• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problem Norma UU terorisme dan RUU terorisme Hak korban

Dalam dokumen Potret Perlindungan Saksi dan Korban (Halaman 53-55)

TERORISME Supriyadi Widodo Eddyono

B.2. Problem Norma UU terorisme dan RUU terorisme Hak korban

Begitu banyaknya kelemahan terkait hak korban, namun anehnya hal itu tidak diupayakan pemerintah dalam RUU Pemberantasan Terorisme tahun 2016. Tidak ada satu pun hak korban yang diperkuat dalam RUU tersebut. Justru RUU lebih mengatur mengenai tersangka atau terpidana sampai urusan mengenai radikalisasi. Lebih jelasnya akan dipaparkan masing-masing kelemahan menda sar tersebut.26

a. tidak ada Pencantuman Pengertian korban yang Memadai

UU Pemberantasan Terorisme tidak pernah menjelaskan apa pengertian dari “korban”. Walaupun dalam berbagai regulasi setelahnya, pengertian korban telah diakomodasi, terutama oleh Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014. Tidak adanya pengertian korban yang memadai harusnya direspon dalam RUU de ngan mengadopsi standar minimal korban terorisme, seperti dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 pada pasal 1 angka 3. Dalam pa sal tersebut, korban adalah orang yang mengalami penderitaan isik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana. Atau lebih jauh lagi, RUU juga mengakomodir deinisi korban terorisme yang direkomendasikan oleh Pelapor Khusus PBB.

b. tidak ada Pencantuman Hak korban terorisme Secara Spesiik

Lebih memprihatinkan lagi, baik dalam Undang-Undang Pemberan tas an Terorisme tahun 2003 dan RUU revisi, tim perumus juga tidak men cantumkan hak-hak korban terorisme secara lebih spesiik. Pengaturan serba minimalis terkait kompensasi, restitusi dan rehabilitasi, tidak diupayakan untuk diperjelas (Pasal 36-42). Padahal, dalam perkembangan terbaru, respon negara atas korban terorisme sudah sangat spesiik. Rekomendasi Pelapor Khusus PBB maupun Memorandum Madrid justru tidak masuk dalam revisi tersebut.27 c. kompensasi masih tergantung kepada Pengadilan

Satu hal lagi yang secara praktik telah terbukti gagal adalah pemberian kom pensasi bagi korban yang pemberiannya harus diputuskan dalam amar putusan pengadilan. Ketentuan ini yang dalam Undang-Undang Pem berantasan Terorisme yang mengadopi Undang- Undang Pengadilan HAM, terbukti menegasikan hak korban terorisme selama ini. Pemberian kompensasi bagi korban seharusnya bersifat segera tanpa menunggu putusan pengadilan karena kompensasi ini jelas merupakan tanggung jawab negara lewat pemerintah, dan menyamakan prosedur kompensasi dengan restitusi (tanggung jawab pelaku dalam mekanisme restitusi), jelas merugikan korban. Pemberian kompensasi yang berbasiskan kepa da putusan pengadilan sangat merugikan korban karena beberapa hal, yaitu:

Pertama, tidak semua korban terorisme dapat diakomodasi namanya da lam putusan peng-

adilan. Karena putusan pengadilan, berdasarkan prak tik, hanya mencantumkan nama-nama korban yang disebutkan dalam dakwaan jaksa, atau nama-nama korban yang dipanggil untuk mem berikan keterangan dalam sidang pengadilan, maka jumlah me reka yang dapat

26 Lihat Supriyadi Widodo dkk, Masalah Hak Korban dalam Revisi UU Terorisme, paper posisi, ICJR-AIDA & Koalisi Perlindungan Saksi dan Korban, Juni 2016

diidentiikasi sangat terbatas. Disamping itu pula, ada kegagalan mengidentiikasi nama- nama korban secara akurat dalam dokumen-dokumen persidangan. Akibatnya jumlah me- reka yang men dapatkan kompensasi oleh pengadilan sangat sedikit jumlahnya. Dari sel- uruh praktik pengadilan terorisme, hanya ada delapan nama yang secara resmi dicantumkan dalam putusan pengadilan yang berhak menda patkan kompensasi.

Kedua, dengan adanya syarat kompensasi diberikan dan dicantumkan se kaligus dalam amar putusan pengadilan, maka ada penafsiran yang keliru dari praktik (bandingkan nantinya dengan putusan pengadilan HAM), bahwa pencantuman nama-nama korban yang men- dapatkan kom pensasi hanya tersedia dalam perkara-perkara dimana pengadilan telah meng hukum terdakwa terorisme.

Ketiga, dengan syarat kompensasi diberikan dan dicantumkan seka ligus dalam amar putusan pengadilan, maka jaksa yang seharusnya men dorong permohonan kompensasi tersebut. Namun, karena UU tidak jelas memberikan kapan saatnya permohonan kompensasi dido- rong dalam pengadilan, jaksa bersifat menunggu atau pasif. Tidak ada pengaturan tegas yang mewajibkan jaksa mengajukan kompensasi. Apalagi, par tisipasi korban dalam UU ha- nya terbatas dalam hal, “Pengajuan kom pensasi dilakukan oleh korban atau kuasanya ke- pada Menteri Keuangan”. Harusnya pengajuan kompensasi ini wajib dilakukan jaksa dan dibuka partisipasi korban dalam pengajuannya di pengadilan.

Keempat, hal krusial lain dengan adanya syarat kompensasi diberikan dan dicantumkan se- kaligus dalam amar putusan pengadilan, akses korban atas hak kompensasi memang sengaja dibatasi. Hal ini dikarenakan kom pensasi harus menunggu amar putusan pengadilan. Di- samping proses pengadilan lama dan berlarut-larut, korban membutuhkan bantuan i nan- sial yang bersifat segera. maka jelas bahwa ada skema menunda atau menghalang-halangi pemberian kompensasi bagi korban.

d. tidak ada Pencantuman Hak khusus mengenai bantuan Medis yang bersifat Segera (darurat/kegawatan Medis)28

Salah satu kekosongan pengaturan bagi penanganan korban terorisme adalah soal tidak adanya kejelasan atau ketegasan bantuan medis bagi korban yang bersifat segera. Dalam regulasi dan praktik selama ini, pe nanganan bagi korban terorisme langsung pada saat pas- caserangan, masuk dalam kategori darurat medis, yang masuk dalam ruang ling kup Kep- menkes 145/Menkes/SK/I/ Tahun 2007 tentang Pedoman Penang gulangan Bencana Bidang Kesehatan.

Namun, tanggung jawab negara atau pemerintah belum mengatur secara lebih presisi pe- nanganan darurat medis pascaserangan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014, dalam Pasal 7 sudah dinyatakan mengenai bantuan medis, psikologis dan psikososial bagi korban te rorisme. Namun, tetap saja pengaturan penanganan medis, khususnya yang bersifat segera bagi korban dalam RUU Pemberantasan Terorisme yang merupakan tang- gung jawab pemerintah, sangat diperlukan. Hal itu untuk memaksimalkan penanganan korban di tingkat pemerintah tidak saling tuding mengenai siapa yang harus membayar dan memastikan klaim pembayaran di masa depan. Sayangnya, ketentuan mengenai kor- ban tidak diatur dalam RUU ini.

e. Pengaturan rehabilitasi yang tidak Memadai

Hak rehabilitasi bagi korban salah penanganan, salah prosedur oleh apa rat penegak hukum,

reformasi Hak Korban dalam revisi UU Pemberantasan Terorisme

termasuk pula dalam hal terjadi malapraktik peng adilan atau miscariage of justice29, dalam pe negakan Undang-Undang Pemberantasan Terorisme, sangat tidak memadai. UU hanya mensya ratkan rehabilitasi harus dalam kondisi “lepas dari segala tuntutan hukum yang pu tusannya telah mempunyai kekuatan hukum tetap”.30 Jadi, reha bilitasi dalam UU hanya terbatas harus terlebih dahulu dinyatakan dalam putusan pengadilan yang berkekuatan tetap.

Malapraktik pengadilan merupakan “kesalahan serius yang terjadi pada pro ses peradilan termasuk “menuduh terdakwa dengan tuduhan berat”.31 Berdasarkan Pasal 14 (6) ICCPR dan Pasal 3 pada Protokol 7 Konvensi Eropa, dinyatakan bahwa “agar memenuh kualiikasi kom- pensasi–sese orang harus telah”:

1. Diputus bersalah melakukan tindak kejahatan (termasuk kejahatan ringan). Tuduhan tersebut merupakan tuduhan inal dan proses pengujian pengadilan serta perkara banding serta remedy telah selesai atau batas waktunya telah berakhir.32

2. Dihukum dengan hukuman atas dasar tuduhan (dakwaan). Hu kuman tersebut dapat berupa hukuman pemenjaraan atau dengan cara lain.

3. Dimaafkan atau dakwaan terhadapnya “terbalik” (reversed) karena ditemukan fakta- fakta baru atau fakta terbaru yang menunjukkan bahwa telah terjadi malapraktik peng adilan.

Bagaimana dengan kesalahan prosedur di tingkat penyelidikan atau pe nyi dikan dan be- lum sempat masuk ke ranah pengadilan, misalnya salah tangkap, kesalahan prosedur pe- na hanan, bahkan penyiksaan dan lain sebagainya. Dalam situasi ini, korban seharusnya mendapatkan hak-hak nya terkait rehabilitasi. Namun, yang tersedia hanyalah mekanisme pra peradilan yang terbatas. Ketentuan ini jelas tidak sesuai dengan prinsip-prinsip fair trial. Dalam banyak kasus ditemukan salah prosedur maupun penyiksaan da lam penegakan hu- kum terorisme di Indonesia. Hal inilah yang men jadi tantangan serius. Beberapa kasus yang terjadi dalam konteks ini cu kup banyak terjadi. Namun, sampai saat ini tidak ada regulasi yang cukup memadai yang tersedia bagi korban. Oleh karena itu, RUU ha rus mengatur ulang soal rehabilitasi ini. Untuk itulah pemberian hak reha bilitasi harus diperluas tidak hanya di tingkat pengadilan, namun pada semua tingkatan. Disamping itu mekanisme pem berian haknya juga sangat sumir, yang dinyatakan dalam UU, “Pengajuan rehabilitasi dilaku kan oleh korban kepada Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia”. Praktis tindak lanjut dan tahapan setelah hal itu tidak tersedia.

Dalam dokumen Potret Perlindungan Saksi dan Korban (Halaman 53-55)