• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip Dasar Hukum Pengungsi Internasional dan Nasional

62

b. Pasal 31 Peraturan Pemerintah Nomor 31 tahun 1994 Tentang Pengawasan Orang Asing Dan Tindakan Keimigrasian Bahwa orang asing dikenakan tindakan pengkarantinaan apabila: Berada di wilayah negara RI tanpa memiliki izin keimigrasian yang sah. Dalam rangka menunggu keputusan menteri mengenai pengajuan keberatan yang diajukan

63

Komisi Hukum Internasional memberi beberapa contoh norma hukum umum internasional seperti larangan penggunaan kekerasaan, genosida, pembajakan atau perbudakan.

1. Prinsip – Prinsip Dasar Hukum Internasional

Terdapat aturan dan ketentuan-ketentuan dalam hukum internasioanl yang harus diparuhi oleh masyarakat internasional dalam berhubungan antarnegara. Ketentuan peraturan tersebut terangkum dalam enam prinsip pokok, yaitu25 :

Pertama, the Principle of the Sovereign Eguality of All States (Kesamaan Kedaulatan Semua Negara). Hal tersebut terdapat dalam Pasal 2 Ayat (1) Piagam Perserikatan Bangsa., “The organizations is based on the principle of the sovereign eguality of all its members ( Organisasi bersendikan pada prinsip-prinsip persamaan kedaulatan dari semua anggota)”.

Kedua, The Principle Non Intervention ini The Internal Affairs of Other S tates ( Larangan Intervensi dalam masalah-masalah Internal Negara Lain).

Prinsip tersebut diakomodasi dalam Pasal 2 ayat (7) Piagam Perserikatan Bangsa.

a. Prinsip – Prinsip Suaka dan Pemberiannya

Suaka dalam hukum Intertnasional diartikan sebagai perlindungan yang diberikan oleh suatu Negara kepada pengungsi politik yang berasal dari Negara lain dan mengizinkannya untuk masuk ke wilayah Negara tersebut atas permintaannya. Setiap orang mempunyai hak untuk

25 Boer Mauna, 2009, Prinsip-prinsip Pokok Hukum Internasional dalam Pengaturan Interaksi Antar Negara, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Luar Negeri.

64

mencari suaka dan menikmatinya di Negara lain. Hal tersebut tercantum dalam Deklarasi Universal HAM PBB 1948. Hak mencari suaka merupakan kewenangan suatu Negara untuk mengizinkan pengungsi atau aktivis politik yang mengajukan suaka itu, masuk atau tinggal di wilayah Negara.

b. Prinsip Non-Refoulement dan Non-Ekstradiksi

Prinsip non-refoulement sebagaimana tercantum dalam Pasal 33 Konvensi tahun 1951 merupakan dasar dari perlindungan internasional terhadap pengungsi. Dari kewajiban orang asing untuk memenuhi persyaratan formal. Bahkan jika orang asing itu masuk secara tidak sah.

Dalam kasus tidak ada penilaian terhadap permohonan suaka, didalamnya tidak ada jaminan terhadap pengusiran pencari suaka yang bertentangan dengan Pasal 33 Konvensi tahun 1951.

c. Prinsip Hak dan Kewajiban Pengungsi

Terdapat empat prinsip dasar yang harus dijalankan Negara terhadap pengungsi26.

Pertama,, larangan untuk memulangkan pengungsi ke Negara asalnya (probibition against expulsion or return). Jika terjadi pemulangan maka Negara pihak dianggap telah melanggar ketentuan dari Pasal 32 dan Pasal 33 Konvensi Pengungsi.

Kedua, Negara tujuan atau Negara transit harus dapat memberikan perlindungan kemananan (security od refugees). Beberapa data

26 Prinsip-prinsip dipublikasikan oleh UNHCR

65

menunjukkan bahwa perlindungan terhadap pengungsi rentan disebabkan perlakukan pihak keamanan Negara yang dikunjungi.

2. Hukum Pengungsi Internasional di Indonesia

Sebagai Negara yang telah merdeka sejak tahun 1945 dan menjadi anggota PBB selama 57 tahun, seyogiaya Indonesia segera meratifikasi Konvensi PBB tahun 1951 tentang Pengungsi. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 telah menyatakan niatnya untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social. Kedudukan Indonesia dalam tataran internasional seharusnya menjadi Hak Asasi Manusia (HAM) yang belum diratifikasi, termasuk Konvensi tahun 1951 berikut Protokol tahun 1967 yang telah diratifikasi oleh 140 negara. Indonesia pernah menjadi tuan rumah sekaligus salah satu pemrakarsa konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Pada komunike finalnya menyatakan dukungan penuh terhadap prinsip-prinsip fundamental hak asasi manusia sebagaimana tercantum dalam Piagam PBB dan mencatat Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) 1948 sebagai standar pencapaian bersama bagi semua rakyat dan bangsa. Sejak tahun 1975 Indonesia bekerja sama dengan UNHCR dan komunitas internasional bagi upaya penyelesaian masalah pengungsi dari Semenanjung Indocina. Sejak tahun 1979 di Jakarta ada kantor regional yang wilayah kerjanya meliputi Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Malaysia dan Siangapura.

Posisi geografis Indonesia di jalur lalu lintas Asia menuju Australia. Hal tersebut membuat Indonesia telah menjadi tempat transit pemcari suaka maupun migran ekonomi. Kasus kapal tanpa yang menghebohkan beberapa waktu lalu

66

bukan tanpa mungkin terulang. Sebenarnya Indonesia pernah menjadi Negara suaka bagi pengungsi, yaitu manusia perahu dari Vietman yang kemudian ditampung dan diproses di Pulau Galang sebelum direpatriasi atau dimukimkan di Negara ketiga.

International Organization forMigratioan (IOM) berdedikasi untuk memajukan migrasi yang manusiawi dan teratur untuk kepentingan bersama, dilaksanakan dengan meningkatkan pemahaman mengenai masalah- masalah migrasi, membantu pemerintah dalam menjawab tantangan migrasi, mendorong pembangunan sosial dan ekonomi melalui migrasi, dan menjunjung tinggi martabat dan kesejahteraan migran, termasuk keluarga dan komunitasnya.Organisasi IOM bekerja dalam empat area luas manajemen migrasi:

migrasi dan pembangunan, pemfasilitasan migrasi, pengaturan migrasi, dan penanganan migrasi paksa, situasi darurat dan pasca krisis. Kegiatan ini antara lain memajukan hukum migrasi internasional, acuan kebijakan, perlindungan hak-hak migran, migrasi dan kesehatan, dan perkembangan gender dalam migrasi. Kegiatan IOM ini berguna untuk melindungi migran.

Dalam memberikan bantuan TKI, IOM memiliki Strategi yang bersifat mencegah dengan mengkombinasikan tiga pendekatan:

a. Meningkatkan kesadaran publik tentang prosedur migrasi aman melalui kampanye informasi.

b. Memberikan jasa layanan informasi pra-keberangkatan bagi calon buruh migran yang hendak berangkat.

c. Pemantauan proses perekrutan buruh migran.

67

Organisasi untuk migrasi ini didirikan pada tahun 1951, IOM adalah organisasi antar-pemerintah terkemuka dalam bidang migrasi. IOM bertujuan untuk mempromosikan migrasi yang tertib dan manusiawi yang menguntungkan semua pihak, dengan cara memberikan layanan jasa dan nasihat bagi negara dan bagi para migran.

Organisasi IOM bekerja untuk mendorong praktik migrasi yang tertib dan manusiawi, mempromosikan kerjasama internasional dalam isu migrasi, membantu menemukan solusi praktis terhadap isu migrasi dan menyediakan bantuan kemanusiaan bagi kelompok yang membutuhkan, termasuk bagi pengungsi dan pengungsi internal. Konstitusi IOM mengenali kaitan antara isu migrasi dengan pembangunan ekonomi, sosial dan budaya, serta dengan hak atas kebebasan bergerak.

Indonesia merupakan negara penghasil imigran, negara tujuan dan negara transit bagi imigran. Mengingat perbatasannya yang luas dan lemahnya sistem penanganan perbatasan dan imigrasi. Penanganan imigran ilegal memerlukan kerjasama dengan instansi terkait lainnya seperti Kepolisian, Pemerintah Daerah, dan Kementerian Luar Negeri, pihak internasional seperti International Organization of Migration (IOM) dan United Nation High Commisioner of Refugees (UNHCR).

Organisasi IOM bekerja di empat bidang manajemen migrasi yaitu migrasi dan pembangunan, fasilitasi migrasi, pengaturan migrasi, dan penanganan migrasi paksaan. IOM melakukan banyak aktivitas yang saling bersinggungan termasuk mempromosikan hukum migrasi internasional, perdebatan kebijakan publik,

68

perlindungan HAM migran, kesehatan migran. IOM bekerja erat dengan mitra pemerintah dan non pemerintah. Kemampuan untuk menangani isu migrasi secara komprehensif dan kooperatif adalah salah satu syarat dasar yang perlu ada dalam pemerintahan nasional yang bertanggung jawab, hubungan internasional yang efektif dan partisipasi penuh dalam institusi internasional atau regional.

Sementara pandangan yang banyak beredar adalah bahwa migrasi memberikan dampak positif bagi pembangunan di negara asal dan negara tujuan, migrasi yang tidak tertib bisa menimbulkan dampak sosial, keuangan dan politik bersifat negatif bagi individu, masyarakat dan pemerintahan.