V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3. Prioritas Alternatif Kebijakan
5.3.3. Prioritas Kebijakan yang Meminimumkan Dampak
Kebijakan adalah dasar bagi pelaksanaan kegiatan atau pengambilan keputusan dengan maksud untuk membangun suatu landasan yang jelas dalam pengambilan keputusan dan langkah yang diambil. Kebijakan didasarkan pada masalah yang ada di daerah, selanjutnya kebijakan harus secara terus menerus dipantau, direvisi dan ditambah agar tetap memenuhi kebutuhan yang terus berubah.
Berdasarkan arah dan kebijaksanaan dari pembangunan wilayah pesisir dan lautan yang ditegaskan dalam GBHN tahun 1993, maka kebijaksanaan pembangunan kelautan diarahkan untuk mendukung antara lain mempertahankan daya dukung serta kelestarian fungsi lingkungan hidup. Kebijaksanaan Pemerintah yang mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis untuk menjaga kelestarian sumberdaya laut, adalah terbitnya Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999. Undang-undang tersebut secara tegas telah mengatur mengenai kewenangan Daerah dalam pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan laut yang terdiri dari wilayah darat dan laut sejauh 12 mil yang diukur dari garis pantai kearah laut lepas dan/atau kearah perairan kepulauan.
Dalam usaha mewujudkan penerapan kebijakan pengelolaan Pantai Kamali hasil reklamasi yang meminimumkan dampak lingkungan di Kota Bau-bau harus dilakukan secara terpadu dan holistik, yang di mulai dari dukungan berbagai
kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Dalam pengelolaan termasuk perencanaan dan pemanfaatan bagi pemerintah, swasta dan masyarakat sebaiknya adanya kepastian hukum secara efektif (Budiharsono, 2001). Hasil analisis AHP diperoleh beberapa alternatif kebijakan (Tabel 15).
Tabel 18. Tingkat alternatif kebijakan dari hasil analisis AHP
Regulasi yang ketat terhadap terhadap pembuangan pada badan sungai merupakan alternatif kebijakan pertama dengan nilai pembobotan sebesar 0,420, sedangkan alternatif kedua adalah Pembuatan IPAL setiap kegiatan dengan nilai pembobotan 0,356. Prioritas kebijakan terakhir dalam penelitian ini adalah koservasi padang lamun dengan bobot nilai 0,224.
Regulasi yang ketat terhadap pembuangan pada badan sungai menjadi alternatif pertama karena adanya regulasi atau perundang-undangan khususnya penerapan Perda (peraturan daerah) yang ketat terhadap pembuangan pada badan sungai merupakan solusi yang sangat efektif untuk mengurangi pencemaran yang semakin meningkat di kawasan Pantai Kamali sebagai akibat dari semakin tingginya limbah-limbah organik dan anorganik dari masyarakat yang tinggal disepanjang DAS Sungai Bau-bau. Hal ini juga untuk mengurangi pendangkalan di muara Sungai Bau-bau akibat tingginya sedimentasi yang berasal dari Sungai Bau-bau dan terjadinya pola perubahan sedimen yang sebelumnya tertampung pada wilayah reklamasi. Tingginya sedimentasi dari Sungai Bau-bau berasal dari pertambangan bebatuan yang limbahnya berupa tanah dan lumpur terutama bila hujan turun di Kecamatan Surawolio yang tidak memiliki izin dokumen lingkungan. Kemudian ditambah lagi dengan sebuah perusahaan nikel yang ada juga berada di kecamatan tersebut. Perusahaan nikel ini menghasilkan banyak sedimentasi ketika membuka lahan untuk mendapatkan bahan baku nikel yang akan di kirim ke pulau Jawa.
No Alternatif Kebijakan Bobot
Kepentingan Prioritas
1 Regulasi yang ketat terhadap pembuangan pada badan sungai
0,420 1
2 Pembuatan IPAL setiap kegiatan 0,356 2
84
Sidharta et al. (2005) mengatakan asas peraturan perundang-undangan antara lain adalah menghasilkan suatu peraturan perudangan-undangan sebagai sarana untuk semaksimal mungkin dapat mencapai kesejahteraan spritual dan material bagi masyarakat maupun individu, melalui pembaharuan ataupun pelestarian. Perusahaan-perusahaan tersebut diharapkan akan mengusahakan pembuatan IPAL untuk pengolahan limbahnya demi keberlangsungan perusahaannya, jika perda tentang aturan yang ketat terhadap pembuangan pada badan Sungai Bau-bau telah diberlakukan. Lebih lanjut lagi Sidharta, et al (2005) mengatakan suatu studi yang dilakukan oleh proyek pesisir sebagai mitra pemerintah dalam menanggulangi wilayah pesisir di Kabupaten Minahasa menunjukkan kurangnya peraturan perundangan-undangan khususnya perda yang menanggulangi suatu masalah di wilayah pesisir.
Proses pembuatan rancangan perda harus melalui tahapan penyusunan yang meliputi persiapan, identifikasi isu atau permasalahan, proses penyusunan dan penetapan implemantasi. Semua rentetan tahapan diatas melibatkan berbagai pihak yang berhubungan dengan pengelolaan pesisir yaitu pemerintah, masyarakat pesisir, swasta, LSM yang bergerak dipesisir, perguruan tinggi, penegak hukum ,dunia usaha, media cetak maupun elektronik dan lain-lain.
Isi perda tersebut sebaiknya memuat aturan yang melingkupi semua perusahaan, masyarakat dan Pemkot Bau-bau sendiri. Substansi perda tersebut terhadap perusahaan adalah perlunya penegasan bahwa setiap perusahaan- perusahaan yang ada di Kota Bau-bau harus memiliki dokumen kelayakan lingkungan, harus membangun IPAL disetiap kegiatannya dan akan terkena sangsi apabila melanggar aturan tersebut. Substansi perda terhadap masyarakat khususnya masyarakat yang tinggal di DAS. Masyarakat yang tinggal di DAS harus memiliki tong sampah, tidak boleh membuang sampahnya ke sungai dan kalau bisa menerapkan IPAL komunal terpadu untuk skala rumah tangga. Masyarakat juga harus ikut serta menjadi pengontrol dalam pemeliharaan lingkungan khususnya pembuangan sampah pada badan Sungai Bau-bau tersebut. Hak dan kewajiban Pemkot Bau-Bau dalam subtansi perda tersebut adalah harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat secara berkala tentang penyadaran pentingnya pemeliharaan lingkungan khususnya Sungai Bau-bau, menyediakan
dan merehabilitasi tempat-tempat pembuangan sampah secara berkala di tempat- tempat yang strategis, melakukan pengawasan dan pemeriksaan secara berkala terhadap perusahan-perusahaan. Pemeriksaan ini mencakup kelengkapan dokumen kelayakan lingkungan, sarana dan lokasi pembuangan serta pengelolaan limbahnya. Hak dan kewajiban Pemkot Bau-bau selanjutnya adalah melakukan monitoring dan evaluasi sampai dimana ketaatan perusahan tersebut terhadap perda yang telah dilegalkan serta memberikan sanksi yang tegas bagi perusahaan yang tidak mengkuti perda tersebut. Substansi perda tersebut juga sebaiknya memuat kewajiban Pemkot Bau-bau memberikan penghargaan kepada perusahaan yang mendapat predikat terbaik dalam pengelolaan limbahnya.
IPAL setiap kegiatan merupakan alternatif kebijakan kedua dengan dengan nilai pembobotan 0,356. Pengadaan IPAL terhadap semua kegiatan yang menghasilkan limbah, baik limbah rumah tangga maupun limbah industri, maka di harapkan tingginya sedimentasi di muara sungai Bau-bau akibat perubahan pola sedimen akan berkurang signifikan. Sugiharto (1987) mengatakan air limbah suatu industri baru diperbolehkan dibuang ke badan-badan air apabila telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. Efek samping dari limbah tersebut (1) dapat membahayakan kesehatan manusia karena dapat merupakan pembawa suatu penyakit, (2) merugikan segi ekonomi karena dapat menimbulkan kerusakan pada benda/bangunan maupun tanam-tanaman/peternakan, (3) dapat merusak atau membunuh kehidupan dalam yang ada dalam karena dengan banyaknya zat pencemar yang ada di dalam air limbah, maka akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen yang terlarut di dalam air limbah, sehingga menyebabkan kehidupan di dalam air yang membutuhkan oksigen akan terganggu, dalam hal ini akan mengurangi perkembangannya, dan yang terakhir adalah (4) dapat merusak keindahan (aestetika), karena bau busuk dan pemandangan yang tidak sedap dipandang.
Sugiharto (1987) mengatakan juga bahwa susunan dan sifat air limbah tidak boleh diabaikan agar air limbah dapat dikelola dengan baik maka, misalnya saja susunan dan sifat air limbah yang berasal dari daerah industri sangat bervariasi tergantung dari macam dan jenis industri. Beberapa perlengkapan diperlukan untuk mengalirkan air limbah dari sumbernya sampai ke tempat pengolahan.
86
Perlengkapan tersebut terdiri dari pipa penyaluran, sumur pemeriksaan, pusat pemompaan dan peralatan pemeliharaan. Berdasarkan wawancara dilapangan dan penelusuran pustaka terkait, limbah yang berupa sedimen sebagian besar berasal dari beberapa perusahaan batuan dan sebuah perusahaan nikel di Kecamatan Surawolio di Kota Bau-bau, ditambah lagi terjadinya pola pergerakan sedimen akibat pembangunan reklamasi di Pantai Kamali.
Dalam implementasinya nanti, pembangunan IPAL ini bisa dilakukan dalam dua cara, yang pertama yaitu semua perusahaan bersatu untuk membangun program IPAL bersama dan yang kedua adalah semacam proyek langsung dari Pemkot Bau-bau yaitu program IPAL terpadu yang melayani semua stakeholder yang ada di Kota Bau-bau, seperti rumah-rumah masyarakat, kantor-kantor pemerintah, rumah sakit, hotel, perusahaan-perusahaan tersebut dan lain-lain sebagai pelanggan. Program yang kedua ini bisa meningkatkan PAD daerah karena setiap stakeholder tersebut yang menjadi pelanggan dalam program IPAL akan membayar retribusi kepada Pemkot Bau-bau.
Air limbah yang dihasilkan oleh semua stakeholder tersebut, akan disalurkan melalui pipa ke pumping station (rumah pompa) yang sebaiknya dibuat beberapa lokasi (jika menjalankan program yang kedua) dan berakhir ke ke lokasi IPAL. Dalam IPAL tersebut nanti sebaiknya terdapat empat kolam yang masing- masing terdiri dari dua kolam aerasi dan dua kolam pengendapan (sedimentasi) dengan kedalaman masing-masing 4 meter. Setelah diproses, air limbah akan menjadi air biasa lagi dan untuk sementara dibuang ke laut. Kedepannya diharapkan air bersih tersebut bisa menjadi air baku untuk diolah menjadi air minum dan suplai irigasi.
Sistem aerasi digunakan dengan maksud untuk mengurangi kebutuhan luas lahan dan meningkatkan proses pengolahan menjadi lebih cepat sekaligus meniadakan bau yang mungkin timbul akibat proses oksidasi yang tidak sempurna. Pelapisan dengan geomembrane dan geotextile dilakukan pada kolam aerasi untuk mengatasi kemungkinan adanya rembesan terhadap air tanah (lapisan kedap air yang sangat kuat). Sistem ini relatif sederhana sehingga tidak memerlukan tenaga/ operator dengan kualifikasi khusus untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. Ditinjau dari segi biaya investasi dan operasi pemeliharaan,
biaya yang diperlukan relatif rendah dan nantinya diusahakan akan menghasilkan keluaran air olahan dengan COD kurang dari 30 mg/lt (masih lebih baik dari standar baku mutu yaitu 50 mg/lt untuk kelas III berdasarkan PP No. 82 tahun 2001), dan selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk penyiraman taman kota atau dialirkan ke laut.
Lingkungan di sekitar IPAL sebaiknya ditanami pepohonan dan diberi taman sehingga nyaman untuk dilihat. Hal ini diharapkan dapat menghindari adanya kekhawatiran dan pandangan bahwa IPAL merupakan tempat yang kumuh dan kotor. IPAL tersebut juga nantinya diharapkan dapat berfungsi sebagai pusat pendidikan untuk penanaman kesadaran terhadap lingkungan bagi para pelajar, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya.
Konservasi padang lamun merupakan alternatif kebijakan terakhir dengan bobot nilai 0,224 untuk meminimumkan dampak lingkungan di Pantai Kamali. UU No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya pada pasal 3 dan 4 menyatakan bahwa konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Hal ini merupakan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah serta masyarakat.
Hancurnya ekosistem padang lamun di Pantai Kamali akibat pembangunan reklamasi dan sedimentasi yang berlebihan di kawasan tersebut telah semakin melangkakan biota-biota perairan yang dulunya cukup banyak dijumpai diwilayah ini. Konservasi padang lamun merupakan solusi yang cukup signifikan untuk segara di implementasikan jika sumberdaya alam hayati dan ekosistem perairan khususnya lamun ingin di pulihkan kembali. Azkab (2003) mengatakan lamun dapat dijumpai pada kedalaman 0,5 - 20 meter setelah bakau, dan sebelum terumbu karang. Kondisi ekosistem padang lamun, bakau, dan terumbu karang sangat mempengaruhi kelestarian kawasan pesisir, namun ironisnya sampai saat ini belum ada penetapan ukuran baku ambang batas kerusakan ekosistem lamun, jika dibanding mangrove dan terumbu karang.
88
Ekosistem di wilayah pesisir tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait baik secara biogeofisik maupun secara sosial-ekonomi, dan kelangsungan hidup suatu ekosistem juga sangat tergantung pada aktifitas manusia di darat yang dipengaruhi oleh faktor budaya masyarakat setempat. Berdasarkan penelitian Park et al. (2008) pada padang lamun Marina Zostera terbesar (seluas 13,6 km2) yang ada di muara Sungai Nakdong di pantai selatan Korea, yang bertujuan untuk mengetahui peranan ekologi padang lamun Marina Zostera di muara tersebut pasca pemulihan dari reklamasi berskala besar untuk pelabuhan dan kompleks industri pada akhir tahun 1980-an, menyimpulkan bahwa cakupan habitat alami padang lamun marina Zostera menurun secara signifikan pasca reklamasi, namun adanya pemulihan padang lamun telah memainkan peran ekologi yang nyata dikawasan tersebut. Di sisi lain, adanya faktor antropogenik seperti budidaya tiram mutiara dan aktifitas lalu lintas kapal-kapal perikanan yang padat di wilayah tersebut dapat menyebabkan penurunan lamun. Habitat alami Marina Zostera memerlukan manajemen yang efektif dan pemantauan jangka panjang. Hal ini bertujuan untuk melindungi dan melestarikan komponen yang tak ternilai ini terhadap muara sungai.
Dengan demikian, alternatif kebijakan konservasi padang lamun di Pantai Kamali yang bertujuan untuk melestarikan dan menggunakan sumber daya ekosistem lamun yang berkelanjutan, memerlukan pengelolaaan secara terpadu yang memiliki pengertian bahwa pengelolaan sumber daya alam jasa-jasa lingkungan pesisir dan laut khususnya lamun dilakukan melalui penilaian secara menyeluruh (comprehensive assesment), merencanakan tujuan dan sasaran, kemudian merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya guna mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan.
Perencanaan dan pengelolaan tersebut dilakukan secara kontinyu dan dinamis dangan mempertimbangkan aspek sosial-ekonomi budaya dan aspirasi masyarakat pengguna wilayah area pesisir Pantai Kamali (stakeholder) serta konflik kepentingan dan pemanfaatan yang mungkin ada di Kota Bau-bau. Pelestarian ekosistem padang lamun khususnya dengan konservasi merupakan suatu usaha yang sangat kompleks untuk dilaksanakan, karena kegiatan tersebut
sangat membutuhkan sifat akomodatif terhadap segenap pihak baik yang berada sekitar kawasan maupun di luar kawasan Pantai Kamali.
Salah satu tujuan jangka panjang pembangunan Kota Bau-bau adalah menjadikan Kota Bau-bau sebagai gerbang wisata untuk kawasan Indonesia timur (Bappeda Kota Bau-bau, 2004). Konservasi padang lamun dikawasan Pantai Kamali dapat menurunkan tingkat pencemaran pesisir dan kerusakan lingkungan diwilayah ini. Hal ini juga sangat erat kaitannya dengan salah satu program Kota Bau-bau yaitu menjadikan Sungai Bau-bau sebagai tempat pariwisata air yang meliputi kegiatan pertandingan perahu naga dan menikmati keindahan penorama Sungai Bau-bau dari atas perahu. Program pariwisata air di Sungai Bau-bau pada gilirannya akan berdampak pada peningkatan PAD Kota bau-Bau.
Konservasi padang lamun disamping dapat menurunkan tingkat pencemaran pesisir juga diharapkan dapat menghidupkan kembali biota-biota pantai seperti ikan baronang, kepiting, udang dan lain-lain yang sudah langka ditemui di kawasan Pantai Kamali. Hal ini akan berdampak pada peningkatan pendapatan nelayan yang mencari biota-biota tersebut di kawasan ini, sehingga pada gilirannya akan meningkatkan tingkat perekonomian dan kesejahteraan nelayan di kawasan Pantai Kamali khususnya dan di Kota Bau-bau umumnya.
90
Gambar 6. Mall Umna Rijoli dan sedimentasi