• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. ANALISA KEBIJAKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "V. ANALISA KEBIJAKAN"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

V. ANALISA KEBIJAKAN

5.1. Perkembangan Kebijakan Pengelolaan Irigasi

Kebijakan pengelolaan irigasi di Indonesia tidak terlepas dari kebijakan pengairan yang sudah dimulai sejak Zaman Hindia Belanda dengan diterbitkannya Algemeene Water Reglement pada tahun 1936 (AWR 1936) dan disusul dengan Algemeene Water Beheersverordening pada tahun 1937 (AWB 1937) serta Provinciale Water Reglement pada tahun 1940, khususnya di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat. Pada periode pasca kemerdekaan ketentuan-ketentuan perundang-undangan tersebut masih diberlakukan sesuai dengan aturan peralihan UUD 1945 (Dikun, 2003).

Pelaksanaan kebijakan pengairan pada masa kemerdekaan secara lebih nyata diawali sejak tahun 1968 – 1973 melalui program Pembangunan Lima Tahun Pertama (Pelita I). Prioritas kebijakan pada waktu itu adalah peningkatan produksi pangan, sehingga berimplikasi pada dukungan pengairan, khususnya irigasi yang diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang cepat menghasilkan (quick yielding) melalui rehabilitasi jaringan irigasi yang rusak. Selain itu juga dilakukan pembangunan jaringan irigasi baru di daerah prioritas, terutama di pusat-pusat produksi beras. Pada masa tersebut belum ada kebijakan peraturan perundangan-undangan yang ditetapkan untuk mengatur pembangunan pengairan dan keirigasian.

Kebijakan pembangunan pengairan baru ditetapkan pada periode Pelita II (1973–1978) dengan orientasi pembangunan pengairan ditujukan untuk menunjang usaha peningkatan produksi pangan, mengamankan daerah produksi pangan, menunjang pelaksanaan transmigrasi, dan menunjang perkembangan industri. Untuk mencapai hal tersebut ditetapkan Undang-Undang No. 11 tahun 1974 tentang Pengairan sebagai wujud legal dari kebijakan umum di bidang pengairan, sekaligus acuan pembangunan pengairan termasuk di sektor irigasi. Apabila diperhatikan perkembangan kegiatan pembangunan pengairan sampai terbentuknya Undang-Undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air secara umum terdapat 4 (empat) pendekatan dalam pengelolaan sektor sumber daya air dan irigasi, yaitu :

(2)

(1) Pendekatan investasi melalui pembangunan prasarana fisik jaringan irigasi (1960 – 1980);

(2) Pendekatan pengendalian penawaran kebutuhan air (supply driven) melalui optimalisasi pemanfaatan (1980 – 1990);

(3) Pendekatan partisipatif melalui pengenalan prinsip-prinsip partisipatif dalam pengelolaan irigasi (1990 – 1999); dan

(4) Pendekatan pemberdayaan berbasis partisipatif melalui penguatan Kelembagaan Pengelolaan Irigasi (KPI) baik di tingkat pemerintahan daerah maupun lembaga masyarakat petani pemakai air (2000 – sekarang).

Gambaran perkembangan kebijakan sumber daya air tersebut secara lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 22.

2000 - sekarang Pendekatan Pemberdayaan Berbasis

Partisipatif 1936 - 1940 Zaman Hindia Belanda

Pendekatan Pembangunan Jaringan Irigasi Pendekatan Supply Driven Pendekatan Partisipatif 1990 - 2000 1980 - 1990 1970 - 1980 UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan

- PP No. 6 Tahun 1981 tentang Iuran OP Prasarana Pengairan - PP No. 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air - PP No. 23 Tahun 1982 tentang Irigasi

- PP No. 3 Tahun 1990 tentang Tata Pengaturan Air - Inpres No. 2 Tahun 1984 tentang Pembinaan P3A - KepPres No. 33 Tahun 1990 tentang Larangan Lahan Beririgasi Teknis untuk Industri - UU No. 12/1992 tentang

Budidaya Tanaman - UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah

- Keputusan Bersama Menteri KPKM, Menteri PU, Menteri Pertanian, dan Mendagri No. 06/SK/M/V/1999, No. 560/KPTS/150/V/1999, dan No. 44 Tahun 1999 tentang Pemberdayaan P3A melalui Koperasi - Inpres No. 3/1999 tentang

Pembaharuan Kebijaksanaan Pengelolaan Irigasi (PKPI)

- UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah - UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air

- KepMen. Kimpraswil No. 529/KPTS/M/ 2001 tentang Penyerahan Kewenangan Irigasi Kepada P3A - KepMendagri No. 50/2001 tentang Pedoman Pemberdayaan P3A - KepMendagri No. 22/2003 tentang Pedoman Pengaturan Wewenang, Tugas dan Tanggung Jawab LPI - KepMen Keuangan No.298/KMK.02/ 2003 tentang Pedoman penyediaan DPIK

- PerMen PU No.30/PRT/M/2007 tentang Pedoman PPSIP

- PerMen PU No.31/PRT/M/2007 tentang Pedoman Mengenai Komisi Irigasi - PerMen PU No.32/PRT/M/2007 tentang Pedoman O&P Jaringan Irigasi - PerMen PU No.33/PRT/M/2007 tentang Pedoman Pemberdayaan P3A/GP3A/

IP3A - PP No. 77/2001 tentang Irigasi

- KepPres No. 123/2001 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air sebagaimana telah diubah dengan KepPres No. 83/2002. - PP No. 20/2006 tentang Irigasi

Algemeene Water Reglement (1936) Algemeene Water Beheersverordening (1937) Provinciale Water Reglement (1940)

(3)

105

Kebijakan pengelolaan irigasi pada periode tahun 1970 - 1980 menitikberatkan prioritas kegiatannya melalui pendekatan pembangunan sarana dan prasarana jaringan irigasi. Prioritas pembangunan seperti ini memberikan konsekuensi terhadap kebijakan pengelolaan irigasi yang dilaksanakan berdasarkan administrasi pemerintah yang terpusat dengan alasan karena kemampuan teknis yang terbatas. Pada periode tersebut dilaksanakan pembangunan jaringan irigasi baik berskala kecil maupun dengan skala besar. Hal yang sangat mendasar dari periode tersebut adalah pembentukan perundangan-undangan yang pertama di Indonesia dalam pengaturan pengairan melalui penetapan Undang-Undang No. 11 tahun 1974 tentang Pengairan.

Pada periode 1980–1990, pengelolaan irigasi dilaksanakan melalui pendekatan kendali penawaran atas kebutuhan air (supply driven approach). Pendekatan tersebut merupakan masa optimalisasi pemanfaatan sumber daya air secara besar-besaran untuk berbagai kebutuhan. Namun demikian, sisi lainnya dilupakan yaitu pemeliharaan dan batas-batas lingkungan sehingga mengakibatkan terabaikannya pemeliharaan prasaran sumber daya air serta pemanfaatan sumber daya yang tidak berwawasan lingkungan. Akibat lainnya yang ditimbulkan adalah banyak infrastruktur sumber daya air dan irigasi yang mengalami kerusakan dan penurunan fungsinya. Kebijakan yang ditetapkan pada masa tersebut adalah:

(1) Peraturan Pemerintah (PP) No. 6 tahun 1981 tentang Iuran Pembiayaan Eksploitasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengairan;

(2) PP No. 22 tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air; (3) PP No. 23 tahun 1982 tentang Irigasi;

(4) Inpres No. 2 tahun 1984 tentang Pembinaan P3A; (5) PP No. 3 tahun 1990 tentang Tata Pengaturan Air; dan

(6) Keputusan Presiden No. 33 tahun 1990 tentang Larangan Lahan Beririgasi Teknis untuk Industri.

Beberapa peraturan tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 1974 tentang Pengairan dan menjadi pedoman bagi pembangunan serta pengelolaan pengairan, termasuk pengelolaan irigasi dan pemberdayaan

(4)

kelembagaan pengelolaan irigasi. Pada periode 1990–2000, pengelolaan irigasi mengalami masa yang sangat bersejarah bagi proses pengelolaan irigasi yang didasarkan pada sendi-sendi partisipatif. Masa ini juga ditandai oleh kejadian krisis moneter pada tahun 1997 dimana dampaknya terhadap pembangunan menjadi sangat luas termasuk terbatasnya anggaran untuk pembiayaan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi. Periode partisipatif menjadi agenda utama untuk mengimbangi pergeseran paradigma pembangunan yang lebih condong ke industri. Hal ini didasarkan pada arah pembangunan nasional untuk mencapai industri yang maju didukung oleh pertanian yang tangguh. Konsekuensi logis pada kebijakan pembangunan pengairan tentunya mengikuti kedua sektor tersebut secara seimbang, yaitu menyokong kebutuhan sumber daya air untuk sektor industri dan pertanian.

Beberapa kebijakan yang ditetapkan pada masa pendekatan partisipatif tersebut adalah sebagai berikut:

(1) Undang-Undang No. 12 tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman; (2) Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;

(3) Instruksi Presiden No. 3 tahun 1999 tentang Pembaharuan Kebijaksanaan Pengelolaan Irigasi;

(4) Keputusan Bersama Menteri Koperasi Pengusaha Kecil dan Menengah, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Pertanian, dan Menteri Dalam Negeri No. 06/SK/M/V/1999, No. 560/KPTS/150/V/1999, dan No. 44 tahun 1999 tentang Pemberdayaan P3A melalui Koperasi.

Pada periode 2000–sekarang, pengelolaan irigasi dikembangkan dengan menggunakan pendekatan pemberdayaan berbasis partisipasi masyarakat petani pemakai air. Pemberdayaan dilaksanakan melalui penguatan Kelembagaan Pengelolaan Irigasi (KPI) baik di tingkat pemerintahan daerah maupun masyarakat petani pemakai air. Secara umum pada periode ini ditandai dengan berbagai keputusan penetapan kebijakan yang sarat dengan muatan reformasi. Kebijakan pengelolaan irigasi dengan format baru tersebut disajikan dalam program Pengembangan dan Pengelolaan Sistim Irigasi Partisipatif (PPSIP). Beberapa kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang sudah ditetapkan pada periode ini adalah sebagai berikut:

(5)

107

(1) Undang-Undang (UU) No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; (2) UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;

(3) PP No. 77 tahun 2001 tentang Irigasi;

(4) Keputusan Presiden No. 123 tahun 2001 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden No. 83 tahun 2002;

(5) PP No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi;

(6) Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 529/KPTS/M/2001 tentang Penyerahan Kewenangan Irigasi kepada Perkumpulam Petani Pemakai Air;

(7) Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 50 tahun 2001 tentang Pedoman Pemberdayaan Perkumpulam Petani Pemakai Air;

(8) Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 22 tahun 2003 tentang Pedoman Pengaturan Wewenang, Tugas dan Tanggung Jawab Lembaga Pengelola Irigasi;

(9) Keputusan Menteri Keuangan No. 298/KMK.02/2003 tentang Pedoman Penyediaan Dana Pengelolaan Irigasi Kabupaten;

(10) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 30/PRT/M/2007 tentang Pedoman Pengembangan dan Pengelolaan Sistim Irigasi Partisipatif;

(11) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 31/PRT/M/2007 tentang Pedoman Mengenai Komisi Irigasi;

(12) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 32/PRT/M/2007 tentang Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi; dan

(13) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 33/PRT/M/2007 tentang Pedoman Pemberdayaan Organisasi P3A/GP3A/IP3A.

Sedikitnya terdapat 2 (dua) tujuan khusus yang ingin dicapai dari program pengelolaan sumber daya air, yaitu sebagai berikut : (1) tujuan pertama adalah untuk meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air dan operasi serta pemeliharaan jaringan irigasi, dengan merubah peran Pemerintah dari fully provider terhadap barang dan jasa menjadi enabler bagi masyarakat

(6)

untuk dapat memobilisasi kapasitas mereka sendiri dalam menyelesaikan masalah-masalah sebagai wujud perubahan peran masyarakat dari recipient menjadi participation; dan (2) tujuan yang kedua adalah desentralisasi dari kewenangan Pemerintah dan pendanaan kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten, yang ditetapkan dalam Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, dan Undang-Undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Rangkaian perkembangan kebijakan pengelolaan sumber daya air dan irigasi pada sisi lain juga menampakan berbagai permasalahan dan tantangan pembangunan yang dihadapi pemerintah saat ini seperti kualitas sumber daya manusia yang pada umumnya masih rendah mempengaruhi kemampuan dalam mengelola sumber daya air. Kondisi pelayanan dan penyediaan infrastruktur mengalami penurunan kuantitas dan kualitas yang akan mempengaruhi perbaikan kesejahteraan rakyat serta kesenjangan pembangunan antar daerah masih menunjukkan fakta yang signifikan.

Perjalanan sejarah penguatan kelembagaan dalam rangkaian gerbong reformasi sumber daya air dan irigasi tersebut belum merefleksikan secara tepat terjadinya perubahan yang diharapkan. Keterkaitan proses penguatan kelembagaan pengelolaan irigasi dengan kebijakan pengelolaan sumber daya air dan irigasi memegang peranan penting dalam menggambarkan segala macam tuntutan dan harapan dari perubahan kebijakan pengelolaan sumber daya air. Pentingnya peran irigasi tersebut antara lain terlihat dari investasi yang telah ditanamkan dalam pengembangan dan pembangunan infrastruktur sumber daya air yang menduduki peringkat pertama selama tahun 1989/1990 sampai dengan tahun anggaran 2003, yaitu sebesar 78.92 persen, sedangkan lainnya untuk infrastruktur bendungan, bendung karet, embung (18.32%), pengendalian banjir dan pengamanan pantai (2.66%) dan untuk air baku hanya sebesar 0.1 persen sebagaimana terlihat pada Gambar 23.

(7)

109

Irigasi

bendungan, bendung karet, embung

Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai

Air Baku

78.92% 0.1% l 2.66% 18.32%

Gambar 23 Pembangunan infrastruktur prasarana sumber daya air

5.2. Penataan Ruang Wilayah

Dalam rangka melaksanakan kegiatan pembangunan daerah, telah diupayakan adanya keterpaduan pembangunan sektoral dan wilayah/daerah. Wujud operasionalnya secara terpadu diselenggarakan melalui pendekatan wilayah yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang komprehensif dan bersinergi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Propinsi. Penataan ruang wilayah diatur melalui Undang-Undang No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 1997 mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang didalamnya terdapat dua hal penting dalam pengembangan daerah Kabupaten Cianjur yaitu penetapan kawasan andalan dan sistem pusat-pusat permukiman perkotaan.

Kawasan andalan yang berkenaan dengan Kabupaten Cianjur adalah kawasan Bogor Puncak dan Cianjur (Bopunjur) dan sekitarnya, dengan sektor unggulan kawasan ini adalah pertanian tanaman pangan dan pariwisata. Simpul atau pusat-pusat yang dikemukakan dalam kawasan ini adalah Bogor sebagai

(8)

PKW (Pusat Kegiatan Wilayah) dan pusat-pusat lainnya sebagai PKL (Pusat Kegiatan Lokal), diantaranya yang terletak di Kabupaten Cianjur yaitu Cianjur, Cipanas, Ciranjang dan Pacet.

Rencana tata ruang wilayah Kabupaten Cianjur ditetapkan oleh Bupati Cianjur pada tahun 2005 dan berlaku selama sepuluh tahun atau sampai tahun 2015. Rencana tata ruang tersebut harus selaras dengan RTRW provinsi dan nasional. Oleh karena itu, penetapan RTRW Kabupaten Cianjur kemudian dikaji lagi dalam RTRW Provinsi Jawa Barat 2010 yang menyatakan bahwa pada prinsipnya kawasan andalan yang terkait dengan Kabupaten Cianjur ini adalah kawasan andalan Bopunjur dan sekitarnya. Namun pada penetapan sistem kota-kota, ternyata kemudian ditetapkan bahwa simpul/kota Cianjur merupakan PKW (Pusat Kegiatan Wilayah), sehingga kawasan wilayah andalan Bopunjur menjadi memiliki dua pusat yaitu Bogor dan Cianjur sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), atau Cianjur sebagai pusat Bopunjur karena Bogor telah menyatu dalam Jabodetabek sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN).

Adapun kebijakan dasar RTRW Kabupaten Cianjur meliputi :

(1) Penataan ruang wilayah dilakukan berdasarkan fungsi utama kawasan yang meliputi kawasan lindung dan kawasan budidaya.

(2) Penataan ruang berdasarkan aspek administrasi yang meliputi seluruh wilayah administratif Kabupaten Cianjur.

(3) Penataan ruang wilayah Kabupaten Cianjur, mencakup dimensi penataan ruang daratan, penataan ruang udara, penataan ruang perairan, sampai batas-batas tertentu sesuai yang diatur dengan peraturan perundang-undangan.

(4) Penataan ruang wilayah kabupaten Cianjur diselenggarakan sebagai bagian integral dari kebijaksanaan penataan ruang nasional dan provinsi.

(5) Penataan ruang Kabupaten Cianjur dilakukan dengan pertimbangan perwujudan visi dan misi pembangunan Kabupaten Cianjur, serta hambatan dan tantangan yang ada, baik dari internal maupun eksternal wilayah Kabupaten Cianjur.

(9)

111

(6) Kebijakan penataan ruang kawasan tertentu diselenggarakan untuk mengembangkan tata ruang kawasan strategis yang diprioritaskan dalam rangka penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten, meningkatkan fungsi kawasan lindung dan budidaya, dan mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kesejahteraan rakyat.

(7) Kebijakan kawasan tertentu, tertuju pada upaya penataan dan pengelolaan kawasan andalan, kawasan kritis lingkungan, kawasan sangat tertinggal, kawasan pertahanan dan keamanan, yang pengelolaan kawasan tertentu dilakukan oleh pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(8) Dokumen RTRW, digunakan untuk kepentingan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang dalam kurun waktu 10 tahun kedepan terhitung sejak disyahkannya dokumen RTRW ini dapat ditinjau dan direvisi kembali bila dipandang tidak dapat mengakomodasi perkembangan yang terjadi atau apabila terjadi perubahan oleh kebijakan pembangunan yang lebih tinggi.

(9) Dalam keberhasilan proses penataan ruang (perencanaan pemanfaatan dan pengendalian) dilakukan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan peranserta aktif komponen masyarakat.

Secara umum kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Cianjur meliputi kebijakan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Dalam konteks kebijakan perencanaan tata ruang dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan penataan ruang serta melalui pendekatan partisipatif. Tujuannya adalah mewujudkan rencana tata ruang sesuai dengan kaidah penataan ruang, sedangkan sasarannya adalah meningkatnya peran kelembagaan dan peranserta masyarakat dalam perencanaan tata ruang.

Konsep perencanaan tata ruang berlandaskan pada perkembangan isu-isu strategis wilayah, dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam mekanisme perumusan isu-isu strategis pengembangan wilayah dan perumusan kebijakan-kebijakan pembangunan yang dijadikan dasar untuk mengarahkan kebijakan-kebijakan RTRW sampai akhir tahun 2015. Untuk menunjang hal tersebut diperlukan

(10)

partisipasi masyarakat meliputi pengisian program RTRW, konsistensi dalam hal pemanfaatan ruang sesuai dengan arahan RTRW, dan memahami serta turut terlibat dalam pengendalian dan pengawasan pemanfataan ruang sesuai dengan arahan RTRW.

Rencana tata ruang wilayah dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan bilamana RTRW tidak mampu lagi mengakomodasi dinamika perkembangan yang disebabkan oleh faktor eksternal dan atau internal. RTRW perlu ditindaklanjuti ke dalam rencana terperinci yang bertujuan untuk merinci arahan pemanfaatan ruang yang tertuang di dalam RTRW, sedangkan sasarannya adalah tersusunnya rencana tata ruang kawasan andalan, tersusunnya rencana tata ruang kawasan perkotaan ibukota kecamatan dan tersusunnya rencana tata ruang teknis lainnya.

Selain itu juga RTRW perlu ditindaklanjuti dengan penyusunan petunjuk operasional RTRW yang ditetapkan oleh Bupati. Tujuannya adalah untuk mewujudkan RTRW Kabupaten Cianjur sebagai pedoman perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang, sedangkan sasarannya adalah tersusunnya petunjuk operasional. Perencanaan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perwujudan visi dan misi pembangunan Kabupaten Cianjur, tantangan dan hambatan internal dan ekternal dan aspek pengelolaan dan keterbatasan sumberdaya.

Pelaksanaan perencanaan tata ruang tersebut dalam konteks penelitian masih diperlukan penataan ulang dan peninjauan kembali. Hal ini terkait dengan keterpaduan perencanaan (integrated planning) yang masih belum padu antara perencanaan di daerah hulu dengan perencanaan di daerah hilir. Upaya tersebut perlu segera dilakukan melalui pengembangan sumber daya air yang terintegrasi dengan penyusunan rencana tata ruang yang terkoordinasi. Konservasi sumber daya air yang sangat terkait dengan perencanaan tata ruang perlu dikembangkan dengan memperhatikan adanya keterbatasan lingkungan dan meminimalkan dampak kekurangan dan kelebihan ketersediaan air di daerah hulu dan hilir.

Implementasi untuk mengkoordinasikan penngelolaan sumber daya air dan irigasi dengan perencanaan tata ruang dalam prakteknya akan menghadapi tantangan yang cukup kompleks dan dinamis. Hal ini sangat tergantung pada

(11)

113

koordinasi antardidiplin dan antarwilayah, khususnya dalam pelibatan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan terkait dalam prosesnya. Pada sisi lain pembagian peran antara hulu dan hilir juga harus dipetakan secara jelas agar perencanaan terpadu yang diharapkan dapat berjalan secara tepat baik untuk pengelolaan sumber daya air di daerah hulu maupun pengelolaan irigasi di daerah hilir.

Keterpaduan perencanaan tata ruang dalam pengelolaan sumberdaya air dan irigasi merupakan suatu proses koordinasi dalam perencanaan tata ruang untuk mengembangkan dan mengelola sumberdaya air, irigasi, dan lahan pertanian beririgasi serta sumberdaya lainnya dalam suatu kawasan di daerah hulu dan hilir untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan kesejahteraan sosial yang seimbang tanpa meninggalkan keberlanjutan ekosistem. Konsep ini adalah memfokuskan pada pengelolaan terpadu antara kepentingan bagian hulu dan kepentingan bagian hilir, pengelolaan terpadu antara kuantitas dan kualitas air, antara air tanah dan air permukaan, serta antara sumberdaya lahan dan sumberdaya air.

Pada aspek kebijakan pemanfaatan ruang diarahkan untuk mewujudkan struktur tata ruang dan pola pemanfaatan ruang. Tujuan kebijakan struktur tata ruang wilayah Kabupaten Cianjur adalah: (1) mewujudkan visi dan misi pembangunan Kabupaten Cianjur, (2) menyelaraskan antara perkembangan penduduk dan kebutuhan kelengkapan sarana dan prasarana pada setiap wilayah, (3) mengoptimalkan keterbatasan ketersediaan sumberdaya yang ada, baik sumberdaya manusia, alam dan sumberdaya binaan, dan sumberdaya pembiayaan, (4) pemecahan persoalan pengembangan wilayah dan (5) mewujudkan aspirasi masyarakat.

Struktur tata ruang Kabupaten Cianjur lebih diarahkan pada pengaturan dan pengendalian pusat kegiatan dan pelayanan di wilayah utara serta mengembangkan lebih pesat tetapi tetap terkendali (terkait pelestarian kawasan lindung) wilayah tengah dan selatan, serta pengembangan sistem prasarana wilayah difokuskan pada wilayah-wilayah yang didorong perkembangan yaitu pada wilayah bagian tengah dan selatan.

(12)

Dalam RTRW Provinsi Jawa Barat 2010 terdapat lima bahasan penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan wilayah Kabupaten Cianjur yaitu arahan pengembangan sistem kota-kota, arahan pengembangan infrastruktur wilayah, arahan pengembangan wilayah andalan, arahan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan arahan pemanfaatan ruang kawasan budidaya. Dalam arahan pengembangan kawasan andalan, dikemukakan tentang basis pengembangan pada enam kegiatan utama (core business) ekonomi melalui penetapan 8 kawasan andalan. Salah satu kawasan andalan tersebut yang terkait dengan wilayah Kabupaten Cianjur adalah kawasan andalan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopunjur) dan sekitarnya dengan sektor usaha unggulan adalah pertanian tanaman pangan, pariwisata, perkebunan dan perikanan darat.

Pengembangan Bopunjur sebagai kawasan unggulan agribisnis dan pariwisata dengan memberdayakan masyarakat setempat dan tetap mempertahankan fungsi konservasi bertujuan untuk meningkatkan potensi agribisnis dan agriwisata sebagai komoditas andalan, memberdayakan masyarakat setempat untuk menunjang kegiatan agribisnis dan pariwisata dan mempertahankan kawasan Bopunjur sebagai kawasan konservasi. Adapun sasaran dari kegiatan pengembangan kawasan Bopunjur ini adalah

(1) Tertatanya lahan peruntukan yang mendukung kegiatan agribisnis melalui inventarisasi lahan agribisnis dan menentukan jenis komoditi unggulannya (2) Meningkatnya mutu komoditas unggulan agribisnis melalui pelatihan SDM

dan peningkatan teknologi budidaya dan pasca panen

(3) Tertatanya lahan peruntukan yang mendukung kegiatan agribisnis melalui invetarisasi lahan agrowisata dan menentukan model agrowisata

(4) Adanya kemitraan untuk menunjang kegiatan agribinis dan agrowisata antara masyarakat setempat dan investor melalui kemitraan usaha (modal) serta kemitraan teknologi dan produksi.

(5) Meningkatkan kualitas sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan agribisnis dan agrowisata melalui pelatihan-pelatihan

(6) Dipertahankannya lahan-lahan konservasi melalui reboisasi, rehabilitasi lahan kritis dan konservasi sumberdaya alam

(13)

115

Arahan pemanfaatan ruang kawasan lindung yang terkait dengan wilayah Kabupaten Cianjur meliputi :

(1) Hutan lindung merupakan kawasan yang karena keadaan sifat alamnya diperuntukkan guna pengaturan tata air, pencegahan bencana banjir dan erosi serta pemeliharaan kesuburan tanah. Penetapan kawasan hutan lindung di Kabupaten Cianjur seluas 18.702,11 ha yang tersebar dan terletak di DAS Cisadea, Cibuni dan Citarum.

(2) Penetapan kawasan berfungsi lindung yang meliputi tanah negara bebas dengan ketinggian >1000 m dan kemiringan >40% yang berada di luar kawasan hutan berfungsi lindung dan perkebunan khususnya perkebunan negara yang berada di wilayah Kabupaten Cianjur terletak di DAS Cibuni, Cisadea, Cipondok, Cimaragang, Cilaki dan Citarum. Sedangkan kawasan perlindungan setempat yang terdapat di wilayah Kabupaten Cianjur meliputi sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar waduk dan situ, dan kawasan sekitar mata air, dengan lokasi yang relatif tersebar mengikuti keberadaan perairan atau badan air yang ada.

(3) Kawasan cagar alam yang terdapat di Kabupaten Cianjur yaitu cagar alam Talaga Warna (Cianjur), cagar alam Talaga Warna (perluasan) yang berada antara Cianjur-Bogor, cagar alam Takokak (Cianjur), cagar alam Cadas Madang (Cianjur), cagar alam Bojong Larang Jayanti (Cianjur) dan cagar alam Gunung Simpang (Cianjur-Bandung).

(4) Taman nasional adalah kawasan darat dan atau perairan yang ditunjuk relatif luas, tumbuhan dan atau satwa memiliki sifat spesifik dan endemik serta berfungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya hayati dan ekosistemnya, seperti Gede-Pangrango, Cianjur-Sukabumi-Bogor

(5) Taman wisata alam meliputi kawasan daratan dan atau perairan yang ditunjuk mempunyai luas yang cukup dan lapangnya tidak membahayakan serta memiliki keadaan yang menarik dan indah baik terjadi secara alami atau buatan dan memenuhi kebutuhan rekreasi dan atau olahraga serta mudah untuk dijangkau, seperti taman wisata alam Jember (Cianjur)

(14)

(6) Perlindungan alam plasma nutfah yaitu kawasan diluar kawasan suaka alam dan pelestarian alam yang diperuntukkan bagi pengembangan dan pelestarian pemanfaatan plasma nutfah seperti taman bunga nusantara (Cianjur), kebun raya Cibodas (Cianjur) dan Ciogong (Cianjur)

(7) Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan hádala kawasan yang merupakan lokasi bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun bentukan geologi alami yang khas, seperti istana Cipanas , makam dalem Cikundul, situs megalitik Gunung Madang, situs megalitik Pasir Pogor, situs megalitik Bukit Tongtu, situs megalitik Bukit Kasur, situs megalitik Gunung Putri, situs megalitik Lemah Duhur, situs megalitik Pasir Manggu dan situs megalitik Kuta Pinggan

(8) Kawasan rawan bencana alam meliputi rawan bencana alam gunung berapi, rawan gempa bumi, rawan gerakan tanah, rawan gelombang pasang dan banjir.

Adapun kriteria dan pertimbangan rencana pemanfaatan dan pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Cianjur adalah :

(1) Pengembangan kawasan lindung didasarkan pada Keppres 32/90 tentang pengelolaan kawasan lindung

(2) Rencana pengelolaan kawasan lindung disusun agar masyarakat berperan aktif dalam pengawasan dan pengendalian kawasan lindung

(3) Rencana kawasan lindung yang disusun merupakan alat untuk mengendalikan peruntukan kawasan lindung, membatasi dan mencegah penyimpangan pemanfaatan kawasan lindung, dan mempermudah perwujudan rencana pemanfaatan dan pengelolaan kawasan lindung yang sesuai dengan pemanfaatan ruang yang ditetapkan

(4) Kawasan lindung berfungsi untuk menjaga siklus hidrologi (resapan air tanah)

(5) Pengembangan kawasan lindung dapat berfungsi untuk menjaga limpasan air hujan (keseimbangan lingkungan), polusi (polusi udara, polusi air, polusi tanah dll)

(15)

117

(6) Pengembangan kawasan lindung mencegah bencana alam, erosi, pemanasan global, kekeringan, banjir akibat penyempitan dan pendangkalan sungai

(7) Pengembangan kawasan lindung meningkatkan dan menjaga kenyamanan, keindahan dan kesehatan lingkungan.

Aspek bahasan penting lainnya adalah arahan pemanfaatan ruang kawasan budidaya. Kawasan budidaya yang diarahkan dalam RTRW Provinsi Jawa Barat 2010 adalah kawasan lahan basah (sawah). Pengembangan kawasan budidaya lahan sawah bertujuan menjamin ketersediaan produksi beras untuk swasembada beras Jawa Barat. Rencana pengembangan kawasan budidaya lahan sawah mencakup upaya mempertahankan fungsi lahan di kawasan pertanian lahan basah (sawah) terutama lahan sawah yang beririgasi teknis, meningkatkan produktivitas lahan sawah melalui upaya intensifikasi dan mengembangkan infrastruktur sumberdaya air dan jaringan irigasi.

Selain kawasan budidaya lahan basah, dalam RTRW Provinsi Jawa Barat terdapat kawasan budidaya yang pengelolaannya ditetapkan berfungsi lindung yaitu sebagai kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya (diarahkan sebagai cadangan hutan lindung) yaitu kawasan hutan produksi dan perkebunan besar. Dengan kata lain kawasan hutan produksi dan perkebunan tersebut berfungsi ”ganda” yaitu sebagai potensi produksi sekaligus sebagai kawasan yang berfungsi lindung. Kriteria dan pertimbangan rencana pengelolaan kawasan budidaya di Kabupaten Cianjur adalah:

(1) Pemanfaatan lahan dalam pengembangannya memperhatikan daya dukung lingkungan (kriteria keppres 32/90 dan 57/89)

(2) Pemanfaatan lahan dalam pengembangannya memperhatikan ketersediaan dan perkembangan tenaga kerja

(3) Pemanfaatan lahan dalam pengembangannya memperhatikan dukungan terhadap struktur tata ruang yang dikembangkan

(4) Pemanfaatan lahan harus memperhatikan kesesuaian lahan.

Beberapa kendala fisik dalam pengembangan kawasan budidaya di Kabupaten Cianjur yaitu terdapatnya kawasan rawan bencana, lahan kritis dan

(16)

resapan air. Wilayah Cianjur bagian selatan memiliki tingkat kerentanan yang tinggi untuk terjadinya gerakan tanah sehingga rawan terjadinya bencana alam dan erosi seperti di Kecamatan Cibinong ±13,098.60 ha (38.88% dari luas wilayahnya), Kecamatan Naringgul ±7,401.49 ha (30.36% dari luas wilayahnya), Kecamatan Kadupandak ± 6,633.53 ha (42.91% dari luas wilayahnya) dan yang paling mengkhawatirkan adalah Kecamatan Tanggeung karena lebih dari separuh wilayahnya (55.29%) atau 6,311 ha memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap gerakan tanah. Namun wilayah Cianjur bagian utara relatif aman dari rentan terhadap gerakan tanah.

Dari hasil laporan projek inventarisasi dan identifikasi lahan kritis di Kabupaten Cianjur (Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah Kabupaten Cianjur, 2001) luas lahan kritis jumlahnya cukup besar yaitu sekitar 53,582.98 ha (15.30%) yang sebagian besar terdapat di Kabupaten Cianjur bagian selatan yaitu di Kecamatan Cibinong ±6,787 ha. Sedangkan dilihat dari kondisi sumberdaya air, baik itu air permukaan, air tanah maupun mata air Kabupaten Cianjur masih memiliki potensi sumber-sumber air tersebut. Untuk air permukaan adanya sungai Citarum, Cibeet, Cisokan dan Cikundul serta waduk Saguling. Untuk muka air tanah bebas bisa mencapai kedalaman 3-4 meter, akan tetapi pada zona lapukan bisa >10 meter. Kawasan yang potensial bagi resapan air di Kabupaten Cianjur berada di sekitar Kacamatan Cugenang dengan luasan sekitar 1,000.53 ha.

Kebijakan pola pemanfaatan ruang di Kabupaten Cianjur merupakan hal penting yang memerlukan perhatian lebih besar dari pihak Pemerintah khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur, mengingat kondisi ketersediaan air aliran mantap di Kabupaten Cainjur dan Provinsi Jawa Barat pada umumnya termasuk dalam kondisi kritis. Sehingga untuk masa selanjutnya dengan pertimbangan pertambahan penduduk Kabupaten Cianjur, maka diperlukan suatu pengaturan yang lebih baik lagi, terutama dalam menjaga ketersediaan air dan menjaga kualitas lahan yang ada melalui pengendalian terhadap pengembangan pemanfaatan ruang melalui optimalisasi luasan kawasan hutan lindung dan meminimalisasi luasan lahan kritis.

Pengembangan program untuk mencapai luasan kawasan hutan lindung yang strategis adalah dengan mengoptimalkan gerakan kemitraan penyelamatan

(17)

119

air yang antara lain diupayakan melalui rehabilitasi hutan dan lahan serta konservasi sumber daya air, pengendalian daya rusak air, pengelolaan kualitas dan pencemaran air, dan pendayagunaan sumber daya air secara adil, efisien, dan berkelanjutan. Pada sisi lain upaya yang perlu dilakukan dalam menekan luasan lahan kritis adalah dengan melakukan rehabilitasi hutan dan lahan partisipatif dengan melibatkan kelompok masyarakat secara langsung dalam proses kegiatan tersebut. Berdasarkan pengalaman pelaksanaan kegiatan tahun 2005 dan 2006 telah dilaksanakan pembuatan persemaian, pengadaan bibit, pembuatan DAM penahan, pembuatan Gully Plug; penanaman dan pemeliharaan, penanaman bawah tegakan; perlindungan mata air; pembuatan sentra budidaya jamur; pembuatan sentra tanaman hias; agrosilvopastur; silvofishery. Selain itu juga telah dilakukan pelatihan petani, kegiatan kelompok, workshop dan bimbingan teknis.

Upaya pemanfaatan penataan ruang hijau melalui perlindungan kawasan hutan dan penganganan lahan kritis harus memberikan manfaat sosial dan ekonomi pada masyarakat yang terlibat. Hal ini agar dapat tercapai keberlanjutan program sehingga kawasan hijau tetap tertata dengan baik dan lahan kritis semakin berkurang setiap tahunnya. Selain itu juga dalam rangka mengembalikan fungsi hidrologis serta menjaga kestabilan tanah dari erosi, pemanfaatan ruang masa datang lebih disesuaikan dengan kemampuan daya tampung wilayah yang sesuai dengan kemampuan daya dukung sumber daya alam yang tersedia. Oleh karena itu, salah satu kebijaksanaan yang ditetapkan adalah melakukan pengaturan pemanfaatan ruang khususnya mewujudkan fungsi kawasan lindung yang bertujuan mengurangi erosi dan menjaga ketersediaan air di Kabupaten Cianjur.

Kebijakan penataan ruang lainnya adalah pengendalian pemanfaatan ruang. Adapun tujuan pengendalian pemanfaatan ruang adalah menjaga konsistensi pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan, sedangkan sasarannya kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Cianjur adalah terminimalisirnya penyimpangan terhadap RTRW yang dilaksanakan melalui pengawasan dan penertiban.

Kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang meliputi (1) mengendalikan pemanfaatan ruang melalui pengawasan dan penertiban didasarkan kepada

(18)

RTRW, (2) menjadikan izin pemanfaatan ruang sebagai salah satu alat pengendalian pemanfaatan ruang dan merupakan kewenangan kabupaten, (3) memberikan sanksi baik sanksi administratif, sanksi perdata, sanksi pidana dan disinsentif pada pelaksanaan pembangunan baik perorangan, kelompok orang atau badan hukum yang melakukan pelanggaran penataan ruang yang mengakibatkan terhambatnya program pemanfaatan ruang dan terganggunya kepentingan umum, dan (4) penerapan pengawasan dilakukan dengan melibatkan partisipasi dari masyarakat setempat di lokasi kawasan, khususnya kawasan lindung yang berupa hutan.

Dalam pelaksanaan kebijakan tersebut, koordinasi pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan oleh tim koordinasi penataan ruang kabupaten Cianjur yang ditetapkan oleh Bupati. Untuk lebih meningkatkan perwujudan dan pengendalian kawasan dengan fungsi lindung, dapat dibentuk tim khusus pengendali kawasan lindung yang melibatkan masyarakat di wilayah kawasan lindung yang diwujudkan, diawasi, dan dikendalikan.

Sejalan dengan perkembangan kebijakan, maka penataan ruang di Kabupaten Cianjur tersebut perlu dilakukan penyesuaian sejalan dengan Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Kebijakan penataan ruang tersebut merupakan pengembangan dari kebijakan sebelumnya dengan memadukan keserasian perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pada prinsipnya kebijakan tersebut merupakan pengembangan dari Undang-Undang No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 1997 mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN).

Hal yang cukup mendasar dari kebijakan baru tersebut adalah keterpaduan penggunaan beberapa sumberdaya. Hal ini ditegaskan bahwa salah satu tujuan penyelengaraan dari penataan ruang adalah keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia. Termasuk didalamnya mengenai pemanfaatan ruang kawasan budidaya, yaitu bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang dikawasan budidaya dengan memperhatikan aspek sumber daya manusia.

(19)

121

5.3. Komisi Irigasi

Pengelolaan irigasi pada masa mendatang akan dihadapkan pada permasalahan yang semakin kompleks dan tantangan yang semakin rumit. Beberapa permasalahan yang akan dihadapi pada masa mendatang antara lain adalah: (1) kondisi jaringan irigasi yang banyak mengalami kerusakan dan adanya ketidaksesuaian bangunan irigasi dengan pengembangan komoditas tertentu; (2) hubungan kelembagaan pengelolaan irigasi pada tingkat lokal masih bersifat sederhana, belum efektif dengan baik dalam upaya pengembangan potensi sistem irigasi; dan (3) semakin meningkatnya kebutuhan air bagi alokasi berbagai kepentingan, sementara pada sisi lain ketersediaan air semakin terbatas.

Selain ketiga masalah tersebut Yasin dan Bakce (2000) menjelaskan bahwa dalam pengelolaan irigasi di Indonesia dihadapkan pada masalah: (1) peran serta masyarakat pemakai air belum optimal; (2) pembagian wewenang pengelolaan antara sektoral baik horizontal maupun vertikal tidak dirumuskan dengan jelas; (3) belum mampu mengadaptasi pemanfaatan air untuk kegiatan pertanian dan nonpertanian; (4) personil yang terlibat dalam pengelolaan tidak mempunyai kesempatan yang cukup untuk menyelesaikan masalah irigasi setempat dan umpan balik yang cukup bagi peningkatan kemampuan manajerial; (5) pada beberapa lokasi tidak ada wewenang yang utuh untuk menangani seluruh sistem sejak dari sumber air utama sampai arwal terakhir yang memanfaatkan irigasi; dan (6) pengelolaan irigasi yang ada juga tidak luwes dan tanggap terhadap perkembangan teknologi produksi dalam bidang pertanian.

Berbagai permasalah pengelolaan irigasi tersebut tentunya perlu dikoordinasikan dengan baik diantara kelembagaan dan pemangku kepentingan terkait. Oleh karena itu kepentingan untuk membentuk komisi irigasi sudah merupakan suatu tuntutan dan kebutuhan. Komisi irigasi di tingkat kabupaten sebagaimana yang dijelaskan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 31/PRT/M/2007 merupakan lembaga koordinasi dan komunikasi antara wakil pemerintah kabupaten, wakil perkumpulan petani pemakai air tingkat daerah irigasi, dan wakil pengguna jaringan irigasi pada kabupaten. Komisi irigasi kabupaten dibentuk dengan keputusan bupati dan berada di bawah serta bertanggung jawab langsung kepada Bupati.

(20)

Cakupan wilayah kerja komisi irigasi kabupaten meliputi tipologi daerah irigasi, yaitu: (1) daerah irigasi yang pengelolaannya menjadi wewenang dan tanggung jawab kabupaten yang meliputi daerah irigasi yang luasnya kurang dari 1000 ha; (2) daerah irigasi yang pengelolaannya menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah provinsi yang meliputi daerah irigasi yang luasnya 1000 ha sampai dengan 3000 ha yang berada dalam satu kabupaten yang sudah ditugas-pembantuankan dari pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten; (3) daerah irigasi yang pengelolaannya menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah yang meliputi daerah irigasi yang luasnya lebih dari 3000 ha dan daerah irigasi strategis nasional yang berada dalam satu kabupaten, baik yang sudah ditugas-pembantuankan maupun yang belum ditugas-pembantuankan dari Pemerintah kepada pemerintah kabupaten; dan (4) daerah irigasi desa.

Pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh komisi irigasi pada setiap tipologi daerah irigasi tersebut berbeda sesuai kewenangan pengelolaan irigasi yang diatur dalam UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Pelaksanaan tugas komisi irigasi tersebut adalah sebagai berikut:

(1) Pada daerah irigasi kewenangan kabupaten, komisi irigasi kabupaten membantu Bupati dengan tugas:

(a) merumuskan rencana kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi dan fungsi irigasi;

(b) merumuskan rencana tahunan penyediaan, pembagian, dan pemberian air irigasi yang efisien bagi pertanian dan keperluan lain;

(c) merekomendasikan prioritas alokasi dana pengelolaan irigasi melalui forum musyawarah pembangunan;

(d) memberikan pertimbangan mengenai izin alih fungsi lahan beririgasi; (e) merumuskan rencana tata tanam yang telah disiapkan oleh dinas instansi

terkait dengan mempertimbangkan data debit air yang tersedia pada setiap daerah irigasi, pemberian air serentak atau golongan, kesesuaian jenis tanaman, serta rencana pembagian dan pemberian air;

(f) merumuskan rencana pemeliharaan dan rehabilitasi jaringan irigasi yang meliputi prioritas penyediaan dana, pemeliharaan, dan rehabilitasi;

(21)

123

(g) memberikan masukan dalam rangka evaluasi pengelolaan aset irigasi; (h) memberikan pertimbangan dan masukan atas pemberian izin alokasi air

untuk kegiatan perluasan daerah layanan jaringan irigasi dan peningkatan jaringan irigasi;

(i) memberikan masukan atas penetapan hak guna pakai air untuk irigasi dan hak guna usaha untuk irigasi kepada badan usaha, badan sosial, ataupun perseorangan;

(j) membahas dan memberi pertimbangan dalam mengatasi permasalahan daerah irigasi akibat kekeringan, kebanjiran, dan akibat bencana alam lain;

(k) memberikan masukan dan pertimbangan dalam proses penetapan peraturan daerah tentang irigasi;

(l) memberikan masukan dan pertimbangan dalam upaya menjaga keandalan dan keberlanjutan sistem irigasi; dan

(m) melaporkan hasil kegiatan kepada Bupati mengenai program dan progres, masukan yang diperoleh, serta melaporkan kegiatan yang dilakukan selama 1 (satu) tahun.

(2) Pada daerah irigasi kewenangan provinsi, komisi irigasi kabupaten membantu Bupati dengan tugas:

(a) mengusulkan rumusan rencana kebijakan kepada gubernur untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi dan fungsi irigasi;

(b) merumuskan rencana tahunan penyediaan, pembagian dan pemberian air irigasi bagi pertanian dan keperluan lainnya;

(c) merekomendasikan prioritas alokasi dana pengelolaan irigasi melalui forum musyawarah pembangunan untuk diteruskan kepada gubernur; (d) merumuskan rencana tata tanam yang telah disiapkan oleh dinas instansi

terkait dengan mempertimbangkan data debit air yang tersedia pada setiap daerah irigasi, pemberian air serentak atau golongan, kesesuaian jenis tanaman, rencana pembagian dan pemberian air untuk diteruskan kepada gubernur;

(22)

(e) merumuskan rencana pemeliharaan dan rehabilitasi jaringan irigasi yang meliputi prioritas penyediaan dana, pemeliharaan, dan rehabilitasi untuk diteruskan kepada gubernur;

(f) memberikan masukan dalam rangka evaluasi pengelolaan aset irigasi untuk diteruskan kepada gubernur;

(g) memberikan pertimbangan dan masukan atas pemberian izin alokasi air untuk kegiatan perluasan daerah layanan jaringan irigasi dan peningkatan jaringan irigasi untuk diteruskan kepada gubernur;

(h) memberikan masukan kepada Bupati, atas penetapan hak guna pakai air untuk irigasi dan hak guna usaha air untuk irigasi kepada badan usaha, badan sosial, ataupun perseorangan;

(i) membahas dan memberikan pertimbangan dalam mengatasi permasalahan daerah irigasi akibat kekeringan, kebanjiran, dan akibat bencana alam lain;

(j) memberikan masukan dan pertimbangan dalam proses penetapan peraturan daerah tentang irigasi;

(k) memberikan masukan dan pertimbangan dalam upaya menjaga keandalan dan keberlanjutan sistem irigasi; dan

(l) melaporkan hasil kegiatan kepada Bupati, mengenai program dan progres, masukan yang diperoleh, serta melaporkan kegiatan yang dilakukan selama 1 (satu) tahun.

(3) Pada daerah irigasi kewenangan pusat, komisi irigasi kabupaten membantu Bupati dengan tugas:

(a) mengusulkan rumusan kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi dan fungsi irigasi kepada Menteri;

(b) merumuskan rencana tahunan penyediaan, pembagian, dan pemberian air irigasi bagi pertanian serta keperluan lainnya;

(c) merekomendasikan prioritas alokasi dana pengelolaan irigasi melalui forum musyawarah pembangunan untuk diteruskan kepada Menteri;

(23)

125

(d) merumuskan rencana tata tanam yang telah disiapkan oleh dinas instansi terkait dengan mempertimbangkan data debit air yang tersedia pada setiap daerah irigasi, pemberian air serentak atau golongan, kesesuaian jenis tanaman, rencana pembagian dan pemberian air untuk diteruskan kepada Menteri ;

(e) merumuskan rencana pemeliharaan dan rehabilitasi jaringan irigasi yang meliputi prioritas penyediaan dana, pemeliharaan, dan rehabilitasi untuk diteruskan kepada Menteri;

(f) memberikan masukan dalam rangka evaluasi pengelolaan aset irigasi untuk diteruskan kepada Menteri;

(g) memberikan pertimbangan dan masukan atas pemberian izin alokasi air untuk kegiatan perluasan daerah layanan jaringan irigasi dan peningkatan jaringan irigasi;

(h) memberikan masukan kepada Bupati, atas penetapan hak guna pakai air untuk irigasi dan hak guna usaha air untuk irigasi kepada badan usaha, badan sosial, ataupun perseorangan;

(i) membahas dan memberi pertimbangan dalam mengatasi permasalahan daerah irigasi akibat kekeringan, kebanjiran, dan akibat bencana alam lainnya;

(j) memberikan masukan dan pertimbangan dalam proses penetapan peraturan daerah tentang irigasi;

(k) memberikan masukan dan pertimbangan dalam upaya menjaga keandalan dan keberlanjutan sistem irigasi; dan

(l) melaporkan hasil kegiatan kepada Bupati mengenai program dan progres, masukan-masukan yang diperoleh serta kegiatan yang dilakukan selama 1 (satu) tahun.

Untuk melaksanakan beberapa tugas tersebut, komisi irigasi kabupaten menyelenggarakan fungsi koordinasi dan komunikasi antara pemerintah kabupaten, perkumpulan petani pemakai air tingkat daerah irigasi, dengan pengguna jaringan irigasi untuk keperluan lainnya pada kabupaten yang bersangkutan. Kedua fungsi tersebut sangat penting dalam meningkatkan

(24)

kinerja pengelolaan irigasi untuk kepentingan berbagai pengguna baik di sektor pertanian maupun sektor pengguna lainnya.

Mengingat tingkat kepentingannya tersebut, maka di Kabupaten Coanjur sudah dibentuk komisi irigasi pada tahun 2006. Pembentukan Komisi Irigasi di Kabupaten Cianjur ditetapkan melalui Keputusan Bupati No. 611.05/Kep.308-BAPPEDA/2006 tentang Pembentukan Komisi Irigasi. Dasar pertimbangan pembentukan Komisi Irigasi tersebut adalah adanya perubahan tujuan pembangunan pertanian dan meningkatkan produksi untuk swasembada beras menjadi melestarikan ketahanan pangan, meningkatkan pendapatan petani dan meningkatkan kesejahteraan kerja di perdesaan serta perbaikan gizi keluarga menuntut penyesuaian-penyesuaian arah dan langkah kerja kegiatan dan pendekatan pembangunan keirigasian.

Pembentukan komisi irigasi tersebut menetapkan bahwa struktur organisasinya dibangun dengan komposisi struktur: (1) pengarah; (2) ketua; (3) sekretaris; dam (4) anggota. Gambaran struktur Komisi Irigasi Kabupaten Cianjur yang sudah dibentuk pada tahun 2006 tersebut dapat dilihat pada Gambar 24.

Pengarah Ketua

Sekretaris

Anggota

Gambar 24 Struktur organisasi komisi irigasi berdasarkan Keputusan Bupati

Berdasarkan struktur organisasi Komisi Irigasi tersebut ditetapkan pejabat yang berada dalam posisi pengarah adalah sebagai berikut:

(25)

127

(2) Kepala Bappeda;

(3) Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan; (4) Kepala Dinas Pertanian;

(5) Kepala Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah; (6) Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan;

(7) Kepala Kantor Analisis Dampak Lingkungan; dan (8) Kepala Bagian Keuangan Sekretariat Daerah.

Pejabat yang menduduki sebagai ketua adalah Kepala Bidang Fisik dan Prasarana pada Bappeda, sedangkan sekretarisnya adalah Kepala Sub-Bidang Perencanaan Pembangunan Fisik pada Bappeda. Anggota Komisi Irigasi selengkapnya adalah sebagai berikut:

(1) Kepala SubDinas Bina Manfaat pada Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan;

(2) Kepala SubDinas Program pada Dinas Pertanian; (3) Kepala Bagian Perekonomian pada Sekretariat Daerah; (4) Dekan Fakultas Pertanian Universitas Suryakancana; (5) Ketua LSM Leppel;

(6) Ketua LSM Sinurat Layung;

(7) Ketua Induk P3A Tirta Mulya Rejeki, DI Cihea; (8) Ketua GP3A Mahi Cai, DI Susukan Gede; (9) Ketua GP3A Tirta Walatra, DI Cipanyusuhan; (10) Ketua GP3A Kayungyun, DI Ciraden Leuwilengsir; (11) Ketua GP3A Assalam, DI Cipadang Cibeleng

(12) Ketua GP3A Tirta Mukti DI Cilumut/Pasir Kerud; dan (13) Ketua GP3A Sauyunan, DI Nagrog.

Secara umum, keberadaan komisi irigasi di Kabupaten Cianjur belum dapat berjalan secara efektif dan belum mampu menghasilkan kontribusi positif

(26)

terhadap kebijakan pengembangan dan pengelolaan irigasi di wilayah tersebut. Selain itu juga dalam perkembangannya, struktur organisasi Komisi Irigasi tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan format reformasi Kelembagaan Pengelolaan Irigasi (KPI) sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 31/PRT/M/2007 tentang Pedoman Mengenai Komisi Irigasi. Sebagaimana yang dituangkan dalam Peraturan Menteri tersebut bahwa susunan organisasi Komisi Irigasi Kabupaten kepengurusannya dijabat berdasarkan struktur: (1) ketua; (2) ketua harian; (3) sekretaris; (4) ketua bidang (jika diperlukan); dan (5) anggota. Gambaran struktur Komisi Irigasi Kabupaten yang baru tersebut adalah sebagaimana yang terlihat pada Gambar 25.

Gambar 25 Struktur organisasi komisi irigasi berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

Berdasarkan struktur organisasi Komisi Irigasi yang terbaru tersebut, maka komposisi kepengurusannya adalah sebagai berikut:

(1) Ketua dijabat oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten;

(2) Katua harian dijabat oleh Kepala Dinas yang membidangi irigasi;

(3) Sekretaris terdiri dari Sekretaris I dijabat oleh Kepala SubDinas yang membidangi pengembangan dan pengelolaan irigasi, dan Sekretaris II

Ketua Harian Sekretaris Anggota Ketua Ketua Bidang

(27)

129

dijabat oleh Kepala SubDinas atau Kepala Seksi yang membidangi pemanfaatan air pada Dinas Pertanian;

(4) Ketua bidang dijabat oleh wakil/unsur nonpemerintah dari wakil/unsur perkumpulan petani pemakai air atau pengguna jaringan irigasi lainnya; (5) Anggota dapat dikelompokkan sesuai dengan kelompok bidang yang

diperlukan dan disepakati bersama;

(6) Apabila diperlukan, komisi irigasi dapat dibantu oleh tenaga ahli yang sudah berpengalaman dalam pengembangan dan pengelolaan irigasi, yang diusulkan oleh ketua komisi irigasi dan ditetapkan oleh Bupati.

5.4. Peran Organisasi Masyarakat dalam Pengelolaan Irigasi

Meskipun kewenangan operasi jaringan irigasi menjadi tanggung dinas yang membidangi irigasi termasuk dalam penyusunan rencana operasi jaringan irigasi di suatu daerah irigasi, setelah mendapat masukan dari dinas yang membidangi pertanian, akan tetapi kegiatan operasi jaringan irigasi juga melibatkan peran serta P3A/GP3A/IP3A yang diwujudkan mulai dari pemikiran awal, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan kegiatan dalam operasi jaringan. Berdasarkan peraturan terbaru, organisasi P3A pada tingkat unit mempunyai wilayah kerja pengelolaan irigasi di jaringan tersier, sedangkan GP3/IP3A dapat berpartisipasi pada tingkat jaringan utama (primer dan sekunder).

Dengan demikian peran organisasi masyaralat melalui P3A/GP3A/IP3A dalam kebijakan pengelolaan irigasi cukup strategis dengan memberikan partisipasinya di tingkat jaringan utama. Persoalan kemudian adalah bagaimana keajegan pemerintah daerah dalam membuka peluang kerjasama pengelolaan dengan masyarakat petani pemakai air pada tingkat daerah irigasi. Hal ini yang masih belum berjalan secara optimal di lapangan. Secara umum peran serta masyaralat melalui organisasi P3A/GP3A/IP3A dalam operasi jaringan irigasi meliputi:

(1) P3A/GP3A/IP3A mengusulkan rencana tanam dan luas areal kepada Dinas yang membidangi irigasi.

(28)

(2) Dinas yang membidangi irigasi bersama-sama Dinas yang membidangi Pertanian menyusun rencana tanam dan luas areal tersebut.

(3) Komisi irigasi yang beranggotakan instansi terkait dan wakil perkumpulan petani pemakai air membahas pola dan rencana tata tanam, rencana tahunan penyediaan air irigasi, rencana tahunan pembagian dan pemberian air irigasi dan merekomendasikan kepada Bupati sesuai dengan kewenangannya.

(4) Dinas yang membidangi irigasi, melaksanakan operasi jaringan irigasi atau dapat dilakukan dengan melibatkan peran P3A/GP3A/IP3A untuk melaksanakannya.

Sedangkan peran serta masyarakat melalui organisasi P3A/GP3A/IP3A dalam pemeliharaan jaringan irigasi meliputi :

(1) P3A/GP3A/IP3A bersama petugas pengelola irigasi melakukan penelusuran untuk mengindentifikasi kerusakan-kerusakan, usulan rencana perbaikan dan skala prioritas.

(2) penyusunan jenis-jenis pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh P3A/GP3A/IP3A

(3) Dinas yang membidangi irigasi melaksanakan pemeliharaan jaringan irigasi dapat dilakukan melalui kerjasama dengan P3A/GP3A/IP3A secara swakelola.

(4) P3A/GP3A/IP3A dapat berperan serta dalam pelaksanaan pemeliharaan jaringan irigasi dalam bentuk tenaga, bahan, atau biaya sesuai dengan kemampuannya.

(5) P3A/GP3A/IP3A berperan aktif dalam pengamanan jaringan irigasi.

(6) P3A/GP3A/IP3A dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan pemeliharaan jaringan irigasi primer dan sekunder dalam bentuk penyampaian laporan penyimpangan pelaksanaan kepada dinas atau pengelola irigasi.

(29)

VI. MODEL KEBIJAKAN PENGELOLAAN IRIGASI TERPADU

Penyusunan model kebijakan pengelolaan irigasi terpadu dilakukan dengan menggunakan tahapan-tahapan, yaitu: (1) perumusan asumsi dasar kebijakan pengelolaan irigasi terpadu; (2) strukturisasi program pengelolaan irigasi terpadu; (3) penyusunan model PKSARI-Terpadu (4) dan penentuan prioritas kegiatan penunjang model. Penjelasan masing-masing tahapan penyusunan model kebijakan pengelolaan irigasi terpadu diuraikan sebagai berikut.

6.1. Asumsi Dasar Kebijakan Pengelolaan Irigasi Terpadu

Asumsi-asumsi dasar pengembangan kebijakan pengelolaan irigasi terpadu diperoleh dari hasil diskusi kelompok terarah atau yang lebih dikenal dengan metode FGD (Focus Group Discussion) yang diselenggarakan di tingkat kabupaten (Cianjur) dan pusat (Jakarta) dengan melibatkan berbagai stakeholder baik dari Pemerintah Daerah dan Pusat, masyarakat petani pemakai air Cianjur, kelembagaan irigasi (P3A, GP3A dan IP3A), Lembaga Swadaya Masyarakat dan Dinas-dinas terkait.

Hasil dari identifikasi faktor pengembangan kebijakan pengelolaan irigasi terpadu dari hasik kegiatan FGD tersebut, kemudian dijadikan bahan untuk kegiatan diskusi pakar dalam rangka menyusun asumsi-asumsi alternatif yang akan digunakan dalam penyusunan model strategi kebijakan regional dalam pengelolaan irigasi berkelanjutan. Asumsi-asumsi tersebut dikelompokkan dalam 4 (empat) aspek yaitu: (1) aspek tenik; (2) aspek ekonomi; (3) aspek kelembagaan; dan (4) aspek lingkungan.

Hasil penyusunan asumsi-asumsi alternatif tersebut kemudian didiskusikan untuk memberi nilai kepentingan dan kepastian yang mengacu pada pertanyaan-pertanyaan yang meliputi : (1) seberapa penting pengaruh asumsi tersebut terhadap keberhasilan atau kegagalan; dan seberapa jauh keyakinan bahwa asumsi tersebut dapat dibenarkan dan dipastikan keberhasilananya. Hasil penilaian setiap peserta digabungkan sehingga diperoleh posisi setiap asumsi dasar dalam peta kuadran kepentingan dan kepastian seperti terlihat dalam Tabel 20.

(30)

Tabel 20 Asumsi kebijakan regional dalam pengendalian irigasi terpadu Asumsi Tingkat Kepentingan (x)* Tingkat Kepastian (y)** 1. Aspek Teknik

a. Kegiatan alih fungsi bangunan jaringan irigasi oleh masyarakat dan pihak lainnya dapat di kontrol dengan baik oleh petugas irigasi (A) b. Kesadaran dan peran serta masyarakat untuk

menjaga dan memelihara jaringan irigasi (B)

2

3

-3

1 2. Aspek Ekonomi

a. Pendanaan untuk operasional, pemeliharaan jaringan dan kelembagaan irigasi yang cukup dan memadai dari pemerintah daerah dan pusat melalui APBD dan APBN (C)

b. Sistem pembayaran iuran irigasi di tingkat P3A, GP3A dan IP3A dapat berjalan dengan baik (D)

c. Agenda program aksi dari pemerintah untuk pendanaan konservasi hutan di daerah hulu (E) 3 3 2 2 -1 -2 3. Aspek Kelembagaan

a. Administrasi lembaga irigasi berjalan dengan tertib (F)

b. Kepengurusan yang tidak merangkap dalam lembaga irigasi (P3A, GP3A dan IP3A) (G) c. Kerjasama yang baik antara kelembagaan

irigasi dengan kelompok tani (H)

d. Pemda membina pengurus lembaga irigasi dilakukan secara kontinyu dan efektif (I)

e. Pendanaan yang memadai dari pemerintah dalam pelaksanaan kegiatan kelembagaan irigasi (J)

f. Ketertiban dalam pengaturan distribusi air irigasi yang baik disepanjang aliran sungai (hulu, tengah dan hilir) (K)

g. Kerjasama yang sinergis antara Perum Perhutani, Dinas Kehutanan, Departemen PU dan Departemen Pertanian dalam pemeliharaan dan penyediaan debit air dan ketersediaan air dari hulu sampai hilir (L) h. Kerjasama yang baik antara Usaha Mikro

(petani) dengan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani (M) 1 2 3 3 3 3 3 3 -2 2 1 1 1 3 2 1 4. Aspek Lingkungan

a. Kegiatan konservasi hutan di daerah hulu dapat menjaga kestabilan debit air irigasi di daerah hulu, tengah dan hilir (N)

b. Konservasi hutan dan reboisasi dilakukan dengan dukungan pemerintah dan masyarakat sekitar (O) 3 3 2 3 Keterangan :

* = Tingkat pengaruh asumsi terhadap berhasil atau gagalnya model kebijakan yang dihasilkan * = Tingkat keyakinan bahwa asumsi tersebut dapat dibenarkan (dilaksanakan secepatnya)

(31)

133

Memperhatikan keterkaitan posisi beberapa asumsi yang terletak pada kuadran II yang memiliki kepentingan dan kepastian yang tinggi, kemudian dilakukan sintesis lebih lanjut untuk identifikasi asumsi-asumsi yang paling strategis berikut :

(1) Konservasi hutan dan reboisasi dilakukan dengan dukungan pemerintah dan masyarakat sekitar hutan. Pengaturan distribusi air irigasi yang baik disepanjang aliran sungai (hulu, tengah dan hilir) untuk menjaga aliran irigasi tetap stabil dan merata di sepanjang aliran irigasi(sintesis K,O). (2) Kepengurusan yang tidak merangkap dalam lembaga irigasi (P3A, GP3A

dan IP3A) meningkatkan kinerja lembaga irigasi (sintesis G).

(3) Adanya pendanaan untuk operasional, pemeliharaan jaringan dan kelembagaan irigasi yang cukup dan memadai dari pemerintah daerah dan pusat melalui APBD dan APBN. Kegiatan konservasi hutan di daerah hulu didukung dengan kerjasama yang sinergis antara Perum Perhutani, Dinas Kehutanan, Departemen PU dan Departemen Pertanian untuk memelihara stabilitas penyediaan debit air dan ketersediaan air dari hulu sampai hilir (sintesis C,L,N).

(4) Pendanaan yang memadai dalam pelaksanaan kegiatan kelembagaan irigasi dan pembinaan pengurus lembaga irigasi yang dilakukan secara kontinyu dan efektif oleh Pemda. Kerjasama antara KPI dan Poktan dengan dukungan Lembaga Keuangan Mikro dalam usaha peningkatan kesejahteraan petani (sintesis B,H,I,J,M).

Asumsi-asumsi yang masuk pada kuadran IV yang memiliki tingkat kepentingan yang tinggi namun mengandung ketidakpastian sehingga hasil sintesisnya adalah :

(1) Sistem pembayaran iuran irigasi di tingkat P3A, GP3A dan IP3A berjalan dengan baik (sintesis D).

(2) Administrasi lembaga irigasi berjalan dengan tertib (sintesis F).

(3) Adanya agenda program aksi dari pemerintah untuk pendanaan konservasi hutan di daerah hulu (sintesis E).

(32)

(4) Kegiatan alih fungsi bangunan jaringan irigasi oleh masyarakat dan pihak lainnya dapat di kontrol dengan baik oleh petugas irigasi (sintesis A).

Paling Pasti -3 -2 -1 0 1 2 3 -3 -2 -1 0 1 2 3

Paling Tidak Pasti

P a lin g T ida k P e n tin g P a li ng P e nt ing G C,L,N B,H,I,J,M K,O F A E D I II III IV

Gambar 26 Peta kuadran asumsi

6.2. Strukturisasi Program Pengelolaan Irigasi Terpadu

Strukturisasi elemen sistem pengelolaan irigasi berkelanjutan menggunakan teknik Interpretative Structural Modelling (ISM) yang didapat dari hasil wawancara pakar baik dari daerah maupun pusat. Terdapat 9 elemen ISM yang terdiri dari (1) elemen masyarakat yang terkait, (2) Elemen kebutuhan program, (3) Elemen kendala program, (4) Elemen perihal yang berubah dan dapat diubah, (5) Elemen sasaran program, (6) Elemen tolak ukur sasaran, (7) Elemen aktivitas yang diperlukan, (8) Elemen tolak ukur aktivitas dan (9) Elemen lembaga yang terlibat, dimana dari setiap elemen mempunyai sejumlah sub-elemen yang berbeda-beda.

(1) Elemen Masyarakat yang Terkait

Elemen mayarakat yang terkait mempunyai 8 sub-elemen yaitu: (1) Petani pemakai air, (2) Masyarakat sekitar hutan, (3) Tokoh agama, (4) Pemuka

(33)

135

desa/pengurus desa. (5) Aktivis pecinta alam dan lingkungan, (6) Kelompok komunikasi dan konservasi alam dan lingkungan, (7) Kelompok pendanaan LKM dan (8) Pengusaha mikro/kecil. Untuk lebih jelasnya gambaran elemen masyarakat yang terkait dapat dilihat secara matriks sebagaimana tersaji pada Tabel 21.

Tabel 21 Matriks reachibility elemen masyarakat yang terkait

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Drv R 1 1 1 0 0 0 0 0 0 2 3 2 1 1 0 0 0 0 0 0 2 3 3 1 1 1 1 1 1 1 1 8 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 8 1 5 1 1 0 0 1 1 0 0 4 2 6 1 1 0 0 1 1 0 0 4 2 7 1 1 1 1 1 1 1 1 8 1 8 1 1 1 1 1 1 1 1 8 1 Dep 8 8 4 4 6 6 4 4 L 1 1 3 3 2 2 3 3

Berdasarkan hasil analisa dengan teknik ISM menyatakan bahwa sub elemen tokoh agama (3), pemuka desa/pengurus desa (4), kelompok pendanaan LKM (7) dan pengusaha mikro/kecil (8) merupakan sub elemen kunci dari elemen masyarakat yang terkait dalam sistem pengelolaan irigasi terpadu yang mempunyai driver power paling kuat dalam program tersebut. Peubah dependent adalah peubah yang mempunyai tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap program namun mempunyai driver power yang rendah, dalam hal ini yang berada dalam sektor dependent ini adalah sub elemen petani pemakai air (1), masyarakat sekitar hutan (2), aktivis pecinta alam dan lingkungan (5), kelompok komunikasi dan konservasi alam dan lingkungan (6). Sub elemen petani pemakai air (1) dan masyarakat sekitar hutan (2) mempunyai tingkat ketergantungan lebih besar dibandingkan dengan sub elemen lain yang berada dalam sektor dependent dan mempunyai driver power terendah di bandingkan dengan yang lainnya. Hal ini menyatakan bahwa sub elemen petani pemakai air (1) dan

(34)

masyarakat sekitar hutan (2) adalah sub elemen yang akan sangat terpengaruhi oleh keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan program tersebut tetapi tidak mempunyai kekuatan untuk memberikan input dalam mengendalikan pelaksanaan program. Gambaran hasil strukturisasi program elemen masyarakat yang terkait lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 27 dan 28. masyarakat sekitar hutan (2) adalah sub elemen yang akan sangat terpengaruhi oleh keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan program tersebut tetapi tidak mempunyai kekuatan untuk memberikan input dalam mengendalikan pelaksanaan program. Gambaran hasil strukturisasi program elemen masyarakat yang terkait lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 27 dan 28. Independent D Linkage R I V E R P O W E R R Autonomous Dependent Dependence

Gambar 27 Grafik driver-power independent elemen masyarakat yang terkait Gambar 27 Grafik driver-power independent elemen masyarakat yang terkait

Petani Pemakai Air,Masyarakat Sekitar Hutan L2 Kelompok Komunikasi dan Konservasi Alam

dan Lingkungan Aktivis Pecinta Alam dan Lingkungan

Gambar 28 Struktur program elemen masyarakat yang terkait Gambar 28 Struktur program elemen masyarakat yang terkait L3

Tokoh Agama, Pemuka Desa, Kelompok LKM, Pengusaha Mikro L1

(35)

137

(2) Elemen Kebutuhan Program

Elemen kebutuhan program mempunyai 7 sub elemen yaitu (1) Partisipasi masyarakat pemakai air dalam kegiatan irigasi, (2) Partisipasi pemerintah daerah dan pusat, (3) Kerjasama antar masyarakat hulu, tengah dan hilir, (4) Tata guna lahan pertanian irigasi, (5) Ketersediaan air untuk irigasi, (6) Pemberdayaan masyarakat untuk berperan aktif dalam setiap kegiatan irigasi dan (7) Pembiayaan kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi dari sumber APBN dan APBD (Tabel 22).

Tabel 22 Matriks reachibility elemen kebutuhan program

No. 1 2 3 4 5 6 7 Drv R 1 1 0 1 1 1 1 0 5 3 2 1 1 1 1 1 1 1 7 1 3 1 0 1 1 1 1 0 5 3 4 0 0 0 1 0 0 0 1 5 5 0 0 0 1 1 0 0 2 4 6 1 0 1 1 1 1 0 5 3 7 1 0 1 1 1 1 1 6 2 Dep 5 1 5 7 6 5 2 L 3 5 3 1 2 3 4

Hasil analisa menunjukan bahwa sub elemen partisipasi pemerintah daerah (2) dan pusat dan pembiayaan kegiatan OP jaringan irigasi dari sumber APBN dan APBD (7) merupakan peubah independent yang mempunyai driver power lebih tinggi di bandingkan dengan yang lainnya. Sub elemen partisipasi pemerintah daerah dan pusat (2) merupakan sub elemen kunci karena mempunyai driver power tertinggi dan tingkat ketergantungan terendah di bandingkan elemen lainnya di sektor independent.

Dalam elemen kebutuhan program terdapat 3 sub elemen yang berperan sebagai peubah lingkage yaitu partisipasi masyarakat pemakai air dalam kegiatan irigasi (1), kerjasama antar masyarakat hulu, tengah dan hilir (3) dan pemberdayaan masyarakat untuk berperan aktif dalam setiap kegiatan irigasi (6). Sedangkan sub elemen tata guna lahan pertanian irigasi (4) dan ketersediaan air untuk irigasi (5) menjadi peubah dependent dalam program, dimana sub elemen tata guna lahan pertanian irigasi (4) mempunyai tingkat ketergantungan paling

(36)

tinggi dan driver power terendah di bandingkan dengan sub elemen lain di sektor dependent. Gambaran hasil strukturisasi program elemen kebutuhan program lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 29 dan 30.

D R Linkage I V E R Independent P O W E R Autonomous Dependent Dependence

Gambar 29 Grafik driver-power independent elemen kebutuhan program

Partisipasi pemerintah daerah dan pusat

Pemberdayaan masyarakat untuk berperan aktif dalam setiap

kegiatan irigasi Ketersediaan air

untuk irigasi Tata guna lahan pertanian irigasi

Pembiayaan kegiatan OP jaringan irigasi dari sumber APBN dan APBD Partisipasi masyarakat pemakai air

dalam kegiatan irigasi, Kerjasama antar masyarakat hulu, tengah dan hilir

L5

L4

L3

L2

L1

(37)

139

(3) Elemen Kendala Program

Elemen kendala program terdiri dari 9 sub elemen yaitu (1) Ketersediaan air yang fluktuatif, (2) Infrastruktur jaringan irigasi yang rusak, (3) Partisipasi masyarakat yang rendah, (4) Peraturan yang berubah-ubah, (5) Kondisi pelaksana program lintas sektor, (6) Pendanaan dari Pemda yang belum efektif, (7) Faktor keamanan alam (bencana alam, longsor atau sesuatu yang tidak diharapkan dari kondisi alam), (8) Konflik kepentingan antar kelompok dan (9) Distribusi yang tidak merata. Untuk lebih jelasnya gambaran elemen kendala program dapat dilihat secara matriks sebagaimana tersaji pada Tabel 23.

Tabel 23 Matriks reachibility elemen kendala program

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Drv R 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 7 2 1 1 0 0 0 0 0 0 1 3 5 3 1 1 1 0 0 0 0 0 1 4 4 4 1 1 1 1 1 1 0 1 1 8 1 5 1 1 1 1 1 1 0 1 1 8 1 6 1 1 0 0 0 1 0 0 1 4 4 7 1 1 1 0 0 0 1 1 1 6 2 8 1 1 1 0 0 0 0 1 1 5 3 9 1 0 0 0 0 0 0 0 1 2 6 Dep 9 7 5 2 2 3 1 4 8 L 1 3 4 7 7 6 8 5 2

Analisa ISM menunjukkan bahwa sub elemen peraturan yang berubah-ubah (4), kondisi pelaksana program lintas sektor (5), faktor keamanan alam (7) merupakan driver power dalam sistem pengelolaan irigasi terpadu. Sedangkan infrastruktur jaringan irigasi yang rusak (2), distribusi yang tidak merata (9) dan Ketersediaan air yang fluktuatif (1) merupakan peubah dependent yang mempunyai tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap program.

(38)

D R I V Independent Linkage E R P O W Autonomous Dependent E R

Dependence

Gambar 31 Grafik driver-power independent elemen kendala program

Faktor keamanan alam

Infrastruktur jaringan irigasi yang rusak Distribusi yang tidak

merata

Ketersediaan air yang fluktuatif

Konflik kepentingan antar kelompok

Partisipasi masyarakat

yang rendah Pendanaan dari Pemda yang belum efektif

Peraturan yang berubah-ubah, Kondisi pelaksana program lintas sektor L6 L5 L4 L3 L2 L1

Gambar 32 Struktur program elemen kendala program .

(39)

141

(4) Elemen Perihal yang Berubah dan Dapat Diubah

Elemen perihal yang berubah dan dapat diubah terdiri dari 9 sub elemen yaitu (1) Debit air irigasi, (2) Kondisi fisik hulu, (3) Efisiensi dan efektivitas jaringan irigasi, (4) Produktivitas lahan pertanian, (5) Kebijakan pelaksanaan irigasi, (6) Kesadaran petani untuk berperan aktif, (7) Pola tanam dan tumpang sari, (8) Jenis tanaman dan (9) Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi. Untuk lebih jelasnya Gambaran elemen perihal yang berubah dan dapat diubah tersaji pada Tabel 24.

Tabel 24 Matriks reachibility elemen perihal yang berubah dan dapat dirubah

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Drv R 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 5 3 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 3 1 0 1 1 0 0 1 1 0 5 3 4 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 4 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 7 1 0 1 1 0 0 1 1 0 5 3 8 1 0 1 1 0 0 1 1 0 5 3 9 1 0 1 1 0 0 1 1 1 6 2 Dep 8 3 8 9 3 3 8 8 4 L 2 4 2 1 4 4 2 2 3

Berdasarkan analisa dengan teknik ISM dinyatakan bahwa kondisi fisik hulu (2), kebijakan pelaksanaan irigasi (5) dan kesadaran petani untuk berperan aktif (6) merupakan sub elemen kunci sedangkan sub elemen operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi (9) merupakan peubah independent yang mempunyai driver power lebih rendah di bandingkan dengan sub elemen lain yang berada di sektor independent. Sub elemen produktivitas lahan pertanian (4) merupakan sub elemen yang akan sangat di pengaruhi secara langsung oleh pelaksanaan sistem pengelolaan irigasi terpadu.

Gambar

Gambar 22  Perkembangan kebijakan pengelolaan irigasi
Gambar 23  Pembangunan infrastruktur prasarana sumber daya air
Gambar 25 Struktur organisasi komisi irigasi berdasarkan Peraturan Menteri  Pekerjaan Umum
Tabel 20 Asumsi  kebijakan regional dalam pengendalian irigasi terpadu  Asumsi  Tingkat  Kepentingan (x)*  Tingkat  Kepastian (y)**  1
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimana metode ekstraksi ciri GLCM serta metode klasifikasi KNN dapat diimplementasikan sebagai aplikasi identifikasi motif Batik dalam platform smartphone android secara

Ekstrak antifungi adalah ekstrak yang diperoleh dari tanaman yang akan dijadikan sebagai antifungi yaitu tanaman sereh wangi (Cymbopogon nardus L.) memiliki kandungan

Pengamatan dilakukan oleh 1 orang guru sebagai kolaborator yang mengamati guru dan siswa saat kegiatan belajar mengajar dengan model Reading Guide Plus Discussion..

Dalam pasal 1340 ayat 2 KUH Perdata juga menegaskan bahwa suatu perjanjian tidak dapat membawa rugi kepada pihak ketiga, dari pasal ini maka terlihat bahwa pengenaan kewajiban

apabila dilihat dari jumlah desa contoh jumlah desa yang tahan pangan di kabupaten Sidoardjo lebih banyak dibandingkan 2 kabupaten lainnya, karena jumlah desa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh unsur Ekuitas Merek yang terdiri variabel Kesadaran Merek ( Brand Awareness ), Asosiasi Merek ( Brand

Sampel yang diambil adalah 5 perjanjian sewa menyewa (5 penyewa dan 5 yang menyewakan) dan responden; Kepala Desa, 1 orang Ketua RT, dan 2 tokoh masyarakat. Hasil penelitian