HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Problem yang Dihadapi Komunitas Laskar Hijau dan Strategi Pelaksanaan Konservasi Hutan Gunung Lemongan
1. Problem yang Dihadapi Laskar Hijau a. Perusakan Hutan
Dalam melaksanakan gerakan pelestarian hutan Gunung Lemongan, Komunitas Laskar Hijau seringkali menghadapi problem-problem yang dapat dianggap sebagai tantangan kolektif.
Tantangan kolektif ini berasal dari para perusak lingkungan yang berdampak negatif terhadap lingkungan, seperti tindakan penebangan pohon di hutan yang tidak memperhatikan aturan tebang pilih dan tebang tanam, membakar rumput ilalang yang kemudian merembet pada kebakaran kawasan hutan, aktifitas para pecinta alam yang meinggalkan sampah sisa makanan, juga tindakan corat-coret batu atau pohon di kawasan Gunung Lemongan. Berbagai tindakan negatif ini merupakan problem yang dihadapi komunitas Laskar Hijau dalam menanamkan kesadaran kepada mereka untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Seringkali tindakan ini menghambat penghijauan yang dilakukan komunitas Laskar Hijau. Oleh karena tanaman yang telah ditanam menjadi terbakar hampir setiap tahunnya.
Menurut Bapak Madji kebakaran hutan sering terjadi pada musim kemarau karena cuaca yang sangat panas. Ilalang yang lebat menjadi mudah terbakar, apalagi orang-orang Perhutani sendiri sengaja membakar sisa pohon tebangannya, sehingga kebakaran hutan ini juga mengenai tanaman dan pohon yang ditanam Laskar Hijau. Kebakaran hutan hebat pernah terjadi pada tahun 2011 dan bulan Oktober 2013 di 8 (delapan) titik pusat kebakaran.212
Lebih lanjut menurut Gus A‘ak Abdullah, problem yang dihadapi gerakan Laskar Hijau ialah seringnya terjadi kebakaran hutan yang disebabkan masyarakat membuka lahan dengan cara membakar hutan yang dilakukan pada musim kemarau yang pada akhirnya merembet lebih luas, selain oknum dari Perhutani sendiri yang membakar sisa pohon tebangannya seperti dijelaskan di atas. Untuk mengatasi problem ini, cara yang ditempuh oleh Laskar Hijau adalah merangkul masyarakat petani setempat untuk ditanamkan kesadaran untuk tidak membuka lahan pertanian
211Ibid.
212 Wawancara dengan Bapak Madji pada Kamis, 1 Juli 2021, pukul 10.00 wib.
82 dengan cara membakar hutan. Cara ini cukup efektif untuk mengurangi kasus seperti ini, sehingga diharapkan lebih banyak masyarakat yang ikut menjaga hutan.213
Pada tahun 2011 kebakaran hutan yang terjadi menghanguskan sekitar 300 hektar tanaman Laskar Hijau yang telah ditanam di Gunung Lemongan. Penyebabnya masyarakat membuka lahan pertanian dengan cara membakar rumpu ilalang di sekitarnya sehingga kemudian merembet sangat luas kawasan yang terbakar. Akibatnya tanaman dan pohon yang telah ditanam memakan waktu yang lama hangus dalam waktu sekejap. Selang satu tahun kemudian, terjadi lagi kebakaran hebat di hutan Gunung Lemongan pada Oktober 2013. Kebakaran tersebut menghanguskan ribuan pohon yang telah ditanam aktifis Laskar Hijau. Penyebab kebakaran pada 2013 ini disebabkan penebangan pohon Akasia dan pembakaran sisa penebangan pohon yang dilakukan pihak Perhutani di petak 19c, sehingga api cepat menyebar luas membakar tanaman yang lain.214
Lebih lanjut A‘ak Abdullah selaku ketua Laskar Hijau menyayangkan tindakan Perhutani.
Seharusnya pihaknya bertanggung jawab secara sosial terhadap pelestarian hutan. Padahal antara Perhutani dan Laskar Hijau sudah memiliki MoU untuk bersama-sama melestarikan kawasan hutan lindung Gunung Lemongan yang kondisinya kritis. Tetapi kenyataannya semua MoU dilanggar secara sepihak oleh Perhutani sendiri.
Dalam perjalanan gerakannya Laskar Hijau melakukan berbagai aksi advokasi seperti demonstrasi (aksi massa) untuk memperjuangkan hak rakyat atas sumberdaya hutan yang rusak.
Aksi ini diikuti masyarakat Klakah terdiri dari anggota Laskar Hijau, masyarakat sekitar, dan juga para aktifis lingkungan yang dilakukan di depan kantor Perhutani Lumajang. Aksi ini dilatarbelakangi tindakan Perhutani yang telah melakukan perusakan hutan dengan cara menebang pohon, lalu membakar sisa penebangannya yang berakibat pada terjadinya kebakaran hutan yang menghabiskan tanaman konservasi komunitas Laskar Hijau. Penebangan dan pembakaran pohon Akasia oleh pihak Perhutani masuk dalam kawasan konservasi Laskar Hijau yang sebelumnya telah disepakati bersama untuk melakukan pelestarian hutan lindung dalam petak 12 dan 19c yang juga menjadi kawasan pelestarian yang dikelola Laskar Hijau.215
Demonstrasi di atas dilaksanakan karena Perhutani tidak merespon dan tidak bertanggung jawab. Tuntutan yang diminta agar Perhutani meminta maaf secara terbuka, karena telah
213Wawancara dengan A‘ak Abdullaah al-Kudus, 16 Juni 2021, pukul 13.00 wib.
214Ibid.
215Ibid.
83 melecehkan upaya pelestarian hutan yang dilakukan elemen masyarakat Lumajang. Selain itu diminta kepada Perhutani untuk memberhentikan dengan tidak hormat oknum Perhutani yang melakukan perusakan terhadap tanaman konservasi yang dikelola Laskar Hijau dan mengganti tanaman yang dirusak dengan ganti 10 kali lipat. Di samping itu juga Perhutani diminta melakukan penyelamatan dan pengamanan hutan lindung dari penambangan batu dan pasir serta penghijauan di sekitar ranu dengan menanami pohon bambu.
b. Kesadaran Menjaga Lingkungan yang Rendah
Kesadaran masyarakat yang rendah juga menjadi problem yang menghambat gerakan Laskar Hijau. Ketidakpahaman terhadap dampak negatif yang akan ditimbulkan dari hutan rusak menjadi penyebab rendahnya kesadaran masyarakat. Dengan begitu gerakan pentingnya melakukan penghijauan hutan kurang mendapatkan respon masyarakat.
Akibat kesadaran yang rendah, masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tetap menggantungkan pada hutan dengan menebang pohon secara serampangan. Alasan kemiskinan dan ekonomi yang menghalangi lahirnya kesadaran menjaga lingkungan. Alih-alih ikut menanam pohon, untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga saja sulit dan itu tidak lain dilakukan dengan jalan mencuri kayu di hutan. Inilah anggapan yang kurang tepat dari masyarakat, padahal hasil tanam pohon berbuah yang dilakukan Laskar Hijau juga nantinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk menujang pendapatan ekonominya.216
2. Strategi Komunitas Laskar Hijau
Gerakan Laskar Hijau dalam menjalankan misinya lebih mengutamakan kepada penanaman kesadaran kepada masyarakat, dengan cara membangun cara pandang mereka terhadap lingkungan. Manusia semestinya memiliki hubungan timbal-balik dengan lingkungannya sehingga ia perlu dilestarikan. Alam yang selama ini hanya dieksploitasi sumberdaya alamnya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia semakin lama semakin berkurang dan ini bisa diatasi hanya dengan upaya pelestarian. Strategi penanaman kesadaran seperti ini yang ditempuh komunitas Laskar Hijau agar lingkungan tidak semakin rusak.
Untuk menanamkan kesadaran pelestarian lingkungan hutan Gunung Lemongan, Laskar Hijau mensosialisasikan gerakan penghijauan kepada masyarakat agar mereka mendukung dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Adapun strategi yang ditempuh adalah:
a. Sosialisasi penghijauan melalui media pengobatan akupuntur
216Ibid.
84 Untuk menarik perhatian masyarakat terhadap acara sosialisasi penghijauan yang diselenggarakan komunitas Laskar Hijau agar mereka berpartisipasi dalam gerakan penyelamatan lingkungan yang rusak, komunitas Laskar Hijau mengadakan pengobatan akupuntur yang jasa pembayarannya dengan menggunakan biji-bijian dan bibit yang dapat ditanam, yang ada di sekitar rumah mereka, seperti dijelaskan A‘ak Abdullah. Kegiatan ini diselenggarakan di desa Sumberwringin, Salak, Klakah dan Tegal Randu. Pengobatan ini dilakukan secara berkeliling selama hampi dua tahun. Muncul pertanyaan dari masyarakat: ―Mengapa bayarnya dengan bibit?‖ Untuk menjawab pertanyaan ini; sebetulnya komunitas Laskar hijau bukan butuh bibitnya, tetapi kita menggunakan kesempatan kepada orang yang datang berobat tersebut untuk menjelaskan program penghijauan Laskar Hijau. Dari kegiatan ini, beberapa orang mantan pasien ada yang kemudian ikut menjadi relawan dan tetap menyumbangkan bibit meskipun tidak lagi berobat.217
Gambar 14
Pengobatan Akupunktur dengan Bayaran Bibit Tanaman
Strategi di atas tampaknya efektif untuk menarik perhatian dan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam gerakan penghijauan. Dengan strategi ini pesan yang disampaikan menjadi tepat sasaran.
b. Pemutaran film tentang penghijauan
217Ibid.
85 Strategi pemutaran film tentang penghijauan juga ditempuh oleh komunitas Laskar Hijau dalam upaya menanamkan kesadaran pentingnya penghijauan di kalangan masyarakat yang hidup di kaki Gunung Lemongan yang umumnya mereka jarang menemukan hiburan seperti ini. Kegiatan ini dilakukan di musim kemarau, bergilir dari satu desa ke desa yang lain seminggu sekali di halaman salah satu warga. Dari sini juga diharapkan timbul kesadaran masyarakat, seperti dijelaskan A‘ak Abdullah. Setelah menonton film bersama, masyarakat diajak berdiskusi seputar penghijauan dan pelestarian lingkungan agar masyarakat mau mengaplikasikan di sekitar lingkungannya.218 Mengutip pernyataan Neolaka bahwa kesadaran ialah keadaan tergugahnya jiwa terhadap seseuatu, termasuk memiliki perhatian terhadap lingkungan hidupnya. Perhatian tersebut terlihat dari perilaku dan tindakan masing-masing individu.219 Kesadaran masyarakat Klakah secara bersama-sama untuk peduli lingkungan yang diharapkan dari kegiatan menonton film tentang penghijauan yang ditunjukkan oleh partisipasi dan perilaku mereka dalam menanam pohon.
c. Mengenalkan penghijauan sejak dini kepada peserta didik SD
Strategi mengenalkan penghijauan kepada peserta didik SD ditempuh untuk menanamkan kesadaran pelestarian lingkungan sejak dini sehingga nanti lahir generasi yang memiliki karakter peduli lingkungan. Menurut Zen sebagaimana dikutip oleh Noelaka bahwa penting melibatkan warga negara dalam kegiatan pelestarian lingkungan agar tumbuh kesadaran dan tanggung jawab terhadap lingkungan dari mereka.220
Mengenalkan penghijauan kepeda peserta didik SD Tigasan Wetan dan SD 3 Ranuyoso yang dilakukan oleh A‘ak Abdullah sebetulnya sudah diterapkan oleh Bapak Matruki di Sekolah Rakyat Merdeka. Mereka (SRM). Mereka diajari mulai dari bagaimana membuat bibit, menanam bibit lalu merawatnya. Mereka diberikan polibag dan dihimbau kalau mempunyai biji buah-buahan di rumah agar ditanam di polibag tersebut atau di bungkus mie instan yang dilobangi bagian bawahnya dan diberi tanah, lalu biji-biji tadi ditancapkan di atasnya. Ini cara sederhana mengajari mereka agar kelak timbul pada mereka kesadaran dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekiatrnya, seperti disampaikan A‘ak Abdullah.221
218Ibid.
219Amos Noelaka, Kesadaran Lingkungan, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, h. 18
220Ibid., h. 20
221Wawancara dengan A‘ak Abdullaah al-Kudus, 16 Juni 2021, pukul 13.00 wib.
86 d. Bekerja sama dengan Perhutani
Strategi berikutnya ialah menjalin kerjasama dengan para pihak. Aktifitas penghijauan yang dilakukan komunitas Laskar Hijau memperoleh respon positif dari berbagai pihak, di antaranya Perhutani sebagai instansi yang memangku jawatan hutan di Gunung Lemongan.
Laskar Hijau dan Perhutani membangun sebuah kesepahaman dalam suatu diskusi yang bertema
―Membangun Kerjasama Strategis dalam Pengelolaan Hutan Lindung di Kawasan Gunung Lemongan‖ yang berlokasi di posko konservasi Laskar Hijau pada tanggal 28 April 2011, yang dihadiri oleh Bapak Mardjojono dari Perum Perhutani II Jawa Timur, administarur KPH Perhutani Probolinggo Ir. Zeni Zaenul Muis, M.Si., Waka KSKPH Lumajang Bapak Hadi Kustono dan Asper BKPH Klakah Bapak Rifa‘i. Kegiatan ini difasilitasi oleh LBH Surabaya yang diwakili Bapak M. Faiq Asshiddiqi, S.H. Menurut penjelasan Bapak Agus, selaku TU Perhutani bahwa kerjasama ini dilakukan untuk membantu pihak Perhutani untuk bersama-sama melestarikan hutan lindung, terkait masalah produksi, daur ulang dan tebang tanam tetap menjadi kewenangan Perhutani selaku pengelola hutan.222
Lebih lanjut draf perjanjian kerjasama program rehabilitasi Gunung Lemongan antara Perum Perhutani Unit II Jatim dengan Komunitas Laskar Hijau disampaikan sebagai berikut:
―Bentuk kejasama yang disepakati adalah pelimpahan hak konservasi hutan lindung dari perhutani ke Laskar Hijau, dimana Laskar Hijau akan terlibat penuh dalam pengkayaan dengan berbagai jenis tanaman konservasi dan tanaman yang menhasilkan buah di kawasan hutan lindung Gunung Lemongan, sementara pihak Perhutani tetap akan bertanggung jawab dengan pengadaan rehabilitasi. Tujuan kerjasama ini adalah untuk mengoptimalkan peran dan upaya dari Perhutani dalam melaksanakan tanggung jawabnya untuk melestarikan kawasan hutan lindung dengan pengawasan penuh Laskar Hijau, guna memperbaiki, memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi hutan yang rusak, kritis agar dapat berfungsi secara optimal baik secara ekologis, sosial dan ekonomi. Adapun lokasi yang menjadi kesepakatan adalah hutan lindung di RPH Ranuyoso, BKPH Klakah yaitu petak 12 dan petak 19‖.
Inti dari kesepakatan di atas bahwa Laskar Hijau mendapatkan izin untuk melakukan kegiatan pelestarian bersama dengan masyarakat untuk menanam pohon buah dan bambu di kawasan hutan lindung Gunung Lemongan di petak 12 dan 19 yang kondisinya gundul akibat pembalakan liar sekitar 10 tahun tang lalu. Kedua belah pihak bersama-sama melakukan kontrol sosial terhadap apa yang dilakukan terhadap hutan beserta dampaknya pada masyarakat sekitar.
222Wawancara dengan Bapak Agus Perhutani pada Kamis, 1 Juli 2021, pukul 14.00 wib.
87 Dengan adanya kerja sama ini upaya pesetarian hutan Gunung Lemongan diharapkan dapat tercapai dan kehidupan masyarakat sekitar menjadi sejahtera.
e. Bekerja sama dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah)
Strategi lain yang diterapkan oleh Komunitas Laskar Hijau ialah menjalin kerjasama dengan BPBD yang berfokus pada penanganan masalah dan pengurangan resiko kebencanaan.
Strategi ini diharapkan dapat membuka pemikiran dan kesadaran masyarkat bahwa seringkali terjadinya bencana kerena masyarakat tidak memiliki kesadaran dan kepedulian untuk menjaga lingkungannya.
Kegiatan kerjasama yang diselenggarakan oleh Laskar Hiau dan BPBD adalah melakukan sosialisasi dan lokalatih pengurangan resiko bencana di desa-desa yang berdekatan dengan Gunung Lemongan. Dalam acara tersebut BPPD memberikan penjelasan dan himbauan tentang bagaimana cara masyarakat mengurangi resiko kebencanaan termasuk disampaikan karakter Gunungapi Lemongan dan pelatihan penanggulangan bencana berbasis masyarakat (PBBM) serta penanggulangan penderita gawat darurat (PPGD). Strategi ini ditempuh agar masyarakat sadar terhadap lingkungan dan menambah wawasan mereka untuk menanggulangi bencana yang tidak diketahui akan terjadi. Sasaran kegiatan ini adalah masyarakat yang tinggal di bawah kaki Gunung Lemongan dengan tujuan membuka pemahaman masyarakat tentang menejemen bencana, konsep peredaman resiko bencana, menejemen resiko bencana berbasis masyarakat, penanggulangan penderita gawat darurat, dan upaya penyelamatan dari ancaman letusan Gunungapi Lemongan.223
Dalam kesempatan acara di atas, Laskar Hijau mengambil kesempatan untuk mensosialisasikan gerakan konservasinya sekaligus tindak penyelamatan bila terjadi bencana.
Dalam situasi bencana, harus ada kerjasama masyarakat dalam menghadapi kemungkinan yang terjadi dan Laskar Hijau menjadi aktor utama yang berperan mengajak masyarakat untuk mencegah terjadinya kerusakan alam, dengan begitu diharapkan dapat terhindar dari bencana alam.
223 Wawancara dengan A‘ak Abdullaah al-Kudus, 16 Juni 2021, pukul 13.00 wib.
88 D. Dampak Konservasi Hutan Gunung Lemongan yang Dilakukan Komunitas Laskar
Hijau
Kegiatan konservasi hutan Gunung Lemongan yang dilakukan oleh Komunitas Laskar Hijau selama bertahun-tahun membuahkan dampak positif terhadap kondisi lingkugan di sekitarnya, antara lain:
1. Debit air di ranu-ranu sekitar Gunung Lemongan tidak mengalami penurunan
Seperti telah dijelaskan oleh A‘ak Abdullah bahwa akibat dari tindak perusakan hutan Gunung Lemongan yang terjadi sebelumnya menyebabkan debit air di sejumlah ranu di sekeliling Gunung Lemongan mengalami penyusutan, bahkan mengalami kekeringan. Kondisi ini tentu menyulitkan warga dalam memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan rumah tangga sehari-hari. Program penghijauan yang telah bertahun-tahun dilakukan di kawasan Gunung Lemongan membuahkan hasil. Pohon-pohon dan tanaman konservasi yang tumbuh besar telah berfungsi untuk menyimpan air hujan. Air Hujan yang turun di Gunung Lemongan tidak langsung ke dataran bawah, tetapi akan diserap terlebih dahulu oleh akar tanaman dan pepohonan tersebut. Sehingga dengan demikian bahaya terjadinya lonsor dapat dihindarkan dan air yang disimpan dalam akar pepohonan tersebut menjadi sumber air yang akan mengisi ranu-ranu di kawasan Gunung Lemongan.224
2. Hutan-hutan di lereng Gunung Lemongan hijau kembali
Berbagai pohon yang ditanam oleh Komunitas Laskar Hijau di antaranya pohon bambu, pisang, jengkol, baobab, dan lain-lain tumbuh dengan subur dan rindang. Pepohonan ini dapat menyimpan kandungan air pada akarnya. Inilah salah satu manfaat tanaman dan pohon konservasi, akarnya dapat menyimpan air dalam jumlah banyak.
224Wawancara dengan A‘ak Abdullaah al-Kudus, 16 Juni 2021, pukul 13.00 wib.
89 Gambar 15
Tampak Pohon Baobab Salah Satu Tanaman Konservasi225
3. Kesejahteraan masyarakat terwujud
Kehidupan warga masyarakat menjadi sejahtera sejalan dengan Gunung Lemongan yang kembali hijau. Mereka tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga untuk memenuhi kebutuhan irigasi pertanian. Selain itu, masyarakat dapat memanfaatkan buah-buhan hasil tanaman konservasi untuk dikonsumsi, karena buah-buahan tersebut diperuntukkan untuk masyarakat umum siapapun yang mau. Masyarakat juga meningkat ekonominya tanpa harus merusak hutan dengan mencuri kayu. Dan juga tidak kalah pentingnya sebagai dampak keberhasilan konservasi hutan Gunung Lemongan ialah masyarakat terhindar dari kekhawatiran terjadinya longsor dari gunung yang dapat merusak pemukimannya.226
225Baobab adalah tanaman yang berasal dari Afrika Selatan dan semula hanya tumbuh di wilayah tersebut. Tanaman ini dibawa oleh Gus A‘ak Abdullah ketika berkunjung ke negara tersebut dalam suatu acara. Wawancara dengan Ilal Hakim pada 16 Juni 2021 di lereng Gunung Lemongan
226Ibid.
91
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah dilakukan penelitian dengan tema “Peran Ajaran Agama terhadap Gerakan Komunitas Laskar Hijau dalam Melaksanakan Konservasi Hutan Gunung Lemongan Lumajang (Kajian Living Qur‟an).‖, maka dapat diambilkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Ajaran-ajaran agama yang mendorong komunitas Laskar Hijau dalam melaksanakan gerakan konservasi lingkungan hutan Gunung Lemongan berasal dari ayat-ayat al-Qur‘an dan Hadis Nabi Muhammad saw. Ajaran-ajaran agama tersebut adalah; HR. (hadis riwayat) Bukharî:494; QS. Al-Rûm:41; QS. Al-A‘raf:56; QS. Al-Ra‘d:3; QS. Al-Nahl:15; HR. al-Bukharî:2152; HR. AbûDawûd:870; QS. Al-Taghabun:11. Adapun ajaran-ajaran tersebut berperan; a. memotivasi dan mendorong komunitas Laskar Hijau untuk menjalankan program penanaman pohon di kawasan hutan Gunung Lemongan dengan penuh semangat; b.
mengingatkan komunitas Laskar Hijau untuk bersikap waspada dalam memperlakukan hutan di sekitar Gunung Lemongan; c. meelakukan fungsi penjagaan dan pemeliharaan hutan dari tindakan perusakan yang dilakukan oleh pihak manapun; d. melaksanakan tugas sebagai penjaga dan pemelihara Gunung Lemongan; e. menguatkan tugas komunitas Laskar Hijau dalam menjaga, merawat dan melestarikan Gunung Lemongan; f. memberi informasi tentang kemudahan bagi komunitas Laskar Hijau untuk bersedekah; g. memberi arahan kepada komunitas Laskar Hijau agar dalam melaksanakan tugas dan program pelestarian hutan Gunung Lemongan dilakukan dengan sabar; h. memberi peringatan kepada komunitas Laskar Hijau untuk selalu bersikap waspada terhadap berbagai bencana.
2. Problem yang dihadapi komunitas Laskar Hijau dalam melaksanakanan konservasi hutan Gunung Lemongan secara umum diidentifikasi berupa tindakan perusakan hutan yang dilakukan pihak yang tidak bertanggung jawab dan berupa kesadaran masyarakat yang rendah dalam menjaga lingkungan hutan. Untuk menghadapi problem tersebut, Laskar Hijau menerapkan berbagai strategi untuk mengatasinya, berupa; sosialisasi penghijauan kepada masyarakat secara berkesinambungan lewat kegiatan pengobatan, pemutaran film tema penghijauan, pengenalan penghijauan sejak dini kepada anak usia SD. Selain itu untuk
91 memperkuat sosialisasi program penghijauan juga untuk mengatasi tindakan perusakan hutan oleh masyarakat serta kemungkinan penanggulangan terjadinya bencana, Laskar hijau menerapkan strategi kerjasama dengan instansi Perhutani dan BPBD.
3. Dampak konservasi yang dilakukan gerakan komunitas Laskar Hijau terhadap Gunung Lemongan menunjukkan hasil positif berdasarkan temuan para ahli, yaitu; debit air di ranu-ranu sekitar Gunung Lemongan dapat terjaga kestabilannya. Ranu-ranu-ranu tidak mengalami penurunan debit airnya bahkan tidak mengalami kekeringan dimana keadaan ini disebabkan sebagaian kawasan hutan Gunung Lemongan yang telah hijau kembali tersebut dapat menyimpan cadanngan air hujan sebagai sumber air yang mengisi ranu-ranu ketika kemarau.
Selain itu dampak dari penghijauan hutan yang positif ini ekonomi masyarakat tertanggulangi dari memanfaatkan hasil tanaman konservasi berupa buah-buahan tanpa merusak hutan.
Dengan begitu kesejahteraan masyarakat terwujud.