• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

5.1 Probabilitas Kesintasan 1 Tahun

Jumlah kasus kanker serviks yang terjadi pada tahun 2009 di RSUP. H. Adam Malik Medan ialah 107 kasus, namun hanya 95 kasus yang lengkap yang digunakan pada penelitian. Diantara 95 kasus ditemukan 19 (20%) kasus yang mengalami kematian, 4 kasus (4,2%) yang tetap hidup serta 72 kasus (75,8%) yang hilang dari observasi.

Berdasarkan analisis bivariat menggunakan metode Kaplan-Meier diperoleh estimasi probabilitas kesintasan 1 tahun penderita kanker serviks yang telah mendapat pengobatan di RSUP. H. Adam Malik ialah sebesar 0,568 (56,8%). Pada penelitian di RS Kanker Dharmais Jakarta tahun 2003 tentang kesintasan 5 tahun penderita kanker serviks memiliki kesintasan sebesar 0,4035 (40,35%), angka ini tidak berbeda jauh jika dibandingkan dengan perbedaan waktu kesintasan yaitu 4 tahun. Berbeda halnya kesintasan 1 tahun penderita kanker serviks di Inggris dan Wales tahun 2001 yaitu sebesar 83,5% (Quinn et al, 2008). Hal ini berbeda jauh dengan kondisi kesintasan 1 tahun penderita kanker serviks di Indonesia khususnya di RSUP. H. Adam Malik Medan. Dan ini diperkirakan diakibatkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Sumatera Utara tentang deteksi dini kanker serviks, sehingga penderita yang datang berobat ke RSUP. H. Adam Malik umumnya telah mencapai stadium lanjut.

5.2 Usia

Penderita kanker serviks yang datang berobat ke RSUP. H. Adam Malik Medan tahun 2009 banyak dijumpai berusia 41-50 tahun yaitu 43 orang (45,3%), dilanjutkan usia 51-60 tahun, 31-40 tahun dan > 60 tahun yang masing-masing berjumlah 33 orang (15,8%), 15 orang (15,8%) dan 4 orang (4,2%). Hasil yang sama tentang usia penderita kanker serviks juga didapatkan dari penelitian Sirait et al (2003), frekuensi usia tertinggi penderita kanker serviks di RS Kanker Dharmais Jakarta ialah usia 40-49 tahun (35,9%) dan usia 50-59 tahun (28,3%). Hasil ini juga sesuai dengan hasil penelitian Nasution (2008) yang menyatakan penderita kanker serviks terbanyak dijumpai di RSU. Dr. Pirngadi Medan berusia antar 40-49 tahun yaitu 47,5%.

Dengan analisis Kaplan-Meier diperoleh probabilitas kesintasan penderita kanker serviks yang berusia 31-40 tahun sebesar 0,657 (65,7%), usia 41-50 tahun sebesar 0,610 (61%), sementara untuk kelompok usia 51-60 dan > 60 tahun sebesar 0,559 (55,9%) dan 0,75 (75%). Hasil uji kemaknaan dengan uji log rank menunjukkan bahwa ada perbedaan antara usia dengan kesintasan 1 tahun penderita kanker serviks. Namun berdasarkan hasil penelitian Sirait et al (2003) tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara kelompok usia dengan kesintasan 5 tahun penderita kanker serviks. Penderita dengan kelompok usia > 59 tahun sebesar 0,4720 dan kelompok usia 40-49 tahun sekitar 0,4453.

5.3 Pendidikan

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penderita kanker serviks yang datang berobat

ke RSUP. H. Adam Malik Medan paling banyak berpendidikan ≤ SD yaitu 41,1% dan paling sedikit berpendidikan sampai perguruan tinggi (6,3%), sisanya berpendidikan SLTP dan SLTA masing-masing 25,3% dan 27,4%. Hasil yang hampir sama juga terlihat pada penelitian di RSU. Dr. Pirngadi diperoleh penderita kanker serviks yang berpendidikan rendah sebesar 50,3%, berpendidikan menengah 38,8% dan berpendidikan tinggi sebesar 10,9% (Nasution, 2008). Hal ini berarti penderita kanker serviks paling banyak diderita oleh wanita yang berpendidikan rendah. Kurangnya pendidikan diestimasi merupakan penyebab kurangnya kesadaran masyarakat tentang

kesehatan terutama bahaya penyakit kanker dan besarnya manfaat deteksi dini kanker untuk mengurangi kematian akibat penyakit kanker.

Menurut Sirait et al (2003), penderita yang berpendidikan 1-6 tahun dan > 12 tahun memiliki probabilitas kesintasan 5 tahun masing-masing 0,4157 dan 0,4154. Ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara pendidikan dengan kesintasan 5 tahun penderita kanker serviks. Sebaliknya pada penelitian ini ditemukan adanya perbedaan yang bermakna antara pendidikan dengan kesintasan 1 tahun penderita kanker serviks, terlihat dari hasil uji log rank pada p = 0,176 (< 0,26). Dengan analisis Kaplan-Meier diperoleh probabilitas kesintasan 1 tahun penderita kanker serviks yang berpendidikan terakhir SD sebesar 0,664 (66,4%), pendidikan SLTP sebesar 0,298 (29,8%), untuk kelompok pendidikan SLTA dan PT sebesar 0,778 (77,8%) dan 0,833 (83,3%).

5.4 Pekerjaan

Pekerjaan yang paling banyak dijumpai pada penderita kanker serviks yang berobat di RSUP. H. Adam Malik Medan tahun 2009 ialah ibu rumah tangga (IRT). Dijumpai sebesar 81% penderita bekerja sebagai ibu rumah tangga. Kemudian penderita yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS)/wiraswasta maupun bekerja lainnya sebesar 9,5%. Berdasarkan penelitian Nasution (2008) diperoleh hasil yang hampir sama yaitu pendidikan yang terbanyak dijumpai pada penderita kanker serviks ialah 60,7% bekerja sebagai ibu rumah tangga (IRT).

Analisis bivariat menggunakan uji log rank dengan p = 0,934 menunjukkan tidak ada perbedaan antara kelompok pekerjaan dengan kesintasan 1 tahun penderita kanker serviks. Selanjutnya dengan analisis menggunakan Kaplan-Meier diperoleh probabilitas kesintasan 1 tahun penderita kanker serviks yang bekerja sebagai ibu rumah tangga sebesar 0,619 (61,9%), untuk penderita yang bekerja sebagai PNS/wiraswasta dan yang lainnya sebesar 0,700 (70%).

5.5 Stadium

Pada penderita kanker serviks yang datang berobat ke RSUP. H. Adam Malik Medan tahun 2009 tidak ditemukan dalam kondisi stadium 0 , umumnya sudah berada pada kondisi stadium lanjut. Penderita dengan stadium dini berjumlah 32 orang (33,7%) sementara penderita dengan kondisi stadium lanjut berjumlah 63 orang (66,3%). Nasution (2008) juga melaporkan stadium klinis yang memiliki proporsi tertinggi pada penderita kanker seviks ialah stadium lanjut (IIb-IVb) 57,9% dan penderita kanker serviks dengan stadium dini (0-IIa) 42,1%. Sama halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sirait et al (2003), penderita kanker serviks di RS Kanker Dharmais Jakarta kebanyakan datang pada stadium IIIb sebesar 38,0% yang diikuti stadium IIb sekitar 25,5%. Hal ini memperlihatkan bahwa masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sejak dini. Kurangnya kesadaran ini diestimasi diakibatkan karena penyakit kanker serviks pada stadium dini jarang memberikan gejala-gejala sehingga penderita baru sadar ketika sudah dalam kondisi parah, penderita baru sadar ketika sudah terjadi pendarahan.

Berdasarkan hasil analisis Kaplan-Meier diperoleh probabilitas kesintasan 1 tahun pendertia kanker serviks dengan kondisi stadium dini sebesar 0,909 (90,9%), sementara penderita dengan kondisi stadium lanjut memiliki probabilitas kesintasan 1 tahun yang lebih kecil yaitu sebesar 0,484 (48,4%) dengan median hidup 435 hari. Setelah dilakukan uji statistik menggunakan uji log rank dengan p = 0,005 menunjukkan adanya hubungan antara stadium klinis dengan kesintasan 1 tahun penderita kanker serviks. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa stadium klinis merupakan faktor resiko yang sangat berpengaruh terhadap kesintasan 1 tahun penderita kanker serviks di RSUP. H. Adam Malik Medan tahun 2009. Penderita dengan stadium lanjut memiliki resiko 11,442 kali lebih besar dari penderita dengan stadium dini.

Menurut Sirait et al (2003), penderita kanker serviks dengan stadium I memiliki probabilitas kesintasan 5 tahun sebesar 0,5663 (56,63%), untuk stadium II sebesar 0,5602 (56,02%), sedangkan pada stadium III menurun secara drastis hanya 0,2376 (23,76%) dengan median hidup 706 hari. Namun tidak ditemukan adanya kasus yang masih hidup sampai 5 tahun setelah pengobatan pada stadium IV dan

kesintasan 5 tahun penderita kanker serviks pada tahun 2000-2002 pada stadium Ia sebesar 93%, stadium Ib sebesar 80%, stadium IIa 63%, stadium IIb 58%, dan untuk stadium IIIa, IIIb dan IVa masing-masing sebesar 35%, 32% dan 16% (American cancer society, 2010).

Dokumen terkait