BAB II LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
4. Problema Remaja
Masa remaja adalah suatu tahap kehidupan yang bersifat peralihan dan tidak mantap. Seorang individu yang telah meninggalkan masa kanak-kanak yang lemah dan penuh ketergantungan, akan tetapi belum sampai pada masa atau usia dewasa yang penuh tanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun kepada masyarakat. Lamanya masa peralihan ini tergantung kepada keadaan dan tingkat sosial masyarakat di mana ia hidup.
Remaja pada masa peralihan ini sama halnya seperti pada masa anak mengalami perubahan jasmani, kepribadian, intelek dan peranan di dalam maupun di luar lingkungan. Perbedaan proses perkembangan yang jelas pada masa remaja ini adalah perkembangan psikoseksualitas dan emosionalitas yang mempengaruhi tingkah laku para remaja, yang sebelumnya pada masa anak tidak nyata pengaruhnya.
Pengertian remaja menurut Singgih D. Gunarsa (1991: 6)
mengemukakan, “Masa remaja adalah masa anak ke masa dewasa, meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa”. Sedangkan menurut Zakiah Daradjat dalam Sofyan S. Willis (1981: 22), Remaja adalah usia transisi. Seorang individu, telah meninggalkan usia kanak-kanak yang lemah dan penuh ketergantungan, akan tetapi belum mampu ke usia yang kuat dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya maupun terhadap masyarakat. Banyaknya masa transisi ini tergantung kepada keadaan dan tingkat sosial masyarakat dimana ia hidup. Semakin maju masyarakat semakin panjang usia remaja, karena ia harus mempersiapkan diri untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat yang banyak syarat dan tuntutannya.
Sarlito Wirawan Sarwono (1994: 4) dalam psikologi remaja memberikan definisi remaja dari berbagai segi, yaitu:
1) Remaja Ditinjau dari Segi Hukum
2) Remaja Ditinjau dari Segi Perkembangan Fisik
3) Batasan Remaja Menurut WHO
4) Remaja Ditinjau dari Segi Sosial-Psikologik 5) Definisi Remaja Untuk Masyarakat Indonesia
commit to user
Di Indonesia konsep “Remaja” tidak dikenal, hanya mengenal anak-anak dan dewasa dengan batasan yang bermacam-macam. Dalam pasal 7 UU No. 1/1974 tentang perkawinan menganggap mereka yang di atas usia 16 tahun (untuk wanita) dan 19 tahun (untuk pria) sebagai bukan anak-anak lagi, tetapi mereka juga belum dianggap sebagai dewasa penuh, sehingga masih diperlukan ijin orang tua untuk mengawinkan mereka. Inilah yang dapat disejajarkan dengan pengertian-pengertian “Remaja” dalam ilmu-ilmu sosial yang lain.
Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu yang terikat (seperti Biologi dan Faal) remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Perkembangan yang terjadi yaitu seorang pria yang berotot dan berkumis atau berjanggut yang mampu menghasilkan beberapa ratus juta sel mani setiap kali ia berejakulasi, aau seorang wanita yang berpayudara dan berpinggul besar yang setiap bulannya mengeluarkan sebuah sel telur dari indung telurnya.
Pada tahun 1974, WHO memberikan devinisi tentang remaja ke dalam 3 kriteria yaitu biologi, psikologi dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut:
Remaja adalah suatu masa dimana:
1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2) Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada yang relatif lebih mandiri.
Masa remaja merupakan masa mulai bangkitnya rasa kepribadian dan sosial. Keadaan yang demikian mendorong remaja untuk mengenal masyarakat yang ditampakkan dari jalur kebudayaan yang selalu ia soroti dan mempunyai ciri-ciri kebudayaan berbeda dari orang tua atau keluarganya. Remaja merupakan suatu individu yang berusaha lepas dari orang tuanya, baik dari segi pembiayaan, pola berfikir, situasi kekeluargaan atau bahkan dari segi aturan norma-norma. Jiwa remaja mengalami transisi dari sifat kejiwaan yang dialami anak-anak
commit to user
berubah kearah jiwa dewasa yang dimiliki oleh individu yang sudah masak/mengalami kedewasaan. Pada masa ini timbul gangguan-gangguan
keseimbangan psikis, sehingga timbul konflik, pertentangan batin,
pemberontakan, dan kegelisahan.
Kita dapat menggunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah untuk remaja Indonesia dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1) Pada usia 11 tahun tanda-tanda seksual sekunder mulai nampak (kriteria fisik).
2) Banyak masyarakat Indonesia usia 11 tahun sudah dianggap akil baligh, baik menurut adat maupun agama (Kriteria sosial).
3) Pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempurnaan jiwa seperti tercapainya identitas diri, fase genital dari perkembangan psikoseksual dan tercapainya puncak perkembangan kognitif maupun moral (kriteria psikologik).
4) Orang-orang yang sampai batas usia 24 tahun belum dapat memenuhi persyaratan kedewasaan secara sosial maupun psikologik masih dapat digolongkan remaja.
5) Definisi remaja di sini dibatasi, khususnya yang belum menikah.
b. Tugas-tugas Perkembangan Usia Remaja
Proses perkembangan yang dialami remaja akan menimbulkan permasalahan bagi mereka sendiri dan mereka yang dekat dengan lingkungan hidupnya. Proses remaja menuju kedewasaan tidaklah berjalan lancar, akan tetapi banyak mengalami rintangan. Besar kecilnya rintangan itu ditentukan oleh faktor- faktor yang mempengaruhi anak di rumah tangga dan di lingkungan masyarakat di mana anak itu hidup dan berkembang.
“Tugas perkembangan ialah tugas yang timbul pada periode tertentu dalam kehidupan individu. Juga tugas itu berhasil akan menimbulkan kebahagiaan individu, sebaliknya jika tugas itu gagal akan menimbulkan kesulitan baginya pada masa mendatang” Sofyan S. willis (1981: 8).
commit to user
Tugas yang tidak terselesaikan di masa sebelum remaja merupakan penyebab utama timbulnya kelainan-kelainan tingkah laku seperti salah satunya kenakalan remaja.
Sofyan S. Willis (1981: 10) menyebutkan adanya 9 tugas perkembangan remaja, yaitu:
1) Memperoleh sejumlah norma-norma dan nilai-nilai sebagai pedoman dan pandangan hidup untuk masa depan.
2) Belajar memiliki peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin masing- masing.
3) Menerima kenyataan jasmaniyah serta dapat menggunakan seefektif- efektifnya dan merasa puas terhadap keadaan jasmaninya tersebut.
4) Mencapai kebebasan daripada ketergantungan terhadap orang tua dan orang dewasa lainnya.
5) Mencapai kebebasan ekonomi.
6) Mempersiapkan diri untuk menentukan suatu pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan kesanggupannya.
7) Memperoleh informasi tentang kehidupan perkawinan dan
mempersiapkan diri untuk itu baik persiapan fisik, mental, emosional dan sosial.
8) Mengembangkan kecakapan intelektual dan konsep-konsep tentang kehidupan bermasyarakat.
9) Memiliki konsep-konsep tentang tingkah laku sosial yang perlu untuk kehidupan bermasyarakat.
Dari tugas-tugas perkembangan tersebut dapatlah terlihat hubungan yang cukup erat antara lingkungan kehidupan sosial dan tugas-tugas yang diselesaikan oleh seorang remaja dalam hidupnya. Hal ini merupakan pondasi supaya mereka dapat hidup dalam masyarakat.
c. Pengertian Tentang Problema Remaja
Seperti pendapat-pendapat yang telah dikemukan di depan bahwa remaja adalah suatu masa dari umur manusia yang paling banyak mengalami perubahan. Perubahan-perubahan yang terjadi itu meliputi beberapa segala segi kehidupan manusia, yaitu: jasmani, rohani, pikiran, perasaan, dan sosial.
Menurut Sofyan S. Wilis (1981: 33) yang dimaksud dengan problema remaja adalah masalah-masalah yang dihadapi para remaja sehubungan dengan
commit to user
adanya kebutuhan-kebutuhan mereka dalam rangka penyesuaian diri terhadap lingkungan dimana remaja itu hidup dan berkembang.
Beberapa problema tersebut antara lain:
1) Problema yang berhubungan dengan tujuan hidupnya
Sering dijumpai remaja yang berbadan sehat, tampan dan cerdas, tetapi kelihatan sedih, rendah diri seolah-olah menderita penyakit sehingga hidupnya tidak bersemangat. Hal ini sering disebabkan persoalan pribadinya yang tidak bias dipecahkan oleh dirinya sendiri.
Anak remaja selalu ingin sukses dalam hidupnya. Ia mempunyai cita-cita dan idealisme yang tinggi. Ia berada dalam gelombang cita-cita dan idealisme. Karenanya, ia kerap kali ingin mempunyai kedudukan sosial yang tinggi di dalam lingkungannya, atau di antara kawan-kawannya. Untuk mencapai status tersebut kadang-kadang para remaja menggunakan jalan ekstrem.
Ia banyak menilai orang lain, juga dirinya sendiri. Oleh sebab itu, ia sering menyendiri, tetapi kadang-kadang menonjolkan diri untuk menarik perhatian orang lain. Kadang-kadang semangatnya membaja, namun bisa hancur dan frustasi bila gagal cita-citanya. Karena itulah masa remaja disebut pula masa gelombang angin topan. Disinilah orang tua mutlak dibutuhkan oleh remaja.
2) Problema yang berhubungan dengan perubahan jasmaninya
Masalah pertama yang dihadapi oleh para remaja ialah perubahan jasmaninya. Akibat perubahan itu, sering menggelisahkan mereka sendiri. Perubahan-perubahan itu antara lain:
a) Pertumbuhan anggota kelamin.
b) Pertumbuhan yang membedakan seks antara laki-laki dan perempuan. c) Pertumbuhan badan yang sangat cepat.
d) Terjadi menstruasi yang pertama bagi anak perempuan dan mimpi bagi anak laki-laki.
e) Pertumbuhan anggota badan berjalan tidak seimbang, misalnya hidung lebih cepat besar daripada bagian muka.
commit to user
f) Tumbuhnya jerawat dan bintik-bintik pada muka, punggung dan bagian lain pada tubuhnya.
Karena perubahan ini sering timbul perubahan tingkah lakunya, misalnya yang semula lincah dan periang berubah menjadi pemalu, rendah diri, rendah hati, kadang-kadang kasar, tidak tau malu dan sebagainya.
3) Problema remaja yang berhubungan dengan orang tua
Salah satu yang sering timbul dikalangan para remaja ialah karena orang tua kurang mengikuti dan memahami ciri-ciri dan sifat-sifat remaja, baik yang berhubungan dengan perkembangan fisik maupun mentalnya. Hal yang menimbulkan ketegangan antara orang tua dan anak remajanya ialah peraturan- peraturan kaku yang dibuat oleh orang tua dan sangat mengikat para remaja.
4) Problema remaja yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya
Masalah-masalah lain yang sering menimbulkan kesukaran-kesukaran bagi remaja ialah masalah sosial, sebab pada masa remaja ini berada dalam masa pembentukan kepribadiannya. Ia sering mencontoh apa yang dilihat dan didengarnya dari lingkungan sekelilingnya.
Persoalan lain lagi, ia sudah merasakan matang fungsi seksnya. Dengan kematangan ini mereka ingin berkenalan dengan lawan jenisnya. Dari sini timbul kelakuan-kelakuan yang aneh, baik dalam cara berpakaian, berbicara, maupun gerak-geraknya seolah-olah disengaja dan dibuat-buat secara berlebih-lebihan untuk menarik teman dan lawan jenisnya.
Masalah-masalah inilah yang perlu mendapat perhatian sehingga kita dapat membimbing para remaja kearah yang lebih baik, menjadi warga negara yang baik, berkepribadian, berbudi pekerti, bermental, dan bermoral tinggi.
5) Problema ekonomi dan mendapatkan pekerjaan
Masalah mendapatkan pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan ekonomi, merupakan masalah yang cukup menggelisahkan para remaja. Seorang remaja kelas II SMA mengeluh bahwa dia ingin bekerja menghasilkan uang untuk
commit to user
memenuhi kebutuhan dirinya dan membantu meringankan beban orang tuanya. Ia ingin bekerja sambil belajar. Dari keluhan remaja itu dapat ditarik kesimpulan bahwa ia ingin melepaskan diri dari orang tua untuk mencapai otonomi dibidang ekonomi dan keuangan.
Di dalam masyarakat modern orang amat menghargai kerja. Siapa yang tidak bekerja untuk menghasilkan uang akan tersisihkan, dalam kondisi ini kaum remaja pun terpengaruh, sehingga terasa pengaruh itu di dalam kelas dimana remaja itu bersekolah. Perhatian kepada pelajaran berkurang, karena ada anggapan bahwa bersekolah dan ijasah tidak menentukan pangkat dan penghasilan di masyarakat. Hal ini diperkuat oleh sementara pendapat orang tua yang mengatakan kepada anaknya bahwa tanpa sekolah tinggi ia dapat berhasil dalam bidang ekonomi dan keuangan. Motivasi belajar berkurang, dan bahkan menjadi putus sekolah karena pengaruh ekonomi.
6) Problema beragama
Masalah agama pada remaja sebenarnya terletak pada tiga hal yaitu keyakinan beragama, pelaksanaan ajaran agama secara teratur, dan perubahan tingkah laku karena agama.
a) Keyakinan dan kesadaran beragama
Keyakinan dan kesadaran beragama harus ditumbuhkan dengan sengaja sejak anak masih kecil. Biasanya melalui latihan-latihan di rumah. Dan yang paling penting lagi ialah membiasakan perbuatan-perbuatan yang terpuji. Pada masa remaja kebiasaan-kebiasaan yang telah ditanamkan pada waktu kecil akan mengalami tantangan dengan adanya pemikiran rasional dan adanya kenyataan hidup orang dewasa yang dilihatnya amat bertentangan denga keyakinan yang telah ia terima. Hal ini menimbulkan kekaburan nilai-nilai yang telah dia terima di waktu kecil. Akibatnya akan menimbulkan kegoncangan jiwa pada remaja.
b) Pelaksanaan ajaran agama secara teratur
Jika keyakinan beragama atau kesadaran beragama sudah tumbuh dengan subur, maka untuk melaksanakan ajaran agama dengan konsekuen akan lebih
commit to user
mudah. Terutama sekali harus dibina disiplin menjalankan ajaran agama semenjak kecil, sehingga dimasa remaja kebiasaan itu mudah berkembang.
c) Perubahan tingkah laku karena ajaran agama
Tingkah laku yang perlu ditumbuhkan kepada remaja adalah berbuat sesuatu karena Allah, karena keinginan Allah dan karena mengharapkan ridhlo Allah semata. Jika ini sudah berkembang dalam diri mereka, maka tampak kesungguhan dan kegairahan beribadah dan bekerja, semangat berkorban, toleran dan kemauan keras.
7) Problema mengisi waktu luang
Waktu terluang ialah waktu kosong setelah sehabis belajar dan bekerja. Bila anak dan remaja ini dibiarkan mengatur sendiri waktu luangnya tanpa bimbingan orang tua, guru dan masyarakat, disinilah pangkal pokok terjadinya hal-hal yang kurang diingini oleh masyarakat.