3. Kemitraan Sektor Publik dan Swasta
3.4 Prinsip-Prinsip Implementasi
Untuk menjamin bahwa PPP memberikan manfaat yang maksimal bagi sektor publik dan swasta, beberapa prinsip berikut perlu diamati, yaitu:
Modul 8 Pilihan Pendanaan TIK untuk Pembangunan 53 Pemindahan risiko – Menentukan alokasi risiko seputar layanan yang
akan dihasilkan.
Spesifikasi Keluaran – Lebih kepada rincian hasil layanan dibandingkan konfigurasi aset-aset kapital atau sumber daya masukan.
Kinerja aset seumur hidup – Kontrak harus menunjukkan kewajiban mitra swasta dalam menjamin kinerja aset untuk durasi penggunaan yang signifikan.
Penghargaan terkait kinerja yang berhubungan dengan:
o Keluaran dan ketersediaan
o Garansi terbatas atau tidak sama sekali untuk pembayaran o Penalti untuk kinerja yang buruk
Pengaturan pemutusan kontrak – Periode kemitraan harus dispesifikasikan, bersama dengan pengaturan pembuangan aset di akhir periode yang ditentukan.
Kontrak yang terancang baik untuk proyek PPP berfokus pada pendefinisian hasil dan keluaran terkait layanan dan bukan pada pengukuran masukan. Hal ini berarti bahwa hasil dari proyek PPP akan diukur melalui layanan yang dihasilkan, seperti membuat transportasi publik yang mengikuti standar layanan yang ditentukan, bukannya aset yang disediakan, seperti jumlah bus untuk transportasi publik.
Dasar hukum untuk PPP
Sebelum PPP dapat dijalankan, kita perlu menentukan dasar hukumnya. Aturan umumnya, PPP adalah kesepakatan kontrak yang dapat diakui di bawah hukum dan peraturan yang ada. Sistem peraturan yang berlaku di sektor dimana PPP akan dijalankan juga akan tetap berlaku. Dalam kasus proyek TIK, ini berarti bahwa peraturan dalam sektor telekomunikasi dan sektor energi berlaku. Hukum yang mengatur kompetisi juga akan berlaku. Karena PPP biasanya ditenderkan, maka hukum, peraturan, dan prosedur pengadaan juga akan berlaku.
Persyaratan lainnya ialah mencari tahu apakah PPP diperbolehkan oleh hukum. Bolehkah sebuah entitas negara mendirikan, mengoperasikan, dan merawat produk-produk TIK melalui entitas non pemerintah dengan basis kontrak? Apakah mungkin bagi negara untuk menyerahkan tugas eksekutif negara ke organisasi lain, termasuk operator swasta? Di Mongolia misalnya, LSM diperbolehkan mengeksekusi keputusan pemerintah. Dalam kasus ini, LSM bertanggung jawab kepada kementerian terkait.
Untuk PPP TIK, salah satu yang perlu dilihat adalah apakah hukum yang ada bersifat ‗e-compliant‘. Lebih spesifik lagi, apakah peraturan yang ada sejalan dengan kebutuhan e-commerce? Apakah kontrak elektronik, transaksi elektronik, dan tanda tangan dijital diperbolehkan? Apakah lembaga hukum yang ada bersifat e-neutral — artinya, semua provisi yang berada di bawah hukum diperbolehkan menggunakan transaksi elektronik sebagai pilihan. Seharusnya tidak ada keharusan untuk memproduksi dokumen dalam format fisik semata; format elektronik juga dimungkinkan dalam kondisi tertentu, yaitu dimana dokumen dapat ditandatangani dan disertifikasi secara elektronik.
Akademi Esensi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pimpinan Pemerintahan 54 Pertimbangan hukum lainnya ialah apakah layanan publik juga dapat disediakan secara elektronik.
Demikian pula, hukum harus memperbolehkan, atau tidak menghalangi, penyediaan layanan publik menggunakan model komersial.
Beberapa pertanyaan hukum lainnya yang perlu diklarifikasi dan dibuat konsisten dengan PPP adalah sebagai berikut:
Apakah ada persyaratan menurut hukum bahwa penyedia layanan PPP harus berlisensi? Persyaratan lisensi memungkinkan penerapan sebuah sistem pengaturan, atau cara untuk mengawasi dan mengatur operasi yang termasuk dalam PPP. Di sisi lain, ini juga dapat mengarah ke pengaturan yang berlebihan terhadap sebuah sektor, mengurangi kemampuan mitra swasta untuk berinovasi dalam memberikan layanan yang dibutuhkan, dalam mengembangkan sistem pembayaran yang akan digunakan — singkatnya, pengurangan kualitas PPP.
Apakah ada hukum yang mengatur e-payment? Ini adalah aspek e- commerce yang perlu ada jika opsi pembayaran elektronik akan dipertimbangkan. Ini juga diperlukan untuk menentukan apakah hukum mencakup penyediaan layanan e-service di bawah kesepakatan PPP. Demikian pula, perlu juga apa yang diperbolehkan oleh hukum perbankan. Walaupun banyak contoh PPP dapat ditemukan di negara maju dimana peran swasta terbangun dengan baik dan dimana terdapat hukum yang melindungi konsumen dan menjamin kompetisi yang seimbang, hal ini sulit ditemukan di banyak negara-negara transisi dan berkembang dimana sektor swasta belum terbangun dengan baik dan kapasitas pemerintah untuk mengembangkan dan mengatur PPP masih terbatas.
Sebagai titik awal untuk negara-negara tersebut, terdapat kebutuhan untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai kelebihan PPP termasuk juga kerugiannya. Banyak PPP merupakan peluang bersifat monopoli yang harus dikelola dan diatur dengan hati-hati untuk mencegah penyalahgunaan dan menjaga kepentingan publik. Mungkin juga terdapat kebutuhan untuk mendorong operator swasta domestik agar bermitra dengan investor asing. Ini untuk memperoleh transfer keahlian dan menyerap sumber daya finansial untuk menjamin agar PPP berjalan lancar. Dalam hal ini, PPP sama seperti investasi asing lainnya, dan perlu dijaga untuk menjamin agar perusahaan lokal dan juga investor asing mendapatkan manfaat dari kesepakatan PPP. Dengan begitu, negara menjamin tidak hanya bahwa sebagian keuntungan tetap berada di dalam negeri tetapi juga bahwa beberapa keahlian teknis dan manajerial diserap agar bermanfaat bagi negara tuan rumah.
Kesimpulan
Modul 8 Pilihan Pendanaan TIK untuk Pembangunan 55 Tabel 3. Beberapa prasyarat untuk PPP yang berhasil
Sumber: Rahzeb Chowdhury, ―PPPs in e-Government: Introduction to PPPs and commercial models‖ (dipresentasikan di Ulaanbaatar, Mongolia, 26 Juni 2007).
Latihan
Bentuklah kelompok yang terdiri dari 4-8 orang lalu diskusikanlah: 1. Proyek PPP apa saja yang telah berjalan di daerah Anda? 2. Apakah ada PPP yang telah dijalankan untuk proyek
implementasi e-government? Jelaskan.
3. Menurut pengalaman Anda, faktor apa saja yang mendorong dan/atau membatasi PPP di daerah Anda, khususnya dalam penerapan e-government?
Akademi Esensi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pimpinan Pemerintahan 56