• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Melalui Media Online

1. Pengertian Problematika Pembelajaran

Istilah ‘problematika pembelajaran’ terdiri dari dua kata, yakni

‘problematika’ dan ‘pembelajaran’. Secara kebahasaan, problematika

didasari oleh kata problem yang berarti masalah atau persoalan. Elaborasi kata problem, yakni problematik memiliki kata sifat yang artinya masih menjadi atau menimbulkan masalah.92

Problematika merupakan istilah yang diserap dari bahasa Inggris

‘problematic’ yang berarti sebuah sifat terhadap sesuatu yang masih

dipersoalkan atau dipermasalahkan. Kata ‘problematic’didasari oleh kata

‘problem’ yang terjemahannya berarti masalah.93 Istilah ‘masalah’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan suatu hal yang perlu untuk diselesaikan. Tidak terselsaikannya suatu hal, diindikasikan telah terjadi sebuah hambatan yang merintangi jalannya suatu sistem, alur, maupun tujuan. 94

Suharso dalam Retnani (2018) menyebutkan bahwa problematika berarti suatu hal yang bermasalah, masalah dalam pengertian ini merupakan penghalang atas terwujudnya suatu tujuan.95 Begitu pula menurut Coleman dan Cressy (1984) - dalam menjabarkan makna masalah pada lingkup sosial termasuk di dalamnya pendidikan – bahwa masalah adalah salah satu atau keseluruhan dari tiga ciri:

a. Ketidaksesuaian perbuatan dan perilaku antara individu dengan nilai-nilai yang diyakini dalam suatu ruang lingkup;

92 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, “Kamus Besar Bahasa Indonesia: Kamus Versi Online/ Daring (Dalam Jaringan),” 2016, https://kbbi.web.id/problematik.

93 Yohanes Aristianto, “Kamusi Inggris Indonesia,” KamusBahasaInggris.com, 2012, https://duniakampusblog.files.wordpress.com/2012/05/kamus-inggris-indonesia.pdf.

94 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI):

Kamus Versi Online/ Daring (Dalam Jaringan),” kbbi.web.id, 2016, https://kbbi.web.id/masalah.

95 Pupi Eko Retnani, “Problematika Pembelajaran Al-Islam Dan Kemuhammadiyahan Kurikulum 2013 Kelas VIII Di SMP Muhammadiyah 1 Purwokerto” (Universitas Muhammadiyah Purwokerto, 2018), hal 8.

b. Disintegrasi suatu kelompok lantaran perbuatan individu tertentu;

c. Rasa gelisah dan tidak bahagia individu dalam suatu kelompok.96 Keseluruhan makna problematika, secara kebahasaan, istilah, maupun tokoh-tokoh di atas. Setidaknya menunjukkan suatu kesimpulan bahwa problematika merupakan kata sifat yang menunjukkan bahwa suatu objek masih diaggap bermasalah. Sedangkan masalah merupakan ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya dengan apa yang senyatanya. Artinya, dapat dipahami bahwa problematika merupakan segala sesuatu yang potensial menggagalkan apa yang seharusnya (idealitas).

Kedua kata ‘problematika’ dan ‘pembelajaran’ mengisyaratkan bahwa pembelajaran adalah objeknya problematika. Sehingga jika digabungkan dapat diartikan bahwa problematika pembelajaran adalah permasalahan yang dapat menghambat proses interaksi antara pendidik, peserta didik, dan sumber belajar pada lingkungan tertentu.

2. Peserta Didik sebagai Pembelajar Pendidikan Agama Islam a. Pengertian Peserta Didik

Pasal 1 angka 4 UU Sisdiknas menyebutkan bahwa peserta didik adalah bagian dari masyarakat yang mengusahakan perkembangan potensi dirinya melalui suatu proses pembelajaran pada jenjang, jalur, dan jenis pendidikan tertentu.97

96 Nika Halida Hashina, “Pengertian Masalah Sosial Menurut Ahli Dan Contohnya Di Indonesia,” tirto.id, 2021, https://tirto.id/pengertian-masalah-sosial-menurut-ahli-dan-contohnya-di-indonesia-gbvn.

97 RI, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Ramayulis dan Nizar dalam Ramli (2015) menyebutkan bahwa peserta didik merupakan ‘bahan mentah’ (raw material) yang menjadi sasaran dalam transformasi, internalisasi, dan distribusi informasi (ilmu)98. Sering kali peserta didik juga disebut sebagai homo educandum yang artinya adalah makhluk yang membutuhkan pendidikan.99

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa peserta didik merupakan salah satu dari bagian masyarakat yang selalu berupaya untuk mengembangkan potensinya melalui suatu program pendidikan, baik secara formal maupun tidak formal. Istilah peserta didik, adalah definisi umum yang bentuknya dapat berupa murid, siswa, santri, atau pembelajar.

Definisi peserta didik sebagai pembelajar, dimaksudkan sebagai peserta didik yang mengikuti secara khusus pembelajaran PAI. Sehingga pemaknaannya hanya pada lingkup ketika ia melaksanakan pembelajaran semata.

b. Faktor Internal yang Mempengaruhi Peserta Didik

Syah dan Muhibbin (2010) dalam Hasanah (2016) menyebutkan serangkaian faktor yang akan menjadi problematika pembelajaran dari

98 M Ramli, “Hakikat Pendidikan Dan Peserta Didik,” Tarbiyah Islamiyah 5, no. 1 (2015):

61–85, https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/tiftk/article/view/1825.

99 Ahmad Junaydi, “Kontribusi Peserta Didik Dalam Mewujudkan Sekolah Adiwiyata:

Studi Kasus Pada SMP Negeri 4 Surabaya” (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2015).

segi peserta didik dengan istilah ‘faktor internal siswa’. Faktor internal siswa terdiri dari motivasi belajar, minat, dan sikap.100

1) Motivasi Belajar

Motivasi belajar menurut Kiwoyowati (2011) merupakan daya yang menggerakan kemauan dalam diri peserta didik untuk belajar, menjamin berlangsungnya kegiatan untuk terus belajar, serta hingga akhirnya memberikan arah terhadap tujuan pembelajaran.101 Sedangkan menurut Koeswara (1989) dalam Ghulam dan Lisa (2011), motivasi belajar merupakan kondisi mental yang selalu mendorong dan menggerakkan peserta didik untuk melaksanakan serangkaian perilaku belajar. 102

Kontekstualisasi dua definisi motivasi belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar merupakan modal psikis yang mendorong peserta didik untuk konsisten, gigih, dan tahan fokus terhadap tujuan suatu pembelajaran. Motivasi belajar akan menjadi dasar yang kuat untuk mempertahankan perilaku belajar yang baik bagi peserta didik.

100 Siti Nur Hasanah, “Pengaruh Kinerja Guru Dan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar PAI (PAI) Di SMAN 1 Ngunut Kabupaten Tulungagung Tahun Pelajaran 2015/2016” (Institut Agama Islam Negeri Tulungagung, 2016), http://repo.iain-tulungagung.ac.id/4155/.

101 Amin Kiswoyowati, “Pengaruh Motivasi Belajar Dan Kegiatan Belajar Siswa Terhadap Kecakapan Hidup Siswa (Studi Tentang Pembelajaran Berorientasi Kecakapan Hidup Di SMK Negeri 1 Losarang Kompetensi Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan Dan Hortikultura-Budidaya Cabe Hibrida),” Junal Universitas Pendidikan Indonesia 1, no. 1 (2011): 123.

102 Ghullam Hamdu and Lisa Agustina, “Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar IPA Di Sekolah Dasar,” Jurnal Penelitian Pendidikan 12, no. 1 (2011): 90–96.

Motivasi belajar memiliki indikator dalam empat aspek, yakni:

Pertama, lamanya waktu kegiatan. Karena motivasi belajar

merupakan dorongan yang sangat kuat sekaligus pondasi yang meneguhkan kemauan peserta didik dalam mengikuti suatu pembelajaran, maka ia senantiasa tahan atas jenuhnya belajar. Saat rasa jenuh menghampiri, peserta didik kembali teringat motivasi belajarnya, sehingga ia tidak mudah menyerah dan berhenti dalam melaksanakan pembelajaran yang sungguh-sungguh.

Kedua, stabilitas kegiatan. Saat peserta didik memiliki motivasi

belajar, maka ia akan mulai terbiasa dalam menjalankan perilaku belajar yang konsisten. Arti konsisten adalah tidak terkadang banyak dan tidak terkadang sedikit intensitas belajarnya.

Ketiga, persistensi terhadap tujuan pembelajaran. Persistensi

merupakan kegigihan yang dimiliki oleh peserta didik saat melaksanakan suatu pembelajaran. Seorang peserta didik tidak akan puas dengan suatu ilmu yang didapatkan secara abstrak, ia akan berusaha mencari sedemikian mungkin konsep ilmu yang dipelajari agar ia dapat memahami materi pembelajaran secara utuh.

Keempat, ketabahan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Ketabahan di sini merupakan ketahanan peserta didik terhadap gangguan eksternal yang berusaha mengusiknya dari konsentrasi pencapaian tujuan belajar. Motivasi belajar pada gilirannya akan

menjadi protektor yang ampuh dalam memperteguh kemauan peserta didik untuk terus belajar.103

2) Minat Belajar

Secara kebahasaan, minat adalah posisi hati yang cenderung untuk tertarik pada sesuatu.104 Sedangkan secara istilah, minat adalah upaya dan keinginan yang dimiliki seseorang untuk memahami atau mencari sesuatu.105

Hilgard dalam Lestari (2013) menjelaskan bahwa minat belajar adalah kecenderungan peserta didik untuk secara konsisten memperhatikan dan menikmati aktivitas dan substansi pembelajaran hingga akhir.106 Sedangkan dalam pandangan Astuti (2015), minat belajar merupakan perasaan gembira, riang, dan senang saat menerima suatu pembelajaran, sehingga rasa ketertarikan muncul pada diri peserta didik.107

Adapun minat belajar dapat diartikan sebagai rangsangan yang kuat pada diri peserta didik untuk dapat memiliki resistensi dalam belajar. Jika motivasi belajar merupakan faktor utama yang

103 Ibid, hal 94.

104 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): Kamus Versi Online/ Daring (Dalam Jaringan),” kbbi.web.id, 2016, https://kbbi.web.id/minat.

105 Siwi Puji Astuti, “Pengaruh Kemampuan Awal Dan Minat Belajar Terhadap Prestasi Belajar Fisika,” Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA 5, no. 1 (2015): 68–75, https://doi.org/10.30998/formatif.v5i1.167.

106 Indah Lestari, “Pengaruh Waktu Belajar Dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika,” Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA 3, no. 2 (2015): 115–25, https://doi.org/10.30998/formatif.v3i2.118.

107 Astuti, “Pengaruh Kemampuan Awal Dan Minat Belajar Terhadap Prestasi Belajar Fisika.”

mendorong pada tujuan pembelajaran dalam waktru yang lama, maka minat belajar hanyalah sebagian kecil daripada motivasi belajar tersebut.

Menurut Liswatul (2012), minat belajar dapat dipengaruhi baik dari dalam maupun luar diri peserta didik. Dari dalam diri peserta didik, suatu minat belajar dipengaruhi oleh bakat, perasaan senang, perhatian yang tinggi, dan sadar akan kebutuhan diri. Sedangkan dari luar peserta didik, minat belajar muncul karena adanya dukungan dari orang di sekitarnya, semisal orang tua, guru, atau teman-temannya, serta karena sarana dan prasarana.108

3) Sikap Belajar

Pengertian sikap belajar tak bisa terlepas dari kata yang mengawalinya, yakni sikap. Sikap artinya perbuatan atau tindakan yang dilaksanakan baik berdasar maupun tidak berdasar pada pendirian tertentu.109 Sikap dalam konteks ini lebih cenderung pada perbuatan secara positif (melakukan) maupun secara negatif (merespon).

Pada konteks pembelajaran, sikap belajar lebih diartikan sebagai respons atau reaksi peserta didik terhadap suatu pembelajaran atau

108 Liswatul Ismiyyah, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Belajar Siswa Kelas X Madrasah Aliyah Khairuddin Gondanglegi Pada Muatan Lokal Tata Busana” (Universitas Negeri Malang, 2012).

109 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): Kamus Versi Online/Daring (Dalam Jaringan),” kbbi.web.id, 2016, https://kbbi.web.id/sikap.

hal-hal yang bersifat akademis.110 Sikap tersebut diekspresikan baik dalam bentuk menerima, menolak, menyukai, atau membenci suatu pembelajaran.

Bown dan Holtzman dalam Rati (2015) menyebutkan bahwa sikap belajar dapat diidentifikasikan dalam dua ruang lingkup, yakni lingkup penerimaan guru (teacher approval) dan lingkup penerimaan pendidikan (education acceptance).111

Pada lingkup yang pertama, respons atau reaksi peserta didik dipengaruhi dari seorang guru dalam tindak-tanduk, perilaku, dan cara mengajar. Adapun pada lingkup yang kedua, peserta didik akan merespons secara baik atau tidak terhadap materi yang diberikan, tugas-tugas, serta prasyarat formal yang sudah ditetapkan oleh suatu institusi pendidikan.

3. Guru sebagai Pengajar Pendidikan Agama Islam a. Pengertian Guru

Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UU Guru dan Dosen) menyebutkan bahwa guru adalah seorang pendidik profesional pada satuan pendidikan formal yang

110 Frederik DE Jemudin, Alberta P Makur, and Ferdinandus A Ali, “Hubungan Sikap Belajar Dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Smpn 6 Langke Rembong,” Journal of Honai Math 2, no. 1 (2019): 1–12, https://doi.org/10.30862/jhm.v2i1.53.

111 Martias, Darman, and Afriyoska Rati, “Hubungan Sikap Belajar Dengan Hasil Belajar Mata Pelajaran Alat Ukur Kelas X Teknik Kendaraan Ringan Di SMK Negeri 1 Padang,” Jurnal Mahasiswa: Periode Wisuda September 2015, no. September (2015).

memiliki tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.112

Abdul Hamid (2017) berrpandangan bahwa guru merupakan istilah bagi siapapun yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk membina dan membimbing murid. Kepemilikan kewenangan dan tanggung jawab mengisyaratkan bahwa guru merupakan jabatan pada suatu sistem organisasi. Sedangkan istilah ‘murid’, merupakan nama bagi peserta didik yang hanya secara khusus berada di satuan pendidikan formal.113

Peran guru dimungkinkan untuk menjadi perantara dalam proses transfer ilmu, atau bahkan sebagai sumber belajar – sebagaimana pandangan konservatif pembelajaran. Posisi sentral guru juga disebutkan dalam suatu pepatah Arab:114

َ لَْا م هَا ذ اَ نا ح صْن يَ لَْا م هَ لَ كَ بْي بَّطلاَ وَ م ل ع مْلاََّن ا

َ ت ْو ف ََ ْن اَ َ ِا د لَ ْر بْصا فَ َا م رْك يَ

اًم ل ع مَ ت ْو ف ََ ْن اَ َ لْه ج بَْع نْقا وَا ه بْي ب ط

“Sesungguhnya seorang guru dan dokter keduanya tidak akan memberikan nasehat (kesehatan dan ilmu) jika keduanya tidak dihormati, maka bersabarlah dengan sakitmu jika kau menghindari dokter dan puaslah dengan kebodohanmu jika engkau mengabaikan guru”.

Sedangkan tanggung jawab guru menurut Pasal 20 UU Guru dan Dosen adalah:

112 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen” (2005).

113 Abdul Hamid, “Guru Professional,” Guru Profesional 17, no. November (2017): 274–

85, http://ejurnal.staialfalahbjb.ac.id/index.php/alfalahjikk/article/view/26.

114 Putra Kapuas, “Mahfudzot Kelas 2 KMI Gontor Beserta Arti Dan Penjelasan (Bagian 18),” putrakapuas.com, 2018, https://www.putrakapuas.com/2018/11/mahfudzot-kelas-2-kmi-gontor-bag18.html.

a) Menyelenggarakan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi belajar;

b) Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;

c) Bertindak secara objektif dan tidak diskriminatif;

d) Senantiasa menjadikan peraturan perundang-undangan, hukum, kode etik, nilai-nilai keagamaan, dan etika sebagai pedoman dalam berperilaku; dan

e) Memelihara serta memupuk persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.115

Guru dengan segudang kontribusinya telah membantu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui serangkaian pembelajaran.

Namun demikian, kondisi ini hanya akan terjadi tatkala guru sebagai pendidik memiliki kinerja dan kompetensi yang baik sebagai faktor penentu keberhasilan mengajar.116

Menurut Ilyas Ismail (2010) kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru atau pendidik meliputi tiga aspek, yakni penguasaan bahan ajar, kemampuan pengelolaan pembelajaran, dan komitmennya saat menjalankan tugas. Sedangkan pada aspek

115 Indonesia, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

116 Muh. Ilyas Ismail, “Kinerja Dan Kompetensi Guru Dalam Pembelajaran,” Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan 13, no. 1 (2010): 44–63, https://doi.org/10.24252/lp.2010v13n1a4.

kompetensi, guru setidaknya harus memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang memadai.117

b. Tugas Guru dalam Pembelajaran

Tugas secara kebahasaan merupakan suatu kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh seseorang dengan jabatan tertentu dalam masyarakat.118 Istilah ‘tugas’ lebih ditekankan pada teknis pelaksanaan, artinya ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan.

Sebagai seorang pengelola kelas, guru adalah pengajar yang memiliki tugas untuk melaksanakan pembelajaran dalam tiga tahap, yakni kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Berikut penjabarannya menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan:

1) Kegiatan Pendahuluan

Pada tahapan ini guru melaksanakan serangkaian kegiatan terdiri dari:

(a) Menyiapkan kondisi fisik dan psikis peserta didik agar siap melaksanakan kegiatan pembelajaran;

(b) Memotivasi peserta didik tentang manfaat PAI bagi kehidupan sehari-hari dan masa mendatang;

(c) Menstimulus peserta didik dengan pertanyaan seputar materi pembelajaran yang lalu;

117 Ibid, hal 49.

118 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): Kamus Versi Online/ Daring (Dalam Jaringan),” kbbi.web.id, 2016, https://kbbi.web.id/tugas.

(d) Penjelasan terhadap tujuan pembelajaran PAI, serta kompetensi dasar yang diharapkan dimiliki peserta didik tatkala pembelajaran selesai; dan

(e) Penyampaian cakupan materi yang akan dipelajari, serta segala uraian yang tercantum dalam silabus.

2) Kegiatan Inti

Kegiatan inti pembelajaran PAI merupakan penyampaian materi pembelajaran dengan ragam model, metode, media, dan sumber belajar. Pemilihan dan pengaplikasiannya tergantung daripada karakteristik peserta didik dan materi pembelajaran yang sesuai dengan pembentukan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik.

3) Penutup

Tahapan terakhir pembelajaran PAI ditutup dengan pelaksanaan refleksi untuk:

(a) Mengevaluasi seluruh aktivitas dan hasil pembelajaran untuk kemudian diidentifikasikan manfaatnya baik secara langsung maupun tidak langsung;

(b) Memberikan umpan balik;

(c) Pelaksanaan tugas untuk tindak lanjut; dan

(d) Informasi terhadap materi pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

4. Kebijakan Sekolah terhadap Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Masa Pandemi

Kebijakan dalam bahasa Inggris disebut dengan ‘policy’, yang mana istilah ini dibedakan dengan istilah ‘decision’ (keputusan). Perbedaan ini lazim dipahami, sebab dalam kajian ilmu politik, kebijakan adalah kumpulan keputusan yang dijadikan grand design pencapaian suatu tata kelola pemerintahan.119

Kebijakan secara gramatikal terdiri dari konfiks ‘ke-an’ dan kata dasar bijak. Imbuhan ‘ke-an’ dapat diartikan sebagai ihwal, keadaan, atau sifat suatu kata yang diberikan imbuhan ini. Adapun ‘bijak’ dalam KBBI diartikan sebagai keadaan manusia yang selalu menggunakan akal budinya.120

Apabila kata ‘bijak’ dilengkapi dengan imbuhan ‘ke-an’ maka secara ekplisit dapat dipahami bahwa kebijakan merupakan ihwal, perihal, atau tentang sifat seseorang yang selalu menggunakan akal budinya. Hal senada juga diafirmasi oleh KBBI, bahwa kebijakan adalah kepandaian, kebijaksanaan, atau kemahiran. Adapun secara operasional, kebijakan adalah pedoman konseptual dan asas-asas yang mendasari suatu pelaksanaan, tindak-tanduk, atau penyelenggaraan suatu organisasi.121

119 Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Revisi (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010).

120 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): Kamus Versi Online/ Daring (Dalam Jaringan),” kbbi.web.id, 2016, https://kbbi.web.id/bijak.

121 Bahasa.

Canady dan Duke dalam Taufan dan Mazhud (2012) saat mengkontekstualisasikan pada pembahasan manajemen sekolah, menyebutkan bahwa kebijakan sekolah adalah keputusan yang muncul baik dibentuk oleh individu maupun kerja sama, berisikan garis-garis besar kewajiban setiap personil di sekolah, kemudian diberikan persetujuan dari adminitratur, dewan sekolah, pengawas, maupun komite sekolah.122

Adapun menurut Caldwell dan Spinks sebagaimana dikutip Mersiono (2010) menyebutkan bahwa sekolah sebagai sub-sistem pendidikan yang bersentuhan langsung dengan peserta didik, sekolah mempunyai serangkaian petunjuk yang dengannya tujuan dan sasaran pembelajaran terpenuhi.

Rangkaian petunjuk inilah yang disebut sebagai kebijakan sekolah.123

Seluruh pengertian tentang kebijakan sekolah, pada akhirnya dapat disimpulkan sebagai petunjuk-petunjuk konseptual tentang bagaimana keputusan dalam pelaksanaan pendidikan pada suatu satuan pendidikan.

Artinya kebijakan sekolah akan menjadi pedoman dalam setiap tata laksana kehidupan sekolah. Kebijakan sekolah dapat dibuat bagi mereka yang berwenang dalam sekolah – seperti kepala sekolah – secara demokratis.

Substansi kebijakan sekolah, idealnya dibentuk berdasarkan beberapa pertimbangan. Caldwell dan Spinks dalam Merdiono (2010) menguraikan pertimbangan-pertimbangan yang sepatutnya ada dalam perumusan kebijakan, yakni isu kepuasan umum dalam penyelenggaraan pendidikan di

122 Fachri Mazhud; Johandri Taufan, “Kebijakan-Kebijakan Kepala Sekolah Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Di Sekolah X Kota Jambi” 3, no. 1 (2012): 62–75.

123 Mersiono, “Kebijakan Pendidikan Dan Pengembangan Sekolah (School Development),” Tazkirah 2, no. 2 (2010): 4.

sekolah dan isu atas ketidaksetujuan bentuk praktek penyelenggaraan pendidikan di sekolah.124

Maksud dari landasan pertimbangan yang pertama, bahwa setiap orang yang ikut serta dalam sistem belajar-mengajar di sekolah, tentu memiliki ekspektasi terhadap bagaimana harusnya penyelenggaraan kehidupan sekolah.

Sedangkan maksud dari isu atas ketidaksetujuan bentuk praktek adalah standar minimum agar kehidupan belajar-mengajar dalam sekolah setidaknya tidak terjerumus pada kondisi terburuk yang dibayangkan. Poin ini merupakan kebalikan dari poin pertama, jika poin pertama lebih tertuju pada harapan akan kebaikan, maka poin ini lebih tertuju pada prevensi terhadap keburukan penyelenggaraan sekolah.

5. Lingkungan Belajar

a. Pengertian Lingkungan Belajar

Lingkungan menurut KBBI merupakan wilayah atau daerah tempat suatu subjek berada. Lingkungan diambil dari kata dasar

‘lingkung’ yang artinya batasan disekitar.125 Terhadap pengertian ini, apabila digabungkan dengan istilah belajar, maka dapat dipahami bahwa lingkungan belajar merupakan wilayah, daerah, atau ruang di sekitar peserta didik yang mampu membuat ia belajar.

124 Ibid, hal 5.

125 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): Kamus Versi Online/ Daring (Dalam Jaringan),” kbbi.web.id, 2016, https://kbbi.web.id/lingkung.

Menurut Novianti (2019) sebagaimana yang dikutip dari Djamarah dan Zain, lingkungan belajar merupakan alam sekitar yang berpengaruh pada masing-masing individu peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran.126

Bimo Walgito dalam Rohmah (2017) lebih menspesifikkan makna lingkungan belajar hanya sebatas tempat terjadinya suatu proses pembelajaran. Konteks ini dapat dipahami sebagai pengertian lingkungan belajar secara sempit, yang apabila pada masa pembelajaran online lingkungan belajar adalah forum pada suatu platform yang digunakan sebagai media pembelajaran.127

Keseluruhan pengertian secara kebahasaan dan menurut para ahli di atas, menunjukkan bahwa pada dasarnya lingkungan belajar adalah kondisi lingkup yang menjadi tempat terjadinya suatu pembelajaran.

Tempat terjadinya pembelajaran dapat dimaknai secara sempit hanya pada suatu forum tertentu, dan dapat pula dipahami secara luas yakni keseluruhan tempat yang mendukung proses belajar-mengajar.

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dalam Lingkungan Belajar

Lingkungan belajar adalah faktor utama yang mempengaruhi minat belajar setelah kurikulum, prsonalitas guru, metode pembelajaran, dan fasilitas. Danim dkk dalam Novianti (2019) menyebutkan adanya tiga

126 Ratih Novianti, “Pengaruh Motivasi Belajar Dan Kemandirian Belajar Peserta Didik Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Pada Pembelajaran Daring Dimasa Covid-19” 13 (2021): 1–20.

127 Chusna Oktia Rohmah, “Pengaruh Penggunaan Gadget Dan Lingkungan Belajar Terhadap Minat Belajar Siswa Kelas XI Kompetensi Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta” (Universitas Negeri Yogyakarta, 2017).

komponen lingkungan belajar yang mempengaruhi minat belajar peserta didik selain sekolah, yakni keluarga dan masyarakat.128

1) Keluarga

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentag Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan empat kali istilah ‘keluarga’. Pada keempat penyebutan tersebut, konteks keluarga selalu disebutkan sebagai konsep pembelajaran informal bagi peserta didik. Pendidikan informal sendiri bermaknakan pendidikan yang secara tidak resmi diselenggarakan oleh pemerintah – dalam bahasa undang-undang tersebut adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga atau lingkungan.129

Keluarga adalah penyelenggara pendidikan bagi peserta didik yang pertama sebelum sekolah. Daryanto dalam Rochanah (2016) menyebutkan bahwa keluargalah yang pertama kali akan mencurahkan perhatian terhadap kepentingan dan kebutuhan belajar peserta didik, baik secara psikis, materi, dan kognitif.130 Keluarga yang mendukung suatu pembelajaran bagi peserta didik akan lebih memudahkan peserta didik dalam mengikuti dan memahami suatu pembelajaran.

128 Ratih Novianti, “Pengaruh Motivasi Belajar Dan Kemandirian Belajar Peserta Didik Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Pada Pembelajaran Daring Dimasa Covid-19.”

129 RI, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

130 Rochanah Rochanah, “Peranan Keluarga Sekolah Dan Masyarakat Dalam Menunjang Pembelajaran Yang Efektif,” ELEMENTARY: Islamic Teacher Journal 4, no. 1 (2017),

130 Rochanah Rochanah, “Peranan Keluarga Sekolah Dan Masyarakat Dalam Menunjang Pembelajaran Yang Efektif,” ELEMENTARY: Islamic Teacher Journal 4, no. 1 (2017),

Dokumen terkait