• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prioritas Kegiatan Pencapaian Tujuan Model Melalui MPE

Dalam dokumen V. ANALISA KEBIJAKAN (Halaman 71-104)

TOKOH MASYARAKAT/ AGAMA/ADAT

6.8. Prioritas Kegiatan Pencapaian Tujuan Model Melalui MPE

Alternatif kegiatan pencapaian tujuan model PKSARI-Terpadu ini mencakup 10 alternatif kegiatan, yaitu (1) Operasional, Pemeliharaan, dan Rehabilitasi Jaringan Irigasi; (2) penetapan kebijakan daerah; (3) Koordinasi antara lembaga dan seluruh pemangku kepentingan terkait (BAPPEDA, Dinas PSDA, Dinas Pertanian, Dinas Perhutanan dan KT (PKT), PT/LSM, LKM, dan P3A/GP3A/IP3A); (4) Normalisasi Sungai (O&P dan program padat karya); (5)

Konservasi sumber daya air; (6) Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan; (7) Pencegahan alih fungsi lahan pertanian beririgasi; (8) Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E); (9) Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Usaha Mikro dan Kecil (KUMK); dan (10) Kredit Konservasi Masyarakat Hutan (KKMH). Sepuluh alternatif kegiatan tersebut diurutkan berdasarkan prioritas dengan menggunakan kuesioner Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) yang diisi oleh pakar-pakar di bidang irigasi dari berbagai lembaga terkait.

Berdasarkan hasil analisa MPE, kegiatan operasional, pemeliharaan dan rehabilitasi jaringan irigasi mempunyai nilai bobot agregrat yang terbesar yaitu 19256.57. Kegiatan operasional, pemeliharaan dan rehabilitasi jaringan irigasi ini adalah salah satu kegiatan yang paling penting untuk segera dilakukan untuk meningkatkan pengendalian irigasi secara terpadu dibandingkan dengan alternatif kegiatan lainnya. Mengingat sampai saat ini kegiatan operasional, pemeliharan dan rehabilitasi jaringan irigasi di daerah penelitian yaitu Kabupaten Cianjur masih sangat rendah. Hal ini terlihat dari masih tingginya tingkat kerusakan jaringan irigasi yaitu sekitar 60%. Urutan prioritas kegiatan berdasarkan MPE disajikan dalam Tabel 30.

Tabel 30 Urutan prioritas kegiatan berdasarkan MPE

Alternatif Kegiatan Bobot

Agregrat Prioritas Operasional, Pemeliharaan, dan Rehabilitasi Jaringan

Irigasi

19256.57 1 Penetapan kebijakan daerah (Perda dan Komisi Irigasi) 15281.00 2 Koordinasi antara lembaga dan seluruh pemangku

kepentingan terkait (BAPPEDA, Dinas PSDA, Dinas Pertanian, Dinas PKT, PT/LSM, LKM, dan

P3A/GP3A/IP3A)

14790.43 3

Normalisasi Sungai (O&P dan program padat karya) 13161.57 4 Konservasi sumber daya air 11307.43 5 Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan 10991.00 6 Pencegahan alih fungsi lahan pertanian beririgasi 9916.43 7 Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E) 7818.71 8 Kredit Usaha Rakyat (KUR) & KUMK 7047.57 9 Kredit Konservasi Masyarakat Hutan (KKMH) 5757.00 10

Penetapan kebijakan daerah melalui pembentukan peraturan daerah tentang irigasi dan pengembangan komisi irigasi merupakan prioritas kedua dengan bobot 15281.00. Tingkat kepentingan pembentukan peraturan daerah tentang irigasi dapat menjadi landasan hukum bagi semua pihak yang terkait baik

175

di tingkat pemerintahan daerah maupun masyarakat petani pemakai air. Tanpa landasan hukum yang jelas pengelolaan irigasi berkelanjutan yang diwujudkan dalam model PKSARI-Terpadu tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Melalui peraturan daerah tentang irigasi dibangun kesepahaman dan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan, khususnya di Kabupaten Cianjur dalam menjaga kelestarian dan keberlanjutannya untuk mendukung kepentingan sektor domestik, pertanian, dan industri. Penjelasan terkait dengan prioritas kegiatan penunjang kebijakan dari model PKSARI-Terpadu yang dihasilkan melalui metode MPE sebagaimana dijelaskan dalam tabel di atas dijelaskan erdasarkan urutan prioritasnya sebagai berikut.

(1) Operasional, Pemeliharaan Dan Rehabilitasi Jaringan Irigasi

Dalam upaya mempertahankan keberlanjutan sistem irigasi, dalam kerangka kebijakan pengendalian irigasi terpadu, salah satu kegiatan yang dilakukan adalah operasi dan pemeliharaan serta rehabilitasi jaringan irigasi. Aktivitas O&P pengelolaan irigasi apabila dilakukan dengan tepat waktu, tepat ruang, tepat jumlah dan tepat kualitas, maka akan tercapai suatu fungsi jaringan irigasi yang handal sehingga biaya pemeliharaan yang lebih ekonomis.

Menurut pedoman operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 32/PRT/M/2007 dapat diperoleh pengertian bahwa operasi jaringan irigasi adalah upaya pengaturan air irigasi dan pembuangannya, termasuk kegiatan membuka-menutup pintu bangunan irigasi, menyusun rencana tata tanam, menyusun sistem golongan, menyusun rencana pembagian air, melaksanakan kalibrasi pintu/bangunan, mengumpulkan data, memantau, dan mengevaluasi. Sedangkan pemeliharaan jaringan irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya melalui kegiatan perawatan, perbaikan, pencegahan dan pengamanan yang harus dilakukan secara terus menerus.

Dalam penyelenggaraan kegiatannya pemerintah melakukan pendekatan yang dinamakan dengan pengelolaan irigasi partisipatif, termasuk dalam kegiatan operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi jaringan irigasi. Hal ini juga dikemukakan oleh Gany (2007) bahwa: “...The program had been set up to

reduce central government’s burden on Operation and Maintenance (O&M) costs aiming for sustainability irrigation O&M by virtue of Participatory Irrigation Management (PIM) approach”. Untuk mendukung pelaksanaan operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi jaringan irigasi hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

(1) Lingkup kegiatan operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi jaringan irigasi (2) Ketersediaan data pendukung berupa data dan dokumen tentang daerah

irigasi seperti peta, gambar, skema dan manual operasi bendung dan bangunan ukur, dan data teknis lainnya.

(3) Peran serta masyarakat dalam operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi jaringan irigasi

Untuk melaksanakan kegiatan operasional, dan pemeliharaan jaringan irigasi pada dasarnya terdapat 3 (tiga) tahapan pelaksanaan meliput : 1) Perencanaan; 2) Pelaksanaan dan 3) Monitoring dan evaluasi.

a. Operasi Jaringan Irigasi

Langkah awal kegiatan operasi pengelolaan irigasi adalah tahapan perencanaan yang meliputi : perencanaan penyediaan air tahunan, perencanaan tata tanam detail, penyusunan rencana tata tanam (melalui rapat komisi irigasi), penetapan rencana tata tanam melalui keputusan bupati, serta perencanaan pembagian dan pemberian air tahunan.

(1) Perencanaan Penyediaan Air Tahunan dibuat oleh instansi teknis tingkat kabupaten sesuai dengan kewenangannya berdasarkan ketersediaan air (debit andalan) dan mempertimbangkan usulan rencana tata tanam dan rencana kebutuhan air tahunan, kondisi hidroklimatologi.

(2) Penyusunan Rencana Tata Tanam Tahunan dilakukan berdasarkan prinsip partisipatif dengan melibatkan peran aktif masyarakat petani. Maksud peran secara aktif petani dalam hal mendiskusikan komoditas yang akan ditanam bersama dengan petani lain dalam P3A maupun dengan kelompok P3A lainnya, sementara pemerintah bertindak dan berperan sebagai pembimbing atau penasehat yang memberi masukan dan pertimbangan berkaitan dengan ketersediaan air yang mungkin bisa dipergunakan untuk pertanian.

177

Hasil dari rencana tata tanam tahunan terdiri dari : Rencana Tata Tanam Global (RTTG) dan Rencana Tata Tanam Detail (RTTD)

(3) Peran Komisi Irigasi Kabupaten disetiap tahun sebelum musim tanam ke-1 adalah mengadakan rapat membahas dan mengkoordinasikan usulan-usulan dari GP3A guna menentukan Rencana Tata Tanam Tahunan dari setiap daerah irigasi yang meliputi RTTG dan RTTD. RTT Tahunan ini diusulkan ke bupati atau gubernur untuk ditetapkan.

(4) Setelah ada kesepakatan dalam rapat komisi irigasi maka disusun penetapan melalui SK bupati atau gubernur tentang Rencana Tata Tanam Tahunan. SK tersebut sebagai dasar dalam menyusun rencana pembagian dan pemberian air serta waktu pengeringan dan sebelum MT-I SK ini harus sudah terbit/jadi.

(5) Perencanaan Pembagian dan Pemberian Air Irigasi Tahunan disusun oleh dinas kabupaten yang membidangi irigasi sesuai dengan kewenangannya berdasarkan rencana tahunan penyediaan air irigasi dan pemakaian air untuk keperluan lainnya.

(6) Rencana pembagian dan pemberian air setelah disepakati oleh komisi irigasi kabupaten ditetapkan melalui keputusan bupati, gubernur, atau menteri sesuai kewenangannya dan atau penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan kepada pemerintah daerah yang bersangkutan.

(7) Rencana tahunan pembagiaan dan pemberian air irigasi pada daerah irigasi lintas provinsi dan strategis nasional yang belum dilimpahkan kepada pemerintah kabupaten disusun oleh instansi pusat yang membidangi irigasi/sumber daya air dan disepakati bersama dalam forum koordinasi komisi irigasi atau yang disebut dengan nama lain yang ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum.

Tahapan selanjutnya adalah pelaksanaan operasi jaringan irigasi meliputi: laporan keadaan air dan tanaman; penentuan rencana kebutuhan air di pintu pengambilan; pencatatan debit saluran; penetapan pembagian air pada jaringan sekunder dan primer; pencatatan debit sungai/bangunan pengambilan; perhitungan faktor-K atau Faktor Palawija Relatif (FPR); laporan produktivitas dan neraca pembagian air per daerah irigasi; rekap kabupaten per masa tanam;

dan pengoperasian bangunan pengatur irigasi. Seluruh aktivitas pelaksanaan operasi jaringan irigasi menggunakan format-format sesuai standar teknis operasi pemeliharaan jaringan irigasi yang berlaku.

Sedangkan tahap selanjutnya adalah monitoring dan evaluasi.

(1) Monitoring pelaksanaan operasi jaringan irigasi dilakukan dengan menggunakan daftar simak bagan alir blangko operasi, yang mendeskripsikan kondisi kewenangan pengelolaan daerah irigasi yang bersangkutan.

(2) Kalibrasi alat ukur.

(3) Untuk dapat dicapainya operasi yang efektif dan efisien, pembagian dan pemberian air harus dapat diukur dengan baik. Besarnya air yang mengalir melewati suatu alat ukur dalam satuan waktu tertentu tidak selalu sama dengan perhitungan memakai rumus standar yang berlaku. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, antara lain nilai kekasaran, endapan, umur dan kekentalan air itu sendiri. Disamping itu pengerjaan dan pemasangan alat ukur pada saat pembangunan juga sangat berpengaruh.

(4) Mengingat hal tersebut sebelum dipergunakan, alat ukur harus dikalibrasi yaitu dengan membandingkan kenyataan besarnya debit yang mengalir dengan besarnya debit sesuai dengan perhitungan menggunakan rumus umum.

(5) Tata cara kalibrasi harus dilakukan sesuai dengan petunjuk pelaksanaan tata cara kalibrasi.

(6) Evaluasi kinerja sistem irigasi dimaksudkan untuk mengetahui kondisi kinerja sistem irigasi yang meliputi : Prasarana fisik; Produktivitas tanaman; Sarana penunjang; Organisasi personalia; Dokumentasi; Kondisi kelembagaan P3A/GP3A/IP3A.

b. Pemeliharaan Jaringan irigasi

Jenis pemeliharaan jaringan irigasi terdiri dari pengamanan jaringan irigasi, pemeliharaan rutin, pemeliharaan berkala, dan perbaikan darurat. Penjelasan masing-masing kegiatan tersebut adalah sebagai berikut.

179

(1) Pengamanan jaringan irigasi merupakan upaya untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kerusakan jaringan irigasi yang disebabkan oleh daya rusak air, hewan, atau oleh manusia guna mempertahankan fungsi jaringan irigasi. Kegiatan ini dilakukan secara terus menerus oleh dinas yang membidangi irigasi, anggota/ pengurus P3A/GP3A/IP3A, Kelompok Pendamping Lapangan dan seluruh masyarakat setempat. Setiap kegiatan yang dapat membahayakan atau merusak jaringan irigasi dilakukan tindakan pencegahan berupa pemasangan papan larangan, papan peringatan atau perangkat pengamanan lainnya.

(2) Pemeliharaan rutin merupakan kegiatan perawatan dalam rangka mempertahankan kondisi Jaringan Irigasi yang dilaksanakan secara terus menerus tanpa ada bagian konstruksi yang diubah atau diganti.

(3) Pemeliharaan berkala merupakan kegiatan perawatan dan perbaikan yang dilaksanakan secara berkala yang direncanakan dan dilaksanakan oleh dinas yang membidangi Irigasi dan dapat bekerja sama dengan P3A/GP3A/IP3A/ IP3A secara swakelola berdasarkan kemampuan lembaga tersebut dan dapat pula dilaksanakan secara kontraktual. Pelaksanaan pemeliharaan berkala dilaksanakan secara periodik sesuai kondisi Jaringan Irigasinya. Setiap jenis kegiatan pemeliharaan berkala dapat berbeda-beda periodenya, misalnya setiap tahun, 2 tahun, 3 tahun dan pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal musim tanam serta waktu pengeringan. Pemeliharaan berkala dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pemeliharaan yang bersifat perawatan, pemeliharaan yang bersifat perbaikan, dan pemeliharaan yang bersifat penggantian

(4) Perbaikan darurat dilakukan akibat bencana alam dan atau kerusakan berat akibat terjadinya kejadian luar biasa (seperti Pengrusakan/penjebolan tanggul, Longsoran tebing yang menutup Jaringan, tanggul putus dll) dan penanggulangan segera dengan konstruksi tidak permanen, agar jaringan irigasi tetap berfungsi. Kejadian Luar Biasa/Bencana Alam harus segera dilaporkan oleh juru kepada pengamat dan kepala dinas secara berjenjang dan selanjutnya oleh kepala dinas dilaporkan kepada Bupati. Lokasi, tanggal/waktu, dan kerusakan akibat kejadian bencana/KLB dimasukkan dalam format/blanko dan lampirannya. Perbaikan darurat ini dapat

dilakukan secara gotong-royong, swakelola atau kontraktual, dengan menggunakan bahan yang tersedia di Dinas/pengelola irigasi atau yang disediakan masyarakat seperti (bronjong, karung plastik, batu, pasir, bambu, batang kelapa, dan lain-lain). Selanjutnya perbaikan darurat ini disempurnakan dengan konstruksi yang permanen dan dianggarkan secepatnya melalui program rehabilitasi.

c. Rehabilitasi Jaringan Irigasi

Rehabilitasi jaringan irigasi adalah kegiatan perbaikan jaringan irigasi guna mengembalikan fungsi dan pelayanan irigasi seperti semula. Tatacara pelaksanaan memiliki beberapa hal yang mesti diperhatikan, antara lain :

(1) Rehabilitasi jaringan irigasi dilaksanakan berdasarkan urutan prioritas kebutuhan perbaikan irigasi yang ditetapkan pemerintah kabupaten sesuai dengan kewenangannya setelah memperhatikan pertimbangan komisi irigasi, dan sesuai dengan dengan norma, standar, pedoman, dan manual yang ditetapkan oleh Pemerintah.

(2) Rehabilitasi jaringan irigasi harus mendapat izin dan persetujuan desain dari pemerintah kabupaten sesuai dengan kewenangannya.

(3) Pengawasan rehabilitasi jaringan irigasi dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten sesuai dengan kewenangannya.

Sebagaimana kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, kegiatan rehabilitasi akan selalu melibatkan peran serta petani dan P3A/GP3A/IP3A dalam persiapan, pelaksanaan dan pengawasannya melalui pendekatan partisipatif. Untuk pekerjaan rehabilitasi jaringan, P3A/GP3A/IP3A dapat mengambil porsi dari pekerjaan yang dilaksanakan secara kontraktual oleh kontraktor, melalui perjanjian Kerja Sama Operasional (KSO). P3A/GP3A/IP3A yang mempunyai status hukum juga dapat melaksanakan pekerjaan sendiri, melalui Surat Perjanjian Pemberian Pekerjaan (SP3).

Perbaikan jaringan tersier juga dapat dilaksanakan oleh P3A melalui SP3, dengan dana bantuan disalurkan kepada P3A oleh Dinas Pertanian setempat. Untuk pelaksanaan tersebut, perlu disusun terlebih dahulu daftar pekerjaan fisik yang dapat dilaksanakan oleh P3A/GP3A/IP3A (disusun pada waktu diskusi hasil

181

desain). Mengingat pelaksanaan rehabilitasi membutuhkan analisis dan perhitungan desain teknis yang spesifik, maka pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi yang menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten membutuhkan pihak ketiga (konsultan). Tahap awal kegiatannya adalah survey, investigasi desain metode pendekatan partisipatif (SID-P).

Untuk mendukung kegiatan yang diuraikan diatas, baik pemerintah Propinsi/Kabupaten maupun Konsultan Perencana SID-P harus melibatkan masyarakat P3A/GP3A/IP3A pada 3 tahapan penting, sebagai berikut :

(1) Penelusuran jaringan irigasi bersama, untuk mendapatkan input dari P3A/GP3A/IP3A tentang pekerjaan perbaikan yang diperlukan;

(2) Rapat diskusi system planning, dengan berita acara;

(3) Diskusi hasil draft desain. Pada tahap ini disusun bersama sebuah daftar pekerjaan fisik yang dapat dikerjakan oleh P3A/GP3A/IP3A sesuai dengan kemampuannya.

Untuk desain Rehabilitasi, pekerjaan dibagi dalam empat (4) kegiatan utama yaitu: pengumpulan data, inventarisasi/pengukuran/invenstigasi geoteknik, system planning dan pembuatan desain rinci. Pengumpulan data serta Laporan yang ada, yang menunjang untuk penyusunan desain rehabilitasi, termasuk gambar purnalaksana dan Profil Sosial Ekonomi Teknis Kelembagaan (PSETK) yang ada. Inventarisasi/Pengukuran/Investigasi Geoteknik dilaksanakan melalui rapat persiapan dengan P3A/GP3A/IP3A, diikuti dengan Penelusuran Jaringan bersama P3A/GP3A/IP3A dan pembuatan inventaris kerusakan pada jaringan irigasi dan usulan perbaikannya dari P3A/GP3A/IP3A. Pengukuran teknis dan penggambaran saluran pembawa, saluran pembuang dan bangunan yang ada oleh Konsultan, serta pelaksanaan investigasi Geoteknik (bila perlu).

Pelaksanaan system Planning diupayakan melalui tahap perencanaan perubahan pada sistem irigasi oleh Konsultan perencana, diikuti dengan diskusi bersama P3A/GP3A/IP3A, Dinas SDA/Pengairan Propinsi/Kabupaten dan pembuatan laporan system planning (termasuk daftar usulan pekerjaan konstruksi hasil penelusuran bersama). Pembuatan desin rinci oleh Konsultan perencana, didahului dengan draft desain yang sudah disepakati oleh Dinas SDA/Pengairan Propinsi/Kabupaten. Penyusunan Rencana Anggaran Biaya

(RAB) dan Daftar Kuantitas (BOQ), dan didiskusikan dengan P3A/GP3A/IP3A untuk menyusun daftar pekerjaan yang dapat dilaksanakan oleh P3A/GP3A/IP3A. (RAB untuk jaringan tersier harus dipisahkan dengan RAB untuk jaringan primer/sekunder). Penyusunan Dokumen Lelang untuk pekerjaan fisik yang akan dilaksanakan.

(2) Penetapan Kebijakan Daerah

Penetapan kebijakan daerah antara lain diupayakan melaui pembentukan peradturan daerah tentang irigasi. Pengertian irigasi menurut PP No. 20 tahun 2006 didefinisikan sebagai usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Keberhasilan pengelolaan irigasi yang optimal tidak terlepas dari keterlibatan seluruh institusi pengelola dan pemanfaat irigasi, termasuk masyarakat petani. Untuk lebih mempersiapkan dan memperkenalkan sampai sejauh mana pengelolaan sistem irigasi dapat dipahami semua pihak, baik multi manage, multi use di tataran pemerintahan daerah, hal pertama yang perlu didorong untuk memperkuat pelaksanaan pengelolaan irigasi adalah dengan pembentukan peraturan daerah (Perda) tentang Irigasi di tingkat Pemerintah Kabupaten.

Mengingat air irigasi merupakan bagian dari hajat hidup orang banyak, maka diperlukan pengaturan lebih lanjut agar pemanfaatannya benar-benar diperuntukan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, pengaturan lebih lanjut dalam suatu bentuk produk hukum, baik di tingkat Pusat melalui Peraturan Pemerintah maupun di daerah (Provinsi dan Kabupaten) melalui Peraturan Daerah menjadi sedemikian penting dalam pencapaian tujuan kesejahteraan masyarakat.

Peraturan daerah didefinisikan secara konseptual adalah merupakan salah satu produk hukum peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, yaitu peraturan tertulis yang dibuat/disusun oleh Lembaga Negara atau Pemerintah. Oleh karena itu, peraturan daerah terikat dalam sistem perundang-undangan pemerintah sebagaimana diamanatkan dalam Ketetapan MPR Nomor 11 tahun 2000. Pengertian Peraturan Daerah dijelaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan

183

Perundang-undangan bahwa Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

Secara umum, penyusunan dan penetapan Peraturan Daerah (Perda) sedikitnya harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

(1) Dasar filosofis (nilai-nilai kebenaran yang hidup dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat);

(2) Dasar sosiologis (kebutuhan masyarakat terhadap pengaturan); dan (3) dasar hukum (kerangka hukum yang jelas).

Bentuk/struktur peraturan daerah pada umumnya memuat kerangka sebagai berikut :

(1) Pembukaan, yang mencakup: (1) menimbang; (2) mengingat; dan (3) memutuskan;

(2) Batang tubuh, yang memuat pasal-pasal pengaturan materi yang diatur; dan (3) Penutup, yang memuat aturan tambahan dan peralihan.

Secara umum beberapa materi yang perlu diperhatikan dan menjadi bagian dari peraturan daerah tentang irigasi antara lain adalah sebagai berikut : (1) Ketentuan umum (menjelaskan pengertian-pengertian konsep pengaturan

yang digunakan);

(2) Asas, maksud dan tujuan pengaturan; (3) Fungsi dan keberlanjutan irigasi

(4) Prinsip pengembangan dan pengelolaan sistim irigasi partisipatif; (5) Kelembagaan pengelolaan irigasi;

(6) Wewenang dan tanggung jawab; (7) Prinsip partisipasi masyarakat;

(8) Pemberdayaan organisasi perkumpulan petani pemakai air; (9) Pengelolaan air baku untuk irigasi;

(11) Pengelolaan irigasi;. (12) Pengelolaan aset irigasi;

(13) Alih fungsi lahan beririgasi dan keberlanjutan sistem irigasi; (14) Pembiayaan;

(15) Koordinasi; (16) Pengawasan;

(17) Ketentuan peralihan; dan (18) Ketentuan penutup

Proses penyusunan peraturan daerah bidang irigasi secara umum dapat mengikuti mekanisme dengan tahapan sedikitnya sebagai berikut (dapat disesuaikan dengan peraturan dan kebijakan daerah setempat) :

(1) Tahap Perencanaan

(a) Pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebagai pemrakarsa menyusun rencana rancangan peraturan daerah tentang irigasi yang disertai dengan penjelasan mengenai konsepsi pengaturan mencakup: (a) latar belakang dan tujuan penyusunan; (b) dasar hukum; (c) sasaran yang ingin diwujudkan; (d) pokok pikiran, lingkup atau obyek yang diatur; dan (e) keterkaitan dengan peraturan perundang-undangan lainnya. (b) SKPD pemrakarsa terlebih dahulu harus mempersiapkan naskah

akademik yang penyusunannya dapat dikerjasamakan dengan Perguruan Tinggi dan atau pihak ketiga yang mempunyai keahlian dalan bidang irigasi. Naskah akademik tersebut sekurang-kurangnya memuat dasar filosofis (nilai-nilai kebenaran yang hidup dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat); dasar sosiologis (Kebutuhan masyarakat terhadap pengaturan); dasar hukum atau yuridis (kerangka hukum yang jelas); pokok dan lingkup materi yang akan diatur. Naskah akademik tersebut disertakan dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Irigasi.

(c) Dalam rangka penyusunan Raperda Irigasi perlu dibentuk Tim Antar Satuan Kerja Perangkat Daerah (TASKPD). TASKPD diketuai oleh

185

Pimpinan SKPD pemrakarsa atau pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah dan Kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum berkedudukan sebagai sekretaris.

(d) TASKPD sekurang-kurangnya terdiri dari Bappeda, Dinas Pengairan (atau dinas yang membidang irigasi), Dinas Pertanian, Bappedalda, Dinas Kehutanan, Komisi irigasi, dan Biro/Bagian Hukum Setda.

(e) TASKPD kabupaten membahas rencana rancangan penyusunan Perda Irigasi, dan apabila diperlukan dapat melibatkan berbagai pihak terkait (unsur Perguruan Tinggi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat, wakil P3A/GP3A/IP3A, dan pihak terkait lainnya) untuk penyamaan persepsi, tingkat kepentingan, dan menampung berbagai aspirasi, tanggapan serta pertimbangannya.

(2) Tahap Penyusunan.

(a) TASKPD kabupaten mengadakan pertemuan untuk penyusunan materi raperda irigasi yang didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan terkait dengan irigasi, dokumen kebijakan dan dokumen penunjang lainnya yang tekait, serta memperhatikan aspirasi yang berkembang di masyarakat (khususnya masyarakat pengguna air irigasi).

(b) Pembahasan dilakukan dengan menitikberatkan pada permasalahan yang bersifat prinsip mengenai objek yang diatur, jangkauan, dan arah pengaturan.

(c) Hasil penyusunan awal tersebut dilaporkan kepada sekretaris daerah oleh ketua TASKPD termasuk berbagai permasalahan yang menyertainya, dan kemudian dapat diajukan sebagai bahan konsultasi publik kepada masyarakat secara lebih luas untuk mendapatkan berbagai masukan dan aspirasi dalam penyempurnaannya.

(3) Tahap Konsultasi Publik

(a) Setelah draft awal raperda irigasi disusun, kemudian diselenggarakan konsultasi publik untuk menjaring berbagai masukan dalam

penyempurnaan materi raperda sesuai tuntutan dan aspirasi yang berkembang di masyarakat secara lebih luas.

(b) Hasil kegiatan konsultasi publik tersebut dirumuskan dan disusun kembali sebagai bahan penyempurnaan raperda irigasi.

(c) Biro hukum atau bagian hukum melakukan harmonisasi dan sinkronisasi naskah awal raperda irigasi dengan memperhatikan materi, tanggapan dan pertimbangan dari hasil konsultasi publik sebagai bahan penyempurnaan raperda irigasi.

(4) Tahap Pengajuan dan Penyempurnaan Materi Ranperda Irigasi

(a) TASKPD kabupaten mengajukan bahan Raperda hasil konsultasi publik melalui biro hukum atau bagian hukum kepada sekretariat daerah sebagai laporan perkembangan raperda untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.

(b) Rancangan peraturan daerah tersebut dilampirkan juga isi pokok-pokok pikiran (maksud dan tujuan pengaturan, dasar hukum, materi yang akan diatur, dan keterkaitan dengan peraturan perundang-undangan lainnya) dan harus mendapatkan paraf koordinasi kepala biro hukum dan kepala bagian hukum, serta pimpinan SKPD terkait.

(c) Pimpinan SKPD pemrakarsa atau pejabat yang ditunjuk mengajukan rancangan peraturan daerah tentang irigasi yang telah mendapatkan paraf koordinasi kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah.

(d) Sekretaris daerah dapat melakukan perubahan dan atau penyempurnaan terhadap rancangan perda irigasi yang telah diparaf koordinasi, yang hasilnya dikembalikan kepada pimpinan SKPD pemrakarsa.

(e) Pimpinan SKPD pemrakarsa mengatur penyempurnaan materi kepada TASKPD untuk dilakukan revisi sesuai arahan sekretaris daerah.

Dalam dokumen V. ANALISA KEBIJAKAN (Halaman 71-104)

Dokumen terkait