• Tidak ada hasil yang ditemukan

7. STRATEGI PENINGKATAN FUNGSI PPI MUARA BATU

7.2 Prioritas berdasarkan Alternatif Tindakan

Berdasarkan penelitian, ditentukan alternatif tindakan dalam rangka peningkatan fungsi PPI Muara Batu. Alternatif tindakan tersebut antara lain pengerukan kolam pelabuhan dan alur pelayaran; perbaikan jalan yang rusak dan berlubang; mengfungsikan kembali SPDN, pabrik es, dock serta pengadaan air bersih untuk kegiatan operasional; pengadaan pelatihan pembinaan mutu, penyuluhan terhadap nelayan dan pengolahan hasil tangkapan; dan mengfungsikan kembali gedung PPI. Hasil perhitungan nilai prioritas alternatif tindakan dengan menggunakan software Expert Choice 2000 for Windows dapat dilihat pada Gambar 53.

1) Pengerukan kolam pelabuhan dan alur pelayaran

Pilihan alternatif tindakan peningkatan fungsi PPI Muara Batu mengerucut pada usaha pengerukan kolam pelabuhan dan alur pelayaran sungai Kuala Manee sebagai prioritas utama dengan nilai 0,387 (Gambar 53).

Seperti yang telah dijelaskan Kramadibrata (2002) bahwa pengerukan diperlukan juga untuk memelihara kedalaman suatu kolam/alur pelayaran atau alur sungai (maintanance dredging), dikarenakan adanya proses pergerakan dan pengendapan lumpur (sedimen transport). Pengendapan yang terjadi di kolam pelabuhan dan alur pelayaran membuat aktivitas pendaratan, penjagaan mutu hasil tangkapan, dan operasional kapal menjadi belum optimal. Hal ini dapat dilihat dari sulitnya kapal nelayan untuk melakukan aktivitas tambat

labuh di PPI Muara Batu. Pendangkalan membuat nelayan PPI Muara Batu mengalami kerugian yang diakibatkan kandas atau bocornya kapal nelayan.

Selain itu, saat kondisi perairan surut, nelayan tidak dapat mendaratkan hasil tangkapannya di PPI Muara Batu secara langsung terutama untuk kapal motor berukuran ≥ 10 GT. Kondisi ini tentunya pengurangi pendapatan nelayan karena harus membayar biaya angkut hasil tangkapan ke PPI Muara Batu.

Terhambatnya pengangkutan hasil tangkapan dapat berpengaruh pada mutu hasil tangkapan. Tidak hanya di PPI Muara Batu, banyak pelabuhan di Indonesia yang kolamnya memerlukan pengerukan besar misalnya Belawan, Palembang, Tanjung Priok, Surabaya dan Pontianak, dikarenakan letak pelabuhan-pelabuhan tersebut berada di sungai (Kramadibrata, 2002).

Gambar 53 Nilai prioritas tindakan alternatif peningkatan fungsi PPI Muara Batu

2) Mengfungsikan SPDN, pabrik es, dock serta pengadaan air bersih untuk kelancaran operasional

Prioritas alternatif tindakan peningkatan fungsi PPI Muara Batu kedua yaitu mengfungsikan SPDN, pabrik es, dock serta pengadaan air bersih untuk kelancaran kegiatan operasional (0,219). Fasilitas SPDN telah tersedia di PPI

Pengerukan Kolam Pelabuhan dan Alur Pelayaran (0,387)

Mengfungsikan SPDN, Pabrik Es, Dock serta Pengadaan Air Bersih untuk Operasional Kapal

(0,219)

Perbaikan Jalan yang Rusak dan Berlubang (0,191)

Mengfungsikan Gedung Perkantoran PPI (0,104)

Pengadaan Pelatihan Pembinaan Mutu, Penyuluhan terhadap Nelayan dan Pengolahan Hasil Tangkapan

(0,099)

dengan kondisi yang baik. SPDN merupakan bahan utama dan sangat dibutuhkan untuk bahan perbekalan melaut, terlebih untuk usaha penangkapan yang telah menggunakan motor dan berlangsung dalam kurun waktu yang relatif lama (Solihin, 2008). Begitu pula dengan armada penangkapan ikan di PPI Muara Batu didominasi oleh kapal motor yang menggunakan bahan bakar solar. Permasalahan yang terjadi pada SPDN adalah sistem kredit dalam pembelian solar yang dilakukan oleh nelayan tidak lancar dalam pengembaliannya. Dalam hal ini pihak SPDN bisa melakukan perbaikan sistem pembelian, dimana sebelumnya nelayan yang membeli solar dengan 50% dari harga terlebih dahulu, setelah proses penangkapan dan pemasaran baru sisanya dibayar kembali. Permasalahan lain yang terjadi pada SPDN adalah pemasok yang sulit masuk ke PPI, dengan begitu pihak PPI (kelembagaan formal) dapat mengupayakan pendekatan dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk perbaikan jalan PPI. Permasalahan pada pabrik es yang terdapat di PPI adalah daya listrik yang kurang mencukupi. Pihak PPI mempunyai kewenangan dalam mengupayakan penambahan daya listrik untuk pabrik es, karena nelayan PPI Muara Batu masih membutuhkan es untuk menjaga mutu hasil tangkapan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya es dibutuhkan untuk penanganan hasil tangkapan baik saat berada di atas kapal maupun saat berada di TPI dan distribusi, karena kegiatan bakteri pembusuk berhenti pada suhu 0ºC (Moeljanto, 1992 vide Annajah, 2010). Selanjutnya dikatakan bahwa penanganan hasil tangkapan menggunakan es merupakan cara termudah dan termurah. Begitu pula pada pengadaan air bersih yang tidak berfungsi di PPI serta dock yang tidak memiliki teknisi khusus, pihak PPI dapat mengusulkan teknisi untuk bekerja tetap di dock. Pentingnya keberadaan dock, karena pada umumnya dalam kurun waktu satu tahun kapal perlu dilakukan doking. Doking kapal perlu dilakukan agar kapal dalam kondisi layak laut dan hal ini juga membuat umur teknis kapal akan lebih panjang (Imron, 2006).

Tindakan solusi sampingan masih dapat diterapkan untuk mendukung kelancaran operasional kapal, seperti pemenuhan solar, es dan air bersih nelayan yang saat ini masih dibeli dari luar PPI walau dengan harga yang sedi-

sedikit lebih mahal.

3) Perbaikan jalan yang rusak dan berlubang

Prioritas ketiga dalam alternatif tindakan peningkatan fungsi PPI Muara Batu adalah perbaikan jalan yang rusak dan berlubang (0,191).

Alternatif tindakan ini dapat merangkum tiga kriteria yaitu pemasaran, kegiatan operasional, dan mutu hasil tangkapan serta dapat memudahkan pengguna yang aktivitasnya terkait dengan PPI. Permasalahan terhadap pemenuhan solar di PPI salah satunya adalah jalan yang rusak dan berlubang sehingga pemasok solar sulit menuju ke SPDN yang ada di PPI. Kondisi jalan yang rusak dan berlubang juga akan menghambat proses pemasaran dan juga dapat merusak mutu hasil tangkapan akibat dari goncangan dan benturan yang ditimbulkan sarana angkutan. Menurut Widodo dan Suadi (2006), pemasaran hasil perikanan sebagai satu subsistem ekonomi perikanan memegang peranan penting dalam pengembangan usaha perikanan dan peningkatan nilai jual produk perikanan. Seperti yang telah dijelaskan, pemasaran di PPI Muara Batu membutuhkan perhatian dalam hal proses distribusi atau pengangkutan.

Pengangkutan hasil-hasil perikanan yang sifatnya cepat dan mudah rusak memerlukan kecepatan serta penanganan (handling) tambahan selama perjalanan. Kecepatan pengangkutan sangat penting dalam tata niaga hasil perikanan, sebab kalau terlambat ada dua resiko yang mungkin diderita oleh pedagang bersangkutan, yaitu pertama resiko yang disebabkan oleh turunnya harga barang di pasar yang dituju, dan kedua resiko merosotnya kualitas barang (Hanafiah dan Saefuddin, 2003). Dengan demikian, prasarana jalan dengan kondisi rusak dan berlubang dapat mengakibatkan terhambatnya proses distribusi dan berdampak pada mutu hasil tangkapan.

4) Mengfungsikan gedung perkantoran PPI

Prioritas keempat dalam alternatif tindakan peningkatan fungsi PPI Muara Batu adalah mengfungsikan gedung perkantoran PPI (0,104). Dengan mengfungsikan gedung perkantoran PPI Muara Batu dapat memudahkan dalam pendataan dan administrasi berkaitan dengan aktivitas perikanan.

Mengfungsikan gedung perkantoran PPI dalam arti mengfungsikan kelembagaan formal di PPI Muara Batu, memberikan anggaran untuk

melengkapi fasilitas perkantoran; menegaskan sistem kerja pegawai PPI agar administrasi di PPI berjalan. Permasalahan-permasalahan yang terjadi di PPI dapat diambil tindakan dalam penyelesaiannya bukan hanya menjadi wacana, karena itu merupakan tugas dan wewenang kelembagaan formal di PPI.

5) Pengadaan pelatihan pembinaan mutu, penyuluhan terhadap nelayan dan pengolahan hasil tangkapan

Prioritas terakhir dalam alternatif tindakan peningkatan fungsi PPI Muara Batu adalah pengadaan pelatihan pembinaan mutu, penyuluhan terhadap nelayan dan pengolahan hasil tangkapan (0,099). Berbagai pengetahuan, sistem usaha dan cara-cara penangkapan/pemeliharaan yang produktif perlu diajarkan/disuluhkan. Cara pemasaran, berorganisasi, peningkatan skill dengan latihan-latihan diadakan untuk dapat menerima perkembangan teknologi yang mutakhir (Soemarto, 1975). Akvitas perikanan yang terjadi di PPI Muara Batu masih tergolong tradisional, pendidikan yang diperoleh para nelayan juga masih tergolong rendah. Oleh karenanya, penyuluhan dan pelatihan yang sederhana namun kreatif perlu diadakan untuk menambah wawasan para nelayan PPI Muara Batu. Alternatif tindakan ini menjadi prioritas terakhir karena aktivitas perikanan masih tergolong tradisional dapat diberdayakan walaupun umumnya pendidikan nelayan masih rendah. Hanya saja dengan diadakan pelatihan dan penyuluhan akan menjadi lebih baik dalam memberdayakan potensi perikanan yang terdapat di PPI Muara Batu.

Dapat dilihat pada lampiran hasil AHP (Lampiran 2-7), bahwa hasil AHP yang didapat memiliki nilai inconsistency lebih kecil dari pada 0,1. Hal tersebut menunjukkan bahwa data-data yang didapat termasuk dalam kategori konsisten atau sesuai (Saaty, 1991). Model struktur hierarki peningkatan fungsi PPI Muara Batu dapat dilihat pada,Gambar,54.

Gambar 54 Model struktur hirarki peningkatan fungsi PPI Muara Batu

Nelayan Pedagang Panglima Laot Petugas TPI DKP Kabupaten

Aceh Utara SPDN, pabrik es, dock serta

pengadaan air bersih

Dokumen terkait