BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
B. Temuan Penelitian
3. Problematika Ibu-ibu dalam Belajar
Problematika merupakan suatu masalah atau kesulitan-kesulitan dalam belajar, yang mana masalah satu peserta dengan peserta lainnya tentu
Tartiila seluruh masalah yang dihadapi setiap peserta akan di bantu oleh para pengajar tersebut.Ustadzah Basyiroh mewakili dari ustadzah yang lain mengatakan sebagai berikut:
“Problematika Ibu-ibu dalam belajar rata-rata mengalami kesulitan dalam mengingat materi, mungkin di sebabkan karna faktor usia, namuntidak semua peserta yang mengalami seperti itu. Ada pula yang mudah menerim atau mengingat materi namun mereka kebingungan apabila dimintai contoh misalnya mengenai cara membacanya atau pun menulisnya” ( 13 April 2017).
Sedangkan ER Peserta mengatakan sebagai berikut:
“problematika yang saya hadapi ketika belajar Al-Qur’an yaitu saya susah mengingat mungkin karena faktor usia, yang mana usia saya sudah hampir 60 tahun. Padahal dulu ingatan saya itu sanagat tajam apalagi ketika suruh menghafal” (13 April 2017).
Peserta yang bernama PN juga mengatakan sebagai berikut:
“Masalah yang saya hadapi yaitu sulit untuk cara menggandeng ketika diperintahkan oleh ustadzahnya (imla’), meskipun begitu saya dirumah tidak pernah berhenti untuk belajar lagi. Adapun waktu saya belajar yaitu setelah magrib atau ketika malam hari” (13 April 2017). Peserta yang benama DLF juga mengatakan:
“hambatan yang saya hadapi ketika belajar Al-Qur’an di Griya Qur’an Tartiila yaitu masalah waktu, sering sekali kegiatan saya berbenturan dengan jam mengaji di Griya Qur’an Tartiila, saya ini juga termuda yang belajar di Griya Qur’an Tartiila saya mahasiswa IAIN Salatiga, kegitan ektra kampus lah yang terkadang membuat saya izin untu tidak mengaji disana karena jamnya berbenturan” (18 Mei 2017)
Problematika lain ibu ESP mengatakan:
“saya senang belajar Al-Qur’an di Griya Qur’an Tartiila, saya memang benar-benar tertarik belajar Al-Qur’an, yang menjadi masalah saya dalam belajar Al-Qur’an yaitu anak karena anak saya yang terakhir itu masih paud jadi otomatis harus ditungguin sekolahnya maka hal tersebut yang membuat saya tidak bisa hadir
setiap kajian hari selasa. Pokoknya kalau tidak kendala insyallah saya tetap hadir” (22 Mei 2017).
Pendapat lain dikatakan oleh AP:
“masalah yang saya hadapi ketika belajar di Griya Qur’an Tartiila yaitu mengenai menejemen waktu, saya bekerja sebagai guru yang memang benar-benar dituntut harus pulang jam 16.00 wib, sementara di Griya Qur’an Tartiila pembelajarannya di bagi dua jam yaitu kelas pagi jelas saya tidak bisa mengikuti, kemudian saya mengikuti yang kelas sore yaitu jam 16.00-17.30, terkadang ketika tidak ada tugas tamabahan dari sekolah saya pulang lebih awal untuk mengikuti majlis pengajian tersebut, namun ketika benar-benar pekerjaan tersebut tidak bisa saya ubah waktunya otomatis saya tidak berangkat mengaji” (22 Mei 2017).
Alasan yang lain yaitu alasan yang disampaikan oleh ibu DI:
“masalah yang saya hadapi yaitu mengenai pengmankhraj’an, pengucapannya mungkin belum begitu benar. Karena memang sya juga sangat ingin berbagi ilmu yaitu melalui TPA. Kemudian untuk masalah waktu Alhamdulillah tidak ada masalah dan Alhamdulillah saya juga berangkat terus “ (22 Mei 2017).
Alasan yang sama dalam problematika dikatakan oleh ibu Y:
“masalahnya yaitu mengenai pengmakhraj’an seperti logat biasa orang tua mengaji dengan versinya sendiri. Jasdi ketika mulutnya sudah terbiasa mengaji mengetahui huruf tanpa mengetahui sifat- sifatnya” (28 Mei 2017).
Ungkapan yang sama dikatakan oleh R:
“masalahnya bagi saya yaitu mungkin karena saya belajarnya di Griya Qur’an Tartiila sehingga saya terkadang merasa ketinggalan, sebenarnya saya ingin tidak Cuma di Griya Qur’an Tartiila sajanamun ada yang mengajari saya di rumah atau privat menyimak saya ketika membaca Al-Qur’an” (28 Mei 2017)
Sedangkan ibu IT mengatakan :
rasanya tidak bisa-bisa terus terang kemarin-kemarin ketika awal, susah menghafal, ada istilah-istilah yang susah dihafalin apalagi ketika masuk di sifat-sifat huruf, ada yang berlawanan terus itu yang membuat seperti saya tidak mampu. Namun kembali ke awal motivasi saya belajar Al-Qur’an secara benar kemudian saya berfikir kalau baru saja saya melangkah saya sudah menyerah berarti saya tidak samapai tujuan. Namun ya Alhamdulillah memang jika segala sesuatu kita lakukan dengan benar-benar niat insyallah pembelajaran itu akan rasanya mengalir saja dengan sendirinya “ (29 Mei 2017).
a) Peran Pembimbing dalam Pelaksanaan Kegiatan Belajar Al-Qur’an
Peran pembimbing sangat penting terhadap kegiatan tersebut misalnya, mengajak untuk aktif dengan memancing agar peserta itu bertanya, mengevaluasi kegiatan setelah selesai. Adapun yang berhasil dihimpun oleh penulis dengan wawancara sebagi berikut:
Ustadzah Dahlia selaku pengajar di kelompok makhraj member ulasan
yaitu,“Adapun pembimbing disini sebagai vasilitator terhadap peserta
mengenai apa yang belum mereka ketahui, yang sifatnya masih umum sehinga siapa saja boleh bertanya” (11 April 2017).
Ustadzah Nailil Ula sebagai pengurus dan juga pengajar mengatakan sebagai berikut:
“Adapun pembimbing disini, ya sebagai vasititator atau agen untuk member penjelasan mengenai apa yang belum mereka ketahui, kemudian sebagai mengoreksi bacaan Al-Qur’an, sehingga dapat belajar membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai dengan kaidah- kaidahnya” (11 April 2017).
Peserta yang bernama PN mengatkan,“Pembimbing selalu aktif dalam
membimbing peserta didiknya, sabar ketika mengari pesertanya dan sangat baik sehinga saya tidak merasa bosan malah selalu ingin tahu lebih banyak mengenai pembeljaran Al-Qur’an” ( 13 April 2017).
“Pembimbing sangat berperan aktif dalam pembelajaran Al-Qur’an ini, karena beliau mengajarkan dengan sabar shingga membuat pesertanya dari tidak mengetahui apa-apa yang kemudian menjadi bertambah wawasannya” (13 April 2017).
DLF pun juga mengatakan mengenai peran pembimbing dalam belajar Al-
Qur’an:
“pembimbing sangat berperan penting dalam pembelajaran di Griya Qur’an Tartiila karena berkat pembimbinglah kita bisa membaca Al- Qur’an dengan benar, selain itu pembimbing saya Alhamdulillah ramah, pembelajarannya mudah di pahami, interaktif kemudian di akhir pembelajaran ada kuisnya juga” (18 Mei 2017).
ESP juga mengatkan:
“pembimbing bagi saya adalah wadah untuk bertanya seperti yang ceritakan saya dirumah memiliki majelis pengajian jadi sekarang saya sudah berani berbicara untuk membenarkan bacaan ibu-ibu, dan apa bila saya tidak tahu maka saya tanyakan kepada ustadzah saya di Griya Qur’an Tartiila. Sehingga menurut saya ustadzah sangat berperan penting dalam suatu pembelajaran” (22 Mei 2017).
Pendapat yang lain juga diungkapkan oleh AP:
“pembimibing di Griya Qur’an Tartiila menurut saya sangat berperan aktif mereka juga sabar cerita singkat pernah kan ada yang belajar kemudian pesertanya salah terus dan ustadzah menjadi gemes, namun yang saya rasakan Alhamdulillah tidak ada ustadzah yang seperti itu semunya ramah, sabar dan telaten” (22 Mei 2017).
Sedangkan pendapat yang sama di ungkapkan oleh DI:
“menurut saya pembimbing sangat berperan sakali terlebih dia juga sabar dalam mengajar, aktif jadi peserta pun ikut aktif, bahasanya mudah dimngerti ketika menjelaskan, walaupun ustadzah saya lebih muda namun beliau bisa menempatkan diri ketika mengajar ya sebagaimana guru mestinya, ketika diluar pembelajaran dia juga lebih sopan terhadap yang lebih tua” (28 Mei 2017).
Ulasan yang sama di katakana oleh Y:
hijaiyah, materi-materi yang ada dalam Al-Qur’an, selain itu beliau juga sangat sabar dalam mengajarkannya sehingga kami tidak pernah merasa takut” (28 Mei 2017).
Seorang ibu rumah tangga yaitu ibu R juga mengatakan:
“seorang ustadzah atau pembimbing dalam bembelajaran menurut saya rata-rata sama semuannya sabar dalam mengajar ibu-ibu, tidak ada yang galak atau pemarah, para ustadzah dalam menerangkan kepada peserta itu menurut saya komunikatif dalam artian bahasanya mudah dimengerti” (28 Mei 2017).
Sedangkan ibu ID mengatakan:
“peran ustadzah bagi saya sangat penting sekali, karena ustadzahlah yang mengajarkan kepada kita tata cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Jadi ustadzah hasus bisa juga dalam mencairkan suasana, harus bisa kreatif agar pembelajaran tidak membosankan” (29 Mei 2017).
b) Bagaimana Respon Ibu-ibu dengan Adanya Kegitan Belajar Al-Qur’an
Selain peran pembimbing dalam pembelajaran Al-Qur’an, peneliti
menanyakan bagaimana respon ibu-ibu dalam pembelajaran Al-Qur’an
tersebu. Pengurus yang bernama Tri Wahyuningsih mengatakan:
“Respon ibu-ibu dalam pembelajaran Al-Qur’an di Griya Qur’an Tartiila sangat baik semuanya semangat dalam belajar, meskipun banyak kesibukan namun ibu-ibu di Griya Qur’an Tartiila benar- benar menyempatkan waktunya untuk belajar besrsama” (11 April 2017).
Ustadzah Dahlia juga mengatakan sebagai berikut:
“Respon mereka semanagat terlebih suasananya mendukung atau enak, bahkan dari kelompok saya mengusulkan untuk pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas saja, yaitu bisa kerumah-rumah atau di masjid. Namun hal tersebut belum terlaksana, yang baru terlaksana yaitu pembelajaran di luar kelas yaitu belajar leawat komunikasi yang dibuat kelompok pada dunia internet yaitu Whats App” (11 April 2017).
Peserta yang bernama ER juga mengatakan mengenai diadakannya
pembelajaran Al-Qur’an di Griya Qur’an Tartiila yaitu:
“Senang, karena ternyata masih bnyak yang belum saya ketahui tentang bagaimana mambaca Al-Qur’an dengan benar. Dengan waktu yang sekarang banyak menganggur saya gunakan untuk memuroja’ah kembali pembelajaran yang di peroleh di Griya Qur’an Tartiila” (13 April 2017).
Hal yang sama diutarakan oleh DLF yaitu:
“yang saya rasakan ketika belajar di Griya Qur’an Tartiila yaitu hati merasa tenang, senang, tentram bahkan saya selalu berfikran kapankah saya bisa menjadi seperti para ustadzah-ustadzahnya yang sangat luar biasa ilmunya mereka juga menyampaikan materinya tidak pernah membosankan peserta didiknya” (18 Mei 2017).
Ulasan lain dikatakan oleh AP:
“saya merasa senang belajar di Griya Qur’an Tartiila, membuat hati tentram, sehingga saya termotivasi pengen terus belajar, ingin membaca Al-Qur’an seperti para ustadzah-ustadzahnya, anak saya bahkan mengatkan cara membaca saya seperti nadanya anak-anak kecil yang belajar di TPQ (tempat pendidikan anak) sehingga saya benar- benar ingin sekali bisa membaca Al-Qur’an dengan indah seperti para ustadzah” (22 Mei 2017).
Sedangakan ESY mengatakan :
“yang saya rasakan belajar di Griya Qur’an Tartiila itu sesuai dengan apa yang saya harapkan dan apa yang ada di fikiran saya, jadi alhamdulilah saya merasakan cocok belajar di Griya Qur’an Tartiila, jadi semangat belajar saya itu tinggi seperti ibarat anak sekolah datang untuk memperoleh ilmu” (22 Mei 2017).
Ibu DI juga mengatakan:
“pembelajaran di kelas saya sangat efektif menurut saya karena orangnya sedikit sehingga kita bisa lebih fokus dan benar-benar keliatan banget ketika ada yang salah dalam mambaca Al-Qur’an. Yang saya rasakan ketika belajar di Griya Qur’an Tartiil saya merasa senang kerena jadi banyak taman bisa bertukar fikiran dan saya tidak pernah
oranganya supel, interaktif jadi ibu-ibu jadi tidak tegang tidak sepaneng” (28 Mei 2017).
ibu juga mengatakan Y:
“yang saya rasakan belajar di Griya Qur’an Tartiila yaitu saya merasa senang karena tambah wawasan tambah juga temannya atau menambah saudara kemudian bisa bertukar fikian juga, selain itu ustadzahnya juga sangat sabar dalam menghadapi ibu-ibu” (28 Mei 2017).
Ibu R mengatakan:
“saya sangat senang belajar di Griya Qur’an Tartiila selain jadi tambah wawasan juga menambah saudara dengan teman baru, tapi jujur kalau saya ketika di kasih soal kemudian saya pas tidak belajar dirumah itu rasanya deg-degan banget, kadang juga itu saya benar- benar berangkat dalam keadaan kosong atau tidak belajar sama sekali” (28 Mei 2017).
Pendapat yang lain juga dikatakan oleh ibu IT:
“Alhamdulillah saya sangat senang belajar di Griya Qur’an Tartiila, kelasnya sngat kondusif dan mendapatkan teman yang Alhamdulillah juga sangat mendukung yang memang benr-benar belajar. Jadi walaupun jumlah kelas itu orangnya banyak atau pun sedikit itu pelajaran masuk karena saat belajar itu anteng semua. Ada kelas ada yang cerita kalau misalnya ustadzahnya misal tentang keluarnya huruf kemudian menyuruh peserta untuk membaca satu-satu atau giliran, saat itu juga ada yang belajar membaca namun suaranya keran sehingga konsentrasi yang sedang disuruh membaca oleh ustadzahnya merasa terganggu, namun Alhamdulillah dikelas saya tidak ada hal sedemikian. Kalau dikelas saya ketika ada yang sedang di perintahkan membaca oleh ustadzahnya yang lain menyimak dan mendengarkan. Karena bagaimanapun suasana kelas itu dipengaruhi oleh ustadzahnya, ustadzahnya komunikatif, cara penyampaiannya enak maka kita pun senang, kemudian selanjutnya itu teman satu kelas, kalau teman satu kels merasa bahwa kita belajar maka mesti kita diem, karena sudah tidak jamannya anak alay kalau belajar sembarangan dan Alhamdulillah saya dapat posisi keduanya” (29 Mei 2017).
Sementara para pengurus juga memberikan respon mengenai
pembelajaran Al-Qur’an di Griya Qur’an Tartiila yang bernama Nailil Ula
“Mereka sangat berantusias dalam belajar Al-Qur’an karena Al- Qur’an sebagai pedoman manusia muslim atau muslimah. Walaupun usia yang mengikuti pembelajaran Al-Qur’an rata-rata adalah 50 an namun semangat mereka sangat besar untuk memperdalam atau membaguskan bacaan” (11 April 2017).
Asatidzah yang bernama Hanik Basyiroh mengatakan sebagai berikut:
“Repon peserta dalam pembelajaran Al-Qur’an sangat bersemangat, mereka tidak malu lagi untuk bertanya tentang yang belum diketahui, mereka benar-benar serius dalam belajar Al-Qu’an malahan mereka semakin penasan-penasan ketika diperintah untuk member contoh pelajaran, mereka selalu aktif untuk bertanya” ( 13 April 2017).
Dari beberapa informan yang disampaikan diatas, peneliti menarik kesimpulan bahwasanya problematika yang dihadapi setiap peserta berbeda- beda, ada yang mudah menerima pelajaran atau materi namun sulit untuk ketika diberi contoh, ada pula yang kedu-duannya, ada yang susah mengingat yang mungkin disebabkan oleh faktor usia. Kemudian peneliti juga membahas
mengenai respon para ibu-ibu dalam belajar Al-Qur’an yang semuannya
semangat dalam belajar menurut asatidzahnya, sedangkan respon dari ibu-ibu
sendiri yaitu dengan adannya kegiatan belajar Al-Qur’an mereka merasa
senang, menjadi tambah wawasan dan tambahpula teman sehingga tambah saling mengenal antara satu dengan yang lainnya.
BAB IV
ANALISIS DATA
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan oleh penulis ketika melakukan
penelitian di Griya Qur’an Tartiila melalui metode wawancara , metode observasi
dilapangan dan pada informan yaitu ibu-ibu peserta Griya Qur’an Tartiila, maka
penulis dapat menulis hal-hal apa saja yang terkait dengan motivasi ibu-ibu dalam
belajar Al-Qur’an di Griya Qur’an Tartiila dusun Mrican kelurahan Gendongan,
kecamatan Argomulyo, Salatiga. Kemudian setelah penulis melakukan wawancara
langsung dengan ibu-ibu beserta pengurus Griya Qur’an Tartila , maka penulis
menemukan beberapa hal sebagai berikut ini:
A. Motivasi yang Mendorong Ibu-ibu Pengajian Griya Qur’an Tartiila Dalam Belajar Al-Qur’an
Setelah menyimak uraian-uraian tersebut sebagaimana yang telah diketahui bahwa dari berbagai macam motivasi antara lain motivasi bawaan, motivasi yang dipelajari, motivasi organis, motivasi darurat, motivasi obyektif, motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Maka penulis mengemukakakn motivasi secara
umum. Adapun hasil wawancara dengan ibu-ibu yang belajar Al-Qur’an adalah
sebagai berikut:
1. Harapanya agar mempunyai pegangan hidup yang baik dengan belajar Al-
Dengan belajar Al-Qur’an hati akan terasa damai, tenang selain itu
juga Al-Qur’an termasuk kalam Allah yang diturunkan kepada nabi
Muhammad melalui malaikat jibril yangmana sebagai petunjuk bagi manusia. Seperti dalam Qs. Yunus ayat 2
ْنَأ ْمُ ْنِْ م ٍلُجار الَِإ اانْياحْوَأ ْنَأ ًابااعَ ِساَّنلِل ان اكََأ اسال إاذـاه َّنِإ انوُرِفاكَْلإ الااق ْمِِ بّار ادنِع ٍقْد ِص اماداق ْمُهال َّنَأ ْإوُنام أ انيَِّلَّإ ِ ِ شّاباو اساَّنلإ ِرِذنَأ نِِبم رِحا - ٢ - Artinya
“Pantaskah manusia menjadi heran bahwa Kami Memberi wahyu kepada seorang laki-laki di antara mereka, “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan.” Orang-orang kafir berkata, “Orang ini (Muhammad) benar-benar pesihir.”
Hal ini dibuktikan sesuai dari isi wawancara denagan ibu ER sebagai berikut: “usia saya sudah 64 tahun dan saya dulunya bekerja di Rumah Sakit kurang lebih 32 tahun karena banyaknya pekerjaan saya samapai tidak sempat untuk mengaji. Sebenarnya saya malu dan menyesal mengapa saya baru belajar mengaji di usia yang sudah cukup tua, tetapi hal tersebut tidak mmbuat saya putus asa justru saya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk belajar terlebih waktu yang saya miliki sekarang banyak karena sudah tidak punya tanggungan bekerja sehingga waktu untuk belajar lebih luas. Motivasi yang mendorong saya dalam belajar Al-Qur’an yaitu agar mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar beserta memahami isinya serta sebagai bekal di akhirat kelak” (11 April 2017).
Hal serupa juga dikatakan oleh ibu PN mengenai motivasi apa yang mendorong
mereka dalam beajar Al-Qur’an:
“motivasi yang mendorong saya untuk belajar Al-Qur’an adalah ingin bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, supaya dapat mengajarkan kepada anak-anak saya bagaimana mengenal Allah melalui Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an adalah kalam Allah untuk umat Islam sehingga menurut saya orang isalam wajib bisa membaca Al-
Qur’an dan sebaik-baik orang adalah yang bisa memberi manfaat untuk orang lain.” (13 April 2017).
2. Agar dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar
Membaca Al-Qur’an tidaklah sama degan membaca buku-buku
lainnya, karena dengan membaca Al-Qur’an disertai dengan memahami dan
mengamalkannya akan membawa kita kepada kehidupan yang lebih baik.
selain itu orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapat banyak kebaikan di
dunia dan di akhirat, hidupnya dinamis, penuh gairah, jauh dari duka dan dekat dengan kuasa. Hal ini terdapat dalam hadis yang diriwayatkan dari usman bin
affan ia berkata: “ Rasululllah bersabda: paling baik kamu adalah orang yang
mempelajari Al-Qur’an dan menajarkannya”. (HR. Al-Bukhori No. 4556)
Kandungan dari hadis tersebut menegasan bahwa orang yang belajar
Al-Qur’an dan setelah mampu, maka mengajarkannya kepada orang lain adalah orang yang terbaik, yaitu orang yang mendapat banyak kebaikan di dunia dan di akhiratnya.
Hal ini dikatakan oleh ibu AP yaitu sebagai berikut:
“motivasi yang mendorong saya yaitu karna saya mualaf jadi saya sangat ingin bisa membaca Al-Qur’an dengan benar saya belajar di Griya Qur’an Tartila sudah kurang lebih dua tahun saya langsung dimasukan di kelas makhraj yaitu kelas yang sudah bisa membaca membaca Al-Qur’an, sebelum saya belajar di Griya Qur’an Tartiila saya mengundang guru privat untuk mengajari saya mengaji. Alasan lain motivasi yang mendorong saya yaitu karena saya bekerja sebagai pengajar PAUD jadi saya ingin bisa menjadi contoh dan membenarkan bacaan anak-anak ketika mengaji” (22 Mei 2017).
3. Agar dapat mengajarkan atau berbagi ilmu dengan orang lain atau minimal
Menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Kemudian setelah kita mengetahui ilmu yang kita peroleh alangkah baiknya jika kita ajarkan kepada orang lain.
Seperti halnya yang di ungkapkan oleh ibu ESY:
“motivasi saya belajar Al-Qur’an yaitu pengen bisa membaca Al- Qur’an yang benar, sebelumnya saya pernah belajar membaca Al- Qur’an tapi ketika waktu kecil dengan guru privat mungkin bagi saya kurang intensive belajarnya karena hanya belajar membaca saja tidak mengetahui hukum-hukumnya dan saya pengen bisa banget alasannya karna saya punya anak harapan saya kalau saya ditanya anak saya bisa menjawab” (22 Mei 2017).
Hal yang sama juga dikatakan oleh IT:
“motivasi saya belajar Al-Qur’an yaitu supaya saya membaca dengan benar lancar membacanya secara tajwid karena itu hukumnya fardhu ain kalau misalnya kita membaca Al-Qur’an harus benar-benar sesuai tajwidnya, tartil, makhrajnya bagus terus anak saya kan sekolah di SD IT, dan mereka itu lebih kritis menegur saya karena ada bacaan yang salah, kemudian dari hal tersebut saya termotivasi untuk belajar Al- Qur’an, mengapa tidak mulai belajar dari sekarang karena yang namanya mencari ilmu itu kan tidak ada batasannya seperti hadisnya saja ilmu itu diajarkan dari buaian sampai liang kubur. Selagi masih diberi Allah kesempatan waktu luang saya lebih banyak dan ahamdulilah diberi kesehatan ya dimulai dengan bismilah niat belajar” (29 Mei 2017).
4. Untuk lebih memudahkan dalam menghafal Al-Qur’an