• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip Persamaan (Kesetaraan dan Keadilan) Substantif

D. Konsep Keadilan Dalam Poligami Perspektif CEDAW

1. Prinsip Persamaan (Kesetaraan dan Keadilan) Substantif

Dari prinsip persamaan yang dijadikan landasan konvensi CEDAW yang sudah dijelaskan di atas dapat dipahami, bahwa yang dimaksud dengan kesetaraan dan keadilan substantif yaitu persamaan dalam hak, kesetaraan dalam kesempatan dan akses serta pemahaman hak untuk menikmati manfaat di segala bidang kehidupan dan segala kegiatan.

Sedangkan dalam kasus poligami, terdapat aturan untuk berlaku adil terhadap istri-istrinya bagi seseorang yang menginginkan poligami. Memang secara

30 Archie Sudiarti Luhulima, Cedaw Menegakkan Hak Asasi Manusia, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014), hlm. 47

74

zahir terdapat perbedaan kesempatan antara perempuan dan laki-laki dalam peluang untuk menikah, sehingga dianggap bertentangan dengan salah satu butir pasal 16 konvensi CEDAW tentang perkawinan dan hubungan keluarga, bahwa:

“Negara-negara peserta mempunyai kewajiban untuk melakukan langkah tindak yang tepat untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan dalam semua urusan yang berhubungan dengan perkawinan dan hubungan keluarga atas dasar kesetaraan dan keadilan”.

Di antara hak-hak tersebut yang dijamin adalah poin: (a) hak yang sama untuk memasuki jenjang perkawinan, (b) hak dan tanggung jawab yang sama selama perkawinan dan pada pemutusan perkawinan.

Kembali dalam pembahasan prinsip persamaan, bahwa persamaan mengandung unsur kesetaraan dan keadilan. Dan langkah tindak yang diharapkan oleh CEDAW adalah merealisasikan hak perempuan untuk mengatasi adanya diskriminasi yang bisa merugikan perempuan.

Keadilan dalam poligami tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi keterbatasan dalam kesempatan. Keadilan dalam poligami berlaku bukan sebatas utopis belaka, tetapi dengan ketentuan yang rinci termasuk hak istri untuk memasuki perkawinan, sehingga sang suami memiliki tanggungan atau kewajiban yang harus dipenuhi.

Keadilan dalam poligami menjaga hak suami serta hak istri secara bersamaan.

Sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Konsep keadilan dalam poligami adalah salah satu bentuk langkah tindak, sehingga tidak timbul diskriminasi sebagaimana banyak terjadi pada realitasnya.

75 2. Prinsip non Diskriminasi

Sesuai dengan namanya yang disandang oleh konvensi ini, CEDAW dalam pasal 1 langsung memberikan penjelasan mengenai definisi diskriminasi, yaitu:

“berarti setiap pembedaan, pengecualian atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil, atau apapun lainnya oleh perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar kesetaraan antara laki-laki dan perempuan”.

Adanya berlaku adil sebagai syarat poligami, sehingga melahirkan beberapa ketentuan yang harus dijalani selama berpoligami, baik berupa pemenuhan hak istri dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun sipil. Walaupun tidak ada aturan yang membolehkan perempuan untuk poliandri, sehingga mengakibatkan perempuan tidak memiliki akses atau kesempatan yang sama dibandingkan laki-laki.

Ketika kita kembali merujuk definisi diskriminasi yaitu “yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok”. Maka diskriminasi yang dimaksud adalah yang mengurangi atau merugikan perempuan.

Sedangkan keadilan dalam poligami, hakikatnya adalah untuk melindungi hak-hak perempuan dari berbagai sisi, materil seperti nafkah, tempat tinggal, dan kebutuhan pokok lainnya, serta berusaha untuk berbuat adil dalam sektor immateri.

76

Menurut hemat peneliti, hal ini sudah sejalan dengan tujuan CEDAW yaitu untuk melindungi hak asasi perempuan.

Secara tekstual, CEDAW beranggapan bahwa tidak mungkin seseorang yang melakukan poligami mampu untuk berlaku adil. Seperti yang sudah dibahas pada bab sebelumnya, prinsip keadilan yang dianut oleh CEDAW adalah persamaan atau kesetaraan dalam hak dan kesempatan baik dalam bidang; ekonomi, sosial, budaya, sipil, dan politik. Kesetaraan hak dan kesempatan dalam bidang-bidang tersebut akan hilang ketika dalam proses poligami, hak-hak tersebut adalah:

1. Hak atas pekerjaan.

Dalam pasal 6 Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, Budaya (KIHESB), menjelaskan bahwa pekerjaan secara tradisional diakui sebagai sarana sah untuk mendapat mata pencaharian dalam semua masyarakat manusia, serta menunjukkan dengan benar bahwa pekerjaan adalah bagian esensial keadaan manusia melalui pekerjaanlah sumber pendapatan yang terhormat biasanya dijamin dan kesejahteraan material individu dan perkembangan seimbang bagi kepribadiannya bisa diwujudkan. Oleh karena itu, pasal 6 mengakui nilai pekerjaan sebagai unsur terpadu dalam pemeliharaan martabat dan harga diri individu.31

2. Hak atas jaminan sosial.

Setiap orang sebagai anggota masyarakat berhak atas jaminan sosial dan berhak melaksanakan dengan perantaraan usaha-usaha nasional,

31 Mashood A. Baderin, Hukum Internasional Hak Asasi Nasional & Hukum Islam, (Jakarta, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, 2010), hlm. 181

77

hak ekonomi, sosial dan kebudayaan yang sangat diperlukan untuk martabat dan pertumbuhan bebas pribadinya. Artinya, hak-hak ekonomi, sosial dan kebudayaan tidak bisa diabaikan begitu saja bagi martabat dan pertumbuhan bebas pribadinya.32

3. Hak atas standar kehidupan yang layak.

Arti penting dari hak atas standar kehidupan yang layak yang diatur dalam KIHESB pasal 11 ia menegaskan kembali keseluruhan tujuan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, yakni perwujudan standar kehidupan yang layak bagi setiap manusia yang mencakup; sandang, papan, dan pangan, serta atas perbaikan secara terus menerus. Ini secara esensial ditafsirkan sebagai standar kehidupan yang layak yang menjamin martabat pribadi manusia. Yaitu, kemampuan antara lain setiap orang untuk menikmati kebutuhan-kebutuhan pokok kehidupan tanpa harus mengambil jalan yang merendahkan martabat dan mendehumanisasi dirinya.33

4. Hak untuk menikmati standar tertinggi kesehatan fisik dan mental.

Adagium ‘kesehatan dan kekayaan’ menjelaskan pentingnya kesehatan bagi kesejahteraan manusia. Di samping hak atas pangan, sandang dan papan, hak atas kesehatan dan perawatan medis juga secara

32 Mashood A. Baderin, Hukum Internasional Hak Asasi Nasional & Hukum Islam, (Jakarta, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, 2010), hlm. 193

33 Mashood A. Baderin, Hukum Internasional Hak Asasi Nasional & Hukum Islam, (Jakarta, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, 2010), hlm. 205

78

khusus disebutkan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia sebagai unsur-unsur standar kehidupan yang layak bagi individu dan keluarga.

Pasal 12 KIHESB menciptakan dua himpunan norma dalam kaitan dengan kesehatan manusia. Himpunan pertama ialah jaminan terhadap hak-hak individu untuk menikmati standar tertinggi kesehatan yang bisa dicapai, sedangkan yang kedua adalah perlindungan kesehatan publik sebagai langkah yang diperlukan bagi perwujudan himpunan yang pertama.

Adakalanya, kesehatan publik cenderung membatasi kemerdekaan dan kebebasan bergerak individu. Ini bisa terjadi untuk menanggulangi penyakit-penyakit menular atau akademik oleh negara menurut pasal 12.

Dengan demikian, pembatasan semacam itu harus semata-mata demi perlindungan kesehatan publik dan sejalan dengan hukum yang berlaku.34 5. Hak atas pendidikan.

Pendidikan merupakan kunci pembebasan mental yang membantu seseorang bukan saja dalam mengembangkan kepribadiannya semata tetapi juga dalam menjadikannya berguna bagi masyarakatnya. Pendidikan harus diarahkan pada pengembangan kepribadian manusia seutuhnya dan kesadaran akan harga dirinya, serta harus memperkuat penghormatan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan dasar dan pendidikan harus memungkinkan semua orang untuk berpartisipasi secara efektif dalam suatu masyarakat yang bebas.35

34 Mashood A. Baderin, Hukum Internasional Hak Asasi Nasional & Hukum Islam, (Jakarta, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, 2010), hlm. 213

35 Mashood A. Baderin, Hukum Internasional Hak Asasi Nasional & Hukum Islam, (Jakarta, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, 2010), hlm. 217.

79

6. Hak atas kehidupan budaya dan atas manfaat kemajuan ilmu pengetahuan.

Kehidupan budaya telah digambarkan sebagai segala sesuatu yang membuat hidup bernilai untuk dihidupi serta hal yang memisahkan manusia dari binatang dan kemudian berhubungan dekat dengan kehormatan manusia.

Faktor-faktor yang memungkinkannya bakal meliputi sejumlah hak-hak lain seperti kebebasan berserikat, kebebasan berpikir, kesadaran dan agama, kebebasan berekspresi, hak menentukan nasib sendiri, hak untuk berbeda, dan hak atas pendidikan. Kebudayaan merupakan salah satu faktor pembeda manusia, lingkup yang terkadang sangat susah untuk ditentukan. Ia bisa dipandang dari berbagai sisi. Kebudayaan sering dipergunakan untuk menggambarkan cara hidup suatu komunitas tertentu yang merujuk pada warisan adat, peradaban, spiritual, dan material mereka.

Dari pemaparan hak-hak perempuan di atas, CEDAW memberikan perlindungan terhadap hak-hak perempuan. Artinya, bahwa ketika seseorang laki-laki yang berpoligami mampu memenuhi hak-hak tersebut maka sudah bisa dikatakan bahwa laki-laki tersebut sudah berlaku adil, dan sesuai dengan tujuan CEDAW itu sendiri.

E. Perbandingan Konsep Maqashid Syari’ah dan CEDAW Terhadap

Dokumen terkait