B. Hasil Belajar
4. Prinsip- Prinsip Pendidikan Agama Islam
Pandangan Islam yang bersifat filosofi terhadap alam jagat, manusia , masyarakat, pengetahuan, dan akhlak secara jelas tercermin dalam prinsip-prinsip pendidikian islam. Dalam pembelajaran, pendidikan merupakan fasilitator. Ia harus mampu memberdayagunakan beraneka ragam sumber belajar. Dalam memimpin proses pembelajaran, pendidikan perlu memperhatikan prinsip-prinsip dalam pendidikan Islam dan senantiasa mempedomaninya, bahkan sejauh mungkin merealisasikannya bersama-sama dengan peserta didik. Adapun yang menjadi prinsip-prinsip pendidikan Islam adalah sebagai berikut :
1. Prinsip Integral dan seimbang a. Prinsip Integral
Pendidikan Islam tidak mengenal adanya pemisahan antara sains dan agama. Keduanya harus terinteraksi secara harmonis. Dalam ajaran islam, Allah adalah pencipta alam semesta termasuk manusia. Allah pula yang menurunkan hukum-hukum untuk mengelolah dan melestarikannya. Hukum-hukum mengenai alam fisik di sebut sunatullah, sedangkan pedoman hidup dan hukum-hukum untuk kehidupan manusia telah di tentukan pulah dalam ajaran Agama yang di sebut dinullah yang mencangkup akidah dan syariah.
Dalam ayat al-Qur’an yang pertama kali di turunkan, Allah memerintahkan agar manusia untuk membaca yaitu dalam QS
( Al Alaq ayat 1-5.)
bacalah dengan(menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.( Kementrian agama, 2003: 30 )
Dan di tempat lain di temukan ayat yang menafsirkan membaca tersebut, bacalah apa yang telah di wahyukan kepadamu seperti dalam firman Allah( QS,Al-ankabut : 45)
Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnyamengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(
Kementrian agama, 2003: 45 )
Di sini Allah memberikan penjelasan bahwa Al-Qur’an yang harus di baca. Ia merupakan Ayat yang di turunkan Allah ( ayat tanziliyah, qur’aniyah)selain itu,Allah memerintahkan agar manusia membaca ayat Allah yang berwujud fenomena-fenomena alam( ayat kauniyah, sunatullah),antara lain “katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi”
kemudian Kami selamatkan Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, Demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.( Kementrian agama, 2003: 103 )
Dari ayat-ayat di atas dapat di pahami bahwa Allah memerintahkan bahwa manusia membaca Al-Qur’an ( ayat-ayat quraniyah )dan fenomena alam( ayat kauniyah )tanpa memberikan tekanan terhadap salah satu jenis ayat yang di maksud. Hal itu berarti bahwa pendidikan alam harus di laksanakan secara terpadu( integral).
b. Prinsip Seimbang
Pendidikan Islam selalu memperhatikan keseimbangan di antara berbagai aspek yang meliputi keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara ilmu dan amal, urusan hubungan dengan Allah dan sesama manusia, hak dan kewajiban.
Keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat dalam ajaran Islam harus menjadi perhatian. Rasul diutus Allah untuk mengajar dan mendidik manusia agar mereka dapat meraih kebahagiaan kedua alam itu. Implikasinya pendidikan harus senantiasa di arahkan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Hal ini senada dengan firman Allah SWT ( QS-Qashas:77)
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.( Kementrian agama, 2003: 77)Dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran, pendidik harus memperhatikan keseimbangan dengan menggunakan pendekatan yang releven, selain mentransver Ilmu pengetahuan,pendidik perlu mengkondisikan
secara bijak dan profesional agar peserta didik dapat mengaplikasikan ilmu yang telah di dapat di dalam maupun di luar kelas.
2. Prinsip Bagian dari Proses Rububiyah
Qur’an menggambarkan bahwa Allah adalah kaliq, dan rabb Al-amin( pemelihara semesta alam ). Dalam proses penciptaan alam semesta termasuk manusia. Allah menampakkan proses yang memperlihatkan konsistensi dan keteraturan. Hal demikian kemudian di kenal sebagai aturan-aturan yang di terapkan Allah atau di sebut sunnatullah.
Sebagai Al-kailani yang di kutip oleh Bukhori Umar dalam bukunya menjelaskan, bahwa peran manusia dalam pendidikan secara telogis di mungkinkan karena posisinya sebagai makhluk, ciptaan Allah, yang paling sempurna dan di jadikan sebagai khalifatullah fi al-ardh.
Sebagai khalifah, manusia juga mengemban fungsi rubbubiyah Allah terhadap alam semesta termasuk diri manusia sendiri. Dengan pertimbangan tersebut dapat di katakan bahwa karakter hakiki pendidikan Islam pada intinya terletak pada fungsi rubbubiyah Allah secara praktis di kuasakan atau di wakilkan kepda manusia. Dengan kata lain, Pendidikan Islam tidak lain adalah keseluruhan proses dan fungsi rubbubiyah Allah terhadap manusiah,sejak dari proses penciptaan sampai dewasa dan sempurna
3. Prinsip Membentuk Manusia yang seutuhnya
Manusia yang menjadi objek pendidikan Islam ialah manusia yang telah tergambar dan telah terangkum dalam Al-Qur’an dan hadist. Potret manusia
dalam pendidikan sekuler di serahkan pada orang-orang tertentu dalam masyarakat atau pada seorang individual karena kekuasaannya, yang berarti di serahkan kepada angan-angan seseorang atau sekelompok orang semesta.
Pendidikan Islam dalam hal ini merupakan usaha untuk mengubah kesempurnaan potensi yang di miliki oleh peserta didik menjadi kesempurnaan aktual, melalui setiap tahapan hidupnya. Dengan demikia fungsi pendidikan Islam adalah menjaga keutuhan unsur- unsur individual peserta didik dan mengoptimalkan potensinya dalam garis keridhaan Allah.
Prinsip ini harus direalisasikan oleh pendidik dalam proses pembelajaran. Pendidik harus mengembangkan baik kecerdasan intelektual, emosional maupun spritual secara simultan.
4. Prinsip selalu Berkaitan dengan Agama
Pendidikan islam sejak awal merupakan salah satu usaha untuk menumbuhkan dan memantapkan kecenderungan tauhid yang telah menjadi fitrah manusia. Agama menjadi petunjuk dan penuntun ke arah itu. Oleh karena itu, pendidikan Islam selalu menyelenggarakan pendidikian Agama.
Namun, Agama di sini lebih kepada fungsinya sebagai sumber moral nilai.
Sesuai dengan ajaran islam pula, pendidikan Islam bukan hanya mengajarkan ilmu-ilmu sebagai materi, atau keterampilan sebagai kegiatan jasmani semata, melainkan selalu mengaitkan semuanya itu dengan kerangka praktik( amaliyyah) yang bermuatan nilai dan moral. Jadi, pengajaran Agama dan Islam tidak selalu dalam pengertian ( ilmu Agama) formal, tetapi dalam
pengertian esensinya yang bisa saja berada dalam ilmu-ilmu lain yang sering di kategorikan secara tidak proporsional sebagai ilmu sekuler.
5. Menjaga perbedaan Individual
Perbedaan individual antara seseorang manusia dengan orang lain terdapat dalam Al-Qur’an hadist (QS,Ar-Rum : 22).
dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.( Kementrian agama, 2003: 22 )
Perbedaan-perbedaan yang di miliki manusia melahirkan perbedaan tingkah laku karena setiap orang akan berbuat sesuai dengan keadaannya masing -masing.
6. Prinsip pendidikan Islam adalah Dinamis.
Pendidikan Islam menganut prinsip dinamis yang tidak beku dalam tujuan-tujuan, kurikilum dan metode-metodenya,tetapi berupaya untuk selalu memperbaharui diri dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.
Pendidikan Islam Seyogyakarta mampu memberikan respon terhadap kebutuhan-kebutuhan zaman, tempat dan tuntunan perkembangan dan
perubahan social. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip Pendidikan Islam yang memotivasi untuk hidup dinamis.