• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip Pendekatan Kontekstual

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH : NI WAYAN DESY ARYANTHI NPM : (Halaman 39-45)

LANDASAN TEORI

F. Pendekatan Kontekstual

3. Prinsip Pendekatan Kontekstual

Menurut Depdiknas (dalam Atmaja, 2009:10), pendekatan kontekstual memiliki tujuh prinsip utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), inkuiri (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learningcommunity), pemodelan (modelling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).

Adapun tujuh prinsip pendekatan kontekstual itu dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Konstruktivisme (Constructivism)

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yaitu bahwa pengetahuan oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Teori konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan merupakan hasil bentukan (konstruksi) kognitif seseorang.

Selain itu, teori ini juga menyatakan bahwa siswa harus menemukan dan membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Sebagian proses belajar mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa.

Konstruktivisme juga mengungkapkan bahwa pengetahuan yang dimiliki pada dasarnya bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Batasan konstruktivisme itu memberikan penekanan bahwa konsep bukanlah tidak penting sebagai bagian integral dalam pengalaman belajar yang harus dimiliki oleh siswa, akan tetapi bagaimana dari setiap konsep atau pengetahuan yang dimiliki siswa itu dapat memberikan pedoman nyata terhadap siswa untuk diaktualisasikan dalam kondisi nyata.

b. Menemukan (Inquiry)

Menemukan merupakan kegiatan inti dari pendekatan kontekstual. Melalui upaya menemukan akan memberi penegasan bahwa pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan bukan

merupakan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil menemukan sendiri.

Dilihat dari kepuasan secara emosional, sesuatu hasil menemukan sendiri mempunyai nilai kepuasan lebih tinggi dibandingkan dengan hasil pemberian. Beranjak dari logika yang cukup sederhana itu, akan nampak memiliki hubungan yang erat bila dikaitkan dengan pendekatan pembelajaran di mana hasil

pembelajaran merupakan hasil dan kreativitas siswa sendiri akan bersifat lebih tahan lama diingat oleh siswa bila dibandingkan dengan sepenuhnya merupakan memberian dari guru. Untuk menumbuhkan kebiasaan siswa secara kreatif agar bisa menemukan pengalaman belajarnya sendiri, berimplikasi pada strategi yang dikembangkan oleh guru.

c. Bertanya (Questioning)

Unsur lain yang menjadi karakteristik pendekatan kontekstual adalah kemampuan dan kebiasaan untuk bertanya. Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Oleh karena itu, bertanya merupakan strategi utama dalam pendekatan kontekstual. Penerapan bertanya dalam pendekatan kontekstual harus difasilitasi oleh guru, kebiasaan siswa untuk bertanya atau kemampuan guru dalam menggunakan pertanyaan yang baik akan mendorong pada peningkatan kualitas dan produktivitas pembelajaran.

Melalui penerapan bertanya, pembelajaran akan lebih hidup, akan mendorong proses dan hasil pembelajaran yang lebih luas dan mendalam, dan akan banyak menemukan unsur-unsur terkait yang sebelumnya tidak terpikirkan baik oleh guru maupun murid. Selain itu, bertanya dapat memberikan manfaat antara lain: 1) dapat menggali informasi, baik administrasi maupun akademik; 2) mengecek pemahaman siswa; 3) membangkitkan respons siswa; 4) mengetahui

sejauh mana keingintahuan siswa; 5) mengetahui hal-hal yang diketahui siswa; 6) memfokuskan perhatian siswa; 7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa; 8) menyegarkan kembali mengetahuan yang telah dimiliki siswa.

d. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Masyarakat belajar di sini dimaksudkan membiasakan siswa untuk melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya. Seperti yang disarankan dalam learning community, hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain melalui berbagai pengalaman (sharing). Melalui sharing ini anak akan dibiasakan untuk saling memberi dan menerima.

Kebiasaan penerapan dan mengembangkan masyarakat belajar dalam pendekatan kontekstual sangat dimungkinkan dan dibuka dengan luas memanfaatkan masyarakat belajar lain di luar kelas. Setiap siswa semestinya dibimbing dan diarahkan untuk mengembangkan rasa ingin tahunya melalui pemanfaatan sumber belajar secara luas yang tidak hanya disekat oleh masyarakat belajar di dalam kelas,akan tetapi sumber manusia lain di luar kelas (keluarga dan masyarakat).

e. Pemodelan (Modelling)

Dalam suatu pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru oleh siswa dan dalam pendekatan kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Pemodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Siswa dapat diminta untuk memodelkan sesuatu berdasarkan pengalaman yang

f. Refleksi (Reflection)

Rusman (2011:197) mengemukakan bahwa “refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru terjadi atau baru saja dipelajari”. Dengan kata lain, refleksi adalah berpikir ke belakang tentang apa-apa yang dilakukan di masa lalu, siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.

Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari suatu proses yang bermakna pula, yaitu melalui penerimaan, pengolahan dan pengendapan, untuk kemudian dapat dijadikan sandaran dalam menanggapi terhadap gejala yang muncul di kemudian. Refleksi merupakan respons terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. Guru membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru sehingga siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya.

Pada akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Penerapannya sendiri dapat berupa: 1) pertanyaan langsung tentang apa yang telah diperoleh hari itu; 2) catatan atau jurnal buku siswa; 3) kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu; 4) diskusi; 5) hasil karya.

f. Penilaian Autentik (Authentic Assessment)

Tahap terakhir dari pendekatan kontekstual adalah melakukan penilaian. Penilaian sebagai bagian integral dari pembelajaran memiliki fungsi yang menentukan untuk mendapatkan informasi yang bisa memberikan gambaran atau petunjuk terhadap pengalaman belajar siswa.

kesulitan siswa dalam belajar dan dengan itu pula guru akan memiliki kemudahan untuk melakukan upaya-upaya perbaikan dan penyempurnaan proses bimbingan belajar dalam langkah selanjutnya.

Adapun karakteristik penilaian autentik antara lain: 1) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung; 2) bisa dipergunakan untuk

formatif maupun sumatif; 3) yang diukur bukan keterampilan dan performansi; 4) berkesinambungan; 5) terintegrasi.

G. Bangun Ruang Kubus dan Balok

1. Sisi, rusuk, dan titik sudut kubus maupun balok. Perhatikan kubus ABCD.EFGH di bawah ini.

Gambar 01. Unsur-unsur Kubus ABCD.EFGH Kubus ABCD.EFGH memiliki:

Titik sudut sebanyak 8, yaitu: A, B, C, D, E, F, F, dan H.

Rusuk sebanyak 12, yaitu: AB, BC, CD, AD, EF, FG, GH, EH, AE, BF, CG, dan DH. Dengan AB, BC, CD, dan AD disebut rusuk alas sedangkan AE, BF, CG, dan DH disebut rusuk tegak.

Sisi/bidang sebanyak 6, yaitu: ⊔ABCD, ⊔ABFE, ⊔BCGF, ⊔CDHG, ⊔ADHE,

dan ⊔EFGH

Gambar 02. Unsur-unsur Balok PQRS.TUVW Balok PQRS.TUVW memiliki:

Titik sudut sebanyak 8, yaitu: P, Q, R, S, T, U, V, dan W.

Rusuk sebanyak 12, yaitu: PQ, QR, RS, SP, TU, UV, VW, WT, PT, SW, RV, dan QU.

Sisi/bidang sebanyak 6, yaitu: ⊔PQRS, ⊔TUVW, ⊔PQUT, ⊔SRVW, ⊔PSWT, dan ⊔QRVU

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH : NI WAYAN DESY ARYANTHI NPM : (Halaman 39-45)

Dokumen terkait