• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip Syariah Dalam Perdagangan Bursa Efek di Pasar

BAB III PRINSIP DASAR KETENTUAN HUKUM PADA

A. Prinsip – prinsip Syariah pada Perdagangan di Bursa Efek

2. Prinsip Syariah Dalam Perdagangan Bursa Efek di Pasar

Pasar modal merupakan salah satu alternatif sumber pendanaan bagi perusahaan dan sekaligus sebagai sarana investasi bagi para pemodal. Implementasi dari hal tersebut adalah perusahaan dapat memperoleh pendanaan melalui penerbitan Efek yang bersifat ekuitas atau surat hutang. Di sisi lain, pemodal juga dapat

99Ibid.,

melakukan investasi di pasar modal dengan membeli Efek-efek tersebut. Kegiatan- kegiatan di pasar modal tersebut dapat dikategorikan sebagai kegiatan ekonomi yang termasuk dalam kegiatan muamalah yaitu suatu kegiatan yang mengatur hubungan perniagaan. Menurut kaidah fikih, hukum asal dari kegiatan muamalah adalah mubah

(boleh), kecuali ada dalil yang jelas melarangnya,100 yaitu “Pada dasarnya semua

bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya”.

Hal ini berarti ketika suatu kegiatan muamalah seperti pembiayaan dan investasi di pasar modal baru dikenal saat ini, maka kegiatan tersebut dianggap dapat diterima kecuali terdapat larangan dalam Al-Qur’an dan Hadist yang secara implisit maupun eksplisit. Beberapa larangan dalam kegiatan pembiayaan dan investasi oleh Syariah antara lain adalah transaksi yang mengandungriba’. Larangan transaksiriba’

sangat jelas, karena itu transaksi di pasar modal yang di dalamnya terdapatriba’tidak diperkenankan oleh Syariah. Syariah juga melarang transaksi yang di dalamnya

terdapat spekulasi dan mengandung gharar atau ketidakjelasan yaitu transaksi yang

di dalamnya dimungkinkan terjadinya penipuan (khida’).101

Islam sebagai aturan hidup (nidham al hayat) yang mengatur seluruh

kehidupan manusia, sudah menawarkan berbagai cara dan kiat untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan norma dan aturan Allah SWT. Hingga dalam

berinvestasi pun Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan petunjuk (dalil) dan rambu-

rambu pokok yang seharusnya diikuti oleh setiap muslim yang beriman. Rambu-

100

Bapepam-LK,Kajian Pasar Sekunder Efek Syariah di Pasar Modal Indonesia,Op.cit. 101Ibid.

rambu tersebut yang selanjutnya menjadi prinsip dasar syariah dalam perdagangan di pasar modal syariah adalah sebagai berikut:102

a. Terbebas dalam unsur riba

Riba secara etimologi berarti bertambah, dan dalam terminologi Islam para ulama banyak memberikan definisi, diantara nya adalah “Riba merupakan kelebihan yang tidak ada padanan pengganti (‘iwadh) yang tidak dibenarkan Islam yang disyaratkan oleh salah satu dari dua orang yang berakad”. Imam Badrudin Al ‘Aini dalam kitabnya ‘Umdatu al Qari mendefinisikan riba sebagai “Riba adalah penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis riil”. Terminologi lebih komprehensif disampaikan oleh Muhammad Al Hasaini Taqiyudin Abi Bakr Ibn dalam kitabnya Kifayatu al Akhyar sebagai berikut :

“Riba adalah setiap nilai tambah (value added) dari setiap pertukaran emas dan perak (uang) serta seluruh bahan makanan pokok tanpa adanya pengganti (‘iwadh) yang sepadan dan dibenarkan oleh Islam”.

Secara garis besar, riba dikelompokkan menjadi dua, masing-masing adalah riba piutang dan riba jual beli. Kelompok pertama terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyah yang dalam pasar modal konvensional terdapat pada

obligasi, margin trading dan saham preferen. Sedangkan kelompok kedua

terbagi menjadi riba fadhl riba nasi’ah, terjadi pada transaksi yang mengandung ketidakjelasan nilai dan harga serta sekuritas yang tidak mencerminkan kondisi riil emiten dan jugashort selling.

102

b. Terhindar dari unsurgharar

Gharar secara etimologi adalah kekhawatiran atau resiko, dan gharar berarti juga menghadapi suatu kecelakaan, kerugian, dan atau kebinasaan, dan taghrir adalah melibatkan diri dalam sesuatu gharar. Gharar juga berarti sesuatu yang bersifat tidak pasti (uncertainty), dimana jual beli gharar berarti sebuah jual

beli yang mengandung unsur ketidaktahuan atau ketidakpastian (jahalah)

antara dua orang yang bertransaksi, atau jual beli sesuatu yang objek akad tidak diyakini dapat diserahkan. Imam Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah halaman 53 jilid keempat mendefinisikan gharar sebagai: “Setiap jual beli yang mengandung ketidakpastian (jahalah), atau mengandung unsur resiko dan atau perjudian”.

Unsur gharar masih dapat ditemukan dalam perdagangan sekuritas di pasar modal konvensional yaitu perdagangan indeks. Di Indonesia indeks yang dperdagangkan dalam pasar modal konvensional adalah Kontrak Berjangka Indeks LQ-45.

c. Terhindar dari unsur judi (maysir)

Maysir merupakan bentuk objek yang diartikan sebagai tempat untuk memudahkan sesuatu. Dikatakan memudahkan sesuatu dikarenakan sesorang yang harusnya menempuh jalan yang susah payah akan tetapi mencari jalan pintas dengan harapan dapat mencapai apa yang dikehendaki, walau jalan pintas tersebut bertentangan dengan nilai serta aturan Islam. Allah SWT dan

Rasulullah SAW, telah melarang segala jenis perjudian, hal tersebut tertuang dalam Al-Qur’an surat al-Maidah ayah 90-91 :

90. Hai orang-orang yang beriman, ssungguhnya meinum khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu gar kamu mendapat keberuntungan.

91. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat ALLAH SWT dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Transaksi yang mengandung unsur maysir dalam istilah bursa efek disebut

short selling, walaupun transaksishort sellingdalam praktiknya juga dilarang dalam pasar modal konvensional.

d. Terhindar dari unsur haram

Investasi yang dilakukan oleh seorang investor muslim harus terhindar dari unsur haram. Segala hal yang haram merupakan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya Muhammad SAW sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an dan Hadist. Dalam kaidah ushul fikih, haram didefinisikan sebagai :

“Haram adalah sesuatu yang disediakan hukuman (‘iqab) bagi yang melakukan dan disediakan pahala bagi yang meninggalkan karena diniatkan untuk menjalankan syariat-Nya”.

Dalam sebuah hadist riwayat Imam Tarmidzi dari Salman dinyatakan :

“Sesuatu yang halal adalah apa yang telah dihalalkan oleh ALLAH dan Rasul-Nya dalam kitab-Nya, dan sesuatu yang haram adalah apa yang telah diharamkan oleh ALLAH dan Rasul-Nya dalam kitab-Nya, dan apa yang didiamkan (tidak diatur) maka tergolong sesuatu yang dimaafkan”.

Dalam pasar modal konvensional masih terjadi perdagangan sekuritas yang emiten nya melakukan aktifitas yang haram, hal ini dapat dilihat dari sekuritas perusahaan rokok, ritel, minuman keras, perbankan dan emiten lain yang masih mempraktikkan sistem bunga.

e. Terhindar dari unsur syubhat

kata syubhat berarti mirip, serupa, semisal dan bercampur. dalam terminologi Islam, syubhat berarti sebagai :

“sesuatu perkara yang tercampur (antara halal dan haram) akan tetapi tidak diketahui secara pasti apakah ia sesuatu yang halal atau haram, dan apakah ia hak atau batil”.

Begitu juga dalam sebuah hadist riwayat Imam Bukhari dan Muslim dinyatakan sebagai berikut :

“yang halal itu telah jelas, dan yang haram itu juga telah jelas, diantara keduanya ada hal yang syubhat (tidak jelas) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barang siapa menjaga/menghindari syubhat maka telah benar-benar selamat agama dan kehormatannya”.(HR. Bukhari-Muslim).

Oleh sebab itu, seorang investor Syariah sangat disarankan menjauhi aktifitas investasi yang beraroma syubhat. Karena jika hal tersebut tetap dilakukan, maka pada hakikatnya telah terjerumus kepada sesuatu yang haram.

Berdasarkan Keputusan Ketua Bapepam-LK No. Kep-131/BL/2006 dalam Peraturan No. IX.A.14 tentang akad-akad yang digunakan dalam penerbitan efek Syariah di pasar modal Syariah antara lain:

1. Ijarah, wajib memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:103

103

Angka 2 Peraturan Bapepam-LK No. IX.A.14, tentang Akad-Akad yang digunakan Dalam Penerbitan Efek Syariah di Pasar Modal.

a. Persyaratan pihak yang dapat menjadi pemberi sewa atau pemberi jasa dan penyewa dan atau pengguna jasa wajib memiliki kecakapan dan kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum baik menurut Syariah Islam maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku.

b. Hak dan kewajiban pemberi sewa atau pemberi jasa dan penyewa atau pengguna jasa

1) Hak dan kewajiban pemberi sewa atau pemberi jasa adalah:

(a) menerima pembayaran harga sewa atau upah (ujrah) sesuai yang

disepakati dalam Ijarah;

(b) menyediakan barang yang disewakan atau jasa yang diberikan;

(c) menanggung biaya pemeliharaan barang yang disewakan;

(d) menjamin bila terdapat cacat pada barang yang disewakan;

(e) bertanggung jawab atas kerusakan barang yang disewakan yang

bukan disebabkan oleh pelanggaran dari penggunaan yang dibolehkan atau bukan karena kelalaian Pihak penyewa; dan

(f) menyatakan secara tertulis bahwa pemberi sewa atau pemberi jasa menyerahkan hak penggunaan atau pemanfaatan atas suatu barang dan atau memberikan jasa yang dimilikinya kepada penyewa atau pengguna jasa (pernyataanijab).

2) Hak dan kewajiban penyewa atau pengguna jasa adalah:

(a) manfaatkan barang dan atau jasa sesuai yang disepakati dalam Ijarah;

(b) membayar harga sewa atau upah (ujrah) sesuai yang disepakati

dalam Ijarah;

(c) bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan barang serta

menggunakannya sesuai yang disepakati dalam Ijarah;

(d) menanggung biaya pemeliharaan barang yang sifatnya ringan (tidak material) sesuai yang disepakati dalam Ijarah;

(e) bertanggung jawab atas kerusakan barang yang disewakan yang disebabkan oleh pelanggaran dari penggunaan yang dibolehkan atau karena kelalaian Pihak penyewa; dan

(f) menyatakan secara tertulis bahwa penyewa atau penerima jasa menerima hak penggunaan atau pemanfaatan atas suatu barang dan atau memberikan jasa yang dimiliki pemberi sewa atau pemberi jasa (pernyataanqabul).

c. Persyaratan obyek Ijarah, obyek Ijarah dapat berupa barang dan atau jasa yang memenuhi ketentuan sebagai berikut:

1) manfaat barang atau jasa harus dapat dinilai dengan uang;

2) manfaat atas barang dan jasa dapat diserahkan kepada penyewa atau pengguna jasa;

3) manfaat barang atau jasa harus yang bersifat tidak dilarang oleh Syariah Islam (tidak diharamkan);

4) manfaat barang atau jasa harus ditentukan dengan jelas; dan

5) spesifikasi barang atau jasa harus dinyatakan dengan jelas, antara lain melalui identifikasi fisik, kelaikan, dan jangka waktu pemanfaatannya.

d. Persyaratan penetapan harga sewa atau upah (ujrah). Penetapan harga

sewa atau upah (ujrah) wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:

1) besarnya harga sewa atau upah (ujrah) dan cara pembayarannya

ditetapkan secara tertulis dalam Ijarah;dan

2) alat pembayaran harga sewa atau upah adalah uang atau bentuk lain termasuk jasa (manfaat lain) dari jenis yang sama dengan barang atau jasa yang menjadi obyek dalam Ijarah.

e. Ketentuan lain yang dapat diatur dalam Ijarah. Selain wajib memenuhi ketentuan pada angka 2 Peraturan ini, dalam Ijarah dapat disepakati antara lain hal-hal sebagai berikut:

1) para pihak dapat menentukan harga sewa atau upah untuk periode

waktu tertentu dan meninjau kembali harga sewa atau upah yang berlaku untuk periode berikutnya; dan atau

2) penunjukan pihak lain untuk menyelesaikan perselisihan antara

pemberi sewa atau pemberi jasa dan penyewa atau pengguna jasa. Dengan kata lain, Ijarah merupakan perjanjian (akad) dimana pihak yang memiliki barang atau jasa berjanji kepada penyewa atau pengguna jasa untuk

menyerahkan hak penggunaan atau pemanfaatan atas suatu barang dan atau

memberikan jasa yang dimiki pemberi sewa atau pemberi jasa dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa dan atau upah (ujrah), tanpa peralihan hak atas kepemilikan barang yang menjadi objek ijarah.

2. Kafalah wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut104:

a. Persyaratan Pihak yang terlibat dalam Kafalah Pihak penjamin

(kafiil/guarantor), Pihak yang dijamin (makfuul ‘anhu/ashiil/debitur), dan

Pihak lain (makfuul lahu/kreditur) yang terlibat dalam Kafalah wajib

memiliki kecakapan dan kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum baik menurut Syariah Islam maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku.

b. Kewajiban Pihak yang terlibat dalam Kafalah

1) kewajiban Pihak penjamin (kafiil/guarantor) adalah sebagai berikut:

104

Angka 3 Peraturan Bapepam-LK No. IX.A.14 tentang Akad-Akad yang Digunakan dalam Penerbitan Efek Syariah di Pasar Modal.

(a) memiliki harta yang cukup untuk menjamin kewajiban Pihak yang dijamin (makfuul ‘anhu/ashiil/debitur) kepada Pihak lain (makfuul lahu/kreditur);

(b) memiliki kewenangan penuh untuk menggunakan hartanya sebagai

jaminan atas pemenuhan kewajiban Pihak yang dijamin (makfuul

‘anhu/ashiil/debitur) kepada Pihak lain (makfuul lahu/kreditur); dan

(c) menyatakan secara tertulis bahwa Pihak penjamin

(kafiil/guarantor) menjamin kewajiban Pihak yang dijamin (makfuul ‘anhu/ashiil/debitur) kepada Pihak lain (makfuul lahu/kreditur) (pernyataanijab).

2) kewajiban Pihak yang dijamin (makfuul ‘anhu/ashiil/debitur) adalah sebagai berikut:

(a) menyerahkan kewajibannya (hutangnya) kepada Pihak penjamin (kafiil/guarantor); dan

(b) menyatakan secara tertulis bahwa Pihak yang dijamin (makfuul

‘anhu/ashiil/debitur) menerima jaminan dari Pihak penjamin (kafiil/guarantor) (pernyataanqabul).

c. Bentuk penjaminan dalam Kafalah

Penjaminan dalam Kafalah dapat berupa jaminan kebendaan dan atau

jaminan umum, seperti jaminan perusahaan (corporate guarantee) dan

jaminan pribadi (personal guarantee). d. Persyaratan obyek Kafalah (makfuul bihi)

Obyek Kafalah adalah kewajiban (piutang) Pihak yang dijamin (makfuul

‘anhu/ashiil/debitur) kepada Pihak lain (makfuul lahu/kreditur) yang memenuhi ketentuan sebagai berikut:

1) kewajiban dimaksud dapat berupa kewajiban pembayaran sejumlah uang, penyerahan barang, dan atau pelaksanaan pekerjaan;

2) kewajiban dimaksud harus jelas nilai, jumlah, dan spesifikasinya; 3) kewajiban dimaksud bukan merupakan kewajiban yang timbul dari

hal-hal yang bertentangan dengan Syariah Islam; dan

4) harus merupakan piutang mengikat (lazim) yang tidak mungkin hapus

kecuali setelah dibayar atau dibebaskan.

e. Ketentuan lain yang dapat diatur dalam Kafalah Selain wajib memenuhi ketentuan pada angka 3 Peraturan ini, dalam Kafalah dapat disepakati antara lain hal-hal sebagai berikut:

1) para Pihak dapat menetapkan besarnya imbalan (fee) atas penjaminan

yang dilakukan oleh Pihak penjamin (kafiil/guarantor). Dalam hal

para Pihak menyepakati adanya imbalan (fee) sebagaimana tersebut di atas, maka Kafalah tersebut bersifat mengikat dan tidak dapat dibatalkan secara sepihak;

2) penunjukan Pihak lain untuk menyelesaikan perselisihan antara para Pihak dalam Kafalah; dan atau

3) jangka waktu penjaminan dalam Kafalah.

Oleh penjelasan Peraturan No. IX.A.14 tentang akad-akad yang digunakan dalam penerbitan efek Syariah di pasar modal Syariah tersebut diatas, maka kafalah merupakan suatu perjanjian (akad) dimana pihak penjamin (guarantor) berjanji memberikan jaminan kepada pihak yang dijamin (debitor) untuk memenuhi kewajiban pihak yang dijamin kepada pihak-pihak lain (kreditor).

3. Mudharabah wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut105:

a) Persyaratan Pihak yang dapat menjadishahib al- maldanmudharib Pihak

yang dapat menjadi shahib al- mal dan mudharib wajib memiliki

kecakapan dan kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum baik menurut Syariah Islam maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku.

b) Hak dan kewajibanshahib al- maldanmudharib.

1) Hak dan kewajibanshahib al-maladalah:

(a) menerima bagian laba tertentu sesuai yang disepakati dalam Mudharabah;

(b) meminta jaminan dari mudharib atau pihak ketiga yang dapat

digunakan apabila mudharib melakukan pelanggaran atas akad

Mudharabah. Jaminan tersebut dapat berupa jaminan kebendaan

dan atau jaminan umum, seperti jaminan perusahaan (corporate

guarantee) dan jaminan pribadi (personal guarantee);

(c) mengawasi pelaksanaan kegiatan usaha yang dilakukan oleh mudharib;

(d) menyediakan seluruh modal yang disepakati;

(e) menanggung seluruh kerugian usaha yang tidak diakibatkan oleh kelalaian, kesengajaan dan atau pelanggaran mudharib atas Mudharabah; dan

(f) menyatakan secara tertulis bahwa shahib al- mal menyerahkan

modal kepada mudharib untuk dikelola oleh Mudharib sesuai

dengan kesepakatan (pernyataanijab).

2) Hak dan kewajiban mudharib adalah:menerima bagian laba tertentu

sesuai yang disepakati dalam Mudharabah;

105

Angka 4 Peraturan Bapepam-LK No. IX.A.14 tentang Akad-Akad yang Digunakan dalam Penerbitan Efek Syariah di Pasar Modal.

(a) mengelola kegiatan usaha untuk tercapainya tujuan Mudharabah tanpa campur tanganshahib al-mal.

(b) mengelola modal yang telah diterima dari shahib al-mal sesuai

dengan kesepakatan, dan memperhatikan Syariah Islam serta kebiasaan yang berlaku;

(c) menanggung seluruh kerugian usaha yang diakibatkan oleh

kelalaian, kesengajaan dan atau pelanggaran mudharib atas

Mudharabah; dan

(d) menyatakan secara tertulis bahwamudharibtelah menerima modal

dari shahib al-mal dan berjanji untuk mengelola modal tersebut sesuai dengan kesepakatan (pernyataanqabul).

c) Persyaratan modal yang dapat dikelola dalam Mudharabah

Modal yang dapat dikelola dalam Mudharabah wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:

1) berupa sejumlah uang dan atau aset, baik berupa benda berwujud maupun tidak berwujud, yang dapat dinilai dengan uang;

2) jika modal yang diberikan dalam bentuk selain uang, maka nilai benda tersebut harus disepakati pada waktuakad;

3) tidak berupa piutang atau tagihan, baik tagihan kepada mudharib

maupun kepada Pihak lain; dan

4) dapat diserahkan kepada mudharib dengan cara seluruh atau sebagian

pada waktu dan tempat yang telah disepakati. d) Persyaratan kegiatan usaha dalam Mudharabah

Kegiatan usaha yang dapat dijalankan dalam Mudharabah wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:

1) tidak bertentangan dengan ketentuan angka 2 huruf a Peraturan Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah; dan

2) dilarang dikaitkan (mu’allaq) dengan sebuah kejadian di masa yang

akan datang yang belum tentu terjadi. e) Pembagian keuntungan dalam Mudharabah

Pembagian keuntungan dalam Mudharabah wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:

1) keuntungan Mudharabah adalah selisih lebih dari kekayaan

Mudharabah dikurangi dengan modal Mudharabah dan kewajiban kepada Pihak lain yang terkait dengan kegiatan Mudharabah;

2) keuntungan Mudharabah merupakan hak shahib al-mal dan mudharib

dengan besarnya bagian sesuai dengan kesepakatan; dan

3) besarnya bagian keutungan masing-masing pihak wajib dituangkan secara tertulis dalam bentuk persentase (nisbah).

f) Ketentuan lain yang dapat diatur dalam Mudharabah. Selain wajib memenuhi ketentuan pada angka 4 Peraturan ini, dalam Mudharabah dapat disepakati antara lain hal-hal sebagai berikut:

1) jangka waktu tertentu untuk masa berlakunya Mudharabah;

2) Mudharib menyediakan biaya operasional sesuai kesepakatan dalam Mudharabah; dan atau

3) penunjukan Pihak lain untuk menyelesaikan perselisihan antara Shahib al-maldenganMudharib.

Mudharabah secara sederhana adalah merupakan perjanjian akad dimana pihak yang menyediakan dana (shahib al-mal) berjanji kepada pengelola usaha (mudharib) untuk menyerahkan modal dan pengelola (mudharib) berjanji untuk mengelola modal tersebut.

4. Wakalah wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut106:

a) Persyaratan Pihak yang dapat menjadi pemberi kuasa(muwakkil) dan yang

penerima kuasa (wakil) Pihak yang memberi kuasa (muwakkil) dan Pihak

yang menerima kuasa (wakil) wajib memiliki kecakapan dan kewenangan

untuk melakukan perbuatan hukum baik menurut Syariah Islam maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku.

b) Kewajiban Pihak yang memberi kuasa (muwakkil) dan Pihak yang

menerima kuasa (wakil) dalam Wakalah

1) kewajiban Pihak yang memberi kuasa (muwakkil) adalah sebagai

berikut:

(a) memiliki kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap hal-hal yang boleh dikuasakan; dan

(b) menyatakan secara tertulis bahwa Pihak yang memberi kuasa

(muwakkil) memberikan kuasa kepada Pihak penerima kuasa (wakil) untuk melakukan perbuatan hukum tertentu (pernyataan

ijab).

2) kewajiban Pihak yang menerima kuasa (wakil) adalah sebagai berikut: (a) memiliki kemampuan untuk melaksanakan perbuatan hukum yang

dikuasakan kepadanya;

(b) melaksanakan perbuatan hukum yang dikuasakan kepadanya serta dilarang memberi kuasa kepada Pihak lain kecuali atas persetujuan Pihak yang memberi kuasa (muwakkil); dan

(c) menyatakan secara tertulis bahwa Pihak yang menerima kuasa (wakil) menerima kuasa dari Pihak yang memberi kuasa

(muwakkil) untuk melakukan perbuatan hukum tertentu (pernyataanqabul).

106

Angka 5 Peraturan Bapepam-LK No. IX.A.14, Akad-akad yang digunakan Dalam Penerbitan Efek Syariah di Pasar Modal.

c) Persyaratan obyek Wakalah

Obyek Wakalah adalah perbuatan hukum yang memenuhi syarat sebagai berikut:

1) diketahui dengan jelas jenis perbuatan hukum yang dikuasakan serta cara melaksanakan perbuatan hukum yang dikuasakan tersebut;

2) tidak bertentangan dengan Syariah Islam; dan 3) dapat dikuasakan menurut Syariah Islam.

d) Ketentuan lain yang dapat diatur dalam Wakalah Selain wajib memenuhi ketentuan pada angka 5 Peraturan ini, dalam Wakalah dapat disepakati antara lain hal-hal sebagai berikut:

1) para Pihak dapat menetapkan besarnya imbalan (fee) atas pelaksanaan perbuatan hukum yang dikuasakan. Dalam hal para Pihak menyepakati adanya imbalan (fee), maka Wakalah tersebut bersifat mengikat dan tidak dapat dibatalkan secara sepihak;

2) penunjukan Pihak lain untuk menyelesaikan perselisihan antara para Pihak dalam Kafalah; dan atau

3) jangka waktu pemberian kuasa.

Penjelasan diatas berarti bahwa wakalah merupakan perjanjian (akad) dimana

pihak yang memberi kuasa (muwakkil) memberikan kuasa kepada pihak yang

menerima kuasa (wakil) untuk melakukan tindakan atau perbuatan tertentu. Termasuk dalam pengertian ini, melakukan penawaran palsu (najsy); transaksi atas barang yang belum dimiliki (short selling/bai’u maa laisa bimamluk); menjual sesuatu yang belum

jelas (bai’ al-ma’dum); pembelian untuk penimbunan Efek (ihtikar) dan

menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan transaksi yang dilarang (insider trading).

Kegiatan pembiayaan dan investasi keuangan dari aspek Syariah pada prinsipnya adalah kegiatan yang dilakukan oleh pemilik harta (investor) terhadap pemilik usaha (Emiten) untuk memberdayakan Pemilik Usaha dalam melakukan kegiatan usahanya dimana pemilik harta (investor) berharap untuk memperoleh

manfaat tertentu. Karena itu kegiatan investasi keuangan adalah termasuk kegiatan usaha dari pemilik harta namun secara pasif. Sehingga prinsip Syariah dalam investasi dan pembiayaan keuangan pada dasarnya sama dengan pada kegiatan usaha lainnya yaitu prinsip kehalalan dan keadilan. Secara umum prinsip tersebut adalah:

a. Investasi hanya dapat dilakukan pada aset atau kegiatan usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip Syariah, dimana kegiatan usaha tersebut adalah spesifik dan bermanfaat sehingga atas manfaat yang timbul dapat dilakukan bagi hasil.

b. Akad yang terjadi antara pemilik harta (investor) dengan pemilik usaha (Emiten), dan tindakan maupun informasi yang diberikan pemilik usaha

(Emiten) serta mekanisme pasar (Self Regulating Organization/ SRO) tidak

boleh menimbulkan kondisi keraguan yang dapat menyebabkan

ketidakpastian (gharar).

c. Pemilik harta (investor) dan pemilik usaha (Emiten) tidak boleh mengambil

risiko yang melebihi kemampuan (maysir) yang dapat menimbulkan kerugian

yang sebenarnya dapat dihindari.

d. Pemilik harta (investor), pemilik usaha (Emiten) maupun Bursa dan Self

Regulating Organization lainnya tidak boleh melakukan hal-hal yang menyebabkan gangguan yang disengaja atas mekanisme pasar, baik dari segi penawaran (supply) maupun dari segi permintaan (demand).

B. Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek

Dokumen terkait