• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

B. Landasan Teori

7. Prinsip Kesantunan Leech

Sopan santun merupakan mata rantai yang hilang antara prinsip kerja sama dengan masalah bagaimana mengaitkan daya dengan makna. Leech (1993: 161) melihat sopan santun dari sudut pandang petutur dan bukan dari sudut pandang penutur. Leech (1993: 166) menyatakan bahwa tuturan yang sopan bagi petutur atau pihak ketiga bukan merupakan tuturan yang sopan bagi penutur, begitu pula sebaliknya. Prinsip kesantunan Leech berhubungan dengan dua pihak, yaitu diri dan lain. Diri ialah penutur dan lain adalah petutur, dalam hal ini lain juga dapat menunjuk kepada pihak ketiga baik yang hadir maupun yang tidak hadir dalam situasi tutur Leech, 1993: 206). Leech (1993: 206) merumuskan prinsip kesantunannya ke dalam tujuh maksim. Ketujuh maksim tersebut ialah sebagai berikut.

a. Maksim Kearifan (Tact Maxim) (dalam ilokusi direktif dan komisif) 1) Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin

2) Buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin

b. Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim) (dalam ilokusi direktif dan komisif)

1) Buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin 2) Buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin

c. Maksim Pujian (Approbation Maxim) (dalam ilokusi ekspresif dan asertif) 1) Kecamlah orang lain sesedikit mungkin

commit to user

d. Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim) (dalam ilokusi ekspresif dan asertif)

1) Pujilah diri sendiri sesedikit mungkin 2) Kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin)

e. Maksim Kesepakatan (Agreement Maxim) (dalam ilokusi asertif)

1) Usahakan agar ketaksepakatan antara diri dan lain terjadi sesedikit mungkin

2) Usahakan agar kesepakatan antara diri dengan lain terjadi sebanyak mungkin

f. Maksim Simpati (Sympathy Maxim) (dalam ilokusi asertif)

1) Kurangi rasa antipati antara diri dengan lain hingga sekecil mungkin 2) Tingkatkan rasa simpati sebanyak-banyaknya antara diri dan lain

g. Maksim pertimbangan (Consideration Maxim) (dalam ilokusi asertif dan ekspresif)

1) Minimalkan rasa tidak senang pada mitra tutur 2) Maksimalkan rasa senang pada mitra tutur

a. Maksim Kearifan (Tact Maxim)

Maksim kearifan berorientasi pada petutur (Cruse, 2000: 363). Maksim kearifan memiliki dua segi, yaitu segi negatif dan segi positif. Segi negatif ialah „buatlah kerugian petutur sekecil mungkin‟ dan segi positif „buatlah keuntungan petutur sebesar mungkin‟. Segi yang kedua (segi positif) merupakan akibat yang wajar dari segi pertama. Dapat dijelaskan bahwa jika penutur ingin melakukan sesuatu yang

commit to user

menguntungkan petutur maka harus memperkecil kemungkinan bagi

petutur untuk mengatakan „tidak‟. Dalam konteks informal, sebuah

imperatif di mana penutur tidak memberi kesempatan kepada petutur untuk mengatakan tidak merupakan suatu tindakan yang sopan. Hal tersebut dapat dilihat pada tuturan, „Ambillah sandwich sepotong lagi‟ lebih santun daripada „Maukah anda mengambil sandwich sepotong lagi?‟ (Leech, 1993: 170-171).

Dalam konteks yang berbeda, misalnya ingin menyuruh petutur untuk mencuci piring, tuturan yang tidak langsung lebih sopan daripada tuturan langsung. Tuturan „Bisakah kamu mencuci piring?‟ lebih sopan

daripada „Cuci piring!‟ (Cruse, 2000: 363).

b. Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim)

Maksim kedermawanan memiliki orientasi untung rugi kepada penutur. Berdasarkan maksim ini, tuturan „Biar saya yang mencuci piring.‟ lebih santun daripada „Saya ragu apakah saya bisa mencuci piring‟ (Cruse, 2000: 364). Dapat dikatakan bahwa penutur harus mengutarakan dengan tuturan yang bersifat langsung jika bermaksud memberi „biaya‟ bagi diri sendiri. Hal tersebut agar tidak menciptakan kemungkinan bahwa petutur yang akan melakukan „biaya‟ yang seharusnya dilakukan penutur.

c. Maksim Pujian (Approbation Maxim)

Pada maksim ini, submaksim pertama lebih penting, yaitu „jangan mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan mengenai orang lain, terutama bagi petutur‟. Berdasarkan maksim ini tuturan „Masakanmu enak

commit to user

sekali‟ lebih santun daripada tuturan „Masakanmu sangat tidak enak‟ (Leech, 1993: 211-212).

d. Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim)

Maksim kerendahan hati berorientasi kepada penutur. Memuji diri sendiri merupakan tuturan yang tidak santun. Jika seseorang dipuji dengan tuturan „Kamu melakukannya dengan sangat bagus‟, akan lebih santun bila menjawab „Ya, yang saya lakukan tidak terlalu buruk‟ daripada „Ya, saya melakukannya dengan baik‟ (Cruse, 2000: 365).

e. Maksim Kesepakatan (Agreement Maxim)

Kesepakatan merupakan hubungan antara opini penutur dengan petutur (Cruse, 2000: 365). Orang cenderung melebih-lebihkan kesepakatannya dengan orang lain, juga mengurangi ketidaksepakatannya melalui ungkapan penyesalan, kesepakatan sebagian, dan sebagainya (Leech, 1993: 217). Berdasarkan maksim ini, pertanyaan „Apakah pamerannya menyenangkan?‟ akan terdengar sopan jika dijawab dengan „Iya, pamerannya menarik‟ daripada dijawab dengan „Pamerannya sangat tidak menarik‟. Contoh lain ialah jika ada pertanyaan „Apakah kamu

menyukai kopi?‟, maka jawaban „Saya lebih suka teh daripada kopi‟

terdengar lebih santun daripada „Saya tidak suka kopi‟. f. Maksim Simpati (Sympathy Maxim)

Maksim simpati menjelaskan bahwa ucapan selamat dan belasungkawa merupakan tindak tutur yang santun, walaupun ucapan belasungkawa mengungkapkan keyakinan penutur tentang keyakinan negatif bagi petutur (Leech, 1993: 218). Tuturan „Saya sangat menyesal

commit to user

mendengar bahwa kucingmu mati‟ merupakan tuturan yang santun daripada „Saya sangat senang mendengar bahwa kucingmu mati‟. Akan tetapi, ada sesuatu yang berat dalam mengutarakan belasungkawa, karena dengan demikian berarti penutur meyakini sesuatu yang tidak sopan, yaitu keyakinan yang merugikan petutur (Leech, 1993: 218).

g. Maksim Pertimbangan (Consideration Maxim)

Inti pematuhan maksim ini adalah bahwa penutur perlu mempertimbangkan perasaan petutur, jangan sampai petutur merasa lebih tidak senang dalam suasana yang tidak menyenangkan; kalau dapat, rasa tidak senang itu dapat berkurang (Asim Gunarwan, 2005: 10). Cruse (2000: 366) mencontohkan, lebih sopan untuk mengutarakan „Saya turut sedih mendengar kabar tentang suami anda daripada „Saya turut sedih mendengar tentang kematian suami anda‟. Pengungkapan secara rinci berpotensi menambah rasa tidak senang petutur karena ia diingatkan kepada hal-hal yang menyedihkan (Asim Gunarwan, 2005: 11).

Skala kesantunan Leech

Leech (1993: 194) mengidentifikasi tiga skala yang menunjukkan tingkat kearifan suatu situasi percakapan tertentu. Skala-skala tersebut ialah sebagai berikut .

a. Skala untung-rugi

Skala ini memperkirakan keuntungan atau kerugian suatu tindakan bagi penutur atau petutur (Leech, 1993: 194). Leech (1993: 166-167) menjelaskan peringkat kesantunan berdasarkan skala untung-rugi.

commit to user

merugikan t kurang sopan [1] Kupas kentang ini.

[2] Berikan saya koran itu. [3] Duduk.

[4] Lihatlah itu.

[5] Nikmatilah liburanmu. [6] Makanlah, sepotong lagi.

menguntungkan t lebih sopan b. Skala keopsionalan

Skala ini memperhitungkan jumlah pilihan yang diberikan penutur kepada petutur (Leech, 1993: 195). Semakin besar jumlah pilihan yang diberikan oleh penutur maka semakin santun tuturan itu (Asim, 1994: 92). Berdasarkan skala ini, tuturan „Kalau tidak lelah, pindahkan kotak itu.‟ lebih santun daripada „Pindahkan kotak ini‟.

c. Skala ketaklangsungan

Skala ini mengukur panjang jalan yang menghubungkan tindak ilokusi dengan tujuan ilokusi, sesuai dengan analisis cara-tujuan (Leech, 1993: 195). Skala ketaklangsungan dapat dirmuskan dari sudut pandang petutur, yaitu sesuai dengan panjangnya jalan inferensial yang perlukan oleh makna untuk sampai ke daya (Leech, 1993: 195). Tuturan „Saya ada acara lain‟ lebih santun daripada „tidak bisa‟ untuk menolak ajakan orang lain.

commit to user

Dokumen terkait