BAB II : PRINSIP KETERBUKAAN BENEFICIAL OWNER
D. Prinsip Keterbukaan Beneficial Owner (BO) Perusahaan
Ada beberapa peraturan perUndang-Undangan yang terkait dengan keterbukaan pemilik manfaat (beneficial owner) yaitu :
2. Undang-Undang No.40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (PT) Dalam Undang-undang ini keterbukaan (transparency) ditemukan pada : a. Pasal 8
Dalam pasal ini dapat diartikan bahwa akta pendirian wajib memuat informasi mengenai pendiri perseroan serta anggota direksi dan dewan komisaris yang pertama kali diangkat, serta informasi mengenai pemegang saham.
b. Pasal 48 ayat (1)
89Ibid,.
Dalam pasal ini dapat diartikan bahwa saham dikeluarkan atas nama pemiliknya. Jadi, saham itu wajib atas nama si pemegang sahamnya, tidak bisa nama pemegang saham berbeda dengan pemilik sebenarnya.
c. Pasal 29 ayat (5)
Dalam pasal ini dapat diartikan kewajiban untuk melakukan pendaftaran perseroan yang sifatnya terbuka untuk umum.
d. Pasal 66 ayat (1) dan (2), Pasal 67 ayat (1), 69 ayat (3), dan 100 ayat (1) huruf b Dalam pasal ini dapat diartikan kewajiban Direksi mengenai pengungkapan informasi perseroan dalam bentuk laporan tahunan dan dapat diperiksa oleh pemegang saham dan ketidakpatuhan akan berujung pada sanksi.
e. Pasal 68
Dalam pasal ini dapat diartikan kewajiban bagi Direksi untuk meminta akuntan publik mengaudit laporan keuangan bagi perseroan yang memenuhi kriteria tertentu.
3. Undang-Undang No.25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal
Prinsip keterbukaan pemilik manfaat (beneficial owner) di Indonesia mengandung adanya unsur nominee ditemukan dalam :
a. Pasal 33 ayat (1)
Bahwa penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing yang melakukan penanaman modal dalam bentuk perseoran terbatas dilarang
membuat perjanjian dan/atau pernyataan yang menegaskan bahwa kepemilikan saham dalam perseroan terbatas untuk dan atas nama orang lain.
b. Pasal 33 ayat (2)
Bahwa jika ada perjanjian semacam itu, maka perjanjian tersebut dinyatakan batal demi hukum.
Penanaman modal diatur dalam UU No. 25 Tahun 2007, dengan diberlakukannya undang-undang ini sekaligus mencabut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri. Pengertian penanaman modal termuat dalam Pasal 1 angka 1 UU No. 25 Tahun 2007 yang menjelaskan bahwa, penanaman modal adalah segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah Republik Indonesia.
Investasi memiliki pengertian yang lebih luas karena dapat mencakup baik investasi langsung (direct investment) maupun investasi tidak langsung (portofolio investment).
1) Penanaman Modal Langsung (Direct Investment)
Dalam ketentuan UU No. 25 Tahun 2007, pengertian penanaman modal hanya mencakup penanaman modal secara langsung. Pengertian penanaman modal langsung ini seringkali dikaitkan dengan keterlibatan pemilik modal secara langsung dalam kegiatan penanaman modal.
2) Penanaman Modal Tidak Langsung (Indirect Investment)
Pada umumnya Penanaman modal ini lebih dikenal sebagai Portofolio Investment, yang termasuk dalam penanaman modal ini mencakup kegiatan transaksi di pasar modal dan di pasar uang. Penanaman modal jenis ini juga disebut sebagai penanaman modal jangka pendek, karena pada umunya mereka melakukan jual beli saham dan atau mata uang dalam jangka waktu yang relatif singkat, tergantung kepada fluktuasi nilai saham dan atau uang yang hendak mereka perjualbelikan.90 Tetapi, dalam praktiknya yang termasuk dalam kategori ini adalah penanaman modal yang dilakukan melalui pembelian saham baik di pasar modal, maupun penempatan modal pihak ketiga dalam suatu perusahaan (strategic partner atau private placement).91
4. Undang-Undang No.8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal Prinsip keterbukaan pada pasal modal ditemukan pada :
a. Pasal 80 ayat (1)
Mengenai informasi yang disampaikan yang tidak mengandung kebenaran dan ketepatan digolongkan sebagai informasi yang tidak benar dan menyesatkan.
b. Pasal 86 ayat (1)
90Ana Rokhmatussa’dyah dan Suratman, Hukum Investasi & Pasar Modal, (jakarta:Sinar Grafika,2009) hal 5.
91Aminuddin Ilmar, Hukum Penanaman Modal Di Indonesia, (Jakarta:Kencana, 2010) hal 108.
Menentukan bahwa emiten, perusahaan publik atau pihak lain yang terkait wajib menyampaikan informasi penting yang berkaitan dengan tindakan atau efek perusahaan tersebut pada waktu yang tepat kepada masyarakat dalam bentuk laporan berkala dan laporan peristiwa penting
Dalam Undang-undang pasar modal ditemukan tiga ketentuan hukum yang patut diduga membawa trust yaitu sebagai berikut :
1) Ketentuan pasal 56 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Pasar Modal yang mengatur mengenai penitipan kolektif yang memisahkan antara kepemilikan terdaftar (registered ownership) dan kepemilikan manfaat (beneficial ownership), rumusan yang menyatakan sebagai berikut:92
a. Efek dalam penitipan kolektif pada lembaga penyimpanan dan penyelesaian dicatat dalam buku daftar pemegang efek emiten atas nama lembaga penyimpanan dan penyelesaian untuk kepentingan pemegang rekening pada lembaga penyimpanan dana penyelesaian sengketa yang bersangkutan.
b. Efek dalam penitipan kolektif pada bank kustodian atau perusahaan efek yang dicatat dalam rekening efek pada lembaga penyimpanan dan penyelesaian dicatat atas nama bank kustodian atau perusahaan efek dimaksud untuk kepentingan pemegang rekening pada bank atau perusahaan efek tersebut.
92Ibid,.hal 7
c. Apabila efek dalam penitipan kolektif pada bank kustodian bagian dari portofolio efek dari suatu kontrak investasi kolektif dan tidak termasuk dalam penitipan kolektif pada lembaga penyimpanan dan penyelesaian, maka efek tersebut dicatat dalam buku daftar pemegang efek emiten atas nama bank kustodian untuk kepentingan pemilik unit penyertaan dari kontrak investasi kolektif.
2) Ketentuan dalam UU pasar modal yang menyatakan bahwa “wali amanat mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang baik di dalam maupun diluar pengadilan” kata “wali amanat” adalah penggantian istilah trustee, yang sebelumnya digunakan dalam Keputusan Menteri Keuangan No.696/KMK.001/1985 Tentang Lembaga Penunjang Pasar Modal.93
93Lihat pasal 1 butir c Keputusan Menteri Keuangan No.696/KMK.001/1985 Tentang Lembaga Penunjang Pasar Modal
wali amanat adalah pihak yang mewakili investor pemegag efek bersifat utang. Meskipun wali amanat bukan kreditor pemilik efek bersifat utang tetapi merupakan satu-satunya pihak yang berwenang untuk bertindak sehubungan dengan efek bersifat utang tersebut. Status hukum Wali Amanat yang bukan merupakan pemegang efek bersifat utang tersebut,jelas telah
menempatkan wali amanat bukan kreditor terhadap emiten yang merbitkan efek bersifat utang tersebut94
3) Ketentuan ketiga dalam UU pasar modal yang membawa trust adalah ketentuan mengenai reksadana kontrak investasi kolektif.
Menurut Bismar Nasution setidaknya ada tiga tujuan keterbukaan (disclosure), antara lain :95
1. Memelihara kepercayaan publik terhadap pasar;
2. Menciptakan mekanisme pasar yang efisien; dan 3. Memberi perlindungan terhadap investor
5. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22/ POJK.04 / 2014 Tentang Prinsip Mengenal Nasabah Oleh Penyedia Jasa Keuangan di Sektor Pasar Modal
Pasal 1 angka 10 menjelaskan pemilik manfaat (beneficial owner) adalah setiap pihak baik secara langsung maupun tidak langsung melalui perjanjian atau melalui cara apapun berhak atas dan/atau menerima manfaat tertentu yang berkaitan dengan rekening efek pada penyedia jasa keuangan di sektor pasar modal atau hubungan usaha dengan penyedia jasa keuangan di sektor pasar modal, dan merupakan pemilik sebenarnya dari dana dan/atau
94Gunawan Wijaya,Op.Cit hal. 9
95Bismar Nasution, Keterbukaan Dalam Pasar Modal, Program Pascasarjana UI, (Jakarta : 2001) hal. 9
efek pada penyedia jasa keuangan di sektor pasar modal (ultimate account owner).
6. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 12 /POJK.01/2017 Tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Jasa Keuangan.
Dalam pasal 1 angka 20 Peraturan OJK ini memberikan pengertian pemilik manfaat (beneficial owner) adalah setiap pihak yang :
a) Berhak atas dan/atau menerima manfaat tertentu yang berkaitan dengan rekening nasabah;
b) Merupakan pemilik sebenarnya dari dana dan/atau efek yang ditempatkan pada PJK (ultimately ownaccount);
c) Mengendalikan transaksi nasabah;
d) Memberikan kuasa untuk melakukan transaksi;
e) Mengendalikan korporasi atau perikatan lainnya (legal arrangement);
dan/atau
f) Merupakan pengendali akhir dari transaksi yang dilakukan melalui badan hukum atau berdasarkan suatu perjanjian.
Identifikasi dan verifikasi beneficial owner,Penyelenggara wajib memastikan Pengguna Jasa bertindak untuk diri sendiri atau untuk kepentingan beneficial owner. Dalam hal pengguna jasa bertindak untuk kepentingan beneficial owner, penyelenggara wajib melakukan identifikasi dan verifikasi terhadap identitas beneficial owner. Dalam hal pengguna jasa berupa korporasi maka beneficial owner ditentukan berdasarkan kepemilikan saham mayoritas pada korporasi. Selain melakukan identifikasi dan verifikasi Penyelenggara wajib meneliti hubungan hukum antara pengguna jasa dengan beneficial owner;
meminta pernyataan tertulis dari pengguna jasa mengenai kebenaran identitas maupun sumber dana dari beneficial owner; dan meminta pernyataan tertulis dari beneficial owner bahwa yang bersangkutan adalah pemilik sebenarnya dari dana Pengguna Jasa. Pada pasal 25 menyatakan bahwa identifikasi dan verifikasi identitas beneficial owner tidakdilakukan terhadap pengguna jasa berupa lembaga negara atau instansi pemerintah, perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh negara atau perusahaan publik atau emiten.
7. Peraturan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) No. 6 Tahun 2017 Tentang penerapan prinsip mengenali pengguna jasa bagi perencana keuangan
Dalam pasal 1 angka 10 menyatakan bahwa pemilik manfaat beneficial owner adalah setiap orang yang memiliki hak atas dan/atau menerima manfaat tertentu dengan transaksi pengguna jasa, baik secara langsung maupun tidak langsung, merupakan pemilik sebenarnya dari harta kekayaan yang berkaitan dengan transaksi pengguna jasa, memberikan kuasa untuk melakukan transaksi, mengendalikan korporasi dan perikatan lainnya (legal arrangement) dan/atau merupakan pengendali akhir dari transaksi yang dilakukan melalui korporasi atau berdasarkan suatu perjanjian.
8. Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/10/2017 Tentang Penerapan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Penyedia Jasa Sistem
Pembayaran Selain Bank dan Penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank.
Dalam pasal 1 angka 10 dijelaskan mengenai pengertian beneficial owner.Pemilik manfaat (beneficial owner) adalah setiap orang-perorangan , baik sendiri atau bersama-sama, secara langsung atau tidak langsung, yang merupakan pemilik sebenarnya dari dana, mengendalikan transaksi pengguna jasa, mengendalikan korporasi atau perikatan lainnya (legal arrangement), memberikan kuasa untuk melakukan transaksi.
Untuk mengetahui pemilik manfaat (beneficial owner) perlu dilakukan Identifikasi dan Verifikasi beneficial owner yaitu Penyelenggara wajib memastikan Pengguna Jasa bertindakuntuk diri sendiri atau untuk kepentingan beneficial owner. Dalam hal Pengguna Jasa bertindak untuk kepentingan beneficial owner, Penyelenggara wajib melakukan identifikasi dan verifikasi terhadap identitas beneficial owner. Selain melakukan identifikasi dan verifikasi Penyelenggara wajib meneliti hubungan hukum antara Pengguna Jasa dengan beneficial owner, meminta pernyataan tertulis dari Pengguna Jasa mengenai kebenaran identitas maupun sumber dana dari beneficial owner; dan meminta pernyataan tertulis dari beneficial owner bahwa yang bersangkutan adalah pemilik sebenarnya dari dana Pengguna Jasa.96
96Lihat pasal 23Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/10/2017 Tentang Penerapan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Penyedia Jasa Sistem Pembayaran Selain Bank dan Penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank.
Akan tetapi Identifikasi dan
verifikasi identitas beneficial owner tidak dilakukan terhadap Pengguna Jasa berupa:97
a) Lembaga negara atau instansi pemerintah;
b) Perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh negara atau c) Perusahaan publik atau emiten.
9. Perpres No.13 Tahun 2018 Tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pemilik Manfaat Dari Korporasi Dalam Rangka Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme.
Dikeluarkannya Perpres mengenai “beneficial owner” dengan Perpres No.13 Tahun 2018 Tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pemilik Manfaat Dari Korporasi Dalam Rangka Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme.98
97Ibid, pasal 25
Dengan keluarnya perpres ini akan mempermudah dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang terhadap korporasi. Perpres ini dalam pasal 1 ayat (2) menjelaskan pengertian beneficial owner atau pemilik manfaat adalah orang perseorangan yang dapat menunjuk atau memberhentikan direksi dewan komisaris, pengurus, pembina, atau pengawas pada korporasi, memiliki kemampuan untuk mengendalikan korporasi, berhak atas dan/atau
98Yoga Sukmana,https://nasional.kompas.com/read/2018/03/09/20292711/jokowi-teken-perpres-beneficial-owner-ppatk-harap-korporasi-lebih-transparan pada tanggal 8 April 2018
menerima manfaat dari korporasi baik langsung maupun tidak langsung, merupakan pemilik sebenarnya dari dana atau saham korporasi.
Merujuk pada Perpres No.13 Tahun 2018 mengenai prinsip keterbukaan pemilik manfaat (beneficial ower) di Pasal 4 ayat (1) dijelaskan mengenai kriteria dalam penentuan beneficial ower pada Perseroan Terbatas yaitu bahwa:
“Pemilik Manfaat dari perseroan terbatas merupakan orang perseorangan yang memenuhi kriteria:
a. memiliki saham lebih dari 25% (dua puluh lima persen) pada perseroan terbatas sebagaimana tercantum dalam anggaran dasar;
b. memiliki hak suara lebih dari 25% (dua puluh lima persen) pada perseroan terbatas sebagaimana tercantum dalam anggaran dasar;
c. menerima keuntungan atau laba lebih dari 25% (dua puluh lima persen) dari keuntungan atau laba yang diperoleh perseroan terbatas per tahun;
d. memiliki kewenangan untuk mengangkat, menggantikan, atau memberhentikan anggota direksi dan anggota dewan komisaris;
e. memiliki kewenangan atau kekuasaan untuk mempengaruhi atau mengendalikan perseroan terbatas tanpa harus mendapat otorisasi dari pihak manapun;
f. menerima manfaat dari perseroan terbatas; dan/atau
g. merupakan pemilik sebenarnya dari dana atas kepemilikan saham perseroan terbatas.
Pada Perpres No.13 Tahun 2018 tidak memberikan penjelasan mengenai pemilik manfaat (beneficial owner)di perusahaan terbuka dalam pasar modal atau pemegang saham di bursa efek.
BAB III
PROSES PENENTUAN BENEFICIAL OWNER (BO) PERUSAHAAN TERBUKA DI INDONESIA TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN DAN
PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (TPPU)
A. Penentuan Beneficial Owner Perusahaan Terbuka
Dalam penjelasan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11 /Pojk.04/2017 Tentang Laporan Kepemilikan Atau Setiap Perubahan Kepemilikan Saham Perusahaan Terbuka. Pada Pasal 2 Ayat (1) yang dimaksud dengan “kepemilikan atas saham Perusahaan Terbuka” adalah kepemilikan saham anggota Direksi atau anggota Dewan Komisaris pada Perusahaan Terbuka dimana anggota Direksi atau anggota Dewan Komisaris menjabat. Pada ayat (2) yang dimaksud dengan “pihak yang memiliki saham secara tidak langsung”
adalah pihak yang memiliki saham perusahaan terbuka melalui pihak lain, Pihak tersebut merupakan pemilik manfaat sebenarnya (ultimate beneficial owner) dari saham tersebut dan/atau bagian dari mata rantai pemilikan sampai dengan pemilik sebenarnya. Kewajiban laporan perubahan kepemilikan atas saham perusahaan terbuka untuk pihakyang dimaksud pada ayat (2) kewajiban timbul sejak tercapainya 0,5% (nol koma lima persen) perubahan atas kepemilikan saham.99
99Lihat Penjelasan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11 /Pojk.04/2017 Tentang Laporan Kepemilikan Atau Setiap Perubahan Kepemilikan Saham Perusahaan Terbuka
Pihak yang dimaksud sebagai pemilik sebenarnya dapat memberikan kuasa tertulis kepada pihak lain untuk melaporkan kepemilikan dan setiap
perubahan kepemilikannya atas saham perusahaan terbuka dan wajib diungkapkan dalam laporan tahunan atau situs web perusahaan terbuka,perusahaan terbuka wajib memiliki kebijakan mengenai kewajiban anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris untuk menyampaikan informasi kepada Perusahaan Terbuka mengenai kepemilikan dan setiap perubahan kepemilikannya atas saham Perusahaan Terbuka.Penyampaian laporan kepemilikan dan setiap perubahan kepemilikan atas saham wajib dilakukan paling lambat 5 (lima) hari sejak terjadinya kepemilikan atau perubahan kepemilikan atas saham Perusahaan Terbuka.100
B. Proses dan Modus Tindak Pidana Pencucian Uang melalui Perusahan Terbuka
1. Tahapan Placement
Penempatan (placement) merupakan upaya menempatkan uang tunai yang berasal dari tindak pidana ke dalam sistem keuangan (financial system), Jadi, placement adalah upaya menempatkan dana yang dihasilkan dari suatu kegiatan tindak pidana ke dalam jaringan sistem keuangan.101
100Ibid,. Lihat Pasal 5
101Yenti Garnasih, Penegakkan Hukum Anti Pencucian Uang Dan Permasalahan di Indonesia,Cet.4(Depok : PTRajagrafinco,2017) hal. 22
yang paling penting dari “placement” ini adalah apa yang disebut sebagai “smurfing”.
Melalui “smurfing” ini, maka keharusan untuk melaporkan transaksi uang tunai sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dapat dikelabui atau dihindari.
Smurfing yaitu upaya untuk menghindari pelaporan dengan memecah-mecah transaksi yang dilakukan oleh banyak pelaku.Metodesmurfing, yakni pelaku menggunakan rekan-rekannya yang banyak untuk memecah sejumlah besar uang tunai dalam jumlah-jumlah kecil dibawah batas uang tunai sehingga bank tidak mencurigai kegiatan tersebut untuk kemudian uang tunai tersebut ditukarkan di bank dengan cek wisata atau cek kontan. Bentuk lain adalah dengan memasukkan dalamrekening para smurfing di satu tempat pada suatu bank kemudian mengambil pada bank yang sama di kota yang berbeda atau disetorkan pada rekening-rekening pelaku pencucian uang di kota lain sehingga terkumpul dalam beberapa rekening pelaku pencucian uang. Rekening ini tidak langsung atas nama pelaku namun bisa menunjuk pada suatu perusahaan lain atau rekening lain yang disamarkan nama pemiliknya.
2. TahapanPelapisan (Layering)
Pelapisan (layering) merupakan upaya mentransfer harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana (dirty money) yang telah berhasil ditempatkan pada Penyedia Jasa Keuangan (PJK) ke Penyedia Jasa Keuangan lain. dengan pelapisan atau layering, penegak hukum akan mengalami kesulitan untuk mengetahui asal-usul harta kekayaan tersebut.
Layering merupakan tahapan kedua setelah dilakukannya placement, dimana dalam tahapan ini menyamarkan uang dilakukan dengan melakukan
transaksi keuangan yang kompleks, dengan cara pembelian suatu produk.102
Pada tahapan ini, uang hasil placement di pindah-pindahkan dari satu rekening bank ke bank lainnya, baik dalam negeri maupun luar negeri melalui suatu transaksi yang sengaja dirancang untuk menyamarkan atau menyembunyikan pemilik yang sebenarnya (beneficial owner).
biasanya produk-produk perbankan, saham atau obligasi.
103 Pelaku tindak pidana akan mendirikan perusahaan-perusahaan fiktif yaitu dengan membuka rekening-rekening atas nama perusahaan fiktif dengan cara dititipkan kepada rekening perwalian (trust) milik pengacara, akuntan104
1. bersifat internasional, dimana perusahaan-perusahaan pialang (brokerage firms) sebagai salah satu komponen penting pasar sekuritas memiliki kantor-kantor perwakilan di seluruh dunia dan biasanya transaksi dilakukan secara wire transfer antar yurisdiksi;
dan juga pelaku tindak pidana membeli saham-saham atau obligasi perusahaan terbuka melalui pasar modal.
Sektor lain yang cukup rentan terhadap kegiatan pencucian uang adalah perdagangan efek seperti saham dan obligasi. Sektor ini dapat diinfiltrasi oleh para pencuci uang terutama pada tahap layering. Para pencuci uang berminat mencuci uangnya melalui sektor ini karena:
102Kristian,Op,Cit, hal. 84
103Ibid,
104Ibid,
2. pasar sekuritas sangat likuid, sehingga baik pembelian, penjualan maupun penyelesaian-nya dapat berlangsung dalam waktu relatif singkat;
3. para pialang beroperasi dengan kompensasi berupa komisi dari hasil penjualan, sehingga mereka cenderung mengacuhkan masalah asal-asul atau sumber keuangan nasabahnya; dan
4. rekening-rekening perusahaan sekuritas di beberapa negara dapat dibuka oleh perusahaan-perusahaan pialang sebagai nominees atau trustees, sehingga dimungkinkan identitas dari beneficiaries yang sesungguhnya tetap tersembunyi. Dalam sejumlah kasus diketahui bahwa para profesional di bidang industri sekuritas turut serta berperan aktif dalam praktek pencucian uang.105
Berikut ini yang termasuk dalam kegiatan pelapisan atau layering adalah sebagai berikut :
a. Transfer dana dari suatu bank ke bank lain dan/atau antar wilayah atau antar negara
b. Penggunaan simpanan tunai sebagai agunan untuk mendukung transaksi yang sah
105EdiNasution,http://ppatk.go.id/files/MemahamiPraktekPencucianUangHasilKejahatan_28Okt ober20110.pdf pada tanggal 28 juni 2018
c. Memindahkan uang tunai lintas batas negara melalui jaringan kegiatan usaha yang sah maupun shell company106
Pelaku tindak pidana pencucian uang, dalam proses layering, juga bisa melakukan pencucian uang melalui mekanisme, antara lain:
a) Akusisi Perusahaan Terbuka
Pelaku tindak pidana pencucian uang, untuk menyamarkan dananya, dapat melakukan akusisi perusahaan terbuka. Dengan adanya akusisi tersebut Pelaku terkena peraturan Penawaran Tender dimana salah satunya adalah klarifikasi dari Bank ataupun Perusahaan Efek bahwa Pelaku mempunyai cukup dana untuk melakukan Penawaran Tender.
Selanjutnya, pihak-pihak tersebut bekerja sama untuk memuluskan proses Penawaran Tender, yang pada ujung-ujungnya menempatkan Pelaku sebagai mayoritas di Perusahaan Terbuka tersebut.
b) Manipulasi data Keuangan Perusahaan Terbuka.
Pada tahap awal biasanya pelaku telah menjadi mayoritas di perusahaan tersebut,selanjutnya dana dari tindak kejahatan disamarkan dan dicampurkan oleh pelaku dengan pendapatan yang sah dari Perusahaan tersebut. Hal tersebut akan menyebabkan peningkatan pertumbuhan pendapatan yang dramatis, yang otomatis bisa mengatrol harga saham
106Keputusan Kepala PPATK No.2/1/KEP.PPATK/2003 tentang Pedoman Unum Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Bagi Penyedia Jasa Keuangan
perusahaan tersebut di bursa. Dalam proses ini biasanya pelaku bekerja sama dengan auditor yang mengaudit Perusahaan tersebut
3. Tahapan penggabungan (Integration)
Integration (penggunaan harta hasil tindak pidana) adalah upaya menggunakan harta kekayaan yang telah tampak sah, baik untuk dinikmati langsung, diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk kekayaan material maupun keuangan, dipergunakan untuk membiayai kegiatan bisnis yang sah, ataupun untuk membiayai kembali kegiatan tindak pidana.107
a. Melakukan investasi pada suatu kegiatan usaha
Modus integration dalam pencucian uang dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
b. Penjualan dan pembelian aset c. Pembiayaan korporasi
Investasi pada suatu kegiatan usaha merupakan salah satu proses integrasi yang lazim dilakukan. Melalui investasi tersebut, pelaku tindak pidana menggunakan harta hasil kejahatan yang telah dicuci untuk membiayai suatu kegiatan bisnis.Dalam melakukan integrasi harta hasil tindak pidana dalam sistem keuangan, pelaku pencucian uang umumnya diawali dengan penempatan yaitu dengan sebelumnya menempatkan harta hasil tindak pidananya dalam perbankan atau sebagai aset perusahaan
107Kristian, Op.cit. hal.83
boneka yang didirikan. Perusahaan boneka tersebut kemudian dibuat seolah-olah melakukan transaksi pembelian aset properti seperti gedung, dengan harga yang dinaikkan (marked up). Hasil penjualan aset tersebut kemudian dianggap sebagai pendapatan dari transaksi yang sah dan pelaku tindak pidana mendirikan perusahaan boneka di luar negeri. Pelaku kemudian menyimpan harta hasil tindak pidana di dalam perbankan sebagai harta kekayaan perusahaan boneka. Menggunakan harta tersebut, kemudian perusahaan boneka bertindak sebagai perusahaan pembiayaan menyediakan
boneka yang didirikan. Perusahaan boneka tersebut kemudian dibuat seolah-olah melakukan transaksi pembelian aset properti seperti gedung, dengan harga yang dinaikkan (marked up). Hasil penjualan aset tersebut kemudian dianggap sebagai pendapatan dari transaksi yang sah dan pelaku tindak pidana mendirikan perusahaan boneka di luar negeri. Pelaku kemudian menyimpan harta hasil tindak pidana di dalam perbankan sebagai harta kekayaan perusahaan boneka. Menggunakan harta tersebut, kemudian perusahaan boneka bertindak sebagai perusahaan pembiayaan menyediakan