BAB II LANDASAN TEORITIS
A. Landasan Teori
5. Prinsip-Prinsip Bimbingan Konseling Islami
Dalam pelayanan bimbingan konseling konvensional prinsip yang digunakan bersumber dari kajian filosofis hasil dari penelitian dan pengalaman praktis tentang hakikat manusia, perkembangan dan kehidupan manusia dalam konteks sosial budayanya, pengertian, tujuan, fungsi, dan proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Dalam Islam penggunaan kata konseling memiliki nilai
29 Ibid..., h. 10.
karakteristik, yaitu konseling Islami. Istilah ini memiliki alur berpikir tersendiri, terkait dengan eksistensi keilmuan konseling dalam Islam.
Konseling dalam Islam adalah salah satu dari tugas manusia dalam membina dan membentuk manusia yang ideal. Bahkan, bisa dikatakan bahwa konseling merupakan amana yang diberikan Allah kepada Rasul dan Nabinya. Dengan adanya amanat konseling inilah maka mereka menjadi pemikiran berharga dan bermanfaat bagi manusia, baik dalam urusan agama, dunia, pemenuhan kebutuhan, pemecahan masalah dan banyak hal lainnya. Konseling pun akhirnya menjadi suatu kewajiban bagi setiap muslim, khususnya para ulama31.
Konseling Islami sebagaimana pada penjelasan konseling Islam di atas, merupakan penjabaran dari aktivitas konseling Islam. Penggunaan istilah konseling Islam bukan berarti mengislamkan teori dan konsep Barat yang telah ada atau menghapuskannya dan menggantikan dengan yang baru, melainkan untuk memandang bimbingan dan konseling dalam persepektif ajaran Islam. Dengan demikian terdapat perbedaan antara bimbingan dan konseling secara umum yang berorientasi terhadap dunia pendidikan dengan bimbingan konseling Islam. Namun permasalahan atau objek formal yang dibahas dalam keilmuan bimbingan dan konseling sama-sama memperbincangkan manusia dengan segala keunikannya atau manusia dengan segala permasalahannya serta sama-sama berupaya memanusiakan manusia dana tau memuliakan kemuliaan manusia yang mulia.
Prinsip yang berkenaaan dengan bimbingan konseling Islami, menurut Sutoyo menjelaskan beberapa prinsip yang harus dipahami oleh konselor terkait dengan bimbingan konseling Islami, yakni: 32
1. Semua yang ada di muka bumi merupakan ciptaan Allah mulai dari tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia dan lain sebagainya adalah ciptaan Allah. segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki hukum atau ketentuan Allah, sebagai konsekuensi dari ketentuan yang telah diciptakan oleh Allah, maka manusia harus ikhlas menerima ketentuan yang telah diberikannya.
31 Abdurrahmam, Konseling Islami, h. 63 32 Ibid, h. 65
2. Dalam Alquran, manusia disebut dengan ‘abdun yang berarti hamba. Implikasi kata hamba dalam proses bimbingan konseling dapat berupa anjuran bagi konselor untuk mendorong konseli agar selalu meniatkan setiap aktivitas yang dilakukannya menjadi perilaku yang bernilai ibadah.
3. Memberikan pemahaman kepada konseli bahwa Allah telah mengamanahkan manusia untuk menjadi Khalifah fil ardh QS. Al-Baqarah (2):30. Maka setiap tindakan individu pasti akan diminta pertanggung jawabannya.
4. Manusia ketika lahir telah dibekali fitrah jasmani maupun fitrah rohani. Fitrah rohani dapat berbentuk iman kepada Allah, QS Ar-Rum (30):30. Dengan demikian, proses bimbingan konseling Islami hendaknya dapat mengembangkan keimanan individu.
5. Dalam membimbing individu seorang konselor harus mengembalikan kepada sumber pokok yakni Alquran.
6. Bimbingan konseling Islami diberikan sesuai dengan keseimbangan yang ada pada diri individu.
7. Manusia memiliki potensi untuk terus berkembang kearah positif. Sehingga, dalam proses bimbingan konseling Islami ditujukan untuk dapat memandirikan kemampuan konseli, agar konseli dapat memahami dirinya sesuai dengan ketentuan-ketentuan ajaran agama.
8. Islam mengajarkan orang yang beriman lagi beramal shaleh untuk saling menasehati. Maka proses bimbingan konseling Islami hendaknya dimaknai ibadah.
Saiful Akhyar menyatakan beberapa asas dalam pelaksanaan konseling Islami, yaitu:
1. Asas Ketauhidan
Tauhid adalah pengesaan Allah yang merupakan syarat utama bagi penjalin hubungan antara dengan penciptanya. Tauhid dimaksudkan sebagai penyerahan total segala urusan, masalah kepada Allah sehingga terjadi sinkronisasi antara keinginan manusia dengan kehendak Allah yang pada gilirannya akan membuahkan as siddiq, al ikhlas, al ‘ilmi dan al ma’rifah. Dari sisi psikis, terdapat korelasi yang kuat antara attauhid Allah dengan penyembuhan jiwa manusia. Dalam hal ini Allah
ditempatkan sebagai satu-satunya sumber, yaitu sumber kesehatan mental/hati, sumber kesembuhan penyakit mental/hati, sumber kekuatan menyelesaikan masalah, sumber ketenangan spiritual. Hanya kepada Allahlah seluruh ibadah dan pengabdian manusia dimuarakan. Ini merupakan prinsip spiritual yang paling utama.
2. Asas Amaliah
Sebagai helping process, konseling Islami tidak hanya merupakan interaksi verbal (secara lisan) antara klient/konseli dengan konselor, tetapi yang lebih penting adalah klien/konseli dapat menemukan dirinya melalui interaksinya, memahami permasalahannya, mempunyai kemauan untuk memecahkan masalahnya, melakukan ikhtiar/tindakan untuk memecahkan masalahnya.
3. Asas Akhlak Al Karimah
Asas ini sekaligus melingkupi tujuan dan proses konseling Islami. Dari sisi tujuan, klient/konseli diharapkan sampai pada tahap memiliki akhlak mulia. Sedangkan dari sisi proses, berlangsungnya hubungan antara konselor dengan klient/konseli didasarkan atas norma-norma yang berlaku dan dihormati.
4. Asas Profesional (Keahlian)
Keberhasilan suatu pekerjaan akan banyak bergantung pada profesioanalisasi atau keahlian orang yang melakukannya. Demikian juga dalam halnya konseling Islami, pelaksanaannya tidak akan membuahkan hasil jika para konselor tidak memiliki keahlian khusus, keterangan tentang hal ini ditunjukkan oleh hadist Nabi “apabila sesuatu pekerjaan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya”. Untuk itu asas keprofesional ini menjadi asas yang sangat penting dalam melaksanakan layanan bimbingan konseling kepada seseorang dalam praktek konseling disebut dengan klient. 5. Asas Kerahasian
Proses konseling harus menyentuh self atau jati diri klient/konseli bersangkutan, dan yang paling mengetahui keadaanya adalah dirinya sendiri. Sedangkan problem psikisnya kerap kali dipandang sebagai suatu hal yang harus dirahasiakan. Sementara dia tidak dapat menyelesaikan secara mandiri, sehingga ia memerlukan bantuan orang lain yang lebih mampu. Dalam hal ini, ia menghadapi
dua problem, yakni problem sebelum proses konseling dan problem yang berkenaan dengan penyelesaiannya. 33
Mendasarkan pada hasil studi tafsir tematik tentang manusia dalam prespektif Alqur’an, utamanya berkaitan dengan tema-tema (a) Allah yang menciptakan manusia (status dan tujuan diciptakan-Nya manusia), (b) karakteristik manusia, (c) musibah yang menimpa manusia, dan (d) pengembangan fitrah manusia, maka disusunlah prinsip-prinsip konseling berikut ini:
a. Prinsip dasar bimbingan dan konseling Islam b. Prinsip yang berhubungan dengan konselor
c. Prinsip yang berhubungan dengan individu yang dibimbing (konseli) d. Prinsip yang berhubungan dengan layanan konseling 34.
Menurut Basri dan Lahmudin, adapun prinsip-prinsip bimbingan konseling Islami adalah:
1. Harus menyadari hakikat manusia, dimana bimbingan atau nasihat merupakan sesuatu yang penting dalam Islam.
2. Konselor harus memliki teladan yang patut dicontoh oleh konselinya.
3. Mendukung konsep untuk saling menolong dalam kebaikan ketika konseli membutuhkan untuk menyelesaikan problemnya.
4. Konselor harus memiliki pemahaman agama yang baik, seperti ilmu aqidah, syari’ah, fiqih dan akhlak.
5. Konselor harus memahami konsep manusia dalam perspektif Alquran dan hadis, agar pelayanan konseling nantinya akan sesuai dengan tujuan penciptaan manusia di muka bumi, sehingga penyelesaian masalah sesuai dengan nilai-nilai Islam.
6. Dalam melakukam pembinaan kerohaniaan, mengutamakan praktik ibadah seperti zikir, sholat dan lain-lain yang bertujuan mendapatkan ketentraman hati bagi si konseli.35
33 Ibid, h. 64
34Achmad Farid, Model Bimbingan Konseling Islami, (Kudus: Media Press, 2010), h. 6. 35Abdurrahman, Konseling Islami…. h. 61.
Sementara itu, prinsip-prinsip bimbingan konseling yang lebih umum dan rinci adalah:
a. Agama adalah nasehat. Maksudnya ialah nasehat merupakan salah satu dari pilar agama Islam. Sebab nasehat merupakan ucapan dan dorongan yang berisi untuk mengajak berbuat kebaikan.
b. Konseling kejiwaan merupakan salah satu tugas yang mulia, sebab tugas ini memberikan bantuan bagi manusia yang sedang mengalami masalah dan memerlukan bantuan.
c. Setiap orang muslim yang memiliki kemampuan bidang konseling Islam memiliki tanggung jawab moral dalam penggunaan konseling agama.
d. Meminta bantuan bagi orang yang membutuhkan dan memberikan bantuan konseling agama adalah kewajiban bersama, termasuk seorang spesialis konselor.
e. Dalam melakukan layanan konseling sesuai dengan pedoman yang disyariatkan agama Islam.36
6. Layanan Bimbingan Konseling Pernikahan dalam Membentuk Keluarga