• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip Kekuasaan Yudisial

Dalam dokumen T2 322008013 BAB III (Halaman 39-50)

Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan (Pasal 24 ayat 1 Undang-Undang Dasar pasca

49 Amandemen).Kekuasaan kehakiman dilaksanakan oleh Mahkamah Agung RI, Badan-badan peradilan lain di bawah Mahkamah Agung (Peradilan Umum, PTUN, Peradilan Militer, Peradilan Agama) serta Mahkamah Konstitusi (Pasal 24 ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945). Penyelenggaraan kekuasaan Kehakiman tersebut diserahkan kepada badan-badan peradilan (Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, dan Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi dengan tugas pokok untuk menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya). Akibat terlalaikannya proses mediasidalam penyelesaian suatu perkara, maka putusan akan menjadi batal demi hukum (Pasal 2 Perma No. 1 Tahun 2008). Konsekuensi pada Pasal 2 Perma No. 1 Tahun 2008, barulah dipahami sebagai landasan formildalam melakukan tahapan persidangan, sehingga setiap perkara wajib dilakukan mediasi, sementara disisi lain intisari atau “tanggungjawab rasa keadilan belum dioptimalkan oleh pengadilan itu sendiri (meskipun

50

pihak pengadilan bersifat pasif). Berpegang pada Pasal 7 Perma Nomor 1 Tahun 2008 yang disebutkan bahwa: (1) Pada hari sidang yang telah ditentukan yang dihadiri kedua belah pihak, hakim mewajibkan para pihak untuk menempuh mediasi. Berdasarkan Pasal 7ayat (1) di atas, terdapat suatu pemahaman bahwa mediasi hanya wajibdi saat kedua belah pihak yang berperkara hadir di persidangan. Pemahaman ini muncul dengan dasar bahwa mediasi hanya logis dilaksanakan apabila kedua belah pihak berperkara hadir di persidangan.Karena hanya dalam kondisi hadirnya kedua belah pihak tersebut permufakatan dan kesepakatan perdamaian dapat dilakukan bahkan tidak disyaratkan harus dihadiri langsung oleh pihak prinsipal.Adapun kaitannya dengan ketentuan Pasal 2 dan Pasal 4 adalah bersifat pengkhususan.

B.

erma Nomor 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan dikaitkan dengan hakekat Kekuasaan Yudisial.

51 Dalam menyikapi hal tersebut penulis melihat bahwa dengan dikeluarkannya Perma Nomor 1 tahun 2008 Mahkamah Agung telah telah salah menerapkan hukumnya karena Hakim adalah pelaksana KekuasaanYudisial yang tugasnya adalah memeriksa, mengadili dan memutus perkara sehingga dengan dikeluarkannya Perma No. 1 tahun 2008 menambahkan beban tugas Hakim sebagai Ajudikasi dimana ketentuan Undang-undang Dasar tahun 1945 dengan tegas menyatakan Hakim dalam melaksanakan kekuasaan Yudisial merdeka dalam campur tangan apapun dan Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman Nomor 48 tahun 2009 Pasal 24 ayat (1) dan ayat (2) dimana dalam Perma nomor 1 tahun 2008 hakim diwajibkan menjadi mediator dimana hakim dalam semua tingkatan menduduki posisi sentral dalam proses peradilan yang diharapkan dapat menegakkan hukum dan keadilan dengan menjadi hakim yang baik yang memiliki integritas moral dan profesional yang diharapkan dapat membuat putusan yang baik yang mencerminkan

52

keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan. Mahkamah Agung sebagai pemegang kekuasaan yudisial tertinggi di Indonesia telah melepaskan tanggung jawabnya sebagai ajudikator yang seharusnya menjalankan fungsi memeriksa, mengadili dan memutus perkara melalui Perma tentang Mediasi a quo.Faktor yang paling mendukung pelaksanaan mediasi yudisial di Indonesia adalah adanya dasar hukum yang kuat seperti yang diamanatkan dalam hukum acara perdata. Pasal 130 HIR dan 154 Rbg hukum acara tersebut dengan tegas memerintahkan hakim untuk mencoba mendamaikan perkara perdata sebelum masuk proses persidangan.

Sesuai dengan hierarki sumber hukum Indonesia Perma merupakan produk hukum yang kedudukannya berada dibawah konstitusi negara yaitu UUD 1945, sehingga Perma Nomor 1 tahun 2008 yang mengatur tentang mediasi dimana Hakim sebagai pelaksana ajudikator kemudian perannya ditambahkan menjadi Hakim

53 mediator adalah bentuk pelanggaran Undang-undang diatasnya.

C.

pakah Perma Nomor 1 tahun 2008 telah sesuai dengan hukum ?

Dalam Undang-undang Kekuasaan Kehakiman Nomor 48 tahun 2009 Pasal 1 ayat (1) disebutkan Kekuasaan Kehakiman adalah Kekuasaan Negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia. Pada ayat (2) disebutkan Hakim adalah Hakim pada Mahkamah Agung dan Hakim pada Badan Peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan Peradilan Umum, Lingkungan Peradilan Agama, Lingkungan Peradilan Militer, Lingkungan Peradilan Tata usaha Negara dan Hakim pada Pengadilan Khusus yang berada dalam Lingkungan peradilan tersebut. Pada ayat

54

(8) disebutkan Pengadilan Khusus adalah pengadilan yang mempunyai kewenanangan untuk memeriksa, mengadili dan memutus perkara tertentu yang hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan badan peradilan yang berada dibawah Mahkamah Agung yang diatur dengan Undang-undang.

Dalam Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman Nomor 48 tahun 2009 jelas dinyatakan bahwa pelaksana Kekuasaan Kehakiman adalah Mahkamah Agung dimana Hakim adalah pelaksana ajudikasi yang tugasnya adalah memeriksa, mengadili dan memutus perkara. Dalam Pasal 3 ayat (1) Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman dijelaskan Dalam menjalankan tugas dan fungsi Hakim dan hakim konstitusi wajib menjaga kemandirian hakim, dan ayat (2) dijelaskan Segala campur tangan dalam urusan peradilan oleh pihak lain diluar Kekuasaan Kehakiman dilarang, kecuali dalam hal-hal sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, sehingga

55 Kekuasaan Kehakiman adalah Kekuasaan yang merdeka tanpa campur tangan pihak manapun dimana hakim harus menjaga kemandiriannya, dengan menjadikan hakim sebagai mediator sesuai ketentuan Perma akan dikhawatirkan adanya pengaruh secara psikologis terhadap pihak-pihak yang berperkara maupun kemandirian hakim, karena prinsip mediasi adalah netral maka harus di carikan mediator yang netral diluar kekuasaan ajudikasi. Karena dalam mediasi apabila Hakim menjadi mediator dikawatirkan akan hilang netralitasnya jika mendengar informasi akan membahayakan kredibilitas hakim, harus mampu menjaga netralitasnya dalam proses lanjutan pemeriksaan perkara ketika proses mediasi gagal mencapai kesepakatan. Padahal dalam proses mediasi banyak sekali informasi yang diberikan oleh para pihak yang tidak jarang berisikan “senjata” untuk memenangkan perkara. Mungkin juga ada pihak yang membeberkan kelemahan kasusnya kepada mediator dengan harapan dapat mencapai kesepakatan yang lebih

56

menguntungkan dibanding bila harus mengikuti proses persidangan. Secara logika para pihak yang sudah mau mengikuti proses mediasi tentunya ingin mencapai kesepakatan dengan berbagai alasan, entah karena dianggap lebih menguntungkan secara waktu, biaya dan energi, menjaga hubungan baik, bisa berkesempatan menyampaikan buah pikiran secara bebas, atau sebab lainnya. Penulis berpendapat bahwa kotradiksi kedua kebijakan dalam pelaksanaan mediasi di pengadilan ini merugikan kepentingan para pihak. Bila mediator yudisial dilarang menjadi saksi (yang tidak menentukan hasil akhir atau putusan yang dikeluarkan karena hanya dimintai keterangan), maka sudah seharusnya mediator tersebut juga tidak boleh menjadi pemeriksa perkara yang akan menjatuhkan putusan. Hakim pemeriksa perkara bukanlah malaikat yang bisa tetap menjaga netralitas setelah mengetahui semua informasi dari proses mediasi dan pertemuan terpisah. Karena itu perlu dibuat langkah pengaman dengan melarang mereka menjadi mediator dalam kasus yang sama. Apalagi

57 kemudian PerMA Mediasi juga memberikan hak imunitas (kekebalan) kepada mediator. Namun pada kenyataanya bahwa hakim juga ikut berperan aktif sebagai Hakim Mediasi untuk menyelesaikan suatu perkara ditingkat peradilan atau LitigasiPerma Nomor 1 tahun 2008 pasal 11 ayat (6) Jika pada pengadilan yang sama tidak terdapat hakim bukan pemeriksa perkara yang bersertifikat, maka Hakim Pemeriksa Pokok Perkara dengan atau tanpa sertifikat yang ditunjuk oleh Ketua Majelis Hakim wajib menjalankan fungsi mediator, hal ini sangat bertentangan dengan undang-undang kekuasaan kehakiman yang menyebutkan bahwa tugas dan fungsi hakim sebagai ajudikasi yaitu mengadili dan memutus perkara bukan sebagai mediator ditingkat Pengadilan. Undang-undang Kekuasaan Kehakiman telah menentukan secara eksplisit bahwa tugas dan fungsi pokok Hakim adalah memeriksa, mengadili dan memutus perkara. Namun dalam praktek peradilan perdata di Indonesia tugas dan fungsi Hakim tidak hanya seperti yang disebutkan dalam Undang-undang

58

Kekuasaan Kehakiman saja namun dengan dikeluarkannya PERMA No.1 tahun 2008 tugas Hakim masih harus dibebani dengan tugas yang lain yaitu mendamaikan para pihak yang berperkara menjadi mediator dalam mediasi, sehingga dapatlah dilihat bahwa Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman sangat bertentangan dengan PERMA No.1 tahun 2008 yang menjadikan Hakim sebagai seorang mediator. Jalan keluar dari persoalan ini menurut penulis, bahwa agar supaya mediasi atau perdamaian dapat lebih hidup lagi atau berhasil mencapai hasil maksimal maka seharusnya Hakim dibebaskan dari tugas dan fungsinya selama ini sebagai mediator untuk mendamaikan para pihak yang berperkara artinya lembaga Hakim mediator dihapuskan, dan membentuk lembaga khusus yaitu lembaga mediasi yang sifatnya ekstra yudisial yang benar-benar fokus pada soal mediasi sehingga Hakim tidak lagi dibebani sebagai mediator, jadi dapat disimpulkan bahwa Undang-Undang Dasar tahun 1945 dan Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman sudah

59 dengan tegas menyatakan bahwa Lembaga Ajudikasi mempunyai tugas untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara dimana setiap pihak yang datang ke Pengadilan akan mendapatkan putusan dari hakim namun dengan adanya Lembaga mediasi di Pengadilan dimana para pihak yang datang ke Pengadilan diwajibkan untuk mediasi terlebih dahulu menjadikan lembaga Yudisial yang sebelumnya bertugas memutus perkara kemudian menjadi lembaga mediasi telah melanggar prinsip-prinsip hukum mengenai Kekuasaan Yudisial seperti tercantum dalam Undang-undang Dasar tahun 1945 dan Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009.

Dalam dokumen T2 322008013 BAB III (Halaman 39-50)

Dokumen terkait