BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Private Course atau Kursus TOEFL
Kursus bahasa Inggris atau TOEFL yang tersedia di kota metropolitan.“Tempat kursus tersebut lebih mudah dalam menetukan tingkatan, dan waktu pembelajaran.”
Pertanyaan 3
Apakan Bapak/Ibu pernah mengikuti Private Course atau Kursus TOEFL?
I1: “Sudah”
I2: “Sudah”
I3: “Sudah”
Pertanyaan 4
Sudah berapa lama Bapak/Ibu mengikutinya?
I1: “Sudah dua tahun yang lalu”
I2: “Tahun 2017”
I3: “Tahun 2008, TOEFL untuk mengikuti tes beasiswa S2 ke luar negeri, tahun 2019 mengikuti TOEFL untuk memenuhi syarat sidang meja hijau menyelesaikan pendidikan S2”
Pertanyaan 5
Pada level berapa yang Bapak/Ibu ikuti?
I1: “Kemarin di level 1 (satu)”
I2: “Levelnya bukan yang TOEFL resmi, levelnya sebatas level TOEFL prediction score (skor prediksi)”
I3: “Sifatnya hanya prediction score (skor prediksi) belum TOEFL resmi”
Berdasarkan pernyataan pustakawan diatas dapat diketahui bahwa, pustakawan mengikuti tes TOEFL sudah berjalan sekitar dua tahun yang lalu, dan tes tersebut lebih bersifat skor prediksi dan belum semua nya sampai kepada TOEFL resmi yang memiliki tingkatan level.
4.4 In House Training
In house training adalah sebuah bentuk program pelatihan dimana waktu, tempat dan materi di tentukan sesuai dengan apa yang diminta. Biasanya dilaksanakan oleh perusahaan, institusi, dinas dalam rangka meningkatkan kualitas SDM di tempatnya.
Pertanyaan 6
Apakah Bapak/Ibu pernah mengikuti in house training bahasa Inggris yang berkaitan dengan bidang pekerjaan Bapak/Ibu?
I1: “Belum pernah. kalau pelatihan untuk perangkat digital sudah pernah. Seperti melakukan penjelasan mengenai aplikasi digital menggunakan bahasa Inggris kepada mahasiswa baru, contohnya nama aplikasinya ada OPAC, kemudian ada DIGILIB. Sampai saat ini belum ada tamu dari luar atau tamu asing yang berkunjung ke perpustakaan dan saya belum ada di tugaskan untuk melayani tamu asing menggunakan bahasa Inggris.”
I2: “Belum pernah, dan untuk pelatihan khusus pengolahan saja yang sudah pernah yaitu salah satu pustakawan senior disini tetapi tidak berkaitan dengan pelatihan bahsa Inggrisnya”
I3: “Belum pernah, tapi In houe training yang pernah diikuti dulu di UGM pelatihan secara keseluruhan salah satu didalamnya ada poin pelayanan kemudian ada diklat di perpustakaan nasional, di digital library unimed juga pernah, kita memanggil beberapa nasumber untuk pelatihan pelayanan secara keseluruhan hanya saja memang fokus materinya tidak fokus 100% khusus untuk menangani pelayanan dalam bahasa Inggris. Jadi lebih di fokuskan pada pelayanan secara umum, kalau untuk in house training yang khusus betul-betul pelayanan dalam bahasa Inggris melayani mahasiswa asing itu belum pernah, yang sudah diikuti adalah pelayanan secara umum. Karena selama ini tamu nya dominan sangat jarang sekali yang dari
luar negeri berbahasa Inggris yang sering mahasiswa asing yang datang kesini dia lebih mengajak ke bahasa Indonesia. Kenapa? Karena mereka mau belajar bahasa Indonesia, jadi ketika kita menjelaskan bahasa Inggris dia menjawabnya bahasa Indonesia. Nah kalaupun ada yang berbahasa Inggris bisa di hitung hanya satu atau dua tamu yang memang tidak bisa bahasa Indonesia dia berbahasa Inggris, terkadang juga tamu nya membawa penerjemah juga, apalagi kalau tamu –tamu kenegaraan seperti duta besar, tapi kalau mahasiswanya memang tidak membawa translator dia langsung berkomunikasi bahasa Inggris”
Berdasarkan pernyataan pustakawan diatas dapat diketahui bahwa untuk in house training bahasa Inggris yang berkaitan dengan bidang pekerjaanya belum pernah diikuti, tetapi lebih kepada pelatihan secara keseluruhan dengan bidang pekerjaan pustakawan di perpustakaan. Seperti pelatihan untuk perangkat digital menjelaskan aplikasi yang menggunakan bahasa Inggris dan pelayanan secara umum kepada pemustaka. Hal ini di karenakan jarangnya ada tamu atau pemustaka asing yang datang, dan untuk mahasiswa asing yang kuliah di UNIMED mereka lebih senang menggunakan bahasa Indonesia meskipun tidak begitu lancar dalam pengucapan karena mereka ingin belajar bahasa Indonesia.
4.5 Pemafataan Media Audio Visual Yang Tersedia Di Perpustakaan
Media audio visual merupakan“media perantara atau penggunaa materi dan penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran sehingga membangun kondisi yang dapat membuat seseorang mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.”
Pertanyaan 7
Media audio visual apa yang Bapak/Ibu gunakan dalam belajar komunikasi berbahasa Inggris?
I1: “Media CD, menggunakan media lain seperti media sosial juga”
I2: “Menggunakan CD pembelajaran, menggunakan youtobe atau media sosial lain”
I3: “Selama ini menggunakan CD, disini juga ada CD TOEFL yang bisa digunakan dan biasanya menggunakan media sosial seperti youtobe”
Berdasarkan pernyataan diatas dapat diketahui bahwa, pustakawan memanfaatkan media CD yang tersedia di perpustakaan, tetapi lebih sering menggunakan media sosial seperti youtobe karena lebih mudah untuk mengaksesnya ketika hendak belajar berbahasa Inggris seperti belajar berkomunikasi.
4.6 Membentuk Club Meeting/Discussion
Dikalangan pustakawan dan dalam mengangkat topik yang aktual dalam masyarakat.“Kegiatan tersebut dilaksanakan biasanya dua kali dalam sebulan.
Kegiatan tersebut bisa juga di lakukan seperti kegiatan bedah buku atau diskusi film bahasa Inggris.”
Pertayaan 8
Apakah Bapak/Ibu pernah membuat kegiatan club meeting/discussion kepada pemustaka atau teman sesama pustakawan berkenaan dengan bahasa Inggris?
I1: “Untuk kegiatan forum diskusi karena belum pernah bertemu tamu asing atau ikut kegiatan seperti itu belum pernah dan dengan sesama teman pustakawan juga belum pernah”
I2: “Belum pernah, untuk kegiatan membuat club meeting atau forum diskusi seperti bedan buku berbahasa Inggris belum pernah”
I3: “Kalau clubmeeting sampai saat ini belum ada di pepustakaan kita, dan seperti mahasiswa asing yang kuliah disini mereka lebih senang ketika diajak berbahaasa Indonesia dan ketika kita ajak bahasa Inggris mereka dengan susah payah berusaha menjawab dengan bahasa Indonesia, jadi untuk saat ini kalaupun ada tamu asing yang datang itu hanya sebatas mengetahui fasilitas yang ada dan bisa dipakai disini tidak sampai ke forum diskusi nya hanya sebatas berkunjung dan kita jelaskan secara singkat dengan pengantar bahasa Inggris umum dan mereka hanya sekedar library tour tidak ada sampai ke diskusi atau forum diskusi tidak ada. Jadi mahasiswa di UNIMED dominannya adalah mahasiswa yang rata-rata datang kesini berusaha untuk belajar bahasa Indonesia sehingga mereka sungkan kalau kita ajak berbahasa Inggris, jadi yang berbahasa Inggris ketika yang tidak kuliah disini seperti tamu dari luar negeri mereka biasanya berbahasa Inggris, jadi belum ada club nya ataupun forumnya”
Berdasarkan pernyataan pustakawan diatas dapat diketahui bahwa, pustakawan belum pernah membuat atau mnegikuti kegiatan clubmeeting atau forum diskusi baik dengan pemustaka ataupun dengan sesama teman pustakawan, karena
memang kegiatan tersebut belum ada di lakukan di lingkungan perpustakaan UNIMED.
4.7 Memegang Prinsip
Dengan meyakinkan diri pustakawan terus barusaha tanpa menyerah untuk belajar bahasa Asing khususnya bahasa Inggris
Pertanyaaan 9
Pada era globalisasi ini, Apakah Bapak/Ibu percaya bahwa seorang pustakawan harus memiliki kemampuan berbhasa Inggris, khususnya dalam berkomunikasi?
I1: “Untuk pustakawan sangat perlu dikarenakan untuk kedepan jika ada tamu atau kita ada kunjungan ke luar negeri, visitasi ke perpustakaan misalnya ada di Malaysia, kita lebih berinteraksi aktif dan efisien menggunkaan bahasa Inggris, untuk kedepannya sangata di wajibkan sebenarnya bagi pustakawan untuk menguasai bahasa Inggris”
I2: “Sebenarnya perlu tidak perlunya memang perlu, mau tidak mau memang harus mau dan harus bisa. Hanya terkadang keadaan dan lingkungan yang mungkin bisa jadi berada di satu lingkungan yang memaksakan harus berbahasa Inggris kita memang harus bisa bahasa Inggris, tapi kalau memang keadaan atau lingkungan yang tidak terlalu memaksakan setidaknya kita mampu secara pasif, jadi kita mengerti apa yang di bilang orang asing atau apa yang mau kita baca. Setidaknya kita bisa walaupun hanya pasif”
I3: “Sebenarnya tidak hanya pada era globalisasi bahasa Inggrisdi perlukan, dari dahulu sebenarnya bahasa Inggris sudah menjadi bahasa wajib. karena untuk secara internasional bahasa yang di gunakan saat ini masih bahasa Inggris, artinya ketika kita mau bersaing secara internasional kita harus menguasai bahasa Inggris tidak hanya pustakawan, apalagi sekarang pustakawan dituntut harus mendapatkan sertifikasi kompetensi salah satunya adalah kemampuan bahasa Inggris. Semenjak adanya era globalisasi ini akan terjadi pertukaran orang dari Negara luar seperti Vietnam, Thailand, dan Negara Asean. Pustakawan dari luar negeri bisa bekerja di Indonesia dan sebaliknya pustakawan Indonesia juga bisa kerja ke negera lain.
Untuk bekerja ke negara lain maka mereka harus punya bekal kemampuan bahasa Inggris yang baik sedangkan orang luar yang datang ke Indonesia selain bahasa Inggrisnya bagus, bahasa Indonesia mereka juga sudah banyak yang lancar itu berarti tidak lagi sebuah hal yang harus di tawar tapi menjadi satu kewajiban bahasa Inggris harus dimiliki untuk pustakawan”
Berdasarkan pernyataan diatas dapat diketahui bahwa, kemepuan bahasa Inggris khususnya berkomunikasi sudah menjadi kewajiban yang harus dimiliki seorang pustakawa agar dapat berinteraksi secara efisien kepada oaring asing yang berasal dari Negara lain. Dan kemampuan ini merupakan salah satu kemampuan yang harus dimilki pustakawan hingga saat ini karena selain dapat berinteraksi pustakawan juga dapat bersaing ke tingkat internasional dengan soft skill yang dimiliki.
4.8 Rangkuman Hasil Penelitian
Berdasarkan“hasil wawancara bersama informan melalui analisis data maka dapat diketahui”rangkuman hasil penelitian dengan menggunakaan indikator penelitian yaitu: motivasi, belaja sendiri atau self direct learning (SDL), private courses atau kursus TOEFL, in house training, pemanfaataan media audio visual di perpusakaan, membentuk clbmeeting/discssion, dan memegang prinsip.
Pustakawan UNIMED sudah meningkatkan keterampilan komunikasi berbahasa Inggris dengan mengikti tes TOEFL, belajar komunikasi bahasa Inggris dengan memanfaatkan media yang tersedia di perpustakaan seperti CD, buku dan jurnal ilmiah serta menggunakan media sosial seperti youtobe. Pustakawan juga memiliki prinsip untuk terus belajar dalam melatih soft skill nya di bidang bahasa Inggris khususnya dalam berkomunikasi, agar dapat mengikuti perkembangan era yang menjadikan kompetensi bahasa Inggris menjadi kompetensi yang wajib dimiliki oleh pustakawan dalam bersaing secara internasional.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil wawancara langsung yang telah dilakukan bersama informan penelitian bahwa upaya pustakawan meningkatkan keterampilan komunikasi dalam berbahasa Inggris di Perpustakaan UNIMED ialah dengan memanfataakan media yang tersedia di perpustakaan seperti CD, buku dan jurnal ilmiah, memberikan pelayanan yang terbaik kepada pemustaka baik yang di dalam negeri maupun dari luar negeri, dan selalu berusaha dan mempersiapkan diri untuk menhadapi perkembangan era yang terjadi saat ini, hal ini dapat di buktikan dengan:
1. Pustakawan UNIMED melatih keterampilan komunikasi berbahasa Inggris dengan meningkatkan kompetensi profesional untuk menambah keahlian, pengetahuan dan sikap kerja
2. Pustakawan UNIMED melakukan evaluasi terhadap kemampuan yang dimiliki dengan memanfaatkan media yang tersedia di perpustakaan untuk tetap terus belajar dan mengasah kompetensi komunikasi bahasa Inggris agar dapat bersaing ke tingkat internasional dengan seiring perkembangan era yang terjadi saat ini.
3. Pustakawan UNIMED berusaha untuk memperbarui keterampilan komunikasi dalam bahasa Inggris dengan mengikuti TOEFL, menggunakan buku atau
jurnal ilmiah, media audio visual, dan media sosial untuk menambah pengetahuan dan mengasah keterampilan yang di miliki.
Pustakawan mengikuti TOEFEL atas dorongan dari diri sendiri, tidak ada pelatihan yang di sediakan oleh pihak perpustakaan atau tidak adanya lembaga yang bekerja sama dengan pihak perpustakaan untuk memberikan pelatihan khusus berkenaan dengan keterampilan bahasa Inggris untuk pustakawan.
Sehingga pustakawan UNIMED yang sudah mengikuti tes keterampilan bahasa Inggris atau tes TOEFEL berjumlah 10 orang. Artinya hanya 50% dari pustakawan yang sudah mengikuti tes TOEFEL dan sebagian nya lagi belum mengikuti TOEFEL. Perpustakaan UNIMED menyediakan bahan pustaka buku, jurnal ilmiah dan layanan media audio visual yang dapat digunakan oleh pustakawan untuk melatih kemampuan bahasa Inggrisnya khususnya dalam berkomunikasi akan tetapi pustakawan merancang sendiri materi yang akan di gunakan untuk belajar meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya tanpa adanya pelatih yang di undang secara khusus ke perpustakaan.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah di sampaikan, maka saran peneliti kepada Perpustakaan Universitas Negeri Medan ialah:
1. Perpustakaan, diharapkan agar Perpustakaan UNIMED memberikan pelatihan berkenaan dengan keterampilan bahasa Inggris untuk pustakawan atau bekerja sama dengan suatu lembaga untuk mengundang pelatih dan menyediakan materi untuk melatih keterampilan bahasa Inggris pustakawan.
2. Pusakawan UNIMED di harapkan menjadi Pemimpin Perubahan bagi perpustakaan dan dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada pemustaka atau tamu yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri, sehingga pemustaka dapat memperoleh sumber informasi langsung melalui pustakawan tanpa adanya perantara seperti penerjemah (translator) atau penafsir bahasa.
3. Selanjutnya, diharapkan adanya penelitian lanjutan yag membahas tentang keterampilan pustakawan dalam bahasa Inggris tidak hanya pada komunikasi tetapi keterampilan bahasa Inggris lainnya. Hal ini di karenakan masih jarang yang melakukan penelitian tentang keterampilan pustakawan di bidang bahasa Inggris.
DAFTAR PUSTAKA
Anyaoku, Ebele N., Anunobi, Chinwe V., and Eze, Monica E. Information Literacy skills and Perceprions of Librarians in College of Education in Nigeria.
Journal Information and Knowledge Management. Vol 5. Issue 8. 2015
Batubara, Abdul Karim. 2011. Urgensi Kompetensi Komunikasi Pustakawan Dalam Memberikan Layanan Kepada Pemustaka. Jurnal Iqra’. Vo. 6. No. 1
Blasius, Sudarsono. 2006. Antologi Kepustakawanan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto Bolick, Joanna. Librarian, Literature. And Locality: Addressing Language Barriers Through Readers’ Advisory. Journal Appalachian State University Graduate Student. Vol 73. Issue 1. 2015
Bordonaro, Karen and Angalik, Shelby. Libraries and Arctic: Language Education Support. Journal Library Ideas (LIBREAS). Vol 33. 2018
Clough, Paul and Eleta, Irene. Investigating Language Skills and Field of Knowledge on Multilingual Information Access in Digital Libraries. International Journal of digital Library Systems (IJDLS). Vol 1. Issue 1. Januari 2010.
Hapsari. 2015. Tantangan dan Kesiapan Pustakawan di Era Digital. Jurnal Ilmiah.
Vol. 1. No. 1
Hermawan S., Rachman dan Zen, Zulfikar. (2006). Etika Kepustakawanan: Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik Pustakawan Indonesia. Cetakan 1. Jakarta:
Sagung Seto
Hutasoit, Hildayati Raudah. Perpustakaan Digital Perpustakaan Masa Depan. Jurnal Iqra’. Vol 6. No 2. 2012
Istiana, Purwani. Pustakawan Berkualitas. Jurnal IlmuPerpustakaan dan Informasi.
2015
Khasanah, Nanan. 2008. “Kompetensi Pustakawan di Era Perpustakaan Digital”. Di sampaikan dalam pelatihan Perpustakaan Digital untuk pustakawan di Lingkungan PMPTK se-Indonesia, Institut Teknologi Bandung, 2008.
Khitbah. 2014. Komunikasi Pustakawan. Jurnal Iqra’. Vol. 8. No. 1
Lasa, HS. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher
Makmur, Testiani. 2015. Budaya Kerja Pustakawan di Era Digitalisasi: Perspektif Organisasi, Relasi dan Individu. Jakarta: Grafiti Pers
Martzoukou, Konstantina and Elliot, Joanneke. The Development of digital Literacy and Inclusion Skills of Public Librarians. Journal Communication in Information Literacy. Vol 10. Issue 1. 2016
Nuha, Ulin. Meningkatkan Kualitas Pelayanan Perpustakaan Dengan Pendekatan Bilingual. Jurnal Perpustakaan LIBRARIA.Vol 2. No 1. 2014
Pendit, Putu Laxmana. 2007. Perpustakaan Digital: Sebuah Impian dan Kerja Bersama. Jakarta: Sagung Seto
Purwono, 2013. Profesi Pustakawan Menghadapi Tantangan Perubahan. Cetakan 1.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Saleh, Noer Jihad. Kompetensi Bahasa Inggris Bagi Pustakawan Sebagai Manajer Informasi Di Era Globalisasi. Jurnal JUPITER. Vol XIV. No 1. 2015
Firmansyah. Dafi. 2019. Pengaruh Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di Era Globalisasi. Jurnal Bahasa.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian. Bandung: Alfabeta
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Administrasi di lengkapi dengan metode R&D.
Cetakan ke-23. Bandung: Alfabeta
Sungadi. 2018. Etos Kerja dan Profesionalisme Pustakawan di Era Modern. Cetakan 1. Yogyakarta: Aswaja Pressindo
Supriyanto, Wahyu. Peran Pustakawan Dalam Mendukung Pengembangan Perguruan Tinggi Bertaraf Internasional. Jurnal Media Informasi. Vol XXI.
No 1. 2016
Supriyanto, dkk. 2006. Aksentuasi Perpustakaan dan Pustakawan. Jakarta: Ikatan Naturopatis Indonesia
Sutarno, N.S. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: CV. Sagung Seto
Widijanto, Tjahjono. Visi Pustaka. Sentralitas Kompetensi, Aplikasi Teknologi Informasi, dan Strategi Holistik: Upaya perpustakaan-Pustakawan Meningkatkan Profesionalisme dan Kualitas Layanan di Era Globalisasi. Vol 10. No 3. Desember 2008
LAMPIRAN I
1. Sejarah Singkat Perpustakaan Universitas Negeri Medan
UPT Perpustakaan Universitas Negeri Medan berdiri seiring dengan berdirinya Institusi induk yaitu IKIP Medan.“Pada awalnya merupakan perpustakaan Fakultas FKIP USU. Pada tahun 1959 Perpustakaan dipimpin oleh Ny. Fondoh Hoeres. Pada tahun 1969 perpustakaan baru menempati gedung tersendiri. Unsur pimpinan berganti pada tahun 1962 dipimpin oleh Ny. Hajani Adnan. Pada tahun 1963 beralih kepada Drs. M. Simatupang dan pada tahun 1965 pimpinan diserahkan kepada Drs. J. Tumanggor serta pada tahun 1977 pimpinan perpustakaan dijabat oleh Drs. M. Tambunan. Tahun 1987 UPT Perpustakaan IKIP Medan pindah ke lokasi kampus baru di Jl. Willem Iskandar Pasar V Medan Estate.”
Pada September 2013 UPT Perpustakaan Universitas Negeri Medan pindah ke gedung baru Gedung Digital Library Universitas Negeri Medan.“Pada hari Sabtu, 14 Desember 2013 Gedung Digital Library Universitas Negeri Medan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Ir. KH.
Muhammad Nuh, DEA didampingi Rektor UNIMED Prof. Dr. Ibnu Hajar M.Si.
Adapun beberapa fasilitas yang ada di Digital Library UNIMED berupa Ruang Kepala Perpustakaan, Locker Room, Ruang Diskusi, Ruang Baca, Toko Buku, Peminjaman dan Pengembalian Buku, dan lain sebagainya.”
2. Visi, Misi dan Tujuan Perpustakaan Visi Perpustakaan
“Perpustakaan sebagai tempat untuk mendapatkan sumber informasi yang lengkap bagi kebutuhan sivitas akademika Universitas Negeri Medan”.
Misi Perpustakaan
1. Menyediakan fasilitas pelayanan informasi“untuk memenuhi kebutuhan dan mendukung informasi sivitas akademika Universitas Negeri Medan dalam menunjang belajar mengajar.”
2. Mengelola informasi“dengan standar nasional, regional dan internasional”
3. Mengembangkan sistem pelayanan perpustakaan berbasis“Information Communication and Technology”
4. Mengembangkan data digital“hasil karya sivitas akademika Universitas Negeri Medan berbasis web”
5. Mengembangkan sistem akses data digital secara global
6. Mengembangkan kerjasama“dalam layanan perpustakaan antar perpustakaan secara nasional”
Tujuan Perpustakaan
1. Menyediakan“koleksi, buku teks, jurnal, data digital, audio visual yang sesuai dengan kebutuhan mata kuliah”
2. Menyediakan“fasilitas layanan yang efektif dan efisien”
3. Mengembangkan“pangkalan data digital”
4. Menyediakan“sarana dan prasarana yang memadai”
LAMPIRAN II A. Pedoman Wawancara
1. Apa yang menjadi motivasi Bapak/Ibu untuk tetap terus belajar bahasa Inggris, khususnya dalam berkomunikasi?
2. Bagaimana cara Bapak?Ibu belajar bahasa Inggris, khususnya dalam berkomunikasi?
3. Apakan Bapak/Ibu pernah mengikuti Private Course atau Kursus TOEFL?
4. Sudah berapa lama Bapak/Ibu mengikutinya?
5. Pada level berapa yang Bapak/Ibu ikuti?
6. Apakah Bapak/Ibu pernah mengikuti in house training bahasa Inggris yang berkaitan dengan bidang pekerjaan Bapak/Ibu?
7. Media audio visual apa yang Bapak/Ibu gunakan dalam belajar komunikasi berbahasa Inggris?
8. Apakah Bapak/Ibu pernah membuat kegiatan club meeting/discussion kepada pemustaka atau teman sesama pustakawan berkenaan dengan bahasa Inggris?
9. Pada era globalisasi ini, Apakah Bapak/Ibu percaya bahwa seorang pustakawan harus memiliki kemampuan berbhasa Inggris, khususnya dalam berkomunikasi?
B. Transkip Wawancara 1. Motivasi
Pertanyaan 1
Apa yang menjadi motivasi Bapak/Ibu untuk tetap terus belajar bahasa Inggris, khususnya dalam berkomunikasi?
I1: “Kalau bahasa Inggris sebelum era globalisasi pun itu sudah harus di wajibkan kita berbahasa Inggris supaya untuk kedepan nanti ketika kita ada tamu dari luar negeri datang berkunjung ke perpustakaan kita bisa melayani nya dengan baik, bisa berkomunikasi dnegan baik juga”
I2: “Sekarang bahasa Inggris menjadi komunikasi yang penting, jadi kalau kita mau tau sesuatu atau perlu baca sesuatu dalam bahasa asing bisa dapat informasi dengan cepat baik itu melalui internet ataupun komunikas secara langsung dengan orang asing. jadi bisa komunikasi berbahasa Inggris bisa dapat pengetahuan, makanya kemampuan bahasa Inggris sebenarnya perlu di perbaharui”
I3: “Seorang pustakawan dari dulu memang harus memiliki kompetensi bahasa Inggris karena sumber-sumber buku, bahan pustaka yang dilayankan tidak semuanya berbahasa Indonesia, ada yang berbahasa asing khususnya bahasa Inggris, dan bahkan ada bahasa asing lainnya. Oleh karena itu, seorang pustakawan di tuntut harus terus belajar bahasa asing, memperlancar bahasa Inggris nya sehingga dalam melayani bisa memberikan yang terbaik khususnya pada mahasiswa asing yang tidak bisa berbahasa Indonesia”
2. Belajar Sendiri atau Self Direct Learing (SDL) Pertanyaan 2
Bagaimana cara Bapak/Ibu belajar bahasa Inggris, khususnya dalam berkomunikasi?
I1: “Saya belajarnya lebih sering dengan membaca artikel-artikel kemudian saya translate kan pakai aplikasi translate”
I2: “Saya biasanya dari dengarin lagu, kadang nanti ada kata-kata yang tidak mengerti di potong cari artinya lalu di catat, dari baca buku atau artikel apa saja kata-kata yang tidak di ketahui di catat atau dari nonton juga, dari mana aja bisa belajar”
I3: “Saya biasanya melalui film-film bahasa Inggris, selama ini belajar melalui yotube saja, sudah tidak ada kursus-kursus lagi”
Berdasarkan peryataan informan diatas, dapat diketahui bahwa dalam belajar komunikasi bahasa Inggris pustakawan menggunakan artikel atau buku berbahasa Inggris, selain itu dengan menonton film dari youtobe atau dengan mendengarkan lagu berbahasa Inggris kemudian mengulangi kembali kalimat yang di lihat atau di dengar.
3. Private Course atau Kursus TOEFL
3. Private Course atau Kursus TOEFL