• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Teori Al-‘Urf

4. Rukun dan Syarat-Syarat Waris

31 dalam lapangan kekeluargaan atau hak-hak dan kewajiban yang bersifat pribadi seperti suami istri, jabatan, keahlian, dalam suatu ilmu tidak dapat diwariskan.

d. Asas Huququn Thaba‟iyah (Hak-hak Dasar)

Pengertian asas ini adalah hak-hak dari ahli waris sebagai manusia. Artinya, meskipun ahli waris itu seorang bayi yang baru lahir atau seorang yang sedang sakit menghadapi kematian, sedangkan ia masih hidup ketika pewaris meninggal dunia, maka baik bayi yang baru lahir maupun yang sedang sakit keras tadi meraka berhak mendapatkan harta warisannya.

e. Asas Membagi Habis Harta Warisan

Membagi semua harta warisan hingga tidak tersisa lagi adalah makna dari asas ini.

32

Pendapat lain mengelompokkan rukun-rukun waris, anatara lain yaitu:

a. Muwāriṡ, yaitu orang yang meninggal dunia atau dianggap telah meninggal dunia, seperti orang hilang.

b. Ahli waris, yakni yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan yang meninggal dunia dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab), ikatan perikatan atau yang lainnya. Ahli waris harus masih hidup atau yang dianggap setara dengan yang hidup seperti janin dalam kandungan, mereka berhak terhadap harta warisan, meskipun bisa saja tidak diperbolehkan mengambilnya, karena adanya penghalang.

c. Harta warisan yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan yang meninggal dunia, baik berupa uang, tanah dan sebagainya yang semuanya itu harus terbebas dari milik orang lain.64

Menurut istilah di dalam Islam syarat-syarat adalah bentuk jamak dari syarath, syarat diartikan juga sebagai pasukan yang menjaga dengan tanda karena mereka mempunyai tanda yang mereka ketahui. Namun ada beberapa syarat yang dipenuhi dalam waris Islam.

Menurut pendapat para ulama, syarat-syarat dalam mewarisi terbagi menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut.

a. Mati haqiqi atau biasa disebut dengan mati sejati, yaitu hilangnya nyawa pewaris. Kematiannya dapat disaksikan dan dibuktikan dengan menggunakan alat pembukti.

b. Mati hukmy, yaitu mati menurut keputusan hakim, baik itu orang yang bersangkutan masih hidup atau mati.

c. Mati taqdiry, yaitu mati menurut dugaan, yang di mana kematiannya berbeda dengan mati haqiqi atau taqdiry.65

Sedangkan menurut buku Ahmad Rofiq, syarat-syarat waris terbagi menjadi tiga yaitu:

a. Orang yang mewariskan (muwāriṡ) bener telah meninggal dunia dan dapat dibuktikan secara hukum bahwa ia telah

64 Aldizar, Hukum Waris, 28.

65 Muhibbin dan Wahid, Hukum Kewarisan Islam, 62.

33 meninggal. Ini berarti bahwa apabila tidak ada kematian, maka tidak ada pewarisan. Pemberian atau pembagian harta kepada keluarga pada masa hidupnya, tidak termasuk ke dalam kategori waris mewarisi, tetapu pemberian atau pembagian ini disebut hibah.

b. Orang yang mewarisi (ahli waris atau waris) hidup pada saat orang yang mewariskan meninggal dunia dan bisa dibuktikan secara hhukum. Termasuk dalam pengertian hidup di sini adalah anak (embrio) yang hidup dalam kandungan ibunya pada saat orang mewariskan meninggal dunia dan orang yang menghilang dan tidak diketahui tentang kematiannya, dalam hal ini perlu adanya keputusan hakim yang mengatakan bahwa ia masih hidup.

c. Adanya hubungan pewarisan anatara orang yang mewariskan dengan orang yang mewarisi, yaitu hubungan nasab (keturunan dan kekerabatan) baik pertalian garis lurus keatas (Ushul al-Mayyit) seperti Ayah, Kakek dan lainnya atau pertalian lurus kebawah (furu‟al mayyit) seperti anak, cucu. Hubungan pernikahan yaitu seseorang dapat mewarisi disebabkan menjadi suami atau istri dari orang yang mewariskan, hubungan perbudakan (wala), yaitu seseorang berhak mendapatkan warisan dari bekas budak yang memerdekakannya (dibebaskannya) dan terakhir karena hubungan Islam, yaitu apabila seorang meninggal dunia tidak meninggalkan orang yang mewarisi, maka hartanya akan diserahkan kepada baitul mal (Perbendaharaan Negara Islam) untuk dimanfaatkan bagi kemaslahatan umat Islam.66 5. Penggolongan Ahli Waris

Penggolongan ahli waris dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut.

a. Ashabul Furudh

Ashabul Furudh, yaitu orang yang mendapatkan bagian harta peninggalan yang sudah ditentukan dalam Al-qur‟an, As-Sunnah dan Ijmak, adapun bagiannya yaitu 1/2,

66 Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Rajawali Pers, 1998), 71.

34

1/4, 1/8, 1/3, 2/3 dan 1/6. Dan ashabul furudh ini harus didahulukan dalam menerima bagian harta yang ditinggalkan daripada ahli waris ashabah dan dzawil arham.67

Harta peninggalan yang sudah meninggal dunia dapat mewarisi 25 orang yang terdiri dari 15 orang dari pihak laki-laki dan 10 orang pihak perempuan.

Ahli waris dari pihak laki-laki yaitu.

1) Anak laki-laki.

2) Cucu laki-laki dari anak laki-laki.

3) Ayah.

4) Kakek (Ayah dari Ayah).

5) Saudara laki-laki sekandung.

6) Saudara laki-laki seayah.

7) Saudara laki-laki seibu.

8) Keponakan laki-laki (anak dari laki-laki point “e”).

9) Keponakan laki-laki (anak dari laki-laki point “f”).

10) Saudara seayah (paman) yang seibu seayah.

11) Saudara seeayah (paman) yang seayah.

12) Anak paman yang seiubu seayah.

13) Anak paman yang seayah.

14) Suami.

15) Orang laki-laki yang memerdekannya.

Apabila dari ke 15 ahli waris dari pihak laki-laki itu ada semuanya, maka yang medapatkan ahli waris dari pihak laki-laki yaitu suami, ayah dan anak saja.68

Ahli waris dari pihak perempuan, yaitu.

1) Anak perempuan.

2) Cucu perempuan dari anak laki-laki.

3) Ibu.

4) Nenek perempuan (ibunya dari ibu).

5) Nenek perempuan (ibunya dari ayah).

6) Saudara perempuan yang seibu seayah.

7) Saudara perempuan yang seayah.

67 Ryan Triana Maulana, Belajar Autodidak Menghitung Waris Islam (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2013), 21.

68 Muhibbin dan Wahid, Hukum Kewarisan Islam, 63.

35 8) Saudara perempuan yang seibu.

9) Istri.

10) Orang perempuan yang memerdekannya.

Apabila dari 10 ahli wari dari pihak perempuan masih hidup semua maka, yang berhak mendapatkan ahli warisnya yaitu anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, ibu, saudara perempuan seayah seibu dan istri.

Dan apabila semua ahli waris dari pihak laki-laki dan pihak perempuan ada dan masih hidup semua maka, yang berhak mendapatkan harta warisannya yaitu suami/istri, anak laki-laki, anak perempuan, ibu dan ayah.69 b. „Asābah

Ashabah menurut terminologi (bahasa) adalah suatu pembelaan, penolong, pelindung, atau kerabat dari ayah.

Sedangkan menurut istilahnya yaitu faradhiyun yang artinya seorang ahli waris mendapatkan warisannya dari sisa ashabul furudh atau tidak mendapatkan sisanya sama sekali.70 Dengan ketentuan ahli waris „asābah, yaitu sebagai berikut.

1) Jika tidak terhalang oleh ahli waris yang lain, maka semua harta warisnya untuk ahli waris „asābah.

2) Jika ada ahli waris dari ashabul furudh maka ahli waris dari ashabah hanya mendapatkan sisanya.

3) Dan jika ahli waris dari ashabul furudh habis dibagi oleh ahli warisnya, maka ahli waris „asābah tidak mendapatkan-nya.

Ahli waris dari ashabah hanya berlaku dari garis keturunan laki-laki, yaitu anak laki-laki, ayah, saudara lalki-laki dan kakek. Dalam hal ini anak perempuan juga, mendapatkan waris ashabah dengan ketentuan anak perempuan tersebut didampingi oleh saudaranya lalki-laki.71

69 Ibid., 64.

70 Rofiq, Hukum Perdata Islam di Indonesia Edisi Revisi, 304.

71 Muhibbin dan Wahid, Hukum Kewarisan Islam, 65.

36

c. Dzawil Arham

Dzawail arham yaitu orang yang mempunyai hubungan keluarga dari pihak perempuan, dan mereka tidak mendapatkan bagian harta warisan selama ashabul furudh dan „asābah masih ada. Dalam firman Allah SWT. QS. Al-Anfal Ayat 75















































“Dan orang-orang yang beriman setelah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka mereka termasuk golonganmu. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) menurut Kitab Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”72

Adapun ahli waris dari dzawil arham, yaitu sebagai berikut.

1) Cucu (Laki-laki atau perempuan) dari anak perempuan.

2) Anak laki-laki dan anak prempuan dari cucu perempuan.

3) Kakek pihak ibbu (bapak dari ibu).

4) Nenek dari pihak kakek (ibu kakek).

5) Anak perempuan dari saudara laki-laki (yang sekandung seayah maupun seibu).

6) Anak laki-laki dan saudara laki-laki seibu.

7) Anak (laki-laki dan perempuan) saudara perempuan (sekandung seayah dan seibu).

8) Bibi (saudara perempuan dari bapak) dan saudara perempuan dari kakek.

9) Paman yang seibu dengan bapak dan saudara laki-laki yang seibu dengan kakek.

10) Saudara laki-laki dan saudara perempuan dari ibu.

11) Anak perempuan dari paman.

12) Bibi pihak ibu (saudara perempuan dari ibu).

72 Maulana, Belajar Autodidak Menghitung Waris Islam, 25.

37 Ahli waris dari dzawil arham di dalam Al-qur‟an tidak terdapat keterangan bahwa dzawil arham sebagai ahli waris. Sedangkan sebagian menurut ulama mengatakan bahwa dzawil arham juga ahli waris yang berhak dan menerima bagian dari harta warisannya, meskipun ada ahli waris dari ashabul furudh dan ahli waris dari „asābah. Oleh sebab itu, ada sebagian mereka yang tidak menjadikan atau tidak menjadikan landasan bahwa dzawil arham sebagai ahli waris, meskipun dalam keadaan tidak ada lagi orang untul mewarisi harta peninggalan dari pewaris.73

73 Muhibbin dan Wahid, Hukum Kewarisan Islam, 67.

38

DAFTAR RUJUKAN

Abdurrahman. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Pertama.

Jakarta: Akademika Pressindo, 2010.

Aldizar, Fathurrahman Addys. Hukum Waris. Jakarta: CV Kuwais Nedia Krasindo, 2001.

Jarjaniy, Ali Bin Muhammad. Kitab Ta’Rifat. Jeddah: Al-Haromain, t.t.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis.

Jakarta: Reneka Cipta, 2013.

Aripin, Musa. ―Eksistensi Urf Dalam Kompilasi Hukum Islam.‖ Al-Maqasid: Jurnal Ilmu Kesyariahan Dan Keperdataan, Volume 2 Nomor 1 (December 2016): 207–19.

https://doi.org/10.24952/almaqasid.v4i2.1427.

AS, Susiadi. Metodologi Penelitian. Lampung: LP2M IAIN Raden Intan Lampung, 2014.

———. Ushul Fiqih I. IAIN Raden Intan Lampung: Fakultas Syari‘ah, 2010.

Basyir, Ahmad Azhar. Hukum Waris Islam. Yogyakarta: UUI Pres Yogyakarta, 2001.

Cahyani, Tinuk Dwi. Hukum Waris Dalam Islam: Dilengkapi Contoh Kasus dan Penyelesaiannya. Malang: UMMPress, 2018.

Cahyanto. "Warisan Anak Bungsu di Desa Mekar Mulya, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan," Wawancara dengan penulis, 7 Oktober 2022.

Daring, KBBI. ―Utama.‖ Utama, 2022.

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/utama.

Djazuli. Ilmu Fiqh: Penggalian, Perkembangan, dan Penerapan Hukum Islam. Edisi revisi. Jakarta: Prenada Media, 2021.

Fitriani, Lailita, Luthfa Surya Anditya, Minahus Saniyyah, Nicken Nawang Sari, dan Iffatin Nur. ―Eksistensi dan Kehujjahan Urf sebagai Sumber Istimbath Hukum.‖ Al-Hikmah, Volume 7 Nomor 2 (January 2022): 246–56.

http://dx.doi.org/10.30651/ah.v7i2.8088.

Hambal bin Asad bin Idris, Ahamd bin Muhammad bin. Musnad Ahmad Bin Hambal. Jilid V. Beirut: Dar al-Kutub, 1999.

Hamzawi, Adib. ―Urf Dalam Kompilasi Hukum Islam Indonesia.‖

Inovatif: Jurnal Penelitian Pendidikan, Agama, Dan Kebudayaan, Volume 4 Nomor 1 (February 2018): 1–27.

Hidayati, Rizka Nurilham. ―Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tradisi Kewarisan Jujuli Bagi Anak Bungsu Di Desa Gegerkunci Kecamatan Songgom Kabupaten Brebes.‖ Skripsi, UIN Walisongo Semarang, 2018.

Hirdayadi, Israr, dan M Ansar. ―Tehnik Pembagian Warisan terhadap Anak Bungsu Perempuan dalam Masyarakat Kemukiman Lamblang Kec. Kuta Baro Kab. Aceh Besar Menurut Hukum Islam.‖ Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam, Volume 2 Nomor 1 (January 2018): 237–71.

https://doi.org/10.22373/sjhk.v2i1.3114.

Jumantoro, Totok, dan Samsul Munir Amin. Kamus Ilmu Ushul Fikih.

Amzah, t.t.

Karnadi, Edi. "Warisan Anak Bungsu di Desa Mekar Mulya, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan," Wawancara dengan penulis, 15 Oktober 2022.

KBBI Daring. ―Analisis,‖ 2021.

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/analisis.

Kebudayaan, Dapartemen Pendidikan dan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka, 1989.

Khallaf, Abdul Wahab. Ilmu Ushul Fiqh. Mesir: Alhar Al-Kuwaityyakh, 1964.

Khoiri, Ahmad. ―Penerapan Metode Al-‘Urf Dalam Tradisi Pembagian Harta Waris (Kasus di Desa Tasik Agung, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang).‖ Skripsi, UIN Walisongo Semarang, 2018.

Kuraisin, Ecin. "Warisan Anak Bungsu di Desa Mekar Mulya, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan," Wawancara dengan penulis, 15 Oktober 2022.

Kusuma, Hilman Hadi. Hukum Waris Adat. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003.

Maulana, Ryan Triana. Belajar Autodidak Menghitung Waris Islam.

Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2013.

Meliala, Djaja S. Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Bandung: Nuansa Aulia, 2018.

Muhammad, Abdul Kadir. Hukum dan Penelitian Hukum. Bandung:

PT. Citra Aditya Bhakri, 2014.

Muhibbin, Abdul Wahid. Hukum Kewarisan Islam. Jakarta: Sinar Grafika, 2001.

Muhibbin, Moh, dan Abdul Wahid. Hukum Kewarisan Islam: Sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika, 2009.

Musadad, Ahmad, dan Khoirun Nasik. Ushul Fiqh I: Metodologi Istinbath Hukum Ekonomi dan Bisnis Syariah. Malang:

Literasi Nusantara, 2021.

Muthia, Aulia, dan Novy Sri Pratiwi Hardani. Hukum Waris Islam.

Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2015.

Nursalam. Konsep dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika, 2008.

Pabunda, Tika Moh. Metodologi Riset Bisnis. Jakarta: Bumi Aksara, 2006.

Pedoman Penulisan Tugas Akhir Mahasiswa Program Sarjana.

Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2020.

Rifai, Moh. Ilmu Fiqh Islam. Semarang: CV Toha Putra, 1978.

Rofiq, Ahmad. Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers, 1998.

———. Hukum Perdata Islam di Indonesia Edisi Revisi. 3. Depok:

PT RajaGrafindo Persada, 2017.

Sakirman. ―Konvergensi Pembagian Harta Waris dalam Hukum Islam.‖ Al-’Adalah, Volume 13 Nomor 2 (December 2016):

155–64. https://doi.org/10.24042/adalah.v13i2.1853.

Sanusi, Ahmad, dan Sohari. Ushul Fiqh. Jakarta: Rajawali Pers, 2015.

Sarin. "Warisan Anak Bungsu di Desa Mekar Mulya, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan," Wawancara dengan penulis, 15 Oktober 2022.

Sarjana, Sunan Autad, dan Imam Kamaluddin Suratman. ―Konsep

‗Urf Dalam Penetapan Hukum Islam.‖ Tsaqafah, Volume 13 Nomor 2 (November 2017): 282.

https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v13i2.1509.

Sembiring, Pahing. Hukum Islam II Bidang Hukum Waris Islam (Faraidh). Medan: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2002.

Septiawan. ―Pembagian Harta Waris Anak Bungsu di Desa Upang Marga Kecamatan Air Salek Kabupaten Banyuasin.‖ Skripsi, UIN Raden Fatah Palembang, 2016.

Soeratno, dan Lincoln Arsyad. Metedologi Penelitian Untuk Ekonomi dan Bisnis. Yogyakarta: STIM YKPN, 2008.

Soeryasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer.

Jakarta: Sinar Harapan, 1978.

Somawinata, Yusuf. ―Hukum Kewarisan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia.‖ Al-Qalam, Volume 26 Nomor 1 (April 2009): 129–49.

https://doi.org/10.32678/alqalam.v26i1.1545.

Subagyo, P. Joko. Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktik.

Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011.

Sucipto. ―‗Urf Sebagai Metode Dan Sumber Penemuan Hukum Islam.‖ Asas: Jurnal Hukum dan Ekonomi Islam, Volume 7 Nomor 1 (January 2015): 135023.

https://doi.org/10.24042/asas.v7i1.1376.

Sugiyono. Statistik Untuk Penelitian, Statistika Untuk Penelitian.

Bandung: CV Alfabeta, 2007.

Sunggono, Bambang. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012.

Supriyadi. ―Pilihan Hukum Kewarisan Dalam Masyarakat Pluralistik (Studi Komparasi Hukum Islam Dan Hukum Perdata).‖

Al-´Adalah, Volume 12 Nomor 3 (June 2015).

https://doi.org/10.24042/adalah.v12i1.235.

Sutono. "Warisan Anak Bungsu di Desa Mekar Mulya, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan," Wawancara dengan penulis, 15 Oktober 2022.

Suyanto, Sutinah. Metode Penelitian Sosial Berbagi Alternatif Pendekatan Edisi Revisi. Jakarta: Kencana, 2005.

Syarifuddin, Amir. Hukum Kewarisan Islam. Jakarta: Prenada, 2004.

———. Hukum Kewarisan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008.

———. Ushul Fiqh Jilid 2. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999.

Syarkun, Syuhada. Menguasai Ilmu Fara’idh. Jakarta: Pustaka Syarkun, 2011.

Dokumen terkait