tersebut masih mempunyai kekurangan, terutama sekali jika persoalan tersebut membutuhkan lebih dari satu prinsip yang harus diterapkan sekaligus.

2. Teori keadilan distribusi kontemporer

Sistem ekonomi yang telah dibangun oleh kapitalisme, sosialisme, negara sejahtera dan neoliberalisme pada hakikatnya bersandar kepada paham tertentu mengenai konsep keadilan. Perdebatan tentang keadilan tersebut telah melahirkan sejumlah prinsip-prinsip dan teori keadilan yang berbeda. Meskipun para penganjurnya memiliki cita-cita dan tujuan yang sama yaitu untuk menegakkan keadilan kepada seluruh masyarakat, namun sebenarnya mereka memiliki perbedaan cukup mendasar dalam menentukan makna dan definisi yang tepat tentang konsep keadilan.

Berdasarkan prinsip-prinsip material tersebut di atas, maka telah membentuk beberapa teori keadilan distribusi yang menjadi landasan bagi sistem-sistem ekonomi kontemporer. Menurut K. Bertens , dalam Pengantar Etika Bisnis ada tiga

macam, yaitu meliputi: Pertama, teori egalitarianisme radikal,21 teori ini berpendapat bahwa kita baru dikatakan membagi dengan adil jika semua orang mendapat bagian yang sama (equal). Ukurannya, sama rata dan sama rasa, merupakan semboyan yang khas dari egalitarian dan membatasi kebebasan individu untuk berbuat 22

Kedua, teori libertarianisme, teori ini justru menolak pembagian atas dasar kebutuhan sebagai sesuatu yang tidak adil. Oleh sebab itu, setiap individu-individu diberikan kebebasan untuk berusaha, di samping itu, kepemilikan pribadi sangat layak sesuai dengan usahanya.23 Kaum libertarian juga membela pasar bebas dalam kapital, sehingga negara dibatasi ikut campur urusan individu .24

Ketiga, teori sosialistis, teori ini tentang keadilan distribusi memilih prinsip kebutuhan sebagai dasar keadilan. Menurut mereka, keadilan akan dapat terwujud jika kebutuhan semua warga masyarakat sudah terpenuhi, seperti kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Secara jelas, sosialisme berjuang memikirkan nasib kaum buruh dalam konteks industrialisasi.25

21Egalitarianisme merupakan doktrin atau pandangan yang menyatakan bahwa manusia itu

ditakdirkan mempunyai derajat yang sama sehingga mereka berpendirian bahwa kelas-kelas sosial yang berbeda, seperti orang yang sangat pandai dengan orang sangat bodoh mempunyai proporsi yang relatif sama.

Negara yang pernah mempraktekkan kesetaraan ekonomi adalah Kamboja, pada masa kepemimpinan Pol Pot. Di bawah rezimnya tersebut, di mana seluruh orang dari berbagai usia dan status sosial dipaksa meninggalkan kota supaya tinggal di desa agar bekerja sebagai buruh tani di lahan-lahan pertanian kolektif. Di Kamboja, semua orang harus berpikir, bekerja, dan berkeyakinan sama; setiap yang melakukan pemberontakan akan dibunuh seketika di tempat. Saat ini di Kamboja utara dapat ditemui model perkampungan ala Pol Pot, di mana rumah-rumah penduduk tertata rapih, bersih dan berjajar identik. Didekat perkampungan tersebut terdapat kuburan massal, di mana ratusan kerangka manusia dikuburkan sisa-sisa keberadaan sekelompok manusia yang mencoba mempertahankan individualitasnya. Lihat J.B. Wollstein, ‚The Idea of Equality,‛ Vol. 30 No. 4 (The Freeman: Ideas on Liberty, 1980). Lihat juga versi online: Syukasah Syahdan, ‚Tentang Kesetaraan.‛

Vol I Edisi no. 5, 22 Mei 2007, artikel diakses pada 13 Maret 2010 dari http://akaldankehendak.com

22K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, 97. 23K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, 100.

24Will Kymlicka, Contemporary Political Philosopy: an Introduction (New York: Oxford

University Press Inc, 1990), 118..

Melihat dari tiga prinsip-prinsip utama teori keadilan distribusi di atas, maka nampak dengan jelas bahwa teori-teori tersebut masih terdapat banyak kekurangan dan mengandung keterbatasan untuk menjawab persoalan-persoalan ketidakadilan secara komprehensif. Beberapa keterbatasan tersebut antara lain: pertama, prinsip egalitarianisme radikal, bahwa setiap orang harus memiliki tingkat yang sama dalam kebutuhan barang dan jasa sementara dalam banyak hal manusia tidak bisa disamakan. Bila hal ini yang terjadi, maka di manakah penghargaan atas kenyataan adanya perbedaan pendapatan pada individu bagi mereka yang secara ekonomi lebih produktif ?

Kedua, prinsip libertarian, bahwa pasar bebas secara moral bertujuan sebagai alat yang dipercaya untuk mengalokasikan dan mendistribusikan sumber daya secara adil. Akan tetapi fakta yang terjadi, kekuatan pasar tidak sepenuhnya dapat memenuhi tugas alokasi dan distribusi secara adil. Persoalan lain, bagaimana dengan yang tidak bisa berprestasi karena cacat mental atau fisik, yang ingin berprestasi juga sebagaimana layaknya yang lain, tetapi tidak memungkinkan, sehingga tidak mendapatkan apa-apa. Apakah bisa juga dikatakan menegakkan keadilan ?

Ketiga, Prinsip sosialistis yang memperjuangkan prinsip kebutuhan dan kemampuan. Namun demikian, timbul permasalahan baru, bila prinsip ini dipakai sebagai pegangan dalam mewujudkan keadilan. Jika hanya kebutuhan yang menjadi tolak ukur dalam memberikan gaji, maka para pekerja tidak akan merasa termotivasi untuk bekerja keras, karena kebutuhannya sudah diatur. Dengan asumsi bekerja keras atau malas-malasan tidak akan mengubah pendapatannya.

Selain dari tiga teori keadilan distribusi tersebut di atas, terdapat dua teori lain pada abad ke-20 yaitu: pertama, teori Jhown Rawls, dalam A Theory of Justice, menurut Rawls, bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama atas kebebasan dasar seluas mungkin sesuai dengan sistem kebebasan serupa yang berlaku untuk orang lain, seperti kebebasan mengemukakan pendapat, kebebasan berpolitik dan sebagainya. Adanya ketidaksamaan di bidang sosial dan ekonomi harus diatur

sedemikian rupa, sehingga dapat bermanfaat bagi orang lain terutama orang-orang yang kurang beruntung.26

Kedua, teori Robert Nizick, dalam pemikirannya, Nizick berlawanan dengan Rawls terutama kritikannya pada masalah persamaan hak dari Rawls. Teorinya tentang keadilan distribusi disebut entitlement theory (landasan hak). Menurutnya, kita memiliki sesuatu dengan adil, jika pemilikan itu berasal dari keputusan bebas yang mempunyai landasan hak.27

Dokumen terkait