• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2) Prinsip Penggunaan Alat Pemusat Perhatian

atraktif, daya tarik rasa takut berupa adegan yang menampilkan rasa takut karakter utama akan misi yang akan dipikulnya, daya tarik humor, daya tarik kesalahan berupa kesalahan yang dibuat oleh Upin dan Ipin yang berpotensi menggagalkan puasanya, dan

anthropomorphic berupa karakter asap dan ayam yang

bertingkah selayaknya manusia sehingga kelihatan ganjil atau aneh.

3. Bentuk penerapan partisipasi aktif penonton yang dibangun oleh film animasi Upin dan Ipin season 1 berupa direct address. Lewat teknik direct address, Upin menginstruksikan penonton untuk duduk sebelum menonton.

4. Bentuk penerapan prinsip umpan balik dalam serial Upin dan Ipin season 1 berupa umpan balik yang informatif, umpan balik peringatan, dan umpan balik motivasi. Umpan balik informatif berupa jawaban-jawaban Opah atas pertanyaan-pertayaan yang diajukan oleh Upin dan Ipin mengenai puasa Ramadhan. Umpan balik peringatan berupa peringatan Mei-mei kepada Upin dan Ipin agar tidak makan dan minum saat puasa meskipun tidak ada yang tahu. Umpan balik motivasi berupa dorongan Opah kepada Upin dan Ipin agar mereka berpuasa secara ikhlas.

5. Penerapan prinsip perulangan dalam serial film Upin dan Ipin

season 1 terdapat berupa perulangan informasi mengenai waktu

berbuka dan mengenai hukum berpuasa setengah hari. (Purwaka Fajar, 2015:44-45).

Selain penelitian yang dilakukan oleh Fajar Purwaka, serial film animasi ini juga dikaji hubungannya dengan pembelajaran, khususnya pembelajaran di kelas. Seperti penelitian oleh Maspupah yakni “Pengaruh Tayangan Kartun

Upin dan Ipin di Media Nusantara Citra Televisi Terhadap Penggunaan Kosa Kata Murid Raudhatul Athfal Al-Bariyyah Kramat Jati Jakarta Timur”. Pada

penelitian ini diperoleh hasil bahwa teori imitasi terjadi di lingkungan RA-Al-Bariyyah, murid-murid dalam kesehariannya menggunakan kosa kata yang

terdapat dalam serial film animasi Upin dan Ipin, seperti sebutan Cik Gu,

Seronok, Budak, Basikal, dan sebagainya. (Maspupah, 2011:79-80).

Dengan dua orang peneliti di atas membuktikan bahwa serial film animasi Upin dan Ipin layak dan baik untuk digunakan dan diteliti. Untuk itu peneliti ingin meneliti kelanjutan dari penerapan desain pesan yang lain dalam serial animasi Upin dan Ipin ini, ditinjau dari konten yang disajikan. Perlu diketahui serial film animasi Upin dan Ipin telah mencapai 10 musim (season), dengan semakin berkembangnya berbagai hal dalam film animasi ini seperti cerita, warna, gerakan, dan isi-isi lainnya. Untuk itu peneliti ingin meneliti dan mengkaji tentang serial film animasi Upin dan Ipin dalam season selanjutnya, khususnya musim 8 (season 8).

Serial film animasi Upin dan Ipin musim 8 (season 8) berisikan 14 episode yaitu : Upin & Ipin Kesayanganku, Kail dan Laga, Belajar Sambil Main,

Cuai, Cuai, Cuai, Pengalaman Puasa, Raya Yang Bermakna, Warna Warni, Jaga & Hargai Mata, Upin, Ipin dan Ultraman Ribut, Upin Ipin Angkasa, Hasil

Tempatan, Perangi Rasuah, Terompah Opah, dan Pokok Seribu Guna.

Penerapan desain pesan pembelajaran dalam musim 8 (season 8) belum ada yang mengkaji. Padahal dalam season atau musim 8 ini, banyak membahas dan memberi contoh anak-anak zaman sekarang, dengan kata lain mengangkat isu terbaru saat ini, seperti belajar sambil bermain, jangan ceroboh, kebermaknaan

liburan dan sebagainya. Tidak hanya dari perkembangan isinya saja yang membuat peneliti ingin meneliti musim 8 (season 8) ini, tetapi hal-hal lainnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Fajar Purwaka di atas merupakan bukti bahwa serial animasi Upin dan Ipin mengandung prinsip desain pesan pembelajaran. Kelima prinsip desain pesan di atas juga didukung oleh pendapat Asri Budiningsih. Menurut Asri Budiningsih (2003:119) berdasarkan teori belajar kognitif, teori pemrosesan dan teori komunikasi, ada lima prinsip utama desain pesan pembelajaran, yaitu prinsip kesiapan dan motivasi, prinsip penggunaan alat pemusat perhatian, prinsip keaktifan siswa, prinsip umpan balik dan prinsip perulangan.

Penelitian ini mengkaji penerapan prinsip-prinsip desain pesan pembelajaran yang dikemukakan oleh salah satu ahli di atas yaitu Asri Budiningsih dalam serial animasi Upin dan Ipin season 8 (musim 8) terkait dengan konten (isi) yang disajikan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui bentuk masing-masing prinsip desain pesan pembelajaran di dalamnya.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat peneliti identifikasi masalah sebagai berikut:

1. Kurangnya pemanfaatan animasi dalam pembelajaran untuk anak-anak. 2. Perusahaan pertelevisian merupakan sebuah bisnis, sehingga cenderung

menanyangkan film yang populer saja dan kurang memperhatikan dari segi pembelajarannya.

3. Masih rendahnya pengetahuan dan pemahaman anak terhadap film atau animasi yang ditonton, jadi akan berbahaya jika anak menangkap persepsi yang salah dari film atau animasi yang ditonton.

4. Masih belum ada yang mengkaji secara spesifik kelanjutan dari serial film animasi Upin dan Ipin khususnya musim 8 (season 8).

C. Pembatasan Masalah

Dari beberapa identifikasi masalah di atas, peneliti memfokuskan pada analisis konten serial film animasi Upin dan Ipin season 8 (musim 8) ditinjau dari penerapan prinsip desain pesan pembelajaran yang meliputi prinsip kesiapan dan motivasi, prinsip penggunaan alat pemusat perhatian, prinsip partisipasi aktif, prinsip umpan balik, dan prinsip perulangan.

D. Rumusan Masalah

Dari paparan latar belakang di atas, peneliti merumuskan satu pokok masalah atau satu pokok bahasan yakni bagaimana bentuk penerapan prinsip desain pesan pembelajaran dalam serial film animasi Upin dan Ipin musim 8 (season 8) terkait konten yang disajikan dari aspek prinsip desain pesan pembelajaran? Kemudian dari pokok permasalahan ini diperinci dengan isi dari prinsip desain pesan itu sendiri yakni:

1. Bagaimana bentuk penerapan prinsip desain pesan pembelajaran dalam serial film animasi Upin dan Ipin musim 8 (season 8) terkait konten yang disajikan dari aspek prinsip kesiapan dan motivasi?

2. Bagaimana bentuk penerapan prinsip desain pesan pembelajaran dalam serial film animasi Upin dan Ipin musim 8 (season 8) terkait konten yang disajikan dari aspek prinsip penggunaan alat pemusat perhatian?

3. Bagaimana bentuk penerapan prinsip desain pesan pembelajaran dalam serial film animasi Upin dan Ipin musim 8 (season 8) terkait konten yang disajikan dari aspek prinsip partisipasi aktif?

4. Bagaimana bentuk penerapan prinsip desain pesan pembelajaran dalam serial film animasi Upin dan Ipin musim 8 (season 8) terkait konten yang disajikan dari aspek prinsip umpan balik?

5. Bagaimana bentuk penerapan prinsip desain pesan pembelajaran dalam serial film animasi Upin dan Ipin musim 8 (season 8) terkait konten yang disajikan dari aspek prinsip perulangan?

E. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk prinsip desain pesan pembelajaran dalam serial film animasi Upin dan Ipin musim 8 (season 8) terkait konten yang disajikan dari aspek prinsip kesiapan dan motivasi, prinsip penggunaan alat pemusat perhatian, prinsip partisipasi aktif, prinsip umpan balik, dan prinsip perulangan.

F. Manfaat

a. Penelitian ini dapat menggambarkan kelebihan dan kekurangan serial film animasi Upin dan Ipin ditinjau dari segi penerapan prinsip desain pesan pembelajaran.

b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan mengenai penerapan prinsip desan pesan pembelajaran dalam media film dan animasi lainnya.

2. Bagi Teknologi Pendidikan

Bagi Program Studi Teknologi Pendidikan, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu tentang penerapan prinsip desain pesan pembelajaran dalam media pembelajaran terpopuler lainnya.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori 1. Animasi

a. Pengertian Animasi

Animasi bukan sesuatu hal yang baru. Animasi sudah ada sejak zaman kuno hingga berkembang pada saat ini. Kata animasi atau

animation berasal dari kata animate dan motion. Kata Animate

mempunyai arti “hidup atau bernyawa”. Sedangkan Motion mempunyai arti gerakan atau bergerak. Jadi yang dimaksud dengan animasi atau

animation adalah gerakan yang hidup dari sebuah gambar (Theresia Ari

Prabawati, 2008:95). Senada dengan pendapat tokoh di atas, ada beberapa tokoh yang mengemukakan definisi dari kata animasi. Menurut Norazamudin (2005), kata animasi berasal dari kata latin yang membawa arti “dihidupkan” ataupun “bring to life” dan menuju kepada suatu proses menjadikan sesuatu objek yang pada dasarnya adalah statik agar terlihat hidup. Tidak hanya itu, kata animasi itu sendiri sebenarnya penyesuaian dari kata “animation” yang berasal dari kata dasar “to

animate” dalam kamus umum Inggris-Indonesia berarti mengidupkan

Dari beberapa pendapat tokoh di atas dapat peneliti simpulkan bahwa animasi atau animation merupakan suatu teknik untuk membuat suatu objek mati seperti gambar, dan benda-benda mati lainnya agar terlihat hidup selayaknya benda hidup lainnya. Arti “terlihat hidup” disini bukan memberi nyawa kepada suatu gambar atau objek mati seperti yang dilakukan oleh Sang Maha Pecipta (Allah SWT). Akan tetapi suatu objek mati atau benda (gambar) tersebut diberikan dorongan kekuatan, semangat dan emosi agar terkesan hidup. Dalam hal ini tentu didukung dengan peralatan dan software yang sesuai. Bila dahulu hanya dengan peralatan yang sederhana, animasi yang dibuatpun sederhana. Sekarang dengan berkembangnya zaman, baik teknologi, peralatan, dan software bisa memfasilitasi pembuatan animasi sampai ke tingkat sekarang ini, bahkan kadang kita bingung apakah itu asli atau animasi semata. Animasi didasari dari ilusi, dari gambar diam kemudian secara bertahap digerakkan. Dalam 1 gerakan biasanya terdapat 24 gambar agar terlihat halus dan tampak realistik atau nyata. Dahulu mungkin animasi hanya berdiri sendiri tetapi dengan kreatif, imajinatif dan inovatif sifatnya, animasi bisa bergabung dalam sebuah film.

Jenis-jenis animasi yang ada sekarang ini mempunyai 3 jenis, yaitu animasi 2D, 3D, dan 4D. Animasi yang ada pada umumnya adalah animasi 2D dan 3D (Ari Theresia Prabawati, 2008:95). Dari pernyataan tokoh di atas ada satu lagi jenis animasi yakni Stop Motion. Stop Motion

juga termasuk dalam kategori animasi, karena teknik pembuatannya sama dengan teknik pembuatan animasi lain, yaitu pergerakan dari benda mati (gambar). Stop Motion menggunakan teknik kamera, dengan kata lain foto berderet dari suatu benda atau objek yang diam. Semakin banyak pergerakan foto dalam suatu adegan, maka akan menghasilkan stop

motion yang halus. Contoh animasi 2 dimensi adalah Dragon Ball dan One Piece. Animasi 3 dimensi yaitu Upin dan Ipin, Adit Sopo Jarwo, Pada Zaman Dahulu, Berbie dan sejenisnya. Animasi Stop Motion yaitu Shaun The Sheep. Pada saat ini mayoritas animasi yang dibuat adalah

jenis 3 dimensi. Untuk animasi 2 dimensi mayoritas dibuat atau diproduksi oleh Jepang dengan karaktek manga nya.

b. Prinsip Animasi

Menurut Djalle (2006, h. 28 dalam Febriyanto Saputro dan Amir Fatah Sofyan, 2012: 16), prinsip film animiasi merupakan aturan baku dan standar yang harus diketahui oleh para animator atau pembuat film animasi. Dalam pembuatan animasi memang harus dimiliki oleh seorang animator, tetapi animator juga harus memiliki feeling yang kuat mengenai

timing, pergerakan, pengamatan dan tingkah laku. Animator harus

menjadi seorang aktor, punya perasaan, dan logika agar dapat membuat animasi terkesan hidup (nyata), alami, dan menarik. 12 prinsip animasi yang harus menjadi acuan atau patokan seorang animator, yaitu :

1) Pose to Pose

Pose to pose atau penentuan gambar key (utama/kunci) animation dan inbetween (transisi) adalah cara animator menentukan posisi gerak

karakter dari posisi awal gerak, posisi gerak selanjutnya hingga posisi akhir gerak.

2) Timing

Suatu gambar dimungkinkan hidup dan bergerak karena serangkaian gambar terdapat perubahan beruntun, dan apabila diputar pada mesin proyektor dalam satuan waktu tertentu akan memperlihatkan suatu gerak dari gambar tersebut. Satuan waktu tersebut disebut timing. 3) Streeth and Squash

Gerak sebuah obyek agar terlihat hidup dan luwes (alami) dalam film animasi, khususnya film kartun, perlu sedikit sentuhan kelenturan agar tak terlihat kaku atau seperti sebuah benda tak berbobot. Streeth

and Squash merupakan prinsip animasi yang memberikan sentuhan

kelenturan pada suatu benda tertentu sesuai dengan karakter materialnya, sehingga memberikan kesan obyek tersebut memiliki bobot dan muatan tertentu bila sedang melakukan gerak animasi. 4) Anticipation

Anticipation adalah suatu gerak ancang-ancang ketika hendak

5) Secondary Action

Secondary Action atau aksi kedua merupakan gerakan yang muncul

dikarenakan adanya akibat suatu gaya dari gerakan atau aksi pertama sebuah obyek benda animasi, contoh panah yang melesat kemudian tertancap pada sebatang kayu. Panah yang melesat setelah gerak atau aksi pertama itu berhenti dengan tiba-tiba menancap pada sebatang kayu, maka ekor anak panah itu akan bergetar beberapa saat dengan keras.

6) Follow Through and Overlapping Action

Prinsip ini melibatkan dua benda yang bisa saja sama atau berbeda namun saling berkaitan satu dengan yang lain, dan bisa saling mempengaruhi dalam setiap gerakannya. Atau dengan kata lain reaksi yang terjadi atau gerakan overlap sebuah karakter animasi setelah melakukan animasi utama atau gerakan utama.

7) Easy In and Ease Out

Easy In and Easy Out merupakan suatu kaidah animasi yang

berprinsip pada dasar hukum ilmu fisika yang berlaku yang berkaitan sekali dengan gerak animasi, agar tampak logis, wajar, berbobot, dan berkesan hidup pada saat ditonton. Prinsip ini berhubungan dengan akselerasi ketika objek mengalami percepatan dan perlambatan saat terjadi gerakan.

8) Arch

Prinsip animasi Arch atau gerak melengkung, agar tidak tampak menjadi kaku, gerak setiap karakter animasi selalu melengkung agar tidak tampak menjadi kaku, seperti gerakan menari, memutar, berayun, melompat, berbelok, atau gerakan memutar. Tiap benda mempunyai gaya atau kekuatan, kecuali benda yang sifatnya mekanis atau tidak alami.

9) Exaggeration

Exaggeration yaitu teknik yang mendramatisasi adegan agar tampak

lebih ekspresif dan komunikatif. 10) Staging

Staging yaitu mengatur posisi pemain agar panggung sebagai bidang

(frame) pandangan penonton terisi dengan komposisi yang baik, proposional enak dilihat dan komunikatif, sehingga penonton tidak terlalu lelah dalam menyimak jalan cerita dan merasa terlibat disana. 11) Appeal

Kesan karakter yang disampaikan ini yang disebut Appeal atau posisi yang paling baik atau paling berkesan baik dalam jarak pengambilan gambar,dari sudut pengambilan gambar, ataupun gerak kameranya.

12) Personality

Karakter tokoh film animasi akan lebih kuat, bermakna, hidup, dan berkarakter apabila dipahami terlebih dahulu segala sesuatunya tentang karakter tersebut, seperti fisik, latar belakang sosial, ekonomi dan budaya atau historisnya, sehingga dapat dideskripsikan dengan baik bentuk karakter apa yang akan dikembangkan.

c. Animasi dalam Pembelajaran

Animasi sebagai bentuk inovasi teknologi memberikan dampak yang besar bagi seluruh tatanan industri. Khususnya industri hiburan dan industri periklanan. Animasi dirasa mempunyai prospek yang bagus di masa yang akan datang, karena animasi yang bersifat baru dan menarik (attractive) bisa membius dan menarik minat publik serta sesuai dengan zaman yang canggih saat ini. Dengan potensinya tersebut animasi mulai dikembangkan dan dirancang untuk industri pendidikan. Dengan sifatnya yang menarik (attractive) dan dapat menyita perhatian publik, bukan tidak mungkin bisa mempengaruhi para generasi muda khususnya anak-anak masa sekolah. Untuk itu animasi diposisikan sebagai salah satu pilar perkembangan pendidikan selain dari perkembangan hiburan, iklan dan film. Dalam pendidikan animasi mengambil andil khususnya dalam pembelajaran. Dalam kajian Mayer dan Moreno (2002) berkaitan dengan penggunaan animasi sebagai BBM pada pembelajaran multimedia, mendapati bahwa terdapat kesan yang konsisten terhadap penggunaan

animasi dalam proses pembelajaran multimedia berbanding dengan teknik tradisional yaitu menyampaikan pesan secara verbal (lisan). Kajian ini menegaskan penggunaan multimedia seperti animasi dalam proses pembelajaran menjadikan proses itu lebih bermakna dan efektif. Selain itu Paivio (2006) dalam kajiannya tentang teori dwi-kod dalam pendidikan mendapati bahawa dalam teori ini, proses pemerolehan bahasa melalui saluran verbal dan visual menjadikan pembelajaran bahasa lebih efektif. Justru, penggunaan animasi yang merangsang kesemua lima panca indera dan upaya interaktifnya mampu menyumbangkan tahap pembelajaran yang terstruktur bagi pelajar. Kajian Kayaoglu et al. (2011) mendapati, terdapat peningkatan yang signifikan terhadap keputusan ujian post tes pelajar yang menggunakan animasi dalam pembelajaran berbanding dengan mereka yang ujian pra tes. Justru, kajian ini memberikan ide untuk mengintegrasikan aplikasi multimedia seperti animasi dalam kelas-kelas pembelajaran bahasa sebagai elemen alternatif terhadap suasana pembelajaran dalam kelas dan memberi motivasi kepada para pelajar. Menurut Rosni (2009), BBM yang berbentuk rakaman bergambar seperti animasi, film dan VCD banyak membantu pelajar dalam meningkatkan kemahiran mendengar. Kerena mereka akan dapat memahami apa yang didengar tersebut melalui gambar yang ditontonnya dan mereka dapat menebak suara yang didengar. Selain itu, hasil kajian Abdul Rasid et al. (2012) mendapati

animasi adalah aplikasi yang paling kerap digunakan pelajar dalam pengajaran penulisan karangan walaupun tahap kesadaran terhadap penggunaannya masih rendah dalam kalangan guru yang mengajar penulisan karangan. Kajian ini mendapati kesan positif penggunaan animasi yang mampu mewujudkan suasana yang menyenangkan dan dapat mempengaruhi emosi pelajar. Kajian-kajian para ahli di atas merupakan bukti bahwa animasi bisa membuat suasana baru dan menyenangkan hingga membuat mental dan motivasi para pelajar menjadi lebih baik serta membuat pembelajaran menjadi efektif dan meningkat dengan hasil yang maksimal. Di atas merupakan bukti bahwa animasi telah mulai digunakan untuk tujuan pendidikan khusunya pembelajaran di kelas. Animasi dianggap bisa meningkatkan suasana, emosi dan motivasi para pelajar menjadi lebih baik, sehingga pembelajaran yang terjadi di kelas menjadi lebih bermakna dan hasil yang dicapai pun memuaskan.

2. Anatomi Film

Sebuah film biasanya terdiri dari delapan sekuen. Delapan sekuen ini merupakan formula yang sering dipakai dalam pembuatan film (Fajar Purwaka, 2015:18). Namun, tidak semua film harus memakai formula ini, karena film merupakan olah kreativitas pembuatnya. 8 sekuen dalam film meliputi:

Sekuen satu, adalah bagian terpenting dalam sebuah film. Penonton

pada umumnya memutuskan akan terus menonton film atau berhenti menonton film tergantung pada sekuen ini. Sekuen ini merupakan adegan awal dalam sebuah film. Pada film panjang, sekuen satu umumnya berlangsung sekitar lima menit. Sedangkan dalam film pendek atau film serial, sekuen satu hanya berlangsung selama beberapa detik. Ada beberapa unsure dalam sekuen satu (Fajar Purwaka, 2015:18), yaitu membangun suasana, memberikan gambaran cerita, dan memperkenalkan karakter. Sekuen satu ini bisa disebut sebagai prolog atau awalan sebuah cerita dan film.

Sekuen dua, dalam sekuen ini karakter utama mulai mengetahui tujuan

dan rintangan yang akan dihadapinya. Dengan kata lain pada sekuen ini, berisikan misi atau impian karakter utama. Sekuen tiga, adalah rintangan pertama yang dihadapai oleh karakter utama. Ketika sudah memasuki rintangan pertama ini, karakter utama sudah tidak memiliki pilihan untuk menghindar dari tujuannya yang harus dicapai. Biasanya dalam sekuen ini, masalah yang dihadapi belum terlalu berat. Tidak hanya itu karakter utama biasanya mendapatkan teman atau bantuan untuk menyelesaikan masalahnya.

Sekuen empat, menceritakan karakter utama memperoleh penyelesaian

terhadap rintangan pertamanya. Sekuen lima, menceritakan karakter masuk dan terlibat dalam permasalahan atau rintangan yang lebih berat. Sekuen

Sekuen tujuh, biasanya berisi twist dan ketegangan baru. Sekuen delapan,

adalah penutup dan penyelesaian masalah. Sekuen delapan dapat berupa

happy ending, sad ending, maupun cerita yang menggantung (Fajar Purwaka,

2015:19).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sekuen merupakan sebuah alur dalam sebuah cerita atau film. Sekuen atau alur di atas merupakan alur maju, dimana pada sekuen satu hingga sekuen delapan menceritakan kerututan seorang tokoh utama yang mengejar impian atau tujuanya hingga menghadapi permasalahan sampai dengan menyelesaikan permasalahannya. Sebenarnya ada 3 jenis alur, yakni alur maju, alur mundur, dan alur campuran. Alur mundur adalah kebalikan dari alur maju, biasanya konflik atau permasalahan utama terdapat di awal cerita. Sedangkan alur campuran adalah gabungan dari alur maju dan alur mundur.

3. Serial Film Animasi Upin dan Ipin

a. Profil Serial Film Animasi Upin dan Ipin

Serial film animasi Upin dan Ipin merupakan animasi yang tayang pertama kali dan sekaligus memperoleh penghargaan “Animasi Terbaik” dalam Festival Film International Kuala Lumpur. Serial film animasi Upin dan Ipin pertama kali disiarkan pada September 2007 bertepatan dengan bulan Ramadhan di stasiun televisi TV9 dan TVRI. Serial film animasi ini sangat berpengaruh di kawasan Malaysia dan Indonsia. Pada pertelevisian Malaysia munculnya musim kedua pada tahun 2008

pencapaian serial animasi ini sangat fenomenal, yaitu mencapai 1.5 juta penonton, menduduki peringkat kedua setelah Doraemon (1.6 juta penonton) dan di atas SpongeBob SquarePants (800 ribu penonton) (https://id.wikipedia.org/wiki/Upin_%26_Ipin). Dengan latar cerita yang sederhana, kocak, berpendidikan serta bermakna animasi ini menarik banyak perhatian, khusunya bagi anak-anak.

Pengambilan cerita serial film animasi Upin dan Ipin didasarkan pada keadaan nyata suatu desa, dengan keadaannya yang rukun, gotong royong dan rasa toleransi yang tinggi menjadikan serial animasi ini sangat diminati baik oleh masyarakat Malaysia maupun masyarakat Indonesia. Karena budaya antara Malaysia dan Indonesia tidak jauh berbeda sehingga serial film animasi Upin dan Ipin bisa diterima dan ditayangkan. Pada tahun 2008 serial film animasi beralih tayang yang semula dari TVRI kemudian beralih ke TPI (sekarang menjadi MNC TV)

Dokumen terkait