• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam

Prinsip berarti asas (kebenaran yang menjadi pokok dasar orang berpikir, bertindak dan sebagainya. Dagobert D. Runes mengartikan sebagai kebenaran yang bersifat universal yang menjadi dari sifat sesuatu. Apabila penulis mengaitkan dengan pendidikan, prinsip pendidikan dapat diartikan dengan

kebenaran yang universal sifatnya, yang dijadikan dasar dalam yang merumuskan perangkat pendidikan.

Dasar pendidikan Islam adalah al-qur‟an dan hadits-hadits Nabi SAW yang merupakan sumber pokok ajaran Islam. Al-Syaibani (1979: 56) memperluas lagi dasar tersebut mencakup ijtihad, pendapat peninggalan, keputusan-keputusan dan amalan-amalan para ulama terdahulu (al-shalaf al-shahih) dikalangan umat Islam. Ini berarti semua perangkat pendidikan islam haruslah ditegakkan di atas ajaran Islam, baik filsafat pendidikan Islam, teori maupun praktek.

Prinsip pendidikan Islam juga ditegakkan di atas dasar yang sama dan berpangkal dari pandangan Islam secara filosofis terhadap jagad raya, manusia, masyarakat, ilmu pengetahuan dan akhlak. Pandangan Islam terhadap masalah-masalah tersebut, melahirkan berbagai prinsip dalam pendidikan Islam.

Sementara itu, ada lima prinsip dalam pendidikan islam, yaitu:

1. Prinsip Pendidikan Islam Merupakan Implikasi dan Karakter (Ciri-ciri) Manusia Menurut Islam

Ajaran Islam mengemukakan empat macam ciri-ciri manusia yang membedakannya dengan makhluk yang lainnya yaitu:

a) Firah, agama yang diturunkan melalui Rasul-Nya adalah agama fitrah, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Rum ayat 30:

اافيِنَح ِني ِّلِن َمَ ْجَْو ْمِكَأَف اَ ْيَْلَع َساَّنما َر َطَف ِتَِّما ِ َّللّا َتَر ْطِف ۖ

َِّللّا ِقْلَخِم َلًِدْبَت َلَ ۖ ۖ

[ َنوُمَلْعًَ َلَ ِساَّنما َ َثَْنَآ َّنِكَٰ َمَو ُ ِّيَِلْما ُنيِّلا َ ِلََِٰذ ٠٣:٠٣

]

Artinya: “Dari itu, luruskanlah wajahmu dan menghadaplah kepada agama, jauh dari kesesatan mereka. Tetaplah pada fitrah yang Allah telah ciptakan manusia atas fitrah itu. Yaitu fitrah bahwa mereka dapat menerima tauhid dan tidak mengingkarinya. Fitrah itu tidak akan berubah. Fitrah untuk menerima ajaran tauhid itu adalah agama yang lurus. Tetapi orang-orang musyrik tidak mengetahui hakikat hal itu.” (QS. Al-Rum: 30)

Fitrah itu sesuai dengan watak manusia yang terikat perjanjian (mitsag), bahwa manusia menerima Allah sebagai Tuhan yang disembah. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al-A‟raf ayat 7:

ٍْلِعِب مِ ْيَْلَع َّن َّصُلَنَلَف [ َينِبِئاَغ اَّنُن اَمَو ۖ

٧:٧ ]

Artinya: “Bukankah aku ini Tuhanmu? Mereka (roh) menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (QS. Al-A’raf: 7)

Dengan demikian fitrah manusia adalah mempercayai adanya Allah SWT sebagai Tuhan. Fitrah manusia percaya kepada Tuhan berarti manusia mempunyai potensi aktualisasi sifat-sifat ke dalam diri manusia yang harus dipertanggungjawabkan sebagai amanah Allah dalam bentuk ibadah. Ibadah itu juga merupakan tujuan manusia diciptakan. Dalam firman Allah menegaskan:

َو َّنِجْما ُتْلَلَخ اَمَو [ ِنو ُدُبْعَيِم َّلَ ا َسو ِ ِ ْلَا

١٥:١٥

]

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku.” (QS. Al-Zariyat: 56)

b) Kesatuan roh jasad (wandah al-ruh wa al jism)

Manusia tersusun dari dua unsur yaitu roh dan jasad. Dari segi jasad sebagian karakteristik manusia sama dengan banatang, sama-sama memiliki dorongan untuk berkembang dan mempertahankan diri serta keturunan.

Namun dari segi roh manusia sama sekali berbeda dengan makhluk lain. Allah SWT berfirman:

َس اَذ اَف ِ [ َنيِد ِجا َس ُ َلَ اوُعَلَف ِحِوُّر نِم ِويِف ُتْخَفَهَو ُوُتًَّْو ٥١:٥٣

]

Artinya: “Maka apabila aku menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya roh (ciptaan Ku, maka tunduklah kamu kepada-Nya dengan bersujud.” (QS. AL-Hijr: 29)

Dengan roh yang ditiupkan kedalam diri manusia maka manusia hidup dan berkembang. Roh mempunyai dua daya, daya berpikir yang disebut aql dan daya rasa yang disebut qalb. Dengan daya aql manusia memperoleh

pengetahuan, memperhatikan dan menyelidiki alam sekitar. Dengan daya qalb manusia berusaha mendekatkan diri (taqarruh) sedekat mungkin dengan Tuhan. Dengan adanya aql manusia siap mengenal Allah, beriman dan beribadah kepada-Nya, memperoleh ilmu pengetahuan serta memanfaatkan untuk kesejahteraan hidup. Dengan adanya qalb, manusia dapat membedakan kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam diri manusia.

c) Manusia Memiliki Karakter Kebebasan Berkemauan/Berkehendak (hurriyah al-iradah) dalam segala aspek kehidupannya

Kebeasan sebagai karakteristik manusia meliputi berbagai dimensi seperti kebebasan dalam beragama. Berbuat, mengeluarkan pendapat, memiliki, berpikir, berekspresi dan sebagainya.

Sebagaimana Allah SWT menegaskan:

ِني ِّلا ِفِ َهاَرْن ا َلَ ِ ِّيَغْما َنِم ُد ْشُّرما َ َّينَبَّت دَك ۖ

ِدَلَف ِ َّللّ ِبً نِمْؤًَُو ِتوُغاَّطم ِبً ْرُفْكَي نَمَف ۖ

اَهَم َما َصِفها َلَ ٰىَلْثُوْما ِةَو ْرُعْم ِبً َم َسْمَت ْ سا [ ٌيِِلَع ٌعيِ َسَ ُ َّللّاَو ۖ

٥:٥١٥ ]

Artinya: “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam), sesuangguhnya telah jelas yang benar dan jalan yang salah.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Walaupun manusia diberi kebebasan akan tetapi kebebasan itu tidak mutlak dimana ia sanggup berbuat semaunya dalam masa dan tempat yang dikehendakinya. Kebebasan dalam Islam adalah kebebasan yang terkait oleh rasa tanggung jawab, tidak menghalangi kebebasan orang lain, nilai-nilai agama dan moral yang dianut masyarakat, undang-undang yang berlaku, kebersamaan dan keadilan serta akal logika.

2. Prinsip Pendidikan Islam adalah Pendidikan Integral dan Terpadu

Pendidikan Islam tidak mengenal adanya pemisahan antara sains dan agama. Penyatuan antara kedua system adalah tuntutan akidah Islam. Allah dalam doktrin ajaran Islam adalah Pencipta Alam Semesta termasuk manusia.

Dia pula yang menurunkan hukum-hukum untuk mengelola dan melestarikannya. Hukum-hukum mengenai fisik dinamakan Sunnah Allah.

Sedangkan pedoman hidup dan hukum-hukum untuk kehidupan manusia telah ditentukan pula dalam ajaran agama yang dinamakan Din Allah, yang mencakup akidah dan syariah. Baik alam fisik dengan aturannya (berupa Din Allah adalah sama-sama tanda Allah dan kebesaran Allah. Jadi sama-sama adanya Allah walaupun yang pertama didapatkan dalam alam semesta sedangkan yang kedua didapatkan didalam wahyu. Yang pertama, ayat-ayat al-kauniyah dan yang kedua dinamakan ayat al-tanziliyyah. Studi tentang ayat al-kauniyyah dilakukan dalam ilmu fisika, geologi, geografi, dan sebagainya.

Sedangkan studi tentang tata kehidupan manusia berupa pengembangan pengetahuan dari ayat-ayat al-tanziyyah), dilakukan dalam ilmu hukum, ilmu politik, sosiologi, psikologi, ilu ekonomi, antropologi, ekonomi, dan lain sebagainya yang tercakup dalam ilmu-ilmu social komunitas.

Dengan demikian semua cabang yang merupakan ilmu studi kedua jenis ayat-ayat Allah itu sebenarnya adalah ilmu-ilmu islami, asalkan disadari dan dilakukan dalam rangka pengembangan pemahaman ilmu pengetahuan.

3. Prinsip Pendidikan Islam adalah Pendidikan yang Seimbang

Pandangan islam yang menyeluruh terhadap semua aspek kehidupan mewujudkan adanya keseimbangan. Ada beberapa prinsip keseimbangan yang mendasari pendidikan Islam, yaitu:

a. Keseimbangan anatar kehidupan duniawi dan ukhrawi

Islam meletakkan beban kewajiban yang berat di atas pundak pendidikan Islam dalam makna yang sebenarnya. Sebab hasilnya baik ataupun buruk akan dirasakan oleh masyarakat sekarang dan generasi yang akan dating. Bentuk hasil itu akan berkisar dari yang gemilang yakni progress sampai kepada ekstrim lain yaitu Unnihilisasi. Progress atau kemajuan yang ingin dicapai pendidik Islam adalah kehidupan yang indah di dunia dan di akhirat.

Kemajuan yang ingin dicapai adalah pendidikan Islam tidaklah diukur dengan penguasaan atau supremasi atas kepentingan segala duniawi saja akan tetapi sampai dimana kehidupan duniawi memberikan asset untuk kehidupan di akhirat kelak.

Pendidikan islam berusaha mengembangkan semua aspek dan daya yang ada apada manusia secara seimbang. Dengan mengembangkan semua aspek seperti badan, akal dan qalb, pendidikan Islam bukan perperti pendidikan Yunani kuno yang menitikberatkan pendidikan fisik dan bukan seperti pendidikan agnotisme yang mengutamakan aspek kejiwaan dengan mematikan hasrat jasmani.

b. Keseimbangan antara jasmani dan rohani

Suatu kenyataan yang tidak bias diingkari bahwa manusia lahir di dunia dibekali dengan kecenderungan pembawaan daya imajinasi dan akal yang berbeda. Perbedaan ini dalam psikologi disebut al-farq al-fadiyah yang meliputi aspek fisik dan psikis (jasmani dan rohani). Pendidikan islam memperhatikan perbedaan fisik dan psikis seseorang sebagai salah satu factor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun program pendidikan. Pendidikan ini didasarkan atas pandangan filosofis bahwa tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah untuk menumbuhkembangkan aspek fisik dan psikis anak. Oleh sebab itu pendidikan islam bertanggungjawab dalam perkembangan setiap individu anak sesuai dengan tabiat masing-masing.

c. Keseimbangan antara individu dan masyarakat

Dari segi lain, pendidikan islam berusaha pulan mengembangkan aspek kemasyarakatan berupa kasih mengasihi, hormat menghormati sesama muslim. Perasaan seperti apabila sudah tertanam dalam jiwa seseorang dapat menimbulkan tindakan positif berupa tolong menolong menjauhkan segala sesuatu yang dapat merugikan orang lain.

4. Prinsip pendidikan adalah pendidikan yang universal

Prinsip ini maksudnya adalahpandangan yang menyeluruh pada aspek kehidupan manusia. Pendidikan Islam yang berdasarkan prinsip ini, bertujuan untuk menumbuhkan, mengembangkan, dan membangun segala aspek kepribadian manusia dan segala potensi dan dayanya. Juga mengembangkan segala sepi kehidupan dalam masyarakat, seperti social budaya, ekonomi, politik, dan berusaha turut serta menyelesaikan masalah-masalah masyarakat

masa kini dan bersiap menghadapi tuntunan-tuntunan masa depan dan memelihara sejarah dan kebudayaannya.

5. Prinsip pendidikan islam adalah pendidikan yang dinamis

Pendidikan Islam dalam prinsip ini tidak statis dalam tujuan materi, kurikulum media, dan metodenya tetapi ia selalu memperbaharui diri dan berkembang. Ia memberikan respon terhadap kebutuhan-kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan dan perubahan social yang tidak bertantangan dengan ajaran islam. Begitu juga ia memberikan respon terhadap kepentingan individu dan masyarakat dan syariat Islam memeliharanya, dan ia juga selalu memperbaharui untuk berkembang. Di antara cara-cara pembaharuan dalam pendidikan adalah dengan memperbanyak penelitian dan eksperimen dalam pendidikan, dan bersifat terbuka terhadap perubahan.

Pendidikan Islam berusaha mengadakan perubahan yang diinginkan oleh individu dan masyarakat. Pada hakikatnya pendidikan itu merupakan proses perubahan tingkah laku, oleh karena itu memerlukan kedinamisan.

Dokumen terkait