• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.2. Prinsip dan Ukuran Pengendalian

Pengendalian intern diterapkan untuk mengimbangi

berbagai resiko dalam aktivitas organisasi, baik

disebabkan oleh kesalahan manusia (human error) atau pelanggaran yang disengaja (intentional irregularities) termasuk penggelapan (embezzlement), penipuan (fraud)

dan sabotase. Irregularity adalah aktivitas yang

dilarang oleh kebijaksanaan perusahaan dan

hukum/peraturan yang berlaku.

Sistem pengendalian intern yang efektif sangat diperlukan untuk melindungi sistem akuntansi untuk

raencapai tingkat ukuran pengendalian yang dapat

diterima atas seluruh harta organisasi. Pengendalian akuntansi intern bertujuan untuk menyajikan kepastian

yang beralasan, tapi bukan absolut, bahwa harta

organisasi terjaga dari penggunaan atau perlakuan yang tidak semestinya dan bahwa data-data keuangan dapat dipercaya untuk digunakan dalam penyusunan laporan keuangan.

Hubungan antara resiko, prinsip pengendalian, tujuan pengendalian dan ukuran pengendalian tampak pada bagan berikut :

BAGAN 2.1.

RELATIONSHIP OF CONTROL PRINCIPLES AND OBJECTIVES AND APPLICATION OF CONTROL OBJECTIVES

RISK v

Management's responsibility Auditor's responsibility

Sumber : Nash, John F., Accounting Information_Systerns. Second .Edition. PWS-KENT Publishing Company, Boston, Massachusetts, 1989, hal. 415

Resiko adalah masalah yang dihadapi, sedangkan prinsip dan tujuan pengendalian menunjukkan apa yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut. Ukuran pengendalian mewakili apa yang dapat (atau telah) dilakukan.

Berikut ini adalah prinsip-prinsip pengendalian intern akuntansi yang mencerminkan filosofi umum dalam profesi akuntansi :

1. Control environment. 2. Authorizations.

3. Incompatible duties and responsbilities. 4. Classification of information. 5. Transaction processing. 6. Accuracy of data. 7. Error correction. 8. Systems security. 9. Security of data. 10. Systems development. 11. Documentation.

12. Physical safeguarding of resources. '

1. Lingkungan pengendalian (Control environment).

Manajemen melalui kebijaksanaan, prosedur dan

aktivitasnya harus memelihara lingkungan berorganisasi yang memberikan pengawasan yang efektif dan kondusif terhadap sistem pengendalian.

Tanggung jawab untuk menetapkan dan memelihara lingkungan pengendalian yang memadai harus diterima pada tingkat tertinggi dalam organisasi. Semua personil

^The Auditor's Study and Evaluation of__ Internal Control in EDP Systems. American Institute of Certified Public Accountants, New York, 1977

harus memahami pentingnya pengendalian intern dan kepatuhan pada prosedur pengendalian.

Manajemen harus menetapkan kebijaksanaan

personalia dan prosedur rekrutmen, pelatihan, evaluasi

dan penempatan karyawan yang layak agar dapat

memperkecil resiko pada tanggung jawab tiap individu.

Manajemen harus menetapkan kebijaksanaan

berkaitan dengan sikap karyawan untuk mengurangi

aktivitas yang tidak mendukung pengendalian. Untuk itu perlu juga adanya prosedur-prosedur yang’ dijabarkan dengan baik dalam menangani pelanggaran.

2. Otorisasi (Authorization). Manajemen perlu

menetapkan prosedur otorisasi dan kriteria untuk

pengadaan dan pelaksanaan transaksi dan

mengkomunikasikan syarat-syaratnya pada personil yang terkait.

1. Jumlah, waktu dan kondisi semua transaksi harus diotorisasi agar sesuai harapan manajemen.

2. Pembelian dan penempatan harta harus disetujui

manaj emen.

3. Bagian pemrosesan data dilarang mengadakan atau meng-otorisasi suatu transaksi.

4. Pembatasan individu yang mempunyai akses ke daerah pemrosesan data atau fasilitas komputer.

untuk semua operasi komputer dan marapu memproses transaksi bagi kepentingan manajemen.

6. Hanya masukan yang layak dan disetujui secara umum maupun khusus oleh manajemen yang boleh diproses.

3. Pemisahan tugas dan tanggung jawab

(incompatible duties and responsibilities). Tugas-tugas

dan tanggungjawab harus diatur sedemikian rupa untuk raeminimalkan kesempatan seseorang dalam melakukan atau menyembunyikan kesalahan maupun pelanggaran. Sistem pengendalian intern yang baik seharusnya mengadakan pemisahan antara :

1. Fungsi otorisasi dengan fungsi pencatatan transaksi.

2. Fungsi penyimpanan dan pemeliharaan antara

sumberdaya organisasi dengan catatan akuntansinya. 3. Fungsi pemrosesan data dengan fungsi penggunaan

data.

4. Fungsi pengawasan dan pengembangan sistem dengan fungsi pelaksanaannya.

4. Klasifikasi infornasi (classification of

information). Manajemen harus menetapkan suatu rencana

dan kriteria tertentu untuk mengklasifikasikan

informasi yang paling memenuhi kebutuhan organisasi melalui tabel akuntansi atau semacamnya. Transaksi harus diklasifikasikan guna pelaporan sesuai prinsip

manaj emen.

5. Penrosesan transaksi ( transaction processing).

Manajemen perlu menetapkan dan mengawasi prosedur

pencatatan dan pemrosesan transaksi serta

mengkomunikasikannya kepada para personil yang terkait dengan tujuan :

1. Memenuhi kebutuhan manajemen.

2. Untuk pelaporan kejadian ekonomi yang penting.

3. Untuk pengakuan, klasifikasi, dan peringkasan

transaksi.

4. Untuk memastikan bahwa senua transaksi yang

diijinkan hanya diproses satu kali.

5. Agar data transaksi dapat seoara layak dan tepat waktu dicatat dalam buku besar, buku pembantu dan file utama lainnya.

6. Agar pelaporan dapat disiapkan secara akurat, segera

dan konsisten serta secara seimbang menyajikan

informasi yang diperlukan.

6. Akurasi data (accuracy of data). Prosedur operasi harus secara periodik melakukan verifikasi

keakuratan data yang disimpan dan laporan yang

dihasilkan dari data tersebut. Secara kontinyu auditor intern atau kelompok independen lain dalam organisasi perlu me-review dan menguji aktivitas proses komputer. Output harus diperiksa, diuji dan dibandingkan dengan

input, pemrosesan input dan dokumen-dokumen asal.

Sistem yang ada harus mengandung jalur audit yang

menunjukkan dengan jelas langkah-langkah proses

penyajian, waktu, personil yang bertanggungjawab atas proses tersebut dan hasil-hasil operasi pemrosesan yang signifikan.

7. Koreksi kesalahan (error correction). Sistem

pengendalian intern harus mempunyai prosedur yang

memadai untuk mendeteksi, mengidentifikasi dan

mengoreksi kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan orang atau fasilitas dan perlengkapan sistem yang ada. Untuk itu harus dilakukan hal-hal sebagai berikut : 1. Fungsi pengendalian otomatis yang terdapat dalam

sistem komputer harus dioperasikan semaksimal

mungkin untuk mendeteksi dan melaporkan kerusakan perangkat lunak (software) maupun perangkat keras

( hardware).

2. Validasi dan konsistensi data dalam data base harus dikontrol.

3. Harus ada seseorang atau sekelompok orang yang bertanggungjawab atas penerimaan data, meyakinkan bahwa data tersebut dicatat dan diproses, meyakinkan

bahwa dilakukan perbaikan atas kesalahan yang

terdeteksi selama pemrosesan data dan mengawasi distribusi output.

4. Sistem harus mem-verifikasi semua kode dan keterangan perhitungan yang penting untuk mencatat data transaksi.

5. Harus dilakukan pengendalian atas konversi data ke dalam bentuk tertulis dan perpindahan data antar

lengkah pemrosesan atau antar departemen.

6. Sistem harus mampu mencegah dan mendeteksi kesalahan dalam pemrosesan file serta penggunaan operasional yang lain untuk dievaluasi dan diperbaiki.

8. Keananan sisten (system security). Manajemen

harus mempunyai suatu perencanaan dan penerapan

prosedur yang layak untuk mengendr.likan penggunaan dan akses ke sumberdaya sistem yang ada serta meyakinkan bahwa fungsi pemrosesan informasi dapat dipercaya.

Prinsip ini mencerminkan pentingnya menghindari

penyalahgunaan sumberdaya pemrosesan informasi,

termasuk penggunaan tanpa ijin, pencurian dan perusakan perangkat keras, perangkat lunak, dokumentasi maupun data. Akses ke sistem informasi akuntansi, program komputer, program dokumentasi dan bagian-bagian kritis lainnya harus dibatasi pada beberapa personil tertentu dengan tanggungjawab masing-masing. Alur atau logika aktivitas komputer harus bisa dievaluasi oleh manajer, auditor atau operator komputer.

ada harus memberi perlindungan berkesinambungan

terhadap data mulai dari input, penyimpanan,

pemrosesan, pengiriman dan output. Perlu juga adanya sistem khusus untuk merekonstruksi dan memulihkan data bila terjadi kehilangan atau kerusakan.

10. Pengembangan sisten (systems development).

Sistem informasi akuntansi harus dikembangkan dan

dijaga agar sesuai dengan tujuan dan sasaran

organisasi. Perencanaan, desain, seleksi paket

perangkat lunak dan pengujiannya harus melibatkan wakil dari para pemakai output informasi, bagian akuntansi dan auditor intern. Perubahan maupun perluasan sistem harus mendapat persetujuan terlebih dahulu sebelum diterapkan.

Manajemen harus memberikan pelatihan teknik maupu manajerial bagi para personil yang terlibat dalam suatu

sistem pengendalian. Standar dan prosedur harus

ditetapkan sebagai pedoman operasional bagi para

pemakai akhir.

11. Dokunentasi (Documentation). Harus terdapat suatu rencana dan penerapan prosedur yang layak dalam

mengadakan dan mengendalikan dokumentasi serta

spesifikasi sistem. Manajemen harus membuat spesifikasi

tertulis untuk masing-masing sistem dan membuat

dan pembatasan akses ke dalam masing-masing tingkatan.

12. Perlindungan fisik terhadap sumberdaya

(physical safeguarding of resources). Keuangan

organisasi, perarosesan informasi dan sumberdaya yang lain patut menerima keamanan fisik yang layak. Harus

disediakan pula jumlah asuransi yang layak untuk

menutupi kerusakan atau kehilangan sumberdaya fisik. Prinsip-prinsip di atas raemungkinkan kita untuk mewujudkan suatu sistem pengendalian intern yang mampu meminimalisir resiko secara keseluruhan. Untuk menilai sistem pengendalian intern tersebut diperlukan suatu sudut pandang berupa ul'.uran-ukuran pengendalian yang berhubungan dengan resiko dan ancaman yang spesifik.

John F. Nash membagi daerah pengendalian yang luas ke dalam delapan kategori ukuran pengendalian :

- Organizational controls.

- Systems development and security controls.

- Input controls.

- Processing controls.

- File and database controls.

- Telecommunications controls - Output controls.

- Confirmation controls. '

Pengendalian organisasional terdiri dari (1)

pemisahan tugas dan tanggungjawab, terutama secara

vertikal, (2) rotasi penugasan untuk meningkatkan

kecakapan personil dan menghindari terpendamnya

kesalahan atau kecurangan, (3) perjanjian mengenai konsekuensi dari suatu tugas, terutama untuk posisi sensitif seperti penanganan kas.

Pengendalian keananan dan pengembangan sistem berupa pengendalian pengembangan sistem, dokumentasi, keamanan komputer dan akses.

Pengendalian input berkaitan dengan otorisasi,

perolehan, klasifikasi, entry, dan verifikasi data

input. Data input termasuk pula transaksi dan perubahan pada file. Verifikasi dilakukan untuk menilai validitas jenis dan lingkup data berikut kombinasinya, nomor atau kode akuntansi, hubungan yang logis, jumlah numerik yang beralasan, kelengkapan data dan urutan transaksi, dokumen atau nomor batch.

Pengendalian proses mencakup prosedur-prosedur

tertulis, penomoran dokumen, pengendalian batch,

pengendalian operasi komputer pengendalian kesalahan dan perbaikannya.

Pengendalian file dan database berarti

pemeliharaan file secara fisik, membuat backup yang diperlukan dan pengendalian pemrosesan file.

Pengendalian telekomunikasi bertujuan melindungi jaringan dan saluran telekomunikasi untuk menghindari kehilangan data atau distorsi data, kesalahan tujuan, adanya pihak yang secara tidak sah memonitor, mengambil

atau memasuki pesan yang disampaikan.

Pengendalian output diraaksudkan guna memastikan bahwa output dari sistem akuntansi adalah lengkap, akurat dan digunakan secara layak.

Pengendalian konfirnasi mengacu pada prinsip

pengendalian no. 6 dan bertujuan mengadakan verifikasi

catatan akuntansi dengan kenyataan, misalnya

penghitungan kas di tangan, rekonsiliasi bank,

penghitungan persediaan dan konfirmasi piutang.

Ukuran pengendalian semestinya diikutsertakan ke dalam sistem akuntansi pada saat perancangan, meskipun

pengendalian baru bisa saja ditambahkan bila di

kemudian hari didapati kelemahan.

2.1.3. Pelaporan dan Kualitas Informasi yang Diperlukan

Dokumen terkait