BAB I PENDAHULUAN
E. Prinsip-prinsip Pendidikan Islam dalam surat Al-alaq
1. Sederhana
Sederhana artinya berlaku sedang, di pertengahan, sehingga
tidak terdapat kesenjangan, sedap dan manis dipangan, enak di dengar.
Misalnya dalam hal makan, tidak terlalu kenyang dan tidak
kelewat sedikit. Inilah caranya makan minum Nabi kita. Bila
berpakaian, tidak terlalu mewah, dan tidak pula terlalu buruk. Inilah
cara pakaiannya sahabat umar bin khatabb. Sederhana dalam
membelanjakan harta seperti firman Allah: (surat al-furqon ayat 67).
Hidup Sederhana akan menjadikan hidup kita lebih bersahaja.
Hidup sederhana pula akan menghindarkan dai kebiasaan boros serta
sombong. Hidup sederhana bukan berarti hidup dengan serba
kekurangan. Tetapi hidup yang sederhana adalah hidup yang tidak
berlebih-lebihan tetapi tidak kekurangan. Orang memiliki kehidupan
sederhana akan mengambil yang telah menjadikan haknya, tidak akan
mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya. Karena orang yang
hidup sederhana tidak akan memiliki sifat yang serakah (Vincent
Purnomo, 2011:118).
Al-ghazali berkata: “semua manusia itu dalam kerugian, kecuali
orrang yang berilmu, orang berilmu juga rugi kecuai ia beramal, orang
beramal juga rugi, kecuali ia ikhlas dan orang yang ikhlas pun berad
di pinggir jurang. Sebab ikhlas itu dalam hati, sedangkan hati itu
mudah sekali bolak-baliknya seperti air sedang mendidih. Lihatlah air
mendidih, goyang terus tak ada diamnya. Barangkali begitu pulalah
hati, selalu goyang, goncang tak tetap tak punya pendirian. Begitulah
sulitnya menjaga ikhlas. Tapi kalau izin Allah, tentu mudah bagi siapa
yang dimudahkan-Nya dan dikehndakinya-Nya.‟‟
2. Ikhlas
Mengenai ikhlas ini banyak firan Allah menjelaskan dan sabda
Nabi SAW,. Kemudian definisi dari para ulama. Kesemuanya itu,
kami simpulkan dalam satu rangkuman kalimat: ikhlas ialah, bekerja
Nya. Jadi, beramal bukan karena memacu popularitas, ria, pujian dan
sanjungan, balas jasa dan sebagainya (Mahyudi Ibrahim, 1990:170-
171).
Ikhlas adalah suatu pekerjaan yang bersih dari maksud lain.
Amal ibadah dilakukannya hanya karena Allah semata. Tidak
menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi.
Konsentrasinya hanya satu, yakni bagaimana agar apa yang
dilakukannya diterima Allah SWT. Tidak terjebak pada rekayasa-
rekayasa. Karen Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apa
pun dari manusia. Dia maha tahu segalanya! Semakin jernih, semakin
bening, dan semakin bening, dan semakin bersih segala apa yang kita
lakukan atau semakin bersih segala apa yang kita lakukan atau
semakin seluruh aktifitas ditunjukan semata-semata karena Allah,
maka kekuatan Allahlah yang akan menolong. Buah dari keikhlasan
adalah ketentraman jiwa, ketenangan batin. Ini disebabkan karena dia
tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian,
penghargaan, atau diberi imbalan. Karena itu biasakanlah kalau
berbuat sesuatu kebaikan, kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja
di sisi Allah yang pasti aman. Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat,
nanti berkurang pahalanya (Abdullah Gymnastiar, 2001:73).
Menurut Al-Qusyairi Ikhlas berarti menjadikan Allah sebagai
sifat memperoleh pujian ataupun penghormatan dari manusia.
Ataupun konotasi kehendak selain taqarrub kepada Allah semata. (Al-
Allamah Al-Arif bin Allah Abi Al-Qasim Abdd Al-Karim (Abdullah
Gymnastiar, 2001:75).
3. Menuntut ilmu tanpa mengenal batas usia
Pendidikan seumur hidup tergambar secara implisit dalam surat
al-alaq yaitu tidak ada batasan yang kongkrit tentang kapan seseorang
harus memulai belajar dan sampai kapan. Tuhan hanya menjelaskan
bahwa manusia harus membaca dan belajar. Dengan demikian,
manusia perlu belajar sampai ajalnya tiba didalam surat al-alaq, tuhan
menginformasikan hasil kejadian manusia dari „alaq‟ dan setelah
diajari, mereka memperoleh ilmu pengetahuan (Erwati Aziz,
2003:29).
Agama Islam sangat memperhatikan pendidikan untuk mencari
ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan manusia bisa
berkarya dan berprestasi serta dengan ilmu, ibadah seserorang menjadi
sempurna. Begitu pentingnya ilmu, Rasulullah SAW mewajibkan
umatnya agar menuntut ilmu baik laki-laki maupun peempuan. Umat
Islam wajib menuntut ilmu yang selalu dibutuhkan setiap saat. Ia
wajib shalat, berarti wajib pula mengetahui ilmu tentang sholat.
Diwajibkan puasa, zakat, haji dan sebagainnya. Berbarti wajib pula
mengetahui ilmu yang berkaitan dengan puasa, zakat, haji, dan
ilmu berarti manusia mengetahui mana yang harus dilakukan mana
yang tidak boleh seperti berdagangan, batas-batas mana yang boleh
diperbuat dan mana yang dilarang. Menuntut ilmu tidak hanya terbatas
pada hal-hal keakhiratan saja tetapi juga tentang keduniaan. Jelaslah
kunci utama keberhasilan dan kebahagiaan, baik didunia maupun di
akhirat adalah ilmu.
Rasulullah bersabda :
ِْْٚ٤ََِؼَكْبََُْٔٛداَزأْ ََْْٖٓٝ،ِّْبِؼُْْبِثِْْٚ٤ََِؼَكَْحَسِخآلاَداَزأْ ََْْٖٓٝ،ِّْبِؼُْبِثِْْٚ٤ََِؼَكْبَ٤ُّْْٗدُادْاَزأْ َْٖٓ
ْ
ِِِْْْؼُْْبِث
Artinya:“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia maka
dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia
dan akhirat) maka dengan ilmu”.
Untuk kehidupan dunia kita memerlukan ilmu yang dapat
menopang kehidupan dunia, untuk persiapan di akhirat. Kita juga
memerlukan ilmu yang sekiranya dapat membekali kehidupan akhirat.
Dengan demikian, kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebagai tujuan
hidup InsyaAllah akan tercapai. Untuk memperoleh pengetahuan,
perlu ada usaha. Oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah meminta
umat Islam agar menuntut ilmu walaupun ke negeri cina.
Dianjurkannya memilih negeri cina pada saat itu, karena kemungkinan
peradaban cina sudah maju di lain hadist Rasulullah juga menegaskan
bahwa menuntut ilmu itu tidak mengenal batas usia :
Artinya: “tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat”.
Selanjutnya dijelaskan oleh Rasulullah bahwa para malaikat
membentangkan sayap-sayapnya kepada orang-orang yang menuntut
ilmu karena senangnya. Begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi
seseorang sehingga malaikat bangga dengannya. Disamping itu, para
penuntut ilmu dijanjikan oleh Rasullulah SAW akan diberikan
kemudahan jalan kesurga.
Seperti hadits dibawah ini :
ِْخَّ٘جُاْ٠َُإْبًّوْ٣ِسَغَُُُْْٚاللهََََّْٜظْ,بًِِّْٔػِْْٚ٤ِكُْطَِٔربَ٣ْبًّوْ٣ِسَغَْيََِظْ َْٖٓ
Artinya:“barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu
maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”.
(H.R Muslim). (Abdurrahman abdullah, 2001:77).
4. Metode Pembiasaan dan pengamalan
Pembiasaan dan pengamalan merupakan salah satu metode yang
diisyaratkan oleh Al-quran. Latihan dan ulangan yang merupakan metode
praktis untuk menghafalkan sesuatu ajaran termasuk dalam metode ini.
Didalam surat al-alaq metode ini disebut secara implisit, yakni secara
turunnya wahyu pertama (ayat1-5) jibril menyuruh nabi menguncapkan kata
iqra‟ (bacalah) dan nabi menjawab (saya tidak bisa membaca), lalu jibril mengulanginya lagi dan nabi menjawab dengan perkataan yang sama. Hal
ini terulang sampai tiga kali. Kemudian jibril membacakan ayat satu sampai
lima dan mengulanginya sampai beliau hafal dan tidak lupa lagi apa yang
disampaikan jibril tersebut. Metode pembiasaan dan pengulangan yang
digunakan Allah dalam mengajar rasulnya amat efektif sehingga apa yang
disampaikan kepadanya langsung tertanam dengan kuat di dalam kabulnya.
Inti pembiasaan sebenarnya adalah pengulangan terhadap segala sesuatu
yang dilaksanakan atau yang diuncapkan oleh seseorang. Hampir semua ahli
pendidikan sepakat untuk membenarkan pembiasaan sebagai salah satu
upaya pendidikan. Pembiasaan merupakan teknik pendidikan yang jitu,
walaupun ada kritik terhadap metode ini karena cara ini tidak mendidik
siswa untuk menyadari dengan analisis apa yang dilakukan. oleh karena itu
pembiasaan harus mengarah kepada kebiasaan yang baik (Anis ma‟shumah,