BAB II HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN
B. Prinsip-prinsip Hukum Perlindungan Konsumen
Dewasa ini gerakan perlindungan konsumen telah tumbuh dan memperoleh posisi yang kuat dalam masyarakat hampir di seluruh negara di dunia. Ada beberapa alasan mengapa masalah perlindungan konsumen merupakan salah satu masalah penting di dunia. Pertama, tanpa melihat kepada kedudukan resmi dan status sosial seseorang, seluruh anggota masyarakat adalah konsumen barang dan jasa yang dihasilkan pelaku usaha. Presiden Amerika Serikat, John F
70 Gunawan Widjaja &Ahmad Yani, Op. Cit., hal. 1. 71 Sudaryatmo, Op. Cit., hal. 90.
72 Mary Gardiner Jones, anggota dari The Federal Trade Commission dalam pidato di Konferensi ke-6 Biennial IOCU, Baden-Vienna, Austria, 29 Juni 1970, yang mengartikan ‘konsumerisme’ sebagai berikut:
a. Advertisements must be free of lies and half truths.
b. Advertisements must cease being directed to irrational or irrelevant qualitites. c. Consumers want hard, affirmative facts about goods, and services.
d. Consumers want what they paid for in appliance ar product performance.
e. If there is a failure, consumers want satisfactory adjustment. (AW. Troelstup, The Consumer in American Society: Personal and Family Finance, ed. 5, (New York : McGraw Hill, 1974), hal.
23 (dalam Shidarta, Op. Cit., hal. 46)). 73 Ibid., hal. 52.
Sugondo : Tinjauan Mengenai Perlindungan Terhadap Konsumen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Dalam Kaitannya Dengan Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, 2008. USU Repository © 2009
Kennedy mengatakan, “consumers by definition include us all.” Kedua, para konsumen adalah pihak yang sangat menentukan dalam pembinaan modal untuk menggerakkan roda perekonomian.74
Dalam konteks hukum perlindungan konsumen terdapat prinsip-prinsip yang berlaku dalam bidang hukum ini. Tentu saja prinsip-prinsip tersebut bukan sesuatu yang khas “hukum perlindungan konsumen” karena juga diterapkan dalam banyak area hukum lain. Prinsip-prinsip itu ada yang masih berlaku sampai sekarang, tetapi ada pula yang ditinggalkan seiring dengan tuntutan kesadaran hukum masyarakat yang terus meningkat.75
Secara umum, prinsip-prinsip tanggung jawab dalam hukum dapat dibedakan sebagai berikut:
Prinsip tentang tanggung jawab merupakan perihal yang sangat penting dalam hukum perlindungan konsumen. Dalam kasus pelanggaran hak konsumen, diperlukan kehati-hatian dalam menganalisis siapa yang harus bertanggung jawab dan seberapa jauh tanggung jawab dapat dibebankan kepada pihak-pihak terkait.
76
1. Prinsip tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan (liability based on fault), dimana menyatakan bahwa seseorang baru dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum jika ada unsur kesalahan yang dilakukannya. Kesalahan di sini dimaksudkan adalah unsur yang bertentangan dengan hukum.
2. Prinsip praduga selalu bertanggung jawab (presumption of liability prnciple), yang menyatakan bahwa pihak tergugat selalu dianggap bertanggung jawab
74 Muhammad Eggi H. Suzetta, Loc. Cit. 75 Shidarta, Op. Cit., hal. 61.
Sugondo : Tinjauan Mengenai Perlindungan Terhadap Konsumen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Dalam Kaitannya Dengan Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, 2008. USU Repository © 2009
sampai ia dapat membuktikan ia tidak bersalah. Dalam hal ini diterapkan beban pembukt ian terbalik (omkering van bewijslast).
3. Prinsip praduga selalu tidak bertanggung jawab (presumption of non-liability), merupakan kebalikan dari prinsip kedua dimana hanya dikenal dalam lingkup transaksi yang sangat terbatas, dan pembatasan demikian biasanya secara common sense dapat dibenarkan.
4. Prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability), tentunya berbeda dengan pendapat tentang absolute liability.77
a. konsumen tidak dalam posisi menguntungkan untuk membuktikan adanya kesalahan dalam suatu proses produksi dan distribusi yang kompleks, b. diasumsikan produsen lebih dapat mengantisipasi jika sewaktu-waktu ada
gugatan atas kesalahannya, dan
Menurut R.C. Hoeber et. al., biasanya prinsip tanggung jawab mutlak ini diterapkan karena:
c. asas ini dapat memaksa produsen lebih berhati-hati.78
5. Prinsip pembatasan tanggung jawab (limitation of liability), merupakan prinsip yang sangat disenangi oleh pelaku usaha untuk dicantumkan sebagai klausula eksonerasi dalam perjanjian standar baku yang dibuatnya. Di dalam UUPK, penggunaan prinsip ini tidak dibolehkan lagi apabila ternyata dapat merugikan konsumen dengan pembatasan maksimal tanggung jawabnya.
77 Bandingkan dengan David Oughton and John Lowry, Op. Cit., hal. 361, yang menyatakan “Sometimes the phrase of ‘absolute liability’ is used to describe this phenomenon, but this is a
misleading description as the defendant must be aware that the activity he carries on (or his ommissions in relation to his activity) are capable of leading to the commission of offence”.
78 Prinsip tanggung jawab tanpa kesalahan atau tanggung jawab mutlak ini dapat juga dilihat dalam kasus Rylands vs Fletcher (1968), dimana dikatakan “…. the doctrine of strict (or absolute)
liability has evolved in modern times in certain kinds of situation, that is not wrongful but give rise to liability even in the absence of an allegation of negligence or fault….”
Sugondo : Tinjauan Mengenai Perlindungan Terhadap Konsumen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Dalam Kaitannya Dengan Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, 2008. USU Repository © 2009
Berdasarkan sistem hukum yang ada kedudukan konsumen sangat lemah dibanding produsen, salah satu usaha untuk melindungi dan meningkatkan kedudukan konsumen adalah dengan menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) dalam hukum tentang tanggung jawab produsen. Dengan diberlakukannya prinsip tanggung jawab mutlak diharapkan agar para produsen/industriawan Indonesia menyadari betapa pentingnya menjaga kualitas produk-produk yang dihasilkan, sebab besar resiko yang harus ditanggungnya. Para produsen akan lebih berhati-hati dalam memproduksi barang sebelum dilempar ke pasaran sehingga para konsumen baik dalam maupun luar negeri tidak akan ragu-ragu membeli barang produksi Indonesia. Demikian juga bila kesadaran para produsen/industriawan terhadap hukum tentang tanggung jawab produsen tidak ada, dikhawatirkan akan berakibat tidak baik terhadap perkembangan/eksistensi dunia industri nasional maupun pada daya saing produk-produk nasional, terutama di luar negeri.79
Adapun prinsip umum dalam perlindungan konsumen, seperti dikemukakan oleh Agus Brotosusilo, yang mengatakan bahwa prinsip yang mendasari pengaturan mengenai perlindungan konsumen haruslah prinsip keadilan dalam berinteraksi dan ber-interrelasi antara para pelaku usaha dan konsumen. Prinsip tersebut harus diimplementasikan dalam beberapa prasyarat wajib bagi perlindungan konsumen agar efektif. Prinsip-prinsip tersebut adalah:80 1. Strict Liability.
79 Muhammad Eggi H. Suzetta, Loc. Cit.
80 Endang Sri Wahyuni, Aspek Hukum Sertifikasi dan Keterkaitannya dengan Perlindungan
Sugondo : Tinjauan Mengenai Perlindungan Terhadap Konsumen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Dalam Kaitannya Dengan Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, 2008. USU Repository © 2009
Prinsip ini sangat efektif untuk melindungi konsumen, karena strict liability merupakan pertanggungjawaban yang tidak mendasarkan pada unsur-unsur kesalahan dari pelaku usaha sebagaimana layaknya penyelesaian perkara di pengadilan, tetapi mendasarkan pada risiko81
2. Diselenggarakannya peradilan cepat, sederhana dan berbiaya murah, serta small claim court untuk penyelesaian secara litigasi.
. Artinya, setiap risiko yang timbul dan diderita “karena korban pemakaian produk yang cacat”, akan mendapatkan ganti kerugian secara langsung dan seketika tanpa harus membuktikan kesalahan para pelaku usaha dari produk yang bersangkutan.
Menyadari posisi konsumen yang begitu lemah, maka apabila sengketa konsumen yang timbul mengenai ganti rugi yang nilainya kecil, ataupun konsumen sakit yang segera memerlukan pengobatan, adalah sungguh suatu hal yang tidak adil apabila konsumen diharuskan lagi untuk mengikuti proses pengadilan yang memakan waktu yang lama. Untuk itu, perlu diadakan pengaturan yang berbeda mengenai ganti kerugian dalam jumlah kecil atau besar, dimana untuk ganti kerugian dalam jumlah kecil harus diselenggarakan peradilan yang sederhana dan sifat putusannya final.
3. Reformasi terhadap beban pembuktian terbalik.
Mengingat perkembangan dalam industrialisasi sangat pesat dengan prasarana “high technology”, maka pemahaman teknologi pelaku usaha akan lebih baik dibandingkan dengan pemahaman konsumen, bahkan oleh hakimnya
81 Risiko berarti kewajiban untuk memikul kerugian jika ada suatu kejadian di luar kesalahan salah satu pihak yang menimpa benda yang dimaksudkan dalam kontrak. Dalam hal ini berarti kewajiban untuk memikul risiko itu berada pada salah satu pihak saja (Abdul R. Saliman (et.al.), Hukum Bisnis untuk Perusahaan, Teori & Contoh Kasus, (Jakarta : Kencana, 2005), hal. 42).
Sugondo : Tinjauan Mengenai Perlindungan Terhadap Konsumen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Dalam Kaitannya Dengan Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, 2008. USU Repository © 2009
sekalipun. Oleh karena itu, perlunya pengalihan beban pembuktian, dimana bukan lagi konsumen penggugat yang harus membuktikan unsur kesalahan pelaku usaha, tetapi pelaku usaha yang harus membuktikan dirinya tidak bersalah. Apabila ternyata pelaku usaha tidak mampu membuktikan dirinya tidak bersalah, maka otomatis ia bertanggung jawab dan wajib memberikan ganti rugi kepada konsumen penggugatnya. Selain itu, di dalam proses pembuktian sangat perlu untuk menghadirkan saksi ahli yang expert di bidangnya, dan juga harus adanya standar produk yang dapat dijadikan ukuran bagaimana produk yang baik.
Dua prinsip penting dalam UUPK yang diakomodasi adalah tanggung jawab produk (product liability/produk aansprakelijkheid) dan tanggung jawab profesional (legal liability). Tanggung jawab produk sebenarnya mengacu pada tanggung jawab produsen, dimana dasar gugatan untuk tanggung jawab ini adalah:82
Lain halnya dengan tanggung jawab produk, dimana tanggung jawab profesional lebih mengacu pada tanggung jawab hukum atas dipenuhinya jasa,
1) adanya pelanggaran jaminan (breach of warranty), 2) adanya kelalaian (negligence), dan
3) adanya tanggung jawab mutlak (strict liability).
83
baik yang termasuk kepada jasa yang diperjanjikan untuk menghasilkan sesuatu (resultaat verbintenis), ataupun jasa yang diperjanjikan untuk mengupayakan sesuatu (inspanning verbintenis).84
82 Shidarta, Op. Cit., hal. 80-81. 83 Ibid., hal. 82.
Sugondo : Tinjauan Mengenai Perlindungan Terhadap Konsumen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Dalam Kaitannya Dengan Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, 2008. USU Repository © 2009
Selanjutnya definisi tersebut di atas dapat dijabarkan atas bagian-bagian sebagai berikut:85
a. Tanggung jawab, meliputi baik tanggung jawab kontraktual/berdasarkan suatu perjanjian, maupun tanggung jawab perundang-undangan berdasarkan perbuatan melanggar hukum;
b. Para produsen, termasuk ini adalah produsen/pembuat, grosir (whole-saler), leveransir dan pengecer (retailer) profesional;
c. Produk, baik semua benda bergerak atau tidak bergerak/tetap;
d. Yang telah dibawa produsen ke dalam peredaran, yang telah ada karena tindakan produsen;
e. Menimbulkan kerugian, dimana segala kerugian yang ditimbulkan/disebabkan oleh produk dan kerusakan atau musnahnya produk;
f. Cacat yang melekat pada produk, dimana kekurangan pada produk yang menjadi penyebab timbulnya kerugian.