• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT KI HAJAR DEWANTARA"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

30 A. Pendidikan

1. Pengertian Pendidikan

(Pengertian Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara) – Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, 1889 – 1959) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti ( karakter, kekuatan bathin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya”.

Oleh sebab itu segala alat, usaha, dan cara pendidik harus sesuai dengan kodratnya keadaan yang tersimpan dalam adat istiadat setiap rakyat.(Dewantara, 2013:14-15).

Pendidikan hanya merupakan sebuah tuntunan, dimana pertumbuhan hidup anaj tidak ditentukan oleh khendak pendidik. Ki Hajar Dewantara menyarankan agar pendidik hanya menuntun pertumbuhan dan hidupnya agar dapat bertambah baik budi pekertinya. Ki Hajar Dewantara (2013: 42-43) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan adalah memajukan kesempurnaan hidup, yaitu kehidupan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Oleh sebab itu pendidik menuntun anak pada kehidupan yang selaras dengan alam dan masyarakat.

John Stuart Mill (filosof Inggris, 1806-1873 M) menjabarkan bahwa Pendidikan itu meliputi segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang untuk dirinya atau yang dikerjakan oleh orang lain untuk dia, dengan tujuan mendekatkan dia kepada tingkat kesempurnaan.

Pendidikan, menurut H. Horne, adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.

(2)

John Dewey, mengemukakan bahwa pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.

2. Macam-macam Pendidikan a. Pendidikan umum.

Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar menengah yang mengutamakan perluasa pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk mwlanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP, dan sekolah menegah keatas (SMA).

b. Pendidikan kejuruan.

Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk sutuan pendidikanya adalah sekolah menengah kejuruan (SMK). Jenis ini termasuk ke dalam pendidikan formal

c. Pendidikan akademik.

Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasdaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.

d. Pendidikan profesi.

Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk mamasuki suatu profesi atau menjadi seoarng profesional. Salah satu yang dikembangkan dalam pendidikan tinbggi dalam keprofesian adalah yang disebut program diploma, mulai dari D1 sampai bidang ilmu keahlian. Konsentrasi pendidikan profesi dimana para mahasiswa lebih diarahkan kepada minat menguasai keahlian tertentu.

(3)

e. Pendidikan vokasi

Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana

f. Pendidikan keagamaan

Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peran yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan menjadi ahli ilmu agama.

g. Pendidikan khusus.

Pendidikan khusus merupakan penyelengaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah 3. Ruang Lingkup Pendidikan

pendidikan dari segi cortaknya kepada 4 macam:

a. Ilmu pendidikan teoritis tertuju pada penyusunan peroalan dan pengetahuan sekitar pendidikan secara ilmiah, bergerak darpraktek ke penyusunteori.

b. Ilmu pendidikan praktis tertuju pada cara-cara bertindak bergerak dalam situasi pendidikan tertuju pada pelaksanaan realisasi cita-cita (ideal) yang telah tersusun dalam ilmu pendidikan teoritis.

c. Ilmu pendidikan sistematis memberikan pemikiran secara tersusun dan lengkap tentang masalah pendidikan. Membahas secara umum, abstrak dan objektif semua masalah pokok dalam pendidikan.

d. Ilmu pendidikan historis memverikan uraian teoritis tentang sistem pendidikan sepanjang zaman dengan mengingat latar belakang kebudayaan dan filsafat yang berpengaruh pada zaman tertentu.

(4)

Sementara dilihat dari segi teori pendidikan membagi menjadfi pendidikan 2 macam, yaitu sebagai berikut :

a. Teori Umum Pendidikan

1) Teori pendidikan preskritip teroi ini adalah seperangkat konsep tentang keseluruhan aspek pendidikan, yang penyajian konsep-konsepnya bertujuan menerangkan bagaimana atau seharusnya pristiwa-pristriwa pendidikan diselenggarakan. Teori pendidikan dalan kelompok ini adalah filsafsat pendidikan.

2) Teori umum pendidikan deskriptif teori adalahseperangkat konsep tentang keseluruhan aspek pendidikan yang penyajianya konsep konsepnya bertujuan menerangkan bagaimana pristiwa-pristiwa pendidikan telah dan sedang terjadi dalam masyarakat.

b. Teori Khusus Pendidkan

1) Teori khusus pendidikan preskriptif teori ini adalah konsep tentang suatu aspek yang penyajianya bertujuan menjelaskan bagaimana seharusnya sesuatu kegiatan pendidikan dilakukan. Teori pendidikan yang termasuk dalam kategori ini adalah teknologi pendidikan.,

2) Teori khusus pendidikan deskritif teori ini adalah seperangkat konsep tentang suatu aspek pendidikan, yang penyajian konsepnya bertujuan bagaimana pristiwa pendidikan telah, sedang dan diperkirakan terjadi dalam masyarakat teori pendidikan yang termasuk dalam kelompok ini adalah ilmu-ilmu pendidikan

B. Pendidikan Islam

1. Pengertian Pendidikan Islam

Menurut Abuddin Nata (2010: 36) Pendidikan Islam adalah pendidikan yang seluruh komponen atau aspeknya didasarkan pada ajaran Islam. Visi, misi, tujuan, proses belajar mengajar, pendidik, peserta didik, hubungan pendidik dan peserta didik, kurikulum, nahan ajar, sarana prasarana, pengelolaan, lingkungan dan aspek atau komponen pendidikan

(5)

lainnya didasarkan pada ajaran Islam. Itulah yang disebut dengan pendidikan Islam, atau pendidikan yang islami.

Pendidikan secara bahasa berasal dari kata dasar didik yang berarti memelihara dan memberi latihan mengenal akhlak dan kecerdasan pikiran.

(Qonita Alya, 2009:157) Dari kata dasar didik yang mendapat awalan pe dan ahiran an yang berarti ajaran, tuntunan, pimpinan. (Suryani, 2012: 136) Berdasarkan pengertian pendidikan secara bahasa di atas, menurut Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan NasionalPasal 1 ayat 1 maka pendidikan berarti sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan berarti upaya atau proses yang berorientasi pada transformasi nilai. (Faisal Ismail, 1996: 28) Bilamana kita menyimak apa yang dikemukakan Plato lewat perumpamaan tentang gua, maka sesungguhnya pendidikan itu adalah proses yang ditempuh seseorang yang keluar dari gua, sehingga iamengetahui akan kebenaran, oleh karena diluar gua ia sanggup melihat realitas yang sebenarnya. Jadi pendidikan itu sebenarnya merupakan suatu tindakan pembebasan, dalam hal ini pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. (J.H. Raper, 1988: 110)

Dari definisi pendidikan diatas, pendidikan secara umum memiliki kata kunci tentang “proses dan manusia”. Hal ini menggambarkan bahwa obyek sekaligus subjek pendidikan adalah manusia itu sendiri. ketika mendefinisikan hakikat manusia, yaitu ia ingin tahu dan untuk itu harus ada orang yang membantunya yang bertindak sebagai bidan yang membantu bayi keluar dari rahimnya. (Ahmad Tafsir, 2008: 9)

Pendidikan menurut tokoh pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara, sebagaimana dikutip oleh Azyumardi Azra, pendidikan pada

(6)

umumnya daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intelek), dan jasmani anak-anak, selaras dengan alam dan masyarakatnya. (Azyumardi Azra, 2012: 5)

pengertian pendidikan Islam menurut Zakiyah Daradjat, sebagaimana dikutip oleh Umiarso, adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. (Umiarso & Zamroni, 2011: 90)

Beberapa definisi pendidikan Islam menurut para pakar pendidikan yang lain, seperti menurut Ahmad. D. Marimba, sebagaimana dikutip oleh Abd. Rahman, adalah bimbingan jasmani-rohaniberdasrakan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran Islam.

Demikian juga pendidikan Islam menurut Abdurahman Nahlawi, sebagaimana dikutip oleh Nur Uhbiyanti, adalah pengaturan pribadi dan masyarakat yang karenanya dapatlah memeluk Islam secara logis dan sesuai secara keseluruhan, baik dalam kehidupan individu maupun kolektif. (Nur Uhbiyati, 1998: 9)

Hasan Langgulung, sebagaimana dikutip oleh Muhaimin, mendefinisikan pendidikan Islam dapat ditinjau dari tiga pendekatan, pertama menganggap pendidikan sebagai pengembangan potensi. Kedua, cenderung melihatnya sebagai pewarisan budaya. Ketiga, menganggap sebagai interaksi antara potensi dan budaya. (Muhaimin, 2010: 67) Berkaitan dengan budaya, teori tentang budaya dapat disederhanakan menjadi dua kelompok besar, yaitu organisasi makna dan system adaptasi.

Pendidikan Islam merupakan suatu proses yang berlangsung secara kontinue dan berkesinambungan. Berdasarkan hal ini, maka tugasdan fungsi Pendidikan Islam yang perlu diemban adalah pendidikan manusia seutuhnya dan berlangsung sepanjang hayat.

Oleh karena itu, konsep Pendidikan Islam harus menawarkan beberapa hal, antara lain:

a. Karena bersumber dari kebenaran ilahiah, maka ia menawarkan kesempurnaan dan keutamaan hidup sekaligus terbebas dari kekurangan.

(7)

b. Meliputi segenap aspek kehidupan manusia.

c. Berlaku universal, tidak terbatas hanya pada bangsa tertentu.

d. Berlaku sepanjang masa, tidak dibatasi oleh musim atau saat-saat tertentu saja.

e. Sangat sesuai dengan fitrah kemanusiaan, bahkan menyiapkan pengembangan naluri-naluri kemanusiaan hingga tercapainya kebahagiaan yang hakiki.

f. Memberikan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan pada aspek kemanusiaan. (Adi Sasono, 1998: 88)

Merujuk pengertian pendidikan Islam menurut beberapa ahli pendidikan Islam di atas, pendidikan Islam merupakan proses edukasi untuk manusia yang secara integral berorientasi pada ranah intelektual (al-„Aql) yang akan mengasah kemampuan kognisi dalam menganalisis dan berpikir manusia tentang dirinya dan alam, emosioanl (An-Nafs) yang akan membentuk ranah afektif dalam sikap atau moral dan keterampilan atau skill manusia dalam menjalani hidup bermasyarakat, dan spiritual (Ar-Ruh) yang akan melandasi segala perbuatannya berdimensikan ketuhanan yang bernfaskan Islam.

Secara estimologis kata pendidikan berasal dari kata “didik” yang mendapat awalan “me” sehingga menjadi “mendidik” yang berarti memelihara dan meberi latihan. Dalam al-quran dan Hadits sebagai sumber utama ajaran agama islam dapat ditemukan istilah-istilah yang pengertiannya terkait dengan pendidikan yaitu al-Tarbiyah, al-Ta’dib dan al-Ta’lim dari ketiga istilah tersebut menurut mayoritas ahli pendidikan Islam konsep yang paling tepat pendidikan Islam adalah al-Tarbiyah.

a. Al-Tarbiyah

Kata kerja Rabba yang masdarnya tarbiyyatan memiliki beberapa arti, antara lain mengasuh, mendidik, dan memelihara. Disamping kata rabba ada kata-kata yang serumpun dengan rabba, yang berarti memiliki,

(8)

pemimpin, memperbaiki dan menambah. Rabba juga berarti tumbuh dan berkembang (Achmadi, 2005: 25).

Dilihat dari asal bahasa al tarbiyah mempunyai tiga asal kata pertama, kata tarbiyah berasal dari kata “raba-yarbu” yang berarti “zada wa nama”

bertambah dan tumbuh. Hal ini terlihat dalam firman Allah surat ar-Rum (30): 39

َِّللّا َدنِع وُبْرَي َلََف ِساَّنما ِلاَوْمَآ ِفِ َوُبَْيَِّم ابً ِّر نِّم ُتُْيَتٓآ اَمَو َنو ُدًِرُت ٍة َكََز نِّم ُتُْيَتٓآ اَمَو ۖ

[ َنوُفِع ْضُمْما ُ ُهُ َمِئَٰ َموُأَف ِ َّللّا َوْجَو ٠٣:٠٣

]

Artinya: Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.

Kedua, kata al-Tarbiyah berasal dari kata “rabba-yarba” berarti masyaa wa tara‟ra‟a, tumbuh dan kembang.

Ketiga, kata at tarbiyah berasal dari kata “rabba-yarubbu” berarti asiahhu, tawallaamrahu, sasahu, qama „alaihiwaraahu” memperbaiki, menguasai urusan, menuntut, menjaga dan memelihara.

Dalam konteks yang luas, pengertian pendidikan yang dikandung dalam istilah at-Tarbiyah terdiri dari atas empat unsur pendekatan, yaitu:

1) Memelihara pertumbuhan fitrah manusia

2) Mengarahkan perkembangan fitrah manusia menuju kesempurnaannya

3) Mengeembangkan potensi insani (sumber daya manusia) untuk mencapai kualitas tertentu

4) Melaksanakan usaha-usaha tersebut secara bertahap sesuai dengan irama perkembangan anak (Achmadi, 2005:27)

Berdasarkan pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa pendidikan yang dikandung dalam istilah al-tarbiyah adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk mengembangkan fitrah dan potensi dirinya agar mencapai kualitas yang lebih sempurna dari sebelumnya secara bertahap sesuai dengan perkembangan anak didik.

(9)

Dalam islam agama disebut “ad din”, berarti kepatuhan, ketaatan. Dalam bahasa inggris disebut religi berarti kepercayaan dan penyembahan kepada tuhan.

“Dienullah” berarti agama Allah. Tujuan agama Islam membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik, sejahtera, damai, tentram, di dunia dan akhirat. Dan membebaskan manusia dari kehidupan sesat.

b. Ta‟lim

Pengertian ta’lim sebagai suatu istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pendidikan dikemukakan oleh para ahli, antara lain dapat dilihat sebagai berikut.

1. Abdul fatah Jalal mengemukakan bahwa ta’lim adalah proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penananman amanah, sehingga terjadi penyucian (tazkiyah) atau pembersihan diri manusia dari segala kotoran yang menjadikan diri manusia itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya.

2. Syaikh Muhammad An-Naqib Al-Attas memberikan makna at-ta’lim dengan pengajaran tanpa pengenalan secara mendasar. Namun, apabila at-ta’lim disinonimkan dengan at-tarbiyah, at-ta’lim mempunyai makna pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuah system.

3. Muhammad Athiyah Al-Abrasyi mengemukakan pengertian at-ta’lim yang berbeda daei pendapat-pendapat di atas. Beliau menyatakan bahwa at-ta’lim lebih khusus dari pada at-tarbiyah karena at-ta’lim hanya merupakan upaya menyiapkan individu dengan mengacu kepada aspek-aspek tertentu saja, sedangkan at-tarbiyah mencakup keseluruhan aspek-aspek pendidikan.

Memahami pernyataan di atas dapat dikemukakan bahwa konsep ta‟lim lebih mengarah pada pelatihan-pelatihan bukan pada pendidikan, adapun pelatihan itu bias dilakukan oleh siapa saja termasuk hewanpun bias, sedangkan pendidikan hanya bias dilakukan oleh manusia. Dalam konsep ta’lim siswa tidak dituntut

(10)

untuk tidak terlibat langsung dalam mengatasi pelbagai masalah dengan tenaga pikirannya karena pada konsep ta’lim guru mentransfer ilmu menurut metode yang disukainya. Jadi jelasnya konsep ta’lim lebih mengarah pada pengajaran bukan pada pendidikan.

c. Ta‟dib

Ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur- angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing kea rah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya (Bukhari Umar, 2010: 26).

kata kerja addaba yang masdarnya ta‟diban dapat diartikan mendidik yang secara sempit mendidik budi pekerti dan secara lebih luas meningkatkan peradaban (Ahmadi, 2005: 25) hal ini terlihat dalam sabda Rasulullah SAW. Sebagai berikut:

Artinya : “Tuhanku telah mendidik, maka baguskanlah pendidikanku (HR.

As-Samani)

Konsep tarbiyah adalah konsep yang paling tepat untuk pendidikan Islam dibandingkan istilah ta’lim (yang berarti pengajaran, instruction), dan ta‟dib (yang berarti pendidikan khusus dan menurut Al-Attas Pendidikan), mengingat cakupan yang dicerminkan lebih luas, dan bahkan istilah tarbiyah sekaligus mengimplikasikan makna dan maksud yang dicakup istilah ta‟lim dan ta‟dib.

Istilah tarbiyah dan ta‟lim dari segi makna istilah maupun implikasinya memiliki perbedaan mendasar, mengingat dari segi makna istilah tarbiyah berarti mendidik, sementara ta‟lim berarti mengajar. Mendidik berarti berarti mempersiapkan peserta didik dengan segala macam cara, supaya dapat mempergunakan tenaga dan bakatnya dengan baik, sehingga mencapai kehidupan yang sempurna dimasyarakat. Sedangkan ta‟lim (mengajar) guru mentransfer ilmu pandangan atau pikiran kepada peserta didika menurut metode yang disukai, sedangakan dalam tarbiyah peserta didik turut terlibat membahas, menyelidiki,

(11)

mengupas, serta memikirkan soal-soal yang sulit dan mencari jalan untuk mengatasi kesulitas itu dengan tenaga dan pikirannya sendiri. Oleh sebab itu, ta‟lim merupakan bagian dari tarbiyah.

Dari beberapa ketiga istilah di atas, penulis menyimpulkan dari ketiga istilah tersebut yaitu al-Tarbiyah, al-Ta’dib dan al-Ta’lim ialah merupakan himpunan yang saling berkaitan artinya tidak bias dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, karena jika istilah ta‟dib mengandung pengertian pendidikan maka harus diperlukan pengajaran (ta’lim) agar memperoleh ilmu pengetahuan dan agar ilmu pengetahuan dapat dipahami, dihayati da diamalkan maka diperlukan adanya bimbingan (tarbiyah) jika ketiga istilah tersebut dikembangkan dalam dunia pendidikan maka pendidikan Islam akan dapat terealisasi dengan sempurna.

2. Tujuan Pendidikan Islam

Allah menciptakan alam semesta ini dengan tujuan yang jelas. Dia menciptakan manusia dengan tujuan untuk menjadi khalifah di muka bumi melalui ketaatan pada-Nya untuk mewujudkan tujuan itu. Allah memberikan hidayah serta fasilitas alam kepada manusia. Konsep tentang alam semesta memperjelas tujuan dasar keberadaan manusia dimuka bumi ini, yaitu penghambaan, ketundukan kepada Allah, dan kekhalifaanya di muka bumi ini Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam adalah merealisasikan penghambaan kepada Allah dalam kehidupan manusia, baik secara individual maupun secara sosial.

Secara umum, tujuan pendidikan islam terbagi kepada: tujuan umum, tujuan sementara, tujuan akhir dan tujuan oprasional. Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi jumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam sebuah kurikulum. Tujuan akhir adalah tujuan yang dikehendaki agar peserta didik menjadi manusia-manusia sempurna setelah ia menghabiskan sisa umurnya. Sementara tujuan oprasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu

(12)

Menurut Fatiyah Hasan Sulaiman (1986:86) menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam dapat diklarifikasi kepada:

a. Membentuk insan purna yang pada akhirnya dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT

b. Membentuk insan purna untuk memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akherat.

Menurut Omar Muhammad Al Toumy (1979:339) tujuan pendidikan mempunyai tahapan-tahapan sebagai berikut:

a. Tujuan individual, tuijuan ini berkaitan dengan masing-masing individu dalam mewujudkan perubahan yang diinginkan pada tingkah laku dan aktifitasnya, disamping itu mempersiapkan mereka dapat hidup bahagia baik dunia maupun akhirat.

b. Tujuan sosial, tujuan ini berkaitan dengan kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan dan tingkah laku mereka secara umum, disamping juga berkaitan dengan perubahan dan pertumbuhan kehidupan yang diinginkan serta memperkaya pengalaman dan kemajuan.

c. Tujuan profesional, tujuan ini berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai sebuah ilmu, sebagai seni dan sebagai profesi serta satu aktifitas diantara aktifitas masyarakat.

Darin rumusan tujuan pendidikan islam di atas, dapat disimpulkan bahwa ini dari tujuan pendidikan Islam tersebut terfokus pada, terbentuknya kesadaran terhadap hakikat dirinya sebagai manusia hamba Allah yaang diwajibkan menyembah kepada-Nya. Mulai dari kesadaran ini pada hakikatnya ia akan berusaha agar potensi dasar keagamaan (fitrah) yang ia miliki dapat tetap terjaga kesuciannya sampai akhir hayatnya.

3. Ruang Lingkup Pendidikan Islam

Dalam konstitusi negara Indonesia dikatakan bahwa, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang

(13)

meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

Untuk melaksanakan amanat ini, melalui proses yang panjang akhirnya pada tanggal 11 Juni 2003 disahkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dalam sidang paripurna DPR-RI, dan pada tanggal 18 Juli 2003 ditandatangani oleh Presiden, dengan nomor 20 tahun 2003.

(Departemen Agama RI, 2003: 25)

Dalam UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan Islam merupakan sekumpulan ide-ide dan konsep intelektual yang tersusun dan diperkuat melalui pengalaman dan pengetahuan.

(Moh. Haitami & Syamsul Kurniawan, 2012: 16) dan memiliki ciri yang berorientasi makro, berskala universal, dan bersifat deduktif normatif. (S.

Lestari & Ngatini,, 2010: 2-16) Sehingga ruang lingkup pendidikan Islam sangat luas, tidak hanya menyangkut landasan ideal dan dasar pendidikan Islam, melainkan secara operasional.

Ruang lingkup pendidikan di dalam pandangan Islam tidak hanya terbatas pada pendidikan agama dan tidak pula terbatas pada pendidikan duniawi saja, tetapi setiap individu dari umat Islam supaya bekerja untuk agama dan dunia sekaligus.(M. Athiyah al-Abrasyi, 1993: 2)

Menurut Deswati dan Linda Herdis, ruang lingkup pendidikan Islam yaitu; segi sifat, corak kajian (histories dan filosofis) , dan segi komponennya yang meliputi; tujuan, kurikulum, proses belajar-mengajar, guru, murid, manajemen, lingkungan, sarana dan pra sarana, biaya dan evaluasi. Adapun

(14)

komponen tujuan pendidikan Islam secara teoritis dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu tujuan normatif, tujuan fungsional, dan tujuan operasional.

Menurut Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, ruang lingkup ilmu pendidikan Islam adalah pengertian, sumber, dan dasar pendidikan Islam, perpekstif Islam tentang ilmu, perpekstif Islam tentang manusia, perpekstif Islam tentang tujuan pendidikan, perpekstif Islam tentang pendidik dan peserta didik, perpekstif Islam tentang sarana dan prasarana pendidikan, perpekstif Islam tentang kurikulum pendidikan, perpekstif Islam tentang strategi, pendekatan, dan metode pendidikan, perpekstif Islam tentang evaluasi pendidikan, dan perpekstif Islam tentang lingkungan pendidikan.

Islam merupakan suatu agama yang diturunkan Allah SWT kepada umat manusia melalui para Rasul-Nya, sejak dari Nabi Adam AS sampai kepada Nabi Muhammad SAW, ajaran itu berwujud prinsip-prinsip atau pokok yang disesuaikan menurut lokasi atau keadaan umatnya. Pada masa Nabi Muhammad SAW prinsip-prinsip atau pokok itu di sesuaikan dengan kebutuhan umat manusia secara keseluruhan , yang dapat diturunkan melalui Nabi Muhammad itu merupakan ajaran yang melengkapi atau menyempurnakan ajaran yang di bawa nabi_nabi sebelumnya.

Ajaran islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT berisi pedoman hidup pokok yang mengatur hubungan manusia dengan tuhannya, dengan dirinya sendiri, dengan manusia sesamanya, dengan makhluk bernyawa yang lain, dengan benda mati, dan derngan alam semesta.

Ajaran islam diyakini sebagai ajaran yang di turunkan Allah SWT untuk kesejahtraan hidup manusia di dunia ini dan di akherat nanti.

Setiap materi ajar selalu mempunyai karakteristik yang berkaitan erat dengan tujuan pengajaran, tidak terkecuali mata ajar pendidikan islam.

Adapun karakteristik pendidikan agama islam antara lain:

a. Pendidikan agama islam mempunyai dua sisi kandungan, di umpamakan sebuah mata uang yang mempunyai dua muka. Pertama, sisi keyakinan yang merupakan Wahyu ilahi dan Sunah Rasul, bersikan hal-hal yang

(15)

mutlak dan berada diluar jangkauwan indra dan akal. Pada tataran ini, wahyu dan sunah berfungsi memberikan petunjuk dan mendekatkan jangkauwan akal budi manusia untuk mengetahui dan memahami segala hakekat kehidupan. Kedua, sisi pengetahuan yang berisikan hal-hal yang mungkin dapat di indra dan di nalar, pengalaman-pengalaman yang terlahir dari fikiran dan prilaku para memeluknya. Sisi pertama lebih menekankan pada kehidupan akherat dan sisi kedua lebih menekankan pada kehidupan dunia.

b. Pendidikan islam bersifat doktrinal, memihak, dan tidak netral. Ia mengikuti garis-garis yang jelas dan pasti, tidak dapat di tolak dan ditawar.

Ada keharusan untuk berpegang pada ajaran selama hayat dikandung badan

c. Pendidikan agama islam merupakan pembentukan akhlak yang menekankan pada pembentukan hati nurani dan penanaman sifat-sifat ilahiyah yang jelas dan pasti, baik dalam hubungan manusia dengan maha pencipta, dengan sesamanya maupun dengan alam sekitar.

Di samping karakter pendidikan islam seperti disebutkan di atas, ia juga harus mencerminkan setidaknya empat nilai, yaitu: nilai material, nilai formal, nilai fungsional dan esensial.

Nilai aterial ialah jumlah pengetahuan agama islam yang diajarkan.

Semakin lama anak didik belajar semakin bertambah ilmu pengetahuan agamanya. Pertambahan pengetahuan agama pada anak didik tersebut berlangsung melalui proses pembelajaran tingkat demi tingkat dalam suatu jenjang pendidikan. Ilmu agama islam dari sisi aspek pengajaran agama islam, pertambahan ilmu agama islam berarti pertambahan makna pada setiap aspeknya. Semakin bertambah ilmu pengetahuan agama, maka diharapkan semakin meningkat pemahaman beragama anak didik sampai pada semangat dan upaya untuk mencapai keridhaan Allah SWT

(16)

Nilai formal adalah nilai pembentukan yang berkaitan dengan daya sarap anak didik atas segala bahaya telah diterimanya. Hal itu berarti sejauh manakah daya anak didik dalam membangun kepribadian yang utuh, kokoh dan tahan uji

Nilai fungsional adalah relefansi bahan ajar dengan kehidupan sehari- hari. Jika bahan itu mengandung kegunaan dan dapat dipakai atau berfungsi dalam kerhidupan keseharian, maka itu berarti mempunyai nilai fungsional.

Dengan demikian, pendidikan Islam memiliki ruang lingkup yang luas dan lintas dimensi, yaitu dimensi di dunia dan di akhirat, urusan dunia sekaligus urusan akhirat. Oleh karena itu, ruang lingkup pendidikan Islam yang mengandung aspek definisi, landasan dan sumber pendidikan, tujuan pendidikan, hakikat manusia dan alam, serta perangkat kasar seperti sarana dan prasarana penunjangnya, yang keseluruhannya itu bersumber dari nilai- nilai Islam yang universal.

C. Prinsip-Prinsip Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Lahir dan berkembangnya suatu gerakan, organisasi sebagai suatu kenyataan sejarah erat kaitannya dengan pengalaman masa lalu, keadaan masa yang dihadapinya, serta kepentingan masa depan yang menjadi cita-citanya.

Karena sejarah itu sendiri, menurut Edwar Hallet Carr, adalah

Yang berkesinambungan dalam interaksi masa lalu dan masa kini. Dalam ruang lingkup lingkungan dan peristiwa sejarah itu pula terbentuk suatu kondisi, yang tentunya ikut memberikan pengaruhnya terhadap Taman Siswa, terutama kepada Ki Hajar Dewantara sebagai pendidrinya. Paling tidak lingkungan keluarga dan pengalaman semasa di pengasinannya di negeri Belanda, diperkirakan turut memberi andil dalam peranan dan aktivitas Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara cenderung setuju dengan unsur-unsur kebudayaan asing yang bermanfaat dan bernilai positif, ia mengatakan:

(17)

Dalam kita menerima dan menggunakan kebudayaan orang asing, kita harus bersikap selektif atau memilih. Memilih apa yang baik dan bermanfaat bagi hidup dan penghidupan kita. Kita pilih apa saja dari kebudayaan asing itu yang dapat memajukan dan memperkaya kebudayaan bangsa kita sendiri. Agar kebudayaan itu tidak mundur dan mati, maka kita tidak boleh mengisolasi kebudayaan tersebut, tetapi harus ada hubungan antara kebudayaan dengan kodrat dan masyarakat. Selanjutnya agar kebudayaan itu dapat dimajukan dan diperkaya maka diperlukan adanya harus berupa lanjutan langsung dari kebudayaan sendiri (kontinuitas), menuju kea rah kesatuanb kebudayaan dunia (konvergen) dan tetap mempunyai sifat kepribadian dalam lingkungan kemanusiaan sedunia.

Kontinuitas, konvergen, dan konsentrisitas ini merupakan asas “Tri kon”. Ki Hajar Dewantara menganjurkan agar kita lebih baik menggutamakan “asimilasi”

daripada “asosiasi”. Artinya kita memilih atau mengambil bahan-bahan kebudayaan dari luar tetapi kita sendiri yang memasak bahan-bahan itu hingga masakan baru yang lezat rasanya bagi kita dan menyehatkan hidup kita.

Prinsip yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara tersebut menggambarkan sifat keterbukaan Taman Siswa dalam menerima pengaruh luar yang bersifat tidak merugikan dan tidak pula mengorbankan prinsip dasar serta tujuan yang akan dicapai. Di dalamnya tertulis bahwa pendidikan Taman Siswa berasal dari berbagai sumber ide yang dinilai bermanfaat dan layak untuk dimasukkan sebagai acuan system pendidikan yang dicita-citakan.

Dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, perguruan Taman Siswa memberikan saham besar kepada pendidikan nasional dan boleh dikatakan semua prinsip Taman Siswa telah tercakup didalamnya, diantaranya istilah “Tut Wuri Handayani” yang berarti tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada anak didik untuk berjalan sendiri.

Untuk melengkapi penjelasan mengenai prinsip pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yang jelas dan rinci, yaitu terdiri asas:

1. Seseorang itu merdeka untuk mengatur dirinya sendiri dengan wajib mengingat kedamaian dan ketertiban dalam kehidupan bersama, hendaknya setiap anak dapat berkembang menurut kodrat atau bakatnya. Perintah dan hukuman dalam

(18)

mendidik anak ditiadakan, akan tetapi mereka dididik dengan system among atau Tut Wuri Handayani.

2. Asas kemerdekaan dalam cipta, rasa dan karsa. Pendidikan harus membimbing anak menjadi manusia yang dapat mencari sendiri pengetahuan dan penggunaan pikiran, perasaan dan kemauan.

3. Asas kebudayaan sendiri. Pendidikan harus didasarkan atas kebudayaan Indonesia sendiri agar peserta didik jangan cepat terpengaruh oleh kebudayaan yang datang dari luar.

4. Asas kerakyatan. Pendidikan dan pengajaran harus diberikan kepada seluruh rakyat.

5. Asas berhamba kepada sang anak. Para pendidik dalam mendidik anak hendaknya dengan sepenuh hati, tulus dan ikhlas, dengan tidak terikat kepada siapapun dan oleh apapun.

6. Asas kekeluargaan, sebagai kesatuan hidup, Taman Siswa mengatur dirinya dengan cara dan system “kekeluargaan”, suatu pergaulan hidup yang berdasarkan hubungan antara sesama saudara dan sesama keluarga. Atas pertalian kekeluargaan, berkumpul dan bersatulah orang-orang taman Siswa dari manapun asal keturunan suku dan daerah kelahirannya. Dalam satu keluarga orang hidup bersama berdasarkan cinta dan kasih sayang.

7. Asas hidup hemat dan sederhana. Berani hidup hemat dan sederhana sebagai akibat tidak menerima bantuan dari orang lain yang mengikat, konsekuensi orang yang ingin hidup merdeka, tidak mau menjadi budak orang lain. Hidup sederhana yang kenyataan hidup melarat dialami oleh keluarga Taman Siswa dengan tawakal yang didasarkan sebagai akibat cita-citanya.

Dalam prinsip pendidikan, Ki Hajar Dewantara (2013: 22) sangat mengutamakan kemerdekaan lahir dan batin. Yang dimaksud dengan kemerdekaan lahir dan batin adalah kemampuan untuk mengatur kehidupan sedemikian rupa, sehingga dalam keadaan apapun kita dapat mentaati secara suka rela dan ikhlas, secara jujur dan konsekuen. Apa yang kita yakini benar dan dapat memelihara kedaulatan pribadi dan rasa harga diri, kedamaian dan ketentraman

(19)

jiwa, kegembiraan dan gairah hidup kita, rasa solidaritas dan rasa takut bertanggung jawab atas nasib sesama rakyat.

Untuk membina kemampuan ini diperlukan suatu sikap mental tertentu serta pengetahuan dan keterampilan dalam bidang ilmu teknologi, tanpa sikap mental tertentu ini maka penguasaan ilmu dan teknologi mudah digunakan secara sewenang-wenang. Sikap mental yang dimiliki menurut Ki Hajar Dewantara yang terdiri dari:

1. Sikap mental ketetapan hati untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup dengan jujur, cara halal dan legal.

2. Sikap mental yang obyektif, sikap mental ini untuk menghadapi kenyataan hidup menurut kaeadaan yang sebenarnya.

3. Sikap mental setia kawan terhadap sesama makhluk Tuhan.

D. Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan

Secara jelas Ki Hajar Dewantara tidak mengemukakan Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan, kendati demikian banyak statemen yang beliau kemukakan dan menjurus pada visi, misi serta tujuan pendidikan yang ingin di capai, diantaranya beliau mengatakan:

1. Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak.

2. Pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anakanak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginya.

3. Pendidikan berarti memelihara hidup-tumbuh kearah kemajuan, tak boleh melanjutkan keadaan kemarin menurut alam kemarin. Pendidikan adalah usaha kebudayaan, berazas keadaban, yakni memajukan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan.

Untuk mencapai visi, misi dan tujuan tersebut Ki Hajar Dewantara menggunakan asas, system, metode dan kurikulum, sebagai berikut:

1. Asas-asas Pendidikan

Lahir dan berkembangnya suatu gerakan, organisasi sebagai suatu kenyataan sejarah erat kaitannya dengan pengalaman masa lalu, keadaan yang

(20)

dihadapinya maupun kepentingan masa depan yang menjadi cita-citanya, karena sejarah itu sendiri merupakan suatu proses yang berkesinambungan dalam interaksi masa lalu dan masa kini. Dalam ruang lingkup lingkungan dan sejarah itu pula terbentuk suatu kondisi yang tentunya ikut memberikan pengaruh pada Taman Siswa, terutama pada Ki Hajar Dewantara sebagai pendirinya.

2. Sistem Pendidikan

Dalam system pendidikan, Ki Hajar Dewantara menggunakan system Among yang berarti asuhan dan pemeliharaan dengan suka cita dengan memberi kebebasan kepada anak asuhan itu untuk bergerak menurut kemauannya, berkembang menurut bakat kemampuannya.

Dalam prakteknya Taman Siswa menggunakan Sistem Among yang berarti asuhan dan pemeliharaan dengan suka cita dengan memberi kebebasan kepada anak asuhan itu untuk bergerak menurut kemauannya, berkembang menurut bakat kemampuannya. Dalam pelaksanaannya system among menempatkan guru sebagai fungsi orang tua, karena itu tugas guru yang biasanya memberikan perintah, paksaan dan hukuman kepada muridnya tidak digunakan di Taman Siswa. Sedangkan cara pendidikan yang disebut Ki Hajar Dewantara sebagai sistem among dalam pelaksanaanya dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Ing ngarso sung tulodo, yang berarti kalau pendidik tampil dimuka dia memberi teladan kepda peserta didik.

b. Ing madya mangun karso, yang berarti kalau pendidik berada ditengah dia membangun semangat, berswakarya dan berkreasi pada peserta didik.

c. Tut wuri handayani, handayani berarati memberi pengaruh dan tut wuri berarti mengikuti dari belakang dengan penuh perhatian dan penuh tanggung jawab berdasarkan cinta dan kasih sayang.

Ing ngarso sung tolodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri Handayani terjemahan bebasnya adalah berilah contoh nyata ketika anda di depan, memberikan semangat pada semua ketika terlibat di kancah, dan dari belakang

(21)

mendorong tercapainya cita-cita yang jalurnya diserahkan kepada kemerdekaan setiap orang.

Dalam sistem among selain memperhatikan kodrat anak, sistem ini juga mempertahankan pula dasar kemerdekaan, artinya bahwa anak didik harus diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan diri dan dibiasakan untuk mempergunakan cipta, rasa dan karsanya sendiri. Biarkanlah mereka mencari jalan sendiri, pendidik boleh mencapurkan dirinya bila anak-anak salah jalan karena kemajuan yang sejati hanya dapat diperoleh dengan perkembangan kodrati, tidak perlu menggunakan perintah paksaan dan hukuman.

Kodrat anak meliputi kodrat Ilahi dan kodrat alam. Kodrat Ilahi yaitu suatu kemampuan yang dimiliki sebagai anugerah Tuhan sedangkan kodrat alam yaitu kemampuan yang dimiliki anak sebagai mestinya. Kodrat anak terwujud sebagai bakat anak, pendidik tidak dapat memaksa dan ikut menentukan secara mutlak tetapi pendidik harus berbuat sebagai pamong.

Dalam sistem among selain memperhatikan kodrat anak, sistem ini juga mempertahankan pula dasar kemerdekaan, artinya bahwa anak didik harus diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan diri dan dibiasakan untuk mempergunakan cipta, rasa dan karsanya sendiri.

a. Metode Pengajaran

Sebagai suatu ilmu, metodologi merupakan bagian dari perangkat disiplin keilmuan dan semua ilmu pengetahuan mempunyai metodologi tersendiri ternasuk pendidikan. Dalam hal metode pendidikan Ki Hajar Dewantara tidak menyebutkan metode apa saja yang digunakan dalam menyampaikan materi pelajaran, lain halnya pada taman kanak-kanak secara jelas ia menggunakan salah satu metode yaitu metode Montessori- Tagore yang telah disesuaikan. Mengenai metode ini Ki Hajar Dewantara mengungkapkan pendapatnya:

(22)

"Montessori dan Tagore adalah pembongkar dunia pendidikan lama serta pembangun aliran baru, aliran mana sesuai dengan aliran kita yang sesungguhnya terambil dari adat pendidikan yang masih hidup dalam masyarakat kita atau masih nampak bekas-bekasnya, yaitu aliran yang kita sebut kultural nasional.”

Keduanya menganggap pendidikan dan pengajaran di Eropa itu sesungguhnya sangat menyuburkan intelek, akan tetapi sebaliknya mematikan perasaan karena membalikan jiwa manusia dari derajat budi menjadi mesin belaka. Keduanya hendak melepaskan ikatan-ikatan yang menyempitkan budi manusia dan menurunkan derajat kemanusiaan yang mana rakyat negeri-negeri Barat itu memang sudah lama menantikan pemimpin-pemimpin dunia yang dapat membalikan jaman kearah keselamatan dan ketentraman, maka wajar saja jika kedua aliran itu amat mengguncangkan dunia barat pada saat itu.

Pendidikan diberikan untuk menyiapkan rasa kebebasan dan tanggung jawab, agar anak-anak berkembang merdeka dan menjadi orang yang serasi, terikat erat dengan milik kebudayaan sendiri dan dengan demikian terhindar dari pengaruh yang tidak baik dan tekanan hubungan kolonial, seperti rasa rendah diri, ketakutan, kebencian, keseganan dan tiruan yang membuta. Selain anak-anak dididik untuk menjadi putra tanah air yang setia dan bersemangat dan dengan patriotisme Indonesia memiliki rasa pengabdian tinggi bagi nusa dan bangsa.

Untuk menerapkan dasar itu maka pada mulanya perlu dikembangkan sistem pondok Indonesia. Murid-murid lelaki dan perempuan tinggal bersama guru-guru pria dan wanita dalam satu asrama.

Tiap bagian perguruan harus diketuai oleh guru yang telah berkeluarga, yang bertugas untuk memelihara suasana kekeluargaan. Pusat dari perguruan yang merupakan masyarakat kecil itu ialah guru.

b. Kurikulum Pendidikan

Secara jelas Ki Hajar Dewantara tidak mendefinisikan bagaimana isi kurikulum yang ia terapkan dalam sistim pendidikan yang didirikan dan

(23)

diasuhnya, kurikulum lebih merupakan mata pelajaran yang ia gagas dan ia berikan. Menurut Ki Hajar Dewantara pelararan yang di berikan kepada anakanak dibagi menjadi dua: pertama mata pelajaran yang selain memberi pengetahuan atau kepandaian juga juga berpengaruh pada kemajuan batin, dalam arti memasukan pikiran, rasa, kemauan, sedangkan yang kedua ialah yang memberi bekal pada anak-anak untuk hidupnya kelak dalam dunia pergaulan umum.

Untuk memperoleh kepandaian para peserta didik Ki Hajar Dewantara mengadakan sekolah-sekolah kepandaian khusus (Vakschool) seperti: sekolah guru, sekolah tani, peternakan, perikanan, pertukangan, tehnik, industri, perdagangan, kesenian, sekolah kepandaian puteri, kesehatan dan sebagainya. Untuk kemajuan batin Ki Hajar Dewantoro mengajarkan pendidikan ethic yang didalamnya tercantum pendidikan agama. Dalam Taman Siswa pendidikan agama diatur sebagai berikut:

1) Agama: Tiap-tiap murid dan guru bebas, saling menghormati.

2) Agama: Dimasukkan sebagai ethik (budi pekerti)

3) Agama: Di daerah-daerah yang nyata penduduknya beragama Islam dibolehkan memberi pengajaran agama didalam pembelajaran tetapi tidak boleh dengan paksaan.

Selain mempertimbangkan aspek-aspek keseimbangan sebagaimana tersebut diatas, mata pelajaran yang diberikan kepada anak didik juga harus bertolak dari kodrat manusia yang memiliki sifat dan ciri- ciri kejiwaan yang sesuai dengan perkembangan usianya, Ki Hajar Dewantoro menguraikan bahan pelajaran kedalam tiga bagian yaitu mata pelajaran untuk anak usia taman kanak-kanak (masa wiraga), taman muda (masa wiraga wirama) dan taman dewasa (masa wirama).

E. Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam

Prinsip berarti asas (kebenaran yang menjadi pokok dasar orang berpikir, bertindak dan sebagainya. Dagobert D. Runes mengartikan sebagai kebenaran yang bersifat universal yang menjadi dari sifat sesuatu. Apabila penulis mengaitkan dengan pendidikan, prinsip pendidikan dapat diartikan dengan

(24)

kebenaran yang universal sifatnya, yang dijadikan dasar dalam yang merumuskan perangkat pendidikan.

Dasar pendidikan Islam adalah al-qur‟an dan hadits-hadits Nabi SAW yang merupakan sumber pokok ajaran Islam. Al-Syaibani (1979: 56) memperluas lagi dasar tersebut mencakup ijtihad, pendapat peninggalan, keputusan-keputusan dan amalan-amalan para ulama terdahulu (al-shalaf al-shahih) dikalangan umat Islam. Ini berarti semua perangkat pendidikan islam haruslah ditegakkan di atas ajaran Islam, baik filsafat pendidikan Islam, teori maupun praktek.

Prinsip pendidikan Islam juga ditegakkan di atas dasar yang sama dan berpangkal dari pandangan Islam secara filosofis terhadap jagad raya, manusia, masyarakat, ilmu pengetahuan dan akhlak. Pandangan Islam terhadap masalah- masalah tersebut, melahirkan berbagai prinsip dalam pendidikan Islam.

Sementara itu, ada lima prinsip dalam pendidikan islam, yaitu:

1. Prinsip Pendidikan Islam Merupakan Implikasi dan Karakter (Ciri-ciri) Manusia Menurut Islam

Ajaran Islam mengemukakan empat macam ciri-ciri manusia yang membedakannya dengan makhluk yang lainnya yaitu:

a) Firah, agama yang diturunkan melalui Rasul-Nya adalah agama fitrah, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Rum ayat 30:

اافيِنَح ِني ِّلِن َمَ ْجَْو ْمِكَأَف اَ ْيَْلَع َساَّنما َر َطَف ِتَِّما ِ َّللّا َتَر ْطِف ۖ

َِّللّا ِقْلَخِم َلًِدْبَت َلَ ۖ ۖ

[ َنوُمَلْعًَ َلَ ِساَّنما َ َثَْنَآ َّنِكَٰ َمَو ُ ِّيَِلْما ُنيِّلا َ ِلََِٰذ ٠٣:٠٣

]

Artinya: “Dari itu, luruskanlah wajahmu dan menghadaplah kepada agama, jauh dari kesesatan mereka. Tetaplah pada fitrah yang Allah telah ciptakan manusia atas fitrah itu. Yaitu fitrah bahwa mereka dapat menerima tauhid dan tidak mengingkarinya. Fitrah itu tidak akan berubah. Fitrah untuk menerima ajaran tauhid itu adalah agama yang lurus. Tetapi orang-orang musyrik tidak mengetahui hakikat hal itu.” (QS. Al-Rum: 30)

(25)

Fitrah itu sesuai dengan watak manusia yang terikat perjanjian (mitsag), bahwa manusia menerima Allah sebagai Tuhan yang disembah. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al-A‟raf ayat 7:

ٍْلِعِب مِ ْيَْلَع َّن َّصُلَنَلَف [ َينِبِئاَغ اَّنُن اَمَو ۖ

٧:٧ ]

Artinya: “Bukankah aku ini Tuhanmu? Mereka (roh) menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (QS. Al-A’raf: 7)

Dengan demikian fitrah manusia adalah mempercayai adanya Allah SWT sebagai Tuhan. Fitrah manusia percaya kepada Tuhan berarti manusia mempunyai potensi aktualisasi sifat-sifat ke dalam diri manusia yang harus dipertanggungjawabkan sebagai amanah Allah dalam bentuk ibadah. Ibadah itu juga merupakan tujuan manusia diciptakan. Dalam firman Allah menegaskan:

َو َّنِجْما ُتْلَلَخ اَمَو [ ِنو ُدُبْعَيِم َّلَ ا َسو ِ ِ ْلَا

١٥:١٥

]

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku.” (QS. Al-Zariyat: 56)

b) Kesatuan roh jasad (wandah al-ruh wa al jism)

Manusia tersusun dari dua unsur yaitu roh dan jasad. Dari segi jasad sebagian karakteristik manusia sama dengan banatang, sama-sama memiliki dorongan untuk berkembang dan mempertahankan diri serta keturunan.

Namun dari segi roh manusia sama sekali berbeda dengan makhluk lain. Allah SWT berfirman:

َس اَذ اَف ِ [ َنيِد ِجا َس ُ َلَ اوُعَلَف ِحِوُّر نِم ِويِف ُتْخَفَهَو ُوُتًَّْو ٥١:٥٣

]

Artinya: “Maka apabila aku menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya roh (ciptaan Ku, maka tunduklah kamu kepada-Nya dengan bersujud.” (QS. AL-Hijr: 29)

Dengan roh yang ditiupkan kedalam diri manusia maka manusia hidup dan berkembang. Roh mempunyai dua daya, daya berpikir yang disebut aql dan daya rasa yang disebut qalb. Dengan daya aql manusia memperoleh

(26)

pengetahuan, memperhatikan dan menyelidiki alam sekitar. Dengan daya qalb manusia berusaha mendekatkan diri (taqarruh) sedekat mungkin dengan Tuhan. Dengan adanya aql manusia siap mengenal Allah, beriman dan beribadah kepada-Nya, memperoleh ilmu pengetahuan serta memanfaatkan untuk kesejahteraan hidup. Dengan adanya qalb, manusia dapat membedakan kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam diri manusia.

c) Manusia Memiliki Karakter Kebebasan Berkemauan/Berkehendak (hurriyah al-iradah) dalam segala aspek kehidupannya

Kebeasan sebagai karakteristik manusia meliputi berbagai dimensi seperti kebebasan dalam beragama. Berbuat, mengeluarkan pendapat, memiliki, berpikir, berekspresi dan sebagainya.

Sebagaimana Allah SWT menegaskan:

ِني ِّلا ِفِ َهاَرْن ا َلَ ِ ِّيَغْما َنِم ُد ْشُّرما َ َّينَبَّت دَك ۖ

ِدَلَف ِ َّللّ ِبً نِمْؤًَُو ِتوُغاَّطم ِبً ْرُفْكَي نَمَف ۖ

اَهَم َما َصِفها َلَ ٰىَلْثُوْما ِةَو ْرُعْم ِبً َم َسْمَت ْ سا [ ٌيِِلَع ٌعيِ َسَ ُ َّللّاَو ۖ

٥:٥١٥ ]

Artinya: “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam), sesuangguhnya telah jelas yang benar dan jalan yang salah.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Walaupun manusia diberi kebebasan akan tetapi kebebasan itu tidak mutlak dimana ia sanggup berbuat semaunya dalam masa dan tempat yang dikehendakinya. Kebebasan dalam Islam adalah kebebasan yang terkait oleh rasa tanggung jawab, tidak menghalangi kebebasan orang lain, nilai-nilai agama dan moral yang dianut masyarakat, undang-undang yang berlaku, kebersamaan dan keadilan serta akal logika.

2. Prinsip Pendidikan Islam adalah Pendidikan Integral dan Terpadu

Pendidikan Islam tidak mengenal adanya pemisahan antara sains dan agama. Penyatuan antara kedua system adalah tuntutan akidah Islam. Allah dalam doktrin ajaran Islam adalah Pencipta Alam Semesta termasuk manusia.

Dia pula yang menurunkan hukum-hukum untuk mengelola dan melestarikannya. Hukum-hukum mengenai fisik dinamakan Sunnah Allah.

(27)

Sedangkan pedoman hidup dan hukum-hukum untuk kehidupan manusia telah ditentukan pula dalam ajaran agama yang dinamakan Din Allah, yang mencakup akidah dan syariah. Baik alam fisik dengan aturannya (berupa Din Allah adalah sama-sama tanda Allah dan kebesaran Allah. Jadi sama-sama adanya Allah walaupun yang pertama didapatkan dalam alam semesta sedangkan yang kedua didapatkan didalam wahyu. Yang pertama, ayat-ayat al-kauniyah dan yang kedua dinamakan ayat al-tanziliyyah. Studi tentang ayat al-kauniyyah dilakukan dalam ilmu fisika, geologi, geografi, dan sebagainya.

Sedangkan studi tentang tata kehidupan manusia berupa pengembangan pengetahuan dari ayat-ayat al-tanziyyah), dilakukan dalam ilmu hukum, ilmu politik, sosiologi, psikologi, ilu ekonomi, antropologi, ekonomi, dan lain sebagainya yang tercakup dalam ilmu-ilmu social komunitas.

Dengan demikian semua cabang yang merupakan ilmu studi kedua jenis ayat-ayat Allah itu sebenarnya adalah ilmu-ilmu islami, asalkan disadari dan dilakukan dalam rangka pengembangan pemahaman ilmu pengetahuan.

3. Prinsip Pendidikan Islam adalah Pendidikan yang Seimbang

Pandangan islam yang menyeluruh terhadap semua aspek kehidupan mewujudkan adanya keseimbangan. Ada beberapa prinsip keseimbangan yang mendasari pendidikan Islam, yaitu:

a. Keseimbangan anatar kehidupan duniawi dan ukhrawi

Islam meletakkan beban kewajiban yang berat di atas pundak pendidikan Islam dalam makna yang sebenarnya. Sebab hasilnya baik ataupun buruk akan dirasakan oleh masyarakat sekarang dan generasi yang akan dating. Bentuk hasil itu akan berkisar dari yang gemilang yakni progress sampai kepada ekstrim lain yaitu Unnihilisasi. Progress atau kemajuan yang ingin dicapai pendidik Islam adalah kehidupan yang indah di dunia dan di akhirat.

Kemajuan yang ingin dicapai adalah pendidikan Islam tidaklah diukur dengan penguasaan atau supremasi atas kepentingan segala duniawi saja akan tetapi sampai dimana kehidupan duniawi memberikan asset untuk kehidupan di akhirat kelak.

(28)

Pendidikan islam berusaha mengembangkan semua aspek dan daya yang ada apada manusia secara seimbang. Dengan mengembangkan semua aspek seperti badan, akal dan qalb, pendidikan Islam bukan perperti pendidikan Yunani kuno yang menitikberatkan pendidikan fisik dan bukan seperti pendidikan agnotisme yang mengutamakan aspek kejiwaan dengan mematikan hasrat jasmani.

b. Keseimbangan antara jasmani dan rohani

Suatu kenyataan yang tidak bias diingkari bahwa manusia lahir di dunia dibekali dengan kecenderungan pembawaan daya imajinasi dan akal yang berbeda. Perbedaan ini dalam psikologi disebut al-farq al-fadiyah yang meliputi aspek fisik dan psikis (jasmani dan rohani). Pendidikan islam memperhatikan perbedaan fisik dan psikis seseorang sebagai salah satu factor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun program pendidikan. Pendidikan ini didasarkan atas pandangan filosofis bahwa tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah untuk menumbuhkembangkan aspek fisik dan psikis anak. Oleh sebab itu pendidikan islam bertanggungjawab dalam perkembangan setiap individu anak sesuai dengan tabiat masing-masing.

c. Keseimbangan antara individu dan masyarakat

Dari segi lain, pendidikan islam berusaha pulan mengembangkan aspek kemasyarakatan berupa kasih mengasihi, hormat menghormati sesama muslim. Perasaan seperti apabila sudah tertanam dalam jiwa seseorang dapat menimbulkan tindakan positif berupa tolong menolong menjauhkan segala sesuatu yang dapat merugikan orang lain.

4. Prinsip pendidikan adalah pendidikan yang universal

Prinsip ini maksudnya adalahpandangan yang menyeluruh pada aspek kehidupan manusia. Pendidikan Islam yang berdasarkan prinsip ini, bertujuan untuk menumbuhkan, mengembangkan, dan membangun segala aspek kepribadian manusia dan segala potensi dan dayanya. Juga mengembangkan segala sepi kehidupan dalam masyarakat, seperti social budaya, ekonomi, politik, dan berusaha turut serta menyelesaikan masalah-masalah masyarakat

(29)

masa kini dan bersiap menghadapi tuntunan-tuntunan masa depan dan memelihara sejarah dan kebudayaannya.

5. Prinsip pendidikan islam adalah pendidikan yang dinamis

Pendidikan Islam dalam prinsip ini tidak statis dalam tujuan materi, kurikulum media, dan metodenya tetapi ia selalu memperbaharui diri dan berkembang. Ia memberikan respon terhadap kebutuhan-kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan dan perubahan social yang tidak bertantangan dengan ajaran islam. Begitu juga ia memberikan respon terhadap kepentingan individu dan masyarakat dan syariat Islam memeliharanya, dan ia juga selalu memperbaharui untuk berkembang. Di antara cara-cara pembaharuan dalam pendidikan adalah dengan memperbanyak penelitian dan eksperimen dalam pendidikan, dan bersifat terbuka terhadap perubahan.

Pendidikan Islam berusaha mengadakan perubahan yang diinginkan oleh individu dan masyarakat. Pada hakikatnya pendidikan itu merupakan proses perubahan tingkah laku, oleh karena itu memerlukan kedinamisan.

F. Fungsi Pendidikan Agama Islam

Fungsi pendidikan dalam arti mikro (sempit) adalah membantu (secara sadar) perkembangan jasmm vani dan rohani peserta didik. Sedangkan fungsi pendidikan secara makro (luas) adalah sebagai alat :

1. Pengembangan pribadi 2. Pengembangan warga Negara 3. Pengembangan kebudayaan 4. Pengembangan bangsa

Berdasarkan pendapat di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa fungsi pendidikan adalah untuk mengembangkan kepribadian peserta didik secara menyeluruh dan seimbang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui bimbingan dan latihan agar menjadi manusia yang dapat mengembangkan kebudayaan sehingga dapat melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai warga Negara.

Sementara itu fungsi pendidikan agama Islam menurut abdul majid dan dian andayani (2005: 134-135) sebagai berikut:

(30)

1. Pengembangan yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.

Sedangkan sekolah berfungsi untuk mengembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.

2. Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

3. Penyesuaian mental yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan social dan dapat mengubah lingkungan sesuai dengan ajaran agama Islam.

4. Perbaikan yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan- kekurangan, dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.

5. Pencegahan yaitu untuk meningkatkan hal-hal 59egative dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia seutuhnya.

6. Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nir nyata), system dan fungsionalnya.

7. Penyaluran yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus dibidang agama islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat di manfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.

Berdasarkan pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa fungsi pendidikan agama Islam adalah untuk membimbing anak didik dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT sesuai dengan pertumbungan dan perkembangan anak didik agar tidak terjadi kesalahan- kesalahan dalam hidupnya sehingga memperoleh kebhagiaan di dunia dan akhirat.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis ragam diatas tidak ada yang menunjukkan adanya pengaruh nyata pada perlakuan lam perendaman, bahan perendaman maupun dilihat dari intraksi antara kedua

Alasan terdiri atas bukti (data), tuntutan (kesimpulan), dan pemikiran yang membenarkan gerakan dari data menuju kesimpulan. Secara harfiah, kata ini berarti kunjungan,

Selain tidak dapat di pisahkan dalam mencegah tindakan kecurangan, pengendalian internal dan audit internal juga memberikan kontribusi yang besar terhadap perbaikan

Peta blok sensus (SP2010-WB/ST2013-WB), daftar sampel blok sensus Sakernas 2020 (Daftar SAK20.DSBS), daftar pemutakhiran muatan rumah tangga dalam blok sensus (Daftar

Tahapan awal dalam semua simulasi baik untuk pembebanan arus sataupun pembebanan gelombang adalah pembuatan desain geometry dari suatu obyek yang dianalisa,

Pelaporan adalah suatu bentuk kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus dengan suatu cara tertentu yang telah disepakati, untuk menyajikan suatu data sebagai

brand image dari STIKES PemKab Jombang dari investasi sistem informasi akademik.. Hasil dari studi kelayakan investasi informasi akademik pada STIKES

Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh jenis pelarut terhadap kandungan TPC ( Total Phenolic Content ) ekstrak kulit jeruk, mempelajari pengaruh