A. Teori Al-‘Urf
3. Prinsip-Prinsip dan Asas-Asas Hukum Waris
Kewarisan menurut hukum Islam adalah proses pemindahan harta peninggalan seseorang yang telah meninggal, baik yang berupa benda yang wujud maupun yang berupa hak kebendaan, kepada keluarganya yang dinyatakan berhak menurut hukum Islam. Maka dalam waris Islam ada prinsip
54 Moh Muhibbin dan Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam: Sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), 17.
27 yang mengaturnya. Adapun prinsip tersebut dapat dikemukakan yaitu:
a. Waris menempuh jalan tengah antara memberi kebebasan kepada seseorang untuk memindahkan harta peninggalannya dengan jalan wasiat kepada orang lain yang dikehendaki seperti yang berlaku dalam masyarakat individualis/
kapasitas dan melarang sama sekali pembagian harta pembagian harta peninggalan seperti yang menjadi prinsip komunisme yang tidak mengakui adanya lembaga hak milik perorangan, yang dengan sendirinya tidak mengenal sistem kewarisan.
b. Waris merupakan ketetapan hukum yang mewariskan tidak dapat menghalangi ahli waris dari haknya atas aharta peninggalan dan ahli waris berhak atas harta peninggalan tanpa memerlukan pernyataan menerima dengan sukarela atau atas putusan pengadilan tetapi ahli waris tidak dibebani melunasi hutang pewaris dari harta pribadinya.
c. Waris terbatas dalam lingkungan keluarga, dengan adanya hubungan perkawinan atau pertalian darah keluarga yang lebih dekat hubungannya dengan pewaris lebih diutamakan daripada keluarga yang lebih jauh.
d. Waris Islam lebih condong untuk membagi harta warisan kepada sebanyak mungkin ahli waris yang sederajat, dengan menentukan bagian tertentu kepada beberapa ahli waris, mislanya jika ahli waris terdiri dari ibu, istri seorang anak perempuan dan saudara perempuan kandung, semuanya mendapat bagian.
e. Waris tidak membedakan hak anak atas harta peninggalan, anak yang sulung, menengah atau bungsu, telah besar atau baru saja lahir, telah berkeluarga atau belum, semua berhak atas harta peninggalan orang tua.
f. Waris Islam membedakan besra kecil bagian tertentua ahli waris diselasaraskan dengan kebutuhannya dalam kehidupan sehari-hari, disamping memandang jauh dekatnya hubungan kekeluargaan dengan pewaris.55
55 Ahmad Azhar Basyir, Hukum Waris Islam (Yogyakarta: UUI Pres Yogyakarta, 2001), 132.
28
Hukum kewarisan Islam digali dari keseluruhan ayat hukum Al-Qur‟an dan penjelasan tambahan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. dalam Sunnahnya. Dalam Pembahasan ini, akan dikemukakan beberapa asas hukum waris Islam. Asas berasal dari bahasa arab, yang artinya dasar, alas, fundamen dan yang dimakasud dengan asas hukum waris Islam adalah suatu kebenaran yang menjadi pokok dasar atau tumpuan hukum waris Islam.56 Adapun asas-asas hukum waris Islam, sebagai berikut:
a. Asas Ijbari
Dalam hukum Islam peralihan harta dari orang yang meninggal (pewaris) kepada orang yang masih hidup (ahli waris) akan terjadi secara sendirinya menurut kehendak Allah SWT. tanpa harus diusahakan oleh keduanya (pewaris dan ahli waris). Cara peralihan yang seperti ini disebut dengan asas ijbari (paksaan). Adanya asas ijbari dalam waris Islam dapat dilihat dari beberapa segi yaitu:
1) Segi Peralihan Harta
Contoh: bagi seorang anak laki-laki ataupun perempuan ada nasib (bagian, saham atau jatah dalam bentuk sesuatu yang diterima dari pihak lain), dari harta peninggalan orang tua dan karib kerabat.
2) Segi Jumlah Harta Beralih
Contoh: sudah ditentukan jumlahnya dan harus dilakukan sedemikian rupa secara mengikat dan memaksa.
3) Segi Kepada Siapa Harta Beralih
Contoh: orang-orang yang berhak atas harta peninggalan itu sudah ditentukan secara pasti, hingga tidak ada sesuatu kekuasaan manusia dapat mengubahnya.
b. Asas Bilateral
Yang dimakasud dengan asas bilateral dalam kewarisan mengandung arti bahwa dalam pembagian harta
56 Pahing Sembiring, Hukum Islam II Bidang Hukum Waris Islam (Faraidh) (Medan: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2002), 4.
29 waris, harta beralih melalui dua arah. Artinya, setiap orang menerima hak kewarisan dari kedua belah pihak, yaitu pihak garis keturunan laki-laki dan pihak garis keturunan perempuan.57 Asas bilateral ini dapat secara nyata dilihat dalam firman Allah SWT. suarh An-nisa‟ (4): 7, 11, 12 dan 176. Dalam ayat 7 dijelaskan bahwa seorang laki-laki berhak mendapat warisan dari pihak ayahnya dan juga dari pihak ibunya. Ayat ini merupakan dasar bagi kewarisan bilateral itu. Secara terperinci asas bilateral itu dapat dipahami dalam ayat-ayat selanjutnya, yaitu:
1) Anak perempuan berhak menerima warisan dari kedua orangtuanya sebagaimana yang didapat oleh anak laki-laki dengan bandingan seorang anak laki-laki-laki-laki menerima sebanyak yang didapat dua orang anak perempuan.
2) Ibu berhak mendapat warisan dari anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Begitu pula Ayah sebagai ahli waris laki-laki berhak menerima warisan dari anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan sebesar seperenam bagian, bila pewaris meninggalkan anak.58
c. Asas Individual
Waris Islam mengajarkan asas kewarisan secara individual, dengan arti bahwa harta warisan dapat dibagi-bagi untuk dimiliki secara secara perorangan, jadi maksud dari asas individual adalah setiap ahli waris berhak atas bagiannya masing-masing sebagaimana yang telah ditentukan. di mana harta waris yang dapat dimiliki secara perorangan tanpa terikat dengan ahli waris yang lainnya. Hal ini didasarkan kepada ketentuan bahwa setiap insan sebagai pribadi mempunyai kemampuan untuk menerima hak dan menjalankan kewajiban (ahliyatu al wujub).59
57 Fathurrahman Addys Aldizar, Hukum Waris (Jakarta: CV Kuwais Nedia Krasindo, 2001), 112.
58 Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Prenada, 2004), 20.
59 Abdul Wahid Muhibbin, Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Sinar Grafika, 2001), 76.
30
d. Asas Keadilan Berimbang
Dalam Al-Qur‟an terdapat kata „adlu‟ dalam konteks hukum kewarisan Islam dalam hubungannya dengan hak yang menyangkut materi, kata tersebut dapat diartikan sebagai keseimbangan anatara hak dan kewajiban dan keseimbangan anatara yang diperoleh dengan keperluan dan kegunaan.60 Ditinjau dari segi jumlah bagaian pada waktu menerima hak, memang terdapat ketidaksamaan, tetapi hal tersebut bukanlah tidak adil, karena keadilan tidak hanya diukur dengan pendapatan waktu menerima hak tetapi juga dikaitkan dengan kegunaan dan kebutuhan.61
e. Asas Semata Akibat Kematian
Hukum Islam telah menetapkan, hukum kewarisan Islam adalah beralihnya harta seseorang kepada orang lain setelah yang memiliki harta itu meninggal dunia. Artinya, apabila seseorang belum meninggal dunia maka harta yang ia miliki tidak dapat dibagikan sebagai harta waris.
Selain ke lima asas tersebut di atas dalam buku lain disebutkan ada penambahan beberapa asas dalam hukum waris Islam diantaranya adalah:62
a. Asas Integrity (Ketulusan)
Asas ini adalah dalam hukum kewarisan Islam diperlukan ketulusan hati untuk menaatinya karena terikat dengan aturan yang diyakini kebenarannya.
b. Asas Ta‟abudi (Penghambaan Diri)
Maksud dari asas ini adalah melaksanakan pembagian waris secara hukum Islam adalah merupakan bagian ibadah kepada Allah SWT.
c. Asas Huququl Maliyah (Hak-hak Kebendaan)
Asas ini adalah hak-hak kebendaan yang artinya hanya hak dan kewajiban terhadap kebendaan yang dapat diwariskan kepada ahli waris, sedangkan hak dan kewajiban
60 Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), 24.
61 Muhibbin, Hukum Kewarisan Islam, 77.
62 Aulia Muthia dan Novy Sri Pratiwi Hardani, Hukum Waris Islam (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2015), 32–33.
31 dalam lapangan kekeluargaan atau hak-hak dan kewajiban yang bersifat pribadi seperti suami istri, jabatan, keahlian, dalam suatu ilmu tidak dapat diwariskan.
d. Asas Huququn Thaba‟iyah (Hak-hak Dasar)
Pengertian asas ini adalah hak-hak dari ahli waris sebagai manusia. Artinya, meskipun ahli waris itu seorang bayi yang baru lahir atau seorang yang sedang sakit menghadapi kematian, sedangkan ia masih hidup ketika pewaris meninggal dunia, maka baik bayi yang baru lahir maupun yang sedang sakit keras tadi meraka berhak mendapatkan harta warisannya.
e. Asas Membagi Habis Harta Warisan
Membagi semua harta warisan hingga tidak tersisa lagi adalah makna dari asas ini.