R e n c a n a K e r j a 2 0 1 4
Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Kementerian Kehutanan
Dari target penurunan kelemahan administrasi sebesar 50% di tahun 2014, telah tercapai sebesar
36,43 % di Tahun 2012 (angka tahun 2012 sebesar 12,74% dari angka dasar sebesar 20,04% di tahun
2009). Penurunan pelanggaran terhadap peraturan perundangan yang memiliki target 50% di tahun
2014, pada tahun 2012 telah tercapai sebesar 74,27% (angka tahun 2012 sebesar 3,78% dari angka
dasar sebesar 14,69% di tahun 2009). Sedangkan hambatan kelancaran pelaksanaan tugas telah
tercapai sebesar 56,74% di tahun 2012 (angka tahun 2012 sebesar 6,19% dari angka dasar sebesar
14,31% di tahun 2009). Untuk potensi kerugian negara telah diturunkan 16,46% menjadi
Rp.580.638.239,45 dari angka dasar tahun 2009 sebesar Rp.695.079.784.709,- (Tabel 17).
Tabel 17. Perkembangan pemantauan kinerja pengawasan.
Komponen Tahun
2009 2010 2011 2012
Kelemahan administrasi (%) 20,04 23,59 29,85 12,74
Pelanggaran terhadap peraturan perundangan
(%) 14,69 7,10 6,12 3,78
Hambatan kelancaran pelaksanaan tugas (%) 14,31 13,65 10,69 6,19
Potensi kerugian negara (Rp.) 695.079.784.709 644.575.341.139 633.046.075.395 580.702.638.239,45
Terkait dengan upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi, Kementerian Kehutanan telah
melaksanakan 4 rencana aksi dengan 7 kriteria keberhasilan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2013
tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi, yang hasilnya telah diverifikasi UKP4
hingga B-03 bahwa 1 kriteria keberhasilan mencapai 120% (biru), 5 kriteria keberhasilan mencapai
100% (hijau) dan 1 kriteria keberhasilan mencapai 70% (kuning) (Tabel 18).
Tabel 18. Status Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi hingga B-03.
Prioritas Program Rencana Aksi Kriteria Keberhasilan
Status keberhasilan hingga B-03 Pencegahan Sistem pelayanan publik berbasis teknologi informasi Pelaksanaan pelayanan secara on line
Pelaksanaan pelayanan perizinan tepat waktu
secara on line (6 jenis perizinan) Hijau
Penambahan pelaksanaan perizinan secara on line (2 jenis perizinan, yaitu penangkaran dan izin usaha industri primer hasil hutan)
Hijau Penyediaan fasilitas pelayanan perizinan on line Biru Penayangan rencana kerja
dan anggaran
Kementerian Kehutanan pada web/situs resmi Kementerian Kehutanan
Transparansi dan akuntabilitas dari rencana kerja
dan anggaran Kementerian Kehutanan Hijau
Pengembangan sistem dan pengelolaan pengaduan internal dan eksternal (termasuk masyarakat) atas penyalahgunaan kewenangan Pembuatan standar pelayanan dan standar operasional prosedur terkait pengelolaan pengaduan internal dan eksternal atas
penyalahgunaan wewenang
Peningkatan penanganan terhadap pengaduan internal dan eksternal atas penyalahgunaan wewenang Kuning Pendidikan dan budaya anti korupsi Strategi komunikasi, informasi dan edukasi yang jelas dan terencana
Pelaksanaan strategi komunikasi pendidikan dan budaya anti korupsi
Peningkatan sikap dan perilaku anti korupsi penyelenggara di lingkungan internal Kementerian Kehutanan
Hijau Terlaksananya strategi komunikasi pendidikan dan
budaya anti korupsi melalui sosialisasi dan kampanye budaya anti korupsi di lingkungan internal/seluruh satker Kementerian Kehutanan
25
R e n c a n a K e r j a 2 0 1 4
Dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya Kementerian Kehutanan
Laporan keuangan Kementerian Kehutanan pada tahun 2012 memperoleh opini wajar tanpa
pengecualian dari BPK RI. Status ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang memperoleh opini
wajar tanpa pengecualian (WTP) dengan paragraf penjelasan (DPP) (Tabel 19).
Tabel 19. Perkembangan pencapaian kinerja Sekretariat Jenderal.
Komponen
Tahun Target hinggga
2014 2010 2011 2012
Opini BPK terhadap lapoan keuangan WTP WDP WTP (DPP) WTP
Pencatatan BMN eks Kanwil Kehutanan 15 5 2 1
Pengembalian pinjaman/piutang 69
perusahaan selesai 80% 55 8 6 10
Kerjasama baru bilateral dan multilateral 5 negara dan 3 lembaga 1 negara 1 negara dan 1 lembaga 1 negara dan 1 lembaga Standar produk dan jasa kehutanan, serta
pedoman pengelolaan lingkungan dan perubahan iklim
35 judul 6 judul 12 judul 9 judul1
Sertifikasi pengelolaan hutan rakyat 15 3 5 92
Rekomendasi kebijakan penanganan
perubahan iklim 3 rekomendasi -3 5 rekomendasi 4 rekomendasi
Keterangan:
1. Selama tahun 2010-2012, sebanyak 18 judul telah menjadi SNI dan 9 masih dalam proses penetapan menjadi SNI oleh BSN
2. Hutan rakyat yang telah memperoleh sertifikasi pengelolaan hutan rakyat sebanyak 3 unit, sedangkan 6 unit mash difasilitasi
3. Tugas dan fungsi Pusat Standardisasi dan Lingkungan belum mencakup bidang perubahan iklim.
Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di sektor kehutanan tahun 2012 sebesar Rp.3,30 trilyun,
angka ini terus mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2009 (sebesar Rp. 2,39 trilyun), tahun
2010 (sebesar Rp. 2,94 trilyun) dan tahun 2011 (Rp.3,15 trilyun). Dana reboisasi (DR) memberikan
masih sumbangan terbesar (Rp.1,6 trilyun), meskipun angka ini turun dibanding tahun 2011 (Rp. 1,72
trilyun). (Tabel 20).
Tabel 20. Perkembangan PNBP Kehutanan
Komponen Tahun (Rp.) 2009 2010 2011 2012 Realisasi PNBP Kemenhut 2.397.581.426.000 2.941.096.540.533 3.157.718.314.864 3.309.336.953.264 1. PNBP SDA a. DR 1.368.085.110.978 1.635.335.683.648 1.720.288.868.765 1.491.399.654.922 b. PSDH 674.358.139.368 797.324.738.602 868.554.324.130 986.268.936.309 c. IIUPH 74.179.913.501 271.527.597.764 119.261.871.703 102.559.757.450 d. DPH 648.803.380 91.902.000 0 0 e. DPEH 418.686.800 135.238.800 4.254.460.392 13.432.687.929 f. IASL/TA 7.878.454.120 6.141.326.398 5.412.676.248 3.376.610.926
g. Pungutan masuk Obyek WA 6.653.144.380 19.444.242.426 26.679.137.821 20.037.555.492
2. PNBP Lainnya
a. Ganti Rugi Nilai Tegakan 0 33.869.834.201 97.295.159.593 157.288.848.915
b. Penggunaan Kawasan Hutan 169.536.525.729 175.854.019.948 315.672.169.228 403.865.794.149
c. Tempat Hiburan/Taman/ 904.387.000 778.500 0 0
Museum/PUPA
d. PIPPA 0,00 294.319.660 102.922.500 358.418.000
26
R e n c a n a K e r j a 2 0 1 4
Komponen Tahun (Rp.)
2009 2010 2011 2012
f. Pendapatan Lainnya 7.726.108.750 0 78.512.251 88.136.316
Realisasi anggaran Kementerian Kehutanan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang
nyata. Pada tahun 2006, realisasi anggaran sebesar 61,81% (dari anggaran Rp.4,5 trilyun) meningkat
pada tahun berikutnya 63,97% (dari pagu anggaran Rp.7,1 trilyun). Pada tahun 2012, realisasi
anggaran menjadi sebesar 87,46% dari pagu anggaran Rp.5,7 trilyun (Tabel 21).
Tabel 21. Perkembangan realisasi anggaran Kemenhut.
Komponen Tahun (Rp.juta)
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Pagu anggaran (Rp.) 4.541.116,5 7.158.491,3 4.169.243,3 2.801.073,2 4.023.444,1 5.869.810,3 5.736.851,3 Realisasi (Rp.) 2.806.791,2 4.579.263,5 3.282.232,7 2.417.053,9 3.306.505,9 4.766.120,7 5.017.651,8
% 61,81 63,97 78,72 86,29 82,18 81,20 87,46
Kementerian Kehutanan memperoleh predikat baik untuk pelaksanaan sistem akuntansi kinerja
instansi pemerintah (SAKIP) pada tahun 2012, dengan nilai 65,06. Predikat dan nilai ini meningkat
dibandingkan tahun sebelumnya (predikat CC dan nilai 58,49). Kondisi ini berbeda dengan tahun
2008, Kementerian Kehutanan mendapatkan predikat C yang digambarkan oleh Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sebagai instansi yang akuntabilitas
kinerjanya cukup baik, taat kebijakan, memiliki sistem yang dapat digunakan untuk memproduksi
informasi kinerja untuk pertanggung jawaban, perlu beberapa perbaikan tidak mendasar (Tabel 22).
Tabel 22. Perkembangan pelaksanaan SAKIP.
Komponen Tahun
2008 2009 2010 2011 2012
Nilai 50 53,37 56,50 58,49 65,06
Predikat C CC CC CC B
Interpretasi Agak Kurang Cukup Baik Cukup Baik Cukup Baik Baik
Karakteristik instansi Sistem dan tatanan kurang dapat diandalkan, memiliki sistem untuk manajemen kinerja tapi perlu banyak perbaikan minor dan perbaikan yang mendasar Akuntabilitas kinerjanya cukup baik, taat kebijakan , memiliki sistem yang dapat digunakan untuk memproduksi informasi kinerja untuk pertanggung jawaban, perlu beberapa perbaikan tidak mendasar Akuntabilitas kinerjanya cukup baik, taat kebijakan, memiliki sistem yang dapat digunakan untuk memproduksi informasi kinerja untuk pertanggung jawaban, perlu beberapa perbaikan tidak mendasar Akuntabilitas kinerjanya cukup baik, taat kebijakan, memiliki sistem yang dapat digunakan untuk memproduksi informasi kinerja untuk pertanggung jawaban, perlu beberapa perbaikan tidak mendasar Akuntabilitas kinerjanya sudah baik, memiliki sistem yang dapat digunakan untuk manajemen kinerja, dan perlu sedikit perbaikan
27
R e n c a n a K e r j a 2 0 1 4
II.
TANTANGAN DAN KEBIJAKAN
Tantangan diidentifikasi berdasarkan permasalahan
yang terjadi dalam memenuhi kinerja pembangunan
kehutanan tahun 2012 dan kemungkinannya pada tahun
2013, untuk diselesaikan sehingga kinerja pembangunan
kehutanan dapat dipenuhi sesuai sasaran Renstra
Kementerian
Kehutanan
Tahun
2010-2014.
Berdasarkan tantangan yang ada, pembangunan
kehutanan tahun 2014 diberikan penekanan sesuai
kinerja yang telah dirumuskan berdasarkan program
dan kegiatan yang dilaksanakan.
Seorang perempuan Bajo melintas setelah memungut kayu mangrove di Kaledupa, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara
Lelaki Bajo melintas memungut kayu mangrove di Kaledupa, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara
28
R e n c a n a K e r j a 2 0 1 4
Tantangan dan Arahan
Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan
kehutanan antara lain : (1) masih tingginya luas
kawasan hutan produksi yang belum dibebani
hak/izin (open access) sehingga rentan terhadap
perambahan dan penebangan liar; (2) masih luasnya
lahan kritis di kawasan hutan yang perlu
direhabilitasi; (3) kurangnya jumlah dan kompetensi
sumber
daya
manusia
(SDM)
untuk
mengoperasionalkan KPH; (4) penyelesaian tata
batas kawasan hutan perlu ditindaklanjuti dengan
penyelesaian konflik di dalam kawasan hutan; (5)
masih tingginya jumlah hotspot kebakaran hutan di
luar kawasan hutan; (6) belum dipatuhinya RPDAST
sebagai acuan dalam pengelolaan lingkungan; dan
(7) pemanfaatan hutan masih bertumpu pada
produksi kayu.
Mengatasi tantangan di atas, langkah-langkah
yang diambil Kementerian Kehutanan antara
lain :
1.
Mengatasi kondisi masih tingginya hutan
produksi yang tidak memiliki ijin usaha
pemanfaatan,
Kementerian
Kehutanan
mendorong beroperasinya unit pengelolaan
di tingkat tapak (KPH). Dari unit pengelolaan
terkecil ini, diharapkan dapat mendorong
identifikasi potensi hutan yang lebih detail
dan menyusun rencana bisnis anggarannya,
sehingga secara pasti dapat diketahui jumlah
investasi yang dibutuhkan dan jangka waktu
pengembalian
investasinya.
Selain
itu,
dengan mendorong pengelolaan di tingkat
tapak
diharapkan
dapat
memberikan
kepastian usaha karena mengurangi potensi
tindak pidana kehutanan yang sering terjadi
antara lain penebangan liar, perambahan
dan penambangan liar. Upaya mendorong
beroperasinya KPH ini telah diusulkan
sebagai
inisiatif
baru
Kementerian
Kehutanan tahun 2014.
29
R e n c a n a K e r j a 2 0 1 4
2.
Mendorong keterlibatan para pihak dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan, utamanya di lahan
kritis melalui serangkaian penanaman dengan memanfaatkan berbagai moment, diantaranya hari
bumi dan hari lingkungan hidup. Selain berusaha untuk meningkatkan fasilitasi KBR dari tahun ke
tahun, keterlibatan pelajar sekolah dikerahkan untuk membangun kesadaran tentangnya budaya
menanam sejak usia dini melalui forum kader konservasi, sebagaimana dilakukan di berbagai
kawasan hutan konservasi di Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Peran TNI dan Polri yang
terlibat aktif juga tidak kalah penting untuk membentuk kesadaran tentang pentingnya
lingkungan hidup, dengan membantu menanami areal yang dianggap penting untuk direhabilitasi.
Gubernur, Bupati, Walikota dan pejabat lain di pemerintah pusat dalam setiap aktifitasnya
didorong untuk memberi contoh upaya penanaman melalui adopsi pohon. Demikian juga dengan
perusahaan swasta, diantaranya PT. Djarum Kudus, yang memberi contoh penanaman di jalan
pantai utara Jawa untuk mengurangi abrasi pantai. Termasuk perusahaan negara (BUMN) seperti
Pertamina, Bank Mandiri dan Garuda Indonesia yang melakukan aksi nyata dengan mengajak
masyarakat melakukan penanaman di berbagai tempat.
3.
Kurangnya jumlah dan kompetensi SDM di tingkat tapak disikapi dengan mendorong pelaksanaan
bakti sarjana kehutanan (Basarhut), yang berusaha menghimpun sarjana-sarjana baru kehutanan
dari berbagai fakultas dan jurusan kehutanan di seluruh perguruan tinggi di Indonesia, untuk
membantu pengelolaan di tingkat tapak (KPH), mulai dari mengidentifikasi masalah, membantu
perencanaan hingga mengevaluasi pengelolaan KPH di seluruh Indonesia. Basarhut akan
dilakukan selama 2 tahun, sekaligus untuk menjembatani banyaknya PNS Kementerian
Kehutanan maupun Dinas (Provinsi dan Kabupaten/Kota) yang purna tugas pada tahun 2014.
Basarhut juga dilihat sebagai upaya untuk melatih sarjana-sarjana baru kehutanan untuk bekerja
di tingkat tapak.
Menteri Kehuutanan menanam di Wangi,-wangi, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara Mangrove di Tomia, TN. Wakatobi,
30
R e n c a n a K e r j a 2 0 1 4
4.
Dalam rangka mewujudkan kawasan hutan yang mantap, salah satunya diperlukan upaya
pengukuhan kawasan hutan yang terdiri dari penunjukkan kawasan hutan, penataan batas
kawasan hutan dan penetapan kawasan hutan. Hingga saat ini masih banyak kawasan hutan yang
proses pengukuhannya belum terselesaian, terutama pda proses penetapan kawasan hutan
sebagai akibat belum selesainya penataan batas kawasan hutan sebagai langkah untuk
menyelesaikan hak-hak pihak ketiga. Kegiatan penataan batas kawasan hutan merupakan sebuah
rangkaian proses kegiatan yang dimulai dari identifikasi trayek batas kawasan hutan, penataan
batas sementara kawasan hutan dan pemancangan serta pengukuran batas definitif kawasan
hutan. Sebagai upaya percepatan penyelesaian penataan batas kawasan hutan dalam rangka
pengukuhan kawasan hutan, maka sejak tahun 2011, Kementerian Kehutanan telah berkomitmen
untuk meningkatkan target tata batas kawasan hutan 2010-2014 dari 25.000 km menjadi 63.000
km. Terkait dengan konflik kawasan hutan, Kementerian Kehutanan juga mendorong upaya untuk
membuka akses masyarakat terhadap pengelolaan hutan, dalam bentuk pembangunan hutan
tanaman rakyat (HTR) dan HKm yang pemodalannya dapat difasilitasi melalui pinjaman dana
bergulir oleh Badan Layanan Umum Kementerian Kehutanan.
31
R e n c a n a K e r j a 2 0 1 4
5.
Dari jumlah 32.323 hotspot di tahun 2012, sebanyak 71,81% berada di luar kawasan hutan,
kondisi yang hampir sama terjadi pada tahun 2010 dan 2011. Berdasarkan data ini, Kementerian
Kehutanan berusaha untuk membangun koordinasi dan meningkatkan peran pemerintah daerah
dengan menjajaki kemungkinan peningkatan dana dekonsentrasi terkait pengendalian kebakaran
hutan untuk pemerintah provinsi dan dana alokasi khusus (DAK) untuk pemerintah
kabupaten/kota. Upaya ini juga diharapkan dapat membantu meningkatkan kapasitas aparatur
pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendorong peningkatan koordinasi dan kesiapsiagaan
penanggulangan kebakaran hutan.
6.
Untuk mengurangi ketergantungan produk hutan berupa kayu dalam meningkatkan devisa
negara di sektor kehutanan, litbang Kementerian Kehutanan didorong untuk melihat potensi
ragam hayati (bioprospecting) dan mengembangkannya dalam skala laboratorium, sehingga dapat
dijajaki kemungkinan pengembangannya di tingkat industri dan masyarakat. Upaya ini secara
langsung diharapkan dapat menurunkan laju deforestasi dan degradasi hutan. Upaya ini juga
telah diusulkan di dalam inisiatif baru Kementerian Kehutanan tahun 2014. Selain itu,
pemanfaatan hutan dalam bentuk HHBK juga terus digiatkan, serta pemanfaatan tumbuhan dan
satwa liar dalam bentuk penangkaran dan peredaran yang cenderung terus mengalami
peningkatan dalam devisa negara.
7.
Terkait dengan keberadaan RPDAST, Kementerian Kehutanan terus mendorong komitmen para
pihak di level provinsi dan kabupaten/kota sehingga pengelolaan lingkungan senantiasa
memperhatikan daya dukung DAS. Upaya ini dilakukan dengan mendorong RPDAST dalam bentuk
regulasi di level pemerintah provinsi, mendorong pemantauan secara efektif melalui manajemen
DAS di tingkat tapak.
Posisi pembangunan kehutanan dalam pembangunan nasional
Di dalam RKP 2014, posisi pembangunan kehutanan berada di prioritas nasional dan prioritas bidang.
Untuk prioritas nasional, pembangunan kehutanan berada di prioritas 9 Lingkungan Hidup dan
Pengelolaan Bencana (Tabel 23).
Tabel 23. Prioritas nasional pembangunan kehutanan 2013
Sasaran 1. Penanganan perubahan iklim : penyelesaian target rehabilitasi hutan dan lahan seluas 271.362 ha,
pengembangan HKM dan HD seluas 500.000 ha, menurunnya emisi gas rumah kaca sesuai dengan target per sektor dan per wilayah, meningkatnya ketahanan terhadap perubahan iklim.
2. Pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan: penyelesaian tata batas kawasan hutan sepanjang 13 ribu Km: oprasionalisasi 30 unit KPH: sertifikasi 500 orang penyuluh kehutanan: penurunan hotspot sebesar 67,2 persen dari rereta periode 2005-2009: dan menurunya pencemaran dan kerusakan lingkungan dengan pelibatan aktif pelaku pembangunan, swasta dan masyarakat.
3. Peningkatan sistem peringatan dini: meningkatnya kualitas pelayanan dan jangkauwan informasi dini meteorologi, klimatalogi, dan geofisika hingga tingkat kabupaten.
4. Penanggulangan bencana: meningkatnya kapasitas penanggulangan bencana di pusat dan daerah dan penyediaan infrastrutur kesiapsiagaan dalam mengurangi resiko dampak akibat bencana.
Arah Kebijakan 1. Peningkatan kualitas lingkungan hidup dan penanganan perubahan iklim, melalui peningkatan pengelolaan kawasan hutan, perkuatan pengelolaan keanekaragaman hayati, dan penurunanemisi gas rumah kaca 2. Penguatan kapasitas mitigasi bencana melalui sistem informasi dini cuaca dan iklim,peningkatan insfrasturtur
kesiapsiagaan dan penanganan darurat bencana dengan dukungan peralatan dan logistik kebencanaan yang Memadai; dan
32
R e n c a n a K e r j a 2 0 1 4
Dalam prioritas nasional bidang, pembangunan kehutanan termasuk dalam bidang sumberdaya alam
dan lingkungan hidup, hal-hal terkait dengan pembangunan kehutanan diajikan Tabel 24.
Tabel 24. Prioritas pembangunan bidang sumberdaya alam.
Prioritas Fokus Arahan
Peningkatan ketahanan pangan dan revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan
Peningkatan
pengelolaan produksi kehutanan
1. Perbaikan tata kelola hutan produksi melalui operasionalisasi KPHP 2. Penerapan sistem silvikultur
3. Pemanfaatan hutan produksi berbasis IHMB 4. Prioritas penanaman pada LOA
5. Pengembangan HKm dan HD
Didukung oleh penyuluhan, diklat SDM dan peningkatan kualitas data dan informasi hutan dan pelengkapan peraturan perundangan yang mendukung pengelolaan hutan lestari/berkelanjutan
Peningkatan konservasi dan rehabilitasi sumberdaya hutan Percepatan penyelesaian persoalan dalam pengelolaan hutan konservasi
1. Percepatan pengukuhan dan pemantapan kawasan hutan
2. Percepatan beroperasinya KPH dan penyediaan sumberdaya manusia pengelola KPH yang profesional
3. Penyediaan sarana dan prasarana yang memadai
4. Peningkatan kualitas dan ketersediaan data dan informasi potensi sumberdaya hutan Peningkatan upaya konservasi dan penyelamatan hutan konservasi serta rehabilitasi sumberdaya hutan
1. Peningkatan konservasi keanekaragaman hayati dan perlindungan hutan, melalui pengembangan pengelolaan TN, HL dan kawasan konservasi lainnya.
2. Peningkatan fungsi dan daya dukung DAS, melalui penyelenggaraan RHL serta pengelolaan DAS
3. Pengembangan penelitian dan iptek sektor kehutanan untuk mendukung pengamblan kebijakan, pengelolaan teknis kehutanan dan pengayaan iptek.
33
R e n c a n a K e r j a 2 0 1 4
Pengarusutamaan Gender
Terkait dengan pengarusutamaan gender pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Kementerian
Kehutanan di Tahun 2014, telah disepakati di dalam trilateral meeting, sebagai berikut :
No. Program Kegiatan Perkiraan Anggaran (Rp.)
1. Peningkatan Fungsi dan Daya Dukung DAS berbasis Pemberdayaan MAsyarakat
Perencanaan, penyelenggaraan RHL,
Pengembangan Kelembagaan dan Evaluasi DAS (Kebun Bibit Rakyat)
300.000 juta
2. Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan
Pengembanan Kawasan Konservasi Ekosistem Esensial dan Pembinaan Hutan Lindung (Pemberdayaan masyarakat)
6.000 juta
Pemanfaatan Jasa Lingkungan (kader konservasi dan kelompk pecinta alam)
1.500 juta 3. Peningkatan Usaha Kehutanan Pemantauan Usaha Kehutanan dan Pembinaan
Ganis Wasganis PHPL (peningkatan kualitas kinerja ganis wasganis)
70.000 juta
4. Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan
Peningkatan penyuluhan kehutanan (kelompok usaha produktif mandiri)
250 juta 5. Penelitian dan pengembangan
Kementerian Kehutanan
Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya (peningkatan tata kelola)
95.650 juta
34
R e n c a n a K e r j a 2 0 1 4
Program dan Kegiatan
1.
Perencanaan Makro Bidang Kehutanan dan Pemantapan Kawasan Hutan
Kegiatan/IKK Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
a. Penyusunan Rencana Makro Kawasan Hutan 10.298,7
Rencana makro penyelenggaraan kehutanan sebanyak 1 judul 3.000,0
Persetujuan substansi teknis kehutanan terhadap usulan revisi tata ruang di 26 provinsi 3.500,0 Sistem jaringan komunikasi data kehutanan LAN pusat dan WAN 17 provinsi sebanyak 1 sistem 3.798,7
b. Pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) 7.996,1
Keputusan Menteri tentang penetapan wilayah KPHL dan KPHP di 28 provinsi 800,0
Beroperasinya (kumulatif) 120 KPH 4.400,0
Keputusan Menteri Kehutanan tentang penetapan wilayah KPHK di seluruh Indonesia 1.000,0
Peraturan perundangan tentang penyelenggaraan KPH sebanyak 1 judul 800,0
Peta areal kerja dan peta pencadangan ijin pemanfaatan hutan selesai 80%. 996,1
c. Pengukuhan Kawasan Hutan 10.189,8
Terjaminnya tata batas kawasan hutan sepanjang 20.000 km, terdiri dari batas luar dan batas fungsi kawasan hutan
4.500,0 Penetapan kawasan hutan yang telah di tata batas temu gelang selesai 75% 4.000,0
Rekomendasi perubahan fungsi kawasan hutan secara parsial selesai 75% 689,8
SK pelepasan kawasan hutan secara parsial selesai 75% 1.000,0
d. Inventarisasi dan Pemantauan Sumberdaya Hutan 6.716,3
Data dan informasi geospasial dasar dan tematik kehutanan terkini tingkat nasional sebanyak 1 judul 2.716,3 Data dan informasi sumberdaya hutan pada kawasan hutan tingkat nasional sebanyak 1 judul 1.500,0 Data dan informasi pendugaan karbon kawasan hutan tingkat nasional sebanyak 1 judul 1.500,0 Basis data spasial sumberdaya hutan yang terintegrasi sebanyak 1 kali update. 1.000,0 e. Pengendalian Penggunaan Kawasan Hutan untuk Pembangunan di Luar Kegiatan Kehutanan 5.801,3
Ijin Pinjam Pakai Kawasan Hutan terlayani 100% secara tepat waktu 2.000,0
Wajib bayar tertib membayar PNBP Penggunaan Kawasan Hutan minimal 80% 2.000,0
Data dan informasi penggunaan kawasan hutan di 33 provinsi 1.801,3
f. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan 45.722,1 Tata kelola pemerintahan yang baik di lingkungan Ditjen Planologi Kehutanan sesuai kerangka reformasi
birokrasi untuk menjamin kinerja yang optimal di 23 satker
43.000,0
Tertib administrasi pengelolaan keuangan dan BMN di lingkungan Ditjen Planologi Kehutanan dalam rangka mewujudkan opini laporan keuangan Kemenhut wajar tanpa pengecualian sebanyak Satker.
2.722,1
g. Penyiapan Pemantapan Kawasan Hutan 473.353,4
Tata batas kawasan hutan sepanjang 20.000 km 351.108,4
Neraca sumberdaya hutan di 17 BPKH. 54.800,0
Tersedianya sarpras dan tata hutan KPH 34.500,0
Enumerasi dan re-emunerasi TSP/PSP 32.945,0
35
R e n c a n a K e r j a 2 0 1 4
2.
Peningkatan Usaha Kehutanan
Kegiatan/IKK Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
a. Perencanaan Pemanfaatan dan Peningkatan Usaha Kawasan Hutan 15.000,0
Terbentuknya KPHP di seluruh hutan produksi 7.550,0
Tersedianya areal calon/usulan pemanfaatan hutan produksi dalam bentuk unit-unit usaha pada 26 provinsi
3.750,0 Produksi hasil hutan bukan kayu/jasa lingkungan sebesar 1% menjadi 425.909 ton 1.300,0 Penerbitan IUPHHK-HA/RE pada areal bekas tebangan (LOA) seluas 750.000 ha 2.400,0
b. Peningkatan Usaha Hutan Alam 11.996,8
Produksi hasil hutan kayu sebesar 1% menjadi 5,70 juta m3 di tahun 2014 7.506,7
Unit IUPHHK bersertifikat PHPL meningkat 10 % 3.210,6
Produksi penebangan bersertifikat legalitas kayu meningkat sebesar 10% 1.279,5
c. Peningkatan Usaha Hutan Tanaman 11.500,0
Penambahan luas areal pencadangan ijin usaha pemanfaatan HTI/HTR seluas 750.000 juta ha 4.200,0
Penambahan areal tanaman pada HTI/HTR seluas 550.000 ha 2.400,0
Sertifikasi Pengelolaan Hutan Produksi Lestari pada 11 unit manajemen hutan tan aman.
4.900,0
d. Peningkatan Tertib Peradaran Hasil Hutan dan Iuran Kehutanan 15.000,0
PNBP dari investasi pemanfaatan hutan produksi meningkat sebesar 2% 6.325,8
Implementasi SIM PUHH secara online di seluruh unit management IUPHHK dan IPHHK sebesar 100% 8.674,2
e. Peningkatan Usaha Industri Primer Kehutanan 15.000,0
Pemenuhan bahan baku dari hutan tanaman dan limbah (kumulatif) meningkat 75% menjadi 50,44 m3 4.834,9
Produk industri hasil hutan yang bersertifikat legalitas kayu meningkat 10% 6.531,2
Efisiensi penggunaan bahan baku industri meningkat sebesar 2%. 3.633
f. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan 26.870,0 Tata kelola pemerintahan yang baik di lingkungan Ditjen BUK sesuai kerangka reformasi birokrasi untuk
menjamin kinerja yang optimal di 24 satker
25.370,0 Tertib administrasi pengelolaan keuangan dan BMN di lingkungan Ditjen BUK dalam rangka mewujudkan
opini laporan keuangan Kemenhut wajar tanpa pengecualian di Satker.
1.500,0
g. Pemantauan Usaha Kehutanan dan Pembinaan Ganis Wasganis PHPL 120.366,8
Dokumen peredaran tertib sesuai peraturan perundangan minimal 95 % 25.000,0
Kualitas kinerja Ganis dan Wasganis meningkat minimal menjadi 60% 70.000,0
36
R e n c a n a K e r j a 2 0 1 4
Kegiatan/IKK Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
Pembangunan HTR seluas 80.000 ha 25.000,0
Jumlah 215.366,8
3.
Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan
Kegiatan/ IKK Pagu Indikatif
(Rp.Juta) a. Pengembangan Kawasan Konservasi, Ekosistem Esensial dan Pembinaan Hutan Lindung 30.000,0
Terjaminnya konflik dan tekanan terhadap kawasan taman nasional dan kawasan konservasi lainnya (CA, SM, TB) dan HL menurun sebanyak 1%
11.500,0 Terjaminnya pengelolaan ekosistem esensial sebagai penyangga kehidupan meningkat 2% 2.000,0 Terjaminnya penanganan perambahan kawasan hutan kumulatif di 3 provinsi prioritas 5.000,0
Terjaminnya restorasi ekosistem kawasan konservasi di 1 lokasi 1.500,0
Terjaminnya peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi melalui pengelolaan berbasis resort kumulatif di 10 TN prioritas
2.500,0 Terjaminnya peningkatan pengelolaan kawasan konservasi ekosistem gambut di 2 provinsi 1.500,0 Terjaminnya peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan konservasi tertentu meningkat
kumulatif sebesar 30%.
6.000,0
b. Pengembangan Konservasi Spesies dan Genetik 15.000,0
Terjaminnya populasi spesies prioritas utama yang terancam punah meningkat sebesar 3% dari kondisi tahun 2008 sesuai ketersediaan habitat
10.000,0 Terjaminnya penangkaran dan pemanfaatan jenis keanekaragaman hayati secara lestari meningkat
kumulatif 4%.
Terjaminnya kerjasama internasional dan konvensi di bidang konservasi keanekaragaman hayati 1 paket 1.800,0
Terselenggaranya skema DNS kehutanan, 2 aktifitas 1.200,0
c. Penyidikan dan Pengamanan Hutan 35.000,0
Terjaminnya kasus baru tindak pidana kehutanan (illegal logging, perambahan, perdagangan TSL, illegal,